menu

Negeri di Ujung Tanduk Bab 29: Mengungkit Masa Lalu

Mode Malam
Bab 29: Mengungkit Masa Lalu
AKU memacu mobilku keluar dari parkiran kantor. Pukul

00.05, jalanan kota Jakarta sepi. Speedometer mobil menyentuh angka 150 km/jam, melesat di atas jalan bebas hambatan, menuju bandara. Mataku konsentrasi penuh. Kedua tanganku mencengkeram kemudi erat-erat.

Aku tiba di lobi keberangkatan internasional lima belas menit kemudian, memarkir mobil sembarangan, meloncat turun, berlari menuju pintu masuk. Mengabaikan petugas sekuriti yang meneriakiku agar memindahkan mobil. Astaga, aku tidak punya waktu untuk melakukannya. Silakan saja kalau dia hendak menderek paksa mobil itu. Maggie sudah mengirimkan e-mail berisi tiket pesawat. Aku membuka e-mail tersebut sambil berlari menuju loket check­in. Sejauh ini tidak ada masalah. Dua petugas tetap menerima tiketku meski tenggat check­in sudah lewat beberapa menit. Juga tidak ada masalah di gerbang imigrasi. Petugas memerika surat jalan sementara yang kumiliki, tanpa banyak bicara menstempel dokumen perjalanan, mempersilakanku melintas menuju ruang tunggu keberangkatan internasional.

Mereka memegang janji, tidak ada pasukan khusus, tidak ada polisi, atau petugas apa pun yang dikirim untuk menghambatku. Aku lancar menaiki pesawat terbang. Pesawat komersial berbadan besar itu penuh, entah bagaimana Maggie mendapatkan selembar tiket di menit terakhir. Aku bisa duduk di kelas eksekutif seperti biasa. Pramugari ramah menyapa namaku, menawarkan welcome drink. Aku menggeleng. Dalam situasi seperti ini, aku tidak haus dan lapar.

Perjalanan Jakarta-Hong Kong membutuhkan waktu tempuh empat jam. Pukul 01.00 tepat, pesawat itu lepas landas, melesat terbang. Dari jendela pesawat sebelah kursiku, gemerlap cahaya kota Jakarta terlihat indah, tidak peduli berapa kali pernah melihatnya, itu tetap pemandangan yang menakjubkan, tapi aku menatapnya kosong.

Di kepalaku justru hadir kenangan masa lalu itu.

Papa Edward dan Om Liem pebisnis yang baik. Mereka me­ miliki garis tangan yang hebat. Umur mereka baru dua puluh ta­ hun saat mengambil alih toko tepung terigu dari Opa. Saat itu, Papa Edward dan Om Liem dengan yakinnya bilang ke Opa, ”Ka­ lau hanya menjual bungkusan sekilo­dua kilo tepung terigu, sampai negeri ini mendaratkan pesawat ke bulan, toko ini hanya begini­ begini saja. Kami sudah belajar banyak. Sudah tahu banyak. Biar­ kan kami mengembangkannya.”

Opa menatap mereka berdua lamat­lamat, lantas mengangguk. Maka sejak hari itu Papa dan Om Liem penuh semangat mulai memutuskan berkongsi dengan tengkulak, petugas, dan penguasa. Mereka membeli dan menjual tepung terigu selama setahun dalam jumlah yang jauh lebih banyak dibandingkan selama belasan tahun toko tepung terigu Opa bisa menjualnya. Maju pesatlah toko di pojok jalanan itu.

Penduduk kota mulai membicarakan nasib baik Papa Edward dan Om Liem. Dalam pesta­pesta keluarga, meja­meja makan di­ penuhi tawa sanjung dan kesenangan. ”Astaga, bagaimana mungkin kalian tidak akan sukses?” Tuan Shinpei, pedagang besar dari Ja­ karta, importir tepung terigu, rekanan Papa dan Om Liem tertawa lebar. ”Pagi­pagi tadi kau menandatangani kontrak penjualan de­ nganku. Bilang pagi itu juga akan berangkat ke Singapura mengu­ rus pengapalan. Malam ini, kita sudah bertemu lagi, makan­makan besar? Bagaimana mungkin kau begitu cepat bolak­balik mengurus banyak hal?”

Meja makan dipenuhi tawa.

”Ini anakku, Tuan Shinpei.” Papa mengenalkanku dengan bang­ ga.

Aku yang sedang membawa nampan berisi cangkir mendekat. ”Astaga? Sekecil ini sudah pandai sekali bekerja?” Tuan Shinpei

menepuk jidat, tertawa.

”Kalau kau tahu apa upah yang dimintanya dengan menjadi pelayan semalam, kau akan mengerti kenapa dia sangat pandai bekerja.” Papa ikut tertawa.

”Memangnya apa?” ”Sepeda. Dia minta sepeda.”

Pedagang dari Jakarta itu terbahak, mengacak rambutku. ”Sayang, kau lupa mengancingkan pakaianmu.  Malu  dilihat

Tuan Shinpei, Nak.” Mama yang duduk di sebelah Papa berbisik, lembut memperbaiki seragam pelayanku. Aku patah­patah me­ nuangkan teko ke gelas Tuan Shinpei, bersungut­sungut melihat Papa yang masih tertawa.

Itu pertemuan pertamaku dengannya. Beberapa minggu sebelum kejadian besar. Aku selalu mengingat wajahnya, senyumnya, suaranya yang terdengar khas, seperti mendengar orang bicara dari sumur yang dalam. Aku seperti mengenalnya dengan baik.

Tapi apakah aku memang mengenalnya? Aku mendesah pelan, mengusap sebutir peluh di pelipis. Bagaimana mungkin aku melakukan kesalahan elementer seperti ini?

Setahun terakhir aku meyakini aku telah mengenal musuh besarku itu. Nyatanya tidak. Nama itu memang setiap saat muncul di kepalaku saat aku tahu persis dialah yang menjadi otak pembakaran rumah dan gudang kami. Dialah pesaing yang ingin mengambil alih bisnis tepung terigu milik Papa dan Om Liem, menyuruh dua kaki tangan, seorang perwira pertama kepolisian dan seorang jaksa muda kejaksaan, sehingga jejaknya tidak terlihat. Dia juga pesaing yang ingin mengambil alih Bank Semesta milik Om Liem setahun lalu, lagi-lagi menyuruh kaki tangannya agar jejak tangan kotornya tidak terlihat. Nama itu memenuhi benakku, siang-malam, seolah aku mengenalnya dengan baik, nyatanya tidak.

Nama itu ternyata tidak ada di mana-mana.

Maryam tidak pernah mengenalnya. Wartawan lain juga tidak pernah tahu. Boleh jadi semua orang tidak tahu, kecuali yang terlibat dalam jaringan tersebut. Aku saja yang sibuk memikirkannya, seolah nama itu ada di mana-mana, tapi nama itu tidak ada di mana-mana. Aku selama ini keliru menilainya sekadar pengusaha besar yang serakah. Dia jelas adalah mafia besar. Hidup di balik bayangan adalah kebiasaannya. Seharusnya sejak awal aku tahu, penjebakan di Hong Kong terkait dengan jaringan dunia gelapnya. Berpuluh tahun dia hidup di balik bayangan, membangun mafia hukum di negeri ini, mencengkeram setiap sendi birokrasi, proses hukum, dan politik.

Aku tidak pernah mengenalnya dengan baik.

Tuan Shinpei dua puluh tahun lalu, yang hanya importir biasa, rekanan dagang Papa dan Om Liem, sekarang tumbuh mengerikan dibanding yang aku bayangkan setiap hari.

”Ayolah, jangan panggil aku Tuan Shinpei, Tommi. Kau panggil saja Om Shinpei, keluarga kalian sudah seperti keluargaku sendiri. Omong­omong, apa kaubilang tadi, Nak? Konsultan? Aku baru ingat, aku pernah melihat wajahmu sekali­dua kali di majalah atau review ekonomi Hong Kong terkemuka. Tetapi aku tidak menduga kau adalah Thomas yang itu. Aku baru tahu beberapa menit lalu, menatap wajahmu mengingatkanku pada Edward. Orang tua ini tinggal di Hong Kong, Tommi, tidak tahu banyak urusan bisnis di Jakarta. Bahkan sebenarnya aku baru tiba tadi malam. Perjalanan mendadak yang cukup melelahkan untuk orang setuaku.”

”Perjalanan mendadak? Keperluan bisnis?”

Tuan Shinpei mengangkat bahu. ”Iya, perjalanan bisnis men­ dadak, Tommi. Tidak kebetulan aku datang kemari. Ke gedung megah bank yang nyaris kolaps milik Liem. Aku terdaftar dalam nasabah besar Bank Semesta. Tadi malam aku dihubungi untuk segera berkumpul.”

Alisku sedikit terangkat.

”Tentu saja namaku tidak ada dalam daftar yang kaupegang. Tetapi setidaknya ada lima nama nasabah lain yang mewakili depositoku secara tidak langsung,” Tuan Shinpei menjelaskan tanpa diminta. ”Urusan ini rumit sekali, bukan? Semua uang nasabah terancam hangus tanpa sisa. Aku sebenarnya pernah dihubungi Liem enam bulan lalu. Dia bahkan pernah datang ke Hong Kong tiga bulan lalu, mendiskusikan jalan keluar Bank Semesta, sayang­ nya bisnis properti milikku juga sedang bermasalah. Aku tidak bisa membantu banyak. Ini situasi rumit kedua yang harus dihadapi Liem setelah cerita lama tentang arisan berantai itu, bukan?”

”Kau sepertinya punya rencana hebat, Tommi?” ”Rencana hebat?”

”Iya, apa lagi? Rencana hebat menyelamatkan Bank Semesta?” Tuan Shinpei bertanya, menyelidik dengan mata berkerut.

Aku menggeleng perlahan. ”Tidak ada rencana hebat. Hanya rencana nekat.”

Tuan Shinpei terkekeh prihatin. ”Jangan terlalu merendah, Tommi. Kau pastilah yang terbaik dari ribuan konsultan keuangan yang ada, bukan? Wajahmu ada di halaman depan majalah Hong Kong. Itu pasti jaminan. Dan lebih dari itu, kau pasti akan me­ lakukan apa pun untuk menyelamatkan bisnis keluarga, bukan? Termasuk mati sekalipun. Kalian punya lawan tangguh sekarang.”

Aku terdiam, menelan ludah. Sedetik, aku seperti merasa ada yang ganjil dengan percakapan ini.

”Ini kabar baik. Tentu saja kabar baik.” Tuan Shinpei mengang­ guk­angguk, tidak terlalu memperhatikan ekspresi wajahku. ”Jadi aku tidak usah mencemaskan banyak hal lagi, bukan? Kehilangan sepertiga jelas lebih baik dibanding semuanya. Itu rumus baku bagi pebisnis ulung. Mengorbankan sebagian demi keuntungan lebih be­ sar. Mundur dua langkah, untuk maju bahkan lari ribuan langkah. Kau pasti lebih dari paham tentang itu. Nah, bisa kauceritakan apa yang sedang kaurencanakan, Tommi?” Aku menggeleng sopan.

”Tentu saja kau tidak boleh bercerita.” Tuan Shinpei tertawa kecil. ”Tapi bisakah kau memberitahuku, Liem sekarang berada di mana? Sejak tadi malam aku berusaha mencari tahu, tentu juga puluhan nasabah lainnya ingin tahu.”

”Om Liem di tempat yang aman.” ”Tempat yang aman?”

Aku lagi­lagi menggeleng sopan, tapi tegas.

Sejenak aku beradu tatapan dengan Tuan Shinpei.

”Baiklah, Tommi. Orang tua ini sepertinya terlalu cemas, terlalu ingin tahu. Kau sepertinya sedang terburu­buru. Waktu yang ter­ sisa sempit sekali, bukan? Kau boleh meninggalkanku sekarang.” Tuan Shinpei menepuk­nepuk bahuku. ”Aku akan bergabung ke ruang rapat bersama nasabah lain. Setidaknya aku tidak perlu mencemaskan nasib Bank Semesta sekarang, termasuk nasib uang­ ku, nasibnya sudah ada di tangan orang yang tepat. Aku hanya perlu mencemaskan hal lain.”

”Mencemaskan hal lain?” aku bertanya.

Tuan Shinpei menyeka pelipis, menatapku sambil tersenyum. ”Apa lagi selain mencemaskanmu, Tommi? Apa pun yang sedang kaulakukan, itu pasti berbahaya. Hati­hatilah, Nak. Apa kata pe­ patah bijak, musuh ada di mana­mana, maka berhati­hatilah se­ belum kau bisa memegang kerah lehernya. Senang bertemu dengan­ mu lagi, Tommi.”

Tuan Shinpei sudah melangkah menuju ruang rapat sebelum aku basa­basi menjawab kalimatnya. Dua ajudannya ikut bergerak. Suara tongkat mengetuk lantai keramik terdengar berirama. Aku menelan ludah. Rombongan Tuan Shinpei sudah menghilang di balik pintu ruangan rapat sebelum aku menyadarinya. Itu pertemuan keduaku dengan Tuan Shinpei setahun lalu, tepat sehari sebelum kejadian besar itu. Penyelamatan Bank semesta.

Apakah aku mengenal musuhku dengan baik?

Aku tidak pernah mengenalnya, bahkan aku tidak pernah menyadarinya. Selama ini bukan hanya lima orang, melainkan ada enam orang di dunia ini yang memanggilku dengan panggilan ”Tommi”. Orang keenam adalah Tuan Shinpei.

Dia sudah seperti keluarga bagi kami, dekat dengan Papa, akrab dengan Om Liem. Dia sudah dianggap anak kandung sendiri oleh Opa. Seharusnya aku sejak dulu mengetahui Tuan Shinpei adalah pengkhianat besar keluarga, bukan ketika kasus Bank Semesta terjadi, yang amat terlambat. Apa susahnya saat aku masih menyelesaikan gelar master di luar sana, aku memasukkan entri namanya di website pencari dan segera menyadari nama itu hilang dari dunia maya. Selama itu, bahkan sejak tinggal di sekolah berasrama aku hanya sibuk sendiri, merasa nama itu ada di mana-mana, mereka-reka siapa otak kebakaran itu, padahal nama itu dekat sekali dengan kehidupanku, bahkan untuk kedua kalinya sambil tersenyum bersahabat, mengkhianati kami dalam kasus penyelamatan Bank Semesta.

Aku menyisir rambut dengan jemari. Melirik jam di pergelangan tangan, pukul 04.30. Pesawat komersial ini sebentar lagi mendarat di Hong Kong. Aku menatap langit-langit pesawat, mencoba melemaskan badan. Pramugari gesit sedang berkeliling mengambil sampah dari setiap kursi. Aku menghela napas perlahan. Perjalanan ini terasa lambat, bukan hanya karena aku tidak sabaran ingin tiba, tapi juga karena semua kenangan masa lalu yang datang tanpa bisa kucegah. Aku sekali lagi melirik jam hadiah Rudi di pergelangan tangan. Tidak akan lama lagi, hanya dalam hitungan menit aku akan menemui mereka. Entahlah, sejauh ini aku belum punya rencana sama sekali. Aku bahkan tidak tahu mereka persisnya akan melakukan pertemuan di mana. Apakah di salah satu dermaga pelabuhan kontainer? Rasa-rasanya tidak mungkin. Itu wilayah terlarang, banyak petugas pelabuhan yang berjaga, kecuali jika mereka juga menguasai pelabuhan itu.

Siapa saja yang akan kutemui di sana? Siapa saja yang hadir? Tuan Shinpei? Jenderal bintang tiga itu? Orang-orang bersenjata? Semua masih gelap, belum bisa kupikirkan dengan baik. Aku menatap keluar jendela pesawat, gelap sejauh mata memandang. Yang aku tahu pasti dalam urusan ini, aku sedang menuju lokasi pertarungan terakhirku. 
Bagikan Novel ini Sebegai bentuk dukungan untuk situs ini 😊