menu

Negeri Para Bedebah Bab 16 Dua Bidak Pertama

Mode Malam
Bab 16 Dua Bidak Pertama
MOBIL boks laundry merapat ke salah satu apartemen elite Jakarta.

”Aku sibuk, Thom. Tidak ada waktu.” Suara Erik justru terdengar santai.

”Omong kosong. Selama ini aku selalu punya waktu untukmu, Erik. Bahkan dalam situasi mendesak sekalipun.” Aku berlari kecil melintasi lobi apartemen.

”Astaga, Thom. Tapi tidak sekarang. Ini hari Sabtu. Libur. Aku sudah hampir sembilan minggu tidak pernah menikmati weekend, bersantai menghabiskan waktu di apartemenku.”

”Itu bagus. Jadikan saja genap sepuluh minggu kau terpaksa tidak bisa bersantai.” Aku memencet angka 7 tombol lift.

”Baik, baik.” Suara Erik terdengar kesal. ”Aku bisa menemuimu, tapi setengah jam saja, nanti malam pukul delapan, terserah kau di mana tempatnya.”

”Soal setengah jam, itu bukan masalah, Sobat. Lebih dari cukup. Soal nanti malam, nah itu yang jadi masalah. Sekarang, Erik, kita harus bertemu sekarang.” Pintu lift terbuka, aku melintasi lorong lantai.

”Sekarang? Memangnya kau ada di mana?”

”Lima detik lagi aku menekan bel apartemenmu. Nah...” Aku sudah memukul kasar bel di sebelah pintu jati berukiran itu.

”Eh?” Kalimat Erik terputus oleh suara bel.

Aku memasukkan telepon genggam ke dalam saku.

Wajah Erik muncul di balik pintu beberapa detik kemudian. Dia mengenakan kaus, berkeringat. ”Kau gila, Thom. Ada apa sebenarnya?”

Aku melangkah masuk, mengabaikan tampang keberatannya. Erik sedang latihan squash. Dia sengaja menyulap ruang depan dan ruang tengah apartemen luas dan mewahnya menjadi lapangan squash kecil. Aku dan beberapa teman dekat beberapa kali pernah berlatih bersama. Apartemennya sepi, hanya suara televisi

layar lebar terdengar berisik.

”Kau bermain sendirian?” aku bertanya, melihat sekitar, meraih raket squash yang tergeletak.

Erik mengangkat bahu. ”Semua orang sibuk, Thom. Bekerja seperti besok mau kiamat, jadi tidak ada yang mau kuajak latihan. Termasuk kau, tega sekali kau memotong Sabtu santaiku.”

Aku melemparkan raket squash ke lantai, meraih remote televisi di atas meja kecil, menaikkan volume, ada liputan breaking news dari salah satu stasiun terkemuka. Pembawa acara sibuk melaporkan situasi terakhir di bursa saham Amerika tadi malam. Indeks Dow Jones jebol nyaris 500 poin. Itu artinya kapitalisasi saham di sana menguap 4 persen dalam sehari, setara dengan ribuan triliun rupiah, angka yang setara dengan menyekolahkan satu miliar anak hingga lulus kuliah. Kepanikan sedang terjadi di Amerika. Beberapa bank dan institusi keuangan dilaporkan dalam kesulitan besar, menyusul Citibank, Lehman Brothers. Otoritas bank sentral, pejabat senior, bahkan pengamat ekonomi peraih nobel memberikan komentar. Wajah-wajah bergegas, wajah-wajah lelah. Siapa lagi yang akan tumbang?

Pembawa acara berpindah ke berita berikutnya, Bank Semesta, bla-bla-bla, sumber terpercaya terakhir menyebutkan Bank Semesta akan ditutup, bla-bla-bla, risiko dampak sistemis di depan mata, bla-bla-bla, apakah krisis dunia akan tiba di Indonesia. Aku menekan tombol mute televisi. Bisu.

”Kencangkan lagi volumenya, Thom.” Erik justru tertarik. Dia melangkah mendekat, mendongak ke layar televisi yang tergantung di dinding lapangan squash-nya.

”Tidak penting, Sobat.” Aku menyeringai.

”Kencangkan, Thom. Ini penting setelah begitu banyak kabar sampah tentang kondisi terakhir dunia luar.” Erik berusaha meraih remote dari tanganku.

Aku menepis tangannya, menatap lamat-lamat Erik dengan tatapan dingin.

”Eh, ada apa?” Erik menelan ludah.

”Kenapa kau begitu tertarik dengan Bank Semesta, Sobat? Atau jangan-jangan kau salah satu di antara begitu banyak orang yang berharap bank itu ditutup saja.”

”Eh, aku?” Erik mengangkat bahu, tidak mengerti kenapa aku tiba-tiba sinis.

”Ya, kau salah satunya. Misalnya agar rekomendasi keliru yang sengaja kauberikan enam tahun lalu musnah bersama hilangnya nama Bank Semesta, hah? Tidak ada lagi yang bisa membuktikan bahwa seharusnya bank itu sudah ditutup sejak dulu.” Erik diam, sepertinya baru menyadari apa tujuanku datang ke apartemennya.

”Apa maksudmu, Thomas?” Erik menyelidik.

Aku tertawa. ”Kau hanya punya waktu setengah jam, bukan? Baik. Aku sudah memakainya empat menit, berarti tinggal dua puluh enam menit. Kita akan bicara sambil berdiri seperti ini, atau kau akan berbaik-hati menyuruhku duduk?”

Erik bergumam samar, menyeka peluh di leher, mengangguk, menunjuk kursi.

Aku mengarahkan remote ke arah televisi, sekejap menekan tombol off.

Apartemen luas Erik lengang seketika.

***

”Aku tidak mau melakukannya.” Erik menggeleng.

Lima belas menit berlalu setelah aku menjelaskan situasi dan menyebutkan permintaan.

”Kau akan melakukannya.” Aku berkata tegas, melempar bundel kertas yang diberikan Maggie tadi siang, ”Atau aku akan menyebarkan dokumen ini ke seluruh wartawan yang kukenal.”

Erik menyambar kertas di atas meja, membaca selintas halaman depan, lantas merobeknya.

Aku tertawa. ”Percuma, Sobat, aku masih punya master filenya di kantor. Kau mau kugandakan jadi berapa? Lima belas lembar? Lima ratus?”

Erik mendengus marah. ”Aku tidak tahu apa-apa, Thom!” ”Omong kosong, Erik!” aku membentaknya. ”Kau penasihat

keuangan yang memberikan opini ketika Om Liem mengakuisisi Bank Semesta. Temanmu yang di bank sentral itu bertugas menutup-nutupi semua data, mengamini rekomendasi yang kaubuat, sehingga petinggi bank sentral dengan mudah menyetujui proses akuisisi sekaligus merger empat bank kecil. Kalian pasangan yang hebat. Dua penjahat. Bank Semesta seharusnya sudah tinggal nama di papan nisan enam tahun lalu. Kalianlah yang berbusa menjualnya ke Om Liem.”

Erik tersengal, tapi dia tidak bisa berkomentar lagi.

”Santai saja, Sobat. Aku juga sering melakukan rekayasa laporan, mempermanis angka, memperindah tampilan. Semua penasihat keuangan macam kita terbiasa dengan window dressing, manipulasi. Bedanya, kau keliru telah memilih klien Bank Semesta. Aku related party bank malang ini. Aku berada di pihak yang dirugikan atas opinimu. Nah, sekarang aku akan berusaha mati-matian menjadikan laporan enam tahun lalu ini sebagai amunisi menghabisi kalian jika kau tidak mau membantuku.”

”Apa yang sebenarnya kauinginkan, Thom?” Erik mendesis. ”Mudah saja, Sobat.” Aku tersenyum tipis. ”Seperti yang tadi

aku bilang. Temanmu di bank sentral itu sudah menjadi pejabat penting di sana. Mereka bilang, dia salah satu bintang dalam hierarki karier bank sentral. Dia mengepalai dan bertanggung jawab atas semua data, angka, dan informasi seluruh pengawasan perbankan. Kita semua tahu, Erik, jika dia bilang A, jangankan deputi, bahkan gubernur bank sentral juga akan bilang A. Mana sempat deputi gubernur bank sentral mengolah data sendiri? Mereka tidak lebih hanya orang-orang berkuasa yang duduk di kursi nyaman. Mereka menerima semua data yang diletakkan di atas meja, tidak sempat melakukan verifikasi bahkan konfirmasi. ”Dalam beberapa jam ke depan, eskalasi kasus Bank Semesta akan bertambah besar. Ketika seluruh media ribut mencemaskan dampak sistemis, isu rush, kepanikan, hanya soal waktu komite stabilitas sistem keuangan akan mengundang pihak berkepentingan rapat membahas Bank Semesta. Untuk menghadiri rapat itu, petinggi bank sentral akan membutuhkan data terakhir tentang Bank Semesta, angka-angka, informasi, perhitungan, semuanya.

”Nah, kauhubungi teman baikmu di bank sentral itu, minta agar dia melakukan hal yang sama enam tahun lalu, mempermanis laporan tentang Bank Semesta. Misalnya mempermanis angka talangan yang harus diberikan jika pemerintah memutuskan melakukan bail out. Boleh jadi angka sebenarnya tujuh triliun, tapi temanmu bisa membuatnya hanya dua triliun. Tujuh boleh jadi membuat komite segera menggeleng, resisten. Tapi, dengan angka dua, mereka akan manggut-manggut. Angka itu harus segera ada dalam laporan, ada di kepala petinggi bank sentral, dan disebutkan dalam rapat komite. Menjadi basis keputusan pertama mereka.”

”Kau gila, Thom. Dalam situasi seperti ini, mereka pasti akan melakukan verifikasi dan konfirmasi berkali-kali. Mereka tidak bodoh.”

”Aku lebih dari tahu soal itu, Erik. Kaulakukan saja skenarionya. Sekali rapat komite terjadi, temanmu di bank sentral itu boleh-boleh saja mengubahnya lagi, bilang bahwa angka sebelumnya tidak update, cut-off keliru. Tapi, sekali rapat komite telah dilangsungkan, sekali mereka terdesak harus segera mengambil keputusan, dan aku sudah menyelipkan kepentingan di beberapa peserta rapat, apa bedanya dua triliun dengan tujuh? Dalam dunia ini, kita telah mengambil keputusan bahkan sebelum keputusan itu terjadi. Kita hanya butuh argumen yang cocok.”

Erik mengusap wajahnya.

”Apa sebenarnya yang sedang kaurencanakan, Thom?” ”Menyelamatkan Bank Semesta.”

”Kau tidak bisa memengaruhi begitu banyak orang penting, Thom. Astaga, apakah kau berpikir bisa memengaruhi menteri keuangan, gubernur bank sentral, bahkan presiden sekalipun?”

Aku tertawa pelan, meraih sesuatu di atas meja. ”Kita lihat saja nanti, Sobat. Sekarang kau urus saja yang kusuruh. Jika temanmu itu sama becusnya seperti enam tahun lalu, aku sudah memegang satu bidak, bank sentral. Dua bidak lain sedang kuurus. Nah, bergegaslah. Waktuku terbatas. Hubungi temanmu di bank sentral itu. Ajak dia segera bertemu, mulai mempermanis banyak hal, atau aku segera mengirimkan dokumen yang kaurobek tadi ke semua redaksi koran. Jika itu terjadi, kariermu dan karier temanmu itu tamat, bahkan sebelum Bank Semesta selesai dilikuidasi.”

Erik menghela napas, menatapku lamat-lamat. ”Kenapa kau melakukan ini padaku, Thom?”

Aku sudah berdiri. ”Kau tidak mendengarkanku dengan baik. Aku related party Bank Semesta. Namaku boleh jadi tidak tercantum di mana-mana, tapi aku orang pertama yang akan menyelamatkan bank itu. Selamat tinggal, aku harus segera mengurus hal lain. Jangan matikan telepon genggammu, aku akan meneleponmu kapan saja. Maaf membuatmu tidak bisa bersantai di akhir pekan untuk kesepuluh kalinya. Dan satu lagi, aku pinjam mobilmu. Diparkir di tempat biasa, bukan?” Erik bergumam kasar melihat kunci mobilnya yang kupegang. Wajah merahnya menggelembung, tetapi dia tidak berkomentar.

Aku sudah melangkah menuju pintu apartemen.

***

Aku berganti kendaraan. Mobil Erik jauh lebih pantas dibanding mobil boks laundry.

Aku segera menghubungi telepon genggam Julia.

”Julia, halo, kau di mana? Suaramu tidak terdengar!” aku berseru sambil menekan klakson. Gerimis sudah raib di jalanan, bergantikan merah langit, sebentar lagi malam datang.

”Aku di konferensi pers, Thom.”

”Julia, bukankah kau seharusnya sedang mencari cara bertemu...”

”Aku sedang ikut konferensi pers, Thom. Kau bisa telepon aku setengah jam lagi.”

”Apa perlunya kau ikut konferensi? Kau tidak sedang meliput berita lebih penting, kitalah yang membuat berita. Kau seharusnya sedang menelepon kontak yang ada, meminta skedul...”

”Aku justru persis di depan menteri, Thom. Dia sedang bicara, semua wartawan berebut mengambil posisi paling depan.” Suara Julia terdengar kesal. ”Setengah jam lalu ada rilis penting ke seluruh media massa, aku tidak jadi ke kantor, langsung berbelok arah, ada konferensi pers mendadak dari ketua komite stabilitas sistem keuangan. Dia memberikan tanggapan awal atas masalah Bank Semesta yang eskalasi masalahnya naik tajam sehari terakhir. Kalau beruntung, setelah konferensi pers, aku bisa meminta waktu resmi bertemu dengannya. Tidak bisakah kau bersabar? Aku akan melakukan tugasku dengan baik.” Suara sebal Julia masih terdengar dua-tiga kalimat lagi sebelum dia memutus percakapan.

”Besok, Thom. Kita pasti bertemu langsung dengannya, tapi sebelum itu terjadi, biarkan aku mengurusnya. Setidaknya mencatat apa yang sedang dia omongkan. Mungkin itu berguna bagimu.”

Persis satu detik Julia menutup pembicaraan, telepon genggamku berbunyi lagi.

”Kau di mana, Thom?” Itu suara khas Ram.

”Kabur, kau pikir aku di mana lagi?” aku menjawab pendek, bergumam. Dalam situasi seperti ini Ram masih saja suka berbasa-basi.

Ram tertawa prihatin. ”Tentu saja kau sedang kabur. Maksudku, kau persisnya lagi di mana?”

”Di balik setir. Mengemudi di jalanan macet Jakarta.” Aku menatap datar ke luar jendela, untuk kesekian kali mobilku terhenti di perempatan. Hari Sabtu, tetap saja jalanan kota padat. ”Om Liem bersamamu? Eh, maksudku, aku baru saja mendengar kabar bahwa petugas polisi menyergap rumah peristirahatan di Waduk Jatiluhur. Aku dengar kalian berhasil kabur lagi. Om Liem baik-baik saja?” Ram segera memperbaiki

pertanyaan sebelum aku kembali menjawab menyebalkan. ”Secara fisik dia baik-baik saja, jika itu maksud pertanyaanmu.

Tetapi secara psikis mana aku tahu. Untuk orang setua itu, boleh dibilang keajaiban kecil dia tidak terlihat stres, sakit kepala, atau bahkan jantungan dengan semua masalah.”

”Om Liem bersamamu, Thom?” Ram memotong. ”Tidak. Dia bersembunyi di tempat aman.” ”Di mana?”

”Astaga? Kenapa kau ingin tahu sekali?” Aku menekan klakson, menyuruh minggir angkutan umum yang berhenti sembarangan. ”Bukankah kau sendiri yang menyuruhku memberikan informasi ke Om Liem soal kabar terakhir Tante? Lagi pula, hingga Bank Semesta pailit, Om Liem adalah pemimpin seluruh grup bisnis. Ada banyak update perusahaan yang harus dia tahu. Dokumen-dokumen yang harus dia tanda tangani. Surat-surat dan korespondensi dua hari terakhir yang belum sempat dia baca. Aku bertanggung jawab memastikan itu semua berjalan

baik.” Ram terdengar sedikit tersinggung.

”Bagaimana kabar Tante?” Aku memotong kalimat protesnya.

”Tante Liem baik. Barusan saja dokter mengizinkannya pulang. Tante Liem bisa dirawat di rumah.”

”Nah, biar aku saja yang menyampaikan kabar baik ini pada Om Liem. Juga urusan pekerjaan, kau suruh salah satu staf perusahaan menitipkan dokumen, surat, apa pun ke Maggie, nanti Maggie yang akan mengirimkanya padaku, itu pun jika urusan itu tidak bisa menunggu hingga hari Senin. Situasi berubah, Ram. Aku memutuskan, satu-satunya akses kepada Om Liem adalah aku. Dia sedang bersembunyi di salah satu rumah miliknya. Tidak boleh ada yang tahu.”

Ram terdengar menggerutu sebelum menutup telepon. Aku menyeringai, kembali menatap jalanan yang macet.

Aku tahu Ram orang kepercayaan Om Liem belasan tahun terakhir. Dia bahkan ikut keluarga Om Liem sejak kecil, disekolahkan, diberikan kesempatan mengurus bisnis keluarga, dan dilatih langsung oleh Om Liem. Tetapi saat ini, satu-satunya orang yang kupercaya adalah diriku sendiri. Bahkan aku tidak memercayai Om Liem—dalam situasi ini satu-dua kalimat dan tingkah bodoh bisa membuat seseorang (termasuk Om Liem atau Ram) tanpa disengaja telah mengkhianati sesuatu, jadi bukan sekadar soal dapat dipercaya atau tidak lagi.

Telepon genggamku kembali berbunyi. ”Ada berita penting, Thom.”

”Umur panjang, baru saja kusebut, kau sudah meneleponku, Maggie.” Aku tertawa kecil, sedetik mengingat hal bodoh yang pernah kami lakukan saat masih menjadi mahasiswa sekolah bisnis. Baru saja kusebut nama Maggie pada Ram, dia meneleponku.

Ini sudah menjadi tradisi panjang yang tidak bisa ditelusuri muasalnya. Setiap kali kita habis menyebut nama seseorang, dan tiba-tiba dia muncul, orang-orang tua kita selalu mencontohkan berseru, ”Umur panjang.” Kami dulu suka jail membahas hal-hal seperti ini di tengah pening mengerjakan tugas dari profesor yang bertumpuk. Apa coba hubungannya umur panjang dengan tiba-tiba dia muncul?

”Terima kasih doanya, Thom. Tetapi aku harap tidak menghabiskan umur panjangku dengan bekerja di tempatmu.” Maggie tidak tertawa, dia fokus. ”Berita penting, Thom.”

”Silakan,” aku menjawab takzim.

”Gubernur bank sentral dan kepala lembaga penjaminan simpanan malam ini pukul tujuh akan menumpang pesawat keluar kota. Mereka ada jadwal mengisi kuliah umum bersama di salah satu kampus terkemuka besok pagi-pagi, dan segera kembali ke Jakarta setelah itu. Kau mau kubelikan satu tiket kelas eksekutif agar bisa bersebelahan kursi dengan mereka pada malam ini atau besok paginya?”

Aku sungguh tertawa untuk sesuatu yang lebih penting sekarang. Ini update paling brilian yang disampaikan Maggie dua belas jam terakhir. Maggie stafku yang paling cerdas. Dia berpikir sama sistematisnya denganku. ”Bisa dipahami, Thom. Maggie hampir empat tahun menjadi stafmu. Mengikuti ritme, cara, waktu kerja, bahkan pola berpikirmu. Dia berkembang menjadi staf paling mutakhir dan resourcesfull karena kau, Thom.” Itu komentar Theo, teman dekatku sejak suka bicara omong kosong tentang ”panjang umur” di sekolah bisnis. Aku tidak tahu apakah Theo serius. Yang aku tahu, Maggie salah satu amunisi terbaikku.

”Skedul yang mana, Thom? Malam ini atau besok pagi? Aku masih punya pekerjaan lain selain mengurus tiketmu.” Suara ketus Maggie kembali terdengar.

”Segera, Mag, yang malam ini. Kaupastikan ke petugas city check-in agar aku persis duduk di sebelah mereka. Kauemailkan e-tiketnya. Aku segera menuju bandara sekarang.” Aku mengangguk, memutus pembicaraan, melempar telepon genggam sembarangan, lantas tangan kiriku mengganti persneling, membanting setir, dan menekan klakson panjang. Mobil yang kukemudikan berputar tajam. Membuat ”pak ogah”—pengatur lalu lintas gadungan yang sering mangkal di perempatan, U-turn, atau bagian jalan apa saja yang sering macet—terbirit-birit takut kena tabrak.

Hampir pukul enam sore. Warna merah jingga di langit mulai pudar, bergantikan gelap. Waktuku tinggal 36 jam, 15 menit sebelum pukul 08.00 hari Senin. Mobilku melesat cepat menaiki ramp jalan, menuju pintu tol bandara. Ini kesempatan hebat, mana boleh ditunda hingga besok. Jika berhasil, sekali dayung aku bisa memengaruhi dua peserta rapat komite stabilitas sistem keuangan sekaligus. 
Bagikan Novel ini Sebegai bentuk dukungan untuk situs ini 😊