menu

Negeri Para Bedebah Bab 46 Menuju Hongkong

Mode Malam
Bab 46 Menuju Hongkong
LETAKKAN pistol kalian atau kuledakkan kepalanya! Aku tidak main-main!” aku membentak. Tanganku memiting Wusdi, membuatnya mengaduh kesakitan. Menekan dalam-dalam moncong senjata ke kepala Wusdi, suara pelatuk ditarik terdengar bergemeletuk.

Kabin yacht semakin tegang.

”Turuti perintahnya. Letakkan pistol kalian!” Wusdi berseru tertahan, akhirnya bersuara setelah beberapa detik berhitung dengan situasi.

Dua orang berseragam polisi Singapura itu ragu-ragu menurunkan pistol mereka. Tunga menatap serbasalah. Wajahnya sedikit jengkel, tetapi dia tidak bisa melakukan apa pun selain ikut menurunkan pistolnya. Ram masih menatap layar televisi, tidak percaya mendengar siaran langsung reporter dari gedung kementerian.

Kadek masih terkapar di lantai dengan darah membasahi celananya, juga dua orang berseragam polisi Singapura lainnya. ”Lepaskan ikatan mereka!” Aku memberi perintah, menunjuk Opa, Om Liem, dan Maggie di atas sofa. Waktuku terbatas, ada banyak yang harus kuurus sekarang, Kadek bisa diurus nantinanti.

DOR! Aku menembakkan pistol ke langit-langit kapal, membuat tersedak Wusdi di depanku.

”Berapa kali harus kuulangi, hah? Lepaskan ikatan mereka!” aku membentak marah, tanganku semakin kencang memiting Wusdi.

Dua orang berseragam polisi Singapura yang tadi masih raguragu, menunggu konfirmasi Wusdi, bergegas mendekati sofa. Maggie yang pertama kali bebas.

”Keluar dari kapal!” aku meneriakinya.

Maggie menyeka wajahnya yang sembap, masih dengan tangan yang kesakitan sisa ikatan, berlari melintasi kabin tengah.

Om Liem menyusul kemudian.

”Naik taksi di dermaga. Cari kendaraan apa saja yang bisa membawa ke bandara, kau kembali ke Jakarta sekarang juga!” Aku berkata tegas pada Om Liem yang berjalan melewatiku, menuju pintu kabin. ”Temui Rudi di bandara, dia akan mengurus masalah ini dengan adil.”

Om Liem mengangguk, tertatih melewati pintu kabin.

Aku harus berpikir cepat dalam situasi genting. Meskipun Bank Semesta ditalangi pemerintah, kasus hukum yang membelit Om Liem tetap bertumpuk tinggi. Dia tidak bisa lari terusmenerus. Aku tahu, sejahat-jahatnya Om Liem, dia selalu bertanggung jawab atas semua keputusan bisnisnya. Dengan begitu banyak aparat korup, Om Liem membutuhkan seseorang yang bisa dipercaya. Menemui Rudi adalah pilihan terbaik. Ini juga akan mengembalikan reputasi serta nama baik Rudi, bisa menangkap kembali buronan besar.

Dua orang berseragam polisi Singapura melepaskan ikatan Opa.

”Kau akan menyesal, Thomas,” Wusdi berbisik dengan suara bergetar karena marah. ”Aku akan membuat seluruh polisi memburu kalian, menghabisi siapa saja.”

”Diam, Bedebah! Tidak ada yang menyuruhmu bicara!” Aku menarik tangannya lebih dalam.

Wusdi mengeluh kesakitan.

Ikatan Opa sudah terlepas. Dia berdiri dengan wajah meringis.

”Bergegas, Opa!” aku meneriakinya.

Dengan kaki sedikit pincang, kesakitan—sisa pukulan dari petugas sebelumnya—Opa bergerak melintasi kabin.

”Ayo, Opa. Tinggalkan kapal!” Aku tidak sabaran, situasi belum terkendali jika Opa belum berada di luar yacht, menyusul Om Liem dan Maggie.

Sial! Saat persis melintasiku, kaki pincang Opa tersandung ujung meja. Dia berseru pelan, wajahnya meringis. Bagi anggota klub petarung, refleks selalu memberikan perlindungan sekaligus serangan terbaik. Tapi dalam situasi ini, refleks membuatku lengah. Aku refleks hendak meraih tubuh Opa yang jatuh, membuat Wusdi lepas dari telikungan, dan dia dengan cepat memanfaatkan situasi.

Tangan Wusdi yang bebas menyikut perutku. Aku melenguh. Tinjunya menyusul, menghantam daguku. Meski perutnya sudah buncit, gerakannya sudah lambat, dia tetap perwira kepolisian yang terlatih. Aku terduduk bahkan sebelum membantu Opa berdiri, pistol berperedam suara terlepas dari tanganku.

”Kau pikir hanya kau yang bisa meninju, hah?” Wusdi membentakku yang terkapar. Dia meluruskan tangannya yang sakit, meregangkan badannya, santai meraih pistol di lantai kapal.

Dua orang berseragam polisi Singapura juga bergegas mengambil pistol mereka, lari menuju pintu palka kapal, hendak menangkap kembali Om Liem dan Maggie.

”LARI! Tinggalkan kami!” aku meneriaki Om Liem dan Maggie, mengabaikan darah yang keluar dari mulutku bersama ludah. Sepertinya ada gusiku yang berdarah.

Maggie tidak perlu diteriaki dua kali. Dia menyuruh sopir segera menekan gas. Taksi itu melesat meninggalkan dermaga yacht.

”Biarkan saja mereka kabur.” Wusdi mendengus ke arah dua orang berseragam polisi Singapura, kakinya santai menginjak lenganku. ”Kita tidak lagi membutuhkan mereka. Kalian ikat saja orang tua ini.” Wusdi menunjuk Opa.

Aku meringis kesakitan.

”Nah, Thomas, situasi sepertinya berbalik seratus delapan puluh derajat.” Wusdi menatapku jemawa, menyeka pelipisnya dengan punggung telapak tangan yang memegang pistol berperedam.

Opa kembali diseret ke atas sofa. Tunga berjaga-jaga dengan senjata teracung. Dua orang lain kasar mengikat tangan Opa.

”Seharusnya kau ikut terbakar puluhan tahun silam, Thomas.

Bukan sebaliknya, menghancurkan semua rencana kami.”

Aku masih meringis, napasku tersengal, lenganku terasa ngilu. ”Tapi peduli setan soal Bank Semesta. Kami tidak pernah tertarik dengan Bank Semesta. Itu urusan Tuan Shinpei. Kami hanya tertarik urusan lain.” Wusdi membungkuk, menjawil pipiku dengan pistol.

”Hati-hati, Teman, dia tetap berbahaya walaupun sedang terkapar,” Tunga mengingatkan.

Wusdi tidak menanggapi teriakan rekannya, dia masih menatapku. ”Kau tahu apa yang sebenarnya kami inginkan dari keluarga kalian, hah?”

Aku tidak menjawab, napasku menderu.

”Puluhan tahun silam, kami juga tidak tertarik dengan perusahaan, bisnis perdagangan. Itu urusan Tuan Shinpei. Kami lebih praktis, lebih suka memperoleh sesuatu yang terlihat. Nah, kau pastilah bisa menebaknya, Thomas. Kau konsultan keuangan yang hebat.” Wusdi tertawa.

”Terima kasih atas bantuanmu, Thomas. Apa yang kau bilang saat di mobil taktis? Kau bilang, kau tahu tempat dokumendokumen aset keluarga kalian yang terdaftar di luar negeri. Itulah kenapa aku memilih menyusul kapal mewah kalian, karena aku tahu di mana dokumen-dokumen itu disimpan. Di kapal ini, bukan? Di salah satu kabin. Kau bisa menebaknya sekarang, Thomas. Sama seperti puluhan tahun silam, mengambil akta tanah, rumah, gudang milik kalian, sekarang kami lebih tertarik hal serupa, Thomas. Lupakan Bank Semesta yang diselamatkan.”

Aku mengeluh dalam hati, menyumpahi kejadian dua hari lalu itu.

”Bangun!” Wusdi membentakku, dia berdiri. ”Bangun segera, Thomas.” Wusdi menendang perutku, memaksa.

Aku mengaduh, tertatih berusaha duduk. Opa menatapku lamat-lamat dari atas sofa.

”Nah, karena anak buahmu sepertinya tidak bisa lagi mengemudikan kapal,” Wusdi menunjuk Kadek, ”dan sepertinya kau satu-satunya yang bisa, kau sekarang yang mengemudikan kapal. Kita berlayar ke Hongkong. Aku tahu kalian mendaftarkan semua aset itu di sana. Kau akan membawa kami ke sana Thomas, membantu memindahkan seluruh aset tersebut, lantas sebagai ucapan terima kasihnya, berharaplah aku tidak membunuh kau dan opamu.”

Wusdi kasar mendorong badanku dengan ujung sepatunya. Aku masih bergeming, berdiri kaku.

”Ayo, Thomas, waktu kita tidak banyak. Atau kau mau aku menembak Opa lebih dulu agar kau mau melakukannya?”

Aku menelan ludah, menatap Opa yang tertunduk dalam. Sial. Dengan todongan tiga pistol lain ke arah Opa, aku tidak punya banyak pilihan. Setidaknya Om Liem dan Maggie sudah aman di luar sana. Baiklah, aku mendengus, melangkah pelan ke anak tangga menuju kabin kemudi, melewati Kadek yang masih terkapar. Dadanya masih naik-turun, tanda dia sepertinya pingsan karena tembak-menembak barusan.

”Hongkong! Bukan main, aku sudah lama sekali ingin pensiun di sana. Menghabiskan waktu sebagai taipan kaya, ongkangongkang kaki. Bagaimana menurutmu, Tunga?”

Temannya tertawa, mengangguk.

”Ayo, Thomas, segera! Kita harus tiba di sana besok pagi. Dan kalian, lemparkan dia ke laut! Kita tidak perlu membawa beban tidak berguna di kapal.” Wusdi menunjuk Kadek, mendorongku kasar agar segera menaiki anak tangga.
Bagikan Novel ini Sebegai bentuk dukungan untuk situs ini 😊