menu

Touché Alchemist Bab 07

Mode Malam
Bab 07
”KENAPA kau tak pernah memberitahuku, Hudson?” tanya Kapten Lewis geram.

”Karena waktu itu saya pikir ini ulah iseng belaka,” jawab Sam mengangkat bahu.

”Bagaimana kau tahu ini bukan ulah iseng belaka?” tanya Kapten Lewis lagi, lalu menatap Thomas Pike. ”Dan bagaimana menurutmu, Special Agent Pike? Apakah ini memang ada hubungannya dengan pengeboman di Museum Intrepid dan Japan Society?”

”Saya tidak tahu,” jawab Thomas jujur. ”Tapi setelah mendengar cerita Detektif Hudson, saya pikir tidak ada salahnya menelusuri paket itu dan mencari tahu maksud pengirimannya.”

”Aku harus mendapatkan kepastian terlebih dahulu, apakah paket itu memang ada hubungannya dengan pengeboman.” Kapten Lewis mengetuk-ngetukkan jari ke meja. ”Aku tak mau waktu dan tenaga orang-orang terbaikku, termasuk kalian para agen FBI, terbuang sia-sia untuk menelusuri hal yang mungkin tak ada hubungannya.”

”Kapten ingin kepastian?” tanya Sam berani. Kapten Lewis menatap Sam tajam. ”Ya.”

”Paket itu dikirim kemarin,” kata Sam. ”Jika memang ada hubungannya, hari ini pasti akan terjadi pengeboman, entah di mana, seperti yang sudah-sudah.”

Tidak ada satu pun dari mereka yang bicara. Mereka sebenarnya tidak mau pengeboman terjadi lagi, tapi kepastian sangat mereka butuhkan.

Tiba-tiba telepon di hampir seluruh ruangan berdering. Sam menelan ludah. Apa yang dia takutkan tampaknya terjadi. Telepon di ruangan Kapten Lewis juga berdering.

”Halo?” jawab Kapten Lewis. Beberapa saat kemudian, raut wajahnya berubah pucat. Dia menatap Sam dengan tatapan tak percaya. ”Kita sudah mendapat kepastian,” kata Kapten Lewis setelah menutup telepon. ”Ada pengeboman di Greenwich Village, tepatnya di Gedung Forbes Gallery di Fifth Avenue.”

Thomas dan Sam berpandangan.

”Mulai telusuri paket itu,” perintah Kapten Lewis mantap.

”Siap, Kapten!”

*  * *

Bom meledak di galeri perhiasan saat diadakan pameran perhiasan batu luar angkasa. Bebatuan angkasa yang jatuh di bumi dijadikan perhiasan dan dipamer­ kan. Bahkan sudah beberapa kali diadakan di Forbes Gallery. Bom sepertinya diletakkan di dekat kalung batu bintang yang memang banyak dilihat orang. Akibatnya, walaupun daya ledak bom tidak begitu kuat, tetap terdapat korban tewas dan banyak pengunjung terluka.

”Kau menemukan sesuatu?” tanya Thomas.

Sam menggeleng. ”Lagi-lagi CCTV tidak banyak membantu. Aku merasa orang ini seperti bunglon yang dengan mudahnya membaur hingga tidak tampak.” ”Dia juga tidak meninggalkan jejak,” keluh Thomas. ”Dia tidak meninggalkan sidik jari ataupun DNA. Aku yakin, walau berdoa semoga keyakinanku salah, kali ini dia juga tidak melakukan kesalahan.”

Sam mengamati sisa-sisa ledakan bom. Tidak ada benda-benda tajam atau gotri yang biasanya dimasukkan ke bom oleh teroris untuk memberi efek fatal bagi korban. Si pelaku sepertinya memang tidak berniat melukai. Insting detektif Sam memberitahunya bahwa si pelaku sedang mengirim pesan. Kepada siapa dan pesan apa, itulah yang harus dia temukan karena dia tahu pasti si pelaku belum akan berhenti di sini.

”Hudson!” panggil Thomas.

Sam berjalan menghampiri Thomas dan tampak berpikir keras.

”Apa yang kaupikirkan?” tanya Thomas.

”Si pelaku sedang mengirimkan pesan,” kata Sam. ”Maksudmu paket berisi empat botol itu?”

”Itu juga,” kening Sam berkerut, berusaha membuat hipotesis.

”Maksudmu?” tanya Thomas tak mengerti.

”Ini seperti permainan,” jawab Sam, walau tak sepenuhnya yakin. ”Dia sedang bermain dan ingin melihat, siapa yang menang. Dia menantang kita atau seseorang untuk menangkapnya.”

”Menantangmu?” ralat Thomas. ”Kaulah yang dia kirimi paket, ingat?”

”Benar,” Sam mengangguk­angguk. ”Tapi firasatku mengatakan, aku bukanlah orang yang ingin ditantang si pelaku.”

Thomas menggeleng sambil melipat kedua tangan. ”Aku tak mengerti.”

Sam menghela napas. ”Sebenarnya aku juga bingung dengan kata-kataku. Kalau saja aku bisa meminta bantuan Hiro.”

”Siapa yang melarang?” tanya Thomas. ”Memangnya FBI membolehkan?” Sam balik berta-

nya. ”Dia kan baru delapan belas tahun.”

”Dia konsultan kepolisian New York,” Thomas menambahkan. ”Kalau memang sehebat yang kalian bilang, FBI tidak keberatan, terutama jika dia bisa menemukan pelakunya atau minimal tahu di mana bom berikutnya, kalau ada, akan diletakkan.”

Sam mengangguk. ”Kalau begitu aku akan meneleponnya.”

”Dan aku akan mengurus surat-suratnya agar keberadaan Hiro sesuai prosedur,” kata Thomas segera berjalan ke luar.

*  * *

Hiro berjalan sambil membaca buku di kantin ketika tak sengaja William menabraknya hingga jus jeruk yang ada di baki William tumpah ke baju Hiro.

”Maafkan aku, Morrison!” pinta William panik sam­ bil meletakkan baki ke meja terdekat. Dia cepatcepat mengeluarkan saputangan dari saku celana untuk membersihkan noda di baju Hiro.

”Tak apa,” desah Hiro. Dia mengambil saputangan yang dipegang William, mencoba membersihkannya sendiri, walaupun tampaknya sia-sia.

”Maafkan aku,” William merasa bersalah. ”Aku ter­ lalu fokus menonton TV sehingga tidak memperhatikan jalan.”

”Memangnya ada apa di TV?” tanya Hiro ingin  tahu acara yang sampai mengakibatkan bajunya basah dan ternoda.

”Ada bom meledak di Forbes Gallery, padahal aku baru saja pulang dari sana,” jawab William. ”Kau tidak tahu?” Hiro menggeleng.

”Kau tidak dimintai tolong kepolisian New York?” tanya William lagi.

”Tidak,” jawab Hiro santai. ”Mungkin mereka bisa menyelesaikannya sendiri.”

”Kepolisian New York sehebat itu, ya?” William manggut-manggut.

”Mereka juga bekerja sama dengan FBI.” Hiro menghela napas, sepertinya harus pulang ke asrama untuk berganti pakaian. ”Atau mungkin pelakunya yang tidak begitu hebat.”

”Oh.”

Hiro mengembalikan saputangan William. ”Nih, aku ganti baju saja.”

Raut wajah William berubah jijik saat melihat sapu­ tangan yang dipegang Hiro. ”Buang saja. Kau tahu kan, aku tidak bisa memegang apa yang sudah dipegang orang lain. Aku pergi dulu, ya.”

William mengambil lagi baki untuk dikembalikan kepada penjaga kantin, lalu keluar ruangan.

Seharusnya aku yang bilang begitu, gerutu Hiro dalam hati sambil membuang saputangan itu ke tempat sampah. Saputangan ini penuh dengan DNA William. Hiro bergegas kembali ke asramanya untuk berganti pakaian, namun di tengah jalan ponselnya berdering.

”Halo?” jawab Hiro.

”Kau di mana?” tanya Sam  di  seberang  telepon. ”Di kampus,” jawab Hiro malas. ”Suruh Karen men-

jemputku di asrama, sebelum mengantarku ke Forbes Gallery. Aku harus ganti baju dulu.”

”Bagaimana kau tahu aku sudah menyuruh Karen?” tanya Sam bingung campur kagum. ”Dan bagaimana kau tahu aku memintamu ke Forbes Gallery? Lalu… untuk apa kau ganti baju?! Kau ke sini bukan untuk jadi foto model!”

”Berisik, Sammy!” dengus Hiro. ”Tadi ada yang menumpahkan jus jeruk ke bajuku.”

Hening.

”Tentang bagaimana aku tahu?” lanjut Hiro sambil menghela napas. ”Ayolah, Sammy, kau kan tidak mungkin meneleponku hanya untuk menanyakan kabar. Lagi pula aku tahu baru saja ada pengeboman di Forbes Gallery. Kalau tebakanku tidak salah, pengeboman ini punya hubungan dengan pengeboman di Museum Intrepid dan Japan Society. Karena sudah sampai pengeboman ketiga dan kalian belum juga menemukan pelakunya, aku tahu keputusasaanmu sehingga akhirnya memutuskan meminta bantuan otakku yang genius ini.”

”Keputusasaan dan berat hati,” ralat Sam. ”Tapi demi kasus ini, apa pun katamu, Hiro. Bahkan kalau kau menyuruhku mendirikan kuil untuk menyembahmu, akan kulakukan asal kau membantuku menangkap pelakunya.”

Hiro menggaruk-garuk kepala. ”Baiklah. Aku tagih janjimu nanti.”

”Oke!” jawab Sam. ”Terima kasih, Hiro.”

*  * *

”Special Agent Thomas Pike,” Thomas memperkenalkan diri sambil menyalami Hiro.

”Hiro Morrison.”

”Aku sudah mendengar cukup banyak tentangmu,” kata Thomas.

”Saya belum pernah mendengar apa pun tentang Anda,” kata Hiro malas, ingin cepat-cepat masuk dan melihat tempat kejadian perkara.

”Juga sifat burukmu,” Thomas melirik Sam yang hanya mengangguk-angguk.

”Itu bagian tak terpisahkan,” jawab Hiro enteng. ”Dan ini putriku, Karen.” Sam menepuk bahu Karen.

”Jadi kapan aku boleh masuk ke TKP?” potong Hiro tidak sabar.

”Sekarang.” Thomas menunjukkan jalan, diikuti yang lain.

Mereka tiba di ruangan yang penuh bercak darah hingga membuat Karen mual. Serpihan bom sedang dikumpulkan anggota crime scene unit. Kerusakan parah terjadi di dekat tempat kalung batu bintang.

”Ah, aku ingat. Ini kan Pameran Perhiasan Luar Angkasa yang ramai dibicarakan itu,” kata Karen.

”Di antara darah-darah itu, apakah ada darah pelaku?” tanya Hiro.

”Sepertinya tidak, tapi kita harus menunggu hasil laboratorium forensik,” jawab Sam.

”Berapa banyak korban?”

”Tiga tewas, dua luka berat, sepuluh luka ringan,” kali ini giliran Thomas yang menjawab.

”Bagaimana dengan bomnya?” Hiro mendekati tempat diletakkannya bom lalu berjongkok, diikuti Sam. Thomas dan Karen memandangi mereka dari kejauhan.

Sam membaca catatannya. ”Bom dengan daya ledak sedang dan dilengkapi timer. Tidak ada benda-benda seperti paku atau gotri di dalamnya.”

”Bom itu ditaruh di dalam tas?” tanya Hiro.

”Dari sisa cangklong tas yang ditemukan, sepertinya begitu.”

”Hanya cangklongnya?” tanya Hiro heran. ”Sisanya habis terbakar.”

”Ada sidik jari atau DNA di cangklongnya?”

Sam menggeleng. ”Itu hal pertama yang diteliti dan hasilnya nol.”

Hiro manggut-manggut, lalu mengeluarkan lolipop dari saku celana, dan mulai mengulumnya sambil berpikir.

”Lama-lama kau bisa kena diabetes jika terus makan permen seperti itu,” Sam mengomentari kebiasaan Hiro.

”Rangsangan di mulut memicu otak berpikir,” jawab Hiro cuek sambil mengeluarkan persediaan cotton bud dari saku bajunya. ”Walau aku agak ragu juga dengan teori itu setelah melihatmu, Sammy. Melihat perut gendutmu berarti mulutmu lebih banyak mendapatkan rangsangan daripadaku, tapi kau tidak lebih pintar daripada aku.” ”Bocah kurang ajar,” gerutu Sam.

Thomas menyaksikan kejadian itu dengan iba bercampur geli. Dia bisa membayangkan penderitaan Sam selama bekerja sama dengan Hiro.

”Maafkan sifat buruk Hiro,” bisik Karen pada

Thomas.

Thomas tersenyum. ”Tidak apa, tapi kenapa kau yang minta maaf?”

Karen tampak terkejut menerima pertanyaan seperti itu, lalu bingung sesaat, seolah dia sendiri mempertanyakan hal yang sama walau akhirnya menjawab, ”Karena aku babysitter-nya.”

Thomas hanya mengangguk.

”Apakah ada hal lain yang harus kuketahui?” tanya Hiro sambil mengoles tempat-tempat yang dia anggap penting dengan cotton bud kemudian menyentuhnya.

”Maksudmu?” Sam mengernyit.

Hiro mengangkat bahu. ”Apakah dia mengirim petunjuk atau apalah ke kantor polisi atau ke seseorang?”

”Bagaimana kau tahu?” tanya Sam kaget, padahal berita tentang paket itu belum tersebar ke mana-mana. Hanya dia, Thomas, serta Kapten Lewis yang tahu. Hiro mengangkat bahu. ”Aku hanya menebak. Ternyata benar, ya?”

”Si pelaku menganggap ini hanya permainan,” ujar Hiro sambil bangkit berdiri. ”Dia menggunakan bom dengan daya ledak yang tak begitu besar, dengan  timer, dan tidak diisi benda-benda kecil seperti ulah teroris umumnya. Kalau ingin membunuh, dia akan menggunakan bom dengan daya ledak kuat dan pemicu jarak jauh agar bisa mengontrol kapan bom diledakkan, juga diisi benda-benda kecil tajam. Pelaku merencanakan peledakan bom ini dengan cermat, buktinya polisi masih belum bisa menangkapnya hingga tiga pengeboman. Dia ingin mengirim pesan.”

”Mengirim pesan?” tanya Karen yang langsung mendekat bersama Thomas begitu mendengar Hiro menjelaskan.

”Seperti halnya aktivis LSM yang mencoret-coret tembok untuk menyampaikan pesan,” jawab Hiro, ”dia ingin memberitahukan sesuatu pada kita. Jadi menurutku ada pola di sini. Itulah sebabnya aku merasa dia mengirim petunjuk agar kita menemukan pola itu. Dia ingin agar kita cepat menerima pesannya. Jadi, apa yang dia kirimkan, Sammy?” ”Dua botol kosong, satu botol berisi litium, dan satu botol lagi berisi belerang,” jawab Sam. ”Tidak ada sidik jari maupun DNA di paket maupun botol itu, aku sudah memeriksanya.”

”Menarik.” Hiro tersenyum senang. ”Menarik sekali.”

”Kau punya gambaran pelakunya?” tanya Thomas. ”Aku bukan profiler.”

”Dikira-kira sajalah,” pinta Sam.

Hiro menghela napas, lalu menggaruk-garuk kepala. ”Orang yang sangat pandai dan percaya diri dengan kepandaiannya, bisa dikatakan narsis. Sombong karena bisa meledakkan bom di tempat-tempat ramai dan cermat karena tidak meninggalkan sidik jari.”

Karen mengerutkan kening. ”Terdengar seperti dirimu.”

”Mari kita ke kantormu saja, Sam.” Hiro berpurapura tak mendengar komentar Karen. ”Aku ingin lihat botol-botol itu.”

”Jadi kau masih belum menemukan pelaku dan maksudnya?” tanya Sam sambil berjalan ke luar. ”Bukankah tadi kau memeriksa darah dan sebagainya?”

”Percuma,” jawab Hiro malas. ”Di antara korban yang tewas dan terluka tidak mungkin ada pelaku karena ini bukan bom bunuh diri.”

”Bagaimana kau tahu?”

”Kau sendiri yang bilang, bom yang dipakai menggunakan timer,” desah Hiro. ”Mana ada pelaku bom bunuh diri menggunakan timer? Atau setidaknya, kemungkinannya kecil sekali. Lagi pula terlalu banyak DNA yang tercampur di TKP sehingga aku tidak bisa membedakannya. Kepalaku jadi pusing.”  
Bagikan Novel ini Sebegai bentuk dukungan untuk situs ini 😊