menu

Touché Alchemist Bab 09

Mode Malam
Bab 09
BOM meledak di Strawberry Fields, tribut Yoko Ono untuk suaminya, John Lennon, di Central Park. Ketika

Hiro datang, tempat kejadian perkara sudah disterilkan dan diberi garis kuning. Semua korban yang ternyata sebagian besar turis asing, sudah dibawa ke rumah sakit.

Hiro mengamati sisa-sisa bom yang meledak dan sepertinya tidak ada yang bisa disimpulkan selain pelakunya memang sama dengan tiga peledakan sebelumnya. Dia juga tidak yakin bagian forensik akan menemukan sidik jari atau DNA si pelaku dari  sisa-sisa bom itu. Hiro tahu siapa pun yang melakukan ini orang yang pandai dan cermat, tak akan membuat keteledoran. Kalaupun ada DNA yang tertinggal, kepolisian tidak tahu kepada siapa DNA itu harus dicocokkan karena belum memiliki tersangka.

”Di mana bom itu ditaruh?” tanya Hiro. ”Maksudmu?” Sam balik bertanya.

”Di dalam kardus atau tas?”

Sam membuka catatannya. ”Di dalam tas. Dari keterangan saksi mata, sebelum meledak mereka melihat tas di tempat itu.”

Pandangan Hiro menyapu TKP. ”Aku sama sekali tidak bisa melihat sisa koyakan tas.”

”Sekitar 95% terbakar.” ”Apa jenis tasnya?”

Sam mengangkat bahu. ”Tidak ada yang memperhatikan dengan jelas apakah ransel, tas selempang, atau tas jinjing biasa.”

”Dan hampir semua bagiannya terbakar?” Hiro memastikan sekali lagi.

Sam mengangguk dalam-dalam.

Mata Hiro tertuju pada tempat yang sepertinya sumber ledakan. Dari bekasnya, dia tahu bom itu diletakkan tepat di mozaik bulat yang di tengahnya bertuliskan Imagine, judul lagu John Lennon yang terkenal. Mozaik yang semula berbentuk matahari yang bersinar tampak gosong dan hancur di sana-sini.

”Pantas saja kebanyakan korban adalah turis,” kata Sam saat melihat bekas ledakan. ”Mereka pasti sedang berfoto di atas mozaik ini untuk kenang-kenangan.”

Hiro tampak berpikir sejenak. ”Apa tidak aneh?” ”Apa maksudmu?”

”Apa orang-orang tidak merasa aneh melihat orang meletakkan ransel di sini?”

”Kau benar.” Sam manggut-manggut. ”Setelah ini aku akan ke rumah sakit. Siapa tahu ada korban yang melihat pelakunya.”

Hiro  tidak merespons.

”Bagaimana kau tahu peledakan bom berikutnya ada di Central Park?” tanya Thomas yang sedari tadi berdiri di samping Sam.

”Berarti kau tahu di mana dia akan menempatkan bomnya lagi setelah ini?” tambah Sam.

”Penjelasannya setelah kalian kembali dari rumah sakit saja.” Hiro menguap, semalaman tidak tidur. ”Ingatan manusia paling tajam beberapa saat setelah kejadian. Jika terlalu lama, ingatannya bisa memudar dan kalian akan kehilangan hal-hal penting yang mungkin bisa jadi petunjuk tentang pelakunya.” ”Jadi kau sudah tahu siapa pelakunya?” tanya Thomas.

”Belum,” jawab Hiro santai sambil berjalan menghampiri Karen, yang berdiri menunggu mereka dari kejauhan. ”Tapi setidaknya aku sudah tahu polanya. Sisanya tugas kalian.”

*  * *

Hiro dan Karen menunggu di kantor polisi sambil sarapan hotdog serta pretzel yang mereka beli dalam perjalanan pulang. Sam dan Thomas berada di rumah sakit untuk menanyai para korban, berharap mendapatkan petunjuk.

”Mereka lama sekali, ya,” kata Karen sambil menyesap kopi, melirik ke arah jam dinding di ruang penyidikan itu yang menunjukkan pukul 09.00.

Hiro yang mencoba tidur dengan menelungkupkan badan di meja hanya mengerang.

”Bagaimana kau tahu si pelaku meletakkan bom di Central Park?” tanya Karen.

”Raja matahari dan diagram bintang,” kata Hiro malas. ”Bisakah kau diam sebentar, aku mencoba tidur.” Karen menggerutu, tapi Hiro tidak menggubrisnya. Tidak lama kemudian Sam dan Thomas masuk ke ruang penyidikan dengan wajah lelah dan putus asa. ”Tidak ada satu pun yang melihat orang yang membawa tas berisi bom itu,” kata Sam sambil menjatuh-

kan badan ke kursi.

”Apa yang terjadi?” Hiro menegakkan badan kembali, tapi matanya masih menunjukkan dia sangat mengantuk.

”Sesaat sebelum kejadian, para turis itu berfoto di mozaik,” jawab Thomas. ”Beberapa menit setelah mereka selesai berfoto, bom meledak. Tak ada yang menyadari ada tas yang diletakkan di sana.”

”Kalian sudah melihat hasil foto sesaat sebelum kejadian itu?” Thomas mengambil ponsel, membuka folder yang ada, lalu menunjukkannya pada Hiro.

”Turis-turis itu berasal dari mana?” tanya Hiro sambil mengamati satu per satu orang di dalam foto itu. Dilihat dari wajahnya, mereka sepertinya berasal dari berbagai negara: Asia, Amerika, Eropa.

”Dari Korea,” jawab Sam.

”Tapi dari foto ini sepertinya bukan hanya dari Korea.” Hiro  mengembalikan ponsel itu pada Thomas.

”Mereka bilang, saat itu ada turis dari Eropa yang mengajak berfoto bersama,” jawab Thomas. ”Dia berteriak sambil melambai-lambaikan tangan hingga orangorang yang kebetulan berada di sana pun berkumpul dan berfoto.”

”Mencurigakan.”

Sam mengangguk. ”Itu yang kupikirkan. Ketika aku bertanya, seperti apa orang yang mengajak itu, jawaban mereka semua sama: wajahnya ramah, berkacamata, beraksen Eropa, menggunakan topi trucker sehingga warna rambut dan bentuk wajahnya tak begitu terlihat.”

”Tidak ada orang dengan ciri-ciri seperti itu di foto barusan,” kata Hiro.

”Itu dia,” kata Sam senang karena Hiro sepertinya sepaham dengannya. ”Itu yang meyakinkanku bahwa dia pelakunya. Kenapa dia mengajak berfoto kalau wajahnya tidak muncul? Menurut hipotesisku, dia mengajak orang-orang berfoto untuk menyamarkan saat dia menaruh tas, tapi sengaja menyembunyikan diri agar wajahnya tidak dikenali.”

”Sayangnya hanya dengan hipotesis kita tidak bisa membuktikan dialah yang memiliki tas berisi bom itu.” Thomas menghela napas. ”Bahkan dia itu siapa, kita belum tahu.” Hiro manggut-manggut. ”Kapan hasil laboratoriumnya keluar?” tanyanya kemudian.

Thomas mengangkat bahu. ”Sepertinya paling cepat seminggu lagi.”

”Tebakanku, tidak ada hal baru yang akan mereka temukan. Jika dilihat dari jenis bomnya, kemungkinan besar pelakunya orang yang sama yang meledakkan tiga bom sebelumnya,” kata Hiro. ”Jika bom itu diletakkan di tas, sidik jari dan DNA akan kita dapatkan  di tas itu, bukan di bom. Aku yakin dia menggunakan sarung tangan saat merakit bom agar tidak meninggalkan jejak. Tetapi saat membawa tas ke tempat publik, dia tidak akan menggunakan sarung tangan karena mencolok dan pasti dicurigai. Jika tasnya berbentuk ransel, malah aku berani bertaruh ada satu-dua helai rambutnya yang jatuh di tas itu. Sayangnya si pelaku sudah memperhitungkan semuanya hingga memastikan tas itu akan terkoyak sedemikian rupa sehingga sulit mengambil sidik jari, apalagi DNA-nya.”

”Bagaimana kau tahu?” Thomas mengerutkan kening. ”Bagaimana kau tahu dia bisa memastikan tas  itu akan terkoyak sedemikian rupa?”

”Bahan,” jawab Hiro. ”Dia menggunakan tas yang 90% bahannya berasal dari serat alami sehingga mudah terbakar dan hancur. Di bagian yang dia perkirakan tidak bisa hancur, seperti cangklong tas, tidak dia sentuh dengan tangan kosong. Itu sebabnya di bagianbagian tas yang masih bisa kalian selamatkan sama sekali tidak ada sidik jari maupun DNA. Dia memastikan bagian-bagian yang kemungkinan dia sentuh akan habis terbakar.”

Thomas dan Sam terpaku. Mereka merasa pelakunya bukan hanya sulit ditemukan; jika memang sepintar itu, kemungkinan besar tidak akan ditemukan.

”Bagaimana kita bisa menangkapnya?” tanya Thomas putus asa.

”Gampang,” jawab Hiro. ”Kita harus menemukan tas berisi bom itu sebelum meledak, sehingga sidik jari dan DNA-nya masih ada.”

”Kau bisa berkata seperti itu berarti tahu polanya,” kata Sam yang sangat mengenal nada percaya diri dalam suara Hiro. ”Sekarang jelaskan kepada kami, bagaimana kau tahu pengeboman keempat terjadi di Central Park?”

Hiro menunjuk botol-botol yang berisi litium, belerang, helium, dan oksigen. ”Apa nama kimia bendabenda di dalam botol itu dalam tabel periodik?”

Thomas dan Sam spontan menatap Karen, karena mereka berdua sudah berpuluh-puluh tahun tidak lagi mempelajari kimia.

”Li, S, O, He,” jawab Karen jelas.

”Li, S, O, He,” ulang Hiro. ”Pesan yang dikirimkan  si pelaku ternyata julukan yang dia buat untuk dirinya sendiri. Seperti tebakanku tentang profilnya: narsis.”

Karen mengerutkan kening. ”Aku tidak mengerti.” ”Aku tidak heran,” balas Hiro dengan gaya som-

bongnya seperti biasa.

Raut wajah Karen langsung berubah masam. Sam dan Thomas tersenyum geli.

Hiro mengambil tisu agar sidik jarinya tak menempel dan mengubah urutan botol-botol di meja. ”Jika urutannya kuubah menjadi helium terlebih dahulu, kemudian litium, lalu oksigen, dan terakhir belerang, apa yang kita dapat?”

”He, Li, O, S”, gumam Sam. Helios?

Karen, Thomas, dan Sam  ternganga.

Melihat ekspresi ketiga orang di hadapannya, Hiro tahu mereka sudah memahami maksudnya. Dia mengangguk. ”Dewa matahari.”

”Lalu apa hubungan Helios dengan lokasi pengeboman?” tanya Thomas tidak sabar.

”Pengeboman pertama terletak di Museum Intrepid di Theater District,” Hiro menunjuk lokasi-lokasi pengeboman yang sudah ditandai pin. ”Di sebelah barat. Selanjutnya Japan Society di Lower Midtown di sebelah timur. Berikutnya Forbes Gallery di Greenwich Village di barat daya. Jika kuhubungkan dengan Helios, tidak sulit buatku menebak bahwa lokasi pengeboman berikutnya adalah Central Park yang terletak di utara.”

Ketiga orang di depannya masih terdiam dengan kening berkerut, tak mengerti.

Hiro menghela napas. ”Ini sebabnya aku tidak suka orang bodoh. Aku harus menguras tenagaku hanya untuk menjelaskan.”

”Kali ini ejekanmu kuterima,” kata Sam tak peduli, karena yang terpenting sekarang adalah kasus pengeboman ini. ”Tapi jelaskan padaku hubungannya.”

”Dalam mitologi Yunani, Helios adalah dewa matahari,” Hiro menjelaskan. ”Apakah sebenarnya matahari? Matahari adalah bintang, bintang paling besar di galaksi Bimasakti. Sekarang kalian paham? Si pelaku ingin membuat tanda kekuasaannya dengan melakukan pengeboman.”

Karen langsung teringat kata-kata Hiro sebelumnya tentang ”Raja Matahari dan Diagram Bintang”. Jadi itu maksudnya? ”Aku mengerti!” seru Sam berbinar-binar, paham sekarang.

”Syukurlah,” ejek Hiro.

”Dia membuat gambar bintang dengan meledakkan bom,” lanjut Sam lebih kepada dirinya sendiri, lalu mengambil spidol.

Dia menarik garis dari Museum Intrepid ke Japan Society, lurus mendatar, seperti dari titik tengah ke angka tiga pada jam. Sam menarik garis lurus lagi ke Forbes Gallery, arah pukul tujuh.

”Jika aku ingin membuat diagram bintang,” ujar Sam menarik garis lurus dari Forbes Gallery ke arah pukul dua belas, ”berarti memang ke Central Park. Dan berakhir di…”

Sam menarik garis lurus lagi dari Central Park ke arah pukul lima.

”East Village!” Karen dan Thomas berseru hampir berbarengan.

Hiro menepukkan tangan. ”Bravo, Detektif!”

”Tapi di mana tepatnya dia akan meledakkan bom?” Sam tidak menggubris tepuk tangan Hiro yang dia tahu sebenarnya ejekan untuk kelambatan berpikirnya. ”East Village punya banyak gedung publik. Mana yang dia tuju?” ”Bukan urusanku.” Hiro mengangkat bahu. ”Sekarang itu tugas kalian.”

”Hiro, ini menyangkut nyawa manusia!” teriak Sam setengah memohon. ”Jadi tolong bantu kami sampai selesai.”

”Nyawa manusia yang tidak aku kenal,” ralat Hiro. ”Kematian mereka tidak ada hubungannya denganku. Bukan tugasku untuk menyelamatkan mereka.”

”Brengsek!” Thomas kehilangan kesabaran. Dia mencengkeram kerah kaus Hiro seraya mendorongnya ke dinding. ”Apa kau tidak punya hati?!” bentak Thomas. ”Bisa-bisanya kau membiarkan orang membunuh orang-orang yang tak berdosa.”

Sam dan Karen berusaha melerai. Sam menahan tubuh Thomas, sedangkan Karen berdiri di antara Thomas dan Hiro, sebagai tameng.

Raut wajah Hiro tak berubah, tetap datar.

”Aku? Membiarkannya?” kata Hiro tersenyum sinis. ”Bukannya kalian yang membiarkannya? Hingga dia bisa melakukan empat pengeboman ini?”

Tidak ada yang mengomentari kalimat Hiro.

”Aku tahu sebenarnya kau tidak marah padaku, Thomas,” lanjut Hiro sambil merapikan kerah kausnya. ”Kau sebenarnya marah pada dirimu sendiri, yang tidak bisa apa-apa untuk menyelesaikan kasus ini dan harus mengandalkan kepandaianku. Bagaimanapun, mencegah timbulnya korban adalah tugas kalian, bukan tugasku. Jangan membagi beban soal menyelamatkan nyawa mereka padaku.”

Hiro keluar ruangan, disambut keheningan para polisi yang melihat pertengkaran itu. Karen mengikutinya dengan kikuk.

”Sial!” Thomas menendang kursi. ”Aku tidak mengerti kau bisa mengenal bocah yang tak punya hati itu, bahkan bekerja sama dengannya selama ini!”

Sam menghela napas, lalu duduk di meja. ”Karena aku paham apa yang membuatnya bersikap seperti itu,” kata Sam.

”Apa maksudmu?”

”Sebelum memintanya menjadi konsultan untuk kepolisian New York,” Sam mulai menjelaskan, ”aku sudah menyelidiki latar belakangnya. Dia genius, IQnya 200, keturunan Inggris-Jepang, kuliah di Universitas Columbia untuk mendapatkan gelar master di bidang kimia. Ibunya tinggal di Jepang dan bekerja sebagai guru SMA di Tokyo, sedangkan ayahnya meninggal ketika dia berumur sepuluh tahun.”

”Oke, dia sudah tak punya ayah.” Thomas memutar bola mata. ”Begitu juga berjuta-juta anak di negara ini, tapi aku yakin mereka tidak sampai tak punya hati seperti bocah itu.”

”Aku belum selesai,” lanjut Sam. ”Ayahnya meninggal karena dibunuh.”

Thomas langsung terdiam.

”Ayahnya terbunuh saat berusaha menolong seorang wanita dari perampokan,” kata Sam. ”Dua perampok itu lantas menganiaya ayah Hiro hingga tewas. Hiro menyaksikan itu semua. Dia berteriak minta tolong, tapi orang-orang yang melihat kejadian itu tak ada yang bergerak untuk membantu, mungkin takut. Setelah perampok-perampok itu pergi, barulah mereka menolong dan polisi datang, tapi sayangnya terlambat.”

”Dari mana kau tahu cerita itu semua?” tanya Thomas. ”Dia yang mengatakan padamu?”

”Tidak,” jawab Sam. ”Aku membaca laporannya karena kejadiannya di New York, tepatnya di Brooklyn.”

”Itu sebabnya sekarang dia berpikir ’kenapa aku harus menolong orang jika mereka sendiri belum tentu akan ganti menolongku’, begitu?” tanya Thomas, lebih kepada dirinya sendiri. Sam mengangguk. ”Kurasa seperti itu.” ”Kalian menemukan pelakunya?”

”Seperti yang kubilang, banyak orang yang melihatnya,” jawab Sam. ”Artinya banyak saksi mata. Pelakunya ditangkap keesokan harinya.”

Thomas hanya mengangguk-angguk tanpa berkata apa-apa lagi.

Sam bangkit, berjalan ke luar ruangan. ”Kita harus menghadap Kapten Lewis dan melaporkan perkembangan kasus ini karena mulai sekarang harus memecahkannya sendiri, tanpa bantuan Hiro.”

*  * *

Sepanjang perjalanan pulang, Karen maupun Hiro tidak bicara. Karen fokus menyetir, sedangkan Hiro membuang pandangan ke jendela.

”Kenapa kau diam saja?” tanya Hiro tanpa menoleh.

”Kau ingin aku berkata apa?” Karen bertanya balik. ”Bukankah kau yang biasanya paling ribut agar aku membantu ayahmu?” lanjut Hiro masih menatap ke luar jendela. ”Apalagi jika menyangkut nyawa manusia.” Karen meringis. ”Dan biasanya kau pasti menurutiku.” Dia diam sejenak. ”Karena aku tahu kau berkata, tidak mau lagi mencari tempat bom berikutnya bukan karena tidak ingin membantu,” lanjut Karen. ”Tapi  kau sendiri masih belum menemukan jawabannya.”

”Kenapa kau menyimpulkan seperti itu?”

”Karena aku tahu di balik sifat narsis, sombong, kepedean, dan masa bodohmu itu, sebenarnya kau punya hati yang sangat baik, sangat peduli pada orang lain,” jawab Karen lembut. ”Hanya saja kau tidak suka menunjukkannya.”

”Kau yakin sedang berbicara tentang aku?” tanya Hiro menanggapi deskripsi Karen yang berlebihan, terutama di bagian ”punya hati yang sangat baik, sangat peduli pada orang lain”.

”Benar, kan?” Karen meringis.

Hiro sejenak terdiam, lalu mendengus. ”Kau sok tahu.” 
Bagikan Novel ini Sebegai bentuk dukungan untuk situs ini 😊