menu

Negeri Para Bedebah Bab 42 Mesin ATM Partai

Mode Malam
Bab 42 Mesin ATM Partai
SESEORANG itu tersenyum lebar. ”Kau Thomas?”

Aku mengangguk, ragu-ragu menerima juluran tangannya. Aku tidak mengenalinya. Dia mengenakan jas lembayung yang baik, sepatu mengilat, wajah bersih, dan postur yang baik.

”Oke, Erik, aku sudah bertemu dengan Thomas. Iya, kau betul, di depan pintu ruangan auditorium.” Orang itu, sambil berjabat tangan ramah, masih memegang telepon genggam dan berbicara dengan orang di telepon, terlihat sedikit repot. ”Tenang saja, akan aku atur pertemuannya. Nanti kita kontak-kontaklah lagi. Oh iya, terima kasih banyak untuk garansi bank tender proyek terakhir, mereka tidak banyak tanya lagi dengan jaminan dari bank tempatmu bekerja. Nanti aku transfer segera persenannya. Apa? Oh, itu mudah, tenang saja, semua beres. Oke? Oke, Bos, selamat bersquash lagi. Sore.”

”Kau datang sendirian?” Dia mengangkat kepalanya lebih baik, menatapku sambil memasukkan telepon genggam ke saku jasnya. Aku menunjuk Rudi di sebelah. Rudi demi sopan santun menjulurkan tangan, berkenalan.

”Cocok sekali kau memakainya.” Orang itu tertawa pelan, basa-basi.

”Cocok?” Rudi melipat dahi.

”Jas yang kaukenakan.” Orang itu tertawa lagi. ”Kau sudah mirip dengan petinggi partai lainnya.”

Rudi tidak berkomentar, hanya mengangguk.

”Kita bicara di ruangan, boleh? Di sini berisik sekali.” ”Aku harus bertemu dengan...,” selaku.

”Tentu saja aku tahu kau hendak bertemu dengan siapa, Thomas. Erik sudah memberitahuku.” Orang itu memotong, dengan gaya bicara bersahabat, seperti sudah kenal lama, atau sebaliknya, gaya bicara penuh jebakan, seperti ada banyak kepentingan dalam setiap intonasi kalimat. ”Tetapi sekarang dia sedang ada di kursi deretan depan, tidak bisa meninggalkan pidato penting.”

Aku menelan ludah, hendak menggeleng. Jauh-jauh aku datang ke Denpasar, lari dari kejaran pasukan khusus, aku tidak mau bertemu dengan ajudan, staf, atau apalah dari putra mahkota, siapa pun orang di depanku.

”Sebenarnya ini pengeculian khusus, Thomas. Kau terlambat dua jam dari jadwal. Kalau saja Erik tidak membantu banyak proyek-proyek terakhir kami, aku tidak punya waktu menemuimu. Tenang saja, kalau memang apa yang hendak kausampaikan memang berharga, kau akan menemuinya, aku bisa mengaturnya. Kita bicara ringan dulu di ruangan lain, tempat yang lebih rileks. Ngopi-ngopi. Oke?”

Aku mengeluh dalam hati. Orang di depanku ini, siapa pun dia, sepenting apa pun posisinya di partai, berkata benar. Aku tidak bisa mendikte pertemuan, aku terlambat, jadi harus mengikuti prosedur mereka. Baik, aku mengangguk setelah berpikir beberapa detik. Orang itu tersenyum, menunjuk lorong di hotel, balas mengangguk, melangkah santai, memimpin di depan.

Kami tiba di ruangan berukuran 4 x 6 meter, persis di belakang ruangan auditorium. Ingar-bingar konvensi langsung padam saat pintu ditutup. Sistem kedap suara ruangan ini berjalan baik. Dua sofa mewah melintang di tengah, beberapa meja kerja dengan layar komputer terbaik, lemari es, mini bar, dan pendingin udara yang disetel maksimal, dingin. Ruangan itu kosong, hanya kami bertiga—sepertinya semua anggota partai, staf, dan panitia sedang berada di ruangan auditorium, mendengarkan pidato pembukaan konvensi.

”Percaya atau tidak, ini ruang tunggu ketua partai kami beberapa menit lalu sebelum pidato sekaligus membuka konvensi.” Orang itu tertawa. ”Kau duduk di sana, Thomas. Silakan merasakan bekas duduknya. Hangat? Siapa tahu bisa ketularan menjadi orang penting.”

Aku tidak mengerti selera humor orang di depanku—selera humor orang-orang politik, tapi demi sopan santun aku ikut tertawa. Rudi tidak, dia duduk tanpa banyak ekspresi, menatap sekitar.

”Omong-omong, kau tidak tertarik menjadi anggota partai kami, Thomas?” Dia duduk di sofa satunya. ”Kami membutuhkan banyak sekali orang-orang potensial.”

Aku menggeleng. ”Aku sepertinya tidak berbakat.”

”Ayolah, kau tidak perlu bakat apa pun untuk menjadi politikus, Thom. Siapa pun bisa, bahkan tanpa ijazah formal, itu bisa diatur. Kau hanya perlu kemauan besar, sisanya bisa dipelajari.” Dia menyilangkan kaki. ”Kau pengusaha?”

Aku menggeleng lagi. ”Aku konsultan keuangan.”

”Oh iya, tadi Erik juga sudah bilang. Nah, kira-kira, apa yang bisa ditawarkan seorang konsultan keuangan ternama untuk partai kami?” Dia langsung ke topik pembicaraan.

Aku menghela napas perlahan, melirik pergelangan tangan, pukul 16.30, kurang enam belas jam lagi besok hari Senin, pukul 08.00 saat perkantoran dan bank-bank kembali dibuka. Kurang dari beberapa jam lagi saat anggota komite stabilitas sistem keuangan berkumpul, membahas nasib Bank Semesta. Aku sepertinya harus merelakan tiga puluh menit atau lebih bersama orang yang sama sekali tidak kukenal ini, membahas kemungkinan intervensi penyelamatan Bank Semesta. Ibu Menteri itu tidak akan pernah mau melanggar prinsip-prinsipnya, hanya ini satu-satunya yang tersisa.

Aku menatap wajah orang di depanku lamat-lamat.

”Ayo, Thom. Katakan saja, apa yang bisa kauberikan untuk partai kami. Nah, nanti kita lihat apa yang bisa kami berikan sebagai imbalannya.” Dia balas menatapku tersenyum.

Baiklah. Sepertinya aku memang harus bicara dulu dengan level lebih rendah, sebelum bicara kepada pengambil keputusan. Mereka sepertinya punya prosedur, sama dengan ribuan prosedur di perusahaan atau lembaga keuangan. Maka meluncurlah negosiasi itu.

Bisa dikatakan, setiap hari aku bertemu banyak orang. Rapat, presentasi, seminar, memberikan pernyataan, wawancara, apa saja. Tidak hanya di Jakarta, tapi juga pertemuan di kota-kota besar dunia, membahas begitu banyak ragam topik pembicaraan. Tetapi baru kali ini aku bertemu dengan karakter unik seperti orang di depanku. Bicara dengan simbol-simbol, pilihan kata, idiom-idiom yang digunakan dalam negosiasi kotor. Orang di depanku begitu santai, tertawa terkendali, sekali-dua melontar gurauan, bahkan tidak segan berbagi informasi yang dimilikinya.

”Realistis saja, Thom.” Dia mengangkat bahu, kami masih basa-basi membicarakan hal lain. ”Semua partai membutuhkan banyak uang untuk menggerakkan orang. Konvensi ini misalnya. Jika ada dua ribu kader yang datang, kau hitung saja akomodasi dua malam, transportasi udara, taksi, dan biaya-biaya lain per orangnya, kalikan dua ribu. Siapa yang akan menyediakan? Partai bukan perusahaan, partai bukan mesin uang. Apakah kader-kader sukarela menyumbang tanpa berharap imbalan? Ayolah, kalau mereka memang bersedia membangun bangsa ini dengan tulus, berbagi dengan banyak orang, kau bisa melakukannya tanpa perlu repot-repot menjadi anggota partai.

”Belum lagi dana kampanye, dana operasional partai, jumlahnya ratusan miliar setiap tahun, bahkan bisa menyentuh triliun saat tahun pemilihan. Semua partai butuh uang. Siapa yang menyumbang? Anggota partai? Mereka tidak akan pernah bersedia menyumbang jika tidak mendapatkan sesuatu. Kekuasaan, misalnya. Posisi, akses, jaringan, atau perlindungan. Termasuk individu atau perusahaan yang bukan anggota, mereka yang sekadar partisan partai tetapi ikut mendukung, mereka menuntut sesuatu. Tidak ada makan siang gratis di dunia ini. Bahkan di level pengurus paling rendah, kumpul-kumpul rapat sambil mengopi dan kudapan, siapa yang akan membayar uang kopi dan kue? Kau tidak perlu partai jika bersedia mengeluarkan uang sendiri, punya idealisme membicarakan kemajuan bangsa, dan membangun sekitar, bukan?”

Aku menghela napas samar. Rudi di sebelahku juga menghela napas. Kami anggota klub petarung. Kami tidak pernah menemukan seseorang yang begitu terus terang dengan negosiasi seperti ini. Ini seperti pertarungan terbuka, tanpa ditutup-tutupi.

”Berapa banyak yang bisa disediakan pemilik rekening Bank Semesta?” Dia akhirnya bertanya setelah beberapa kalimat basabasi lagi, seperti sedang bertanya harga beras di Pasar Induk.

Aku menyebut angka yang dikonfirmasi Ram sebelumnya dalam rapat dengan pemilik rekening besar. ”Tetapi itu tidak otomatis tersedia. Akan ada banyak mekanisme keuangan. Kita tidak bisa menarik uang sekaligus saat pengumuman penyelamatan. Tidak semua jenis rekening dijamin. Mereka tidak bisa ikut. Kita juga harus melakukan rekayasa penarikan, memecahnya menjadi bilangan kecil, melakukan...”

Dia melambaikan tangan, memotong, ”Itu semua bisa diatur, bukan?”

Aku mengangguk.

”Kalau begitu, tidak masalah. Kau tahu, Thom. Kami selama ini sudah terbiasa jadi makelar.” Tertawa, dia sudah asyik loncat lagi membahas hal lain. ”Penetapan anggaran, alokasi anggaran, tender, siapa yang menang, semua ada mekanismenya. Sudah terbiasalah dengan proses yang kaubilang itu. Proyek A, di lokasi A, mulai dari kenapa harus ada proyek A, alokasi, siapa yang akan menggarapnya, semua ada mekanismenya. Semua tahu sama tahu. Toh, persenan itu sebagian juga akan mengalir ke partai melalui sumbangan kader, bukan? Ada banyak mesin ATM di kader-kader partai. Oh iya, kau mau jadi bupati atau gubernur, Thom?”

Aku tertawa hambar, menggeleng, sambil melirik pergelangan tangan, hampir pukul 17.00. Pembukaan konvensi nyaris usai, urusan ini semakin kapiran. Bagaimana aku bisa bertemu dengan putra mahkota jika aku masih terjebak di sini? Bicara melantur ke mana-mana seperti sedang asyik nongkrong di kafe.

”Nah, kalau kau punya uang, itu bisa diatur. Kau tinggal setor berapa miliar untuk partai, sisanya kami yang urus. Itu juga makelar, bukan? Ada mekanismenya. Ada tendernya. Jadi jangan heran, walaupun kau gagal, andaikata bertahun-tahun kemudian keluargamu terjerat kasus hukum misalnya, partai yang pernah mendukungmu tentu tahu diri melakukan balas budi.”

Aku sekali lagi menggeleng, berkali-kali sejak tadi berusaha mengembalikan jalur pembicaraan ke soal penyelamatan Bank Semesta.

Lima belas menit lagi berlalu sia-sia.

”Oh ya? Menarik sekali? Bagaimana melakukannya?”

Aku menelan ludah. Menyumpahi diri sendiri, kenapa pula aku kelepasan membahas cara lain yang lebih modern mengumpulkan uang partai dengan cepat. Situasi cemas, karena jarum jam terus bergerak, sementara orang di depanku tidak menunjukkan kabar apakah aku bisa bertemu dengan putra mahkota dan malah membuatku terperangkap dalam topik pembicaraannya.

”Coba kaujelaskan, Thom? Ayolah, kau konsultan keuangan.” Dia tertawa.

Aku menggeleng. ”Bagaimana pertemuan dengan. ”

”Itu gampang diatur, Thom.” ”Mereka sudah hampir selesai.” ”Tentu saja mereka hampir selesai. Rombongan harus kembali ke Jakarta malam ini juga, pesawat carteran kami menunggu di bandara. Ayolah, jelaskan padaku.”

”Aku harus bertemu dengannya, membicarakan Bank Semesta.” Aku kali ini mencoba lebih tegas, mengusap dahi—berkeringat meski pendingin ruangan bekerja maksimal.

”Kau sudah membicarakan Bank Semesta padaku, Thom. Itu sudah lebih dari cukup. Bicara denganku atau dengannya sama saja. Aku mesin ATM paling hebat di partai ini. Ayolah, jelaskan tentang IPO tadi? Aku tidak secanggih kau soal keuangan, kau pasti amat menguasainya.” Dia begitu santai membujuk, seperti sedang bicara dengan teman akrab.

Aku menelan ludah, baiklah, paling hanya butuh waktu lima menit lagi.

Itu mudah. Aku mulai menjelaskan, ada banyak perusahaan milik negara, atau dikenal dengan istilah BUMN yang dikuasai seratus persen oleh pemerintah. Maka tawarkan saja beberapa BUMN yang sehat ke pasar modal, misalnya jual 30% kepemilikan kepada publik, Initial Public Offering atau IPO, penawaran saham perdana. Nilainya menakjubkan, katakanlah sepuluh miliar saham dijual seharga seribu rupiah, itu totalnya sepuluh triliun. Dalam mekanisme tawar-menawar saham modern hari ini, persis hari pertama saham itu dijual, lazimnya akan segera naik 20 hingga 40%, apalagi jika sekuritas yang menjamin IPO tersebut sengaja memasang harga semurah mungkin agar laku. Seribu perak dijual pagi ini, pukul dua belas nanti siang sudah diburu oleh pemodal asing di harga 1.400. Dengan sedikit trik, penjatahan 30% saham publik tadi bisa diberikan pada individuindividu tertentu, maka sekejap jika dia menguasai 10% saja, keuntungan dari transaksi itu adalah 400 miliar. Satu kali tepuk saja.

”Astaga? Itu besar sekali, Thom! Itu bahkan cukup untuk dana kampanye pemilihan presiden.” Orang di depanku tertarik.

Aku mengangguk. ”Dan akan lebih besar lagi jika sekuritas bisa menurunkan harga perdana serendah mungkin. Semakin banyak pengamat ribut, semakin bagus posisi saham itu.”

”Tetapi bagaimana kau bisa mengalokasikan saham itu kepada individu tertentu? Bukankah ada prosedur pembagian yang adil untuk seluruh calon investor?”

Aku tertawa, menggeleng. ”Seharusnya kalian yang lebih tahu. Orang-orang pemerintahan, itu perusahaan pemerintah. Jika itu perusahaan pribadi, terserah pemiliknya mengalokasikan.”

”Tetapi kau tetap butuh uang untuk membeli 10% saham dengan harga 1.000 sebelum dijual 1.400 di bursa saham, bukan?”

Aku menggeleng. ”Itu bisa diatur, mekanisme pinjaman dana atau apalah. Yang bersangkutan bahkan tidak perlu sepeser pun uang, cukup namanya saja yang terpasang. Transaksi berjalan, selisih 400 perak dikali jumlah saham alokasi. Dia tinggal ditransfer. Hanya saja, semua itu teoretis, jika ada yang benar-benar mampu mengendalikan regulator pasar modal dan berniat jahat. Lazimnya regulator pasar modal selalu tegas dalam urusan ini.”

”Bukan main,” dia tertawa, semakin bersahabat, ”sepertinya kami harus merekrut konsultan keuangan sepertimu dalam struktur partai, Thom. Kau pasti punya ide lebih canggih, bukan?”

Aku menghela napas untuk kesekian kali, melirik pergelangan tangan untuk kesekian kali juga. Sudah pukul 17.30. Acara konvensi sudah benar-benar selesai.

”Baik. Terima kasih banyak atas percakapan hebat ini, Thom.” Dia berdiri.

Hei? Lantas bagaimana dengan pertemuanku?

”Kau hendak kembali ke Jakarta malam ini juga, bukan? Besok kembali bekerja dengan strategi-strategi keuangan lain, bukan?”

Hei, aku benar-benar jengkel sekarang. Waktuku terbuang sia-sia melayani dia bicara.

”Nah, kau mau menumpang bersama kami, Thom?” Orang itu lebih dulu bicara lagi sebelum aku berseru marah. Kalimat yang menahan ekspresi muka dan gerakan tanganku.

”Menumpang?” aku bertanya balik.

”Iya. Ada beberapa kursi kosong di pesawat carteran. Bukan, itu bukan pesawat kenegaraan, mereka naik pesawat lain. Jika kau mau, kau bisa bergabung, Thom. Apa kubilang tadi? Soal bertemu putra mahkota itu mudah. Sepanjang kau bisa meyakinkanku, sepanjang pembicaraan tadi menjanjikan, semua bisa diurus. Kau tahu, aku memberikan apa saja untuk partai ini. Akulah mesin ATM paling sibuk. Dan dalam struktur partai modern, orang yang paling banyak menyetorkan uang, paling giat mencari uang untuk partainya, dia bahkan bisa berdiri di posisi paling tinggi, tidak peduli berapa usiamu, tidak peduli apakah kau sebelumnya dikenal atau tidak. Nah, kau mau menumpang pesawat kami? Dia pasti senang berkenalan dengan orang sepertimu.”

Aku terdiam. Astaga! Menumpang pesawat mereka?

”Ayo, Thom, kita harus bergegas. Kau tidak mau ketinggalan rombongan ke bandara, bukan?” Dia tertawa, menepuk pundakku, sudah berjalan lebih dulu.

***

Itu benar-benar di luar dugaanku. Beberapa menit lalu aku masih cemas memikirkan kemungkinan bertemu dengan putra mahkota, negosiasi penyelamatan Bank Semesta, sekarang aku bahkan sekaligus memperoleh solusi kembali ke Jakarta dengan aman.

Tidak ada pembicaraan lagi di atas pesawat. Orang itu mengajakku berkeliling, berkenalan dengan banyak orang penting. Tertawa, menepuk-nepuk bahuku, menyanjungku sebagai konsultan keuangan yang baik. ”Kita selama ini terlalu sibuk merekrut pengacara, bah. Sudah seharusnya kita juga merekrut profesi lain.” Salah satu dari mereka bergurau, terbahak. Aku lebih banyak diam, mengangguk sehalus mungkin. Rudi memutuskan duduk di kursinya, menolak sopan. Hanya dua menit aku bicara dengan putra mahkota. Dia lelah, hendak tidur. Orang itu sekali lagi menepuk bahuku. ”Nah, Thom, silakan beristirahat juga. Kita lihat nanti apa yang bisa dilakukan.”

Pesawat mendarat di bandara yang berbeda, tanpa puluhan polisi menunggu di lobi kedatangan. Lagi pula, tidak akan ada anggota pasukan khusus yang terlalu bodoh memeriksa rombongan kami. Aku dan Rudi memutuskan menumpang taksi, menggeleng atas tawaran terakhir orang itu. Pukul 22.00, tidak ada lagi yang bisa kulakukan. Semua urusan sudah tuntas. Opini tentang penyelamatan Bank Semesta sudah ramai disebut-sebut oleh pengamat dan wartawan di berbagai media massa. Pertemuan dengan petinggi bank sentral dan lembaga penjamin simpanan sudah kulakukan. Audiensi dengan menteri sekaligus ketua komite stabilitas sistem keuangan sudah terjadi, bahkan pion terakhir, putra mahkota, sudah kuletakkan di atas papan permainan. Saat ini, di salah satu ruangan besar kementerian, seluruh anggota komite pastilah sedang panas berdiskusi mencari jawaban atas pertanyaan simpel itu: Apakah Bank Semesta akan diselamatkan?

Taksi melaju cepat menuju hotel. Aku memutuskan menginap di tempat yang aman. Rudi tidak banyak bicara. Dia meluruskan kaki. Aku membuka telepon genggam, teringat Julia beberapa jam lalu mengirimkan e-mail berisi informasi tentang Bank Semesta. Mungkin bermanfaat, mungkin tidak. Layar telepon genggamku membuka file itu beberapa detik kemudian, yang membuatku tersedak seketika.

Ini gila! Ini tidak mudah dipercaya. 
Bagikan Novel ini Sebegai bentuk dukungan untuk situs ini 😊