menu

Touché Alchemist Bab 05

Mode Malam
Bab 05
”HIRO!” teriak Karen hingga orang-orang di sekitar mereka memperhatikan.

”Kau tidak perlu berteriak seperti itu,” gerutu Hiro sambil mengusap-usap telinga. ”Aku tidak tuli.

”Tapi dari tadi aku bicara kau sepertinya tidak mendengarku,” Karen memberi alasan dengan nada jengkel.

”Kau bercerita tentang ibumu yang terus-menerus bertanya, kapan kau akan pulang ke Jepang  karena dia baru saja membeli kimono sutra dan ingin melihat kau memakainya,” kata Hiro malas-malasan. Ia berhenti sejenak untuk meneguk kopi. ”Lalu bagaimana ayahmu bingung karena belum menemukan pelaku pengeboman Museum Intrepid. Apa ada yang kurang?”

Karen mendengus. ”Tapi pikiranmu tadi seperti tidak sedang berada di sini.”

”Aku multitasking,” jawab Hiro dengan nada sombong seperti biasa. ”Aku bisa berpikir sambil mendengarkan ocehanmu.”

”Sebenarnya kenapa kau mengajakku sarapan di sini?” tanya Karen kesal.

”Karena ini akhir bulan dan aku belum mendapatkan gajiku sebagai asisten profesor maupun konsultan,” kata Hiro santai sambil makan telur.

”Berarti kau ingin aku membayarimu sarapan?” tanya Karen melotot. ”Kau akan menggantinya bulan depan, kan?”

”Siapa bilang?” Hiro meneguk kopi dengan tenang. ”Minta ganti saja pada ayahmu. Aku senjata rahasia ayahmu. Kalau aku mati kelaparan, ayahmu akan kesulitan saat memecahkan kasus-kasus sulit.”

Ingin rasanya Karen menyiram wajah Hiro dengan kopi panasnya. Dalam hati dia bertanya-tanya, kapan ayahnya berhenti menggunakan jasa Hiro agar dia tidak lagi disiksa seperti sekarang. Tapi setiap mengingat tulisannya tentang kehebatan Hiro yang belum selesai, Karen berusaha menahan diri.

Di tempat mereka makan, masuk pria yang dikenal Hiro, yang kemarin menunggunya di perpustakaan dan memberinya kartu nama. Yunus King.

Yunus duduk di kursi yang terpaut beberapa meja dari meja Hiro. Dia melihat Hiro dan tersenyum sambil mengangkat tangan, seolah menyapa. Hiro berpurapura tak melihat.

”Ada apa?” tanya Karen atas keanehan tingkah Hiro.

”Tidak apa-apa,” jawab Hiro singkat kemudian mengeluarkan iPad dari tas dan mulai sibuk sendiri.

Karen menghela napas. Memang susah memberi perhatian pada orang yang tidak mau diberi.

”Ada bom meledak lagi!” seru seorang pengunjung. Seisi kafe pun langsung menghentikan kegiatan. Pelayan menyalakan TV tepat saat reporter melaporkan ledakan bom itu.

”Bom meledak lagi di New York. Kali ini di  Gedung Japan Society di 333 East 47th Street. Belum ada konfirmasi dari pihak kepolisian, apakah ini ada hubungannya dengan pengeboman di Museum Intrepid. Mengenai korban, sampai detik ini baru terkonfirmasi satu korban tewas dan puluhan lainnya luka­luka karena saat ledakan terjadi, sedang ada pameran karya Haruki Murakami.”

”Museum Intrepid sedang ditangani ayahmu, kan?” tanya Hiro.

Karen mengangguk. Gelisah. ”Aku jadi khawatir.

Entah kenapa perasaanku tidak enak.”

”Apakah menurutmu ayahmu polisi hebat?” tanya Hiro dengan gaya meremehkan.

”Dia polisi yang sangat hebat!” seru Karen tersinggung karena Hiro mempertanyakan kehebatan ayahnya.

”Kalau memang sehebat katamu,” kata Hiro sambil menyesap kopi, ”dia akan baikbaik saja.”

Karen tertegun. Dia baru sadar bahwa yang baru saja dilakukan Hiro adalah untuk menenangkan hatinya. Tanpa sadar Karen tersenyum. Cara yang benarbenar khas Hiro. Mungkin di dunia cuma Karen yang sadar bahwa sebenarnya Hiro sangat peduli pada orang lain. Sayangnya, saking dalamnya dasar hatinya, Hiro sendiri pun tidak menyadarinya.

Ketika Hiro mencuri pandang ke kursi tempat tadi Yunus King duduk, pria itu sudah tidak ada di sana. ”Hiro!” panggil Karen dengan nada khawatir sambil memandang ke arah yang dilihat Hiro. ”Sebenarnya ada apa?”

”Aku hanya berhalusinasi,” kata Hiro lalu bangkit dari duduk. ”Ayo kita menemui ayahmu.”

”Hah? Apa? Kenapa?” tanya Karen bingung, tapi mengikuti Hiro.

”Bukankah tadi kaubilang kau khawatir?” tanya Hiro santai. ”Tapi sebelumnya jangan lupa, bayar dulu sarapannya.”

”Hiro!” Karen kehabisan kata-kata, lalu dengan wajah cemberut meletakkan beberapa dolar di meja dan berlari mengejar Hiro yang sudah keluar dari kafe.

*  * *

”Katakan padaku kalian menemukan pelakunya!” Kapten Lewis tampak habis kesabaran setelah melihat tempat kejadian perkara yang porak-poranda. Bom diletakkan tepat di bawah tangga, di tengah-tengah Taman Zen, di dekat lobi. Korban yang meninggal saat bom meledak sedang menaiki tangga. Sedangkan korban luka, sebagian besar karena terkena pecahan kaca pembatas taman.

Sam menggeleng tak berdaya. ”CCTV tidak banyak membantu. Terlalu banyak turis berombongan sehingga kami belum bisa memetakan siapa yang menaruh bom itu di sana.”

”Aku tak peduli!” Suara Kapten Lewis menggelegar. ”Kalau perlu wawancarai satu per satu orang yang datang kemarin. Kalau turis itu sudah kembali ke negaranya, kejar sampai negaranya!”

Kapten Lewis berjalan cepat ke luar Gedung Japan Society diikuti para ajudannya. Tampak jelas dia gusar dan marah. Tentu saja karena dia harus melaporkan apa yang terjadi kepada Komisaris Polisi dan Walikota dan bisa menebak apa yang akan mereka tanyakan pertama kali: apakah pelakunya sudah ketemu?

”Kau tidak apa-apa, Hudson?” tanya Thomas Pike, agen FBI yang ditunjuk untuk bekerja sama dengan Sam pada kasus pengeboman Museum Intrepid.

Sam menggeleng. ”Kita tinggal menunggu hasil laboratorium forensik.”

”Dari olah TKP yang tadi kita lakukan,” kata Thomas sambil mengamati sekeliling, ”bom ini ada hubungannya dengan bom di Museum Intrepid, walau seperti katamu, kita harus menunggu hasil laboratorium, apakah itu memang benar tipe bom yang sama. Bahkan kali ini kita tidak bisa menemukan sisa tas tempat menaruh bom. Semuanya habis terbakar.”

”Jika memang sama, apa tujuannya?” tanya Sam balik. ”Tidak ada telepon yang menuntut uang atau apalah. Juga tidak ada pernyataan maupun klaim dari organisasi-organisasi teroris yang memusuhi negara ini. Jadi sebenarnya apa motif pelaku melakukan pengeboman ini?”

Thomas dan Sam sama-sama terdiam. Berpikir keras untuk menemukan jawabannya, tapi nihil.

Keheningan mereka dipecahkan suara dering telepon dari saku baju Sam.

”Halo?” jawab Sam.

”Ayah,” sahut Karen. ”Ayah  tidak  apa-apa?” ”Tidak apa-apa, Karen.” Sam tersenyum, merasa se-

nang karena anaknya mengkhawatirkannya. ”Ada apa?”

”Tidak, aku hanya ingin tahu apakah Ayah baikbaik saja,” jawab Karen. ”Sekarang aku dan Hiro sedang di kantor Ayah, tapi sepertinya hari ini Ayah tidak kembali ke kantor, ya?”

Sam terpaku, seakan baru menyadari sesuatu.

Hiro?

”Hiro ada di sana?” tanya Sam. ”Iya.”

”Dia tidak mengatakan sesuatu tentang pengeboman itu?” tanya Sam semangat.

”Mengatakan apa?” Karen balik bertanya, bingung. ”Karen sayang, tolong berikan teleponmu pada

Hiro,” pinta Sam.

Tidak lama kemudian Hiro menyahut dari seberang telepon. ”Ada apa, Sammy?”

”Hiro, apakah kau sudah dengar tentang pengeboman itu?” Kali ini Sam tidak menggubris panggilan Hiro terhadapnya yang kurang ajar.

”Maksudmu yang di Museum Intrepid dan Japan Society?” tanya Hiro balik. ”Sudah.”

”Lalu bagaimana menurutmu?” ”Bagaimana apanya?” tanya Hiro cuek.

”Bagaimana analisismu terhadap dua pengeboman itu?” tanya Sam tidak sabar. ”Dari yang kaulihat, siapa pelakunya? Bagaimana dia melakukannya? Apa motifnya?”

”Aku tidak punya analisis apa-apa,” jawab Hiro. ”Kau tidak punya dorongan untuk menyelidiki ka-

sus ini?” tanya Sam heran. ”Tidak.”

Sam menghela napas. ”Ah, aku lupa, kau hanya melakukan apa yang memang tugasmu dan tidak pernah memedulikan urusan orang lain.”

”Aku terharu kau sampai mengenalku sedalam itu,” kata Hiro datar.

”Ya sudah, sampaikan salamku pada Karen.” Sam menutup telepon dengan lesu.

”Siapa itu Hiro?” tanya Thomas yang sedari tadi berdiri di sebelahnya dan tidak sengaja ikut mendengarkan.

”Pemuda delapan belas tahun yang kurang ajar dan luar biasa sombong,” dengus Sam, ”yang kebetulan sangat genius dan punya kemampuan analisis tajam sehingga kepolisian New York menyewanya sebagai konsultan.”

”Oh, aku pernah mendengarnya,” Thomas mengingat-ingat. ”Waktu pertama kali mendengar kalian mempekerjakan anak tujuh belas tahun sebagai konsultan tahun lalu, kupikir kalian bercanda. Namun statistik kasus yang diselesaikan meningkat drastis sejak dia jadi konsultan. Aku yakin dia memang bukan anak sembarangan. Angka tidak pernah berbohong.”

Sam mengangguk. ”Begitulah. Dan dia melakukannya sangat cepat.” ”Kau ingin meminta bantuannya untuk kasus ini?” tanya Thomas ingin tahu.

”Memangnya boleh?”

Thomas mengangkat bahu. ”Selama itu membantu kita menemukan pelakunya dan mencegah lebih banyak korban, aku sih oke-oke saja.”

Sam menghela napas panjang, lalu berjalan menuju pintu keluar gedung. ”Kita lihat saja nanti.”  
Bagikan Novel ini Sebegai bentuk dukungan untuk situs ini 😊