menu

Negeri Para Bedebah Bab 13 Tema Klub Petarung

Mode Malam
Bab 13 Tema Klub Petarung
AKU berdiri dengan kaki goyah. Belum sempat memasang kuda-kuda, Rudi sudah meninju perutku. Aku melenguh tertahan, kembali terbanting duduk.

”Kau pikir kau siapa berani-beraninya melawan, hah? Jagoan?” Rudi membentakku.

Belum puas dia, badanku yang bertumpukan lutut ditarik lagi. Setengah berdiri, tinju Rudi kembali menghantam perutku. Kali ini aku terkapar di lantai.

Hujan semakin menggila di luar.

Julia berteriak-teriak menyuruh berhenti. Om Liem juga berseru, memohon. Opa menelan ludah. Enam polisi lain justru menyemangati Rudi, mengepalkan tinju. ”Habisi dia, Bos! Hajar terus, Bos!” Seperti sedang menonton gulat di layar kaca.

Tetapi dua tinju terakhir Rudi tipu-tipu. Itu tidak sungguhan. Kami petarung sejati, mudah saja berpura-pura. Beda halnya dengan petarung bohong-bohongan di layar kaca, mereka pasti kesulitan disuruh berkelahi sungguhan. Untuk lebih meyakinkan lagi, Rudi menyambar kursi rotan yang terpelanting, lantas dengan wajah merah, berseru kalap, menghantamkannya ke punggungku. Kursi rotan patah dua.

Julia menjerit, menutup mata. Om Liem kehabisan kata. Opa tertunduk.

Salah satu polisi sebaliknya, berseru antusias, ”Dahsyat, Bos!”

Petir menyambar di luar. Lengang sejenak sebelum gelegar guntur panjang. Rudi merapikan rambut, melemparkan sisa kursi rotan, menatap tubuhku yang tergeletak di lantai, lantas berteriak pada dua anak buahnya. ”Buat dia siuman kembali! Bersihkan darah di hidungnya. X2 tidak pantas melihat sasaran kita seperti ini. Buat dia lebih rapi.”

Tawa senang penonton dilipat, dua polisi bergegas mendekat, meletakkan senjata, membalik badanku yang terkulai, mengambil kunci, membuka borgol tanganku. Inilah permainan yang Rudi maksudkan. Kursi rotan tadi jelas tidak sempurna menghantam punggungku, ujungnya yang lebih dulu mengenai lantai. Itu trik biasa di dunia gulat layar kaca. Seolah-olah kena telak, tapi tidak. Seolah-olah kursinya penyok, nyatanya tipu. Lantas pegulatnya akan pura-pura terkapar.

Aku jelas tidak pingsan.

Aku bergerak cepat setelah borgolku lepas. Tanganku meraih senjata di lantai, dan hanya dalam hitungan sepersekian detik aku memukulkannya ke dagu salah satu polisi yang jongkok hendak membersihkan darah di wajahku. Polisi itu terkapar sungguhan, satu giginya lepas. Temannya yang terkesiap tidak sempat bereaksi. Aku lebih dulu meraih kerah bajunya, menariknya mundur, lantas mengacungkan senjata persis ke kepalanya. ”Jatuhkan senjata kalian! Jatuhkan!” aku berseru serak. ”Atau aku pecahkan kepala teman kalian ini!”

Empat polisi lain mematung. Gerakan tangan mereka yang siap menembakku tertahan. Menoleh pada Rudi, meminta pendapat komandan.

”Aku tidak main-main, Bedebah! Aku serius!” aku berseru galak. Tanganku menarik kerah seragam polisi yang kusandera kuat-kuat. Dia tercekik, tersengal satu-dua.

Rudi (seolah) menghela napas tegang, berhitung dengan situasi, lantas melambaikan tangan kepada empat anak buahnya. ”Jatuhkan senjata kalian.”

Mereka menurut, perlahan meletakkan senjata di lantai. ”Kau, kemari! Ya, kau!” aku meneriaki salah satu polisi yang

berdiri hati-hati, menatap penuh perhitungan. ”Lepaskan borgol mereka!” Aku menunjuk Opa, Om Liem, dan Julia.

”Alangkah bebalnya kau.” Aku melotot marah, senjataku teracung ke depan, menarik pelatuk.

Tiga tembakan menghantam dada polisi yang kusuruh. Dia memakai rompi antipeluru, tembakanku tidak akan melukainya. Tapi dengan jarak hanya tiga meter, tubuhnya tidak ayal terpental ke dinding, langsung pingsan.

”Lepaskan borgol mereka, atau kali ini aku akan menembak kepala kalian yang tidak terlindung kevlar.” Aku menatap tiga polisi yang tersisa dengan tatapan dingin.

Salah satu dari mereka menelan ludah sejenak, lantas buruburu mengeluarkan kunci borgol, mendekati Opa, Om Liem, dan terakhir Julia.

”Nah, sekarang pakaikan borgol itu ke kalian sendiri!” aku menyuruh. ”Bukan di dua tangan, bodoh!” aku membentak. ”Kaupasangkan kaki dengan tangan.”

Polisi itu bingung, meski akhirnya menurut.

Dua menit berlalu, tiga polisi yang tersisa terborgol sempurna dengan posisi aneh, duduk menjeplak, kaki kanan menyatu dengan tangan kiri, atau sebaliknya. Aku mendorong polisi yang kusandera, memukulkan popor senjata ke kepalanya—ini balasan karena dia menyodokkan senjata ke lambungku. Polisi itu tersungkur.

Petir menyambar untuk kesekian kali. Guntur menggelegar. ”Kau ikut kami! Berjalan di depan.” Aku menodongkan sen-

jata pada Rudi. ”Segera!” aku meneriakinya.

Rudi patah-patah dengan kedua tangan terangkat melangkah menuju pintu. Opa dibantu Julia bergegas mengikutiku. Om Liem yang masih tidak mengerti apa yang terjadi ikut melangkah.

Di bawah tembakan jutaan bulir air hujan, rombongan kami menuju dermaga belakang, di sana tertambat satu speedboat. Aku menyuruh yang lain segera naik, Opa menghidupkan mesin speedboat.

”Terima kasih, Sobat.” Aku menoleh pada Rudi, melemparkan senjata ke permukaan waduk.

”Kau berutang besar padaku, Thom.” Rudi mengusap wajahnya. Hujan deras membungkus kami.

”Aku akan membayarnya lunas dua hari lagi, lengkap dengan seluruh bunganya. Kau pegang janjiku, janji seorang petarung.” Aku menyeka ujung bibir yang terasa asin. Air hujan membuat sisa darah di hidung mengalir.

”Kau akan kabur ke mana sekarang?” ”Astaga, Sobat? Aku pasti tidak akan memberitahumu.” Aku tertawa. ”Kau jelas berada di pihak lawan.”

Rudi mengangguk, menyengir.

Dan sebelum cengirannya hilang, tanganku sudah bergerak cepat, telak meninju dagunya. Tubuh besar Rudi seketika tersungkur di lantai dermaga. Mulutnya berdarah. KO.

”Kau butuh alasan, bukan? Nah, bilang pada X2, kau sudah berusaha menangkapku, mengejar habis-habisan, tapi sasaran yang kaukejar memang licik, berbahaya, dan mematikan. Dia pasti paham saat menemukanmu semaput di dermaga. Sama pahamnya saat menemukan tiga polisi terkapar di kamar, tiga lainnya diborgol seperti posisi pertunjukan sirkus.” Aku sudah loncat ke atas speedboat. Mengambil alih kemudi dari Opa, lantas menekan pedal gas dalam-dalam. Speedboat melesat membelah waduk yang dibungkus hujan deras.

Kilat menyambar membuat akar serabut di langit. Guntur menggelegar.

***

”Dia siapa?” Om Liem bertanya. Badannya sekarang terbungkus pakaian dan handuk kering, meski masih menggigil kedinginan.

”Jangan banyak tanya dulu. Habiskan cokelat panasmu.” Aku mendengus.

Om Liem menghela napas, mengangguk.

”Perkenalkan, saya Julia, Om.” Julia memperlakukan Om Liem lebih baik, menjulurkan tangan.

”Kau apanya dia?” Om Liem bertanya pada Julia, kemudian mengedikkan dagu ke arahku. ”Teman, Om. Saya wartawan yang pernah mewawancarai Thomas.”

”Kau jangan sampai suka padanya.” Opa menimbrung percakapan, tertawa kecil, mengusap rambut berubannya yang setengah basah.

Wajah Julia penuh tanya.

”Karena sekali kau membuat kesalahan besar padanya, sepanjang hidup nasibmu sama seperti omnya. Tidak pernah dipanggil nama lagi. Benci sekali Tommi pada omnya.”

Aku melotot, menyuruh ketiga orang itu bergegas. Ini bukan saat yang tepat mengobrol ringan.

Ada sekitar lima belas menit speedboat yang kukemudikan menerobos waduk di tengah hujan deras. Tidak sulit, aku sudah belajar mengemudi speedboat sejak umur enam belas. Melewati keramba ikan penduduk, perahu nelayan yang hujan-hujanan, aku akhirnya merapat di dermaga salah satu resor—itu sebenarnya resor milik Opa. Pegawainya tanpa banyak bertanya apa yang telah terjadi bergegas menyiapkan handuk kering, pakaian ganti, dan minuman panas.

Pukul dua siang, hujan deras masih membungkus waduk. Entah apa yang terjadi di rumah peristirahatan Opa. Boleh jadi X2 dan pasukannya yang siap menjemput kami sedang marah besar. Rencana konferensi pers menghadirkan buronan besar gagal total. Aku tidak peduli, aku sedang gemas menunggu Opa dan Om Liem memulihkan diri. Waktuku terbatas, tinggal 42 jam sebelum pukul 08.00 hari Senin.

”Kita harus segera bergerak!” aku berseru tidak sabaran. ”Bukankah kau tadi menyuruhku menghabiskan gelas cokelat

ini, Tommi?” Om Liem bertanya. ”Dibungkus saja kalau kau mau,” aku menjawab ketus. ”Kita tidak bisa lama-lama, lima belas menit lagi seluruh jalanan keluar dari Waduk Jatiluhur akan diblokade polisi. Mereka akan memeriksa setiap mobil. Mereka sedang marah. Mereka akan melakukan apa pun untuk menangkap kita.”

Julia mengangguk, memanggil petugas resor, meminta disiapkan mobil.

Aku bertepuk tangan. ”Bergegas, Opa!”

Opa menghela napas panjang. ”Orang tua ini mungkin lebih baik tinggal di sini, Tommi.”

Aku menggeleng. ”Tidak. Opa harus ikut ke mana pun aku pergi. Mereka tidak peduli lagi siapa yang terlibat, siapa yang tidak terlibat. Jangan-jangan mereka sekarang sedang mencari pasal yang bisa menuntut sepuluh tahun pembantu rumah Opa karena membantu menyembunyikan buronan misalnya.”

Petugas resor kembali dengan kunci mobil.

Aku beranjak keluar, diikuti Julia yang membantu Opa berjalan, dan Om Liem, yang astaga, menuruti perintahku, santai menghabiskan cokelat panasnya.

”Ini mobilnya?” Langkah cepatku terhenti persis di lobi depan resor.

Petugas resor takut-takut mengangguk.

”Hanya ini yang tersedia, Pak. Mobil lain sedang menjemput tamu di Jakarta dan Bandung.”

”Bagaimana mungkin kami kabur dengan mobil ini?” Aku menepuk dahi, setengah tidak percaya.

”Tidak ada mobil lain, Pak. Kecuali Bapak mau menunggu setengah jam lagi.”

Ini sungguh paradoks, lelucon, atau entah apalah menyebutnya. Sepanjang pagi aku mengebut memakai mobil balap, sekarang aku harus berhenti di pit stop resor, berganti dengan mobil boks laundry milik resor. Lengkap dengan tulisan besar di dinding luarnya: ”SuperClean. Membersihkan apa saja!”

Aku mendengus kesal, menyuruh petugas resor minggir dari hadapanku. 
Bagikan Novel ini Sebegai bentuk dukungan untuk situs ini 😊