menu

Negeri Para Bedebah Bab 21 Kecil Sekali Keluarga Kami

Mode Malam
Bab 21 Kecil Sekali Keluarga Kami
LIMA menit kemudian, jarakku sudah cukup jauh dari markas polisi dan bangunan penjara sialan itu.

Motor yang kukemudikan menepi, aku bergegas menghubungi telepon satelit Kadek, tidak sabaran menunggu nada sambung. Lima kali, tujuh kali, sampai habis, tetap tidak diangkat. Aku menelan ludah. Sekali lagi mengulanginya. Tetap tidak diangkat. Astaga. Gumam cemasku mengambang di langit gelap.

Baiklah, aku loncat ke atas motor, rahangku mengeras, memacu motor secepat yang aku bisa, melesat menuju dermaga modern dekat Sunda Kelapa. Pukul tiga dini hari, jalanan lengang, menyisakan orang-orang yang pulang dari kafe, diskotek, dan tempat hiburan lainnya, selang-seling dengan mobil pickup dan gerobak sayur-mayur yang memenuhi pasar-pasar tradisional, luber hingga ke jalan.

Aku tidak memedulikan kontras yang kulewati. Konsentrasiku ada di tangan, mata, dan kaki.

Dua puluh menit, dengan kecepatan tinggi motorku melintasi gerbang dermaga. Dua petugasnya yang selalu disiplin berjaga, bergegas berdiri, hendak memeriksa, urung setelah melihat wajahku. Mereka melambaikan tangan, membiarkanku lewat.

Aku tidak menghentikan kecepatan melintasi pelataran dermaga yang licin. Belasan kapal pesiar kecil tertambat, bergoyang anggun. Lampu di sepanjang dermaga menerangi dinding luar dan tiang-tiang kapal. Sisanya lengang, hanya debur ombak memukul dermaga. Angin bertiup pelan, bulan sabit menghias langit. Pasifik tertambat paling ujung. Mataku segera membesar melihat kapal itu. Aku berhenti persis di buritan, loncat dari motor, dengan cepat naik ke atas kapal.

”Pak Thom.” Kadek yang lebih dulu menyapaku.

Aku sedikit tersengal, menatap ruang tengah kapal tempat biasa berkumpul. Ada Om Liem, tidur di salah satu sofa, selimutnya berantakan.

”Di mana Opa?” aku menyergah.

”Easy, Pak Thom, Opa di kamar. Opa baik-baik saja, sedang beristirahat. Mungkin dia sedang bermimpi indah naik kapal, mengungsi dari negeri Cina puluhan tahun silam.” Kadek menyengir.

Aku mengembuskan napas lega, mengabaikan gurauan Kadek. Astaga, ini kabar terbaik yang kudengar seminggu terakhir, mengalahkan apa pun. Aku menunduk, masih berusaha mengendalikan napas.

”Selepas menelepon Pak Thom, saya memutuskan untuk segera mencari bantuan.” Kadek berbaik hati menjelaskan dan mengambilkan teko air dari kulkas. ”Daripada harus ke dermaga yang masih sembilan kilometer, butuh waktu lima belas menit, saya memilih merapat ke salah satu kapal besar yang sedang melintas di perairan Kepulauan Seribu, menekan sirene kapal, menyalakan lampu darurat, meminta perhatian mereka. Setiap kapal besar pastilah membawa obat-obatan.”

Kadek menuangkan air ke dalam gelas. ”Tebakan saya benar, Pak Thom. Bukan hanya insulin, bahkan di atas kapal itu juga ada dokter yang bertugas. Opa segera mendapat pertolongan.”

Aku menerima gelas air segar dari Kadek, menghabiskannya sekaligus, ikut menyengir lega. ”Kau memang selalu bisa diandalkan, Kadek.”

Kadek tertawa kecil. ”Bukankah Pak Thom sendiri yang berpesan, saya jangan panik, saya tetap terkendali, saya selalu berpikir jernih. Nah, saya mendapat pencerahan dari pesan itu. Pak Thom-lah yang secara tidak langsung menyelamatkan Opa.”

Aku menepuk-nepuk bahu Kadek, menatapnya penuh respek.

”Setelah memberikan pertolongan, dokter kapal itu menyarankan agar kami kembali ke darat segera, Opa butuh istirahat. Setelah saya timbang-timbang, benar juga, itu jauh lebih penting dibanding terus mengambang di laut, menghindar dari kejaran orang seperti perintah Pak Thom sebelumnya. Semoga Pak Thom tidak marah melihat kapal ini merapat di dermaga. Dari tadi saya menelepon nomor Pak Thom untuk memberitahukan, sekaligus khawatir Pak Thom menunggu terlalu lama di dermaga dengan alat suntik insulin, tapi tidak ada nada sambung. Telepon genggam Pak Thom mati? Kehabisan baterai?”

”Telepon genggamku diambil orang, Kadek. Diambil maling besar,” aku menjawab sekenanya. ”Tentu saja aku tidak keberatan kau kembali merapat, kau selalu mengambil keputusan yang benar.” Kadek menatapku riang.

”Omong-omong, kapal besar apa yang memberikan pertolongan? Kapal pesiar Star Cruises?” Aku mengambil teko air di atas mini bar.

Kadek menggeleng, menyeringai. ”Bukan, Pak Thom.”

”Kapal kontainer? Atau tanker minyak raksasa?” Aku menebak lagi, sambil mengisi gelas kosong. Itu pastilah kapal besar yang penting hingga punya dokter sendiri.

”Bukan, Pak Thom. Kapal armada tempur angkatan laut. Mereka sedang persiapan latihan perang dua-tiga hari ke depan di Laut Cina Selatan. Dokter militer yang membantu Opa.”

Astaga, aku hampir tersedak.

Kadek menyengir. ”Easy, Pak Thom, mereka tidak tahu siapa Opa. Saya karang-karang saja bahwa Opa warga negara Singapura yang sedang melaut dan tiba-tiba jatuh sakit. Om Liem membantu dengan menceracau berbahasa Cina. Mereka tidak banyak tanya lagi. Tidak ada yang bisa berbahasa Cina. Hanya dokternya yang pandai berbahasa Inggris.”

Aku meletakkan gelas, menggeleng perlahan. Entahlah, hendak tertawa atau menepuk dahi. Kadek ternyata jauh lebih lihai dibanding yang kuduga—atau boleh jadi dia sama seperti Maggie, bertahun-tahun bekerja denganku, jadi ketularan akal bulusku.

Ruangan tengah kapal lengang sejenak.

”Kau sudah kembali, Tommi?” Om Liem menyapa. Dia menggeliat di sofa. Selimutnya terjatuh. Dia sepertinya terbangun karena percakapan kami.

Aku menoleh. ”Kau sudah bangun?” Om Liem mengangguk. ”Kenapa kau tidak tidur di kamar, hah? Bukankah Kadek sudah menyiapkan kamar?”

”Om Liem tidak mau, Pak Thom. Sejak tadi dia dudukduduk saja di ruang tengah, hingga ketiduran,” Kadek yang menjawab lebih dulu.

”Sama saja, Tommi. Di kamar aku tidak bisa tidur nyenyak, ada banyak yang melintas di kepala orang tua ini. Lebih baik duduk di sini, di ruangan yang luas,” Om Liem menjawab pelan. ”Dari mana saja kau? Terlihat kusut sekali? Seperti habis dipukuli banyak orang?”

”Jangan tanya. Setengah jam lalu aku baru kabur dari penjara. Masih beruntung aku tidak memakai seragam tahanan,” aku menjawab sekenanya.

Om Liem menatapku sejenak, lantas tertawa pelan. ”Orang tua ini sepertinya lebih menyukaimu waktu kecil, Tommi. Dulu kau selalu pandai melucu dan menyenangkan orang tua.”

Aku tidak menjawab, sudah melangkah menuju kamar, hendak melihat Opa.

”Oh iya, tadi ada kabar dari Ram, dia bilang Tante baik-baik saja, sudah boleh pulang ke rumah. Mungkin berita ini bisa mengurangi sedikit dari banyak urusan yang melintas di kepalamu.” Aku sempat menoleh pada Om Liem, sebelum mendorong pintu kamar.

Om Liem diam sejenak, mencerna kalimatku, lantas mengangguk. ”Terima kasih untuk kabarnya, Tommi. Sungguh terima kasih. Ini bahkan bisa mengurangi separuh kecemasanku sepanjang hari.”

Aku tertegun sejenak. Seperti bisa menatap wajah Papa dari wajah Om Liem yang sedang terharu mendengar kabar tentang Tante. Wajah seorang ayah yang selalu menyayangi anak-anaknya—terlepas dari seberapa jahat dia pada dunia. Wajah orang yang selalu kurindukan sejak usia enam tahun.

Om Liem menyeka ujung matanya. Aku bergegas menutup pintu kamar.

***

Aku tetap berada di kapal hingga pukul lima pagi.

Aku menelepon Maggie, memastikan dia baik-baik saja. ”Aku sedang dalam perjalanan menuju kantor, Thom. Jangan tanya aku pulang jam berapa tadi malam. Hei, kau pakai nomor telepon baru? Hampir saja tidak kuangkat, curiga ada polisi atau malah agen FBI mencariku,” dia mengomel.

Aku mengangguk, tidak berkomentar apalagi bertanya. Yang paling penting Maggie tidak telanjur menghubungi telepon genggamku yang dikuasai dua orang itu. Maggie baik-baik saja. ”Kau bisa mencari kontak ke beberapa orang, Mag? Juga beberapa dokumen tambahan yang kuperlukan.” Aku mulai merinci

apa yang harus dia kerjakan.

”Astaga, Thom, aku sedang mengemudi. Tidak bisakah kau mengirimkan e-mail? Dan asal kau tahu, aku terpaksa memutar jalan, lewat belakang gedung. Jalan protokol ditutup, car free day. Alangkah banyak sepeda melintas di hadapanku, dengan wajahwajah riang, berlibur, berolahraga, berkeringat,” Maggie menyahut sebal.

Aku lagi-lagi mengangguk, tidak berkomentar.

”Baik. Akan segera kukirim e-mail, Mag. Terima kasih banyak.” Aku menutup percakapan. Semburat merah muncul di kaki langit timur. Matahari terbit. Aku duduk sendirian di geladak depan kapal. Kadek berbaik hati menyediakan segelas kopi panas beserta peralatan kerja yang selalu tersimpan di kapal. Lima menit aku menulis e-mail untuk Maggie, mengklik tombol send.

Masih terlalu pagi. Tetapi beberapa kapal beranjak keluar dari dermaga, penumpangnya melambai. Hari Minggu, ada banyak pemilik kapal yang memutuskan berlayar, meski jarak pendek. Mereka membawa peralatan mancing atau sekadar bekal makan siang, lantas menuju salah satu pulau. Itu sudah lebih dari menyenangkan. Maggie benar, wajah-wajah riang, berlibur, berolahraga, dan berkeringat.

Aku meraih telepon genggam, teringat sesuatu, menelepon Julia.

Suara Julia terdengar serak, dia sepertinya terbangun oleh teleponku.

”Kau tidur jam berapa semalam?” aku basa-basi bertanya.

Julia tertawa kecil, menguap. ”Kau tahu, Thom, terakhir kali pertanyaan ini kudengar, itu berasal dari pacarku dua tahun lalu. Sebulan setelah itu, kami berpisah.”

Aku ikut tertawa, menatap permukaan laut yang beriak pelan, mengilat oleh cahaya matahari pagi, melanjutkan basa-basi percakapan. ”Apa yang terjadi? Dia selingkuh?”

”Tidak, dia tipikal lelaki yang setia. Aku yang bosan, karena setelah itu dia seperti mendapat inspirasi gila, memutuskan setiap pagi meneleponku, bertanya, ’Kau tidur jam berapa semalam, honey? Apakah tidurmu nyenyak, honey? Mimpi indah?’ Merusak hidupku dengan menjadi jam beker.”

Kami berdua tertawa. ”Kau sudah mendapatkan jadwal audiensi dengan menteri, Julia?” Aku memotong tawa.

Julia terdengar menggeliat, menggerutu. ”Tentu saja.” ”Jam berapa?”

”Astaga, Thom, maksudku, tentu saja kau tidak seperti pacarku itu. Aku tahu kau meneleponku hanya untuk memastikan jadwal yang kauminta, tidak lebih, tidak kurang. Sejak dari London aku sudah tahu, kau jelas bukan lelaki yang romantis. Kalaupun ada jejak romantisme dalam potongan yang amat kecil di kepalamu, segera kau membuangnya jauh-jauh.”

”Fokus, Julia. Jam berapa?” aku memotong kalimatnya. ”Pukul sebelas nanti siang, Sir. Di kantornya. Puas?” Julia

berseru.

Aku tertawa. ”Terima kasih, Julia. Dan satu lagi sebelum telepon ini kututup, kau jelas keliru. Bukankah kubilang di atas pesawat penerbangan dari London, jika kau tertarik tentangku, kita bisa diskusikan hal itu di lain kesempatan. Mungkin sambil makan malam yang nyaman.”

Julia mengeluarkan suara puh pelan.

Aku masih tertawa sambil mengucap salam, memutus percakapan.

Aku melirik jam di layar laptop. Sekarang hampir pukul enam pagi, masih lima jam lagi sebelum pertemuan penting itu. Aku kembali menulis e-mail untuk Maggie, teringat bahwa semua data paling mutakhir tentang Bank Semesta tertinggal di rumah peristirahatan Opa, meminta Maggie menyiapkan beberapa salinan di kantor. Aku membutuhkannya.

Waktuku semakin sempit, hanya 26 jam lagi sebelum Senin pukul 08.00 besok pagi. Selain pertemuan dengan ketua komite stabilitas sistem keuangan, ada satu bidak superpenting yang harus kuamankan.

Aku menyisir rambut dengan jemari. Sebelum sore berganti malam, sebelum rapat komite memutuskan, aku harus sudah memastikan bidak superpenting ini bisa mengintervensi di detik terakhir.

”Kau mau bergabung sarapan dengan kami, Tommi?”

Aku menoleh. Opa dengan tongkat di ketiak berdiri di pintu menuju geladak, tersenyum.

”Kadek membuat nasi goreng spesial, Tommi. Kau pasti suka. Semakin lama, kupikir masakan Kadek sama lezatnya dengan masakan mamamu dulu.”

Aku balas tersenyum, mengangguk, menutup laptop, bangkit dari kursi.

Apa salahnya sarapan sebentar bersama Opa? Setelah kejadian tadi malam, rasa cemas Opa tidak tertolong. Apa salahnya aku menghabiskan waktu setengah jam untuknya? Besok lusa kita tidak pernah tahu apa yang akan terjadi. Entah apakah Bank Semesta dan grup bisnis Om Liem hancur lebur, entah apakah pemerintah memutuskan memberikan dana talangan dan Om Liem terpaksa menyerahkan sebagian besar bahkan seluruh sahamnya, setidaknya pagi ini aku punya waktu berharga bersama orang-orang yang juga amat berharga. Sejak Papa dan Mama hangus terbakar bersama rumah kami puluhan tahun silam, hanya Opa dan Tante yang kumiliki.

Kecil sekali keluarga kami. Itu pun tetap kecil meski sudah menghitung Om Liem.

Aku membantu Opa melangkah menuju dapur, dan segera aroma masakan Kadek tercium lezat. 
Bagikan Novel ini Sebegai bentuk dukungan untuk situs ini 😊