menu

Negeri di Ujung Tanduk Bab 30: New Panamax

Mode Malam
Bab 30: New Panamax
PUKUL 05.00. Pesawat mendarat mulus di bandara Hong Kong.

Tidak ada yang menghalangiku di pintu imigrasi. Petugasnya hanya menatap sekilas, menstempel dokumen milikku. Tidak ada anggota pasukan khusus antiteror Hong Kong SAR yang dipimpin Detektif Liu yang menunggu di lobi kedatangan internasional. Aku bisa melenggang naik taksi, meninggalkan bandara seperti ribuan orang lainnya.

Pengemudi taksi bertanya tujuanku dalam bahasa Kanton pasar. Aku menjawabnya dengan bahasa yang sama, menyebut pelabuhan kontainer. Tanpa bicara lagi, taksi bergerak meninggalkan lobi kedatangan internasional. Aku menyandarkan punggung ke kursi, menatap keluar jendela, gemerlap lampu di hutan beton Hong Kong. Gedung-gedung tinggi, apartemen, perkantoran, pusat perbelanjaan rapat satu sama lain.

Jalanan kota lengang. Mobil bisa melaju cepat, masuk ke terowongan bawah laut, keluar lagi, masuk ke jalan menuju salah satu pelabuhan terbesar di Asia Pasifik itu. Sepuluh menit, tepat pukul 05.20, mobil taksi melintasi gerbang pelabuhan. Tidak ada petugas yang lazimnya memeriksa ketat setiap mobil yang masuk ke area terbatas itu. Petugas hanya melihatku sekilas, mengangkat handy talkie, bicara cepat dengan suara pelan, tidak bisa kudengarkan. Mengangguk, mengembalikan posisi HT-nya di pinggang, menyebut Terminal CT8E kepada sopir taksi, lantas membiarkan mobil meluncur masuk.

Mereka telah mengambil alih pergerakanku sejak tiba di gerbang pelabuhan. Aku tidak tahu harus menuju ke mana. Pelabuhan itu luas. Ada puluhan ribu kontainer menumpuk, puluhan gantry crane, puluhan dermaga. Panjang garis pelabuhan itu saja 8,5 kilometer dan hampir 18 juta teu kontainer dikeluarkan dari pelabuhan itu setiap tahunnya. Lampu penerangan pelabuhan terlihat terang. Tumpukan kontainer terlihat takzim seolah menyambutku sepagi ini. Pelabuhan relatif sepi, hanya beberapa gantry crane yang bekerja lembur memindahkan kontainer ke atas kapal yang merapat. Aku menghela napas perlahan, masih menatap keluar jendela. Suasana tegang mulai terasa.

Taksi tiba di Terminal 8 Timur (8E). Dua orang dengan senjata laras panjang terlihat di salah satu dermaga, menunggu. Aku berkata ke sopir agar mendekati mereka. Sopir taksi terlihat ragu-ragu. Aku tersenyum menepuk bahunya, bilang dia bisa pergi segera setelah menurunkanku, tidak ada yang perlu dicemaskan. Aku memberikan dua lembar uang dolar Hong Kong. Mobil taksi berhenti di bibir dermaga. Dua orang itu mengarahkan senjata laras panjangnya. Aku turun dari taksi—yang segera melesat pergi ketakutan.

Dua orang itu mengenakan kaus hitam lengan panjang dan celana jins. Kepala mereka tertutup kedok, hanya menyisakan bola mata yang menatap tajam. Salah satu dari mereka bertanya dalam bahasa Inggris patah-patah, memastikan.

Aku mengangguk.

Mereka menunjuk ke arah dermaga, menyuruhku melangkah ke sana. Sebuah kapal tug (penarik) berukuran dua puluh meter merapat di bibir dermaga. Tugboat lazimnya digunakan untuk menarik kapal kontainer raksasa atau kapal-kapal besar lain keluar dari dermaga, atau menarik ribuan kayu gelondongan yang diikat menjadi satu mengambang di permukaan air, atau juga untuk menarik barge (tongkang) yang membawa batu bara, gandum, gula, dan barang curah lainnya. Tidak perlu disuruh dua kali, aku melangkah menuju tugboat. Mereka berdua mengawalku di belakang dengan senjata teracung.

Delapan orang bersenjata, berpakaian serupa, memakai kedok, berdiri menunggu di dalam tugboat. Dua orang keluar dari ruangan kemudi. Salah satu dari mereka, sepertinya pimpinan tugboat itu, berseru agar anak buahnya memeriksaku.

Aku diperiksa dari kepala hingga ujung kaki.

”Tidak ada senjata.” Salah seorang yang memeriksaku berseru. ”Bersih?”

”Bersih, Bos. Hanya jam di pergelangan tangannya.” Pimpinan tugboat itu mengangguk, berseru dalam bahasa

Kanton patah-patah, dengan suara sengau ke anak buahnya, ”Nyalakan mesin kapal, waktu kita hanya tersisa tiga puluh menit untuk tiba di lokasi.” ***

Aku sejak di atas pesawat komersial tahu, pelabuhan kontainer bukan lokasi pertemuan sebenarnya. Juga tugboat berukuran sedang ini hanya kendaraan yang kunaiki menuju lokasi. Dengan kecepatan penuh, tugboat meluncur ke teluk Hong Kong, meninggalkan hutan beton di belakang. Aku disuruh duduk di salah satu kursi yang diletakkan di bagian belakang kapal tug yang terbuka. Empat orang bersenjata berjaga di sekitarku.

Angin kencang menerpa wajahku, terasa dingin. Aku menatap sekitar. Gedung-gedung tinggi bermandikan cahaya tertinggal di belakang. Kapal tug terus melaju lurus. Lima belas menit berlalu, wajahku mulai terasa kebas oleh angin kencang yang dingin. Keempat orang yang menjagaku tidak beranjak walau sesenti. Apakah kapal tug ini menuju pulau kecil terpencil? Atau menuju Makau? Atau mereka punya lokasi lain untuk pertemuan ini?

Lima menit lagi berlalu, seluruh pertanyaan itu akhirnya terjawab. Dari atas kursi plastik, aku bisa melihat di mana persisnya lokasi pertemuan dilangsungkan.

Sebuah kapal kontainer besar membuang sauh puluhan kilometer dari teluk Hong Kong. Hampir pukul enam pagi, cahaya remang sudah menerpa lautan luas, membuat kapal besar itu terlihat jelas. Terlihat gagah. Itu salah satu jenis kapal kontainer paling besar, New Panamax. Panjangnya tidak kurang dari 360 meter. Lebarnya 160 meter. Luas geladak di atasnya hampir empat kali luas lapangan sepak bola. Ribuan kontainer terlihat menumpuk di atas geladak kapal, muatan yang dibawa dengan tujuan lintas benua, melewati samudra. Kapal ini boleh jadi memiliki rute Hong Kong-New York, atau ke benua lain lagi, Hong Kong-Cape Town, Afrika Selatan. Tapi sepagi ini, kapal besar itu tidak bergerak, hanya diam di tempatnya, seperti takzim menungguku.

Pemimpin kapal tug menyuruh salah satu anak buahnya menyalakan lampu sorot, memberikan sinyal ke arah kapal kontainer dua kilometer di depan. Dari geladak depan kapal kontainer, sinyal balasan terlihat. Pemimpin kapal tug berteriak agar mengurangi laju kecepatan. salah satu anak buahnya yang menjadi nakhoda kapal gesit memegang kemudi kapal, berusaha merapat ke dinding kapal kontainer. Lima menit, setelah kapal merapat halus, dua anak tangga diturunkan dari atas kapal kontainer raksasa ke atas kapal tug.

Orang-orang bersenjata mendengus, menyuruhku bergerak.

Tidak banyak yang bisa kulakukan sekarang. Mereka terus mengendalikan pergerakan. Aku mengangguk, menaiki anak tangga itu di bawah ancaman belasan laras senjata otomatis, termasuk enam dari atas geladak kapal kontainer.

Aku tiba di lokasi pertemuan pukul 05.52. Dua belas orang bersenjata dari kapal tug ikut naik ke kapal kontainer, mengawalku, ditambah enam orang dari kapal kontainer. Mereka tidak bisa dibedakan, menggunakan pakaian yang sama, kedok di kepala serupa. Pemimpin di kapal tug bicara cepat dalam bahasa Kanton. Salah satu dari enam orang itu mengangguk. Mereka sejak tadi sudah menunggu.

Aku diperiksa kembali oleh orang-orang bersenjata dari kapal kontainer.

”Bersih!” Mereka memastikan.

Tentu saja aku tidak membawa senjata, tidak membawa teman.

Semua sesuai perintah jenderal bintang tiga itu lewat telepon. Rombongan orang bersenjata membawaku melewati tumpukan kontainer di atas geladak, melewati celah-celah kontainer, terus melangkah menuju salah satu ruangan kapal yang berada paling belakang. Tiba di bangunan tinggi, salah seorang dari mereka dengan kasar mendorong punggungku agar bergegas menaiki anak tangga. Kami naik satu lantai, hingga akhirnya tiba di sebuah pintu besi. Salah seorang yang membawa senjata mendorong pintu itu, terbuka dengan suara berdebam.

Kami sepertinya telah tiba di ruangan pertemuan. Saat aku melewati pintu besi itu, baru beberapa langkah masuk ke ruangan, suara yang amat kukenal itu langsung menyapaku.

”Halo, Thomas.”

Aku mengangkat kepala, menatapnya.

Jenderal bintang tiga, petinggi kepolisian itu telah berdiri di tengah ruangan. Aku tidak tahu apa nama ruangan itu, mungkin kabin tempat berkumpul awak kapal. Ada beberapa meja dan kursi panjang yang disingkirkan di sudut-sudut ruangan. Juga beberapa lemari dan perabotan ruangan ditumpuk sembarang di tepi ruangan, menyisakan hamparan luas untuk berkumpul banyak orang.

”Harus kuakui, salah satu yang menakjubkan dari tabiatmu, Thomas, adalah selalu datang tepat waktu. Pukul enam persis. Bravo. Kau tiba tanpa terlambat satu menit pun.” Dia melangkah maju menyambutku.

Aku menatap ke depan, melewati jenderal bintang tiga yang sudah beberapa langkah saja dariku. Selain belasan orang memakai topeng dan membawa senjata otomatis yang terus berjaga dari segala kemungkinan, lihatlah, ada banyak orang penting yang kukenali di ruangan itu. Orang-orang yang sering muncul di media massa. Orang-orang yang ada dalam daftar nama ring pertama laporan dari pola yang ditemukan Kris atas jutaan data kasus hukum dua puluh tahun terakhir.

”Ah, kau sedang memperhatikan sekitar, Thomas?” Jenderal bintang tiga itu tersenyum. ”Baiklah, mari kuperkenalkan kau dengan sebagian besar anggota persaudaraan kami. Kau seharusnya tahu siapa saja mereka, karena toh mereka sudah mengenalmu.

”Dua orang di sana, itu kolegaku di kepolisian. Kau pasti melihatnya saat konferensi pers. Nah, tiga orang di sebelahnya adalah jaksa agung. Tiga lagi adalah hakim tinggi, yang berdiri di sana adalah anggota DPR, di sebelahnya pejabat pemerintah, pengusaha, dan orang-orang penting lainnya. Hampir lengkap, kecuali lima anggota kami yang ditangkap kemarin sore, dan sepertinya kau tahu persis kenapa mereka tiba-tiba ditangkap. Apa pun itu, terima kasih banyak Thomas, kaulah yang membuat kami terpaksa mengadakan pertemuan mendadak di kapal kontainer ini, di perairan lepas, di luar teritorial hukum negara mana pun. Tidak ada undang-undang yang berlaku di atas kapal ini.”

”Di mana Om Liem?” aku bertanya lugas. Sejak tadi mataku memeriksa seluruh ruangan, tidak ada Om Liem di sini, dan juga tidak ada bedebah itu, Tuan Shinpei.

”Dia baik-baik saja, Thomas. Kau tidak perlu mencemaskan Liem. Tapi baiklah, kau sudah berada di ruangan ini, maka sebaiknya, Liem juga.” Jenderal itu mengangkat bahu, menoleh ke belakang. ”Bawa masuk paman tersayangnya.” Empat orang bersenjata bergerak ke pintu belakang, setengah menit, lantas keluar membawa Om Liem. Aku menelan ludah, jemari tanganku mengepal.

Om Liem terlihat tertatih, berjalan sambil meringis menahan sakit, kondisinya sama sekali tidak baik, mungkin kakinya terluka saat konvoi mobil tahanan dihantam mobil tangki, terbalik, lantas terbakar. Salah seorang mengambil sebuah kursi plastik, meletakkannya di tengah ruangan besar, di hadapan puluhan orang. Om Liem dipaksa duduk. Wajah Om Liem terlihat lebam. Dia mengangkat kepalanya, menatapku lamat-lamat yang berdiri dua puluh langkah darinya, menggeleng, berkata lirih, tapi tidak terlalu terdengar jelas.

Jenderal bintang tiga itu menepuk tangannya. ”Nah, lengkap sudah. Thomas dan paman tersayangnya sudah hadir di pertemuan ini. Sekarang, mari kita menunggu sejenak. Oh tidak, tentu saja bukan aku, Thomas. Kali ini kau tidak lagi berurusan denganku, kau berurusan dengan orang yang lebih penting.”

Jenderal bintang tiga menoleh ke belakang, berseru pada salah seorang yang membawa senjata, ”Kalian bisa memanggil Bos Besar sekarang.”

Orang yang disuruh mengangguk, bergegas keluar dari pintu belakang ruangan.

”Kau akan bertemu dengannya, Thomas. Sebuah kehormatan besar. Aku tidak bisa memberikanmu saran terbaik selain turuti saja apa maunya, maka semua akan berakhir dengan cepat. Kita tidak ingin menyaksikan tontonan mengerikan di ruangan ini.” Jenderal bintang tiga itu tersenyum kepadaku.

Lima menit menunggu dengan tegang, jemariku sudah berkeringat. Dari luar terdengar suara ketukan berirama, bergema. Seperti ada yang memukul dinding berulang-ulang dengan jeda teratur. Semakin lama semakin terdengar kencang.

”Nah, beliau sudah tiba, Thomas.”

Aku menelan ludah. Aku tahu sekali siapa yang akan segera masuk ke dalam ruangan ini. Aku selalu menunggu momen ini jauh-jauh hari, membayangkannya bahkan dalam mimpiku, membayangkannya berkali-kali, apa yang akan terjadi. Sebuah pertempuran hidup-mati. Bedanya adalah aku tidak pernah membayangkan posisiku dalam situasi terjepit seperti sekarang. Om Liem disandera dan aku berdiri sendirian dengan belasan laras senjata teracung sempurna. Aku menghela napas, bergegas membuang jauh-jauh pikiran buruk sekecil apa pun melintas. Aku harus tetap berpikir positif, selalu ada kesempatan, bahkan serumit apa pun situasinya. Aku harus terus berpikir, menemukan celah, mencari kemungkinan membalik keadaan.

Ruangan besar itu lengang. Orang-orang yang berada dalam daftar nama ring pertama terlihat menahan napas. Mereka sepertinya sama tegangnya menunggu pemimpin besarnya tiba. Suara ketukan itu semakin dekat, terdengar mencekam, seperti saat sedang sendirian di ujung sebuah lorong panjang, gelap gulita, dan sesuatu itu mendekat di ujung lorong satunya.

Pintu belakang ruangan besar itu akhirnya didorong, berdebam terbuka.

Enam orang terlebih dulu masuk, bertopeng dan bersenjata lebih lengkap. Satu orang bahkan terlihat membawa senjata berat, pelontar roket.

Di belakang mereka baru menyusul seseorang itu, Bos Besar. Saat dia melangkah masuk, suara tongkatnya yang mengenai lantai ruangan terdengar amat jelas, bergema. Ketegangan segera menggantung di langit-langit ruangan. Om Liem yang duduk lemah di atas kursi plastik menatapku dengan tatapan layu—mungkin dia hendak bilang kau seharusnya tidak datang kemari, Thomas. Kau seharusnya lari. Aku balas menatap Om Liem, mengangguk, semua akan baik-baik saja.

Orang-orang yang berdiri di belakang kursi Om Liem menyingkir, memberi jalan. Aku mengangkat kepala, kembali menatap ke depan. Bedebah paling besar dalam seluruh cerita ini telah tiba, bos besar mafia hukum itu telah menemuiku, untuk melakukan rendezvous terakhir denganku. 
Bagikan Novel ini Sebegai bentuk dukungan untuk situs ini 😊