menu

Negeri Para Bedebah Bab 19 Rendezvous Pertama

Mode Malam
Bab 19 Rendezvous Pertama
”SIAPA kau sebenarnya, Thomas?”

”Aku... aku konsultan keuangan profesional.” ”Jawaban yang keliru lagi, Thomas.”

Alat setrum itu kembali menghunjam perutku. Aku menggelinjang, tubuhku gemetar menahan sakit.

”Ayolah, Thomas. Kenapa kau tidak membuat percakapan kita jadi lebih mudah?” Orang yang duduk di hadapanku itu menatap dingin, intonasinya datar terkendali.

Sementara di luar, rombongan mobil polisi berjalan tersendat, keluar pintu tol bandara jalanan macet—sirene galak mereka tidak membantu banyak.

Aku menggerung, kepalaku tertunduk, napas menderu. ”Siapa kau sebenarnya, Thomas?” dia bertanya lagi. ”Aku, aku konsultan profesional.”

”Jawaban yang keliru, Thomas.”

Untuk ketiga kalinya alat setrum itu menusuk perutku tanpa bisa kucegah. Bagaimana aku bisa melawan? Dua tanganku terborgol di belakang punggung. Percikan nyala apinya seperti petir kecil yang menyambar tubuh. Rahangku mengeras, gigiku bergemeletuk menahan sakit. Aku bertahan mati-matian tidak berteriak. Satu, karena teriakan hanya akan mengundang rasa jemawa dan kesenangan pada mereka; dua, sia-sia juga berteriak di tengah suara sirene yang memekakkan telinga. Kalaupun ada yang mendengar di luar sana, siapa pula yang akan peduli.

”Jangan main-main padaku, Thomas. Siapa kau sebenarnya?” Aku mendongak, menggigit bibir, masih dengan sisa sakit sengatan barusan, menggeleng pelan. ”Aku konsultan keuangan

profesional.”

Tangan orang itu kembali hendak menghunjamkan alat setrumnya.

Mataku terpejam.

”Cukup, Wusdi. Kau akan membuatnya terkapar pingsan dan kita kehilangan kesempatan untuk segera mengetahui posisi Liem,” rekan di sebelahnya menahan. ”Lagi pula, sepertinya dia berkata jujur.”

Aku—antara mendengar dan tidak kalimat itu—masih menggerung menahan sakit. Tetapi aku belum pingsan, aku masih lebih dari sadar untuk paham situasinya.

”Percuma,” aku berkata pelan, dengan suara bergetar.

Dua orang yang duduk di pojok mobil taktis polisi menatapku.

”Percuma kalian memainkan peran polisi baik, polisi buruk, good cop, bad cop.” Aku gemetar, berusaha menegakkan badan dan kepala, berbicara dengan posisi lebih baik. ”Percuma... Jawabanku tetap sama, aku konsultan, konsultan keuangan. Tidak lebih, tidak kurang, aku bekerja profesional.” Aku berusaha mengendalikan napas, berusaha bicara lebih lancar, balas menatap mereka di tengah remang. ”Om Liem, Om Liem membayarku mahal sekali untuk pekerjaan ini beberapa hari lalu. Menyelamatkan Bank Semesta dan grup bisnisnya.”

”Dibayar mahal? Apa maksudmu?” salah satu dari mereka bertanya.

”Dia, dia berjanji akan memberikan sepuluh persen dari jumlah yang bisa kuselamatkan. Tidak hanya dari Bank Semesta dan grup bisnis lokal, tapi juga dari aset Om Liem di luar negeri.” Aku tertawa kecil, diam sejenak. ”Meski hanya sepuluh persen, nilainya triliunan, lebih besar dari yang kalian bayangkan. Harga yang mahal sekali. Sebanding dengan risikonya.”

Dua orang itu saling toleh.

”Kalian tidak tahu itu, bukan?” Aku kembali tertawa kecil. ”Taipan tua itu jauh lebih pintar dibanding siapa pun. Ambil semua kekayaannya, dia masih tetap lebih kaya dibanding yang hilang. Dia menyimpan banyak aset di luar negeri, dan itu di luar daftar pendek yang kalian miliki. Daftar aset yang belum tentu juga puluhan tahun berhasil kalian kuasai.”

”Apa maksudmu?” Rekannya yang tidak memegang alat setrum agak maju ke depan.

Aku menggeram, berusaha mengendalikan diri. Untuk pertama kalinya aku melihat wajah petinggi jaksa ini dari jarak dekat setelah puluhan tahun. Seringai liciknya terlihat jelas.

”Apa maksudku? Aku profesional sejati. Sama dengan kalian. Berapa tahun kalian mengejar Om Liem? Berusaha mengambil alih kekayaannya? Kalian pikir akan berhasil mengambil semuanya setelah Bank Semesta ditutup, asetnya dijual murah?” Aku menggeleng, tersenyum sinis. ”Bebaskan aku, maka aku akan memihak siapa saja yang memberikan bayaran paling tinggi. Om Liem percaya padaku, dia tidak akan curiga sedikit pun jika aku mengkhianatinya.”

”Kau hanya membual.” Orang yang menilik wajahku menyeringai.

”Terserah. Tapi aku punya daftar paling lengkap seluruh aset Om Liem di luar negeri. Daftar yang tidak pernah kalian ketahui, meski mengerahkan polisi atau petugas kejaksaan terbaik sekalipun.”

Mobil taktis polisi lengang sejenak, hanya menyisakan suara sirene yang memekakkan telinga.

Dua orang di hadapanku menimbang sesuatu.

”Aku punya daftarnya. Aku tidak membual,” aku memecah senyap.

Mereka berdua saling toleh lagi.

”Bebaskan aku, maka aku bisa menjadi orang paling berguna buat kalian.”

”Lantas apa untungnya buatmu?” Orang yang memegang setrum menyelidik.

”Kalian bisa memberikan dua puluh persen dari aset Om Liem yang kudapatkan. Aku akan bekerja dan setia pada orang yang membayarku lebih mahal.”

Salah satu dari mereka terkekeh. ”Kau naif, Thomas. Buat apa kami memberimu dua puluh persen jika kami bisa mendapatkannya gratis?”

Aku menggeleng, berkata dengan suara bergetar, ”Tidak, urusan ini tidak sesederhana seperti kalian mengambil akta tanah, surat-menyurat pabrik, gedung dari seseorang, lantas membiarkan mereka terbakar bersama semua bukti-bukti. Aset Om Liem sekarang terdaftar lintas negara, kalian butuh seseorang yang tahu persis caranya.”

Tawa itu tersumpal, menatapku tajam, menyelidik.

Aku pura-pura tidak peduli dengan tatapannya, menganggap kalimatku tadi kosong, bukan menyindir masa lalu. ”Percayalah. Aset luar negeri Om Liem itu nyata. Jika kita bisa sepakat, aku bisa memberikan daftarnya pada kalian saat ini juga.”

”Mana daftarnya?” Orang yang memegang setrum mengangkat alatnya.

Aku menggeleng. ”Kita harus bersepakat lebih dulu.”

”Aku bisa memaksa kau memberikannya.” Percik nyala api hanya lima senti dari wajahku.

”Tidak. Aku tidak akan memberitahu sebelum kalian berjanji. Silakan. Percuma saja kalian siksa aku sampai pingsan atau mati sekalipun. Daftar aset itu akan hilang bersama dengan hilangnya informasi di mana Om Liem saat ini.”

”Omong kosong. Kau akan memberitahu kami.” Tangan orang itu bergerak. Kilat kecil bergemeletuk dari alat di tangannya.

Aku menatapnya jeri, bersiap menerima setrum berikutnya. ”Cukup, Wusdi. Dia benar. Kita tidak sedang berhadapan

dengan penjahat kacangan yang bisa kautakuti dengan cara interogasi kuno.” Rekannya menahan tangan itu.

Rekannya bergumam keberatan, tapi tidak protes.

”Baik. Kami berikan dua puluh persen dari nilai aset luar negeri yang bisa kaudapatkan ditambah bonus kebebasan segera.” Orang itu ramah memegang lenganku. ”Nah, di mana daftar aset dan Liem saat ini, Thomas?”

”Bebaskan aku dulu.”

Orang itu terdiam sejenak, mengangguk. ”Baik. Lepaskan borgolnya!” dia meneriaki salah satu polisi. Salah satu petugas meletakkan senjata, meraih kunci borgol,

membebaskan tanganku.

Aku menarik napas panjang. Tiga petugas lain masih mengarahkan senjata mereka ke tubuhku. Secepat apa pun aku bereaksi, tidak akan bisa mengalahkan kecepatan peluru. Aku hanya bisa mengurut pergelangan tangan yang sakit, kembali menghela napas.

”Nah, mana daftar asetnya, Thomas? Dan di mana Liem sekarang berada?”

Aku menggeleng. ”Soal Om Liem, lebih baik dia sementara dibiarkan bebas. Jika kalian menahannya sekarang, kalian tidak akan leluasa mengambil seluruh aset miliknya. Ada banyak petugas lain yang ikut tertarik, belum lagi puluhan wartawan yang ingin tahu. Terlalu banyak yang curiga. Dia bisa ditangkap kapan saja setelah urusan selesai, mudah saja melakukannya.”

Aku diam sebentar, menatap wajah dua orang di hadapanku.

”Soal daftar aset, ada di telepon genggamku. Salah satu anak buah kalian mengambil telepon itu tadi.”

Orang di hadapanku segera menoleh ke arah empat polisi dengan moncong senapan terarah padaku. Sebelum diperintah, salah satu dari polisi merogoh saku, memberikan telepon genggam itu.

Aku menyeringai, urusan ini benar-benar berubah kapiran sejak setengah jam lalu. Aku ibarat bidak catur yang dikepung benteng dan kuda lawan, tidak ada tempat berkelit selain mengorbankan menteri, senjata terakhir. Aku mengembuskan napas, membuka file spreadsheet yang dikirimkan Maggie. Dua orang di hadapanku menunggu tidak sabaran, segera merampas telepon genggam itu persis setelah file itu terbuka, membacanya cepat.

”Isi file ini sungguhan?” Mata mereka berdua membesar.

Aku mengangguk—bahkan daftar awalnya saja pasti membuat siapa pun terbelalak.

”Kau memang bisa menjadi orang paling berguna buat kami.” Salah satu dari mereka terkekeh, senang dengan daftar di tangannya.

Aku tidak berkomentar, menyeka keringat di pelipis. ”Borgol dia kembali,” dia menyuruh salah satu petugas. Aku terlonjak. Apa maksudnya?

”Bawa dia segera ke penjara,” orang itu berkata tegas.

”Hei, hei.” Aku berusaha melawan, tapi gerakan dua polisi lebih cepat. Tanganku segera ditelikung ke belakang, borgol terpasang.

”Kau sudah berjanji akan membebaskanku!” aku berseru. ”Anggap saja aku suka melanggar janji, Thomas. Selalu me-

nyenangkan melakukannya.” Dia tertawa lagi. ”Nah, terima kasih untuk dua hal. Pertama, untuk saranmu soal Liem. Kau memang konsultan yang hebat. Aku setuju, mungkin lebih baik membiarkan Liem berkeliaran di luar sana sementara waktu. Setelah semua urusan kami selesai, siapa pun bisa dengan mudah menangkap orang tua bangkrut itu. Kedua, untuk daftar aset ini, Thomas. Kau baik sekali pada kami.”

”Kau harus membebaskanku!” aku berteriak marah. ”Kau membutuhkanku!”

”Buat apa lagi? Tidak ada lagi yang bisa kautawarkan.” ”Kalian membutuhkan orang yang bisa mengurus aset itu di luar negeri. Kalian memerlukan dokumen-dokumen aset itu, surat-menyurat. Aku tahu tempatnya!” aku berseru panik, menyebutkan apa saja yang terpikirkan.

”Kami bisa mencari orang lain, Thomas. Yang tidak selihai dirimu dalam urusan kabur atau menipu. Soal dokumen, itu bisa kami cari di setiap jengkal rumah, kantor, properti milik Liem. Mudah saja.”

”Tidak,” aku bergegas menggeleng, ”dokumen-dokumen itu tidak ada di mana-mana. Dokumen itu disembunyikan di tempat yang tidak pernah kalian pikirkan.”

”Oh ya? Dan kau tahu tempatnya?” Tertawa, dia menoleh pada rekannya. ”Sudah pukul sebelas malam, Wusdi, aku ada urusan lain. Kau mau ikut?”

Rekannya mengangguk, melemparkan alat setrum ke salah satu polisi. ”Kalian kawal dia sampai dijebloskan dalam sel. Setrum saja sampai pingsan kalau dia terus berusaha kabur.”

Mereka berdua bangkit, memukul dinding mobil, memberi kode ke sopir agar menepi.

Aku menggerung, berteriak, ”Kalian membutuhkanku!” Mobil taktis berhenti, pintu belakang terpentang lebar-lebar.

Dua orang itu melangkah turun.

”Aku tahu tempatnya! Aku tahu di mana dokumen-dokumen itu!”

Mereka tidak mendengarkan, hanya santai melambaikan tangan.

”Dokumen-dokumen itu ada di kapal!”

Pintu belakang mobil taktis sudah berdebam ditutup kembali.

Gelap. Bintang tiga polisi dan jaksa senior itu sudah berpindah ke mobil lain, melesat pergi.

Aku tertunduk dalam-dalam.

Urusan ini kacau-balau sudah. Mereka mengambil daftar aset itu. Opa pingsan, entah apa kabarnya sekarang, dan jadwal pertemuan jam sebelas malam dengan nasabah besar Bank Semesta gagal total. Dan di atas segalanya, lihatlah, tanganku terborgol, terenyak duduk tanpa daya di dalam mobil yang melaju kencang menuju sel tahanan polisi.

Aku sungguh butuh skenario ajaib untuk memulihkan semua situasi.
Bagikan Novel ini Sebegai bentuk dukungan untuk situs ini 😊