menu

Negeri Para Bedebah Bab 32 Sandera yang Berharga

Mode Malam
Bab 32 Sandera yang Berharga
INJAK remnya, Tommi.” Opa yang duduk di sebelahku ber-

seru, mengingatkan.

”Eh?” Aku menoleh, menelan ludah, sedikit gugup.

”Injak remnya, Tommi! Remnya!” Opa berseru lebih kencang.

”Sudah, Opa! Sudah kuinjak remnya!” aku balas berteriak panik. Mobil yang kukemudikan bukannya melambat, malah semakin cepat menuruni halaman belakang rumah.

”Remnya, Tommi! Astaga, kau justru menginjak gasnya!” ”Sudah kuinjak! Mobilnya tidak bisa berhenti! Eh, sebenarnya

remnya yang mana, Opa?”

”Yang tengah, Tommi! Injak remnya!” Opa berseru panik, dengan cepat menyambar kemudi, berusaha membanting mobil ke kanan.

Terlambat, mobil melaju terlalu kencang, sedetik sudah menghantam gundukan taman. VW Kodok klasik itu seperti kodok sungguhan melompat. Aku terenyak, terbanting, kepalaku membentur kemudi, suara klakson terdengar nyaring tidak sengaja terkena dahiku. Opa yang berusaha membantu mengendalikan mobil mengaduh tertahan, siku kiriku menghantam wajahnya. Urusan semakin kapiran. Lepas gundukan tanah, mobil menerabas barisan bunga bugenvil yang segera porak-poranda. Mobil tidak terkendali dan terus meluncur ke bibir waduk.

Dan sebelum kami bisa melakukan apa pun, mobil berdebum loncat ke dalam air, dengan cepat tenggelam. Gelembung udara menyeruak ke permukaan air.

”Keluar, Tommi! Cepat keluar dari mobil!” Opa menggerutu, berteriak—dengan masih meringis menahan sakit dan kaget. Opa berusaha membuka daun pintu, terkunci, macet.

Aku lebih cepat, sudah mendorong pintu mobil sebelah kanan. Mobil sudah separuh tenggelam di sisiku. Aku segera berenang ke sebelah Opa, membantunya menjebol pintu.

Setelah sekitar dua menit berkutat, Opa berhasil keluar, aku menyeretnya ke tepi waduk.

”Dasar anak ceroboh! Kau hampir membuat kita celaka. Untuk kesekian kalinya.” Opa bersungut-sungut, badannya basah kuyup, napasnya tersengal.

Aku tertawa, membungkuk, memegangi pahaku yang nyeri terhantam entahlah tadi.

”Kau jangan pernah meminta Opa mengajari mengemudi lagi.” ”Ini seru, Opa! Hebat!”

”Omong kosong! Kau membuat mobil klasik Opa tenggelam di waduk!” Opa berseru sebal.

”Namanya juga kodok, Opa.” Aku menyengir. Opa mengacungkan tinju, marah.

”Kemarin lusa kau menabrakkan speedboat, kemarinnya lagi kau mematahkan kail kesayangan Opa, belum terhitung kaca jendela rumah yang pecah, anjungan dermaga somplak, atap genteng pecah. Opa tidak mau lagi mengajarimu apa pun. Kau sama seperti papamu dulu. Perusak nomor satu.” Opa mendengus, mendorong pelan bahuku, menyuruh menyingkir, lantas melangkah ke beranda rumah.

Aku mengibaskan rambut, tertawa lagi.

Tetapi Opa bergurau. Setelah ditertawakan Tante yang hari itu juga datang ke rumah peristirahatan, kami berganti baju kering, menghabiskan kue lezat buatan Tante di beranda belakang, Opa sudah lupa urusan mobil kodok itu. Staf rumah peristirahatan mengontak pemilik alat berat. Belalai pengeduk tanah itu tiga jam setelah kejadian sudah terjulur ke waduk. Beberapa penyelam mengikat mobil di dalam air, berusaha menariknya keluar.

”Kau besok mau melakukan apa lagi, Tommi?” Opa bertanya.

Kami asyik menonton proses evakuasi mobil kodok. ”Belajar mengemudi lagi, Opa.”

”Astaga!” Opa menepuk jidatnya. ”Tidak mau. Jangankan menyentuh mobil Opa, berada dekat dengan garasi saja kau tidak boleh, setidaknya hingga berusia delapan belas.”

”Kau membantu Tante masak saja, Tommi. Tante akan mengajarimu membuat kue-kue. Siapa tahu berguna saat kau kembali ke sekolah.” Tante ikut bicara, duduk di salah satu kursi santai, menyeduh teh hijau.

Opa terkekeh. ”Ide bagus, lebih baik kau belajar memasak saja. Risikonya lebih kecil.”

Aku memonyongkan bibir. ”Bukankah Opa sudah berjanji akan mengajariku apa saja?” ”Enak saja! Janji itu batal dengan sendirinya kalau kau merusak sesuatu.” Opa melambaikan tangan, menunjuk mobil kodoknya yang mulai ditarik keluar dari permukaan waduk. Orang-orang berseru memberi aba-aba, belalai penciduk tanah itu sedikit bergetar. 

Kami kembali asyik menonton.

Tetapi lagi-lagi tentu saja Opa bergurau, esok pagi-pagi kami sudah asyik belajar menembak.

Opa meminjamiku pistol tua, memberikan penutup telinga, lantas kami sibuk dar-der-dor di halaman kanan rumah yang disulap jadi tempat latihan tembak dadakan.

Itu untuk kedua kalinya aku berkunjung ke rumah peristirahatan Opa, liburan sekolah. Usiaku belum genap lima belas. Opa semangat menyusun jadwal agar aku betah, membuatku melupakan banyak hal, apalagi untuk sekadar bertanya tentang kejadian masa lalu. Aku tidak keberatan, lagi pula aku tidak tertarik membahas kenangan buruk itu.

”Dari mana Opa belajar menembak?” Kami sedang beristirahat, duduk di dermaga, betis terendam di dinginnya air waduk.

”Kalau kau bertanya demikian, berarti kau mau bilang orang tua ini termasuk jago menembak, Tommi.” Opa tertawa senang.

Aku menyengir.

”Autodidak, Tommi. Tidak ada yang mengajari orang tua ini.” ”Mengemudi speed? Merawat mobil?” Aku menguap, berusaha

mengisi sesuatu dengan percakapan.

”Itu juga autodidak. Sama seperti bermain musik, meskipun dalam bidang itu Opa tidak berbakat sama sekali.” Opa tertawa. ”Berbisnis?”

”Ya, sama seperti berbisnis. Mana ada sekolah bisnis pada zaman Opa masih muda? Opa lulus sekolah rakyat pun tidak. Semuanya dipelajari sendiri. Dicoba, gagal. Dicoba, gagal lagi. Terus saja kaulakukan. Lama-lama kau tahu sendiri bagaimana seharusnya trik terbaik dan tidak mengulangi kesalahan yang sama. Itu sekolah terbaik. Apa kata bijak itu? Pengalaman adalah guru terbaik.”

Aku mengangguk. ”Aku akan menjadi autodidak seperti Opa.”

Opa mengacak rambutku. ”Itu bagus. Sepanjang kau punya semangat untuk itu, kau bisa ahli dalam banyak hal tanpa harus duduk di kelas.”

Kami diam sejenak. Sebuah perahu nelayan melintas, beberapa penumpangnya melambai. Opa balas melambai.

”Hanya saja, esok lusa, dunia akan berubah banyak, Tommi.” Opa menatap hamparan permukaan waduk yang kembali lengang setelah perahu tadi pergi, kabut turun membungkus pebukitan.

”Hari ini, misalnya, semua pebisnis seperti Opa memilih hidup susah untuk mengumpulkan modal. Menahan diri untuk belanja, agar tabungan cukup untuk memperbesar bisnis, bersabar, konsisten, hati-hati. Esok lusa, orang-orang lebih memilih meminjam uang di bank, menerbitkan surat utang, atau jenis utang-utang lainnya. Mereka tidak sabaran dan mengambil risiko. Saat mereka gagal membayar utang, mereka akan menutupnya dengan pinjaman yang lebih besar.”

Aku mengangguk—meski belum mengerti kalimat Opa. Aku baru tahu saat mengambil kuliah, di kelas-kelas manajemen keuangan modern, kalian akan dicekoki dengan dogma: Meminjam lebih baik daripada mengeluarkan modal sendiri. Secara teoretis, ”pengungkitnya” lebih besar.

”Hari ini, misalnya juga, semua pebisnis hanya mengurus preman-preman, pungutan-pungutan dari pejabat rendahan, tikus-tikus busuk kelas bawah, makelar murahan. Esok lusa, bahkan anggota dewan terhormat menjadi calo, tidak beda dengan calo tiket di stasiun kereta. Pejabat tinggi menjadi penghubung, dan tidak terhitung aparat keamanan yang seharusnya melindungi, siap menggebuk bisnis kita jika tidak mendapat bagian.”

Aku lagi-lagi hanya mengangguk.

”Nah, semoga kalau kau nanti autodidak, kau akan lebih hebat dibanding Opa. Situasimu berubah, masalahmu juga berubah. Dicoba, gagal, dicoba lagi, gagal lagi, jangan pernah putus asa, mengeluh, apalagi berhenti dan melangkah mundur. Kau mewarisi darah seorang perantau, mewarisi tabiat seorang pejuang tangguh, Tommi. Tidak terbayangkan, ribuan kilometer opamu ini menaiki perahu kayu tua, bocor...”

”Tante memanggil kita,” aku memotong kalimat Opa.

”Eh?” Opa menoleh ke beranda belakang, dia tidak mendengar apa pun.

”Opa tidak mendengar suara Tante?” Opa menggeleng, tidak mengerti.

”Kata Tante, makan siang sudah siap. Aku duluan.” Aku sudah lompat berdiri. Sebelum Opa menyadarinya, aku sudah berlari-lari kecil melintasi dermaga. Kakiku yang basah membentuk barisan jejak telapak kaki.

Opa menggerutu, ”Dasar anak tidak tahu sopan santun!” Aku tertawa, sudah mendorong pintu belakang. Sepagi tadi saja Opa sudah dua kali bercerita tentang perahu nelayan bocor itu. Tiga kali bahkan belum tengah hari, itu berlebihan.

***

Opa benar.

Tanpa kita sadari, dalam hidup ini, potongan-potongan kecil menjadi tempat kita belajar sesuatu dengan efektif. Misalnya, anak kecil belajar mengendarai sepeda hanya karena teman bermainnya membawa sepeda dan dia iseng mencoba. Orangtuanya terpesona saat tahu anaknya sudah bisa mengendarai sepeda. Dalam kasus lebih ekstrem, anak kecil usia tiga-empat tahun dibiarkan sendirian menonton acara televisi yang mengajari membaca, dan dia fokus memperhatikan—entah bagaimana konsentrasi itu datang, orangtuanya terpesona saat tahu anaknya bisa membaca tanpa pernah diajari.

Ada banyak momen spesial ketika kita belajar sesuatu. Termasuk saat kita sudah remaja atau tumbuh dewasa. Kata Opa, ”Melakukan perjalanan, bertemu banyak orang, membuka diri, mengamati, mencoba sendiri, memikirkan banyak hal, adalah cara tercepat belajar. Kau bisa jadi tukang kayu yang baik jika berhari-hari mengunjungi lapak tukang kayu yang sedang sibuk membuat meja, kursi, pintu, dan sebagainya. Kau juga bisa menjadi tukang las, tukang cat, pembalap, penembak, penjahat, atau apa pun jika menghabiskan waktu bersama orang-orang dengan profesi itu. Sayangnya, banyak orang yang tidak menyadarinya, menghabiskan hari dengan rutinitas itu-itu saja tapi pengetahuannya tidak berkembang. Bagaimana mungkin, misalnya, kau setiap hari menumpang kereta, tapi tidak pernah tahu bentuk ruangan masinis.” Opa terkekeh. ”Kalau kau autodidak yang baik, kau bahkan sudah bisa mengemudikan kereta, Tommi.”

Aku belajar banyak hal dari kunjungan singkat ke rumah peristirahatan itu setiap liburan sekolah. Tidak sempurna autodidak, tapi Opa mengajariku dengan cara uniknya. Apa saja, termasuk keahlian kecil yang kadang buat apa pula kupelajari.

”Esok lusa, kau akan tahu apa gunanya, Tommi.” Aku mengangguk, aku selalu percaya kalimat Opa.

Dua puluh tahun berlalu, hari ini, di lobi parkiran gedung kementerian yang ramai, setelah menemui menteri yang kukuh itu, berlari-lari kecil bersama Julia, kalimat itu menemukan konteksnya.

Telepon genggamku berbunyi. Langkah kaki melamban. Dari layar telepon genggam aku tahu Maggie yang menelepon.

”Halo, Maggie, cepat sekali kau sudah meneleponku. Kau sudah di kantor? Tiketnya sudah siap? Atau ada sesuatu yang hendak kaulaporkan?”

”Halo, Thomas.”

Itu jelas bukan suara Maggie. Langkah kakiku sempurna terhenti.

”Sepertinya kami terlalu meremehkanmu.” Terdengar tawa fals.

Julia hampir menabrakku, menggerutu, wajah sebalnya bertanya siapa yang menelepon.

”Kau punya waktu lima belas menit, Thomas. Menyerahkan diri. Kami menunggu di kantormu yang mewah ini. Atau stafmu yang begitu cekatan ini esok lusa sudah bergabung dengan penghuni penjara perempuan. Ah, itu tidak seru, bagaimana kalau dengan sedikit intrik licik, kujebloskan saja ke penjara laki-laki, bagian tahanan khusus untuk para penjahat, pembunuh, dan pengedar obat-obatan terlarang. Ide bagus, bukan? Sepertinya gadismu ini tidak akan bertahan satu hari.”

Aku membeku. 
Bagikan Novel ini Sebegai bentuk dukungan untuk situs ini 😊