menu

Negeri Para Bedebah Bab 12 Esmeralda dan Fernando

Mode Malam
Bab 12 Esmeralda dan Fernando
SETELAH penjelasan sepotong masa laluku pada Julia, dan dia akhirnya bersedia kembali mengemudi, kami melangkah menuju mobil.

Sialnya, tinggal empat langkah lagi dari pintu mobil, tiba-tiba tanpa kami sadari mobil patroli tol merapat. Petugas di dalamnya menekan klakson, lampu di atas kap mobil patroli menyala kerlap-kerlip. Mereka kemudian parkir persis di belakang mobilku, lantas turun sambil merapikan seragam dan pistol di pinggang.

”Selamat siang.” Dua orang petugas mendekat.

Aku menelan ludah. Sedikit terperanjat dengan kedatangan mereka. Berusaha berpikir cepat bagaimana segera kabur sebelum mereka bertanya-tanya.

”Mobil kalian mogok?” Salah satu petugas lebih dulu bertanya.

Ini situasi biasa yang rumit. Biasa, karena lazim ada mobil yang berhenti di jalur darurat. Aku menggeram. Bisa saja aku mengarang mobilku mogok, ada kerusakan, tapi semakin lama kami tertahan, semakin panjang dialog dan cerita, mereka jadi punya kesempatan bertanya hal lain dan urusan menjadi rumit. Mereka akan meminta identitas, surat izin mengemudi, bahkan mulai mengarang-ngarang kesalahan. Lebih sial lagi kalau mereka jadi tahu aku buronan polisi sejak tadi malam.

”Mobil kalian bermasalah? Rusak?” Petugas bertanya sekali lagi, tinggal dua langkah. Yang satu malah mengambil inisiatif melongok-longok memeriksa mobil.

Aku mendesah, terus berpikir mencari alasan. Kami harus segera kabur.

”Dasar lelaki tidak berguna!” Julia sudah berteriak lebih dulu sebelum aku memutuskan mengambil langkah apa pun.

”Berapa kali kau ketahuan selingkuh, hah? Berapa kali, Pengkhianat?” Julia berteriak sambil mendorong dadaku, wajahnya marah.

”Eh?” Aku bingung sejenak, berusaha menyeimbangkan diri—hampir saja terjatuh.

”Kalau begini terus, aku minta cerai saja, cerai!” Julia sudah pura-pura hendak menangis.

Aku menggaruk kepala, dengan cepat mengerti apa yang sedang dilakukan Julia.

Dua petugas patroli saling pandang, menelan ludah, urung bertanya lebih lanjut.

”Aku tidak tahan lagi. Tidak tahan!” Julia berteriak seperti wanita sedang emosi tinggi.

”Kau keliru, Sayang. Aku sudah berubah, lihatlah.” Astaga, entah apa yang ada di kepalaku, sekejap kemudian aku mengikuti mentah-mentah skenario Julia, mulai berakting macam dua pasangan yang sedang bertengkar, berusaha membujuknya agar tenang.

”Kau penipu! Sekali penipu tetap penipu!” ”Sungguh, Sayang. Aku sudah banyak berubah.”

”Kau lelaki pendusta, Fernando!” Julia berteriak parau, dan PLAK! Gadis itu telak menampar pipiku.

Dua petugas patroli bahkan berseru tertahan, sedikit kaget.

Salah tingkah harus melakukan apa.

”Aku akan pergi jauh. Jangan ikuti aku.” Julia sudah membuka pintu mobil, masuk.

”Tunggu, Esmeralda!” Aku terpincang, berusaha menyusul. Tentu saja Julia akan menungguku—meski mobil sudah men-

derum dinyalakan.

”Tunggu!” Aku masuk ke dalam mobil, menutup pintu. Sedetik, mobil melesat bagai peluru meninggalkan dua pe-

tugas patroli yang hanya bisa terpana.

Menggaruk kepala, saling tatap bingung, dua petugas patroli itu akhirnya mengangkat bahu, menghela napas panjang. Bergumam satu sama lain, ternyata mobil keren ini menepi karena penumpangnya, suami-istri bernama Fernando dan Esmeralda sedang bertengkar, tidak ada yang serius. Mereka tidak berselera mengejar, kembali masuk ke dalam mobil patroli, melaju seperti biasa.

***

”Kau seharusnya tidak menamparku sekencang itu.” Aku meringis, meraba pipi sebelah kiri yang masih terasa pedas. ”Seumur-umur aku belum pernah ditampar wanita.”

”Aku harus sungguh-sungguh, Thom. Biar mereka tidak curiga.” Julia menoleh sebentar, tertawa, lantas kembali konsentrasi penuh. Mobil melesat cepat menuju Waduk Jatiluhur.

”Kakimu masih sakit?” Julia bertanya, mobil sudah keluar dari pintu tol, memasuki jalanan menuju Waduk Jatiluhur. Setelah sepanjang pagi cerah, sejak sepuluh menit lalu mendung menggelayut malas di langit. Orang-orang berlari kecil, bergegas menyelesaikan urusan sebelum telanjur hujan deras.

”Sudah lumayan.” Aku meluruskan kaki, melirik pergelangan tangan, hampir pukul dua belas siang. Aku sudah menyelesaikan membaca beberapa bundel dokumen, menandai begitu banyak hal menarik.

Dengan kecepatan tinggi, hanya butuh setengah jam menuju rumah peristirahatan Opa dari tempat kami berhenti di jalur darurat tol.

Tadi Julia menyuruhku menelepon rumah peristirahatan Opa untuk memberitahukan kabar ini. Saran baik yang sia-sia, Opa menolak memasang telepon di rumahnya. ”Orang tua ini tidak mau diganggu siapa pun,” demikian Opa menjawab kalem. Dia juga tidak terbiasa menggunakan telepon genggam. Aku pernah membelikannya telepon genggam paling mutakhir agar dia lebih mudah dihubungi. Tapi esok harinya Opa tega menggunakannya untuk mengganjal salah satu kaki kursi santainya. ”Nah, dia lebih bermanfaat sekarang, Tommi.” Opa terkekeh, duduk menatap cahaya matahari senja menerpa waduk, melambaikan tangan. Aku hanya bisa mendengus kesal, itu telepon mahal.

Aku juga tidak bisa menghubungi Om Liem, karena dia tidak sempat membawa telepon genggamnya semalam. Aku tidak bisa memberikan peringatan ke rumah itu agar mereka segera menyingkir. Dengan semua kemungkinan terbuka, aku memutuskan menghabiskan waktu tiga puluh menit untuk mempelajari dokumen yang diberikan Maggie. Ini jelas lebih berguna dibanding bergumam resah menyuruh Julia lebih cepat lagi. Sama halnya ketika kalian terjebak macet, daripada memaki, resah, sebal, yang jelas-jelas tidak akan membuat kemacetan jadi terurai, maka lebih baik membaca sesuatu atau tidur.

”Belok kiri atau lurus?” Julia bertanya. Kami hampir tiba.

”Terus, hingga habis jalan raya,” aku menjawab pendek, melempar dokumen.

Mobil yang dikemudikan Julia melambat.

Aku menghela napas lega. Tidak ada keramaian di depan gerbang pagar. Juga tidak ada mobil-mobil atau polisi yang mengepung di halaman rumah. Lengang. Gerimis semakin deras.

”Langsung ke halaman belakang,” aku menyuruh Julia terus. Satu menit, mobil terparkir rapi, aku dan Julia turun, berlari-

lari kecil menuju teras belakang.

Tidak ada siapa-siapa di ruangan dapur. Kosong. Bahkan pembantu yang biasanya menyiapkan makanan untuk Opa tidak terlihat.

Aku memandang sekitar. Ini lengang yang ganjil. Opa juga tidak ada di ruangan besar tempat dia berlatih musik. Aku menyeka rambut yang basah. Pada saat hujan seperti ini boleh jadi Opa sedang tidur. Om Liem boleh jadi juga beristirahat setelah dua puluh jam terakhir tidak tidur.

”Jangan bergerak!” Terdengar suara mendesis. Langkah kakiku melintasi ruangan tengah terhenti. Juga langkah Julia.

Kami berdua sempurna mematung.

Enam polisi dengan rompi antipeluru, bersenjata lengkap, muncul bagai hantu dari balik lemari, sofa, pot besar, bahkan kerai jendela. Wajah mereka tertutup topeng. Mata menatap tajam, berkilat.

Dua polisi dengan cepat meringkusku, aku terbanting duduk. Mereka menelikung tanganku, memasangkan borgol. Dua polisi lain juga memegang tengkuk Julia, cepat menguasai situasi sebelum kami sempat bereaksi apa pun—bahkan sekadar mendengus.

Lututku terasa sakit menghantam lantai, aku mengeluh sambil mengutuk dalam hati. Bodoh. Seharusnya aku segera kabur sejak menginjak dapur belakang. Rumah ini terlalu sepi. Ada sesuatu yang telah terjadi. Benar-benar bodoh. Tentu saja mereka sengaja menyembunyikan mobil patroli, kendaraan polisi atau apa pun di halaman. Jika aku melihatnya, aku pasti berputar arah. Setelah tahu lokasi ambulans dari GPS tracking rumah sakit, mereka pasti sengaja mengirim pasukan taktis kecil yang tidak menarik perhatian untuk menangkap Om Liem, lantas menungguku kembali.

”Jalan!” Salah satu polisi kasar menyuruhku berdiri.

Julia hendak protes, tapi moncong senjata terarah ke wajahnya. Membuatnya bungkam.

Aku menelan ludah. Ini berlebihan. Kami bukan teroris, kami juga bukan kriminal seperti pembunuh, psikopat, atau kejahatan besar lainnya. Tidak bisakah mereka mengirim pasukan yang lebih ramah? ”Bergegas!” Polisi di belakangku justru menyodokkan moncong senjatanya.

Aku menahan sakit, meringis.

Mereka menggelandang kami masuk ke salah satu kamar. Di sana sudah ada Opa dan Om Liem. Nasibnya sama, diborgol. Duduk di kursi rotan.

”Lapor, Bos, semua sasaran telah tertangkap.” Samar-samar aku mendengar percakapan di belakang.

”Kita bergerak sekarang?”

”Tahan dulu. X2 sedang dalam perjalanan. Dia sendiri yang akan membawa sasaran, langsung kembali menuju markas, konferensi pers sedang disiapkan.”

Aku menelan ludah, menatap wajah Om Liem yang datar, tertunduk. Opa terlihat tenang, bahkan tersenyum kepadaku. Julia terus protes ke polisi yang mendorong-dorongnya, tapi dia tidak bisa berteriak, apalagi menampar polisi macam menampar ”Fernando” sebelumnya. Julia berkumur-kumur, bilang dia punya hak membela diri. Sial, polisi justru tambah kasar mendorongnya.

Satu polisi meletakkan dua kursi rotan. Menyuruh kami duduk. Aku menurut.

”Semua area sudah diamankan, Bos. Delapan yang lain disekap di kamar depan, sepertinya mereka bukan sasaran utama, hanya pekerja biasa.” Polisi yang menyergap kami terlihat bicara dengan seseorang yang masuk ke kamar. Mungkin dia komandan pasukan spesialis ini, berpakaian sipil, rompi antipeluru, kacamata hitam besar, dan topeng serbu.

”Bagus. Kalian terus berjaga di kamar. Pastikan tidak ada celah mereka kabur.” Orang itu mengangguk, menyibak anak buahnya, melangkah mendekati empat kursi rotan yang dibariskan di tengah kamar.

Aku mendongak, berusaha mencari tahu.

Orang itu justru berhenti persis saat kami saling tatap.

Aku tidak mengenalinya, kacamata hitam dan topeng serbu membuat wajahnya tidak terlihat.

Lengang sejenak. Orang itu tetap berdiri, diam, lima langkah dariku.

”Kalian berjaga di luar kamar!” orang itu berseru pada anak buahnya.

Enam polisi menoleh, bingung. Bukankah mereka tadi disuruh berjaga di sini?

”Bergegas! Ini perintah!” orang itu membentak.

Enam polisi bersenjata lengkap, tanpa menunggu, langsung bergerak ke pintu. Meninggalkan empat kursi rotan dengan empat pesakitan di atasnya.

Lengang sejenak, hujan turun semakin deras.

Komandan polisi itu menatapku, menghela napas panjang. Aku bingung. Apa yang sebenarnya terjadi?

”Ini benar-benar kejutan, Thom.” Suara galak orang di depanku berubah datar. Dia melepas kacamata hitam dan topengnya. ”Aku sama sekali tidak tahu kalau ternyata harus menangkapmu, Thomas.”

Aku berseru setengah tidak percaya, ”Rudi!”

”Ini sungguh kejutan atau boleh jadi lelucon.” Rudi merapikan rambutnya, wajahnya juga terlihat setengah tidak percaya. ”Astaga, kenapa kau ada di sini, Thom? Bukankah kau hanya konsultan keuangan yang baik? Seorang gentleman yang berpendidikan, kaya, dan berpengaruh. Menulis banyak kolom di media massa, dianggap anak muda yang berhasil. Semua teman di klub bertarung bilang, kau anggota yang baik, petarung yang hebat, dengan kehidupan yang lurus. Kenapa aku di siang ini, di tengah hujan deras, harus menangkapmu, Thomas? Menangkap salah satu petarung terbaik klub. Menangkap teman terbaikku selama ini.”

”Kau harus melepaskanku!” aku berseru. ”Kau harus segera melepaskan aku, Rudi!” Aku bergegas menurunkan intonasi suara, meski hujan deras membuat percakapan samar, boleh jadi enam anak buah Rudi di luar kamar mendengar.

Rudi diam sejenak, menatapku lamat-lamat.

”Dia,” Rudi perlahan menunjuk Om Liem, ”siapanya kau?

Kerabat?”

Aku mengangguk cepat.

”Kau yang membantunya kabur semalam? Kabur begitu saja, seperti anak kecil yang main petak umpet. Membuat puluhan polisi dan perwira terancam dimutasi ke daerah terpencil.” Rudi bertanya.

Aku mengangguk lagi.

”Astaga, Sobat.” Rudi separuh hendak tertawa, separuh hendak menepuk pelipisnya. ”Urusan ini benar-benar celaka. Kau tahu, aku bahkan ditelepon langsung oleh X2 untuk membereskan masalah ini. Bilang pasukan komando khususku harus bergerak cepat, tanpa ampun, dan diotorisasi sah menggunakan apa saja untuk menangkap kalian. Ternyata aku menangkapmu, Thomas.”

”Kau harus melepaskanku, Rudi!” aku berseru agak kencang, memotong kalimat Rudi. Waktu kami terbatas. Jika percakapan salah satu anak buah Rudi tadi benar, hanya hitungan menit X2 akan tiba di rumah peristirahatan Opa. Aku tahu apa maksud kode X2, X adalah simbol markas besar, dan 2 adalah penunjuk hierarki yang ada.

Rudi mendekatiku, jaraknya tinggal dua langkah.

”Kau keliru menangkap orang, Rudi. Bukan aku penjahatnya.” Aku mendesak.

”Tentu saja semua ini keliru, Thomas. Belasan tahun aku menjadi perwira di kepolisian, aku tahu banyak hal keliru yang dibiarkan terjadi.” Rudi bergumam resah, dia menggeleng. ”Astaga, kau tahu briefing lewat telepon yang diberikan padaku saat menuju tempat ini? Kalian bersenjata berat, licik, dan mematikan. Sepertinya mereka lebih menyuruh kami menembak kalian di tempat dibandingkan menangkap hidup-hidup.”

”Hentikan basa-basinya, Rudi! Kau harus melepaskan kami segera, atau tidak ada waktu lagi!” Untuk kedua kalinya aku memotong kalimat.

”Ini tidak mudah, Thom.” Rudi mengusap wajahnya. ”Kau bisa mengarang kejadian apa pun, Rudi!”

”Tentu saja aku bisa. Tapi dengan X2 menuju kemari, ini tidak mudah. Aku bisa membahayakan seluruh karierku demi dirimu.”

Aku menatap wajah Rudi. Tatapanku terus mendesaknya.

Rudi menyisir rambutnya dengan jemari. ”Kau benar-benar sialan, Thomas. Semalam kau memukulku jatuh di lingkaran merah, membuatku ditertawakan anggota klub, siang ini kau merengek padaku untuk meloloskanmu. Kalau saja kau bukan teman baikku, petarung penuh respek, sejak tadi aku justru hendak meninju wajah sialanmu ini. Beri aku waktu untuk berpikir.”

”Segera, Rudi! Segera!” aku mendesis. ”Biarkan aku berpikir, Thom.”

Aku menggeleng, tidak ada waktu lagi.

”Kau bisa diam dulu tidak, Thom!” Entah kenapa, tiba-tiba Rudi berteriak kencang—yang pastilah kali ini didengar anak buahnya di luar. Salah satu dari mereka mendorong pintu kamar.

Dan dalam hitungan sepersekian detik, Rudi sudah meninju wajahku. Telak. Aku terjengkang, kursi rotanku terpelanting, tubuhku berdebam jatuh. Demi melihat itu, Julia berteriak kencang—lupa bahwa tadi dia juga menamparku di jalur darurat tol.

Om Liem ikut berseru panik. Opa menghela napas.

”Diam, Bedebah! Kau tidak boleh melawan petugas. Jangan pernah sekali-kali!” Rudi sudah berteriak kalap, jongkok, kasar menarik badanku hingga berdiri.

Darah segar mengalir dari hidungku. Aku tersengal untuk dua hal: Satu, kaget karena tiba-tiba ada bogem mentah menghajarku. Dua, karena hidungku sakit sekali.

Enam anak buah Rudi masuk ke kamar, berbisik satu sama lain, mencoba mencari tahu apa yang sedang terjadi. Hujan semakin deras, cahaya kilat membuat terang semesta, guntur menggelegar enam detik kemudian.

”Kauikuti semua permainannya, Thom. Dan kita lihat, apakah aku bisa meloloskanmu dari sini atau tidak,” Rudi berbisik di tengah suara guntur, tangannya masih menjambak rambutku.

Aku bergumam setengah putus asa. Permainan apa? Rudi jelas tidak sedang berusaha membantuku lolos. Dia sedang membalaskan pertarungan tinju kami semalam. 
Bagikan Novel ini Sebegai bentuk dukungan untuk situs ini 😊