menu

Negeri Para Bedebah Bab 33 Racun

Mode Malam
Bab 33 Racun
KAU diajari tentang Socrates di sekolah?” Opa bertanya takzim.

Aku mengangguk. ”Itu salah satu pelajaran favoritku, Opa.” ”Oh ya?” Opa tertawa. ”Tetapi apakah gurumu bilang bahwa

Socrates, orang bijak, filsuf, penemu banyak pengetahuan itu mati bunuh diri?”

Aku menggeleng, menelan ludah.

Itu jadwal ketiga kalinya aku ke rumah peristirahatan. Opa mengajakku ke kebun miliknya dekat Waduk Jatiluhur, mengenakan topi bambu, bersepatu bot, santai berjalan di bawah rimbun pohon durian, mangga, alpukat, nangka, dan pohon lainnya.

”Tentu saja tidak.” Opa menepuk bahuku. ”Itu akan merusak imajinasi kalian tentang orang hebat itu. Tetapi adalah fakta, dia bunuh diri dengan racun hemlock.”

Aku menyeka keringat di pelipis. Sejak tadi pagi, saat Opa meneriakiku agar bangun, tertawa menyiramkan air di kepalaku—kami semalam tidur terlalu larut karena terlalu asyik memancing di waduk—aku sudah menebak-nebak Opa akan mengajariku apa lagi pagi ini.

”Indah, bukan?” Opa menunjuk serumpun bunga di semak belukar.

Aku tidak menggeleng, juga tidak mengangguk. Insting remajaku menebak, bunga ini pasti ada hubungannya dengan kematian Socrates.

”Itulah poison hemlock, Tommi. Inilah salah satu tumbuhan paling berbahaya di dunia. Socrates yang agung mati setelah menelan racun hemlock. Tubuhnya kejang-kejang, lantas maut segera datang. Mengerikan, bukan?”

Bulu kudukku berdiri. Aku menghela napas.

Opa sudah melangkah ringan, berpindah ke bagian lain kebun, seperti sedang mengajakku berjalan-jalan di lorong mal. ”Nah, itu pohon strychnine. Tidak lazim kaudengar. Tetapi Cleopatra memaksa pelayannya memakan biji buah pohon ini, untuk mengetahui apakah biji pohon ini cara terbaik untuk bunuh diri. Racun pohon ini terkenal sekali, Tommi, disebut brucine. Beberapa cerita legendaris menyebut-nyebut racun brucine. Kembali lagi ke Cleopatra tadi, kabar baiknya, setelah melihat pelayannya meninggal dengan cara yang amat menyakitkan, Cleopatra berubah pikiran. Kabar buruknya, dunia ini memang aneh sekali dalam kasus tertentu, Cleopatra memilih racun ular untuk bunuh diri. Dia mati dengan memasukkan tangannya

ke dalam keranjang ular berbisa.”

Astaga, aku paham sudah apa pelajaranku pagi ini. Opa mengajakku mengenal begitu banyak racun. Inilah sesi paling senyap. Aku lebih banyak diam, menatap wajah tua Opa yang terlihat riang. Aku tidak memikirkan dari mana Opa tahu banyak hal, karena jelas, dengan pengalaman hidupnya, meski Opa tidak pernah sekolah, pengetahuannya luas dan membekas. Aku lebih memikirkan, buat apa aku diajari soal ini. Ini berbeda dengan belajar mengemudi speedboat, menembak, atau menyetir mobil. Awalnya hanya bunga, pohon, atau tanaman yang memang tidak lazim, tidak pernah kudengar, dan langka tumbuh di iklim tropis. Tetapi semakin siang, Opa mulai menunjuk jenis tanaman yang sejatinya banyak sekali berada di halaman rumah kebanyakan. Aku menelan ludah, bahkan satu-dua jenis tanaman itu

dihidangkan di meja makan.

”Kau pernah makan singkong mentah, Tommi?” Opa menyeringai.

Aku buru-buru menggeleng.

”Jangan pernah lakukan. Beberapa jenis singkong, ketela pohon, atau apalah orang menyebutnya mengandung racun sianida dengan kadar yang lebih dari cukup untuk membunuhmu.” Dengan suara perlahan, Opa menjelaskan.

”Masa-masa itu, ketika kehidupan semakin sulit, banyak orang-orang kampung yang mencari tumbuhan yang bisa dimakan dalam hutan. Kemarau panjang, paceklik, gagal panen, tidak ada bantuan, mereka memakan apa saja yang bisa dimakan. Di beberapa tempat disebut gadung, aku akan menyebutnya ubi kayu hutan saja. Jika kau tidak becus memasaknya, tidak cukup matang prosesnya, satu keluarga penuh, atau seluruh kampung bisa binasa dalam satu malam.”

Aku bergidik, teringat tadi pagi Tante menghidangkan cake

dari ketela pohon.

Opa tertawa. ”Tenang, Tommi, kalau kau masak dengan benar, racun sianidanya akan hilang, bahkan tidak semua orang tahu bahwa singkong itu berbahaya. Kita tidak akan bisa berjalan-jalan di kebun lagi jika tantemu salah memasaknya.”

Itu sungguh bukan gurauan yang menarik. Aku perlahan mengembuskan napas.

Persis saat matahari di atas kepala terik membakar ubunubun, Opa melambaikan tangan, mengajakku kembali ke rumah peristirahatan. Aku lebih banyak diam saat Opa mengemudi mobil.

”Kau tidak suka pelajaran hari ini, Tommi.” Opa berkata takzim.

Aku bergumam antara terdengar dan tidak.

***

Dua puluh tahun berlalu sejak pelajaran itu.

”Ada berapa orang di atas sana?” aku bertanya cepat. ”Setidaknya enam orang, Pak Thom,” satpam kantor men-

jawab ragu-ragu. ”Mungkin juga lebih. Saya tidak sempat menghitung. Mereka baru tiba setengah jam lalu, berseragam dan bersenjata. Beberapa memakai topeng. Mereka langsung menerobos meja depan. Jangankan menahannya, bertanya saja kami tidak berani.” 

Aku mengusap dahi. Urusan ini serius sekali. Itu pasti rombongan petugas yang tadi malam menangkapku. Seharusnya aku segera menyuruh Maggie menyingkir, bekerja dari lokasi alternatif yang lebih aman. Dengan telepon genggamku dipegang bintang tiga itu, soal waktu mereka bisa menyisir satu per satu orang kepercayaanku, dan Maggie jelas ada di urutan pertama. ”Apakah mereka yang kemarin menyergap kita di Waduk Jatiluhur?” Julia bertanya cemas—sepertinya sakit hati dibilang Nenek Lampir menguap cepat oleh situasi ini.

Aku mengangguk cepat. ”Mereka juga orang yang sama yang telah menembaki kapal Opa tadi pagi di dermaga yacht.” Aku melirik jam di pergelangan tangan. Meski jadwalku superketat, aku sungguh tidak bisa membiarkan Maggie ditangkap. Tadi dari parkiran gedung kementerian, mengambil alih kemudi mobil Julia, kami mengebut di jalanan protokol ibu kota, tiba dua menit lebih awal dibanding tenggat waktu yang diberikan penelepon, suara fals yang amat kukenal. Kami segera merapat di gerbang belakang kantor, bertanya pada satpam yang berjaga—yang justru lebih dulu melaporkan situasi.

”Apa yang sebenarnya sedang terjadi, Pak Thom?” satpam kantor bertanya cemas.

”Mereka menggeledah kantorku.”

”Menggeledah kantor Pak Thom? Memangnya ada apa di sana? Ada bom?”

”Mana aku tahu. Mereka sekarang menahan Maggie.”

”Ibu Maggie yang cantik dan baik hati itu? Aduh!” Satpam kantor kontan mengeluh.

Aku mengabaikan wajah terlipat satpam. ”Apa yang harus kita lakukan, Pak Thom?”

”Aku belum tahu, dan berhentilah bertanya. Kau tidak membantu situasi dengan pertanyaan itu,” aku menjawab ketus.

Bagaimana aku bisa menyelamatkan Maggie dari sana? Dengan jumlah polisi lebih dari setengah lusin, jangankan menyelamatkan Maggie, mendekati lantai kantorku saja tidak mudah. Sejak mengebut tadi aku sudah memikirkan skenario, tapi buntu. Tidak ada celah. Jangankan Maggie yang sendirian dan dijaga setengah lusin pasukan, kami berempat—aku, Julia, Opa, dan Om Liem—kemarin sore bahkan tidak bisa kabur jika tidak ada bantuan Rudi.

Telepon genggamku berbunyi. Nomor telepon Maggie.

”Halo, Thomas. Kau butuh berapa lama lagi, hah?” Suara berat itu langsung bertanya, intonasinya tidak main-main.

”Aku masih dalam perjalanan.” ”Waktumu habis, Thomas.”

”Aku perlu waktu untuk tiba di kantor. Ayolah, lima belas menit lagi. Aku pasti datang,” aku berseru, mengucapkan apa saja yang terpikir di kepala, termasuk kemungkinan menundanunda, memperlambat.

”Sayangnya, aku tidak punya waktu selama itu, Thomas. Jika lima menit dari sekarang kau tidak menampakkan hidung di ruangan kantor ini, stafmu yang cekatan ini sudah telanjur dibawa ke penjara, dan tidak akan ada lagi jalan kembali untuknya.” Pembicaraan diputus.

Aku berseru jengkel, hampir membanting telepon genggam. Hei, tidak bisakah dia bicara lagi sebentar, bernegosiasi? Dasar tabiat pengecut. Dia seharusnya tidak melibatkan orang lain dalam urusan ini—apalagi Maggie.

”Bagaimana?” Julia bertanya cemas.

Sebuah motor bebek pengantar pizza melintasi gerbang satpam.

”Kau tidak akan menyerbu langsung ke atas, bukan?” Julia bertanya panik saat melihat tanganku bergerak ke arah revolver di pinggang, di balik jas rapi. ”Aku akan menyerbu mereka. Kita lihat saja akan seperti apa.”

”Kau gila, Thomas. Kau kalah jumlah. Dan sejak kapan kau pintar menembak?” Julia berteriak.

”Pak Thom? Apa yang akan Pak Thom lakukan?” Satpam gerbang juga refleks melangkah mundur, jeri melihat revolver di tanganku—beruntung hari ini hari Minggu, pintu masuk gedung perkantoran sepi, keributan kecil ini tidak menarik perhatian siapa pun.

Motor bebek pizza yang barusan melintas sudah parkir rapi. Petugasnya sambil bersiul menenteng kantong plastik besar berisi kotak pizza lezat.

Aku sudah melangkah cepat. ”Tunggu, Thomas!”

Aku tidak mendengarkan Julia.

”Kau benar-benar kehilangan akal sehat, Thomas. Kau sama saja bunuh diri!”

Aku sekarang bahkan berlari-lari kecil, membiarkan Julia mengejarku.

Sekejap, aku sudah mencengkeram kerah baju petugas pengantar pizza, mengacungkan pistol, berkata tegas. ”Ikut denganku, segera!”

***

Dalam hitungan detik, aku mendapatkan ide itu.

Opa benar, tidak ada pengetahuan yang tersia-siakan, termasuk tentang pengetahuan racun sekalipun. Kalian tahu, di sekitar rumah, di halaman, di trotoar, terkadang tumbuh tanaman yang sangat beracun tanpa kita sadari. Bunga terompet mekar tidak berbilang di taman gedung perkantoran. Indah. Tetapi apakah ada karyawan yang sering berlalu-lalang tahu bahwa bunga itu amat berbahaya?

Aku menyeret petugas pengantar pizza itu berjalan ke toilet lantai dasar gedung, menyuruhnya melepas baju seragam pengantar pizza. Dia takut-takut, nanar melihat revolver, mulai melepas baju dan celana. Aku melemparkan pistol ke Julia, mengganti pakaianku dengan cepat.

”Hei, sebentar!” aku meneriaki pengantar pizza yang hendak lari terbirit-birit setelah pertukaran baju selesai. ”Untukmu! Cukup untuk mengganti pizza dan seragam kerjamu.” Aku melemparkan gumpalan uang yang kutarik dari dompet.

Dia takut-takut mengambilnya di lantai toilet.

”Sekali saja kau cerita tentang kejadian ini, bahkan dalam mimpimu pun aku akan datang. Hei, kau dengar?”

Pengantar pizza itu sudah mendorong pintu toilet, berlari cepat menuju motornya, melintasi gerbang, membuat satpam menatap heran, sejak kapan pengantar pizza ini berganti pakaian jas rapi?

Aku menyuruh Julia memetik beberapa bunga terompet di taman gedung perkantoran. Gadis itu, yang mulai mengerti, berlari cepat seperti mengejar informan berita setimpal hadiah Pullitzer.

”Kandungan aktifnya adalah atropine, hyoscyamine, dan scopolamine, zat penghilang kesadaran. Kau bisa meninggal jika overdosis,” aku menjawab cepat pertanyaan Julia, seberapa berbahayanya tanaman itu, sambil memeras bunga terompet yang diberikan Julia. Julia menelan ludah, wajahnya pucat. ”Kau tidak sungguh-sungguh, Thomas?”

”Aku lebih dari serius. Sekali saja mereka tidak sopan menyentuh Maggie, aku akan membunuh mereka semua,” aku menjawab dingin, sekarang memotong bunga itu kecil-kecil, menjadikannya topping pizza.

Julia berpegangan ke pintu toilet.

Sempurna sudah. Potongan bunga terompet sudah bergabung, tersamar seperti bagian dari resep lezat pizza. Aku memasukkan kembali dua pizza ukuran jumbo itu ke dalam kotak, meletakkannya dalam kantong plastik, memasang topi khas pengantar pizza, memasang kacamata besar bundar milik pengantar pizza tadi, menyamarkan tampilan. ”Kau tunggu di sini, Julia. Jika lima belas menit aku tidak turun, kau beritahu satpam depan untuk menelepon siapa saja, meminta bantuan.”

Julia kehilangan komentar. Dia mencengkeram pintu toilet. Aku sudah bergegas menuju lift.

Entah siapa yang memesan pizza ini, tidak penting. Aku akan membawanya langsung menuju ruangan kantorku, bilang ada kiriman pizza untuk penghuni ruangan itu, meninggalkannya.

Apakah mereka akan tertarik mengunyahnya? Waktuku sekarang adalah detik. Aku menekan tombol lift. Keliru atau benar, berhasil atau gagal rencana ini sekarang hanya soal detik. Aku akan memikirkan cara terbaik agar setengah lusin lebih anggota pasukan itu tertarik memakannya sepanjang lift bergerak naik.
Bagikan Novel ini Sebegai bentuk dukungan untuk situs ini 😊