menu

Touché Alchemist Bab 06

Mode Malam
Bab 06
”AKU dengar Profesor Martin menawarimu menjadi anggota tim penelitiannya,” kata William saat bubar

kuliah.

Hiro mengangguk sambil merapikan buku-buku. ”Kau menerimanya?” tanya William.

”Kenapa aku harus menolaknya?” jawab Hiro santai.

William membetulkan letak kacamatanya. ”Betul juga.”

Hiro berjalan ke luar ruang kelas. William mengikutinya, setelah terlebih dahulu merapikan kursi yang baru diduduki Hiro agar simetris dengan meja. ”Kau masih jadi konsultan kepolisian New York?” tanya William yang sekarang berjalan di samping Hiro.

”Yup,” kata Hiro singkat sambil mengambil lolipop dari saku bajunya, lalu memakannya.

”Kau juga jadi konsultan untuk kasus pengeboman di Museum Intrepid dan Japan Society?”

”Tidak,” jawab Hiro santai. ”Kenapa?” tanya William ingin tahu.

”Jangan bertanya padaku.” Hiro mengangkat bahu. ”Mungkin mereka tidak memerlukan bantuanku. Mungkin kasusnya terlalu mudah dan bisa mereka pecahkan sendiri.”

William mengangguk-angguk, mendadak menghentikan langkah. ”Ya Tuhan! Aku lupa! Aku harus menemui Profesor Alderman di perpustakaan,” serunya. Tanpa berkata apa-apa, dia langsung berlari tergopohgopoh, meninggalkan Hiro.

Hiro tidak memedulikannya. Hari ini dia ingin cepat-cepat ke laboratorium dan menyelesaikan penelitian, sebelum waktunya tersita untuk penelitian Profesor Martin.

Ponsel Hiro berdering. Nama Karen terpampang di layar. ”Halo?”

”Hiro, kau di mana?” tanya Karen. Ada nada kesal dalam suaranya.

”Di sini,” jawab Hiro malas.

”Kau kan sudah berjanji makan siang denganku di kafe biasa.”

”Ah.”

”Hanya itu jawabanmu? Ah?” Karen setengah menjerit tak percaya. ”Kau lupa.”

Hiro menggaruk-garuk rambut. ”Kau pasti ingin bertanya tentang kasus Melinda Hills, ya?”

”Aku sedang menuliskannya dan ada beberapa hal yang terlupa.” Karen mengiyakan.

”Tidak bisa ditunda lain kali?” tanya Hiro semakin malas. ”Aku sibuk.”

”Kalau mau menundanya, bilang dari kemarin, Hiro!” gerutu Karen. ”Aku menunggumu sejak satu setengah jam lalu.”

Hiro mendengus malas. ”Baiklah… aku ke sana.

Tapi makan siang tetap kau yang bayar.”

”Pria sejati selalu membayar, bahkan walau si wanita yang mengajak,” sindir Karen.

”Aku tidak perlu jadi pria sejati, cukup menjadi pria dengan posisi tawar tinggi,” jawab Hiro enteng. ”Kalau kau tak mau membayar, aku tak akan datang ke sana. Sesederhana itu.”

Hiro bisa mendengar helaan napas Karen.

”Aku menyerah,” kata Karen kemudian. ”Cepat ke sini!”

Telepon ditutup dan tanpa sadar Hiro tersenyum.

*  * *

Karen melempar ponsel ke atas tas di  sebelahnya.  Hiro memang tidak bisa dilawan. Dia melihat di meja, dua cangkir yang semula berisi kopi, satu gelas kosong yang tadinya berisi jus jeruk, dan dua piring kosong yang semula adalah club sandwich lengkap dengan kentang goreng.

Kalau aku jadi gendut, akan  kuhajar  Hiro,  batin  Karen.

Karen memesan satu jus jeruk lagi, lalu kembali sibuk dengan laptop. Dia mencoba mengetik dan mengingat-ingat cara Hiro memecahkan kasus Melinda Hills saat ada pria berdiri di samping mejanya dan bertanya.

”Boleh aku duduk di sini, Nona Hudson, atau… apakah sekarang lebih baik kupanggil Nona Hanagawa?” Karen mendongak. Pria yang pernah dilihatnya saat keluar dari lift Gedung Kelson berdiri di depannya. Pria itu tersenyum.

Karen mengernyit. ”Bagaimana Anda tahu nama saya?”

Pria yang tangan kirinya memegang peta New York itu menyodorkan tangan kanan. ”Namaku Yunus King. Cukup mudah untuk tahu siapa dirimu karena ayahmu salah satu detektif andal yang dimiliki kepolisian New York.”

Yunus menunjuk kursi di depan Karen. ”Apakah aku boleh duduk di sini?”

Karen masih bingung, kenapa Yunus King tiba-tiba datang mencarinya, tapi mengangguk dan mempersilakan pria itu duduk semeja dengannya.

”Ada perlu apa Anda mencari saya, Tuan King?” tanya Karen.

”Aku tidak mencarimu,” Yunus tersenyum. ”Aku mencari temanmu.”

”Teman?” tanya Karen tak mengerti.

”Hiro Morrison,” jawab Yunus. ”Tadi aku lihat dia menuju ke sini dan kau berada di sini. Jadi kusimpulkan dia ada janji denganmu di sini.”

”Lihat?” tanya Karen heran. Bagaimana mungkin dia bisa melihat Hiro dan dirinya dalam waktu bersamaan, padahal tadi Hiro masih berada di kampus.

Yunus hanya tersenyum tanpa mengatakan apa apa.

Tidak lama kemudian pintu kafe dibuka dan sesosok laki-laki tinggi, kurus, dan berambut acak-acakan dengan mata seperti orang baru bangun tidur, masuk. Karen mengangkat tangan untuk memberi tanda.

Hiro kaget melihat Yunus duduk bersama Karen, tapi menyembunyikan perasaan kagetnya dengan mencoba bersikap biasa. Dia duduk di kursi sebelah Karen dan memanggil pelayan.

”Kopi, burger dengan bacon dan banyak keju, serta kentang goreng,” pesan Hiro.

Pelayan itu mengangguk, lalu pergi meninggalkan meja mereka bertiga. Hingga beberapa saat kemudian tak ada satu pun yang berbicara.

”Hiro sudah datang,” Karen mencoba memecah keheningan. ”Katanya, Anda ada perlu dengannya.”

”Ada perlu dengan saya?” Hiro menatap tajam mata Yunus.

Yunus membalas tatapan itu dan tersenyum.  Dia lalu mengeluarkan sesuatu dari kantong jasnya. Dua kotak berwarna hitam dan merah yang ketika dibuka berisi masing-masing satu batang emas seberat seratus gram. Dia menyodorkan kedua kotak itu ke depan Hiro.

”Dua penjual emas menjual emas ini padaku,” jelas Yunus. ”Masing-masing mengaku bahwa emas mereka berkadar 99% dan 24 karat, tapi aku tahu salah satu dari mereka berbohong. Aku hanya tak tahu yang mana.”

”Lalu?” tanya Hiro. ”Apa hubungannya dengan saya?”

”Aku ingin kau memberitahuku.”

Hiro mengalihkan tatapannya pada burger di depannya.

”Anda punya ahli untuk memeriksa kemurnian emas itu,” jawab Hiro malas sambil mulai memakan kentang goreng.

”Memang banyak ahli yang bisa melakukannya, tapi aku tak tahu ahli mana yang bisa kupercaya,” Yunus memberi alasan. ”Karena aku yakin bukan tidak mungkin si penjual emas yang curang itu menyuap ahli yang kupilih atau bahkan semua ahli yang ada.”

”Anda berlebihan,” dengus Hiro, lalu meminum kopi. ”Lagi pula, apa untungnya buat saya?”

Yunus tersenyum. ”Betul, memang tidak ada untungnya bagimu untuk membantuku, tapi tak ada ruginya juga, kan?”

Hiro merasa Yunus sedang mengujinya. Pria itu mengetahui kekuatan yang dia miliki. Bagaimana dia tahu? Sejauh apa dia tahu? Apakah dia juga memiliki ke­ kuatan seperti ini? Apa sebenarnya maksud dia di balik permintaan bantuannya ini? Dan bagaimana dia bisa selalu menemukan keberadaanku? Seluruh pertanyaan berkecamuk di pikiran Hiro.

”Hiro.”

Suara Karen menyadarkannya, akhirnya Hiro kembali bisa menguasai diri.

”Ada apa?” bisik Karen khawatir karena melihat ketegangan di wajah Hiro, walaupun samar.

Hiro hanya menggeleng, lalu mengambil dua kotak di depannya dan menutupnya setelah sempat menyentuh emas di dalamnya sekejap. Dia bisa melihat komposisi tembaga yang cukup besar di salah satu emas dari sentuhan tadi. Hiro mengembalikan kedua kotak itu lagi ke Yunus.

Yunus tampak terkejut, sepertinya penolakan Hiro di luar perhitungannya.

”Jadi kau tak mau membantuku?” tanya Yunus. Hiro hanya mengangkat bahu. ”Baiklah kalau begitu.” Yunus menghela napas, lalu bangkit dari tempat duduk. ”Aku pergi dulu. Senang bertemu dengan kalian.”

”Tidak apa-apa?” tanya Karen bingung, menatap Yunus kemudian memandangi Hiro yang dengan cueknya memakan burger dan kentang goreng secara bergantian.

Yunus tersenyum pahit. ”Tidak apa-apa, Nona Hudson. Aku bisa mengerti Hiro tidak mau membantu.”

”Sekalian saja Anda mampir ke kantor polisi,” kata Hiro saat Yunus mulai berjalan meninggalkan meja mereka.

Yunus menghentikan langkahnya dan menoleh, menatap Hiro bingung.

Hiro tidak memperhatikan tatapan Yunus, tetap sibuk mengunyah. ”Untuk melaporkan penjual emas yang memberimu kotak merah,” katanya sebelum meneguk kopi.

Karen kelihatan jelas tak mengerti kata-kata Hiro, tapi raut wajah Yunus berubah. Pria itu tersenyum senang. Itu artinya Hiro sudah memeriksa bahwa emas di kotak merah kadarnya tidak 99% dan 24 karat. ”Terima kasih,” kata Yunus, lalu berjalan cepat meninggalkan tempat itu.

”Apa maksudnya?” Karen mengerutkan kening. ”Penjelasannya terlalu berat untuk otakmu yang ke-

cil,” kata Hiro cuek.

Karen yang kesal langsung memukul kepala Hiro dengan tasnya.

”Aw!” Hiro mengaduh. ”Kalau aku nanti jadi bodoh gimana?”

”Berarti kau akan merasakan apa yang kurasakan,” balas Karen.

Sekarang giliran Hiro yang kesal.

*  * *

Paket yang ketiga, batin Sam sambil mengamati paket berisi dua botol kosong, satu botol berisi belerang, dan satu botol berisi litium. Ini bukan kebetulan lagi paket seperti itu datang sehari sebelum terjadinya pengeboman. Firasat Sam tidak enak. Apa maksud ini semua? Pesan apa yang ingin disampaikan si pelaku kepadanya? Apakah paket ini bisa menjadi petunjuk tentang pelakunya atau lokasi bom berikutnya diletakkan?

Sam membolak-balik kotak itu, tidak menemukan apa-apa selain empat botol tadi yang berada di dalamnya. Dua paket pertama dia bawa ke laboratorium, tapi tak ada satu pun sidik jari yang ditemukan. Ini pekerjaan yang direncanakan dengan rapi. Sam memutuskan untuk memberitahu seseorang tentang paket itu. Dia mengambil ponsel dan mulai menelepon.

”Pike, ada sesuatu yang harus kauketahui,” kata Sam pada partner FBI-nya. ”Ini sepertinya ada hubungannya dengan kasus pengeboman yang sedang kita kerjakan.”  
Bagikan Novel ini Sebegai bentuk dukungan untuk situs ini 😊