menu

Negeri Para Bedebah Bab 17 Perjalanan yang Terencana

Mode Malam
Bab 17 Perjalanan yang Terencana
AKU masih sempat meminta Maggie mencari data terakhir seluruh aset yang tercatat atas nama Om Liem secara pribadi maupun grup bisnis di luar negeri sebelum melintasi garbarata pesawat. Apa pun, deposito, tabungan, saham, properti, kapal, kepemilikan klub olahraga, aset bergerak maupun tidak bergerak. Cari semua data, Cina, Hongkong, Swiss, Inggris, di mana saja Om Liem pernah melakukan investasi. Itu pasti berguna. Maggie bilang dia bisa segera mengusahakannya. Aku mengangguk takzim, memasukkan telepon genggam ke saku jas.

Jas? Tentu saja.

Sebelumnya aku juga sempat mampir ke salah satu butik di ruang tunggu keberangkatan domestik, membeli satu setel pakaian yang baik, berganti di ruang pas. Sejak tadi malam aku belum berganti pakaian, urusan ini bahkan membuatku belum tidur, belum makan, juga belum mandi. Penjaga butik bingung saat melihatku keluar dari ruang pas dengan pakaian rapi, langsung menuju meja kasir. ”Kau belum pernah melihat pembeli yang langsung memakai baju yang dibelinya?” aku berkomentar santai, mengeluarkan kartu kredit.

”Eh, bukan itu. Maaf.” Gadis itu salah tingkah.

Temannya menyikut lengan, menyuruhnya bergegas menyelesaikan transaksi.

Aku juga sempat mampir ke toko buku di sebelah butik itu, mencomot sembarang buku paling mutakhir tentang perbankan, beberapa majalah mingguan ekonomi terkemuka dunia, ditambah surat kabar sore berbahasa Inggris. Hingga akhirnya final call penerbangan ke Yogyakarta terdengar di langit-langit bandara. Tampilanku sudah lebih dari cukup meyakinkan. Aku berjalan santai menuju gate enam, menyerahkan boarding pass, lantas melintasi garbarata yang dipenuhi penumpang.

Pramugari tersenyum menyapa, ”Seat nomor berapa?”

Aku membalas senyumnya, sambil menyebut nomor kursi. ”Silakan, Pak Thomas.” Sudah standar baku kelas eksekutif,

pramugari menghafal seluruh nama calon penumpang yang lima menit lalu diberikan petugas ground handling.

Maggie benar, dua pejabat tinggi negara itu sudah duduk di kursi masing-masing. Aku persis di seberang mereka, terpisah lorong kecil. Kelas eksekutif yang hanya menyediakan dua belas kursi terisi separuh. Aku duduk dengan rileks, memasang safety belt, lantas membuka koran sore, mulai pura-pura membaca headline besar tentang Bank Semesta.

Dua pejabat di sebelahku membicarakan sesuatu, tertawa terkendali—nostalgia kampus lama mereka sepertinya, tempat mereka besok mengisi kuliah umum. Pesawat mulai memasuki runaway. Dalam hitungan detik, pilot menginformasikan pesawat siap take off. Aku tetap serius membaca koran sore, tidak peduli gerung pesawat yang terbang, lepas landas.

Peraturan pertama: Jika kalian ingin menarik perhatian seseorang (apalagi dua orang) dengan level yang sudah terlalu tinggi dibanding kalian, lakukanlah dengan cara ekstrem.

Lima menit, lampu safety belt sudah dipadamkan, pesawat sudah stabil di ketinggian, pramugari yang selalu tersenyum sudah mengeluarkan troli makanan menu spesial kelas eksekutif.

”Bedebah!” aku berseru, memukul koran sore berbahasa Inggris di tanganku.

Pramugari bahkan hampir saja menumpahkan kopi dari tekonya. Penumpang kabin eksekutif menoleh. Dan karena dua petinggi lembaga keuangan itu persis di seberang lorongku, mereka orang pertama yang melongok padaku.

”Maaf, astaga, saya sungguh tidak bermaksud demikian.” Aku mengangguk penuh penyesalan pada pramugari, menoleh ke sebelah, menatap mereka sambil menggeleng pelan.

”Maaf, saya sedang membaca berita. Lihat, astaga, apa yang mereka tulis di koran ini? Bank Semesta harus diselamatkan? Omong kosong. Tidak perlu pakar keuangan untuk tahu betapa bobroknya bank ini. Pemiliknya penjahat, maling besar. Enak saja mereka mengambil uang milik rakyat untuk menalangi, mengganti uang orang-orang kaya yang boleh jadi membayar pajak saja tidak pernah.”

Aku menghela napas, tampak benar-benar menyesal telah memaki di depan orang-orang berpendidikan.

Peraturan kedua: Dalam situasi frontal, percakapan terbuka, cara terbaik menanamkan ide di kepala orang adalah justru dengan mengambil sisi terbalik. Untuk sebuah kasus netral, yang boleh jadi orang tertentu sudah memiliki pendapat dan keberpihakan, ketika dia masuk dalam pembicaraan di mana salah satu pihak terlalu kasar, terlalu menyerang, terlalu naif dan penuh kemarahan, orang yang telah memiliki pendapat dengan cepat bisa jadi mengambil posisi berseberangan tanpa dia sadari—dengan alasan mulai dari tidak mau kalah, ingin terlihat bijak, hingga alasan lainnya.

Sesungguhnya kita semua bereaksi sama dalam setiap percakapan, perdebatan, tidak peduli kalian pejabat tinggi negara, eksekutif perusahaan besar, atau sekadar sopir angkutan umum yang mangkal di perempatan atau pengangguran di kedai kopi.

Dua petinggi lembaga keuangan itu masih menoleh padaku, menyelidik sejenak. Ini detik yang krusial. Mereka bisa saja sekejap tidak tertarik membahasnya. Urung, berpikir cermat, buat apa menanggapi makian rekan satu pesawat, ada banyak yang harus dipikirkan, urus saja masalah sendiri—peduli amat dengan tampilannya yang meyakinkan, buku keuangan bestseller, majalah terkemuka yang berserak di pangkuan.

Aku harus segera bertindak sebelum dua orang di sebelahku ini kembali sibuk dengan pembicaraan mereka sendiri.

”Ini benar-benar kacau-balau. Seharusnya pemerintah lebih tegas, seharusnya bank sentral sejak enam tahun lalu sudah menutup bank ini. Apa saja kerja mereka selama ini? Lihatlah, ribuan nasabah produk hibrid investasi-tabungan bank ini terzalimi, uang mereka sekarang hilang tidak ada yang mengganti. Andaikata sejak dulu sudah ditutup.” Aku mengusap wajah, memasang wajah amat kecewa. Nah, dengan kalimatku barusan, aku jelas sudah memecahkan bisul percakapan.

Inilah peraturan ketiga, peraturan paling penting: Dalam sebuah skenario infiltrasi ide, jangan pernah peduli dengan latar belakang lawan bicara kalian. Konsep egaliter menemukan tempat sebenar-benarnya. Bahkan termasuk ketika kalian wawancara pekerjaan misalnya. Sekali kalian merasa sebagai ”orang yang mencari pekerjaan”, sementara mereka yang menyeleksi adalah ”orang yang memegang leher masa depan kalian”, tidak akan pernah ada dialog yang sejajar, pantas, dan mengesankan.

Aku sudah memulai percakapan itu dengan pembukaan ”gambit menteri” dalam pertandingan catur. Maka hanya soal waktu, percakapan seru selama satu jam itu bergulir.

”Tentu saja ini bukan semata-mata salah otoritas pengawas. Dalam sistem paling baik sekalipun, ketika ada individu yang memang sudah jahat dari awal, dia bisa mengakali banyak hal. Usaha preventif, peringatan dini, peraturan-peraturan pencegahan, audit berkala, itu semua menjadi sia-sia. Bahkan sebenarnya kita sudah punya peraturan yang melarang kriminal menjadi direksi dan pemilik bank. Kita selalu melakukan fit and proper test.” Petinggi bank sentral berusaha menjelaskan dengan arif— meluruskan kalimat kasarku lima menit lalu.

Aku mengangguk mengamini.

”Situasi sekarang rumit, Thomas. Kau boleh jadi benar, kita sudah seharusnya menutup Bank Semesta enam tahun lalu, ketika perekonomian global tanpa riak, eskalasi masalah Bank Semesta juga masih kecil. Sekarang orang-orang bicara tentang dampak sistemis. Bahaya kartu domino roboh. Dalam situasi panik, otoritas bank sentral tidak mungkin membiarkan satu bank jatuh, menyeret bank-bank lain, kami bertanggung jawab penuh atas situasi itu. Nah, ketika situasi terburuk masih mungkin terjadi, lebih bijak mengambil situasi buruk yang paling kecil risikonya.” Lima belas menit berlalu, mereka sudah tahu namaku—demi sopan santun pembicaraan, tadi aku memperkenalkan diri.

”Tetapi pemiliknya perampok besar, Pak. Bank Semesta, ibarat rumah, adalah rumah perampok besar. Di mana letak rasa keadilannya?” Aku pura-pura masih tidak terima. Tiga puluh menit pembicaraan, gelas kopi kedua dari pramugari terhidang. Pejabat bank sentral tersenyum, menggeleng. ”Kau keliru, Thomas. Aku paham apa yang kaumaksud. Anak muda sepertimu terkadang terlalu emosional. Boleh jadi bank itu rumah perampok, tapi ketika dia terbakar di tengah angin kencang, musim kemarau krisis dunia, kalau kita biarkan sendiri, apinya akan menjalar ke rumah-rumah lain, bahayanya akan lebih besar lagi. Jadi pilihan terbaiknya boleh jadi memadamkan api rumah itu dulu. Urusan menangkap rampok, mengambil harta yang pernah dia rampok, tentu saja harus dilakukan sesuai koridor

hukum yang ada.”

Aku menghela napas, masih hendak membantah.

”Jangan lupakan satu fakta kecil, Thomas,” kepala lembaga penjamin simpanan ikut menambahkan—dan otomatis dia pasti dalam posisi yang sama dengan pejabat bank sentral, ”kalaupun pemerintah memutuskan memberikan talangan, dana itu diambil dari premi yang dikeluarkan seluruh bank untuk tabungan, deposito, dan rekening lainnya milik nasabah. Jadi itu bukan uang rakyat, itu persis seperti premi yang dibayar pemilik kendaraan. Ketika ada satu kendaraan yang meminta klaim rusak, atau bahkan hilang, itu diambil dari kumpulan uang premi yang ada. Bukan uang rakyat, Thomas.”

Empat puluh lima menit berlalu, sebentar lagi pesawat mendarat, hanya soal waktu tanda safety belt kembali menyala. Dua petinggi lembaga keuangan itu sempurna sudah ”menguasai” pembicaraan, berhasil memberikan pemahaman yang baik kepadaku tentang wisdom dan berhentilah kasar menilai. Kebijakan bukanlah ilmu pasti, sepintar apa pun kau.

”Kita tidak tahu. Belum.” Pejabat bank sentral menggeleng takzim. ”Boleh jadi besok siang, boleh jadi besok malam, ketua komite stabilitas sistem keuangan akan mengundang seluruh pihak. Komitelah yang paling berwenang memutuskan apakah Bank Semesta akan di-bail out atau tidak. Situasinya bergerak cepat sekali. Dua hari lalu kita masih merahasiakan banyak hal. Hari ini seluruh media massa seperti sudah tahu rilis terbaru dari kami. Oh iya, rasa-rasanya aku pernah bertemu denganmu, Thomas?”

Aku ikut tertawa. ”Mungkin kita pernah satu pesawat, Pak. Bapak waktu itu juga pernah melihat anak muda yang mengeluarkan makian.”

Mereka berdua tertawa.

Lampu safety belt menyala. Pesawat yang kami tumpangi siap mendarat. Satu-dua kalimat basa-basi menutup percakapan. ”Terima kasih banyak atas pembicaraan yang hebat ini, Pak. Saya jadi memahami banyak hal.” Aku mengangguk. Mereka tersenyum.

Di lorong garbarata turun dari pesawat, gubernur bank sentral sempat menepuk bahuku. ”Aku tidak mungkin salah. Aku pernah bertemu denganmu, Thomas. Kau ikut hadir di konvensi perbankan Jenewa, bukan? Kau bedebah, eh, maksudku anak muda yang berkelas, Thomas. Esok lusa, siapa tahu jika kau tertarik menjadi pejabat publik, kau bisa menjadi pejabat yang lebih baik, berani, dan taktis dibanding kami. Ini antara kau dan aku saja. Dulu waktu masih sibuk mengajar di kampus, kami selalu memanggil mahasiswa paling pintar dengan sebutan bedebah. Kalimat makianmu tadi mengingatkanku banyak hal.”

Nah, inilah peraturan kelima, terkadang kita butuh keberuntungan. Aku tidak menduga kata ”bedebah” itulah kunci terbaik percakapan kami. Aku bergegas menggeleng. ”Tidaklah, Pak. Saya harus belajar banyak mengendalikan emosi bahkan sebelum memikirkan kemungkinan itu.”

Mereka berdua hilang di lobi bandara yang ramai. Aku bergegas kembali menuju loket penjualan tiket. ”Satu tiket penerbangan ke Jakarta malam ini.” ”Kelas eksekutifnya penuh.”

”Saya harus kembali ke Jakarta segera. Apa saja, tiket bergelantungan, bahkan tiket duduk di toiletnya juga tidak masalah.”

Gadis yang menjaga loket tertegun sejenak. ”Saya hanya bergurau. Kau bergegaslah.” 
Bagikan Novel ini Sebegai bentuk dukungan untuk situs ini 😊