menu

Touché Alchemist Bab 12

Mode Malam
Bab 12
”JADI, kenapa aku dibawa ke sini?”

”Pertama-tama aku harus mengingatkanmu lagi bah-

wa kau berhak didampingi pengacara,” kata Sam sambil berjalan bolak-balik di ruang interogasi.

”Sudah kubilang, aku tak butuh pengacara karena tidak melakukan kejahatan apa pun.”

”Berarti kau memutuskan tidak menggunakan hakmu,” kata Sam. Matanya tertuju pada pria berkacamata dengan logat Inggris kental di depannya yang tampak gugup. ”Apa kau tahu kenapa kau berada di sini?”

Pria itu menggeleng.

”Kau tersangka utama pengeboman berantai di New York.” Kali ini giliran Thomas yang berbicara sambil menjajarkan foto-foto TKP di meja. ”Kau tahu berapa banyak korban meninggal dan luka berat karena ulahmu?”

”A… Aku tidak ada hubungannya dengan ini semua.”

”Kau pikir kami membawamu ke sini karena akan memberimu medali?” kata Thomas tak sabar. ”Kami meneliti semuanya dan menemukan bahwa kau mengunjungi TKP pada saat pengeboman.”

”Begitu juga beribu-ribu orang lain! Apakah hanya dengan datang ke sana membuatku menjadi tersangka pengeboman?”

”Tidak,” jawab Thomas. ”Tapi datang ke sana dan memiliki DNA yang tertinggal di tas tempat bom diletakkan, iya.”

”DNA? Bagaimana kalian tahu itu DNA-ku? Aku tidak pernah memberikan sampel DNA-ku pada pemerintah maupun kepolisian, dan berhak menolak memberikannya.”

Sam tersenyum sinis. ”Tidak perlu, karena kami punya DNA-mu.”

”Punya?”

”Ya,” Sam mengangguk. ”Kami punya DNA-mu dari keringat yang menempel di laporan Profesor Martin yang kauberikan pada Hiro.”

”Sekakmat,” Thomas tersenyum, ”William Sterling Kent.”

*  * *

Hiro mengamati interogasi itu dari balik kaca di sebelah ruangan Kapten Lewis. Kaca itu tembus pandang dari tempat Hiro, tapi dari ruang interogasi hanya tampak seperti cermin. Dia masih tak menyangka William adalah Helios, tapi semua petunjuk itu membuktikan bahwa William-lah pelakunya.

Perasaan janggal saat William datang ke kamarnya akhirnya menemukan jawaban. Bagaimana mungkin William tahu tas pembawa bom adalah ransel padahal tasnya terbakar habis? Bahkan polisi pun tak tahu bentuk awalnya. Lalu bagaimana dia juga tahu tas itu diletakkan di tengah-tengah mozaik yang digambarkannya seperti matahari, padahal yang diketahui publik hanyalah pengeboman terjadi di Strawberry Fields? Satu-satunya orang yang mengetahui semua hal itu hanyalah si pelaku!

Hiro pertama kali mengetahui DNA William dari saputangan yang diberikan William saat jus jeruknya tumpah di baju Hiro. Sayangnya saat itu Hiro membuangnya. Untung saja di halaman 15 laporan Profesor Martin, tangan William yang diam-diam membacanya mulai berkeringat sehingga Hiro memiliki buktinya.

Hiro paham alasan William menggunakan nama Helios sebagai julukannya dan diagram bintang untuk menentukan lokasinya. Nama tengah William: Sterling, berarti bintang.

Ponsel Hiro berdering. Hiro buru-buru keluar dari ruangan. ”Halo?”

”Hiro.” Suara ibunya. ”Kau ada di mana?” ”Kantor polisi.”

”Apa yang terjadi?”

”Masalah pekerjaan,” jawab Hiro santai. ”Ibu kan tahu aku bekerja sebagai konsultan.”

”Kau baik-baik saja?” ”Tentu saja.”

”Kenapa firasat Ibu masih tidak enak, ya?” Suara

ibunya terdengar gelisah.

”Aku bisa menjaga diriku sendiri,” kata Hiro mencoba meyakinkan. ”Lagi pula aku tidak akan pernah membahayakan diriku sendiri demi orang lain, seperti Ayah.” Ibunya terdiam beberapa saat. ”Hiro,” katanya kemudian. ”Ibu bangga dengan yang ayahmu lakukan walau akhirnya harus kehilangan dia. Apa kau berpikir jika dia membiarkan kejahatan itu terjadi, dia masih akan menjadi orang yang sama? Ayahmu pasti menyesalinya seumur hidup dan mungkin tidak lagi menjadi orang yang Ibu dan kau cintai.”

”Aku tidak tahu, Bu,” jawab Hiro. ”Karena dia sudah tak ada lagi. Aku tak tahu apakah dia akan berubah atau tidak.”

”Mungkin sebentar lagi kau akan mengerti perasaan ayahmu, Hiro,” kata Ibunya. ”Berhati-hatilah di sana.”

Telepon ditutup.

Hiro termenung memikirkan kata-kata ibunya. Aku akan mengerti perasaan ingin mengorbankan diri demi orang lain? Hiro menggeleng. Tidak akan.

Hiro kembali ke ruangan dan bersama Kapten Lewis melihat lanjutan interogasi. Sam memberitahu William bagaimana akhirnya polisi mengetahui pola Helios dan kenapa dia tidak mungkin bisa mengelak. Wajah William yang tadinya tampak gugup berubah begitu mendengar penjelasan Sam. Dia tersenyum menyeringai dan matanya berkilat. ”Jadi Hiro yang me-

mecahkan kasus ini?” tanyanya. Sam dan Thomas kaget dengan perubahan sikap William. Mereka seolah berbicara dengan dua orang berbeda.

”Apakah dia ada di sini?” tanya William sambil menengok cermin besar di ruang interogasi. ”Di balik cermin itu?”

Sam dan Thomas tidak menjawab.

”Hiro, kau mendengarku!” seru William. ”Aku tahu kau mendengarku!”

”Diam!” bentak Sam menggebrak meja, tapi tidak digubris William.

”Apa kau tahu aku melakukan ini semua demi kau?!” teriak William menyeringai.

Kapten Lewis yang berada di ruang monitor interogasi dan ikut mendengar teriakan William langsung menoleh ke arah Hiro, tanpa menunjukkan ekspresi apa pun.

”Aku berada di level stratosfer, katamu?” lanjut William diselingi tawa. ”Dan kau di level ionosfer? Kau bahkan tidak bisa mencegah banyaknya korban karena pengeboman yang kulakukan. Kalau kau memang sepintar katamu, seharusnya kau bisa melakukannya. Orang-orang itu mati karena kesalahanmu!”

Itu kuucapkan saat berada di ruangan Profesor Martin. Jadi memang benar ada orang di balik pintu hari itu, batin Hiro. Dan orang itu William.

”Kau pikir kau menang, Hiro?” lanjut William. ”Kau pikir kau bisa bebas begitu saja setelah mengambil hal paling berharga yang kumiliki? Bertahun-tahun aku menunggu untuk menjadi asisten Profesor Martin, lalu kau datang dan mengambilnya. Mimpiku untuk menjadi anggota penelitian Profesor Martin pun kauhancurkan, padahal keinginanmu untuk menjadi anggota timnya tidak sebesar keinginanku. Apa kau tahu berapa banyak yang kukorbankan demi mencapai mimpi itu?”

”Profesor Martin-lah yang memilih Hiro, kenapa bukan dia yang kausalahkan?” tanya Thomas.

William menatap mata Thomas, lalu tersenyum sinis, tapi tidak mengatakan apa-apa. Dia menatap lurus ke arah cermin, seolah bisa melihat Hiro di baliknya. ”Ini belum selesai, Hiro.” Mata William berkilat. ”Kau mengambil milikku yang berharga. Sebagai gantinya, aku mengambil milikmu yang berharga dan sebagai Dewa Matahari, aku akan membakarnya. Membakar dengan api yang paling panas di antara yang terpanas.”

Aura gelap yang dikeluarkan William membuat siapa pun yang melihatnya pasti bergidik dan menelan ludah. Tidak ada lagi William yang kikuk, selalu panik, serta tak percaya diri. Tergantikan oleh William yang suram, penuh percaya diri, dan sinis. Rasa dendam memang begitu hebat mengubah sifat orang. 

Jantung Hiro serasa berhenti berdetak. Dia tahu William tidak main-main dengan ucapannya.

Dia akan mengambil milikku yang berharga? tanya Hiro dalam hati. Memangnya apa milikku yang berharga?

Tersadar akan sesuatu, Hiro mengambil ponsel dan keluar dari ruangan.

”Hiro, kau mau ke mana?” tanya Kapten Lewis, tapi

tidak dijawab Hiro.

Hiro memencet-mencet tombol, mencoba menghubungi seseorang, tapi tak ada jawaban. Terus-menerus dia mencoba, tapi hasilnya tetap nihil. Ia merasakan ketakutan yang tidak pernah ia rasakan sebelumnya.

Hiro mengingat-ingat lagi apa yang dikatakan William. Bahwa William belum selesai, bahwa dia akan membakar milik Hiro yang paling berharga, dengan api yang paling panas dari yang terpanas.

”Sial!” Hiro memukul-mukul kepalanya, merasa kesal kenapa otaknya tidak bekerja secepat yang diinginkannya. Helios, diagram bintang, api yang paling panas  dari  yang terpanas, Hiro menemukan jawabannya.

Dia berlari ke luar secepatnya dari kantor polisi dan memanggil taksi. Di dalam taksi, Hiro mengambil kartu nama dari dalam dompetnya dan menelepon nomor yang tercantum di kartu itu.

”Ini aku, Hiro,” kata Hiro setelah telepon diangkat. ”Kau bilang, kau akan membantuku kapan saja jika aku membutuhkan. Dan aku membutuhkan bantuanmu SEKARANG!”

Hiro menutup telepon, lalu dengan cepat memencet nomor lain, menghubungi Sam.

”Ada apa, Hiro?” tanya Sam dari seberang telepon. ”Kata Kapten Lewis, tadi kau pergi tergesa-gesa setelah mendengar kata-kata William, seperti orang kesurupan.”

”William menculik Karen,” jawab Hiro. ”Bawa tim penjinak bom ke Hell’s Kitchen. SEKARANG!”  
Bagikan Novel ini Sebegai bentuk dukungan untuk situs ini 😊