menu

Negeri Para Bedebah Bab 23 Sekolah Berasrama

Mode Malam
Bab 23 Sekolah Berasrama
USIAKU masih sepuluh tahun saat mengantar botol susu untuk terakhir kalinya.

Sepedaku menikung masuk ke jalan menuju rumah, bersenandung riang karena seluruh botol susu yang kubawa habis, ditukar dengan botol kosong oleh tetangga yang membeli. Suara botol beradu di kotak belakang sepeda terdengar bergemerencing, membuatku menyeringai. Biasanya Mama akan memberiku uang jajan tambahan. Aku perlu banyak uang untuk membeli bukubuku yang kusuka.

Sayangnya tidak ada lagi uang jajan dari Mama. Persis habis tikungan, mendongak ke depan, bersiap mengayuh pedal sepeda secepat mungkin seperti yang aku biasakan, ngebut, aku menatap bingung kerumunan. Masih enam ratus meter, tapi asap hitam terlihat mengepul tinggi. Sirene mobil pemadam kebakaran dan teriakan orang terdengar nyaring bersahut-sahutan. Dan sebelum sempat aku bergumam ingin tahu, sepedaku sudah disambar oleh seseorang. Aku berseru kaget, hampir terbalik. ”Jangan ke sana, Thomas. Jangan ke sana.”

Dua, tiga, empat orang sudah menarikku masuk ke gang sempit. Wajah-wajah cemas, wajah-wajah takut.

Aku balas menatap mereka, bingung, apa yang telah terjadi? Kenapa aku tidak boleh pulang? Salah satu dari mereka justru menangis, memelukku erat-erat, berbisik, ”Bersabar, Nak. Tuhan sungguh sayang pada orang yang sabar.”

Sejak hari itu, bagai kapal berputar haluan, kehidupanku berubah seratus delapan puluh derajat.

Terlepas dari ambisi besar Om Liem dan Papa Edward, caracara mereka berbisnis yang sering kali tegas dan keras, seluruh tetangga menyayangi keluarga besar kami, terutama Mama. Bagi kebanyakan keluarga yang tinggal di dekat rumah sekaligus gudang tepung terigu kami, Mama adalah segalanya. Mama memberi mereka pekerjaan, membantu anak-anak sekolah, mengirimkan dokter jika ada yang sakit, memberikan bingkisan setiap hari besar, dan tidak terhitung botol susu serta makanan yang kubagikan.

Merekalah yang mati-matian menahanku sampai malam. Ketika halaman rumah kami benar-benar sepi dari orang. Karena aku terus berteriak, mendesak, bertanya apa yang telah terjadi, dini hari, beberapa tetangga dengan membawa senjata, berjagajaga, mengantarku ke sana. Aku hanya bisa jatuh terduduk, menatap gentar puing hitam yang ditimpa cahaya sepotong bulan. Satu-dua bara masih menyala, terlihat merah, terdengar bergemeletuk pelan. Aku membeku.

Aku sungguh tidak menangis, tidak berteriak, hanya menatap kosong sisa rumah dan gudang. Kejam sekali kehidupan. Kejam sekali orang-orang itu. Persis saat matahari pagi menerpa kota, setelah tetangga ber-

embuk satu sama lain—memastikan Papa dan Mama seratus persen telah meninggal, ikut terbakar, kabar Opa dan Tante yang berhasil lari tetapi tidak diketahui ke mana, berusaha menghubungi Om Liem yang juga tidak jelas di mana, apakah masih di pelabuhan, atau entahlah—mereka akhirnya memutuskan mengirimku pergi ke kota lain. Ada kenalan yang menjadi pengajar di sekolah untuk anak-anak yatim-piatu. Itu pilihan yang paling aman, karena banyak petugas, dan orang-orang tidak dikenal masih berusaha mencari anggota keluarga kami yang tersisa. Wajah-wajah sangar dan penasaran.

Aku diberikan bekal sekotak roti, tas ransel berisi pakaian, hasil patungan tetangga.

Satu-dua ibu-ibu tetangga memelukku, menangis, berbisik tentang esok lusa semua akan kembali baik, esok lusa semua akan pulih, janji-janji masa depan. Aku mengangguk datar, bilang, ”Saya akan baik-baik saja, Ibu.” Dan mereka tambah keras menangis. Aku diantar ke stasiun kereta, membawa selembar tiket, duduk rapi, menatap rumah-rumah, bangunan, dan pohonpohon berbaris seiring roda baja kereta berderak berangkat.

Satu hari sejak kejadian, aku resmi tinggal di sekolah berasrama.

Meninggalkan jasad Papa dan Mama yang menjadi abu. Pengajar sekolah berasrama menghapus riwayat hidupku. Ti-

dak ada lagi nama keluarga di namaku. Hanya satu kata Thomas, isian berikutnya hanya: anak yang ditemukan di jalanan, tidak diketahui bapak-ibunya.

Mulailah kehidupan baruku. Makan dijatah, tidur di ranjang tingkat, berbagi kamar dengan belasan anak lain. Kabar baiknya, sekolah berasrama itu hebat, aku punya teman senasib.

Enam bulan kemudian aku membaca kabar bahwa Om Liem dipenjarakan. Beritanya ada di koran, nyempil di halaman dalam, tidak mencolok. Satu tahun berlalu, aku tetap tidak tahu kabar Opa dan Tante.

Usiaku dua belas, barulah aku tahu kabar mereka.

Waktu itu aku baru saja selesai ujian akhir. Guru pengawas bilang ada seseorang yang ingin bertemu, mendesak, mengizinkanku meninggalkan kelas sebentar. Aku berjalan ragu-ragu menuju ruangan kepala sekolah. Dua tahun terakhir, aku selalu cemas bertemu dengan orang asing. Jangan-jangan mereka orang jahat yang dulu membakar rumah kami.

Pintu ruangan kepala sekolah dibuka, Tante berdiri dengan mata berkaca-kaca. Aku tertegun. Tante sudah loncat, memelukku erat-erat, menangis. Tante bilang, dia, Opa, bibi, semua yang berhasil lari pindah ke Jakarta. Dengan uang tabungan milik Opa, dibantu karyawan gudang yang masih setia, mereka mengontrak rumah dan memulai bisnis baru. Tante menceritakan banyak hal, membuatku terdiam lima belas menit kemudian.

Tetapi aku menggeleng saat Tante mengajakku pulang.

Inilah keluarga baruku sekarang. Sekolah berasrama. Aku akan menamatkan sekolah di sini. Melupakan banyak hal. Lebih dari tiga kali seminggu kemudian, Tante bolak-balik ke sekolah, membujukku. Di kunjungan ketiga, dia datang bersama Opa, bibi, semua orang-orang yang kukenal, berusaha membujuk.

Jawabanku tetap tidak.

Opa tersenyum, mengacak rambutku yang tidak pernah kupotong sejak kejadian rumah kami dibakar. ”Kalau begitu, sekalidua kali berkunjunglah melihat kami, Tommi. Opa akan senang sekali jika kau melakukannya.”

Aku mengangguk mantap. Hanya Tante yang terus keberatan. Dia masih terus mengunjungi setiap bulan, membawa pakaian, makanan, apa saja yang membuatku nyaman tinggal di asrama. Bagiku, dia menjadi pengganti Mama yang baik.

Di penghujung tahun ketiga, libur panjang, dengan membawa ransel aku pergi ke rumah Opa. Itu kunjungan pertama. Bukan rumah yang di Jakarta, tapi yang di Waduk Jatiluhur.

”Kau benar-benar berubah, Tommi.” Opa memelukku, amat riang dengan kedatanganku. ”Maksud Opa, lihatlah, kau ternyata telah memotong rambut. Opa pikir kau akan terus membiarkan rambutmu tumbuh berantakan sejak kejadian itu.”

Aku tersenyum, menatap wajah Opa yang semakin tua.

Sepanjang hari dia mengajakku melakukan apa saja. Belajar menyetir mobil—aku membuat mobilnya menggelinding masuk ke dalam waduk—belajar mengemudi speedboat, duduk mencangkung di atas kapal nelayan, memancing, atau duduk meluruskan kaki di belakang rumah sambil memainkan klarinet. Tertawa, bergurau, dan tentu saja kebiasaan buruk Opa, menceritakan masa mudanya, persis seperti kaset rusak. Membahas bisnis baru Opa yang maju pesat—sebenarnya dia jauh lebih pandai berbisnis dibanding memainkan alat musik. 

Saat ulang tahunku yang kedelapan belas, Opa menghadiahkan mobil balap itu. Aku tidak datang, bilang sedang ujian akhir. Alasan sebenarnya adalah: Om Liem sudah keluar dari penjara, bergabung kembali dengan keluarga. Aku tidak mau bertemu dengannya. Aku hanya berkunjung ke rumah peristirahatan Opa jika Om Liem tidak ada di sana. Usia dua puluh dua, satu minggu sebelum keberangkatanku kuliah di sekolah bisnis, Opa memintaku menemaninya pergi ke Pelabuhan Sunda Kelapa.

”Ini kapalmu, Tommi.” Opa terkekeh saat melihatku bingung.

Aku menoleh, bolak-balik, ke wajah Opa dan ke kapal besar yang merapat anggun di dermaga.

”Kau boleh memberinya nama apa saja, Tommi.”

Aku menelan ludah. ”Opa tidak sedang bergurau, bukan?” Opa tertawa lagi.

Opa selalu baik padaku. Meski Papa dulu berkali-kali memaksakan pemahaman bahwa tidak ada hadiah untuk Tommi kalau dia tidak bekerja keras di rumah, Opa selalu memberiku hadiah spesial, amat dermawan.

”Berapa usiamu sekarang? Dua puluh dua, bukan? Waktu Opa seusiamu sekarang, Tommi, Opa persis berada di perahu kayu yang sempit, terombang-ambing melintasi lautan bersama belasan pengungsi, berusaha mencari negeri yang lebih baik.”

Aku mengangguk. Opa sepertinya kembali bercerita tentang masa lalunya.

”Lihatlah, kau jauh bernasib baik, anakku. Kau tumbuh menjadi anak muda yang pintar, gagah, penuh kesempatan. Apa nama sekolah bisnismu itu? Astaga, Opa dengar, hanya orangorang paling pintar di dunia yang bisa sekolah di sana.”

Aku tertawa pelan, tidak menanggapi gurauan Opa, konsentrasi mengemudi kapal.

”Waktu itu,” suara Opa terdengar pelan, sedikit bergetar, ”Opa tidak takut mati, Tommi.”

Aku menoleh, sepertinya ada yang berbeda dengan cerita Opa kali ini. ”Apa pula yang harus ditakutkan anak muda yatim-piatu, miskin, mengungsi dari perang saudara dan kemiskinan di daratan Cina seperti Opa? Mati boleh jadi pilihan terbaik. Semua orang di dalam perahu nelayan itu juga tidak takut mati. Kami senasib sepenanggungan. Berjudi dengan masa depan.”

Opa diam sejenak, menatap bintang-gemintang. Kapal yang kukemudikan maju perlahan, membelah ombak, terus menuju perairan Kepulauan Seribu.

”Badai, perahu kayu bocor, melintasi kapal perang Belanda, ditembaki, kehabisan bekal dan air minum, semua biasa saja. Itu makanan sehari-hari. Rasa-rasanya tidak ada cerita seram tentang lautan yang membuat kami gentar. Hingga suatu hari, salah satu nelayan yang membantu kami mengungsi bercerita. Itu sungguh sebuah cerita yang membuat bulu kuduk merinding.”

Aku menoleh pada Opa, membiarkan kemudi terlupakan beberapa detik.

”Opa bahkan masih merinding saat mengingatnya, Tommi.” Opa mengusap wajahnya.

Di luar kelaziman, aku kali ini benar-benar menunggu kalimat berikut Opa, persis seperti pencinta cerita bersambung di korankoran yang tidak sabaran.

Sial! Opa ternyata hanya terkekeh, melambaikan tangan, kembali dengan takzimnya menatap gelap yang menyelimuti lautan. 
Bagikan Novel ini Sebegai bentuk dukungan untuk situs ini 😊