menu

Negeri Para Bedebah Bab 10 Alarm Kebakaran Palsu

Mode Malam
Bab 10 Alarm Kebakaran Palsu
AKU baru saja membuka dokumen yang memuat daftar deposan terbesar Bank Semesta, melingkari begitu banyak data menarik saat telepon di meja kerjaku berbunyi.

”Ada yang ingin menemuimu, Thomas.” Itu suara Maggie. ”Siapa?” Aku tertegun sejenak. Ini hari Sabtu. Aku tidak

pernah bilang ke siapa pun aku masuk kantor hari ini—meski ada banyak penghuni gedung yang lembur di hari Sabtu.

”Mana aku tahu. Dia tidak bilang,” Maggie menjawab ketus. ”Bilang aku sibuk. Suruh dia datang kembali minggu depan, atau tahun depan.” Aku mencoba bergurau, sepertinya tugas menumpuk yang kuberikan pagi ini pada Maggie membuat mood

buruknya kambuh.

”Itu dia, Thom. Percuma. Orangnya sudah menuju ruanganmu. Tadi aku berusaha mencegahnya, dia malah melotot galak. Nenek lampir.” Ternyata bukan tugasku yang membuat Maggie kesal.

Pintu ruanganku diketuk. Aku meletakkan gagang telepon. Apakah hari ini orang mulai lupa sopan santun bertamu? Baru semalam, Ram dan sopirnya merangsek ke kamar hotel, membangunkanku dini hari buta. Sekarang ada lagi tamu yang... gumamanku lenyap. Tamu itu bahkan sudah mendorong pintu ruangan.

”Kau bisa saja membohongi wartawan dan editor lain, Thom. Tetapi tidak padaku.” Gadis itu sudah memasuki ruangan, langkah kakinya sigap, menatapku tajam.

”Julia?” Aku menepuk dahi. ”Apa yang sedang kaulakukan di kantorku?”

”Mereka boleh saja bodoh, tidak tahu siapa kau sebenarnya. Tetapi aku tidak, aku sekarang tahu siapa dirimu.” Julia berhenti persis di ujung meja, menyibak rambut panjangnya, ekspresif melemparkan satu bundel dokumen. ”Seluruh resume tentang dirimu hanya menulis Thomas, orangtua meninggal sejak kecil, tidak diketahui siapa nama mereka. Thomas dibesarkan di sekolah berasrama sejak usia sepuluh tahun. Sisanya gelap. Thomas murid paling cemerlang yang dimiliki sekolah, aktif dalam banyak kegiatan, menunjukkan minat yang besar terhadap ekonomi, politik, dan psikologi manusia. Melanjutkan ke universitas ternama, tapi tidak ada yang tahu riwayat keluarganya, Thomas yang bla-bla-bla.”

Aku masih menatap Julia, setengah bingung kenapa dia ke kantorku.

”Lantas, bagaimana kalau kau kupanggil dengan ‘Tommi’, hah?” Julia bersedekap, tersenyum sinis. ”Apakah panggilan itu bisa menjelaskan banyak hal? Tommi, cucu laki-laki satu-satunya keluarga Liem-Edward. Tommi, keponakan langsung Om Liem. Namamu memang tidak ada di mana-mana dalam grup besar itu, juga dalam daftar pemegang saham Bank Semesta, tapi jelas kau adalah related party, kesaksian, pendapat profesional, dan sebagainya, menjadi sampah bila itu datang dari pihak terafiliasi. Tidakkah kau diajari soal itu di sekolah bisnis, Tommi?”

Aku menelan ludah, menatap wajah cantik Julia yang seperti habis memenangkan undian berhadiah sebuah kapal pesiar. ”Dari mana kau tahu?”

”Anggap saja wartawan dengan predikat terbaik ini sejak turun dari pesawat besar itu telah mengerjakan PR-nya dengan baik, Tommi. Memasukkan namamu di mesin pencari internet, percuma, tidak ada sejarah hidupmu. Membongkar seluruh berita-berita lama di pusat dokumentasi kami juga sia-sia. Catatan masa kecilmu seolah biasa-biasa saja, sama dengan ribuan lulusan terbaik sekolah bisnis lainnya. Tapi aku bisa memperolehnya. Belum pernah aku seantusias ini mengobrak-abrik informasi yang ada, termasuk mengancam pembantu di rumah Om Liem misalnya.”

Aku mengusap dahi, terdiam sejenak, mulai mengerti situasinya, lantas tertawa kecil. ”Astaga, Julia. Aku baru tahu bahwa sejak dari pesawat itu kau begitu menyukaiku.”

Wajah jemawa Julia terlipat. ”Maksudmu?”

”Lihatlah, hanya orang yang begitu menyukaiku yang amat penasaran dengan masa laluku, bukan? Jangan-jangan kau menyukaiku sejak pandangan pertama. Kabar buruk bagimu, aku tidak pernah percaya cinta pada pandangan pertama.”

”Tutup mulutmu, Tommi.” Julia melotot, berseru kesal.

Aku tertawa lagi. ”Aku benar, kau semakin cantik jika sedang marah.”

Julia hampir saja melepas sepatunya, melemparkannya padaku, tapi sedetik dia menarik napas panjang, berusaha mengendalikan diri, lantas bergaya menarik kursi, duduk di depanku.

”Edisi breaking news kami terbit besok siang, Thomas.” Dia menatapku datar, seperti tidak terjadi apa-apa sebelumnya, melupakan marahnya barusan. ”Deadline tulisan wawancara itu sore ini. Tetapi aku bisa saja meminta pemimpin redaksi menunggu naskahku hingga detik terakhir sebelum naik cetak tengah malam nanti. Bahkan naskah liputanku tidak perlu masuk ke tangan editor. Bahkan aku bisa meminta perubahan headline dan cover depan. Tidak ada lagi hasil wawancara denganmu di pesawat, wajah tampanmu di cover depan. Tidak ada lagi berita tentang krisis dunia, melainkan digantikan dengan liputan yang lebih panas dan aktual.”

Julia diam sejenak, masih menatapku.

”Aku tidak akan main-main lagi, Thom. Kau tahu, sebelum menemuimu di restoran tadi pagi, aku sudah mencari tahu di mana Om Liem. Dia raib. Pihak polisi menolak menjelaskan, mungkin karena mereka malu. Mereka sedang berusaha matimatian memperbaiki kerusakan sebelum masyarakat luas tahu, berusaha sekuat tenaga menutup-nutupi sebelum hari Senin pengumuman tentang penutupan Bank Semesta dilakukan. Tetapi dari salah satu petugas yang kusumpal dengan uang, aku tahu mereka mengepung rumah Om Liem semalam. Taipan tua itu, pamanmu, kabur seperti orang yang permisi menumpang ke toilet. Kau ada di sana tadi malam, bahkan boleh jadi kaulah yang membantu Om Liem kabur. Ini serius, Thom. Aku wartawan profesional, aku tidak sakit hati kau mengolok-olokku di pesawat itu. Tapi jika kau tidak mau bicara terus terang apa yang sedang terjadi, edisi breaking news review kami besok akan berisi wajah Om Liem, buronan dan liputan tentang bobroknya Bank Semesta.

”Wartawan dan editor lain mungkin mengunyah mentahmentah ceramahmu tadi pagi, tapi aku sama sekali tidak tertarik. Pendapatmu boleh jadi benar, dampak sistemis bisa jadi bukan ilusi, dan bahaya besar sedang mengancam institusi keuangan, bahkan ekonomi nasional, tapi kau tidak dalam posisi pihak independen yang berhak memberikan pendapat. Kau berkepentingan. Jadi sekali lagi, Thom, bicara terus terang padaku, atau media kami akan lebih sibuk membahas tentang bobroknya Bank Semesta, dengan kesimpulan tutup saja segera bank itu, tangkap secepatnya Om Liem di mana pun dia berada, termasuk orang yang membantunya lari tadi malam.”

Julia bahkan tidak menarik napas untuk menuntaskan kalimat ancamannya.

Aku (yang) menghela napas pendek. Sebagai pemain yang baik dalam setiap permainan, aku tahu persis situasiku terdesak. Julia menunggu, dan mata hitamnya tidak berkedip sekali pun.

Suara dering telepon di meja kerjaku memecahkan senyap. ”Ada apa lagi, Mag?”

”Situasi darurat, Thom. Sekuriti lobi baru saja meneleponku, bilang ada beberapa polisi berpakaian sipil menanyakan lantai dan ruangan kerjamu. Mereka sudah naik lift.”

Polisi? Aku langsung melempar gagang telepon, bergegas menumpuk dokumen yang sedang kubaca, memasukkannya dalam boks kecil yang sudah disiapkan Maggie.

”Apa yang terjadi?” Julia berdiri, sedikit bingung.

Mereka ternyata cukup tangguh. Aku tidak menjawab pertanyaan Julia. Aku tahu cepat atau lambat polisi akan mencariku. Selain alamat rumah—yang jarang kutinggali—kantor adalah cara terbaik menemukanku. Tanganku cekatan mengangkat boks dokumen.

”Apa yang terjadi, Thom?” Julia berseru sebal karena merasa didiamkan.

”Aku harus lari, Julia.” Hanya itu jawabanku, lalu bergegas ke luar ruangan.

Maggie menyerahkan dokumen tersisa, menumpuknya di atas boks.

”Kau harus bilang ke mereka, aku tidak masuk kantor hari ini, tidak tahu-menahu, tidak mengerti.”

Maggie mengangguk, wajahnya tegang.

”Jika mereka terus mendesak, kau telepon pengacara kantor, minta ditemani dalam interogasi.”

Maggie mengangguk, wajahnya berubah pucat.

”Tetap berhubungan denganku, Mag. Kau punya nomor telepon genggamku yang tidak diketahui orang lain. Aku akan terus meminta bantuan darimu. Paham?”

Maggie mengangguk, berpegangan pada partisi ruangan, berusaha menenangkan diri. Situasinya dengan cepat berubah menegangkan.

Aku tidak sempat memperhatikan wajah pucat Maggie. Aku segera melangkah keluar dari kantor, berlari-lari kecil di sepanjang lorong menuju lift.

”Thom, apa yang terjadi?” Julia kesal menyusul, berusaha menahan lariku.

Aku hendak menyuruhnya menyingkir, tapi teriakanku tersumbat, segera balik kanan, dengan cepat menyelinap masuk kantor orang lain. Empat polisi berpakaian sipil persis keluar dari lift, melangkah di lorong. Mereka pasti bergegas menuju kantorku.

”Ada yang bisa saya bantu, Pak?” Resepsionis kantor tempatku menyelinap bertanya kepadaku, tersenyum.

Aku tidak mendengarkan, menatap empat polisi yang melintas di depanku, hanya dibatasi dinding kaca transparan. Sekali saja mereka menoleh, mereka akan melihatku yang sedang berdiri membawa boks dokumen.

”Mau bertemu dengan siapa, Pak?”

Aku sudah meninggalkan resepsionis—yang sekarang menatapku bingung. Aku kembali ke lorong gedung menuju lift. Tidak bisa. Dua polisi berpakaian sipil menjaga pintu lift. Mereka sepertinya belajar banyak dari kejadian tadi malam, tidak meninggalkan celah untukku kabur. Juga di tangga darurat, dua polisi menjaga pintunya. Aku mendesah pelan, kembali menyelinap ke kantor orang, bersembunyi sebentar.

”Maaf, ada yang bisa saya bantu, Pak?” resepsionis kembali bertanya.

”Apa yang sebenarnya terjadi, Thom?” Julia juga terus bertanya.

Aku menatap wajah ingin tahu Julia. ”Kau mau tahu banyak hal, Julia?”

Gadis itu balas menatapku, bingung, tapi dia mengangguk. ”Kau bantu aku keluar dari gedung ini, maka akan kucerita-

kan semuanya padamu. Eksklusif. Kau bahkan bisa mendapatkan promosi dari cerita ini.”

Julia berhitung dengan situasi. ”Semuanya?” ”Ya, semuanya.”

”Tidak ada yang ditutup-tutupi?” ”Ayolah, Julia. Aku boleh jadi tipikal orang yang tidak kausukai, menyebalkan. Tapi aku selalu memegang janjiku. Kau akan mendengar semuanya. Terserah kau mau menulis apa setelah itu, dunia ini jelas tidak hitam-putih!” aku berseru jengkel.

Julia mengangguk. Berpikir cepat, lantas melangkah keluar. ”Mau bertemu dengan siapa, Pak?” Sepertinya resepsionis

kantor tempatku menyelinap terlalu banyak menerima pelatihan keramahtamahan, lagi-lagi dia bertanya dengan wajah penuh senyum. Tidak merasa aneh melihat kami yang keluar-masuk kantornya sejak tadi.

Sebelum si resepsionis sempat bertanya lagi, mendadak suara alarm meraung kencang, membuat senyumnya terlipat. Kencang sekali. Membahana di langit-langit setiap lantai gedung.

Aku mendongak, bertanya-tanya.

Julia kembali masuk, tersenyum jahat. ”Aku baru saja memukul alarm kebakaran gedung, Thom.”

Aku menelan ludah.

Ruangan depan kantor tempatku menyelinap dalam hitungan detik sudah dipenuhi orang-orang yang berlari keluar, berebut— termasuk resepsionis amat ramah itu. Hilang sudah senyum manisnya, dia justru berteriak paling panik. ”Kebakaran! Kebakaran!”

”Bergegas, Thom. Kita bisa kabur dari polisi dalam situasi seperti ini.” Julia sudah mengambil sebagian dokumen dalam boks, berlari dalam keramaian menuju tangga darurat.

Genius. Aku akhirnya mengembuskan napas, mengangguk.

Sepertinya aku telah menemukan teman setara dalam pelarian ini. ***

Meski hari Sabtu, tetap banyak karyawan yang masuk kantor di gedung 24 lantai itu. Lobi, parkiran, lorong, tangga darurat, segera dipenuhi orang-orang. Dalam situasi seperti ini, tidak mudah mengenali wajah. Aku melewati dua polisi berpakaian sipil yang bingung melihat gelombang orang berlarian. Mereka terpaksa menyingkir. Di lobi ada beberapa polisi lainnya yang berjaga, celingukan, memeriksa, tapi mereka tidak bisa melakukan apa pun selain justru mengikuti komando evakuasi dari petugas sekuriti gedung. 

Julia memimpin jalan—aku mendengus dalam hati untuk dua hal. Satu, untuk jelas-jelas aku lebih tahu arah jalan dan tempat parkir mobilku dibanding dia, karena ini gedung perkantoranku. Dua, untuk sial, saat berdesak-desakan turun tadi, dengan boks penuh dokumen aku terjerembap. Kakiku terkilir. Tidak serius, tapi cukup menghambat kecepatan, membuatku terpincangpincang menerobos kerumunan.

”Mana mobilmu?” Julia berseru, meningkahi keributan orang yang menonton, orang-orang yang sibuk mendongak, bertanyatanya di lantai berapa kebakaran terjadi. Suara raungan alarm terdengar hingga jalan, ditingkahi suara sirene mobil pemadam kebakaran milik kompleks perkantoran.

Aku menunjuk area parkiran, meraih kunci di saku, sambil satu tangan mengepit boks. Mengeluh, dengan tumit kaki yang masih terasa ngilu, aku tidak bisa mengemudi.

”Kau bisa mengemudi?” aku berseru bertanya.

”Tentu saja bisa,” Julia menjawab kasar, tersinggung. ”Eh, maksudku, kau bisa mengemudikan mobil ini?” Wajah marahnya segera terlipat, dia mematung sejenak. Aku sudah melemparkan kunci.

Julia bergumam, entahlah, menyeka pelipis, lantas membuka pintu mobil. Aku melemparkan boks sembarangan, dokumennya berserakan. Aku segera masuk lalu mengempaskan punggung di jok berlapis kulit asli.

Lima belas detik berlalu, kami sudah meninggalkan keributan halaman gedung. Mobilku berpapasan dengan mobil pemadam kebakaran lain dengan sirene meraung, baru datang dari gardu pemadam terdekat.

Aku melepas sepatu, meluruskan kaki, berusaha memberikan napas ke tumitku yang terkilir. Julia menekan pedal gas lebih dalam, meski dia sedikit gugup dengan interior mobil, termasuk sedikit pucat dengan betapa bertenaganya mobil yang dia kemudikan—mobil seperti terbanting saat digas. Tapi gadis di sebelahku itu cepat menyesuaikan diri.

Aku belum bisa menghela napas lega. Setelah keributan pulih, petugas tahu alarm itu palsu, Maggie tidak akan bisa menahan lama polisi.

Telepon genggamku berdering. ”Kau di mana, Thom?” Suara Ram.

”Aku sedang kabur, di mana lagi?” aku balas berteriak.

Ram tertawa prihatin. ”Maaf, Thom. Aku persis di parkiran gedung kantormu, hendak memastikan apakah dokumen Bank Semesta yang kukirim sudah diterima stafmu. Astaga, ramai sekali di sini. Kupikir ada kejadian apa. Om Liem bersamamu, Thom?”

”Om Liem di rumah peristirahatan Opa, Waduk Jatiluhur.

Dia aman di sana.” Ram bergumam sesuatu, syukurlah, atau thank God, aku tidak mendengar jelas kalimatnya.

”Kau sudah terima dokumennya?” ”Sudah, Ram.”

”Sudah kaubaca?”

”Astaga, kau dengar, Ram, sekarang bukan waktunya bercakap-cakap. Hubungi aku kalau ada kabar penting saja.” Aku segera mematikan telepon genggam, menghela napas panjang, kupikir tadi telepon dari siapa lagi atau kejutan baru lagi.

”Ini hebat, Thom!” Julia berseru dari belakang kemudi. Aku menoleh.

Gadis itu seperti lupa bahwa dia baru saja mengancamku di ruang kerjaku, atau baru saja lari dari polisi yang hendak menangkapku. Sekarang wajahnya antusias, tangannya kokoh memegang kemudi.

”Mobil ini ada asuransinya, kan?” Julia balas menoleh, menyengir. ”Aku tidak bisa menahan diri untuk tidak ngebut, Thom. Kalau sampai menabrak sesuatu, aku tidak bisa menggantinya.”

Aku balas menyengir. Mobil melesat menyalip tiga kendaraan sekaligus di jalan protokol Jakarta. Julia tidak bohong, dia pandai mengemudi.

”Sayangnya mobil hebatmu ini tidak ada GPS-nya, Thom. Apa susahnya kau membeli sistem navigasi yang hebat, jadi kita bisa tahu jalan mana saja yang harus ditempuh, tahu jalan mana saja yang macet. Apa gunanya mobil sehebat ini kalau kau tidak bisa ngebut?”

”GPS?” aku bertanya, tiba-tiba merasa ada sesuatu yang salah telah kulakukan. ”Iya, GPS, Thom. Global positioning system, sistem navigasi sekaligus alat tracking. Kau sepertinya bukan anak muda yang suka gadget, Thom.”

Aku mengutuk Julia dalam hati, tentu saja aku tahu apa itu GPS. Pertanyaanku retoris, karena aku sedang mengingat kekeliruan apa yang telah kulakukan selama kabur semalam.

”Ada dua jenisnya, Thom. GPS untuk navigasi atau tracking. Hari ini, jangankan mobil mahal, truk untuk operasional tambang, truk peti kemas, mobil boks kurir, bus, ambulans, bahkan taksi, semua dilengkapi GPS. Setidaknya GPS tracking untuk mengetahui posisi mereka di mana, demi efisiensi dan alasan keamanan armada.” Julia terus menjelaskan, menganggap seringai burukku tanda tidak mengerti.

Aku benar-benar mematung.

”Ke mana tujuan kita, Thom?” Julia bertanya, antusias menyalip lagi deretan mobil. Dia bahkan berani mengambil marka jalan sebelah kiri, membuat pejalan kaki berteriak mengacungkan tinju.

Astaga, aku sungguh telah melakukan kesalahan besar. Apa kata Julia barusan? Ambulans? Aku tahu GPS tracking. Benda kecil berbentuk chip itu dibenamkan di jendela, pintu, atau bagian tertentu mobil, lantas memancarkan sinyal secara kontinu untuk memberitahukan posisi mobil. Satelit menangkap data itu, sehingga pemilik mobil bisa dengan cepat membaca di mana saja armada kendaraan yang mereka miliki berkeliaran di jalan. Aku menepuk dahi. Rumah sakit yang mengirimkan ambulans untuk Om Liem tadi malam pastilah memiliki mekanisme ini. Ambulans.

”Kita sekarang ke mana, Thom?” Julia bertanya lagi. ”Tol, masuk pintu tol keluar kota,” aku mendesis. Suaraku bergetar oleh kecemasan.

Sekali saja polisi mendatangi rumah sakit, sekali saja mereka meminta data posisi ambulans milik mereka yang dilarikan semalam, dengan segera mereka tahu posisi Om Liem.

”Ngebut, Julia!” aku menyuruh. ”Kau serius?” Julia tertawa.

”Aku lebih dari serius, Julia! Ngebut sebisamu, jangan pedulikan banyak hal. Mobil ini dilindungi asuransi berkali-kali lipat nilainya.”

Julia mengangguk mantap, rahangnya mengeras. Dia menekan pedal gas lebih dalam. Seperti peluru yang ditembakkan, mobil yang dikemudikan Julia melesat menaiki fly over, langsung menuju pintu tol. 
Bagikan Novel ini Sebegai bentuk dukungan untuk situs ini 😊