menu

Negeri di Ujung Tanduk Bab 32: Bantuan Terakhir

Mode Malam
Bab 32: Bantuan Terakhir
DI tengah kepulan asap, hiruk pikuk suara tembakan, te-

riakan orang-orang bersenjata, suara mengaduh tertahan, aku, Rudi, dan Detektif Liu bahu-membahu terus merangsek maju, mendekati kursi plastik Om Liem.

Anggota pasukan yang dibawa Rudi dan Detektif Liu menembaki sisi-sisi ruangan, ke arah tumpukan kursi, meja panjang, dan perabotan yang digunakan untuk bersembunyi. Belasan undangan, orang-orang penting anggota mafia hukum yang hadir dalam acara itu lari berserabutan melewati pintu belakang, menyisakan puluhan orang bersenjata. Mereka terus menembaki kami di antara kepulan asap.

Rudi di sebelah kananku melemparkan granat sungguhan ke salah satu pojok ruangan. Granat itu meledak, mengeluarkan nyala api bersama kepingan kayu. Terdengar jeritan dari pojok ruangan, tiga orang yang terus menembaki kami dari pojok itu tumbang. Di sebelah kiriku, Detektif Liu dengan gagah berani menerobos kepulan asap, meloncat melepaskan enam tembakan beruntun. Tiga orang roboh lagi dari pojok ruangan yang berbeda. Aku mengurus orang-orang bersenjata yang datang dari depan. Lawan kami pasti mulai tersudut. Mereka mulai berhitung. Beberapa menyusul lari ke pintu belakang ruangan.

Aku sudah tiba di kursi plastik, mendekat sambil melepas empat tembakan beruntun. Dua orang bersenjata yang masih menjaga Om Liem terbanting jatuh, bahkan sebelum dia menyadari dari mana asal peluru di tengah kepulan asap. Aku melompat mendekati kursi plastik. Om Liem terkulai di atasnya. Tubuhnya semakin lemah, terlihat mengenaskan. Tapi dia masih bernapas. Dengan bantuan dua anggota pasukan Rudi yang muncul dari belakangku, kami mengangkat Om Liem.

”Bertahanlah, Om. Bertahanlah,” aku berbisik.

Mata layu Om Liem mengerjap-ngerjap menatapku. Dia sesak entah karena apa, atau hendak bilang apa. Dua anggota pasukan Rudi menggotong Om Liem mundur ke pintu depan.

”Kau kau memanggilku Om, Tommi?”

Om Liem berbisik. Matanya basah oleh air mata. Aku menggenggam erat tangan Om Liem.

Tentu saja aku akan memanggilnya dengan sebutan Om. Dia telah menunjukkan kemauan kuat untuk berubah. Dia bertahan begitu jauh untuk membuktikan dia layak dipanggil dengan sebutan itu.

Lima menit berlalu sejak Rudi menembak jenderal bintang tiga yang tubuhnya terkapar di kakiku. Ruangan besar dengan kepulan asap itu kembali lengang. Tidak ada lagi suara tembakan, teriakan, atau suara mengaduh. Seluruh sudut ruangan dipenuhi orang bersenjata yang tergeletak dengan senjata di tangan. Percik darah menyiram lantai dan dinding. Sebagian besar lawan kami memilih menyingkir dari ruangan, entah kabur, boleh jadi sedang melakukan konsolidasi sebelum menyerang balik.

”Kita harus segera pergi, Liu!” Rudi berteriak.

Detektif Liu mengangguk, meneriaki anak buahnya, ”Kembali ke kapal tug segera. Cepat atau lambat mereka akan datang dengan jumlah berlipat ganda. Kapal kontainer ini markas mereka, kita tidak tahu ada berapa orang anggota mafia mereka di sini.”

Aku melangkah di sebelah Om Liem yang dibawa keluar dari ruangan penuh kepulan asap, menuruni anak tangga.

”Move! Move!” Detektif Liu berseru, menyuruh kami bergerak lebih cepat.

Rombongan sekarang melintasi geladak yang dipenuhi tumpukan ribuan kontainer. Detektif Liu dan Rudi memimpin di depan, berlari-lari kecil. Senapan mengacung, terus siaga dengan segala kemungkinan.

”Bertahanlah, Om! Bertahanlah demi Tante,” aku berbisik panik. Celana Om Liem basah kuyup oleh darah. Napasnya mulai tersengal. ”Kita akan segera tiba di kapal tug, segera menuju Hong Kong, dan Om akan mendapatkan pertolongan medis.”

Om Liem mengangguk lemah.

Empat orang bersenjata terlihat berdiri menjaga tangga yang terjulur ke kapal tug. Rudi dan Detektif Liu tanpa banyak cakap melepas empat tembakan. Mereka tersungkur roboh. Kami sudah dekat sekali dengan kapal tug, tinggal belasan meter. Aku menghela napas lega. Rudi menyuruh dua anggota pasukannya yang menggendong Om Liem agar maju, bergerak lebih dulu menuruni tangga tali. Sial, justru saat itulah, sebuah roket ditembakkan lebih dulu dari geladak helipad, dari tempat paling tinggi di kapal kontainer. Roket itu menghantam telak kapal tug, membuatnya meledak, hancur berkeping-keping. Rudi berteriak menyuruh tiarap. Kobaran api menjilat hingga ke atas kapal kontainer. Panasnya terasa. Ribuan pecahan dinding kapal tug merekah ke udara. Dua anggota pasukan Rudi refleks melindungi tubuh Om Liem. Situasi menjadi di luar kendali. Keunggulan kami sebelumnya musnah begitu saja. Satu-satunya kendaraan untuk meninggalkan kapal kontainer hancur lebur. Dan yang lebih serius, lepas hantaman roket ke kapal tug itu, dari setiap sudut kapal kontainer itu muncul puluhan orang bersenjata. Lebih banyak di-

banding yang ada di ruangan sebelumnya.

Rudi berpikir cepat, berteriak, ”Ambil posisi berlindung!” ”Take cover! Everybody take cover!” Detektif Liu meneriaki

anggota pasukannya.

Om Liem digotong ke salah satu sudut geladak kapal, berlindung di balik tumpukan kontainer. Aku, Rudi, dan Detektif Liu berdiskusi cepat, segera membagi posisi bertahan. Aku, Rudi, dan anggota pasukannya menjaga serangan dari sisi sebelah kanan. Detektif Liu dan anggota pasukannya dari sisi sebelah kiri.

Puluhan orang bersenjata, anggota mafia anak buah Tuan Shinpei mulai melepaskan tembakan. Mereka merangsek maju melewati kontainer demi kontainer. Sepertinya seluruh isi kapal keluar ke geladak, menyerbu tempat kami berlindung. Peluru berdatangan bagai hujan, entah sudah seperti apa sisi luar tumpukan kontainer tempat kami berlindung. Ingar-bingar peluru menghantam dinding kontainer terdengar memekakkan telinga. ”Kapan bantuan dari kepolisian Hong Kong tiba, Liu?” Rudi berteriak dari sebelahku, berusaha menahan gerakan orang-orang

bersenjata, balas menembak.

”Setengah jam lagi!” Detektif Liu balas berteriak.

Rudi mengeluarkan seruan kesal sambil terus melepas tembakan ke depan, ”Setengah jam kau bilang? Jika kita tidak tertembak duluan, kita sudah kehabisan peluru, Liu!”

Lima menit berlalu, posisi rombongan semakin terjepit, gelombang demi gelombang serangan puluhan orang bersenjata itu tidak berhenti, semakin ganas. Dan belum sempat kami memperhitungkan situasi, memikirkan jalan keluar, termasuk kemungkinan loncat ke lautan, sebuah roket ditembakkan lagi dari geladak helipad.

”Tiaraaap!” aku dan Rudi berteriak nyaris serempak.

Roket itu menghantam kontainer tempat kami berlindung, meledak, menghancurkan dinding luarnya, membuat isi kontainer—sabun dan pasta gigi—terbang ke mana-mana. Dua anggota pasukan Rudi terpental satu meter, menghantam dinding kontainer di belakang, terkapar tidak berdaya, entah bagaimana kondisinya. Dua rekan lainnya bergegas membantu.

”Kau tidak apa-apa?” Rudi bertanya padaku. Aku menggeleng, segera bangkit.

”Ada yang harus melumpuhkan orang yang membawa pelontar roket di atas helipad itu. Atau kita lebih dulu hancur berkeping-keping seperti pasta gigi ini.” Rudi mengeluh. Kami bersandar rapat, berlindung di kontainer yang tersisa dari rentetan peluru senapan. Aku bergumam pelan. Tidak ada solusinya. Tidak ada jalan keluar untuk melumpuhkan orang yang membawa pelontar roket di atas sana. Jaraknya terlalu jauh dan kami sedang terdesak habis-habisan oleh puluhan orang yang terus merangsek semakin dekat.

”Amunisimu sisa berapa?” Rudi menoleh. ”Hanya yang ada di dalam pistol.”

Rudi memaki lagi. Pelurunya juga tinggal sedikit.

Rudi menggeleng pelan, menatapku lamat-lamat. Beberapa anggota pasukannya terkapar terkena tembakan. Juga anggota pasukan Detektif Liu. Pertahanan kami semakin ringkih, hanya menyisakan peluru terakhir.

”Sepertinya kita akan habis di sini, Thomas?” Rudi tertawa. Aku balas menatap Rudi.

”Aku selalu bangga bisa bertarung bersisian bersamamu, Thomas.” Rudi menatapku penuh penghargaan. ”Kau petarung terbaik yang pernah kuhadapi.”

Aku menelan ludah, kehabisan kata-kata untuk menjawab kalimat Rudi.

”Biarlah kita berakhir di sini, Kawan. Mari kita selesaikan pertarungan ini dengan baik. Seperti menari indah di atas arena, seperti menyanyikan lagu terakhir.” Rudi tertawa, mendongak. Cahaya matahari pagi menyiram kapal kontainer itu, lembut membasuh wajah-wajah kami, wajah Rudi yang begitu mengesankan.

Rudi sungguh polisi paling terhormat yang pernah kukenal. Aku menatap Rudi, juga penuh penghargaan, ikut  tertawa.

”Kau benar, Rud. Mari kita selesaikan semuanya dengan megah. Aku juga selalu bangga bisa bertarung bersisian bersamamu, Rud.”

Kami berdua saling mengangguk untuk terakhir kalinya. Menggenggam senjata erat-erat, siap meloncat keluar dari perlindungan kontainer, melepaskan peluru terakhir.

***

Tapi suara kelepak baling-baling dari kejauhan terdengar lebih dulu.

Semakin lama semakin kencang, gerakanku dan gerakan Rudi tertahan. Kami menoleh ke sisi kanan kapal kontainer. Lihatlah, di atas lautan, bergerak cepat dua buah helikopter pemburu. Itu helikopter milik kepolisian Hong Kong? Mereka datang lebih cepat? Bukan, itu jelas bukan helikopter milik kepolisian Hong Kong?

Aku bergumam mengeluh, jangan-jangan bala bantuan untuk Tuan Shinpei. Kondisi kami sudah terdesak sedemikian rupa, ditambah dua helikopter mendekat cepat, tidak akan ada kesempatan lagi. Orang-orang bersenjata yang mengepung dan terus menembaki kami menahan tembakan. Mereka ikut menoleh ke atas lautan. Berseru satu sama lain, berusaha memastikan siapa yang datang.

Sebelum orang-orang di atas kapal tahu di pihak siapa helikopter itu, dua helikopter itu sudah mengambil posisi mengambang di udara, empat puluh meter dari kapal kontainer, dengan pintu sisi-sisinya terbuka lebar. Dan dari pintu terbuka itu, dua senapan mesin alias mitraliur, dengan peluru kaliber tidak kurang dari 0,5 milimeter terlihat gagah ditopang tripod. Itu senapan paling mematikan. Bisa melepaskan ratusan peluru dalam satu menit.

Sedetik berlalu.

Bagai melukis dinding dengan kuas, atau seperti melukis di atas pasir, dua mitraliur dari dua helikopter pemburu menyalak, memuntahkan peluru, menerpa tumpukan kontainer, menghabisi orang-orang bersenjata yang mengejar kami, juga orang-orang yang membawa senjata berat pelontar roket, yang berada di helipad, semua tumbang hanya dalam hitungan detik, menyisakan teriakan parau, jeritan kesakitan. Beberapa orang bersenjata berusaha membalas tembakan, tapi mereka kalah posisi, kalah cepat, dan senjata mereka tidak memadai untuk peperangan jarak jauh seperti itu.

Pertempuran telah berakhir.

Siapa pun orang di atas sana, yang membawa dua helikopter dan mitraliur, telah memberikan kemenangan kepada kami.

Rudi menatapnya setengah tidak percaya, menyeka peluh di dahi.

Detektif Liu mengembuskan napas lega. Aku bergegas memeriksa kondisi Om Liem.

***

Lengang di atas geladak kapal. Sisa-sisa orang bersenjata sebagian besar kabur masuk ke kapal, sebagian lagi panik meloncat ke lautan.

Salah satu helikopter pemburu mendekati posisi kami. Satu tali terjulur ke bawah, seseorang dengan gesit meloncat turun, meluncur di tali tersebut. Satu meter sebelum kakinya menjejak geladak, dia sudah cekatan melompat ke atas geladak kapal.

Aku mengenalinya. Orang yang kukalahkan dalam pertarungan di klub petarung Makau beberapa hari lalu. Lee si Monster.

Lee melepas sarung tangannya, mengulurkan tangan. ”Apa kabar, Thomas?”

Aku menepuk dahi, sungguh kejutan besar. Memeluknya. Dia melepas pelukan sejenak, menatapku sambil tersenyum,

mengangguk takzim. ”Tidak ada, tidak ada satu orang pun yang boleh menyakiti keturunan Opa Chan di Hong Kong, Makau, dan daratan Cina.”

”Bagaimana kau tahu kami berada di sini?”

”Kami mengirim tim khusus untuk mencari informasi sejak penjebakan di kapal pesiar dua hari lalu. Tadi malam tim khusus kami melaporkan ada kegiatan besar jauh di teluk Hong Kong. Sumber kami di kantor imigrasi juga melaporkan dokumen perjalanan sementara yang kaugunakan melintas masuk Hong Kong jam lima pagi, ditambah sumber rahasia di kepolisian yang menyebutkan Detektif Liu sedang melakukan penyerbuan, maka informasi yang kami miliki menjadi lengkap. Aku bisa mengambil kesimpulan, sesuatu sedang terjadi.

”Aku segera berangkat dengan membawa dua helikopter pemburu militer Cina—kau tahu, Kakek Chai dekat dengan banyak pihak di Guangzhou, termasuk dengan jenderal di markas militer. Aku pernah mengikuti pelatihan di barak tentara selama delapan belas bulan, meski tidak meneruskan karier tersebut. Terimalah bantuan kecil dari keluarga kami, Thomas.”

Aku balas mengangguk takzim, meninju pelan bahunya. ”Apakah kau selalu datang dengan bergaya seperti ini, Lee? Mobil SUV itu. Lolos dari tiga ratus dinamit. Gedung yang runtuh. Dan sekarang, kau datang dengan dua helikopter pemburu.”

”Kau tahu, Thomas, tapi ini rahasia di antara kita saja. Aku tidak bisa menahan diri untuk tidak melakukannya. Itu selalu menyenangkan.” Lee tertawa kecil. ”Nah, sebelum kita bicara lebih banyak, termasuk membahas kapan pertarungan ulang antara kau dan aku segera dilakukan, sepertinya ada hal mendesak yang harus diurus.”

Aku mengangguk. Om Liem, dia harus segera mendapatkan pertolongan.

Beberapa tali diturunkan lagi dari atas helikopter. Beberapa orang mengikat tubuh Om Liem dengan hati-hati. Helikopter itu tidak bisa mendarat di atas kapal, helipad sudah hancur lebur. Hampir seluruh tumpukan kontainer berantakan. Satu menit berlalu, Om Liem dengan dijaga satu orang anggota pasukan Detektif Liu yang ikut bergelantungan, dibawa secepat mungkin ke Hong Kong.

Enam kapal cepat milik kepolisian Hong Kong tiba beberapa saat kemudian, langsung mengepung kapal kontainer itu. Puluhan polisi naik ke atas kapal. Mereka langsung menyisir seluruh kapal kontainer, menangkap Tuan Shinpei yang bersembunyi di salah satu ruangan bersama belasan anak buahnya yang mengenakan topeng dan belasan orang lainnya, termasuk anggota mafia hukum.

Kapal kontainer New Panamax itu telah resmi dikuasai. Pasukan khusus antiteror Hong Kong SAR yang dipimpin Detektif Liu menyita kapal dan seluruh isinya. Semua kekacauan telah berakhir. Aku melepas jam tangan dari pergelangan, melemparkannya kepada Rudi.

”Terima kasih banyak telah meminjamiku, Rud. Tapi maaf, sudah cukup kau mengintai kehidupanku, menguping pembicaraan, bahkan tahu di mana aku berada. Aku kembalikan jam tanganmu.”

”Hei, kau bisa menyimpannya, Thom. Kenang-kenangan. Kalau kau keberatan diawasi, aku dengan mudah bisa mematikan alat penyadap dan pelacaknya.”

Aku tertawa, menggeleng. ”Aku tidak percaya denganmu soal itu, Rud.”

Rudi ikut tertawa. 
Bagikan Novel ini Sebegai bentuk dukungan untuk situs ini 😊