menu

Negeri Para Bedebah Bab 20 Terali Besi Penjara

Mode Malam
Bab 20 Terali Besi Penjara
MINGGU, pukul dua dini hari. Waktuku tinggal 30 jam lagi sebelum pukul 08.00 hari Senin besok, ketika hari pertama Bank Semesta buka di tengah berbagai kemungkinan yang terjadi: bank itu ditutup, rush besar-besaran terjadi, antrean panjang di setiap cabang, nasabah yang panik, dan boleh jadi ditambah dengan kepanikan nasabah bank lain. Atau kemungkinan kedua, bank itu diselamatkan, pemerintah memberikan dana talangan, memberikan jaminan bahwa seluruh uang nasabah aman.

Borgolku dilepas. Salah satu polisi bersenjata mendorongku dengan telapak sepatunya, membuatku hampir terjerembap ke dalam sel. Mereka menyeringai puas melihatku, tertawa pelan. Sipir mengunci pintu sel. Lima belas detik kemudian dia balik kanan bersama rombongan itu, meninggalkanku sendirian yang masih kebas dengan banyak hal.

Aku bergumam kosong, mengusap rambut yang berantakan, menatap sekitar ruangan. Sel penjara ini tidak dingin dan lembap seharfiah dalam cerita-cerita atau film. Lampu terang tergantung di langit-langit sel berukuran 2 x 3 meter. Udara terasa pengap, gerah. Aku sudah melepas jas, menggulung lengan kemeja sembarangan, melempar sepatu. Satu jam lalu mobil taktis merapat ke salah satu markas polisi. Mereka menyuruhku turun, lantas mendorongku kasar memasuki gerbang tahanan. Sipir bertanya, petugas bersenjata menyuruhnya jangan banyak tanya, siapkan sel yang kosong. Sipir mengangguk, bergegas melihat daftar selnya yang kosong, mengambil kunci, lantas memimpin rombongan melewati lorong. Sudah lewat tengah malam, penghuni sel lain kebanyakan sudah tidur. Lengang, hanya menyisakan derap sepatu yang memantul di lorong penjara.

Aku menghela napas untuk kesekian kali.

Kabar baiknya, tidak banyak nyamuk di penjara ini. Mereka juga punya toilet di dalam sel, bersih, tidak bau. Tempat tidur hotel prodeo ini lumayan. Jangan bandingkan dengan kasur busa king size hotel sungguhan, tapi tetap lebih baik dibanding kamar ranjang berasramaku dulu yang dua tingkat, selalu kriut-kriut batang besinya jika penghuni atasnya gelisah dan mengigau.

Aku menghela napas lagi.

Entah apa yang dilakukan Kadek tiga jam lalu saat tiba di dermaga, dan aku tidak ada di sana, juga tidak ada dokter dengan suntikan insulin. Dia seharusnya bisa bertindak cepat dan tenang. Ada banyak cara menyelamatkan Opa. Entah pula apa yang terjadi di pertemuan nasabah besar Bank Semesta pukul sebelas tadi. Seharusnya Ram bisa mengatasinya setelah aku tidak kunjung datang. Maggie, aku mengusap wajah lagi, semoga dia tidak menghubungi telepon genggamku empat jam terakhir. Celaka benar urusan kalau dua bedebah yang menyita telepon genggamku menyadari Maggie menyimpan banyak data tersisa. Dan Julia, apakah dia berhasil meminta jadwal audiensi dengan menteri? Aku sungguh melibatkan banyak orang dalam pelarian ini.

Aku mengembuskan napas kencang. Cukup. Cukup sudah mengenang banyak hal. Memikirkan banyak kemungkinan. Percuma, jangankan mengurus bidak yang paling penting, satu bidak menteri yang ini saja tidak bisa. Andaikata Julia berhasil, aku tetap tidak bisa bernegosiasi dengan ketua komite stabilitas sistem keuangan. Jeruji sel sialan ini tidak bisa kuremukkan dengan mudah.

Aku berdiri, menyeka telapak tangan dengan ujung kemeja, menyisir rambut dengan jemari, melemaskan seluruh tubuh. Tidak akan ada yang bisa menolongku. Saatnya membuat keajaiban sendiri untuk lolos dari penjara sialan ini. Dua jam berlalu, pasukan yang menangkapku pasti sudah pergi jauh, mereka tidak akan ikut berjaga di gedung penjara. Dua bedebah itu boleh jadi sudah tidur lelap di ranjang empuk masing-masing, dengan mimpi indah tentang menguasai aset Om Liem.

Urusanku hanya dengan petugas penjara yang berjaga malam ini.

”Hei!” Aku memukul-mukul jeruji besi.

”Hei!” Aku pukul lebih kencang lagi, membuat dentingannya terdengar hingga meja sipir di depan sana.

Satu-dua tetangga selku yang terganggu mengomel, balas berteriak, menyuruh diam.

”HEI!” Aku tidak peduli.

Suara derap sepatu terdengar, dua petugas jaga melangkah cepat menuju selku.

Aku menelan ludah, bersiap. Mereka tinggal lima langkah. ”Apa yang kauinginkan?” Salah satu dari sipir menyergah galak, ujung pentungannya mengarah padaku.

”Aku ingin keluar dari sel ini,” aku menjawab santai.

Dua sipir itu melangkah lebih dekat, mata mereka melotot mengancam.

”Aku akan membayarnya mahal sekali, Bos.” Aku balas menatap, menyeringai

Dua sipir itu saling toleh, gerakan mereka yang hendak memukul jeruji sel tertahan. Salah satu dari mereka bahkan memasukkan pentungan ke pinggang.

”Kami tidak bisa disuap.” Intonasi kalimatnya justru sebaliknya.

”Oh ya? Bagaimana kalau dua? Cukup?” Aku tidak peduli, tersenyum.

”Dua puluh?” Rekannya menggeleng, tertawa sinis. ”Bahkan dua ratus tetap tidak.”

Aku balas tertawa. ”Dua M, Bos. Kau terlalu menganggapku rendah. Jangan bandingkan aku dengan pegawai pajak yang kalian tahan dan cukup ratusan juta saja untuk membiarkan dia pergi pelesir, atau orang-orang tua pesakitan yang post power syndrom setelah tidak berkuasa lagi, dikejar-kejar penyidik komisi pemberantasan korupsi, hanya puluhan juta sudah kalian biarkan berobat ke manalah. Dua M, Bos. Tertarik?”

Inilah yang akan kulakukan. Ajaib? Tentu saja. Hanya di tempat-tempat ajaiblah hal ini bisa terjadi.

Sepuluh menit negosiasi.

”Ini tidak mudah.” Komandan jaga ikut bernegosiasi di pos jaga. Aku sudah ”digelandang” ke sana, biar lebih nyaman bicara—mereka bahkan menawarkan minuman hangat. ”Mudah saja, Bos,” aku berkomentar santai, bersandar nyaman di sofa. ”Namaku bahkan tidak ada dalam daftar kalian, bukan? Hanya tahanan yang dititipkan mendadak. Kalian bisa mengarang, aku kabur, lihai sekali memukuli petugas. Bos besar kalian paling juga hanya marah, dan kalian paling hanya dipindahtugaskan menjadi juru masak, tidak akan dipecat, apalagi dipenjara. Tapi demi dua M, itu risiko yang berharga, bukan?”

Mereka berlima berbisik-bisik.

”Bagaimana kau akan membayarnya?” Komandan menyelidik.

”Baik. Ada yang punya telepon genggam? Aku transfer satu M sekarang, sisanya aku transfer setelah aku berada di luar gedung penjara kalian. Setuju?” Aku bersedekap.

Lima menit, dengan telepon genggam pinjaman dari komandan sipir, aku menelepon call center 24 jam, melakukan transfer ke rekening milik komandan.

”Selesai. Nah, kalau kau tidak percaya, kau telepon istrimu sekarang, suruh dia pergi ke ATM. Dia boleh jadi pingsan melihat saldo rekening yang ada di layar ATM.”

Dasar bodoh, mereka sungguhan melakukan saranku. Aku terpaksa menunggu setengah jam, sementara istrinya, yang pastilah masih memakai daster, mata belekan, terbirit-birit menghidupkan motor yang masih kredit belum lunas, pergi ke ATM terdekat.

Komandan jaga menelan ludah, mendengar laporan istrinya di seberang sana, lalu mematikan telepon genggam, mengangguk padaku. ”Bagaimana dengan sisanya?”

”Tentu saja, satu M lagi aku transfer setelah aku bebas, Bos.” Mereka berbisik-bisik, melirik licik. ”Tidak. Kalian tidak boleh bermain-main denganku.” Aku menatap mereka tajam. ”Jika aku tidak menelepon lagi petugas bank lima belas menit ke depan, dana yang barusan kutransfer akan batal dengan sendirinya, itu transfer bersyarat, kembali ke rekening semula tanpa otorisasi lanjutan. Sekarang terserah kalian saja. Hilang semuanya, atau kutambahkan satu M lagi setelah aku di luar gedung.”

Komandan sipir diam sejenak, berbisik-bisik. Aku menunggu, menyeringai.

Komandan sipir mengangguk.

Bukan main! Aku sudah setengah bebas. Aku tersenyum tipis, lalu berdiri.

”Boleh kuminta telepon genggammu, Bos?” Aku menunjuk, sebelum beranjak keluar.

Komandan menatapku, hendak menggeleng.

”Ayolah, untuk orang yang sudah mengantongi satu M, kau bisa membeli ratusan telepon genggam seperti ini, bukan?” Aku tertawa. Sebenarnya aku butuh telepon untuk segera menghubungi Kadek, Maggie, dan yang lain.

Komandan mengangguk. ”Antar dia hingga keluar gedung.

Pastikan dia mentransfer sisanya.”

”Terima kasih, Bos. Kapan-kapan aku akan berkunjung lagi, menyapa.”

Dua sipir mengantarku hingga halaman gedung penjara. Salah satu dari mereka bahkan berbaik hati memberikan motornya setelah aku memberinya jam tangan milikku. ”Kau jual, kau bisa membeli dua motor baru.” Dia mengangguk senang. Aku kembali menelepon call center 24 jam. Memberikan perintah pada petugas bank, transaksi beres. Aku memasukkan telepon ke dalam saku, menaiki motor, mengangguk pada dua sipir yang mengantar untuk terakhir kalinya, lantas melesat meninggalkan bangunan penjara.

Hanya itu. Itulah keajaibannya.

Motor yang kukemudikan membelah jalanan lengang, secepat mungkin meninggalkan markas polisi. Dasar bodoh, jika kalian pemilik rekening eksklusif di bank besar, kalian selalu punya cara untuk membatalkan transaksi. Ini lelucon yang baik. Apakah aku orang yang suka mengkhianati janji? Seumur hidupku tidak pernah. Aku adalah petarung, janji seorang petarung. Tetapi kali ini, akan aku batalkan sebagian besar transfer tadi, hanya menyisakan dua R saja, 2 RIBU perak.

Petinggi kejaksaan tadi benar, ternyata menyenangkan melakukannya. 
Bagikan Novel ini Sebegai bentuk dukungan untuk situs ini 😊