menu

Touché Alchemist Bab 10

Mode Malam
Bab 10
DI   dalam   kamar   asrama,   Hiro   memandangi   peta New York dari tablet. Mencari tahu apa sebenarnya

yang menghubungkan Museum Intrepid, Japan Society, Forbes Gallery, dan Strawberry Fields. Jika berhasil menemukan jawabannya, dia dapat menemukan kepastian lokasi di East Village yang bakal dituju si pela ku.

Helios, diagram bintang, gumam Hiro. Terdengar pintu kamar Hiro diketuk.

”Tunggu sebentar,” jawab Hiro sambil berjalan menuju pintu, membukanya, dan melihat William berdiri di sana. ”Ada apa, Will?” tanya Hiro malas.

”Kemarin Profesor Martin mencarimu,” kata William. ”Dia menitipkan ini padaku untuk diserahkan kepadamu.” William menyerahkan setumpuk laporan kepada Hiro.

”Oh, laporan tentang kemajuan penelitian DNA itu, ya?” Hiro menggaruk-garuk kepala saat menerima laporan itu.

”Kau mau masuk dulu?” tanya Hiro sambil membawa laporan itu ke meja.

William tidak menjawab, tapi mengikutinya, dan menutup pintu. ”Kenapa kemarin kau tidak kelihatan di kampus?” tanya William yang sekarang duduk di tempat tidur Hiro.

Hiro membolak-balik laporan itu. ”Aku di kantor polisi.”

”Kau masih menjadi konsultan?” tanya William tak percaya. ”Kau menjadi anggota tim penelitian Profesor Martin dan tetap bekerja sebagai konsultan?”

Hiro mengangguk. ”Dia tidak keberatan?”

”Buktinya dia masih menyerahkan laporan ini, kan?” jawab Hiro malas.

William tak bicara lagi setelah itu. Ketika Hiro sampai di halaman 15, dahinya mengernyit. Dia menyerap sesuatu yang terasa familier dari sentuhan tangannya. ”Kau membaca laporan ini juga, ya?” tanya Hiro pada William.

”Ti… tidak.” William tergagap.

”Kaubaca juga tak apa sih.” Hiro mengangkat alis. ”Bukan hal yang begitu rahasia, toh penelitiannya belum selesai.”

”Tapi  aku  tidak membacanya!”

William berbohong, batin Hiro. Di halaman 15 ada DNA­nya, DNA yang sama dengan di saputangannya waktu itu. Mungkin di halaman 15 dia berkeringat, tapi kenapa harus berbohong? Apa karena dia tidak ingin tam­ pak penasaran dengan penelitian ini, meskipun aku tahu sekali William masuk Universitas Columbia demi menjadi anggota penelitian Profesor Martin?

”Kasus apa yang membuatmu kemarin harus berada di kantor polisi seharian?” tanya William mengalihkan topik.

”Pengeboman di Central Park,” jawab Hiro singkat. ”Oh, aku melihatnya di TV.” William menganggukangguk. ”Terjadi di Strawberry Fields, ya? Banyak turis yang meninggal dan terluka. Kalian berhasil mene-

mukan pelakunya?” Hiro menggeleng.

”Aku heran, bagaimana si pelaku bisa meninggalkan tas ransel berisi bom,” desah William, ”tepat di tengah-tengah mozaik yang berbentuk matahari, tanpa ketahuan siapa pun.”

”Aku juga,” timpal Hiro asal. ”Berarti dia pintar sekali, ya?”

”Pintar? Iya. Pintar sekali? Tidak,” jawab Hiro sambil mencorat-coret laporan yang dibacanya. ”Dia hanya orang pintar biasa yang merasa genius dan narsis.”

”Bagaimana kau tahu?”

Hiro menghela napas. ”Aku tahu saja.”

”Sudah malam, aku kembali ke kamarku saja.” William bangkit, berjalan menuju pintu setelah sebelumnya merapikan tempat tidur Hiro yang tadi dia duduki.

Hiro mengangguk.

Begitu pintu ditutup, Hiro menutup laporan, kembali fokus pada peta New York di tablet.

Helios, diagram bintang… Hiro termenung. Ada yang janggal, tapi dia belum berhasil menemukannya.

*  * * ”Apakah Hiro berhasil menemukan lokasi pengeboman di East Village?” tanya Kapten Lewis. Dia sudah menerima penjelasan lengkap tentang hal yang ditemukan Hiro berkaitan dengan Helios dan diagram bintang.

Sam menggeleng.

”Dia bilang, hanya mau membantu sampai di situ,” jawab Thomas.

Mata Kapten Lewis mengarah pada Sam. ”Apa kau tidak bisa memaksanya?”

Sam menggeleng lagi.

Kapten Lewis menghela napas. ”Kalau kau saja tak bisa memaksanya, apalagi aku. Bocah itu memang keras kepala, tapi mau tak mau harus kuakui kita membutuhkan kepandaiannya.”

”Jadi bagaimana?” tanya Thomas.

”Tentu saja kalian harus berusaha memecahkannya sendiri,” jawab Kapten Lewis, lalu memberi isyarat bahwa percakapan mereka sudah selesai.

Thomas dan Sam keluar dari ruangan dengan lesu.

Matt menghampiri mereka. ”Bagaimana? Apa yang

Kapten bilang?”

”Tidak ada, hanya kita harus memecahkannya sendiri.” Sam menjatuhkan diri ke kursi.

”Media-media mulai memberitakan pengeboman ini dan ketidakbecusan kepolisian New York,” keluh Sam. ”Masyarakat panik. Mereka pikir kejadian 11 September akan terulang lagi.”

”Bagaimana kalau kita mengusulkan untuk diadakan patroli setiap hari di East Village?” saran Matt. ”Dan memberitahu orang-orang yang ada di sana agar segera melapor jika ada yang mencurigakan.”

”Apa kau tak berpikir si pelaku akan merasa diawasi sehingga tiba-tiba mengubah modusnya?” tanya Thomas sedikit mengejek. ”Kita harus mulai dari awal lagi.”

”Lalu, apa usulmu?” dengus Matt.

”Tidak perlu ada penambahan personel atau jadwal patroli,” jawab Thomas. ”Hanya saja para petugas kita diberi pengarahan agar lebih mewaspadai tempat-tempat publik yang biasanya dikunjungi orang-orang asing atau turis.”

Matt mengerutkan kening. ”Kenapa kau bisa me­

nyimpulkan seperti itu?”

”Dari saksi mata di pengeboman di Central  Park kita mendapat ciri-ciri bahwa pelaku bukan orang Amerika,” Thomas menjelaskan. ”Dia bahkan diketahui beraksen Eropa. Lokasi pengeboman selama ini museum dan galeri, tempat orang-orang asing datang tanpa dicurigai. Berlaku juga pada Central Park yang seperti kita tahu, menjadi tujuan wisata di kota ini. Itulah sebabnya kita harus fokus pada tempat-tempat yang biasa dikunjungi orang asing.”

Sam dan Matt mengangguk­angguk.

FBI memang beda, batin Matt.

”Baiklah.” Sam bangkit dari duduk. ”Mari kita beri pengarahan.”

*  * *

”Aku tidak tahu kau suka makanan India,” kata Karen saat berada di Restoran Heart of India di kawasan Little India, New York.

”Aku juga tidak.” Hiro memutar-mutar sendok. Karen menghela napas. ”Lalu kenapa kau mengajak-

ku ke sini?”

Hiro tak menjawab.

”Aku tahu, kau masih penasaran dengan lokasi si pelaku akan meletakkan bomnya, kan?” Karen menyipit, tersenyum.

Hiro masih diam saja.

Karen menyandarkan punggung ke kursi sambil menatap aneka makanan yang terhidang di meja. ”Aku tidak bisa memakan makanan penuh rempah begini,” gerutunya. ”Aku terbiasa makan masakan tidak berbumbu tajam karena…”

”Karena kita diajari untuk menghargai rasa asli  yang diberikan alam,” lanjut Hiro. ”Itu filosofi orang Jepang. Ya, aku tahu, ibuku juga orang Jepang.”

”Lalu, kenapa kau masih mengajakku makan di sini?” tuntut Karen.

”Karena aku butuh tempat untuk berpikir,” jawab Hiro. ”Pelaku meletakkan bomnya di tempat publik yang banyak dikunjungi wisatawan karena dia sendiri bukan orang Amerika asli. Aku ingin pergi ke tempattempat yang banyak dikunjungi wisatawan. Little India masuk urutan pertama daftarku.”

”Ha!” seru Karen tersenyum penuh kemenangan. ”Ternyata kau memang ingin menyelesaikan kasus itu. Aku tahu pada dasarnya kau orang yang peduli pada orang lain.”

”Kau delusional,” cibir Hiro, segera menyeruput teh massala. ”Aku hanya ingin menyelesaikan kasus ini dan menemukan pelakunya untuk membuktikan bahwa ada yang lebih pintar daripada dia.”

Karen menyipit. ”Kesombonganmu membuatmu punya banyak musuh.” ”Aku tidak sombong, hanya mengatakan fakta yang sebenarnya,” jawab Hiro kalem.

Karen tak berkomentar, selain memutar bola mata. ”Setelah ini kita pergi ke mana?” tanya Karen setelah berhasil menghabiskan sepiring nasi kari dengan

susah payah.

”Tompkins Square,” jawab Hiro. ”Lalu Colonnade Row.”

”Collonade Row? Untuk apa? Kau mau melihat pilar bergaya Yunani-nya?” Karen mengernyit.

”Semua tempat yang biasa dikunjungi wisatawan harus didatangi.”

”Kenapa kau pikir dia akan…” Kata-kata Karen terhenti karena melihat pria yang cukup familier masuk ke restoran.

Pria tinggi, berambut hitam, berkacamata dengan mata teduh di baliknya tersenyum hangat saat melihat Karen.

”Siapa yang kaulihat?” tanya Hiro melihat pandangan Karen melewatinya.

”Aku tak tahu New York sempit sekali,” kata Karen, lalu meneguk teh. ”Entah kenapa, di mana pun kita berada, kita selalu bertemu Yunus King.” ”Yunus King?” ulang Hiro. Dia enggan memutar badannya untuk melihat sendiri.

Karen mengangguk. ”Dia duduk di dekat pintu. Menurutmu apakah dia menguntit kita? Atau dia mengirim orang untuk memata-matai gerak-gerik kita?”

”Imajinasimu terlalu liar,” komentar Hiro. Kali ini giliran dia memutar bola mata. ”Memangnya apa gunanya dia menguntit kita atau menyuruh orang untuk memata-matai kita? Atau jangan-jangan kau memegang kode aktivasi nuklir Korea Utara?”

”Sekarang imajinasimu yang terlalu liar,” balas Karen kesal.

”Apakah dia memegang peta?” tanya Hiro. Dia mengambil tisu dan menulis sesuatu di atasnya dengan pensil yang digunakan untuk menulis pesanan. ”Mmm...” Karen menyipitkan sebelah mata, mencoba fokus untuk melihat benda di genggaman Yunus. ”Iya, peta. Aku heran, dia orang kaya tapi sepertinya

tidak kenal GPS.”

”Karena dia GPS itu sendiri,” kata Hiro pelan, menaruh beberapa lembar dolar di meja, lalu bangkit dari duduk.

”Hah? Apa maksudmu?” tanya Karen bingung. ”Hai… Hiro, tunggu aku!” Hiro berjalan menuju pintu keluar dengan Karen yang tergopoh-gopoh mengikutinya. Saat melewati Yunus, Hiro berhenti, lalu mengeluarkan tisu  yang tadi dia tulisi. ”Anda sudah memberikan nomor Anda,” katanya sambil menyerahkan tisu itu pada Yunus. ”Ini nomor saya. Agar adil.”

”Terima kasih, walau sebenarnya tidak perlu,” jawab Yunus sambil menerima tisu itu. ”Karena aku lebih suka berbicara langsung.”

”Tetap saja harus meneleponnya dulu kan untuk bertemu dengan Hiro?” timpal Karen.

Yunus tersenyum. ”Tidak juga, karena aku selalu tahu di mana bisa bertemu dengannya.”

Hiro menatap mata Yunus beberapa saat, lalu pergi ke luar restoran tanpa berkata apa-apa lagi.

Karen mengernyit. Apa maksudnya?  
Bagikan Novel ini Sebegai bentuk dukungan untuk situs ini 😊