menu

Touché Alchemist Bab 08

Mode Malam
Bab 08
HIRO duduk di bangku taman Universitas Columbia sambil mengamati melalui iPad foto empat botol yang

dikirimkan kepada Sam. Keempat botol itu menjadi barang bukti sehingga ia tidak bisa membawanya pulang, tapi boleh memotretnya. Sudah dua hari dia mencoba memecahkan kasus itu, tapi tak ada hasil. Baru kali ini dia merasa tertantang sekaligus senang karena bisa bertemu orang yang kepandaiannya setidaknya setara dengannya, walaupun tentu saja, baginya tetap dialah yang lebih pandai.

Petunjuk itu ada di keempat botol ini, batin Hiro. Tapi apa? Bagaimana mungkin dua botol kosong, satu botol berisi litium, dan satu botol berisi belerang punya hubungan dengan pengeboman di Museum Intrepid, Japan Society, dan Forbes Gallery? Apa yang menjadi penghubungnya? Atau mungkin Sam salah dan ternyata keempat botol ini tidak ada hubungannya dengan pengeboman itu?

Saat dia berpikir keras, tiba-tiba ada orang berdiri di depannya. Hiro mendongak dan melihat Yunus yang tangannya menggenggam peta tersenyum padanya.

Hiro pura-pura tidak memperhatikannya, pandangannya kembali beralih pada iPad di tangannya.

Yunus duduk di sebelah Hiro sambil mengamati pemandangan di kampus itu. Tidak ada satu pun dari mereka yang bicara.

”Terima kasih,” kata Yunus kemudian, memecah keheningan. ”Berkat dirimu, aku tak jadi rugi dan sudah melaporkan si penjual emas campuran itu ke polisi.”

Hiro hanya mengangguk.

”Kau tidak ingin tahu bagaimana aku bisa selalu menemukanmu?”

”Tidak.”

Yunus tertawa. ”Kau memang menarik.”

Bohong jika Hiro tidak ingin tahu, tapi tetap berusaha menahan diri karena masih belum yakin apakah Yunus orang yang bisa dipercaya atau tidak. Apakah dia juga memiliki kemampuan yang sama atau tidak. Hiro tidak ingin kemampuan anehnya ketahuan orang yang punya niat jahat atau bahkan membuatnya menjadi kelinci percobaan atau membuatnya menjadi objek penelitian.

Merasa tidak mendapat respons, Yunus bangkit. ”Ya sudahlah, jika kau tidak memercayaiku.”

Pria itu membuka dompet, mengambil kartu nama, lalu menyerahkannya pada Hiro. ”Siapa tahu kau kehilangan kartu namaku. Telepon saja jika kau membutuhkan bantuanku.”

Hiro menerima kartu itu tanpa banyak  bicara. Yunus tersenyum. ”Baiklah, aku  pergi  dulu.” ”Anda tidak meminta nomor saya?” tanya Hiro keti-

ka Yunus hendak membalikkan badan.

Yunus menoleh, menatap Hiro. ”Tidak perlu, karena aku selalu bisa menemukanmu.”

Hiro menelan ludah. Ada perasaan aneh yang menyelimutinya setelah mendengar jawaban Yunus dan melihat tatapannya. Seperti sesuatu yang mengikat dia dengan pria berkacamata di hadapannya. Ada sesuatu yang sama antara dirinya dan pria itu. ”Kenapa Anda baik sekali pada saya?” tanya Hiro, ”padahal kita baru bertemu dan saya sama sekali tidak mengenal Anda, kecuali dari yang saya baca di internet.”

”Alasannya?” Yunus menghela napas dan tersenyum lagi. ”Aku akan mengatakan alasannya saat merasa kau sudah memercayaiku.”

Setelah mengatakan itu, Yunus berjalan pergi.

Hiro menatap punggung Yunus yang mulai menjauh dengan banyak pertanyaan di kepalanya: siapa sebenarnya Yunus? Apakah dia memang tahu tentang kemampuannya atau juga punya kemampuan sama? Kenapa pria itu selalu membawa peta dan kenapa selalu tahu di mana Hiro berada?

Saat sedang berpikir, ponsel Hiro berbunyi. ”Halo, Sammy?” jawab Hiro.

”Halo, Hiro!” Suara Sam terdengar panik. ”Kau sudah menemukan pelakunya? Atau di mana bom berikutnya diletakkan? Atau apa pun yang bisa menyelesaikan kasus ini?”

Hiro menghela napas. ”Tadi pikiranku  teralihkan hal lain, jadi aku belum  menyelesaikannya.  Ada apa?”

”Paket itu datang lagi!” Sam setengah terpekik. ”Berarti besok akan ada peledakan bom lagi! Dan kita tidak tahu di mana bom itu akan meledak!”

Hiro terdiam. Sebenarnya pesan apa yang ingin disampaikan pelaku melalui keempat botol itu?

”Sam…” ”Ya, Hiro?”

”Suruh Karen menjemputku di kampus,” kata Hiro. ”Aku ke tempatmu sekarang.”

*  * *

Di ruang penyidikan yang sementara ini menjadi ruang kantor agen FBI, Thomas Pike, selama menyelidiki kasus pengeboman berantai, Hiro mengamati peta New York yang terpasang. Thomas menandai tempat ledakan bom di peta itu dengan pin: Museum Intrepid di Theater District, Japan Society di Lower Midtown, dan terakhir Forbes Gallery di Greenwich Village. Ketiga tempat itu tidak memiliki kesamaan, selain merupakan tempat publik. Artinya, pelaku adalah pengunjung biasa yang bisa keluar-masuk tempat-tempat itu, tapi anehnya dari hasil rekaman CCTV ketiga tempat tersebut, tidak ada satu orang pun yang berwajah sama. Apakah si pelaku menyamar atau menyuruh seseorang, masih belum diketahui. Lagi pula ada lima borough di kota New York: Manhattan, Queens, Brooklyn, The Bronx, dan Staten Island, tapi kenapa tiga lokasi peledakan bom terletak di Manhattan? Hiro belum menemukan jawabannya.

Pandangan Hiro beralih pada empat botol di meja Thomas. Lagi-lagi dua botol kosong, satu botol litium, dan satu botol belerang.

Kenapa ada botol kosong? Dan kenapa ada dua botol ko­ song? Hiro bertanya-tanya dalam hati.

”Kau sudah memecahkannya?” tanya Karen yang sejak tadi berdiri di samping Hiro.

Hiro menggeleng. Dia merogoh-rogoh saku bajunya.

Sial, aku lupa membawa permen!

Karen yang melihat kebingungan Hiro, merogoh sesuatu dari tasnya. ”Kau mencari ini, kan?” Karen mengacungkan lolipop di tangannya.

Hiro tidak berkata apa-apa, langsung mengambil lolipop itu, lalu mengulumnya.

”Terima kasih kembali,” dengus Karen.

Fokus Hiro kembali pada peta. Dia harus segera menemukan lokasi pengeboman berikutnya yang kemungkinan besar akan terjadi besok. Hiro yakin ada pola di sini, tapi belum juga menemukannya. ”Betah juga dia,” komentar Thomas dari luar ruangan melihat Hiro berdiri tak bergerak memandangi peta.

”Tentu saja,” jawab Sam. ”Karena kasus ini menyangkut harga dirinya. Bukan saja dia takut orang akan mempertanyakan kepandaiannya, juga dirinya sendiri mempertanyakan kepandaiannya.”

”Penyakit orang genius,” desah Thomas.

”Aku jadi bersyukur dengan kepandaianku yang sekarang,” kata Sam.

Waktu menunjukkan pukul sebelas malam dan Hiro masih memandangi peta. Pikirannya memunculkan rumus-rumus untuk mencari pola yang digunakan si pelaku. Semua variabel yang mungkin digunakan pelaku sebagai acuan untuk meletakkan bom seperti demografi, lokasi, bahkan cuaca, dia kalkulasikan, sayang­ nya masih belum menemukan jawabannya.

Karen menguap untuk kesekian kalinya, beberapa kali nyaris jatuh tertidur.

”Pulanglah,” kata Hiro pada Karen tanpa mengalihkan pandangan dari peta.

”Bagaimana denganmu?” tanya Karen. ”Siapa yang akan mengantarmu pulang?”

”Gampang,” jawab Hiro. ”Kalau sudah memecahkannya, aku akan meneleponmu.” ”Jangan-jangan begitu aku sampai di rumah, kau meneleponku untuk menjemputmu,” kata Karen curiga.

”Mungkin,” jawab Hiro enteng.

Karen cemberut, lalu menjatuhkan tubuhnya di kursi di ruangan itu. ”Aku tidur di sini saja.”

Hiro tidak menggubris.

Ketika waktu menunjukkan pukul empat pagi, Hiro merasa sangat lelah. Dia duduk di meja Thomas, memandang ke luar ruangan, dan mendapati ruang kantor polisi amat sepi. Hanya ada beberapa polisi yang tampaknya memang mendapat jadwal piket dan Sam serta Thomas. Sam tertidur di kursinya, sedangkan Thomas tertidur di kursi Matt.

Mata Hiro beralih pada Karen yang tertidur nyenyak di kursi ruang penyidikan itu. Beberapa kali mulut Karen mengecap-ngecap, seperti sedang makan sehingga membuat Hiro tersenyum geli.

Dia pasti sedang bermimpi melahap semua makanan  yang ada di New York, batin Hiro.

”Hmmm…,” erang Karen. Jaket yang dia gunakan sebagai selimut melorot sehingga membuatnya kedinginan.

Hiro yang melihatnya, menyelimuti Karen dengan jaketnya sendiri. Tepat saat dia sedang menyelimuti, mata Karen terbuka.

”Apa yang kaulakukan?” tanya Karen serak karena masih mengantuk.

”Menyelimutimu,” jawab Hiro singkat.

”Kau siapa?” Karen menyipit, mencoba fokus melihat Hiro.

”Apa maksudmu?”

”Kau pasti bukan Hiro,” kata Karen. ”Hiro tidak mungkin sebaik ini.”

Hiro langsung melilitkan jaket yang tadi digunakan untuk menyelimuti Karen ke leher gadis itu dan menariknya hingga Karen tercekik.

”Kau mencoba membunuhku!” pekik Karen terbatuk-batuk.

”Aku hanya membangunkanmu,” dengus Hiro, lalu mengalihkan pandangannya ke peta New York di depannya.

”Kenapa aku harus bangun?” dengus Karen. ”Karena dengkuranmu membuatku tak bisa berkon-

sentrasi.”

”Lalu kenapa kau tadi mencoba menyelimutiku?” ”Aku mencoba berbuat baik,” jawab Hiro. ”Dan sekarang aku menyesalinya. Lain kali ingatkan aku agar tidak pernah lagi berbuat baik padamu.”

Karen menggerutu, lalu bangkit dari duduk, dan berjalan ke luar.

”Kau mau ke mana?” tanya Hiro.

”Membuat kopi,” jawab Karen masih dengan nada kesal.

”Bisakah kaubuatkan satu untukku?”

Karen memutar bola mata. ”Bisakah aku menjawab, ’tidak’?”

Hiro melihat ke arah jam dinding. Sudah hampir pukul lima sekarang dan dia masih belum menemukan petunjuk apa pun.

Mata Hiro kembali pada peta di depannya. Apa petunjuknya? Bagaimana polanya? Museum Intrepid di Theater District terletak di barat, Japan Society di Lower Midtown terletak di timur, dan terakhir Forbes Gallery di Greenwich Village terletak di barat daya. Apa hubungannya?

Karen kembali dengan dua cangkir di tangan. Dia menyesap kopi di cangkir tangan kanannya, sambil memberikan cangkir di tangan kirinya pada Hiro. ”Nih.”

Hiro menerima cangkir itu tanpa melihat Karen dan bisa merasakan cangkir itu terlalu ringan. Saat dia melihatnya, ternyata cangkir itu kosong. ”Apa maksudmu?” kening Hiro berkerut.

”Balasan karena sudah membangunkanku,” jawab Karen santai.

”Dan kau membalasku dengan memberi cangkir kosong?” Hiro menghela napas. ”Dasar anak-anak!”

Ganti kening Karen yang berkerut. Bukannya kau juga seumuran denganku?

”Itu ada isinya kok,” Karen membela diri, ”isinya udara.”

”Anak kecil,” dengus Hiro lagi.

Isinya udara? Apa tidak ada alasan yang lebih kekanakan lagi? batin Hiro. Cangkir kosong jelas berisi udara, kecuali di ruang hampa.

”Kosong… udara…,” gumam Hiro. Seakan tersadar akan sesuatu, punggungnya menegak.

”A... Ada apa?” tanya Karen bingung dengan perubahan sikap Hiro yang mendadak.

Tanpa menggubris Karen, Hiro bergegas ke luar ruangan, menuju meja Sam. Dia menepuk-nepuk bahu detektif itu untuk membangunkannya.

Sam mengerang. ”Ada apa, Hiro?”

”Kau harus membiarkanku menyentuh botol-botol itu dengan tangan kosong,” kata Hiro tidak sabar. ”Tidak bisa, Hiro, itu barang bukti,” kata Sam sambil mengusap-usap mata. ”Tidak bisakah kau melakukan dengan cotton bud seperti biasanya?”

”Kali ini tidak bisa!” Hiro mulai jengkel. ”Aku harus menyentuhnya.”

”Tapi, Hiro…”

”Kalau kau tidak membiarkanku melakukannya, aku tidak bisa membantumu menyelesaikan kasus ini,” ancam Hiro tegas.

Sam terdiam, melirik Thomas yang masih tertidur

di  meja Matt.

”Baiklah…” Sam menyerah. ”Tapi setelah itu hapus sidik jarimu.”

Hiro tersenyum dan mengangguk.

”Dan lakukan diam-diam,” lanjut Sam setengah berbisik.

Hiro kembali ke ruang penyidikan, menuju meja yang di atasnya terdapat empat botol yang kemungkinan besar dikirim oleh pelaku pengeboman. Dia mengambil salah satu dari dua botol kosong itu. Dia membuka tutup botol itu, lalu dengan cepat menaruh jari telunjuknya di mulut botol. Hiro bisa melihatnya. Ini bukan botol kosong berisi udara yang biasanya. ”Ini helium,” gumam Hiro tersenyum. ”Botol ini berisi helium.”

Karen yang sejak tadi memperhatikan Hiro hanya bengong.

Hiro mengambil botol kosong yang tersisa dan menaruh telunjuknya sesegera mungkin di mulut botol begitu botol itu dibuka. ”Yang ini  oksigen,”  kata  Hiro.

”Jadi ini bukan botol kosong biasa?” tanya Karen. Belum sempat Hiro menjawab, Sam membuka pintu.

”Bagaimana?”

Hiro membersihkan sidik jarinya di botol itu dengan saputangan. ”Sammy, apakah kau pernah memerintahkan untuk meneliti isi dua botol kosong ini ke laboratorium forensik?”

”Untuk apa?” tanya Sam. ”Aku hanya meminta mereka mencari tahu apakah ada DNA dan sidik jari di botol-botol itu.”

”Karena dua botol yang kita anggap kosong ini ternyata ada isinya,” jelas Hiro. ”Botol yang satu berisi helium dan yang satu lagi berisi oksigen.”

”Oh, jadi itu bukan botol kosong?” Raut wajah Sam langsung berubah, seakan melihat secercah harapan akan kasus ini. ”Berarti si pelaku mengirim kepada kita litium, belerang, oksigen, dan helium.”

”Lalu apa artinya itu?” tanya Karen yang membuat suasana kembali hening, karena baik Hiro maupun ayahnya sama-sama belum menemukan jawabannya.

Hiro kembali mengamati peta di hadapannya. Bom pertama meledak di Theater District, bom kedua meledak di Lower Midtown, dan bom ketiga meledak di Greenwich Village. Apa hubungan ketiga bom itu dengan litium, belerang, oksigen, dan helium?

”Litium, belerang, oksigen, dan helium,” gumam Hiro. ”Litium Li, belerang S, oksigen O, dan helium He. Li, S, O, He…”

”Apa yang terjadi?” tanya Thomas yang baru saja bangun.

”Hiro baru saja menemukan bahwa dua botol yang semula kita kira kosong ternyata berisi oksigen dan helium,” jawab Sam.

”Bagaimana dia mengetahuinya?” tanya Thomas heran.

Sam hanya mengangkat bahu. ”Selama itu membantu kita memecahkan kasus ini, aku tidak banyak bertanya.” ”Li, S, O, He,” Hiro masih menggumam sambil berjalan mondar-mandir.

Karen seakan paham hal yang dibutuhkan Hiro. Dia mengambil lolipop yang masih tersisa di tasnya, lalu menyerahkannya pada pemuda itu.

Tanpa banyak bicara, Hiro mulai mengulum permen itu dan kembali melihat peta. ”Li, S, O, He.”

Waktu sudah menunjukkan pukul tujuh pagi. Hiro masih mondar-mandir dengan permen di mulutnya, sambil sesekali berhenti untuk melihat peta. Apa mak­ sud Li, S, O, dan He? batinnya.

Hiro melihat ke peta sekali lagi dan saat itulah dia menyadari sesuatu. Akhirnya dia bisa memecahkan kode itu dan menemukan pola yang digunakan pelaku.

Hiro membalikkan badan, menatap Thomas dan Sam bergantian. ”Aku tahu di mana dia akan meletakkan bomnya.”

”Di mana?” tanya Sam senang.

”Central Park,” jawab Hiro. Tepat saat dia mengatakan itu, hampir semua telepon di kantor polisi berdering.

Opsir yang menerima telepon mengetuk pintu ruangan dan menyampaikan berita. ”Ada bom meledak di Central Park, tiga orang tewas,  lima  belas  lukaluka.”

Sam, Thomas, dan Karen langsung menatap Hiro.

Tebakannya tepat, tapi sayangnya dia terlambat.  
Bagikan Novel ini Sebegai bentuk dukungan untuk situs ini 😊