menu

Negeri di Ujung Tanduk Epilog

Mode Malam
Epilog

DENGAN menumpang helikopter Lee, setengah jam kemudian aku tiba di rumah sakit tempat Om Liem lebih dulu di-

bawa. Menurut informasi dokter, kondisi Om Liem stabil meski fisiknya amat lemah, harus banyak tidur, beristirahat. Situasi terburuk baginya adalah harus berjalan dengan tongkat jika ternyata kaki kanannya tidak bisa digerakkan lagi seperti semula karena tertembus peluru. Itu tidak terlalu buruk, mengingat masih banyak kemungkinan yang lebih mengerikan yang bisa terjadi di atas kapal kontainer itu.

Rudi dan Detektif Liu masih di atas kapal, mengurus penangkapan besar-besaran. Seluruh tersangka dinaikkan ke atas kapal polisi, dibawa ke markas besar kepolisian Hong Kong. Jika semua urusan administrasi selesai, pesawat Hercules milik angkatan udara yang dibawa Rudi sepertinya penuh sesak saat kembali ke Jakarta, membawa sebagian besar anggota mafia hukum ring pertama dalam daftar yang dibuat Kris. Ada banyak kasus hukum yang menunggu mereka, proses pengadilan massal telah menunggu di Jakarta.

Tuan Shinpei, yang memiliki paspor Hong Kong, ditahan satuan khusus antiteror Hong Kong SAR. Lebih banyak tuntutan yang harus dia hadapi di sini, termasuk jebakan yang dia lakukan di kapal pesiar. Dia mengakui sendiri hal itu sebelum baku tembak terjadi dan Detektif Liu merekam semuanya—itulah kenapa Rudi terus menahanku bertindak, dengan menempelkan moncong pistol di pelipis lebih keras, agar lebih banyak informasi yang diperoleh. Tuan Shinpei, pemilik bisnis besar di Hong Kong, penguasa dunia hitam di Hong Kong, orang nomor satu dalam mafia hukum di Jakarta telah tamat riwayatnya, tidak ada celah hukum yang bisa dia rekayasa.

Aku tidak akan menembaknya di kapal kontainer, bahkan jika aku punya berkali-kali kesempatan dan Detektif Liu tidak keberatan, pembalasan terbaik bagi Tuan Shinpei adalah menjalani proses hukum dengan adil tanpa ampun, sesuatu yang selama ini berkali-kali dia hinakan. Tidak ada yang lebih menyakitkan bagi Tuan Shinpei, selain menghabiskan sisa hidupnya dalam penjara, hukuman dari proses pengadilan yang benar, sesuatu yang tidak pernah dipercayainya. Hukum bisa ditegakkan.

Om Liem dirawat di salah satu ruangan rumah sakit. Sedang beristirahat, dokter melarang kami mengganggunya. Aku mengangguk, membiarkan Om Liem tidur, meminjam telepon genggam Lee yang masih menunggu bersamaku, segera menghubungi Maggie.

Belum genap satu kali nada panggil, Maggie sudah mengangkat telepon. Suara Maggie terdengar bergetar, berseru lebih dulu dengan intonasi penuh cemas dan harap, ”Thomas?” Dia pasti mengenali kode negara di layar teleponnya.

”Iya, ini aku, Meg,” aku menjawab pelan.

Maggie menangis. Membuat orang-orang di ruangan kerja Kris menoleh, termasuk Maryam dan Tante Liem yang menunggu cemas sejak tadi malam.

”Aku baik-baik saja. Hanya lecet, lebam, sedikit bengkak,” aku mencoba bergurau. ”Bukankah kau selalu bilang, Thomas akan selalu kembali ke kantornya, apa pun yang terjadi di luar sana.” Maggie tidak menjawab, dia berusaha menghentikan tangis-

nya.

”Suruh staf kantor segera menjemput Kadek dan Opa di sekolah berasrama, Meg.” Aku mulai memberikan tugas, dan Maggie bergegas menyeka pipinya, cekatan meraih notes dan bolpoin. ”Kausiapkan perjalanan mereka ke Hong Kong, juga tiket untuk Tante Liem. Mereka bisa membesuk Om Liem. Nah, khusus yang satu ini, kau boleh ikut serta. Kau sudah lama tidak berlibur, bukan? Kau bisa mengambil cuti selama yang kau mau, memilih hotel terbaik, berkunjung ke lokasi wisata, tagihkan semuanya ke kantor.”

Maggie tidak berkomentar, tapi aku tahu, itu sesuatu yang layak dia terima atas banyak bantuan yang telah dia berikan.

”Bilang ke Maryam, semua tuduhan di Hong Kong telah dicabut oleh kepolisian. Dia bisa mengambil seluruh dokumen perjalanan, paspor, dan barang-barang yang disita. Kalau kau tidak keberatan satu perjalanan dengan nenek lampir itu, kau pesankan tiket sekalian untuknya ke Hong Kong bersama yang lain. Tapi itu kalau kau tidak keberatan. Mengingat beberapa hari lalu kau masih meributkan prospek disuruh-suruh untuk keperluan Maryam.”

Maggie mendengus pelan. Aku bisa mendengarnya.

Aku sempat bicara dengan Tante setelah memberikan satudua tugas lain ke Maggie. Suara Tante terdengar serak. Sejak tadi malam dia amat mencemaskan Om Liem. Aku tahu, sebenci apa pun, tetap jauh lebih besar rasa sayang Tante pada Om Liem. Sayangnya, Om Liem sedang tidur, jadi aku tidak bisa memberikan telepon genggam kepadanya agar Tante bisa bicara.

Aku juga bicara dengan Maryam. Suaranya juga serak, kurang tidur, berantakan, cemas, tegang, tapi di luar itu, dia baik-baik saja. Dalam urusan ini, bukan Maryam, akulah yang menghela napas lega, karena Maryam tidak jadi kehilangan karier, masa depan, semuanya. Dia tidak kehilangan kehidupannya. Aku akan merasa amat bersalah jika Maryam harus menghabiskan hidupnya menjadi buronan hanya karena dia datang di tempat dan waktu yang keliru.

”Kita memenangi konvensi, Thomas...,” Maryam menyampaikan kabar hebat itu. ”Maksudku klien politikmu telah memenangi konvensi partai di Denpasar.”

”Kau tidak sedang bergurau?”

”Tidak, Thom. Baru setengah jam lalu voting kandidat presiden selesai dilaksanakan. Disiarkan langsung oleh beberapa stasiun televisi. Klien politikmu menang telak dalam penghitungan suara, nyaris sembilan puluh persen. Itu sungguh mengharukan. Kemenangan besar. Kau berhasil, Thomas. Kaulah yang membuatnya terjadi.”

”Kita yang berhasil, Maryam. Kau membantu banyak.” Aku menutup telepon setelah satu dua kalimat lagi tentang kabar hebat dari Maryam. Dengan kabar baik dari konvensi partai, semua urusan rampung sudah. Aku menyerahkan telepon genggam kepada Lee.

Aku menghela napas panjang, menatap lorong rumah sakit tempat kamar Om Liem berada. Lorong itu lengang, hanya sesekali dokter dan perawat melintas memeriksa pasien.

”Ada seseorang yang ingin bertemu denganmu, Thomas.” Lee menepuk bahuku.

Aku menoleh. Siapa?

”Sebentar lagi tiba. Sebelum kau menelepon, beliau sudah menuju kemari.”

”Siapa?” aku bertanya.

”Kau akan suka bertemu dengannya, Thomas. Kecuali bagian yang itu, cerita-cerita lama. Maksudku tentu saja itu penting, tapi ayolah, diceritakan berkali-kali seperti kaset rusak. Aku sampai hafal setiap kalimatnya.” Lee tertawa.

Aku ikut tertawa, aku tahu siapa yang dimaksudkan Lee.

”Tapi kau jangan bilang-bilang padanya aku mengeluh soal ini, Thomas.”

Aku menggeleng. Aku juga punya masalah yang sama dengan Lee.

***

Lima menit menunggu, pintu lorong terbuka. Ditemani beberapa staf, orang yang ingin menemuiku itu melangkah masuk. Aku berdiri, menatap wajah tua yang semakin dekat. Itu adalah Chai Ten, kakek Lee, teman perjalanan Opa saat mengungsi dari tanah kelahiran mereka enam puluh tahun lalu.

Wajah Chai Ten teduh, tatapan matanya bercahaya. Usianya sama dengan Opa. Perawakannya saja yang berbeda. Kakek Lee lebih tinggi dan tubuhnya lebih berisi. Lee benar, aku menyukainya. Dalam banyak hal, kakek Lee mirip dengan Opa. Suaranya yang bersahabat, gestur wajah yang menghargai.

”Ini kebahagiaan besar, Thomas, bertemu dan memeluk langsung cucu orang yang pernah menyelamatkan hidupku.” Kakek Lee menatapku penuh penghargaan.

Aku mengangguk, bilang terima kasih banyak atas bantuannya.

Kakek Lee menggeleng, semua itu tidak seberapa.

Kakek Lee menatapku takzim, lantas dia berkata pelan, ”Kau tahu, Nak, sepotong intan terbaik dihasilkan dari dua hal: suhu dan tekanan tinggi di perut bumi. Semakin tinggi suhu yang diterimanya, semakin tinggi tekanan yang diperolehnya. Jika dia bisa bertahan, tidak hancur, dia justru berubah menjadi intan yang berkilau tiada tara. Keras. Kokoh. Mahal harganya.

”Sama halnya dengan kehidupan, seluruh kejadian menyakitkan yang kita alami, semakin dalam dan menyedihkan rasanya, jika kita bisa bertahan, tidak hancur, kita akan tumbuh menjadi seseorang yang berkarakter laksana intan. Keras. Kokoh. Seperti jalan hidupmu, Thomas. Aku tahu dari cerita Lee. Orangtuamu dibakar, masa kanak-kanak dan remajamu penuh kesedihan, dibebani kenangan abu orangtua. Tapi lihatlah, kau menjadi seseorang yang begitu gagah, amat membanggakan.

”Kau mewarisi seluruh kebijakan hidup yang dimiliki opamu, Thomas. Dia juga pernah mengalami masa-masa sulit pada masa mudanya. Perjalanan dengan kapal nelayan itu, mengungsi dari tanah kelahiran, tidak saja membuatnya menjadi kokoh, mampu bertahan dari kesulitan hidup, tapi lebih dari itu, membuktikan opamu memiliki hati yang mulia.

”Kau tahu, Thomas, jarak antara akhir yang baik dan akhir yang buruk dari semua cerita hari ini hanya dipisahkan oleh sesuatu yang kecil saja, yaitu kepedulian. Opamu memilih peduli, maka dengan seluruh kesusahan, dengan keterbatasan yang dia miliki, dia tetap memutuskan menolongku yang sakit parah di atas kapal nelayan itu, meskipun itu bisa menyulitkan bahkan membahayakan dirinya sendiri. Dengan kepedulian dia bersedia membagi jatah makanannya yang sedikit, memberikan air minum yang susah payah didapat. Dengan kepedulian dia bersedia merawatku siang-malam, berhari-hari. Apa untungnya bagi opamu saat itu? Tidak ada. Tetapi panggilan hatinya membuatnya melakukan semua itu. Enam puluh tahun kemudian, sepotong kejadian tersebut memberikan perbedaan. Kita tidak tahu apa yang terjadi hari ini kalau opamu memilih tidak peduli. Aku sakit keras, sekarat, tidak ada pertolongan berarti hanya soal waktu tubuh dinginku dilempar ke lautan.

”Begitu juga hidup ini, Thomas. Kepedulian kita hari ini akan memberikan perbedaan berarti pada masa depan. Kecil saja, sepertinya sepele, tapi bisa besar dampaknya pada masa mendatang. Apalagi jika kepedulian itu besar, seperti yang dilakukan opamu terhadapku, lebih besar lagi bedanya pada masa mendatang.

”Selalulah menjadi seperti opamu, Nak. Selalulah menjadi anak muda yang peduli, memilih jalan suci penuh kemuliaan. Kau akan menjalani kehidupan ini penuh dengan kehormatan. Kehormatan seorang petarung.”

T A M A T
Bagikan Novel ini Sebegai bentuk dukungan untuk situs ini 😊