menu

Negeri di Ujung Tanduk Bab 26: Missing Link

Mode Malam
Bab 26: Missing Link
LIMA belas menit berlalu. Pukul 21.15.

Mobil yang kukemudikan jauh meninggalkan kompleks perumahan, melesat di jalan bebas hambatan. Tujuan berikutnya adalah gedung kantorku, setelah sejak tadi dua kali tertunda. Aku harus bicara dengan Kris.

”Mereka pasti merindukan papa mereka.” Maryam memecah lengang.

Aku tertawa, menyalip dua truk sekaligus. ”Tidak ada yang perlu dicemaskan. Anak-anak itu luar biasa, Maryam. Papa mereka mendidik dengan cara terbaik.”

”Apa pun itu, mereka masih remaja, Thom.” Maryam menggeleng.

”Tidak. Mereka tumbuh lebih cepat dibanding usia mereka. Kau ingin membaca puisi yang ditulis Putri? Itu mungkin bisa menjelaskan banyak hal.”

Aku menoleh. Tanpa perlu menunggu Maryam mengangguk, aku mengambil lipatan kertas dari saku, menyerahkannya pada Maryam. Aku belum membaca puisi itu, baru membaca judulnya sekilas, tapi aku tahu isinya akan seperti apa.

Maryam menerima kertas itu, membaca perlahan agar aku bisa ikut mendengarnya.

Nasihat Papa tentang Om Thomas

Kata Papa, bahkan bila terbakar hangus seluruh keluarga kita, jangan pernah berhenti peduli.

Walaupun terfitnah kejam keluarga kita, hingga rasanya sakit menembus relung hati,

jangan pernah berhenti berbuat baik.

Anak­anakku, jadilah orang­orang yang berdiri gagah di depan,

membela kebenaran dan keadilan.

Jadilah orang­orang yang berdiri perkasa di depan, membantu orang­orang lemah dan dilemahkan.

Atau jika tidak, berdirilah di belakang orang­orang yang melakukannya,

dukung mereka sekuat tenaga.

Maka, seluruh kesedihan akan diangkat dari hati, seluruh beban akan terasa ringan.

Karena akan tiba masanya orang­orang terbaik datang, yang bahu­membahu menolong dalam kebaikan.

Akan tiba masanya orang­orang dengan kehormatan hadir, yang memilih jalan suci penuh kemuliaan. Percayalah.

Dan jangan pernah berhenti percaya,

meski tidak ada lagi di depan, belakang, kiri­kananmu yang tetap percaya.

Maryam terdiam di ujung puisi. Langit-langit mobil lengang, menyisakan derum mesin. Maryam menelan ludah, menatap kertas di hadapannya lamat-lamat.

”Ini menakjubkan, Thomas.”

Aku mengangkat bahu. Bukankah sudah kubilang? Pemahaman yang mereka miliki, dua gadis remaja itu, dengan usia yang masih dini sekali, bahkan lebih baik dibanding jutaan orang di luar sana.

”Kau benar, Thomas, tidak ada yang perlu dicemaskan dari mereka.”

***

Aku tiba di ruangan kerja Kris pukul sepuluh malam.

Ruangan itu dipenuhi berkas yang berserakan, bekas kemasan makanan fast food, kotak minuman, semua terlihat berantakan. Ada enam layar komputer besar di dalam ruangan, dan salah satunya, yang berukuran 40 inci lebih, diletakkan di dinding, persis di hadapan Kris yang sibuk memperhatikan ratusan entri data yang berkedip-kedip di layar, disertai garis-garis terhubung satu sama lain seperti sarang laba-laba.

”Selamat malam, Thomas.” Maggie yang pertama kali menyapa. Dia bangkit dari duduknya di lantai, di antara tumpukan berkas. Tangannya memegang stabilo. ”Malam, Meg.” Aku mengangguk.

”Kau berganti pakaian di mana?” Maggie menyelidik, melirik ke belakang. ”Dan dia juga berganti pakaian di mana? Kaubelikan dia baju baru mahal dari butik desainer?”

Aku menyeringai menatap Maggie. ”Kau juga telah berganti pakaian, Meg. Percaya atau tidak, ini baju pinjaman. Kalau kau juga mau, besok aku cari pinjaman lain untukmu, mau?”

Maggie tidak memperpanjang komentarnya.

”Selamat malam, Thomas.” Kris menoleh, tetap duduk di kursinya. Lima staf Kris sibuk di depan layar komputer masingmasing, menatapku, aku mengangguk, melambaikan tangan, tidak usah berdiri, silakan teruskan pekerjaan masing-masing.

”Ruangan ini seperti kapal pecah, Kris. Kalian jangan-jangan juga tidur di sini tadi malam?” Aku melangkah mendekati Kris, mendongak, melihat sebuah peta raksasa di layar komputer besar yang memiliki logika program paling canggih. Titik-titik pada peta itu sedang berusaha dihubungkan satu sama lain.

Kris menyisir rambut panjangnya yang juga berantakan. ”Ada kemajuan lagi?”

”Kami bahkan hampir selesai, Thom.” Kris mengangguk, menjentikkan jarinya, memanggil salah satu stafnya untuk mengambil print out laporan dari printer.

Kris menyerahkan lima lembar laporan tersebut kepadaku. ”Semua nama sudah lengkap, dari ’ring pertama’ hingga ke-

lima. Tadi pagi semua data dari Maggie sudah dimasukkan, data jenis ketiga, data internal. Maggie juga memperoleh tambahan beberapa data jenis ini dari pihak lain. Sudah dimasukkan semua ke dalam program. Membantu validasi daftar nama yang kami buat.” Aku memeriksa laporan tersebut. Kotak yang masih kosong di laporan awal Kris tadi pagi sudah terisi, satu lembar untuk setiap level hierarki pola yang terbentuk.

”Aku bisa pastikan pola itu nyaris 99 persen benar. Jadi data yang kaupegang, nama-nama, bisa diandalkan. Hanya saja itu sekadar daftar, Thomas. Tidak bisa menjadi alat bukti. Semua keterkaitan kasus dua puluh tahun terakhir yang kami temukan hanya peta, sebagai petunjuk ke mana harus memulai penyelidikan, bukan barang bukti apalagi kesaksian yang bisa menghukum mereka.”

”Tidak masalah, Kris. Setidaknya kau membuat investasiku membeli superkomputer ini tidak sia-sia.” Aku mengangguk, memeriksa seluruh nama tersebut, mengangkat lima lembar kertas itu, menoleh ke arah Maryam. ”Lihatlah! Kita memiliki daftar lengkap mafia hukum yang katanya tidak kasatmata dan kebal itu. Dan soal bukti serta kesaksian, hei, kita punya amunisi untuk mulai merontokkannya satu per satu. Lima kotak dari daftar ini sudah bisa dicoret malam ini.”

”Tapi kami belum selesai, Thom. Kami hampir selesai,” Kris memotong, menggeleng.

Kris mengambil salah satu kertas yang berserakan di meja, menjentikkan jarinya lagi, meminta bolpoin dari stafnya yang masih berdiri di dekat kami. Mengusap rambut panjangnya yang mengganggu ujung mata.

”Kau pasti melihat ada lubang dalam pola ini, bukan?” Kris menoleh kepadaku, meletakkan kertas yang dipegangnya di atas meja.

Aku mengangguk, karena itulah aku memutuskan ke ruangan kerja Kris malam ini. ”Benar, ada missing link. Sesuatu yang tidak terjelaskan sejak laporan awal yang kauberikan lewat e-mail. Aku tidak melihat desain besar di balik semua nama-nama ini.” ”Right! Tepat sekali, Thom. Missing link.” Kris membungkuk menghadap meja, dengan cepat membuat lima lingkaran kecil di

atas kertas, memberi nomor setiap lingkaran.

Aku menoleh ke arah Maggie. Hei, apakah Kris akan menggambar abstrak lagi? Apakah dia selalu merasa perlu menggunakan grafik, pola, saat menjelaskan sesuatu?

”Nah, kau lihat, Thom.” Kris menunjuk ke atas kertas, membuatku terpaksa melihat lingkaran-lingkaran yang dibuatnya. ”Kami jelas menemukan sesuatu dari lima hierarki jaringan ini. Ada subpola yang menarik. Satu orang dari ring pertama, mengontrol empat hingga delapan orang ring kedua, dan seterusnya, satu orang dari ring kedua, mengontrol empat hingga delapan orang ring ketiga. Seperti sebuah pola multilevel.

”Mereka membentuk spesifikasi khusus untuk setiap penguasa di ring pertama. Ada nama-nama yang selalu ditemukan untuk menangani setiap kriminal dasar, seperti kasus pembunuhan, penganiayaan, dan sejenisnya. Ada nama-nama yang selalu muncul saat kasus tender atau proses pengadaan barang dan jasa pemerintah. Ada juga nama-nama yang selalu muncul setiap melibatkan kasus hukum perusahaan besar, entah itu konflik bisnis, akuisisi, hingga persaingan bisnis biasa.”

Kris menggambar garis-garis di atas kertas, menghubungkan lima lingkaran satu sama lain, memberikan angka-angka lagi. ”Selain subpola spesifikasi kasus, mereka juga membentuk subpola area, kawasan. Bukan hanya area secara geografis, juga secara lembaga, entitas. Setiap rantai komando di ring pertama selalu memiliki pola menangani kasus yang melibatkan partai mana, organisasi massa mana, dan sebagainya. Semuanya rapi dan terstruktur. Sehingga tidak ada nama-nama yang muncul lintas subpola.”

”Nah, yang menjadi missing link adalah, dari dua puluh empat nama di ring pertama, siapakah yang mengontrol mereka? Mengendalikan berbagai subpola tersebut? Apakah mereka sejenis triumvirat? Dua puluh empat orang berdiri setara di rantai paling atas? Berbagi kekuasaan dalam jaringan tersebut? Aku berani memastikan jawabannya tidak. Ada yang mengontrol mereka semua. Ada seseorang yang amat kuat mengendalikan ring pertama.” Kali ini Kris membuat lingkaran raksasa di kertas, membuat lingkaran kecil dan garis-garis masuk di dalamnya. Kemudian menggambar tanda tanya besar.

”Kau lihat, Thom.” Kris meletakkan bolpoin, melompat ke belakang, duduk di atas kursinya, mendongak menatap layar besar. Aku ikut mendongak.

Kris menekan tombol keyboard di hadapannya, kursor mengarah ke salah satu konektor kecil berbentuk kotak dari ribuan bahkan mungkin puluhan ribu konektor di jaring laba-laba, peta raksasa di layar besar. Saat konektor itu ditekan oleh Kris, sebuah jendela kecil berisi potongan berita dari koran beberapa tahun lalu muncul di layar—bagian dari jutaan data yang telah dimasukkan Kris dan timnya.

”Kau baca, Thom. ’Kami harus berkonsultasi terlebih dahulu dengan atasan.’ Demikian petinggi kepolisian tersebut menutup kon­ ferensi pers.” Kris memberikan highlight atas kutipan wartawan. ”Aku menemukan lebih dari lima ribu kalimat serupa di data kita. Dan itu dikatakan oleh nama-nama yang ada di ring pertama, hierarki tertinggi. Dalam konferensi pers, dalam acara tanya-jawab televisi, talk show, bahkan dalam data laporan internal mereka sendiri. Mereka akan berkonsultasi, bertanya, berdiskusi, berkoordinasi dengan atasannya. Siapa atasan mereka? Aku memeriksa nama-nama atasan mereka langsung di dunia nyata, mudah saja menemukan nama mereka, tapi hasilnya kosong, hampir tidak ada nama-nama atasan mereka yang masuk dalam pola, alias tidak terlibat.

”Jenderal bintang tiga itu misalnya, dalam ratusan potongan berita, berkali-kali bilang akan berkoordinasi dengan atasannya, tapi nama Kapolri, orang nomor satu di kepolisian, tidak ada dalam pola kita. Kalau dia memang berkoordinasi dengan Kapolri, nama Kapolri pasti masuk dalam pola, terlibat. Kenyataannya, memang ada banyak data yang menyebut Kapolri, tapi tidak membentuk pola. Jadi dia berkoordinasi dengan siapa? Siapa yang mereka sebut atasan itu? Apakah itu hanya basa-basi saat ditanya oleh wartawan, saat dikejar oleh pembawa acara? Atau mereka terbiasa menjawab demikian? Tidak ada maksud apa pun. Rasa-rasanya tidak. Karena terlalu banyak kemiripan satu sama lain.” Kris berdiri lagi, melompat ke sebelah meja, meraih bolpoinnya.

”Ring pertama jelas dikendalikan oleh seseorang. Siapa? Itulah lubang besar dari pola ini. Aku tidak menemukan desain besar di belakangnya. Siapa yang membangun jaringan mafia ini dua puluh tahun lalu? Orang yang mengontrol jenderal di kepolisian, jaksa, hakim, pejabat pemerintah, anggota DPR, wartawan, petugas imigrasi, hingga pengusaha besar?” Kris sekali lagi membuat lingkaran besar, membuat tanda tanya di atas kertas, meletakkan bolpoin, lantas memberikan kertas itu kepadaku.

Aku menghela napas, menatap gambar Kris. Lengang sejenak, menyisakan desing belasan server komputer dan pendingin ruangan yang berbunyi halus.

”Kau sudah memasukkan seluruh kata kunci yang kuberikan?” Kris mengangguk. ”Maggie sudah memberikan puluhan kata kunci. Nihil. Kita sudah menggunakan seluruh kata kunci tersisa, bahkan nama presiden dan mantan presiden. Hei, siapa

tahu dia bos mafianya, bukan?”

Aku mengusap rambut, menggeleng. Kris belum memasukkan semua kata kunci.

”Kau punya hipotesis, Thom? Dugaan?”

Aku masih menatap kertas Kris lamat-lamat. Tentu saja aku punya dugaan. Bahkan sejatinya, saat aku memutuskan membuka unit baru konsultan politik, bergabung dengan klien politikku yang maju di konvensi partai, dengan visi terang benderang: menegakkan hukum di negeri ini, aku telah memiliki dugaan kuat. Masa lalu itu belum selesai. Masa lalu itu akan terus menghantui sebelum pelaku utama, otak dari pembakaran rumah Opa, yang membuat Papa-Mama mati terbakar berhasil dikalahkan.

”Kau coba kata kunci lain, Kris.” Aku menurunkan kertas. ”Ya?” Kris menunggu. Dia sejak tadi sudah duduk kembali di

kursinya.

”Shinpei,” aku berkata dengan suara bergetar menahan emosi. Aku akhirnya menyebut nama itu untuk pertama kalinya setelah setahun berlalu. Aku menyebut nama bedebah paling jahat itu untuk pertama kalinya dalam cerita ini.

Kris menatapku bingung. Dia jelas tidak mengenali nama itu. ”Masukkan saja,” aku menyuruhnya.

Jemari Kris dengan cepat mengetikkan nama, menekan tombol enter. Seluruh konektor di jaring laba-laba terlihat berkedip, peta raksasa tersebut mulai memproses kata kunci baru yang dimasukkan. Warna garis-garis jaring laba-laba yang awalnya putih mulai berubah menjadi merah muda dari tepi-tepinya, kemudian terus menyebar ke tengah. Berubah lagi menjadi merah tua, terus menyebar ke tengah.

Aku mendongak, ikut menatap layar komputer.

Tiga menit menunggu. Saat seluruh peta telah berubah menjadi merah tua, komputer mengeluarkan suara beep pelan, dan sebuah kotak muncul di tengah-tengah layar: Data tidak ditemu­ kan. Jaring laba-laba kembali berubah berwarna putih.

”Tidak mungkin.” Aku menggeleng. Itu tidak mungkin.

Dari jutaan data yang dimasukkan Kris, pasti ada nama itu. Shinpei adalah pengusaha besar dua puluh tahun lalu. Dia pemilik banyak kapal, gedung, konsesi bisnis. Namanya ada di setiap tempat. Dan semua petinggi, penegak hukum, pejabat, pasti mengenalnya. Bagaimana mungkin namanya tidak ditemukan?

”Tidak ada, Thom. Komputerku tidak mungkin keliru.” Kris menggeleng.

”Kau coba lagi,” aku menyuruh.

”Baik.” Kris kembali mengetikkan nama itu, mengulang prosesnya. Jaring laba-laba kembali mulai berubah warna, semua konektor berkedip-kedip. Sebelas server di ruangan itu bekerja keras, mengikuti perintah pemrograman yang telah dimasukkan oleh Kris sebelumnya.

Tiga menit berlalu, semua jaring laba-laba menjadi merah tua, suara beep pelan kembali terdengar, dan sebuah kotak muncul: Data tidak ditemukan. Impossible. Aku menepuk meja di sebelahku, menyuruh Kris menyingkir.

”Komputer ini terhubung dengan jaringan internet?” aku bertanya.

Kris yang sudah berdiri mengangguk.

Aku duduk mengambil alih posisi Kris. ”Buka browser internetnya, Kris.”

Kris menunduk, meraih keyboard, jarinya lincah bekerja. Peta raksasa itu hilang, bergantikan layar komputer biasa. Sebuah browser internet telah dibuka Kris.

Aku mengembuskan napas, sedikit tegang, ini sungguh tidak masuk akal, bagaimana mungkin jutaan data Kris tidak memuat nama musuh besarku itu. Aku mengetikkan alamat website mesin pencari, searching. Aku tiba-tiba memikirkan itu, setelah dua kali nama itu tidak ditemukan, jangan-jangan. Aku memasukkan nama Shinpei di kotak pencarian, menekan enter. Beberapa detik berlalu.

Data tidak ditemukan.

Aku menepis meja komputer. Persis seperti yang aku cemaskan. Lihatlah, bahkan website mesin pencari internet tidak menemukan satu pun entri yang pernah menulis nama Shinpei, dalam berita apa pun, artikel mana pun. Jadi bagaimana mungkin Kris akan menemukan pola dalam programnya yang hanya spesifik berisi data kasus hukum dua puluh tahun terakhir.

”Kita telah menemukan orangnya, Kris. Kita telah menemukan desainer besar yang mengendalikan seluruh nama di ring pertama.” Aku menoleh kepada Kris, ”Dan aku baru saja memvalidasi datanya.” ”Bagaimana mungkin? Bukankah namanya tidak ada di pola?” Kris tidak mengerti.

Aku menggeleng, menatap Kris. Ini memang gila. Bagaimana mungkin kalian bisa menghilangkan nama kalian di jaringan internet? Silakan ketikkan nama siapa pun di mesin pencari, pasti pernah melintas di dunia internet. Apalagi jika nama itu adalah pengusaha besar, pemilik banyak bisnis, tidak masuk akal namanya raib dari seluruh berita, liputan, artikel, tulisan, dan sebagainya. Itulah kenapa program canggih Kris, dengan jutaan data kasus hukum yang dimasukkan tidak menemukan polanya. Karena nama ”Shinpei” tidak pernah ada. Nama itu lenyap baik di dunia maya, maupun di dunia nyata.

”Kita menghadapi seseorang yang mengerikan, Thom,” Kris berbisik pelan. Akhirnya dia mengerti, wajahnya sedikit pucat. ”Aku kira itu hanya kabar hoax antar peretas dan programmer komputer dunia. Tapi ternyata benar. Kau tahu, Thomas, hanya sedikit orang di dunia ini yang bisa menghapus namanya di seluruh jaringan internet. Shinpei, siapa pun orang ini, telah menghapus begitu saja namanya dari jejak dunia internet.”

Maryam lebih dulu menyelaku sebelum aku membuka mulut. Dia menyerahkan telepon genggam, sebuah pesan pendek tertulis di layar: Nyalakan televisi. Siaran live penting.

Aku menoleh, siaran apa? Maryam mengangkat bahu, tidak tahu.

Serangan balasan dari musuh telah datang, dan kali ini benarbenar mematikan. 
Bagikan Novel ini Sebegai bentuk dukungan untuk situs ini 😊