menu

Negeri di Ujung Tanduk Bab 25: Keluarga yang Menyenangkan

Mode Malam
Bab 25: Keluarga yang Menyenangkan
I TU salah satu pertemuan dengan hasil mengagumkan. Bah-

kan wajah Maryam terlihat puas. Boleh jadi dia sedang membayangkan wajah lima orang petinggi partai itu saat tiba-tiba didatangi pasukan KPK, diborgol, lantas digelandang masuk ke dalam mobil tahanan.

Aku mengemudikan mobil keluar dari parkiran gedung KPK. Maggie baru saja mengirimkan pesan pendek penting melalui telepon genggam, yang membuatku kembali batal menuju kantor untuk menemui Kris. Ini juga lebih penting untuk diurus segera. Tidak ada pengaruhnya atas seluruh kasus, tapi aku harus menemui mereka untuk alasan emosional dan personal.

Mobil yang kukemudikan sekali lagi meluncur meninggalkan kota Jakarta. Matahari sudah tumbang di kaki langit, menyisakan jingga yang sebentar lagi juga hilang, berganti gelap malam. Aku melintas di jalanan bebas hambatan keluar kota, menuju selatan, tempat banyak penduduk Jakarta menghabiskan akhir pekan seperti ini.

”Bagaimana dengan laporan edisi khusus review mingguan itu, Maryam?” kali ini aku yang memecah lengang, bertanya pada Maryam, teringat sesuatu. Jalanan tol sepi. Aku bisa memacu kecepatan maksimal.

”Lupakan saja, Thom.” Maryam tertawa.

”Lupakan? Bukankah kalian sudah mengundurkan deadline terbit? Dan hei, kau bahkan menyusulku hingga Makau demi edisi khusus itu, bukan? Aku masih ingat sekali wajah kesalmu saat aku bilang tidak sekarang wawancaranya.” Aku ikut tertawa. Maryam mengangkat bahu, menatap ke depan. Cahaya lampu mobil lain berkerlip. Kiri-kanan mulai gelap. ”Lantas bagaimana aku bisa menulis laporan tersebut dengan semua kejadian ini, Thomas? Jadi aku hanya bilang ke pemimpin redaksi persis seperti yang kau bilang, agar kami meletakkan saja wajah klien politikmu besar-besar di cover depan, menulis headline ’calon presiden republik’, tidak perlu lagi menunggu hasil konvensi. Kau tahu apa jawaban mereka? Pemimpin redaksi meneriakiku lewat telepon, marah-marah, bilang aku telah menyia-nyiakan tiket

pesawat dan semua ongkos perjalanan.”

”Kau sepertinya akan dipecat, Maryam.” Aku bergurau. ”Boleh jadi,” Maryam menjawab tidak peduli. ”Tidak masalah.

Aku punya bahan tulisan lebih dari cukup untuk menulis buku, atau novel sekalipun setelah semua kasus ini selesai—entah berakhir dengan baik atau buruk. Kau harus bersedia menjadi narasumberku, Thomas. Kau membawa semua masalah dalam hidupku 24 jam terakhir.”

Aku menyeringai, tidak berkomentar. Tiga puluh menit berlalu. Jalanan relatif lengang. Mobil yang kukemudikan dengan kecepatan tinggi melintas keluar pintu tol, berbelok ke kiri, menuju alamat yang dikirimkan Maggie. Sekarang jalanan ramai. Banyak orang menghabiskan malam kedua long weekend dengan makan di luar, menonton, belanja di pusat perbelanjaan, atau hanya cuci mata. Laju mobil yang kukemudikan berkurang signifikan.

Lima belas menit berlalu lagi, mobil akhirnya tiba di sebuah kompleks. Tidak besar, tidak mewah, tapi cukup memadai, setidaknya terlihat asri. Aku melintas semakin pelan, melihat nomor setiap rumah. Tiba di rumah paling ujung, dengan halaman sedikit lebih luas. Itu sesuai dengan alamat yang diberikan Maggie. Tidak terlihat keramaian mencolok di sana. Hanya sebuah mobil yang parkir di depan garasi. Sepertinya penghuni rumah berhasil menyingkir dari segala hiruk pikuk politik yang terjadi sehari terakhir. Tidak ada wartawan atau petugas polisi yang berjaga-jaga di sekitar. Aku menghentikan mobil di depan pagar rumah, beranjak turun. Maryam menyusul dari belakang.

Aku menekan bel, menunggu beberapa detik.

Pintu depan rumah terbuka separuh. Salah seorang remaja, berusia lima belas tahun, melongokkan kepala, melihatku, bergegas keluar dari pintu, berlari kecil mendekat.

”Selamat malam, Putri,” aku menyapanya.

”Malam, Om Thomas,” dia membalas salam, menyelidik, raguragu hendak membuka kunci gerbang pagar. ”Om nggak datang sendirian?” Dia menunjuk Maryam.

Aku menoleh. ”Tidak. Tapi kau tidak usah cemas padanya.

Dia teman.”

”Oh, teman. Maaf, Om, soalnya Papa bilang kami harus hatihati.” Nama remaja itu Putri, kelas satu SMA, anak pertama klien politikku yang ditangkap kemarin sore. Dia akhirnya gesit membuka kunci, mendorong gerbang pagar.

”Ada siapa di rumah?”

”Hanya kami bertiga. Aku, Mama, dan Lita, Om.”

Dua nama itu muncul dari bingkai pintu saat aku melangkah masuk.

”Syukurlah, kau ternyata baik-baik saja, Thomas.” Istri klien politikku, yang dipanggil Mama oleh Putri, menatapku penuh rasa syukur.

”Aku baik-baik saja, Bu.” Aku mengangguk, mengulurkan tangan.

”Iya, kau selalu baik-baik saja, Thomas.” Dia menyambut tanganku dengan kedua belah tangannya, memegangnya erat-erat, menatapku dengan mata berkaca-kaca. ”Johan meneleponku, menceritakan kejadian tadi pagi di Denpasar. Kau telah membela suamiku. Kau orang yang paling bisa kami percaya sekarang, Thomas.”

Aku tersenyum, mengangguk lagi.

”Mama, Om dan temannya nggak disuruh masuk dulu, ya? Di luar dingin, kan?” Lita—si bungsu dari dua bersaudara, dua belas tahun, kelas satu SMP—mengingatkan ibunya.

”Oh, maaf. Kalian berdua silakan masuk.” Istri klien politikku itu mengangguk. ”Kami sedang menyiapkan makan malam, Thomas. Kau dan rekanmu bergabung sekalian, ya. Lita bantu Kak Putri menyiapkan meja makan.” Tanpa perlu disuruh dua kali oleh ibunya, dua remaja itu mengangguk, masuk lebih dulu ke dalam.

Istri klien politikku itu menoleh, mengulurkan tangan ke arah Maryam. ”Oh iya, wanita yang cantik ini siapa namanya? Aku belum pernah melihat Thomas bepergian dengan seorang gadis. Dia selalu sendirian.”

Maryam tersenyum sopan, memperkenalkan diri.

”Siapa saja yang tahu kalian pindah ke sini?” aku bertanya setelah lima menit berada di dalam rumah. Aku menyimak dua remaja anak klien politikku yang gesit membantu ibunya menyiapkan meja makan, mengambil piring, gelas, sendok, dan garpu. Mereka menuangkan air dari galon ke teko, mengambil semangka dari kulkas, dan mengupas kulitnya. Sementara ibu mereka mengangkat panci berisi masakan malam ini dari kompor.

”Johan dan beberapa keluarga dekat. Sekarang termasuk kau, Thomas. Ah, kami selama ini tidak pernah perlu menjelaskan apa pun, di mana pun, kau dengan sendirinya tahu dengan cepat. Bahkan sekarang tahu kami berada di mana.”

”Kata Papa, Om Thomas kan memang agen rahasia paling hebat, Ma. Kayak yang di film-film itu, tapi lebih kerenan Om Thomas,” Lita, si bungsu menyeletuk, tertawa.

Aku ikut tertawa.

”Kau jangan berisik dong. Jangan memotong percakapan orang dewasa, tau!” Putri, kakaknya berbisik, ”Lihat, potongan semangkamu jadi aneh begini.”

”Biarin.” Lita memajukan bibir ke arah kakaknya.

”Ini rumah milik orangtuaku, Thomas. Tidak terpakai. Jadi saat papa mereka ditangkap kemarin sore, beliau menyuruh kami menjauh dari semua keramaian sementara waktu. Aku tidak punya banyak pilihan. Aku tidak bisa merepotkan keluarga atau teman lain, memutuskan menuju ke sini. Aduh, Maryam, kau tidak perlu membantu menyiapkan makan malam, biarkan anak-anak saja yang melakukannya,” istri klien politikku itu berseru kepada Maryam yang hendak membantu meletakkan potongan buah di tengah meja makan.

Maryam tersenyum, hanya sedikit ini.

”Mereka sejak kecil terbiasa dengan pekerjaan rumah, Maryam. Papa mereka mendidik mereka seperti dia dulu di sekolah berasrama itu.”

”Bagaimana dengan sekolah mereka?” Aku teringat sesuatu, menunjuk dua remaja itu.

”Libur, Om. Ini kan long weekend. Palingan Minggu besok juga semua masalah sudah beres. Ya kan, Ma? Senin Lita bisa kembali ke Jakarta, sekolah lagi.”

Mama mereka tersenyum, mengangguk, sambil menuangkan sayur capcai ke mangkuk besar. Aku tahu, itu sejenis senyuman dan anggukan bohong dari ibu mereka. Sengaja dikeluarkan agar anak-anak yakin semua baik-baik saja.

”Kau tidak perlu mencemaskan kami, Thomas. Anak-anak sejak kecil sudah terbiasa dengan situasi seperti ini. Nah, makan malamnya sudah siap. Ayo, Maryam, Thomas, kalian harus bergegas mengambil piring, atau Lita akan menghabiskan semua makanan bahkan sebelum yang lain memegang sendok.”

”Ah, Mama, aku kan nggak segitunya kalau makan.”

”Kata siapa? Dasar karung!” Putri menyela senang, tertawa. ”Lita sekarang makannya banyak sekali, Om. Perutnya memang sudah kayak karung.”

Aku ikut tertawa, melangkah mendekati meja makan, dan menarik kursi. Maryam duduk di sebelahku. Selalu menyenangkan mengunjungi keluarga ini, bahkan sesudah papa mereka ditangkap polisi persis di depan mata mereka kemarin sore. Saat itu mereka berlari mengejar papa mereka dan berteriak menahan tangis. Namun, adegan mengharukan di layar televisi kemarin sore itu tidak lagi tersisa. Malam ini, dua remaja klien politikku terlihat tenang, polos, suka bergurau seperti kebanyakan remaja lainnya. Aku tiba-tiba teringat sesuatu, meletakkan sendok dan garpu, menghentikan makan sejenak, berdiri. Ini pukul 19.30, waktu yang dijanjikan.

”Om mencari apa?” Lita bertanya dengan mulut penuh nasi. ”Remote televisi.” Aku memeriksa sekitar.

”Ada di atas galon air,” Putri yang menjawab. Aku mengambil remote, menyalakan televisi.

”Eh, Om, kan nggak boleh menyalakan televisi kalau lagi makan malam. Apalagi bicara tentang pekerjaan,” Lita berseru, mengingatkan peraturan, mulutnya sudah kosong.

”Tidak apa, Lita. Kita buat pengecualian malam ini, spesial untuk Om Thomas.” Ibu mereka mengangguk, demi melihatku yang tidak sabaran ingin menonton sesuatu.

”Oke, Ma.” Lita mengangguk.

”Memangnya Om mau menonton apa?” Putri bertanya.

Aku tidak menjawab, menunjuk layar televisi di ruang makan yang sedang menyiarkan secara langsung breaking news. Hiruk pikuk dari arena konvensi partai.

Seruan-seruan dan teriakan-teriakan terdengar nyaring. Di layar kaca terlihat belasan anggota pasukan berseragam komando, bersenjata otomatis, yang dikirim KPK, menggiring paksa lima orang keluar dari plenary hall menuju mobil tahanan yang sudah menunggu di lobi hotel. Mereka bergerak taktis, menyuruh menyingkir siapa pun yang menghalangi. ”Pemirsa, ini benar-benar mengejutkan,” pembawa acara siaran langsung itu berseru dengan suara nyaris berteriak untuk mengalahkan bising di sekitarnya, dan suaranya terdengar serak karena sepanjang hari terus siaran. ”Setelah kemarin kita menyaksikan calon kandidat paling kuat konvensi ditangkap pihak kepolisian, dijadikan tersangka kasus korupsi megaproyek tunnel raksasa Jakarta, malam ini, dari arena konvensi, kita menyaksikan lima anggota DPR, petinggi partai, ditangkap sekaligus oleh KPK. Mereka ditangkap serempak.

”Informasi terbatas yang kami peroleh mereka ditangkap atas tuduhan korupsi Proyek Pembangunan Pusat Olahraga Nasional lima tahun silam, yang hingga hari ini terus diliputi misteri. Seperti yang kita ketahui, nama-nama mereka disebut ramai saat proses pengadilan beberapa anggota DPR beberapa tahun lalu, tapi selalu lolos dari jeratan hukum. Juru bicara KPK hanya menjawab pendek saat dikonfirmasi, bahwa konferensi pers akan diadakan besok terkait kasus ini. Mereka memiliki bukti dan kesaksian baru untuk membuka kembali kasus lama itu.

”Penangkapan ini jelas akan membawa perubahan besar dalam arena konvensi, mengingat sejak dibuka tadi pagi deadlock terjadi terus-menerus antara dua kubu yang berbeda pendapat. Antara pihak yang meminta kandidat JD didiskualifikasi, yang berasal dari elite partai, dan pihak yang ingin kandidat JD tetap diikutsertakan. Lima petinggi partai yang ditangkap KPK adalah yang paling lantang bersuara ”

Aku mematikan televisi.

”Yaaa, kenapa dimatikan, Om?” Lita protes. ”Lagi seru-serunya.”

”Setelah Om pikir-pikir, sepertinya ini sejenis acara yang tidak cocok ditonton anak-anak seusia kalian.” Aku mengarang alasan. Sebenarnya kumatikan karena sudah cukup. Lima komisioner itu telah membuktikan omongan mereka. Bergerak laksana puting beliung menangkap tersangka di mana pun berada.

”Yaaa, aku kan pengin tahu kabar Papa, Om. Sudah sejak kemarin kami nggak tahu, Mama juga nggak cerita, kami nggak boleh nonton televisi. Kami pengin tahu ”

Putri menyikut lengan adiknya, menyuruh diam. Lita bergegas menutup mulut dengan jari tangan, melirik ibunya. Dia kelepasan.

Aku menatap istri klien politikku yang duduk di seberang meja. Dia menghela napas, wajah sabar keibuan itu terlihat suram. Sejak setahun lalu aku mengenal keluarga ini. Mereka keluarga yang sederhana, tidak ada yang spesial, tidak ada yang menunjukkan bahwa mereka keluarga mantan gubernur ibu kota, atau sekarang, kandidat presiden. Jika ada yang spesial, itu adalah anak remaja mereka, yang salah satunya sekarang mengangkat kepala, lantas berkata pelan, ”Aku minta maaf, Ma.”

Aku tersenyum, melangkah ke arah kedua remaja itu. ”Kalian mau tahu kabar papa kalian, bukan?” Aku mengacak-acak rambut Lita. ”Papa kalian baik-baik saja. Dia memang sendirian saat ini di sel penjara sana, tapi itu bukan masalah besar. Papa kalian tahu kalian selalu memikirkannya. Kalian tahu, masalah terbesar bagi orang dewasa di luar sana? Dia ramai di tengah orang banyak, tapi sejatinya tidak ada satu pun yang benar-benar memikirkannya. Papa kalian sebaliknya, begitu banyak orang yang memikirkannya saat ini, bahkan bersedia melakukan apa pun untuk membantu. Termasuk kalian yang bisa membantunya dengan terus berdoa dan berharap yang terbaik.” Aku tidak tahu apakah kalimatku ini dipahami kedua remaja itu. Aku tidak pernah bicara pada anak-anak, remaja. Mungkin bicara di hadapan ribuan anggota partai lebih mudah karena aku paham apa saja yang menjadi prioritas, kepentingan dan keberpihakan mereka, seperti rumus Pitagoras, mudah dipahami. Tetapi aku tidak memiliki pengalaman memahami dunia anakanak dan remaja. Rumus dunia polos mereka berbeda.

”Papa kalian baik-baik saja, Lita, Putri.” Aku meyakinkan sekali lagi, menatap mereka berdua. ”Tidak ada yang perlu dicemaskan. Orang-orang jahat yang sengaja mencelakai, memfitnah papa kalian, akan menerima balasannya. Serahkan pada Om Thomas, well, maksud Om, serahkan pada agen rahasia sekeren Om. Nah, sekarang kita bisa melanjutkan makan malam. Perut Om lapar, bahkan saking laparnya, kayaknya Lita tidak akan bisa mengalahkan banyaknya makanan yang Om habiskan malam ini.”

Lita hendak tertawa protes. Putri ikut menyengir, melirikku. Makan malam itu dilanjutkan tanpa gangguan.

Aku pikir, dengan segala kejadian menyesakkan yang dihadapi keluarga ini, mereka terlihat kompak dan baik-baik saja. Selepas makan malam, dua remaja itu membantu ibu mereka mencuci piring, bahkan jauh lebih terampil dibanding Maryam yang hampir menjatuhkan gelas—Maryam melotot sebal melihatku hendak tertawa.

”Kami tidak bisa lama-lama, Bu.” Aku menatap istri klien politikku. Semua piring telah bersih. Meja makan telah rapi. Dua remaja itu bahkan sudah duduk di ruang keluarga, membaca.

”Om tidak menginap saja?” Lita menoleh, memberikan usul. ”Banyak pekerjaan yang harus Om lakukan.” Aku menggeleng. ”Oh.” Lita mengangguk-angguk.

”Dasar sok paham.” Putri menyikut adiknya. ”Memang paham kok.” Lita melotot.

”Aku berjanji akan melakukan apa pun untuk memperbaiki situasi.” Aku menjabat tangan istri klien politikku.

”Ya, kau selalu menepati janji, Thomas.” Istri klien politikku menggenggam tanganku, menatap penuh penghargaan.

Maryam ikut bersalaman. Kami melangkah melintasi ruang keluarga.

”Om, tunggu sebentar!” Putri tiba-tiba berseru.

Aku menoleh. Gadis remaja usia lima belas itu menarik selembar kertas dari buku yang dibacanya, berdiri, beranjak mendekatiku, menyerahkan kertas itu.

”Untuk, Om. Itu puisi yang kutulis.” Si sulung malu-malu. ”Kau menulis puisi?” Aku menatapnya, tertarik.

Si sulung mengangguk. ”Tapi jangan ditertawakan kalau jelek, Om.”

”Dibaca, Om, yang kencang.” Lita ikut berdiri, berseru, ingin tahu.

”Nggak boleh dibaca sekarang!” Putri langsung memotong kalimat adiknya, wajahnya memerah. ”Om baca kalau sudah di mobil.”

”Ayo dibaca saja, Om.” Lita masih mengganggu kakaknya. Aku mengacak rambut Lita, melipat kertas yang diserahkan

Putri, memasukkannya ke saku. Kami berpamitan, melangkah keluar pintu depan.

Pekerjaanku masih jauh dari selesai. 
Bagikan Novel ini Sebegai bentuk dukungan untuk situs ini 😊