menu

Negeri Para Bedebah Bab 34 Pertarungan dalam Lift

Mode Malam
Bab 34 Pertarungan dalam Lift
KELIRU, mereka sama sekali tidak tertarik mengunyah pizza

yang kubawa.

Pintu lift lantai lima terbuka, aku melangkah layaknya pengantar pizza yang baik, bergegas masuk ke ruang resepsionis kantorku.

Segera, dua dari petugas berseragam taktis langsung menghadang.

”Pagi, Bos. Saya hendak mengantar pizza ke dalam.”

”Kau tidak boleh masuk!” Salah satu dari mereka mengangkat tangan, menunjuk lorong, menyuruhku pergi. Tangan satunya mengangkat senjata mesin otomatis, teracung padaku.

”Eh?” Aku pura-pura bingung, memastikan nama perusahaan yang ditulis dengan batu pualam di belakang meja resepsionis. ”Bukankah ini kantor Thomas & Co? Ada karyawannya yang memesan pizza. Saya harus mengantar ke dalam.” Dan aku, seperti gaya pengantar pizza yang terburu-buru, mengabaikan dua petugas itu, melangkah menuju pintu di sebelah meja resepsionis. ”Kau tidak boleh masuk!” Salah satu dari mereka membentak, sigap meloncat. Tangannya yang terlatih dengan cepat mencengkeram kerah seragam pizza-ku.

Sial! Aku menelan ludah, sedikit tercekik.

”Eh, saya tahu ruang kerja yang memesan pizza ini, Bos. Biar saya antar ke dalam langsung, tidak akan lama. Mereka sudah biasa pesan.” Aku berusaha mengangkat tinggi kotak pizza, menunjukkannya, memasang wajah seperti tersiksa oleh cengkeraman kasar itu.

Petugas yang memegang kerahku sedikit melonggarkan genggaman tangannya demi cicit suara kesakitanku. ”Tidak ada yang memesan pizza! Tidak ada siapa-siapa di dalam sana.”

”Ada yang pesan, Pak, eh Bos.” Aku menunjukkan sekilas resi pesanan. ”Saya sungguh harus mengantarkannya tepat waktu, atau mereka berhak menerima pizza gratis karena terlambat dan pizza-nya telanjur dingin. Gaji saya akan dipotong manajer gerai, belum lagi dia akan marah-marah.” Aku membungkuk, mengembuskan napas, pura-pura tersengal dan pucat karena kejadian barusan.

Petugas itu menoleh ke arah temannya, meminta pendapat. Temannya mengangkat bahu. Tangannya terus siaga me-

megang senjata—terarah padaku.

”Baik. Sekarang kauserahkan pizza-nya, biar kami yang bawa ke dalam.”

”Eh, saya harus mengantarnya sendiri, Pak Bos.” Aku buruburu menggeleng. Aku harus masuk, harus melihat sendiri posisi Maggie, dan seberapa banyak mereka yang sedang menahan Maggie.

”Sama saja!” Petugas itu berseru kesal, mulai tidak sabaran lagi melihat wajahku. ”Kau tinggal bilang di mana meja pemesan

pizza ini. Biar aku yang antar. Kau tunggu di sini saja.”

Aku berpikir sejenak, berusaha mencari akal untuk bernegosiasi diizinkan masuk.

Petugas itu sudah merampas kantong plastik besar berisi kotak pizza di tanganku.

”Di mana meja pemesannya?” Dia mendesak, menatap galak. ”Eh, Ibu Maggie. Mejanya paling pojok,” aku terbata-bata men-

jawab.

Petugas itu melangkah dengan cepat.

Aku ikut melangkah masuk, mengiringinya.

”Astaga.” Petugas menoleh, tangannya bergerak cepat, senjata mesin otomatisnya terangkat, larasnya menahan dadaku. ”Alangkah susah memberi perintah padamu. Kalau kubilang tunggu di luar, berarti kau tunggu. Atau kau tidak akan pernah bisa lagi mengantar pizza walau sekotak kecil jika kutarik pelatuk senjata ini.”

Aku menahan napas. Mata kami bersitatap satu sama lain. ”Maaf, Pak, eh, Bos. Maaf.” Aku menelan ludah, mengangkat

tangan, perlahan melangkah mundur.

Setidaknya satpam gerbang belakang gedung perkantoran benar. Jumlah mereka enam. Meski berpura-pura gentar menatap senjata, sebelum melangkah mundur, aku sekejap bisa melirik dengan jelas ujung ruangan. Maggie didudukkan di salah satu kursi, tangannya diborgol. Empat petugas berada di sekitarnya, berjaga penuh. Bintang tiga polisi itu terlihat santai menikmati pemandangan jalanan kota yang lengang dari dinding kaca. Dua tangannya di saku celana. Dia tidak memperhatikan keributan kecil dua petugasnya yang berjaga di meja resepsionis dengan pengantar pizza.

”Apa lagi yang kautunggu, hah? Pizza-mu sudah kuletakkan di atas meja pemesannya.” Petugas yang membawa kotak pizza kembali.

”Eh.” Aku menggaruk kepala, melonggarkan topi seragam. ”Biasanya mereka memberi saya tips, Bos.”

”Apa kau bilang?” dia membentak, melotot.

”Eh, tips, Pak Bos. Biasanya ada.” Aku masih berusaha melirik ke sana kemari, memastikan apakah masih ada petugas lain yang berjaga di lokasi berbeda.

”Lupakan tipsmu. Segera menyingkir dari sini.” Dia mendorongku kasar. ”Dan jangan pernah cerita pada siapa pun apa yang kaulihat.”

Petugas yang satunya mendekat, bersiap memukulkan popor senjata jika aku tidak segera pergi.

Aku mengangguk. Baiklah, tidak ada yang bisa lagi kulakukan. Dengan situasi seperti ini, jangankan menyelamatkan Maggie, mendekatinya saja aku tidak bisa. Segeram apa pun aku, segemas apa pun, termasuk ingin meninju petugas yang sekarang kasar sekali menusuk-nusukkan laras senjatanya ke perut, aku tidak punya pilihan selain pura-pura pergi. Setidaknya aku tahu persis Maggie baik-baik saja. Dia tidak diperlakukan kasar. Sesuai skenario, aku hanya bisa menunggu. Dan berharap, setengah lusin polisi berpakaian tempur ini akan mengunyah pizza dengan topping spesial bunga terompet.

Aku perlahan melangkah keluar.

Sayangnya skenario itu gagal total. Jangankan memakan, mereka menyentuh kotaknya pun tidak. ***

Lima menit yang dijanjikan bintang tiga polisi itu berlalu.

Aku menunggu dengan tegang di lorong lift, di balik tanaman hias besar, di dekat pintu menuju tangga darurat. Aku mengintip ke arah kantorku, sama sekali tidak terlihat tanda-tanda pizza itu disentuh mereka. Dua petugas yang berjaga di meja resepsionis kantor tetap siaga, berjaga-jaga atas segala kemungkinan. Bintang tiga polisi itu membuktikan ucapannya, dia akan membawa Maggie pergi jika aku tidak menunjukkan batang hidung sesuai tenggat yang diberikan. Lima menit berlalu, dia bahkan tidak perlu repot-repot lagi berusaha meneleponku. Dia berteriak memberi perintah pada empat anak buahnya untuk segera membawa tahanan. Mereka bergerak. Senjata-senjata ter-

acung, Maggie disuruh berdiri.

Dari balik tanaman hias, aku mendengar bentakan-bentakan menyuruh Maggie segera melangkah. Terdengar suara mengaduh tertahan Maggie. Tanganku mengepal, situasi semakin serius. Kalau saja hendak menurutkan emosiku, saat ini juga aku akan menyerbu ruangan. Tapi itu tidak bisa kulakukan. Julia benar, itu hanya bunuh diri, dan aku bisa membahayakan Maggie secara tidak langsung.

Maggie melangkah patah-patah keluar. Dua petugas di meja resepsionis bergabung mengawal, seperti sedang mengawal penjahat besar paling berbahaya.

Bintang tiga polisi itu melangkah santai di belakang.

Aku mendongak, menatap langit-langit lorong. Apa yang harus kulakukan sekarang? Napasku sungguhan tersengal, tegang. Aku mencengkeram paha, berusaha mengendalikan diri. Rombongan itu sudah menuju lift. Satu-dua kali Maggie didorong agar berjalan lebih cepat.

Tanganku mengepal keras. Hanya dalam hitungan detik, dan Maggie sudah dibawa pergi entah ke mana. Aku tidak akan pernah bisa lagi menyelamatkannya.

Rombongan itu beberapa langkah lagi menuju lift.

Aku kehabisan kesabaran, sekarang atau tidak sama sekali. Aku siap lompat dari persembunyian, berlari menyerbu rombongan itu.

”Psst!”

Seperseribu detik. Bisikan pelan itu membuat gerakanku tertahan.

”Psst!”

Aku menoleh. Kejutan besar.

Bisikan pelan itu bersumber dari Rudi, si bokser sejati klub petarung. Kepalanya muncul di balik pintu tangga darurat dua langkah di sebelahku.

”Ikuti aku, Thomas. Waktu kita terbatas.” Dia tersenyum, matanya bersinar meyakinkan.

Aku menelan ludah, tertahan menoleh pada Rudi sejenak, menoleh lagi ke ujung sana. Rombongan yang membawa Maggie sudah persis di depan lift.

”Cepat, Kawan. Atau stafmu yang cantik itu tidak punya kesempatan lagi.” Wajah Rudi hilang di balik pintu darurat, suara kakinya yang menuruni anak tangga terdengar berderap di balik pintu.

Aku mengusap wajah. Tidak mengerti apa yang sedang terjadi. Kenapa tiba-tiba Rudi muncul dan menawarkan bantuan. Aku menoleh ke ujung lorong, salah satu polisi menekan tombol ke bawah, menunggu lift terbuka.

Baiklah. Pilihanku terbatas. Aku bergegas membuka pintu darurat, dengan cepat menyusul Rudi yang sudah satu lantai di bawah. Aku loncat ke pegangan tangga, dengan bantalan paha, meluncur.

”Jangan banyak bertanya dulu, Kawan.” Rudi menoleh, tertawa. ”Anggap saja aku sakit hati karena hanya bertugas mengatur lalu lintas di perempatan.”

Aku menelan ludah. Kami sudah tiga lantai turun dengan cepat.

”Dari dulu aku selalu berharap bisa bertarung bersisian bersamamu, Thomas.” Rudi menyipitkan matanya. ”Itu pasti akan seru. Tetapi Theo dan pendiri klub petarung terlalu konservatif. Aku sudah mengusulkan berkali-kali agar kita membuat jenis pertarungan baru di klub. Dua lawan dua, misalnya. Atau empat lawan empat. Itu jelas lebih seru, bukan?”

Kami tinggal satu lantai lagi tiba di lantai lobi gedung.

Rudi mendorong pintu darurat, keluar, berlari di lobi yang lengang. ”Nah, inilah kesempatan besarnya. Dua lawan enam. Ini akan menjadi pertarungan hebat, Thomas. Pertarungan legendaris.”

Aku tidak berkomentar, terus mengikuti langkah kaki Rudi. ”Kita masuk dengan cepat, Kawan. Seperti angin puyuh.”

Rudi mengatur napas, menatapku yakin. ”Lima detik pertama adalah segalanya.”

Aku akhirnya paham. Kami sudah berdiri persis di depan pintu lift lantai lobi. Aku mendongak, menatap petunjuk posisi lantai. Lift masih bergerak turun, dua lantai lagi. ”Kau pasti tahu, senjata mesin otomatis yang mereka pegang tidak akan berguna dalam pertarungan jarak pendek. Ruangan lift terlalu sempit untuk mengambil ancang-ancang menembak. Begitu pintu lift terbuka, kita akan menyerbu masuk dan langsung beradu punggung, Thomas. Kau urus tiga atau empat petugas, aku urus tiga yang lainnya.” Rudi bersiap-siap, mengenakan kedok di kepala, hanya terlihat matanya saja sekarang. Dia memasang posisi bertinju.

Aku ikut memasang posisi. Gigiku bergemeletuk oleh sensasi pertarungan, tanganku mengepal sempurna membentuk tinju, bedanya sekarang tidak ada sarung tinjunya.

Rudi benar, ini akan jadi pertarungan hebat.

”Pukul bagian badan yang mematikan, Thomas. Jangan mengasihani lawanmu. Aku tahu, dalam setiap pertarungan klub, kau bukan tipikal petarung pembunuh, kau kadang berbaik hati. Tetapi enam polisi yang akan kita hadapi ini terlatih untuk membunuh, aku tahu persis. Mereka mantan anak buahku. Jika kau tidak segera melumpuhkan mereka, mereka dengan senang hati melakukannya lebih dulu. Ingat, Thomas, satu kali pukulan yang mematikan. Tidak akan ada kesempatan tinju kedua atau ketiga!”

Aku mengangguk. Lobi gedung yang lengang hanya menyisakan dengus napas kami, tegang.

”Bersiap, Kawan. Bel ronde pertama sekaligus terakhir akan terdengar!” Rudi mendesis.

Lift berbunyi pelan, tanda lift sudah tiba di lobi.

Pintunya bergerak membuka. Amat perlahan rasa-rasanya. Enam petugas bersenjata langsung terlihat. Salah satunya bin-

tang tiga polisi yang berdiri bersandar. Maggie persis di tengah.

Aku dan Rudi sudah melompat masuk, bahkan sebelum pintu sempurna terbuka.

Lihatlah! Kami sudah bertarung puluhan kali di klub. Tetapi ini sungguh pertarungan paling hebat yang pernah ku-

lakukan. Kami seperti penari masyhur yang sedang ekstase menari mengikuti gerakan tangan dan kaki, atau seperti konduktor orkestra yang sedang memimpin pertunjukan dengan segenap sensasi, atau seperti pelukis besar yang setengah sadar mencampur warna, menumpahkannya di kanvas, corat-coret penuh irama, membuat karya agung.

Masterpiece.

Tanganku sudah bergerak cepat dalam ketukan pertama, satu tinju menghantam dagu salah satu polisi. Tubuhnya terbanting, kepalanya menghantam dinding lift, senjatanya terlepas. Rekannya berteriak, ”Awas!” Belum hilang kata awas itu di langit-langit lift yang terasa sempit karena ada tujuh orang di dalamnya, tubuh polisi itu sudah menghantam dinding lift, dan Rudi meninju pelipisnya.

Aku dan Rudi petarung terbaik klub, beringas menghabisi lawan. Dua detik kemudian, dua polisi lain menyusul terkapar. Salah satu polisi itu terduduk, tanpa sengaja menarik pelatuk senjata mesin di tangannya, rentetan peluru melukis atap lift, lampu terburai, cermin pecah berderai, suara tembakan yang memekakkan telinga, aku dan Rudi menunduk, tanganku mendorong Maggie agar tiarap.

Tembakan terhenti, polisi itu sudah terkapar pingsan.

Aku lompat dengan cepat, meninju dagu polisi yang tersisa, pukulan yang mematikan. Petugas itu melenguh kesakitan, giginya rontok, keluar bercampur darah dan ludah. Rudi, dalam waktu yang sama, sudah menghajar polisi lainnya, menghantam leher. Polisi itu sejenak berdiri, lantas roboh tanpa suara.

Pertarungan selesai di detik kelima belas.

Rudi dengan cepat memegang kerah bintang tiga polisi yang sejak tadi termangu menatap kejadian supercepat, ibarat menonton kereta Shinkansen yang sedang melintas di hadapannya. Sekejap, enam anak buahnya terkapar, tumpang tindih di ujung kakinya.

”Kau bahkan tidak layak untuk menerima tinjuku.” Rudi menggeram, mendorong bintang tiga itu jatuh terduduk, meloloskan pistol di pinggang petinggi polisi itu, membuang isi pistol. Peluru berkelotakan di lantai lift.

”Ayo, Thomas, bawa stafmu pergi!” Rudi menoleh padaku, sembarang melemparkan pistol kosong.

Aku mengangguk, mencari kunci borgol di salah satu pinggang petugas.

Aku membuka borgol Maggie, lantas membantunya berdiri. Wajah Maggie pucat. Tangannya gemetar tidak terkendali. Matanya basah. Dia menangis ketakutan, tetapi dia baik-baik saja.

Aku memapah Maggie keluar dari lift. Rudi berjalan di belakangku.

Lobi gedung lengang.

Jam besar yang diletakkan di salah satu dinding lobi berdentang sebelas kali.

Kami sudah melangkah keluar, Julia menyusul bergabung dari toilet.
Bagikan Novel ini Sebegai bentuk dukungan untuk situs ini 😊