menu

Negeri di Ujung Tanduk Bab 27: Serangan Mematikan

Mode Malam
Bab 27: Serangan Mematikan
TIDAK ada televisi di ruang kerja Kris.

Tapi itu bukan masalah besar. Saat aku berseru butuh televisi untuk menonton berita penting yang sedang disiarkan, salah satu staf Kris mengangguk, bilang itu mudah. Dia mengetikkan sesuatu di komputernya. Dua detik, layar itu telah menampilkan streaming siaran televisi. Aku dan Maryam hendak berdiri di belakang staf Kris tersebut, menonton.

”Pindahkan ke layar besar agar kita semua bisa menontonnya.” Kris menjentikkan jari, menyuruh stafnya membuat layar besar di ruangan itu berubah menjadi layar televisi.

Staf Kris bergegas menekan keyboard komputer. Layar 40 inci di dinding ruangan segera menyiarkan siaran langsung tersebut. Aku sempat berpikir itu siaran langsung dari arena konvensi.

Ada kabar baru. Ternyata bukan. Breaking news itu tidak dari sana meskipun sepanjang hari memenuhi layar kaca. Juga tidak berasal dari kabar klien politikku, seperti boleh jadi ada kejutan tuduhan baru atasnya.

Di layar kaca terlihat hiruk pikuk, api kebakaran membubung tinggi. Bukan dari rumah atau gedung, melainkan dari tiga mobil yang terbalik di jalanan. Dua mobil pemadam kebakaran sudah tiba di lokasi. Ini pukul sebelas malam. Jalanan kota sudah lengang. Mereka bisa tiba dengan cepat. Air menyembur deras dari slang-slang, berusaha memadamkan api. Puluhan anggota pasukan dengan seragam taktis terlihat di latar siaran, sebagian dari mereka dalam kondisi mengenaskan, terkapar di jalanan. Ambulans meraung, menurunkan tandu darurat, mengangkut beberapa orang yang terluka parah.

”Pemirsa, saat ini kami melaporkan langsung dari salah satu jalan Jakarta. Di belakang kami saat ini sedang terjadi kekacauan luar biasa. Tiga mobil terbalik, terbakar, orang-orang terkena tembakan, dan banyak orang menjadi korban. Menurut saksi mata yang berhasil kami temui, salah satu anggota pasukan bersenjata, menjelaskan mereka sedang mengawal pemindahan salah satu tahanan paling penting di negeri ini, Liem Soerja, terhukum kasus penyelamatan Bank Semesta setahun lalu.

”Tadi sore, Komisi Pemberantasan Korupsi baru saja mengeluarkan surat perintah agar Liem Soerja dipindahkan ke tahanan di bawah pengawasan mereka. Komisi Pemberantasan Korupsi akan menjadikan Liem sebagai saksi penting dalam banyak kasus yang akan mereka ungkap. Meskipun juru bicara Komisi belum bersedia bicara, karena konferensi pers baru akan diadakan besok, bisa kami pastikan salah satunya Liem akan bersaksi atas penangkapan lima anggota DPR beberapa jam lalu dari arena konvensi partai terbesar. Liem juga akan dijadikan saksi kunci dalam berbagai kasus lain yang melibatkan tender barang dan jasa kepolisian, juga kasus-kasus di kejaksaan, di kehakiman, dan kasus lainnya di hampir seluruh lembaga penegak hukum negeri ini.

”Menurut informasi yang kami peroleh, konvoi mobil tahanan yang membawa Liem Soerja dari penjara sipil terhenti oleh sebuah mobil yang mendadak berhenti di jalan raya, lantas dari belakang iring-iringan tersebut, sebuah mobil tanki dengan kecepatan tinggi menghantam, langsung meledak seketika, membuat terbalik dua mobil petugas. Dari mobil yang berhenti di depan konvoi, turun belasan orang bersenjata yang langsung menembaki petugas escort tahanan yang dikirim Komisi Pemberantasan Korupsi. Dua petugas meninggal di tempat, dan belasan lain luka parah, terkapar di jalanan. Tidak ada yang tahu di mana dan apa kabar Liem Soerja saat ini. Pintu belakang mobil tahanan yang dia tumpangi hancur, borgolnya tergeletak di lantai mobil dan Liem Soerja raib begitu saja.

”Belum ada pihak yang bisa memberikan pernyataan terkait kejadian mengejutkan ini. Siapakah orang-orang yang telah menyerang konvoi pemindahan tahanan Liem. Tetapi ini akan menjadi pukulan telak bagi Komisi Pemberantasan Korupsi dan berbagai kasus yang sedang mereka selidiki. ”

Aku mengangkat tangan, menyuruh agar menghentikan siaran tersebut. Staf Kris menekan keyboard komputernya, membuat layar besar kembali seperti semula.

Maryam di sebelahku menutup mulutnya dengan kedua telapak tangan, tidak percaya dengan apa yang baru saja ditontonnya. Maggie terdiam menatapku. Wajahnya tegang. Kris mengusap perlahan rambut panjangnya. Ruangan itu lengang sejenak. ”Apa yang harus kita lakukan, Thom?” Maryam bertanya, suaranya gentar.

”Aku belum tahu, Maryam.” Aku menggeleng.

Ini sungguh kabar mengejutkan. Seharusnya aku bisa memperhitungkannya. Salah satu pimpinan komisi sebenarnya sudah mengirimkan pengawalan terkuat, tapi lawan kami memutuskan menggunakan segala cara untuk membajak iring-iringan mobil tahanan Liem. Tangki minyak yang meledak? Belasan orang bersenjata? Mereka menculik Om Liem dengan cara paling brutal. Telepon genggam di tangan Maryam berbunyi nyaring sebelum ada yang membuka mulut lagi. Maryam mengangkatnya,

bicara dua kalimat, lantas menyerahkan telepon itu kepadaku. ”Selamat malam, Thomas.” Suara di seberang terdengar serius,

prihatin.

Aku mengenalinya. Itu suara Ketua KPK. ”Kau pasti telah menyaksikan beritanya?” ”Iya,” aku menjawab pendek.

”Ini menjadi masalah serius, Thomas, mengingat Liem akan menjadi saksi mahkota yang kauberikan tadi sore. Aku cemas mereka langsung menghabisi Liem saat ini.”

”Tidak.” Aku menggeleng, menjawab yakin. ”Mereka tidak akan membunuh Om Liem. Tidak sekarang. Aku amat mengenal Om Liem. Dia selalu memiliki rencana berlapis. Dan orangorang yang menyerang konvoi ini juga amat mengenal Om Liem, dalam tahun-tahun tertentu. Mereka pernah berteman baik dengan Om Liem. Mereka tahu Om Liem pasti menyimpan ribuan bukti, dokumen, rekaman pembicaraan, dan apa pun yang bisa menjadi jaminan jika situasi berubah drastis dan dia terdesak. Mereka tidak akan bertindak konyol menghabisi Om Liem sebelum mengetahui lokasi semua bukti itu tersimpan. Mereka akan memaksa Om Liem memberitahukan tempatnya, atau kemungkinan buruk lain yang akan segera kita ketahui.”

Ketua KPK menghela napas. ”Semoga kau benar, Thom. Semoga saksi mahkota kita dalam keadaan baik. Aku minta maaf dan amat prihatin pamanmu dalam situasi pelik saat ini. Terlepas dari kecemasan kami soal kelanjutan penyelidikan kembali belasan kasus, kami lebih mencemaskan keselamatan pamanmu. Ini kekeliruan yang kami lakukan. Kami bertanggung jawab penuh atas konvoi tersebut.”

”Tidak.” Aku lagi-lagi menggeleng. ”Tidak ada yang bisa menghentikan mereka menyerang konvoi tersebut, bahkan kalaupun satu kompi pasukan militer mengawalnya. Ini bukan salah siapa pun. Aku yang seharusnya minta maaf dan prihatin atas meninggalnya beberapa petugas komisi dalam misi ini. Mereka telah menunaikan tugas dengan baik.”

Percakapan itu terhenti sejenak.

”Terima kasih, Thomas. Terima kasih sudah ikut berbelasungkawa. Ini pukulan paling telak yang pernah kami terima. Kami akan melakukan apa pun untuk mengembalikan Om Liem. Kami akan meminta bantuan dari banyak pihak. Apakah kau punya saran? Atau rencana, Thomas?”

”Aku belum tahu. Ini masih mengejutkan.” Aku mengembuskan napas. ”Mungkin menunggu sejenak adalah pilihan terbaiknya. Memperhatikan situasi.”

”Baik, Thomas. Aku akan menghubungimu jika ada kabar baru. Dan kau segera hubungi kami jika ada sesuatu. Selamat malam.” Percakapan itu selesai. Aku menyerahkan kembali telepon genggam ke Maryam.

”Cepat atau lambat mereka akan menghubungi,” aku menjawab tatapan mata Maryam yang juga ingin tahu rencanaku. ”Mereka akan menawarkan sesuatu kepadaku. Aku menguasai banyak informasi tentang Om Liem, dan mereka menduga aku tahu di mana Om Liem meletakkan brankas barang bukti tersebut. Mereka tidak akan berhenti hanya pada Om Liem. Mereka juga akan menyerangku.”

Wajah Maryam berubah cemas, memegang lenganku. Bahkan Maggie kehilangan selera untuk berkomentar aneh demi melihat Maryam memegang tanganku.

”Om Liem akan baik-baik saja. Dua puluh tahun lebih dia mengalami pasang-surut dengan mafia itu. Menjadi kawan, menjadi lawan, menjadi kawan lagi, dalam kasus tertentu Om Liem adalah bagian dari mereka. Kali ini memang situasinya lebih serius karena dia akan mengkhianati mereka. Tetapi mereka terbiasa dengan pengkhianatan, intrik-intrik jahat. Jaringan mereka adalah simbol pengkhianatan dan kejahatan itu sendiri. Mereka akan menggunakan segala cara untuk menghentikan masalah ini agar tidak berlarut-larut, menguburnya dalam-dalam, agar tidak pernah muncul kembali dan itu termasuk menyingkirkan siapa pun di sekitar Om Liem, bukan lagi hanya soal barang bukti yang tersimpan rapat.

”Situasi sudah tiba di puncaknya, Maryam. Mereka memegang kendali permainan dengan menahan Om Liem. Maka menunggu adalah pilihan terbaik. Cepat atau lambat, mereka sendiri yang akan menghubungi kita. Tidak akan lama lagi.” 
Bagikan Novel ini Sebegai bentuk dukungan untuk situs ini 😊