menu

Negeri di Ujung Tanduk Bab 28: Batas Waktu Enam Jam

Mode Malam
Bab 28: Batas Waktu Enam Jam
AKU benar, mereka meneleponku.

Pukul 23.15, satu jam setelah konvoi Om Liem dibajak, telepon genggamku berbunyi. Maryam yang duduk diam di salah satu kursi segera bangkit berdiri. Juga Maggie, Kris, dan stafnya yang sejak tadi ikut tegang menunggu.

”Selamat malam, Thomas.”

Aku mengenali suara ”ramah” itu, milik jenderal bintang tiga, kepala badan penyidik kepolisian, orang terkuat kedua di kepolisian, yang juga menyapaku ”ramah” kemarin malam di atas mobil taktis dengan tanganku terborgol, dan laras senjata teracung.

”Aku sudah menunggu telepon ini,” aku tidak menjawab salamnya.

Orang di seberang tertawa. ”Tentu saja kau sudah menunggu telepon ini.”

”Sebutkan apa yang kalian inginkan.”

”Apa yang kami inginkan? Kita bahas itu sebentar lagi, Thomas. Setelah sedikit basa-basi.” Suara di seberang terdengar santai. Aku tidak bisa menebak dia menelepon dari mana, latar di belakangnya lengang, tidak ada yang bisa memberikan petunjuk.

”Kami benar-benar keliru. Selama ini kami seharusnya tidak pernah menganggap remeh dirimu, Thomas. Kau bukan sejenis anjing pengecut yang bisa digertak, yang terlihat galak diawal, ketika dibentak sedikit, langsung terbirit-birit lari. Kau juga jelas bukan sekadar konsultan politik biasa, karena tidak ada konsultan politik yang bisa melenggang begitu saja lolos dari penjara, setelah meracuni makanan puluhan tahanan lain. Itu rencana kabur yang licik sekali, Thomas. Dan, hei, kenapa kau tidak pernah berterus terang padaku, Thomas, bahwa kau keponakan tersayang Om Liem? Apakah kau terlalu malu mengakuinya karena selalu bicara hebat tentang idealisme, mimpi-mimpi, blablabla membosankan itu bersama klien politikmu?”

”Karena kau tidak pernah bertanya,” aku menjawab datar. ”Ah iya, kau benar. Karena aku tidak pernah bertanya.” Dia

pura-pura merasa bodoh. ”Tapi semuanya sudah tidak penting lagi, bukan? Masalah ini sudah melewati batas-batas hubungan darah dan keluarga. Masalah ini sudah telanjur serius dan menyebalkan bagi banyak orang.

”Kau tahu, Thomas, pada suatu ketika, pada masa-masa damai sentosa, Liem adalah anggota keluarga kami, salah satu yang paling terhormat. Entah setan mana yang merasuki otaknya, hingga tiba-tiba dia bersedia mengkhianati keluarganya sendiri. Astaga, setelah kami membantunya dalam pengadilan kasus Bank Semesta, memberikan begitu banyak keringanan, dia justru membalasnya dengan bersedia menjadi saksi mahkota Komisi Pemberantasan Korupsi dalam banyak kasus? Dia sepertinya sama sekali tidak perlu berpikir dua kali dan menyesal melakukan itu. Sungguh itu ide berbahaya yang harus segera dibungkam. Kau pasti tahu sekali itu, Thomas.”

”Om Liem tidak pernah menjadi anggota keluarga kalian. Dia tidak perlu berpikir dua kali dan merasa menyesal sedikit pun mengkhianati kalian,” aku masih menjawab datar, berusaha mengendalikan emosi.

”Oh ya? Dan kau, apakah kau merasa menjadi anggota keluarga Om Liem sekarang? Bukankah kau membencinya setengah mati? Ah, aku baru tahu pelajaran sejarah itu, Thomas. Tentang orangtuamu yang mati mengenaskan. Maafkan aku, Nak, aku menyesal mendengarnya. Itu tragedi. Sama tragisnya, aku juga baru tahu, sama tragisnya dengan dua orang anggota kami yang menghilang setahun lalu. Bukan main, kau sendirian mengalahkan mereka, dua orang paling kuat dalam jaringan kami. Itu mengagumkan. Kau seharusnya menjadi bagian kami, aset paling berharga, Thomas, bukan sebaliknya, menyusun rencana melawan kami, termasuk membisikkan akal bulus ke Om Liem agar mengkhianati kami.”

”Di mana Om Liem sekarang?” aku bertanya langsung ke inti pembicaraan, mulai jengkel dengan intonasi suara di seberang telepon.

”Kau seperti jutaan anak muda di luar sana, Thomas, selalu saja tidak bisa bersabar. Tidak bisakah kau menikmati percakapan ini?” Jenderal bintang tiga itu menghela napas seolah kecewa.

”Di mana Om Liem kalian tahan?” Aku tidak peduli.

”Kau tidak berharap aku akan menjawabnya, bukan?” Dia tertawa. ”Apa yang kalian inginkan?” Aku mendesak.

”Sudah jelas, bukan? Kami menginginkan semua barang bukti yang disimpan Liem. Semua dokumen, rekaman, apa pun itu harus dihancurkan segera. Liem saat ini bersama kami. Dia menolak bicara, dan melihat gelagatnya, dia boleh jadi memilih bungkam selamanya. Jadi aku terpaksa melibatkan keponakan kesayangannya. Kau jelas tahu banyak tentang kebiasaan Liem, cepat atau lambat kau bisa mengetahui lokasi barang bukti itu. Membuat membunuh Liem menjadi sia-sia.

”Setiap urusan harus dituntaskan hingga ke akar-akarnya, Thomas. Kau pasti pernah mendengar nasihat orang tua itu. Maka, inilah yang kami inginkan, kau punya waktu enam jam untuk tiba di lokasi yang kami tentukan. Kau datang terlambat, maka sampaikan selamat tinggal kepada orang lain, bukan, tentu saja bukan selamat tinggal kepada pamanmu, kami masih membutuhkannya. Aku tahu kau pasti datang, kau bukan seorang pengecut, tapi sebagai pemanis undangan ini. Jika kau datang terlambat, katakan selamat tinggal kepada tantemu. Kami tahu rumahnya. Juga katakan selamat tinggal kepada Opa. Kami akan mengejarnya, mencari tahu di mana dia bersembunyi.”

Aku mengeluh dalam-dalam. Mereka memutuskan membabi buta menyelesaikan kasus ini, melibatkan anggota keluarga lain.

”Enam jam, Thomas. Kau dengar?”

”Sebutkan lokasinya. Jakarta? Surabaya? Denpasar?” Aku menggerung.

”Bukan, Thomas. Ah, dalam kasus tertentu, kau terlalu meremehkan kami. Enam jam lagi, kami tunggu kau di Pelabuhan Kontainer Kwi Tsing, Hong Kong. Kami dalam perjalanan membawa Liem ke sana. Jauh lebih santai menyelesaikan urusan ini di sana. Kau bisa segera menumpang pesawat komersial apa pun, tidak akan ada yang menghalangi kau melewati pintu imigrasi, kami akan membiarkan kau tiba dengan aman di Hong Kong.

”Sayangnya, tidak ada yang boleh menemanimu, Thomas. Datanglah sendirian. Kau tidak perlu mengajak gadis wartawan itu ke sini. Hingga urusan kita selesai, dia aman di Jakarta. Setelah itu, tergantung pertemuan kita, apakah dia akan dimasukkan ke penjara atau kami membuatnya menghilang begitu saja. Sekali lagi, Thomas, sekali kami melihat kau membawa orang lain, siapa pun itu, pertemuan batal, dan kau tahu risikonya. Tidak ada lagi percakapan hingga kau tiba di pelabuhan kontainer Hong Kong.”

Percakapan diputus dari seberang sana. Aku mendengus menahan marah, tidak sempat bertanya lebih detail tentang pertemuan itu.

Menghela napas panjang, berusaha mengendalikan emosi. Persis seperti yang kuduga. Mereka ”mengundangku” menye-

lesaikan masalah ini. Berharap, sekali tepuk semua urusan selesai hingga ke akar-akarnya. Aku menyisir rambut dengan jemari. Tentu saja mereka akan memilih Hong Kong sebagai lokasi pertemuan. Shinpei, otak dari seluruh mafia hukum berada di sana. Dia juga sekaligus orang yang menjebakku dengan seratus kilogram bubuk heroin dan senjata itu. Jenderal bintang tiga itu hanya ”petugas lapangan” dalam permainan ini. Dia yang diperintah Shinpei menyelesaikan masalah Om Liem. Diperintahkan untuk membajak konvoi mobil tahanan Om Liem, membawa Om Liem ke Hong Kong, sekaligus memaksaku datang.

Aku tahu, pergi ke sana sama saja dengan mendatangi sarang mafia. Shinpei jelas bukan hanya orang di belakang seluruh mafia hukum di negeri ini. Dia sekaligus anggota mafia dunia hitam di Hong Kong. Tidak semua orang bisa menyediakan seratus kilogram bubuk heroin, meletakkan persenjataan lengkap. Aku mengepalkan tinju, tapi aku tidak punya pilihan, mereka sudah memberikan deadline, dengan ancaman serius yang menyertainya. Ini gila, benar-benar situasi gila yang harus kuhadapi. ”Aku harus segera pergi!” Aku menoleh ke arah Maryam,

Maggie, dan Kris yang sejak tadi menatapku, menunggu hasil pembicaraan. Wajah mereka bertiga terlihat tegang.

Maryam berdiri, mengangguk.

”Tidak. Kali ini kau terpaksa tinggal, Maryam. Mereka hanya memintaku datang sendiri. Kau bisa menunggu di kantor Kris hingga besok siang.”

Aku mengabaikan wajah tidak mengerti Maryam, menoleh ke arah Maggie. ”Setelah aku pergi, kau segera hubungi Tante Liem, Meg. Segera bawa beliau ke sini, menunggu bersama Maryam. Kalian semua aman sementara waktu di sini. Aku harus melakukan semua ini sendirian.”

”Kau tidak nekat akan mendatangi mereka sendirian, Thomas?” Maryam berseru, bertanya sambil mencengkeram lenganku.

Aku mengangguk.

”Itu sama saja bunuh diri, Thomas!” Maryam berkata dengan suara serak. Wajahnya tegang sekali, bahkan dia hampir menangis karena perasaan tegang.

”Aku akan mencari cara agar hal itu tidak terjadi, Maryam. Nah, sekarang dengarkan aku, Maryam.” Aku memegang tangan Maryam, menatapnya. ”Aku tidak punya waktu banyak untuk menjelaskan, jadi kaudengarkan baik-baik. Mereka memintaku segera pergi ke Hong Kong, tempat Om Liem ditahan. Mereka hanya memberi waktu enam jam. Itu berarti sebelum pukul enam pagi. Jika besok sore tidak ada kabar dariku, aku tidak menghubungi, berarti hal buruk telah terjadi di Hong Kong. Kauajak Tante Liem pergi ke sekolah berasrama, temui Opa dan Kadek di sana. Bilang kepada Opa, semua sudah berakhir di Hong Kong. Aku, Om Liem, tidak ada lagi kabar beritanya.”

Maryam berseru cemas.

”Dengarkan aku baik-baik, Maryam, dengarkan aku dulu.” Aku memegang tangan Maryam erat-erat, menyuruhnya konsentrasi. ”Setiba di sekolah berasrama, bilang kepada Opa agar kalian segera mengemasi barang, bawa seperlunya, tinggalkan yang lain. Kalian berempat pindah ke negara lain, menetap di sana, gunakan identitas baru, nama baru, putuskan semua kontak dengan kenalan, kerabat, teman. Dengan demikian semoga mereka kesulitan mengejar kalian, karena jelas mereka akan buas mengejar kalian ke mana pun. Aku minta maaf telah melibatkanmu dalam semua kekacauan ini, Maryam. Aku telah merusak karier, masa depan, kehidupan, semua hal berharga yang kaumiliki. Aku sungguh minta maaf.”

Maryam sekarang menangis, menatapku tidak percaya.

Aku melepaskan genggaman tanganku padanya, menoleh ke arah Maggie. ”Sekarang pukul dua belas, waktuku hanya enam jam. Kau bisa bantu belikan aku tiket penerbangan ke Hong Kong, Meg, pukul satu dini hari nanti ada jadwal penerbangan salah satu maskapai ke sana. Semoga aku masih bisa mengejarnya ke bandara. Kaukirim tiketnya via e-mail.”

Aku menghela napas pelan. Lihatlah, mereka bahkan merencanakan ini dengan matang. Mereka tahu persis aku harus mengejar jadwal penerbangan itu, satu-satunya penerbangan yang tersisa.

Maggie mengangguk, tidak banyak bicara. Meskipun Maggie tidak menangis seperti Maryam, aku bisa merasakan seluruh emosi yang dia rasakan. Marah, bingung, sedih, cemas, semua bercampur aduk dari tatapan matanya.

”Terima kasih sudah membantuku selama enam tahun terakhir, Meg. Kau adalah staf paling membanggakan yang pernah kumiliki. Jika besok sore tidak ada kabar dariku, kaukumpulkan semua konsultan senior untuk melakukan pertemuan. Biarkan mereka yang memutuskan nasib perusahaan ini tanpa diriku lagi. Kau aman. Mereka tidak akan mengejarmu. Nah, kalau kau mau, kau juga bisa pindah bekerja di tempat lain, Meg. Sebagai bonus pemutusan hubungan kerja, kau boleh menjual satu atau dua mobil operasional kantor. Uangnya bisa kaugunakan untuk jalan-jalan ke Paris, Roma, seperti yang kaucita-citakan selama ini.” Aku mencoba bergurau.

”Kau akan kembali, Thom.” Suara Maggie serak, matanya memerah. ”Kau selalu kembali ke kantor ini. Sesulit apa pun masalah yang kauhadapi. Aku akan selalu menunggu di ruangan kerjaku, menunggu kau melintas pintu ruangan, selalu tertawa menatapku, tawa yang amat kukenal.”

Aku tersenyum penuh penghargaan. Selain tabiatnya yang selalu berterus terang, ceplas-ceplos, dan suara cemprengnya yang menyebalkan, Maggie adalah teman terbaik yang kumiliki. Dia tidak pernah putus harapan kepadaku. Tidak pernah. Maggie selalu yakin aku bisa melakukan apa pun.

Aku menoleh ke arah Kris. ”Sesuai perjanjian kita, kantor ini adalah milikmu, Kris. Jadi jika aku tidak kembali dari menghajar para bedebah itu, kau berhak penuh memutuskan apa yang akan kaulakukan dengan kantor dan stafmu. Saranku, tidak semua orang nyaman berinteraksi dengan orang yang jarang mandi. Mungkin sudah saatnya kau sedikit memikirkan tentang penampilan diri sendiri.” Aku tertawa, menepuk bahunya.

Kris ikut tertawa—meski nadanya suram dan prihatin.

”Aku merasa terhormat pernah bekerja denganmu, Thomas.” Kris mengulurkan tangan. ”Kau satu-satunya orang yang tidak pernah bertanya kenapa beberapa tahun lalu aku meretas jaringan retailer jahat Singapura itu. Kau memercayaiku bahkan pada detik pertama kita berkenalan.”

Aku mengangguk. Penjelasan selalu datang dari orang yang tepat, waktu yang tepat. Aku tidak pernah merasa perlu memaksa Kris menjelaskan soal itu.

”Nah, saatnya berpamitan. Selamat malam, Maryam, Maggie, Kris. Semoga yang terbaik yang akan terjadi beberapa jam ke depan.” Dan sebelum Maryam berseru kencang berusaha mencegahku, atau Maggie mengatakan sesuatu, atau Kris balas mengucapkan salam berpamitan, aku sudah balik kanan, melangkah cepat meninggalkan ruangan besar dengan enam layar komputer canggih. Saatnya menuju arena pertarungan yang aku tunggu sejak dua puluh tahun lalu.

Saatnya aku memasuki lingkaran merah selebar dua meter di dunia nyata—bukan arena klub. Aku petarung sejati. Aku tidak akan pernah mundur selangkah, sebesar apa pun kekuatan lawan. Demi kehormatan, demi abu hitam papa-mamaku. 
Bagikan Novel ini Sebegai bentuk dukungan untuk situs ini 😊