menu

Negeri Para Bedebah Bab 36 Blokade Bandara

Mode Malam
Bab 36 Blokade Bandara
DENGAN suara sirene meraung, mobil patroli yang dikemudikan Rudi menikung tajam menaiki fly over menuju tol bandara.

Kalimat pertanyaanku kepada Rudi—yang hendak kutanyakan sejak kabur dari gedung perkantoran—tertahan sejenak. Telepon genggamku bergetar lebih dulu.

Ram. Nama Ram muncul di layar sentuh. ”Halo, Thomas. Kau ada di mana sekarang?”

”Di mobil polisi,” aku menjawab pendek. Rasa-rasanya, dua hari terakhir, pertanyaan pembuka telepon Ram selalu ”kau ada di mana”.

”Mobil polisi?” Suara Ram terdengar kecut.

”Semua baik-baik saja, Ram. Tidak selalu apa yang kaudengar seburuk yang sebenarnya.”

”Eh, tapi mobil polisi?”

”Kau ada kabar apa?” aku memotong, malas menjelaskan. ”Baik,” Ram diam sejenak, ”nasabah besar Bank Semesta sudah mengambil keputusan. Mereka bersedia memberikan sepertiga dana mereka ”

”Bagus.” Aku mengangguk.

”Tetapi ada dua masalah baru, Thomas,” Ram buru-buru menambahkan.

”Apa lagi?”

”Yang pertama, kita hanya mengundang pemilik tabungan dan deposito. Kita tidak mengundang pemilik dana yang membeli produk investasi lewat Bank Semesta, mereka ”

”Itu bukan masalah kita,” aku memotong. ”Tidak akan ada orang yang berpikiran waras menalangi dana investasi, bahkan jika mereka bersedia membelikan lima pesawat terbang sekalipun. Pemerintah hanya akan mengganti tabungan, giro, dan deposito.”

”Tetapi jumlah mereka banyak, Thom. Dana mereka juga ”

”Itu masalah mereka. Apa masalah keduanya?” Aku tidak sabaran bertanya, menghela napas kesal. Urusan ini rumit sejak awal. Sistem keuangan dunia memang sumber hipokrasi besar yang pernah ada. Semua bank bicara tentang tata kelola yang baik, prinsip kehati-hatian. Tapi lihatlah, kasus pembobolan bank skala raksasa selalu melibatkan orang dalam.

Semua bank bicara fit and proper test. Tapi lihatlah, pelanggar terbesar peraturan justru datang dari mereka sendiri.

Konvensi internasional, misalnya, dengan jelas melarang perbankan melakukan bisnis di luar fokus bisnis perbankan. Tetapi sekarang hampir semua bank besar berkembang biak menjadi konglomerat, memiliki anak perusahaan asuransi, pembiayaan, sekuritas, dan berbagai jasa keuangan lainnya. Kalian datang ke kantor-kantor cabang, mereka dengan agresif menjual produk investasi, seperti reksadana, investasi saham dengan risiko tinggi, yang jelas-jelas bukan produk perbankan. Esok lusa, janganjangan staf mereka yang cantik dan wangi juga akan menjual parfum, minuman dingin, celana dalam, dan sebagainya. Atau membuka gerai butik persis di sebelah teller.

Konvensi internasional, misalnya lagi, dengan jelas mengatur ketat tentang know your customer. Itu bahkan menjadi dogma besar—ketahui siapa nasabah Anda. Tetapi lihatlah, divisi private banking, wealth management, atau entah apa lagi mereka menyebutnya, rakus mencari nasabah. Tutup mata kalau nasabah mereka adalah koruptor, pengemplang pajak, pebisnis kotor, mencuci uang lewat sistem perbankan. Yang penting target tahunan tembus, bonus melimpah, tidak masalah mengirim staf dengan dandanan lebih mirip wanita penggoda dibanding profesional perbankan bersertifikat.

Sekarang Ram meneleponku, memberitahu tentang pemilik produk dana investasi Bank Semesta. Aku tahu datanya, ada dalam salah satu laporan yang disiapkan Maggie. Nasabah jenis ini seharusnya tahu persis dana mereka adalah produk investasi, dan persis seperti kalian berinvestasi atas sesuatu, risiko kehilangan selalu ada. Seharusnya Om Liem dan stafnya menjelaskan masalah ini saat nasabah tersebut menyetor uang, tapi apa pula yang diharapkan? Om Liem sendiri, dengan ambisi besarnya, boleh jadi yang memerintahkan menutupi banyak informasi.

”Apa masalah keduanya, Ram?” aku menyergah. Ram sepertinya terdiam terlalu lama.

”Mereka meminta jaminan, Thom.” ”Mereka siapa? Jaminan apa?” ”Eh, nasabah tabungan dan deposito yang baru saja memutuskan memberikan sepertiga uangnya meminta jaminan tertulis. Itu masalah keduanya.”

”Hanya itu? Mudah saja, tinggal kaubuat selembar surat jaminan, kautandatangani.”

”Mereka meminta Om Liem yang menandatangani.”

”Tidak bisa, Ram. Om Liem tidak bisa dihubungi siapa pun hingga semua selesai.”

”Mereka memaksa...”

”Astaga, kau cari tahu sendiri cara mengurus mereka, Ram. Kau salah satu direktur Bank Semesta, bukan? Bilang kau diberikan kuasa tanda tangan, bilang kau pengganti presdir, apa pun.”

”Baik, akan kuusahakan.” Ram menghela napas.

”Telepon aku jika ada kabar baik lagi.” Aku bersiap menutup telepon.

”Satu lagi, Thom. Kau sungguh tidak akan memberitahuku di mana Om Liem?”

”Tidak.”

”Baiklah. Bilang pada Om Liem, Tante baik-baik saja. Dia sesiang ini saja tiga kali menyuruh staf di rumah bertanya tentang Om Liem dan dirimu.”

”Akan kusampaikan. Selamat siang, Ram.” Aku menutup telepon.

Aku mengempaskan punggung ke jok mobil.

*** ”Sibuk, heh?” Rudi menoleh sekilas, konsentrasi di kemudi. ”Apakah semua mobil patroli AC-nya rusak? Gerah.” Aku

memutar-mutar tombol AC mobil, tidak menjawab.

Rudi tertawa. ”Kau pikir ini seperti mobil patroli di Eropa, paling sial sedan kelas menengah.”

Aku menurunkan jendela sedikit. ”Kenapa kau memilih menyelamatkan kami dibanding membantu komandanmu?” aku bertanya—pertanyaan yang sejak tadi tertunda.

”Dia bukan lagi bosku, Thomas,” Rudi menjawab santai. Dahiku terlipat sedikit.

”Sejak kemarin aku hanya seorang polisi dengan buku tilang, Thom.” Rudi tertawa, tidak sabaran menunggu mobil di depannya menepi, menekan tombol klakson, menambahi pekak sirene.

”Kau tidak sedang bergurau?”

”Kau mau melihat buku tilangnya? Buka saja dasbor mobil.” Aku tidak tertarik membuka dasbor, menatap jalanan. ”Apa pun itu, kau tetap mengambil risiko melakukannya. Salah satu dari mereka bisa saja mengenali wajah di balik kedok. Situasimu bisa lebih buruk dibanding melepaskanku kemarin. Pengkhianat.

Dipecat.”

”Omong kosong, Thomas. Kita berdua sama-sama petarung. Aku melakukannya penuh perhitungan. Kalkulasi matang untung-rugi.” Rudi mendengus, menyalip dua mobil sekaligus.

”Anggap saja aku bosan disuruh melakukan banyak hal. Bosan dengan perintah, laksanakan, tutup mulut, jangan banyak tanya. Kau tahu, aku meteor terang dalam kesatuan, meraih segalanya di usia muda. Bagaimana aku melakukannya? Itu tidak istimewa. Cukup menjadi suruhan bos-bos, maka kau akan diberikan segalanya, termasuk pasukan elite, akses tidak terbatas, uang, apa pun.” Rudi bicara cepat, dia membanting kemudi ke kanan, menyalip dua truk kontainer.

”Aku memilih menyelamatkanmu. Itu hal paling logis yang akan dilakukan orang sepertiku. Karierku tamat dengan purapura lalai, membiarkan kau kabur kemarin, Thomas. Satu-satunya kesempatan untuk menyelamatkan diri sendiri adalah mengambil jalan berputar. Aku masih punya akses informasi. Aku sekarang tahu siapa Om Liem, tahu siapa opamu, bahkan aku tahu siapa kau. Thomas, petarung yang dilahirkan masa lalu kelam.

”Jadi jangan tanya tentang komandanku, aku tahu siapa dia. Tadi pagi aku mencarimu di apartemen, kosong. Mendatangi Erik, juga Theo, mereka tidak tahu kau ada di mana. Aku memutuskan pergi ke kantormu. Menyaksikan bekas anak buahku menyergap stafmu, melihatmu mengendap-endap dengan kostum pengantar pizza jelek ini. Lima detik aku mengambil keputusan, aku memilih. Kau teman baikku sekaligus petarung. Aku percaya kau akan memegang janji, membayar kontan semua bantuan, kalimat yang kaukatakan di Jatiluhur. Jadi anggap saja aku petaruh yang baik, bertaruh dengan seluruh koin di atas namamu, Thomas. Masuk akal, bukan?”

Mobil patroli masih terus melesat cepat, memasuki gerbang bandara, menuju terminal keberangkatan.

Aku menghela napas. ”Terima kasih banyak telah membantuku, Rudi.”

Rudi tertawa, melambaikan tangan kirinya. ”Terima kasihnya jangan sekarang, Thom. Kau bahkan segera berutang satu pertolongan lagi.”

Aku menoleh, tidak mengerti. Tangan kiri Rudi memutar tombol volume radio panggil. Aku menelan ludah.

Rudi benar. Terdengar dari percakapan radio panggil, simpang siur informasi dan perintah agar semua unit polisi terdekat menuju bandara. Mister T, itu simbolku, sedang menuju bandara. Apa pun caranya, ringkus segera, hidup atau mati. Perintah langsung dari markas besar. Titik.

Mobil patroli yang dikemudikan Rudi melamban. Dia menunjuk keluar, belasan polisi sudah sibuk menyibak calon penumpang, mencari wajahku. Beberapa mobil patroli sejenis merapat. Mereka pastilah sudah tahu aku akan terbang ke Denpasar. Kejadian di lift tadi pagi membuat petinggi polisi itu marah besar, menggunakan seluruh sumber daya untuk menangkapku segera.

Aku mengepalkan tinju, mendengus. Sial, pesawatku sepuluh menit lagi boarding. Bagaimana mungkin aku lolos menaiki pesawat dengan polisi di setiap sudut bandara? Aku mengusap wajah. Perjalanan ini mendesak, tidak bisa dibatalkan, aku harus menemui bidak terpenting dalam permainan ini: Sang Pangeran.
Bagikan Novel ini Sebegai bentuk dukungan untuk situs ini 😊