menu

Negeri Para Bedebah Bab 39 Sihir dan Pelarian

Mode Malam
Bab 39 Sihir dan Pelarian
DUA hari ini, kapan terakhir kali kau tidur?” Rudi menoleh.

”Lupa,” aku menjawab sambil melemaskan punggung. ”Kenapa?”

Rudi tertawa pelan. Setengah prihatin, setengahnya lagi sungguhan tertawa. ”Setidaknya tampilanmu masih lebih baik daripada buronan yang pernah kutangkap, Thom. Mantel kebesaran, topi longgar dan kacamata tebal, wajah lelah… Lima belas menit lagi kita mendarat.”

Aku mengangguk. Aku justru terbangun oleh suara lembut pramugari dari speaker yang memberitahukan pesawat bersiap mendarat, menyebutkan ritual memasang sabuk pengaman, menegakkan sandaran kursi, melipat tatakan meja, dan seterusnya. Penerbangan dua jam Jakarta-Denpasar. Setengah jam setelah perutku menyentuh makanan yang dihidangkan pramugari, aku punya waktu untuk tidur, bersitirahat. Rudi sudah melepas borgol di tanganku sejak kami duduk di kursi paling belakang pesawat, santai dia lemparkan borgol yang dibungkus kotak nasi ke dalam troli sampah.

Kami berada di ketinggian 30.000 kaki. Tidak ada yang bisa dilakukan petinggi kepolisian itu sekarang, tidak mungkin dia menyuruh anak buahnya mengejar hingga ke dalam pesawat. Dan tidak ada juga yang bisa kulakukan sekarang di dalam kabin pesawat, termasuk menelepon Maggie dan Julia menanyakan perkembangan situasi, atau menghubungi Kadek, menanyakan kabar terakhir Opa dan Om Liem di atas kapal. Jadi lebih baik aku tiduran, sambil memikirkan jalan keluar masalah baru yang segera akan kami hadapi. Dalam situasi seperti ini, aku lupa kapan persisnya terakhir kali makan, mandi, dan tidur.

Aku menatap sejenak gumpalan awan di luar jendela pesawat. Mengembuskan napas. Baiklah, tidur sejenak membuatku jauh lebih segar. Sejak mengempaskan pantat di kursi, aku terus memikirkan solusi masalah, tidak ada pilihan, ini rencana terbaik. Aku melepas sabuk pengaman, berdiri.

”Kau mau ke mana? Ke toilet?” Rudi mendongak. Aku menggeleng. ”Kita harus bersiap.”

Rudi melipat dahi, bersiap untuk apa? Pesawat bahkan belum mengeluarkan roda.

”Mereka pasti telah menunggu kita, Rud,” aku berkata pelan. Salah satu pramugari yang berdiri di tengah memberikan kode agar aku duduk kembali, menunjuk lampu safety belt yang menyala. ”Walaupun di manifes pesawat tidak ada namaku, mereka tidak akan mengambil risiko, Rud. Aku berani bertaruh, satu pasukan khusus sudah mengamankan bandara saat ini. Mantan bosmu itu sedang mengamuk. Dia akan melakukan apa saja untuk menangkapku, juga menangkapmu, anak buahnya yang berkhianat. Kau seharusnya tahu persis cara kerja pasukan itu. Kau dulu bagian dari mereka, bukan?”

Rudi menatapku sejenak, menyeringai. ”Kau benar. Boleh jadi mereka sudah menunggu di Bandara Ngurah Rai. Tapi bukankah itu justru menarik?”

Aku balas menatap Rudi, tidak mengerti.

”Yah, aku sudah gatal bertinju kembali, Kawan. Nah, kau urus satu atau dua dari mereka, aku urus sisanya. Sepakat? Pembagian yang cukup adil, bukan?”

Aku tertawa kecil. ”Kau gila, Rud. Ini bukan kotak lift dengan perimeter sempit dan terbatas. Kita tidak akan punya kesempatan di dalam kabin pesawat dengan ratusan penumpang. Belum lagi mereka bisa membabi buta melepas tembakan. Aku punya rencana lebih baik.”

”Maaf, Bapak-Bapak, pesawat akan segera mendarat, semua penumpang harus duduk dengan sabuk pengaman terpasang.” Pramugari dengan wajah sedikit sebal mendekat, menyela percakapan. Wajah cantiknya terlihat serius—dia jelas sudah sering latihan menghadapi penumpang yang bandel.

”Saya justru harus menemui pilot sekarang.” Aku keluar dari barisan kursi, mendekatinya.

Pramugari itu mundur satu langkah, menoleh kepada Rudi, bertanya dengan tatapan bingung dan takut. Bukankah aku tahanan yang sedang dipindahkan. Kenapa berdiri dengan tangan bebas? Bukankah prosedur baku semua tahanan transfer harus diborgol?

Tensi kabin pesawat bagian belakang mulai menanjak. Beberapa penumpang menoleh. Salah satu pramugari senior yang melihat keributan kecil melangkah mendekat. ”Ada masalah apa?”

”Situasi darurat. Kami harus menemui pilot segera,” aku menjawab dengan suara pelan tapi tegas.

”Pesawat sebentar lagi mendarat, Bapak-Bapak. Itu mustahil dilakukan. Semua penumpang harus duduk dengan sabuk pengaman terpasang.” Pramugari senior itu menggeleng, berhitung dengan situasi ganjil selama lima belas tahun dia bertugas.

”Dia benar.” Rudi sudah melepas sabuk pengamannya, akhirnya ikut berdiri meski belum tahu apa yang sedang kurencanakan. Rudi menyingkapkan jaket, sengaja memperlihatkan gagang pistol di pinggang. ”Ini situasi darurat. Ada kesalahan fatal. Kami harus bertemu pilot sekarang.”

Dan sebelum dua pramugari itu berkata sepatah pun keberatan, di bawah tatapan beberapa penumpang yang ingin tahu, Rudi sudah lebih dulu melangkah cepat ke depan.

Aku bergegas menyusul langkah Rudi.

”Sebaiknya kau punya rencana yang hebat, Thom,” Rudi berbisik. ”Kita jelas melanggar banyak peraturan penerbangan dengan merangsek kabin pilot saat pendaratan. Dengan begitu kau bukan lagi buronan pribadi petinggi markas besar, tapi naik pangkat jadi teroris dunia. Ada banyak penumpang bule di atas pesawat.”

Aku tertawa pelan, mengangguk. Ini jelas rencana baik, tidak kalah hebatnya dengan rencana Rudi yang berhasil menyelundupkan aku ke atas pesawat dengan kostum tahanan transfer. Jika gagal, setidaknya, tidak ada penumpang yang akan dibahayakan dalam rencana ini.

*** Gerimis terus membungkus waduk, kaca jendela terlihat buram berembun.

”Namanya Mata Picak, usianya tidak ada yang tahu, boleh jadi baru empat puluh, tapi perawakan dan wajahnya terlihat lebih tua dari itu. Tubuhnya kurus tinggi, seolah sedikit sekali daging di tubuhnya. Jika dia hanya mengenakan pakaian tipis, terlihat menyeramkan saat berjalan di jalanan kampung, seperti ada kerangka manusia lewat. Kenapa dia dipanggil Mata Picak? Karena matanya rusak parah sebelah. Bola matanya busuk, lantas terlepas, menyisakan cekung kosong, dan dia sama sekali tidak merasa perlu menutupinya dengan kain, serbet, atau apalah. Sedangkan satu mata lagi, meski bisa dipergunakan, hampir seluruhnya putih, tanpa bagian berwarna hitam. Bola mata putih yang terus begerak-gerak menyelidik ke segala arah.”

Opa menghela napas pelan, memulai cerita.

Aku menelan ludah. Cerita seperti ini selalu saja lebih seram karena imajinasi pendengarnya.

”Mata Picak awalnya sama dengan penduduk lain. Dia petani di dataran subur Cina. Hidup berkecukupan dan bertetangga baik, meski banyak anak kecil takut melihatnya, segera berlarian masuk rumah saat dia melintas. Atau orang dewasa berbisikbisik membicarakannya, berusaha mencari tahu kapan matanya busuk sebelah. Atau bagi sekelompok yang lebih berani, mengolok-olok tertawa, berjalan di belakangnya, meniru memasang wajah dengan bola mata rusak satu. Tetapi di luar itu, Mata Picak bagian dari penduduk kampung, tidak lebih, seperti tetangga sebelah rumah.” Opa diam sejenak, mendongak menatap gerimis.

”Hingga masa-masa sulit tiba. Situasi politik di ibu kota mulai rumit, perebutan kekuasaan. Perang saudara meletus di seluruh Cina, ditambah lagi Sungai Kuning meluap. Banjir besar berhari-hari membumihanguskan puluhan ribu hektar tanaman, gagal panen di daratan Cina. Semua orang kesulitan bertahan hidup, termasuk di kampung kami. Dan sejak itulah, di tengah banyak kesulitan, ingar-bingar keributan, perang, Mata Picak mendadak berubah haluan.

”Awalnya dia hanya mengaku dukun biasa. Kau kehilangan terompah misalnya, atau dompet tempat uang, liontin, benda berharga, maka Mata Picak komat-kamit membaca mantra. Bola matanya yang putih berputar-putar. Ludahnya muncrat. Beberapa kejap, dia berbisik memberitahukan di mana barang hilang tersebut. Beres, barang ditemukan. Atau lain waktu kau datang karena sakit demam, punya penyakit menahun dan tidak sembuh-sembuh, atau kesulitan tidur, merasa gelisah, cemas atas banyak hal, Mata Picak menggeram panjang di atas tikar pandan. Tubuh tinggi kurusnya bergetar. Dia mengepalkan tangan, keringat menetes deras di antara asap dupa, sejurus kemudian Mata Picak membuka kepalan tangannya. Entah dari mana datangnya, Mata Picak menyerahkan jimat untuk dipakai. Manjur.

”Penduduk kampung tidak pernah tahu dari mana Mata Picak memperoleh banyak pengetahuan seperti itu. Dia tidak pernah punya guru, tidak berpendidikan, dan tidak terlihat pintar membaca apalagi menulis. Yang penduduk tahu, semakin hari, ritual dukun Mata Picak semakin menakutkan. Di sudutsudut hutan gelap dekat lubuk sungai, di kuburan tua yang bertahun-tahun tidak terawat, di kelenteng yang hampir roboh, di mana saja tempat yang justru dijauhi penduduk, Mata Picak sering kali ditemukan sedang menggelar sesaji. Malam-malam gulita, ketika penduduk kampung memilih tidur, dia sedang asyik menceracau kalimat yang tidak dipahami. Tubuh kurus tinggi itu menari, berjingkrak-jingkrak, ludah tepercik ke manamana, melolong bersama anjing liar, memukul-mukul badannya seperti gerakan pohon nyiur ditempa badai. Dan setiap kali pulang dari ritualnya, Mata Picak bertambah-tambah ilmu hitamnya.

”Jika dulu penduduk kampung merasa terbantu, sekarang situasi berubah buruk. Misalnya, ada yang benci melihat sebuah keluarga, iri dengki melihat kesuksesan orang lain, mereka datang ke Mata Picak. Dengan harga mahal, entah itu dengan bayaran setumpuk uang atau korban sesaji, Mata Picak dengan mudah memutus buhul tali keluarga, tercerai-berai, binasa. Apalagi kalau sekadar menginginkan jabatan dan kekuasaan, mudah saja baginya. Atau ada yang sakit hati, ingin membalas kebenciannya, tinggal datang ke Mata Picak. Dengan mantra yang membuat merinding seluruh tubuh, malam itu juga yang dibenci sudah terbaring kaku di atas ranjang. Membuat geger seluruh kampung. Mulailah Mata Picak dikenal sebagai dukun teluh, pembunuh dengan ilmu hitam. Semakin hari, semakin mengerikan reputasinya. Dia bisa membunuh siapa saja, pejabat, orang biasa, anak-anak, orang tua, pendatang, dengan cara tidak masuk akal sekalipun.

”Celakanya, kesenangan membunuh itu mengalahkan apa pun. Tidak lagi karena permintaan orang lain. Pernah berbulan-bulan dia menghilang, rumahnya sepi dan suram, tidak ada suara lolongan di malam hari, membuat suasana kampung terasa lebih tenteram sejenak. Tetapi saat tiba-tiba Mata Picak kembali, dengan tampilan yang lebih gelap, tubuh semakin kurus, rambut tidak terawat, mata putih yang semakin kelam, malam itu juga beruntun terjadi kematian empat penduduk tanpa sebab. Saat pagi buta, terdengar ratapan pilu yang ditinggalkan, memeluk suami, istri, atau anak yang mati mendadak, Mata Picak justru sedang tertawa gelak di rumahnya, begitu senang, begitu megah, membuat senyap puluhan meter sekitar, gentar, ngeri. Entah ke mana lagi Mata Picak menambah ilmu sesatnya. Sekarang dia bahkan tidak membutuhkan alasan untuk membunuh orang.

”Orang-orang semakin takut padanya. Jangankan mendongak melihat wajahnya, mendengar Mata Picak melintas saja semua segera menyingkir, berebut berlari masuk rumah, menutup pintu dan jendela rapat-rapat. Tidak ada yang ingin bernasib sama seperti sekerumunan pemuda yang telanjur asyik duduk di atas kursi bambu panjang beberapa minggu lalu. Mereka tidak menyadari dukun teluh akan lewat. Mereka tertawa-tawa, bergurau satu sama lain, memukul kursi. Mata Picak yang terganggu mendengar suara tawa itu, benar-benar hanya karena terganggu mendengar suara tawa, menyemburkan ludahnya yang berwarna pekat dan busuk ke tanah. Empat pemuda itu gagu dan lumpuh seketika.

”Hanya sedikit saja penduduk kampung yang bisa berada dekat dengannya. Itu pun karena mereka menganggap Mata Picak guru. Mereka bersedia disuruh-suruh, membantu keperluan sesaji Mata Picak, ikut melaksanakan ritual, berpakaian sama kusamnya, berpenampilan sama seramnya, menjadi centeng Mata Picak, bahkan bersedia mengorbankan apa saja jika diminta. Kejam sekali sebenarnya, bahkan tidak masuk akal, karena itu bisa berarti mengorbankan anak dan istri sendiri.” Opa diam sejenak, menghela napas. Aku menunggu tidak sabaran.

”Saat perang saudara semakin berlarut-larut, silih berganti pihak berkuasa mengirimkan pasukan untuk menguasai satu sama lain, meski penduduk berkali-kali mengadukan kegilaan Mata Picak, tidak ada penguasa pasukan yang berani menyentuh Mata Picak. Komandannya telanjur takut, prajuritnya apalagi. Pernah ada pasukan yang menyerbu rumah Mata Picak, karena tersinggung salah satu prajurit mereka diteluh, tapi sia-sia. Kesaktian Mata Picak tidak bisa dilawan dengan tombak atau pedang. Seluruh prajurit yang menyerbu rumah Mata Picak mati dengan kulit melepuh, bau sangit mengambang di jalanan kampung berjam-jam, bahkan walau sudah memakai penutup mulut, tetap tercium. Dan lebih sadis lagi balasan Mata Picak pada penduduk yang melaporkannya ke kota, mereka diteluh sekeluarga, sekujur tubuh dipenuhi bisul bernanah, meletus busuk hingga penderitanya mati.

”Bertahun-tahun penduduk terkungkung rasa takut. Serbasalah, tidak berani melawan. Mereka tidak bisa pindah dari kampung. Mata Picak mengancam akan meneluh siapa saja yang menghindarinya, coba-coba pergi dari kampung. Termasuk para pendatang yang tidak tahu-menahu, terperangkap dalam aturan main Mata Picak. Dialah penguasa mutlak di sana. Semua orang harus tunduk padanya, atau bersiap menerima kunjungan, bersiap menatap wajahnya dengan satu bola mata hilang, menyisakan cekungan dalam mengerikan. Mata Picak menjadi bayangan hitam yang menyelimuti kampung. Gelap.

”Hingga suatu hari, hujan deras turun tanpa henti, Sungai Kuning meluap, banjir besar kembali merendam dataran luas Cina. Opa ingat sekali hari itu, Tommy. Seperti Opa bisa melihat hujan yang sama di luar jendela rumah ini. Menatap waduk, seperti Opa bisa menatap air yang merendam seluruh kampung. Itu hari paling seram dalam hidup orang tua ini.”
Bagikan Novel ini Sebegai bentuk dukungan untuk situs ini 😊