menu

Touché Alchemist Bab 11

Mode Malam
Bab 11
HIRO tidur nyenyak setelah begadang semalaman di laboratorium untuk menebus kontribusinya pada pene-

litian Profesor Martin ketika ponselnya berdering. ”Halo?” jawabnya malas.

”Hiro!” seru Sam dari seberang telepon. ”Aku tahu kau sudah tidak mau lagi membantu kami dalam kasus ini, tapi aku harus memberitahumu bahwa aku menerima paket itu lagi. Paket dari Helios.”

Mata Hiro langsung terbuka lebar. Dia terduduk di tempat tidur. Berarti akan ada pengeboman lagi besok, katanya dalam hati.

”Hiro,” lanjut Sam karena tak ada tanggapan dari Hiro. ”Tolong bantu kami menyelesaikan kasus ini. Aku tak peduli apakah kau melakukannya memang untuk menyelamatkan nyawa orang tak berdosa, menunjukkan bahwa kau orang paling pandai di muka bumi, atau bahkan mencari popularitas. Bagiku yang penting kita bisa menemukan pelakunya.”

Hiro tak berkata apa-apa.

Sam yang sepertinya putus asa langsung menutup telepon.

Hiro bergegas ke meja belajar dan mengambil tablet. Dia kembali fokus pada peta New York dan melingkari tempat-tempat bom itu diledakkan.

Museum Intrepid, Japan Society, Forbes Gallery, dan Strawberry Fields, apa persamaannya? Hiro berpikir keras.

*  * *

”Bagaimana?”  tanya Thomas.

Sam menggeleng.

”Aku sudah bilang,” desah Thomas, ”percuma kau meneleponnya. Bocah itu bukan hanya kepalanya yang terbuat dari batu, hatinya juga.”

”Lalu, apa yang akan kita lakukan?” tanya Sam sambil melihat paket berisi empat botol yang baru diterimanya. ”Kita tahu pasti kapan bom berikutnya akan diledakkan: besok. Pertanyaannya sekarang tinggal: di mana?”

”Kita tahu lokasinya di East Village.”

”Tapi kita belum tahu tepatnya di mana di East Village.” Sam menghela napas. ”Tidak mungkin kita meminta semua tempat publik ditutup, karena akan menimbulkan kecurigaan dan berakibat kepanikan massal. Kita juga tidak mungkin menambah personel karena sebanyak apa pun personel kepolisian diturunkan, tidak akan cukup menjaga semua tempat publik yang ada di sana.”

”Lalu apa usulmu?” tanya Thomas.

”Aku justru ingin bertanya padamu.” Sam menatap peta New York di ruangan itu.

Thomas mengangkat bahu. ”Satu-satunya jalan adalah menemukan tempat yang dituju pelaku dengan mencari persamaan tempat yang menjadi lokasi peledakan bom.”

”Mari kita urutkan,” Sam menunjuk ke titik-titik tempat kejadian perkara di peta. ”Pengeboman pertama terjadi di Museum Intrepid di Theater District.  Bom diletakkan di bagian flight simulator. Pengeboman kedua terjadi di Japan Society di Lower Midtown,  bom diletakkan di bawah tangga Taman Zen. Pengeboman ketiga terjadi di Forbes Gallery di Greenwich Village, bom diletakkan di bagian pameran perhiasan batu luar angkasa, tepatnya di dekat kalung batu bintang. Pengeboman keempat terjadi di Strawberry Field di Central Park, bom diletakkan di mozaik bulat, tepat di atas tulisan Imagine. Pertanyaannya sekarang…”

”Apa persamaannya?” lanjut Thomas.

Sam mundur dari peta untuk bisa melihat lebih  luas. Hiro menemukan bahwa pelaku menggunakan pola diagram bintang, pikir Sam. Berarti memang lokasi berikutnya adalah East Village.

Berjam-jam Sam dan Thomas berkutat pada berkas kasus pengeboman berantai itu, tapi tak membuahkan hasil. Mereka tidak bisa menemukan persamaan apa pun. Waktu menunjukkan pukul delapan malam, Sam maupun Thomas sangat kelelahan.

Saat Sam mengambil kopi, ponselnya berdering dengan nama Hiro tertulis di layar. ”Ada apa, Hiro?” tanya Sam.

”Helios.”

”Hah?” ”Kau sedang mencari persamaan lokasi-lokasi pengeboman itu, kan?”

”Iya,” jawab Sam. ”Persamaannya adalah Helios.”

”Kalau itu tak perlu kaukatakan lagi,” desah Sam. ”Kita semua tahu, pelakunya menjuluki dirinya dengan nama Helios.”

”Bukan itu maksudku,” kata Hiro tidak sabar. ”Suruh Karen menjemputku dan akan kujelaskan  di sana.”

Rasa lelah Sam langsung hilang mendengar katakata Hiro yang bak perahu karet saat mereka semua hampir tenggelam.

”Kupikir kau tak peduli lagi dengan kasus ini,”  goda Sam.

”Aku tidak peduli dengan nyawa orang lain,” ralat Hiro. ”Aku hanya ingin menangkap pelakunya dan menunjukkan bahwa aku lebih pintar daripada dia.”

Sam tersenyum. ”Apa pun, Hiro. Apa pun alasanmu, yang penting tujuan kita sama: menangkap pelakunya.”

*  * * Hiro datang saat jarum jam menunjukkan angka sembilan, bersama Karen yang berkali-kali menguap dan memasang muka masam. Hiro tampak cuek sambil terus mengulum lolipop.

Sam menghampiri kedua orang itu dengan wajah tak sabar. ”Kita tidak punya waktu lagi. Jelaskan padaku.”

”Di ruangan penyidikan saja,” jawab Hiro santai. ”Aku juga harus menjelaskannya pada  Thomas, kan?”

”Kau datang juga,” komentar Thomas saat Hiro masuk ke ruangan.

”Kecewa?”

Thomas mengangkat bahu. ”Tidak jika kedatanganmu bisa membantu kami.”

”Bukankah sejak awal kalian memang tidak bisa apa-apa tanpa bantuanku, Special Agent Pike?” jawab Hiro cuek, lalu memperhatikan peta.

Wajah Thomas memerah mendengar kata-kata Hiro. Dia hampir meledak lagi kalau saja Sam tidak menepuk bahunya untuk menenangkan.

Karen menghela napas. Hiro memang lebih cepat men­ dapatkan musuh daripada teman.

”Persamaannya adalah Helios,” Hiro mulai menjelaskan. ”Helios dewa matahari Yunani. Dalam beberapa literatur, Helios dikenal dengan nama Apollo, walaupun literatur lainnya menyebutkan bahwa Helios dan Apollo dua dewa berbeda. Helios digambarkan memiliki kereta yang selalu ditungganginya saat hendak turun ke Bumi atau kembali ke Olympus. Ini sebabnya pelaku memilih lokasi pengeboman dengan diagram bintang, karena matahari pada dasarnya adalah bintang. Bintang paling besar di galaksi Bimasakti.”

”Pengeboman pertama,” Hiro menunjuk lokasi TKP pertama, ”terjadi di Museum Intrepid Sea-Air-Space. Bom diletakkan di bagian flight simulator. Bagian untuk terbang, seolah menjadi simbol kereta yang ditunggangi Helios.

”Pengeboman kedua terjadi di Japan Society,” lanjut Hiro. ”Jepang dari bahasa aslinya bernama Nihon, yang ditulis dengan kanji ’Hi’ yang dibaca ’Ni’ yang berarti ’matahari’, dan kanji ’Hon’ yang berarti ’akar’ atau ’dasar’. Jadi Jepang adalah negeri Matahari yang berdasarkan legenda. Mereka pun memiliki dewa matahari bernama Amaterasu. Amaterasu adalah Helios-nya Jepang.”

”Jadi dia mengebom Japan Society karena Jepang adalah negeri Matahari?” potong Sam. Hiro mengangguk.

”Lalu apa maksud dia meletakkan bom di bawah tangga di Taman Zen?” tanya Thomas.

”Karena Taman Zen adalah pusat Gedung Japan Society,” jawab Hiro, ”seperti halnya matahari adalah pusat tata surya kita.”

Sam manggut-manggut. ”Lalu Forbes Gallery? Apa hubungannya Forbes Gallery dengan Helios?”

”Sammy, apa kau ingat di mana pelaku meletakkan bomnya?” Hiro balik bertanya.

”Saat itu sedang ada pameran perhiasan batu luar angkasa dan dia meletakkannya di dekat…,” Sam tertegun, paham maksud Hiro, ”kalung batu bintang.”

”Jadi itu persamaannya!” seru Thomas memukul meja. ”Karena dia menjuluki dirinya sendiri Helios, yang berarti dewa matahari, dia memilih tempattempat yang berhubungan dengan namanya. Museum Intrepid karena menggambarkan angkasa tempat matahari, Japan Society karena Jepang negeri Matahari, dan pameran perhiasan yang menampilkan kalung batu bintang karena matahari sendiri pada dasarnya bintang.”

”Bagaimana dengan Strawberry Fields?” potong Karen. ”Aku tidak melihat hubungannya dengan Helios sebagai dewa matahari.”

Hiro berjalan menuju foto-foto TKP di Central Park yang dijajar Sam di meja, lalu mengambil foto tempat pelaku menaruh bomnya.

”Kalian ingat di mana dia meletakkannya?” Hiro mengangkat foto itu dan menunjukkannya pada mereka bertiga. ”Di mozaik dengan kata Imagine di tengahnya. Sekarang coba lihat mozaik ini, bentuknya seperti apa?”

”Matahari,” jawab Sam, Thomas, dan Karen seperti koor.

”Berarti sekarang kita tinggal mencari tempat di  East Village yang berhubungan dengan matahari.” Sam mengamati peta. ”Kau sudah menemukannya, Hiro?”

Hiro menggeleng. ”Aku memikirkan semuanya, dari Tompkins Square, Museum Merchant’s House, sampai Little India. Aku sempat mengira dia akan menaruh bom di tempat bernama Surya di Little India karena Surya adalah dewa matahari India. Tapi setelah kucari tahu, Surya yang ternyata nama restoran, berada di Greenwich Village.” ”Bagaimana dengan Astor Place?” tanya Sam cepat, nadanya terdengar mendesak.

”Apa maksudmu?”

”Astor artinya bintang, menurut bahasa Yunani, kan?” Sam asal menebak.

”Yang artinya bintang adalah astro, astra, atau astrum, bukan astor,” dengus Hiro dengan tatapan merendahkan yang sangat dimaklumi Sam. ”Lagi pula selama ini pelaku tidak pernah menaruh bom di jalanan, pasti di tempat publik seperti museum atau taman. Jika orang asing meninggalkan tas di jalanan pasti dicurigai. Di Astor Place pelaku tidak bisa melakukan strateginya seperti saat di Strawberry Fields. Jadi sepertinya bukan di Astor Place.”

”Lan-tas… di ma-na?” tanya Sam lambat, seakan bertanya pada dirinya sendiri.

Hiro mengangkat bahu. ”Aku belum menemukannya.”

”Semoga saat kau menemukannya, semuanya belum terlambat,” sindir Thomas, mengingatkan momen Hiro berhasil mengetahui bom akan meledak di Central Park tapi ternyata terlambat.

”Lebih baik terlambat daripada tidak bisa menemukannya sama sekali,” balas Hiro santai. Raut wajah Thomas langsung berubah. Mukanya merah dan dia meninggalkan ruangan dengan membanting pintu. ”Aku mau ambil kopi!”

Karen dan ayahnya saling pandang, menggeleng dalam kebisuan. Mungkin di dunia ini memang hanya mereka dan ibu kandung Hiro yang tahan dengan  sifat Hiro yang seperti itu.

Waktu menunjukkan pukul empat pagi dan cangkircangkir bekas kopi bertumpuk-tumpuk. Thomas dan Sam membolak-balik file laporan kasus pengeboman itu dan sesekali memperhatikan dengan saksama fotofoto yang berjajar di meja.

Hiro masih berkutat dengan peta, mengamati tempat-tempat di East Village yang kemungkinan berhubungan dengan matahari atau bintang. Ia mengambil tablet dari tas, mencari foto gedung-gedung yang biasa dikunjungi wisatawan di daerah East Village. Berapa kali pun dicari, tidak ada gedung yang memiliki simbol matahari.

Jangan­jangan yang kucari salah, batin pemuda itu. Aku seharusnya tidak mencari yang berhubungan dengan matahari. Persamaannya adalah Helios, dan Helios adalah dewa matahari dari Yunani. Itulah yang seharusnya ku­ cari... ”Yunani!” seru Hiro keras.

Sam, Karen, dan Thomas langsung menoleh ke arah Hiro.

”Sam! Secepatnya hubungi tim penjinak bom!” Hiro melihat ke arah jam dinding yang menunjukkan pukul

06.30. ”Dan pergilah ke Collonade Row, aku yakin  bom itu ada di sana.”

Sam mengerutkan kening. ”Bagaimana kau tahu kalau…?”

”Kalau kau ingin aku menjelaskan dan menunggu bom itu meledak, akan kujelaskan,” kata Hiro dengan ekspresi cepat-kau-pergi-dari-sini.

Sam mengangkat tangan. ”Oke! Oke!”

Dia dan Thomas bergegas ke luar ruangan dan menemui Kapten Lewis untuk mempersiapkan segala sesuatunya. Kantor kepolisian New York langsung ramai setelah Kapten Lewis memberi perintah kepada beberapa tim untuk mengikuti Sam dan Thomas.

”Kau ikut?” tanya Sam pada Hiro dengan terburuburu.

”Tentu saja,” jawab Hiro. ”Aku kan sudah bilang akan menemukan pelakunya.”

”Dan kau,” Hiro menoleh pada Karen, lalu memberikan kunci kamarnya, ”bawakan aku baju ganti dan sikat gigi dari kamar asramaku.”

Karen mengerutkan kening. ”Memangnya aku pembantumu? Aku juga mau pulang dan mandi.”

”Lakukan itu setelah kau mengambil bajuku dan mengantarnya ke sini,” kata Hiro dengan nada memerintah.

”Aku tidak heran sampai sekarang kau belum punya pacar,” gerutu Karen.

”Sebaliknya, aku justru heran kenapa sampai sekarang kau belum punya,” balas Hiro.

”Sudah… sudah… hentikan pertengkaran suami-istri kalian,” lerai Sam. ”Ayo, Hiro!”

*  * *

Dugaan Hiro benar adanya. Ada tas yang sengaja ditinggalkan di depan pintu Colonnade Row. Bangunan dengan pilar-pilar ala Yunani itu dikerumuni polisi dan orang-orang yang ingin melihat apa yang terjadi. Tim penjinak bom perlahan-lahan membuka tas dan mengeluarkan isinya.

Sebuah bom dengan timer yang menunjukkan bom akan meledak setengah jam lagi! Para polisi langsung memperluas batas bahaya hingga dua kilometer dan meminta semua orang tetap berada di luar garis polisi untuk mengantisipasi kemungkinan timbul korban. Tim penjinak bom memutuskan untuk meledakkannya segera di situ karena waktunya tidak mencukupi untuk menjinakkannya.

Bom ditempatkan di dalam alat bertekanan tinggi, ditutup rapat, dikunci, kemudian diledakkan. Suara ledakan masih terdengar, tapi sepertinya bom tersebut memang sengaja dibuat bukan untuk merusak karena daya ledaknya tidak begitu besar. Setelah bom diledakkan dan tim penjinak bom memeriksa dan memastikan tidak ada lagi pecahan-pecahan yang kemungkinan bisa meledak atau melukai, semua polisi  dan tim forensik diperbolehkan melewati garis dan mengolah TKP.

Sam berjalan menghampiri Hiro dengan tas tempat bom tadi, diikuti Thomas.

”Memangnya apa yang bisa dia lakukan dengan tas itu?” tanya Thomas bingung. ”Bukankah sebaiknya tim forensik yang menelitinya?”

”Dia akan melakukan keahliannya,” jawab Sam. Sam menyerahkan tas itu pada Hiro.

Hiro tidak mengambil tas itu karena tidak memakai sarung tangan seperti Sam dan Thomas, tapi mengoleskan cotton bud yang selalu dibawanya ke bagian-bagian tas yang dia rasa disentuh pelaku. Setiap selesai mengoles satu kali, dia menyentuh ujung cotton bud yang  dia gunakan untuk mengoles itu agak lama, lalu menggeleng.

”Apa yang kautemukan?” tanya Sam.

”Aku tidak menemukan apa-apa,” jawab Hiro masih terus mengoles. ”Tas ini benar-benar bersih.”

”Sudah kubilang, serahkan saja pada tim forensik!” sembur Thomas pada Sam.

”Kalau aku saja tidak menemukan apa-apa, aku tak yakin tim forensik bisa menemukannya,” kata Hiro kalem.

Thomas mendengus.

”Bagaimana kau tahu dia menaruhnya di Colonnade Row?” tanya Sam seakan mengalihkan topik.

”Dia menaruh bom di Museum Intrepid sebagai simbolisasi alat transportasi Helios,” jelas Hiro masih sembari mengolesi bagian-bagian tas yang lain. ”Lalu tiga tempat lainnya sebagai simbolisasi matahari, dirinya. Ada satu lagi yang menjadi jati dirinya, yaitu Yunani, karena dia dewa matahari Yunani. Dia bukan Helios jika tidak berasal dari Yunani. Dia akan bernama Surya jika dari India, Amaterasu jika dari Jepang, atau Sol jika dari Romawi. Di East Village, tempat yang merupakan simbol Yunani adalah Colonnade Row dengan pilar-pilarnya.”

Sam dan Thomas mengangguk-angguk paham. Sudah banyak cotton bud dipakai dan dibuang, tapi

Hiro masih belum menemukan satu pun DNA yang bisa memberi petunjuk tentang pelaku pengeboman itu. Dia hampir putus asa saat sampai di bagian cangklong tas. Dia menyentuh cotton bud yang dioleskan ke bagian itu agak lama dan ”melihat” sesuatu: rumusan DNA yang pernah dilihatnya sebelum ini. DNA yang sangat familier. Dia menemukan jawaban atas rasa janggalnya malam itu.

”Ada apa?” tanya Sam melihat perubahan raut wajah Hiro.

”Aku tahu pelakunya,” jawab Hiro. Sam dan Thomas berpandangan.

”Sebenarnya apa yang kautemukan?” tanya Thomas heran.

”DNA pelaku.”

”Bagaimana mungkin kau melakukannya?” tanya Thomas tak percaya. ”Kau hanya menyentuhnya, lagi pula tim forensik paling hebat di dunia pun butuh DNA lain untuk dibandingkan, terutama apabila DNA pelaku tidak ada di database kita.”

”Karena kebetulan aku tahu DNA si pelaku,” desah Hiro.

”Bagaimana kau tahu DNA pelaku sebelumnya?” Thomas tambah mengernyit.

”Lalu bagaimana kau membuktikannya?” potong Sam. ”Kita tidak bisa menahannya hanya atas dasar omonganmu, kan?”

”Sudah kubilang aku tahu DNA si pelaku,” Hiro menghela napas. ”Dan aku masih punya buktinya.”

Sam dan Thomas berpandangan lagi.

”Aku laporkan dulu hal ini pada Kapten Lewis,” kata Sam.  
Bagikan Novel ini Sebegai bentuk dukungan untuk situs ini 😊