menu

Negeri di Ujung Tanduk Bab 24: Serangan Balik

Mode Malam
Bab 24: Serangan Balik
PUKUL 16.30, satu jam meninggalkan penjara Om Liem. ”Aku tidak pernah menyangka kejadian sebenarnya seperti itu,

Thomas.”

Maryam memecah lengang. Kami sudah kembali di atas mobil. Aku memegang kemudi, meluncur cepat, menuju tujuan baru. Sepanjang sisa pertemuan, Om Liem hanya mengangguk, tapi itu lebih dari cukup. Aku bisa meninggalkan bangunan penjara itu dengan lega. Satu kunci penting dalam seluruh cerita ini sudah kupegang. Kesaksian Om Liem senilai separuh dari nama-nama ”ring pertama” mafia hukum itu.

”Itu hanya masa lalu, Maryam. Tertinggal di belakang,” aku berkata pelan, menatap ke depan. Matahari mulai lembut menyiram jalanan kota, menerobos kaca depan, menyiram wajah. Jalanan ramai lancar.

”Dua orang itu, petinggi kepolisian dan kejaksaan itu, hilang bersama kapal pesiar lama milikmu, bukan? Mati diracun teman mereka sendiri yang berkhianat, dan kapal pesiar itu menuju wilayah lautan tak bertuan hingga hari ini.” Maryam mengangguk-angguk, merangkaikan penjelasan. ”Setahun lalu semua media massa hanya heboh, sibuk dengan dugaan mereka hilang, tanpa penjelasan yang memadai. Kabar dua pejabat itu raib mengalahkan kabar bailout Bank Semesta. Tetapi tidak ada yang membayangkan kejadian sebenarnya akan semengenaskan itu.”

”Mereka berhak mendapatkan balasannya,” aku masih menjawab datar.

”Iya, mereka berhak dihukum dengan cara apa pun. Kau sendirian yang merekayasa semuanya? Membalas musuh-musuh keluargamu, menyingkirkan semua rintangan, bahkan membuat pemerintah menyelamatkan Bank Semesta, yang kemudian menjadi polemik bertahun-tahun.”

Aku mengangkat bahu. ”Aku tidak pernah bekerja sendirian, Maryam. Tidak ada seorang pun yang bisa membuat rekayasa besar tanpa bantuan pihak lain. Kalian, rekan wartawan, membantu banyak setahun lalu.”

Maryam tertawa kecil. ”Kami hanya jadi alat propagandamu, Thomas. Bukan sebuah bantuan. Tetapi aku pikir, kami tidak keberatan melakukannya.”

Aku memutar kemudi, mobil berbelok, masuk ke jalan lebih besar. Aku sejak tadi siang hendak menemui Kris di ruangan kerjanya. Aku tahu itu berisiko. Gedung kantorku boleh jadi masih diawasi, tapi ada ”lubang besar” yang tidak terjelaskan dalam laporan awal yang dibuatnya, dari pola awal yang ditemukannya. Aku tidak bisa membicarakannya lewat telepon, bertemu langsung akan lebih mudah. Laporan awal Kris tidak menjelaskan grand design dari jaringan tersebut, hanya berisi hierarki dengan nama-nama, padahal dalam kejahatan multilevel, desain raksasa di balik semuanya selalu lebih penting.

”Seberapa besar kau membenci pamanmu, Thomas?” Maryam bertanya.

”Aku tidak membencinya, Maryam.”

”Kau bahkan sepanjang pertemuan tidak memanggil namanya, Thomas? Kau menyebut nama langsung dan seruan kasar lain, apalagi memanggilnya dengan sebutan ’Om’. Kau tidak bersedia bersalaman. Bagaimana mungkin kau tidak membencinya? Kau boleh jadi amat membencinya, Thomas.”

Aku mengangkat bahu, memperhatikan jalanan di depan. Aku tidak tahu jawaban pastinya. Setahun lalu aku memutus-

kan menyelamatkan Om Liem dari kesulitan besar Bank Semesta, bahkan menyelamatkan nyawanya dua kali. Jika aku benar-benar membencinya, aku akan memilih tidak peduli, membiarkan Om Liem sendirian. Entahlah. Boleh jadi aku lebih membenci diri sendiri dibandingkan membencinya. Membenci mengapa selama ini aku tidak bisa melakukan apa pun untuk membuat situasi berubah jadi lebih baik, termasuk misalnya membuat perangai Om Liem berubah. Bagaimana mungkin aku bicara tentang moralitas? Tentang kebaikan? Jika di keluarga sendiri ada seorang penjahat besar yang bertahun-tahun tidak pernah berubah? Aku kehilangan relevansi atas kalimatku sendiri.

”Apakah semua orang yang terlibat dalam kebakaran pada masa lalu itu telah berhasil kaubalas, Thomas?” Maryam memecah lengang lagi.

Aku kali ini diam, tidak menjawab. Aku tidak akan menyebut nama paling bedebah dalam cerita ini. Belum sekarang. Orang yang dekat sekali dengan keluarga kami saat aku masih kecil, pengkhianat besar keluarga kami.

”Apakah semua kejadian ini juga ada hubungannya, Thomas?” Aku tetap diam. Maryam hendak bertanya lagi.

Suara dering telepon genggam lebih dulu menghentikan pertanyaan dan rasa penasaran Maryam. Dia meraih telepon genggam, mengangkatnya. Itu telepon untuknya. Bicara sebentar, intonasi suara Maryam terdengar riang, dia bahkan berseru saking senangnya.

”Mereka bisa menemui kita sekarang, Thomas. Lima pimpinan KPK. Pukul 17.00, di gedung mereka.” Maryam melirik jam di layar telepon. Wajah riangnya berubah cemas. ”Itu berarti setengah jam lagi. Apakah cukup waktunya untuk tiba di sana Thomas? Mereka bilang harus on time, tidak boleh terlambat. Mengumpulkan lima komisioner bukan pekerjaan mudah, mereka supersibuk bahkan saat long weekend.”

Aku menyeringai. ”Jangankan setengah jam, Maryam. Kau bilang lima belas menit, itu lebih dari cukup untuk tiba, berpegangan, kita akan mengebut.”

Belum habis kalimatku, belum sempat Maryam meraih pegangan, aku sudah menekan pedal gas. Mobil melesat, menyalip tiga angkutan umum sekaligus yang sedang merapat menaikkan penumpang semau mereka. Urusan menemui Kris bicara tentang ”lubang besar” atau missing link di laporan awal bisa ditunda dulu. Pertemuan ini jauh lebih penting.

*** Aku tiba di lobi gedung KPK pukul 16.45, lima belas menit lebih awal. Setelah memarkir mobil di parkiran, aku lantas melangkah menuju meja tamu. Ada banyak prosedur yang dilewati, Maryam yang mengurusnya—karena jelas kami tidak membawa kartu identitas, semua disita satuan khusus antiteroris Hong Kong. Kami hanya memiliki selembar surat perjalanan sementara sebagai warga negara Malaysia.

Lift mendesing halus, naik. Berhenti di lantai sebelas. Salah satu petugas mengantar kami hingga ke ruang tunggu, mempersilakan kami duduk. Layar televisi besar yang ada di ruang tunggu menyiarkan berita dari arena konvensi partai. Pembawa acara yang sejak tadi pagi terus bertugas masih melaporkan situasi deadlock, tidak ada kemajuan berarti. Aku bergumam pelan. Mereka telah bertahan dengan baik. Sekarang bagianku menggerakkan bidak, membuat perubahan situasi.

Masih kurang dari lima menit dari jadwal pertemuan, salah satu sekretaris komisioner menjemput kami. Bilang, lima pimpinan sudah siap, menunggu kami. Aku mengangguk, berdiri. Maryam melangkah di belakangku.

Kami ternyata tidak bertemu di ruangan khusus. Kami bertemu di ruangan Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi. Empat komisioner lainnya bergabung ke ruangan itu.

”Selamat sore, Thomas.” Salah satu pimpinan menyalamiku, tersenyum hangat.

Aku balas mengulurkan tangan.

”Aku kenal anak muda ini.” Salah satu pimpinan lain beranjak mendekat, tertawa.

”Kau mengenalnya? Di mana?” Ketua Komisi bertanya.

”Aku pernah bertemu dengannya di sebuah diskusi pemberantasan korupsi awal tahun ini. Di Singapura, bukan? Ah iya, benar, di Singapura. Dia menjadi pembicara awal. Itu sedikit mengejutkan. Aku tidak tahu ada orang Indonesia yang hadir dalam acara itu menjadi pembicara pembuka. Aku sempat mengikuti sesinya sebelum menjadi pembicara di sesi kedua. Kalian tahu apa yang terjadi saat kesempatan tanya-jawab dibuka?” Salah satu pimpinan itu bercerita sambil tertawa lagi. ”Kalian tidak akan bisa membayangkannya.

”Saat sesi tanya-jawab itu, salah satu peserta dari negara lain, kalau tidak salah dari Kuba, berseru protes, ’Omong kosong kita bisa memberantas korupsi dalam semalam, Tuan Thomas. Tidak ada orang yang bisa melakukannya. Bahkan orang paling berkuasa sekalipun seperti Hitler, Mussolini, dan sebagainya.’

”Dan kau, Thomas, aku ingat sekali, kau hanya santai mengangkat bahu menjawab pernyataan itu. Kau hanya bilang, ’Tentu saja mungkin. Mudah sekali melakukannya. Kita legalkan saja ko­ rupsi. Minta Presiden atau kepala negara mengeluarkan dekrit malam ini, bahwa mulai besok, saat cahaya matahari menyentuh bumi, korupsi menjadi legal, boleh dilakukan di seluruh negeri. Se­ lesai sudah, korupsi telah diberantas tuntas dalam semalam.’ Bukan begitu jawabanmu, Thomas?”

Aku tertawa, mengangguk. Itu benar. Aku tidak tahu kalau salah satu pimpinan KPK menjadi pembicara sesi kedua. Aku sudah bergegas pergi meninggalkan tempat acara.

”Tapi kau pasti sedang bergurau dengan jawaban itu, Thomas, karena jika itu yang akhirnya dilakukan pemimpin negara mana pun, termasuk presiden negara ini, kami berlima tidak berguna lagi, hanya jadi harimau ompong, hilang giginya, lenyap cakarnya,” Ketua Komisi menanggapi, ikut tertawa sopan. Aku belum pernah bertemu dengan satu pun komisioner ini, tapi menilik pembukaan perkenalan kami, aku segera tahu, mereka orang-orang yang sederhana, ramah, bersahabat, tetapi tegas, disiplin, dan memiliki prinsip-prinsip. Mereka memiliki kehormatan petarung—dan petarung sejatilah pekerjaan mereka. Tidak terlihat keretakan di antara mereka seperti kabar burung itu. Mereka berlima akrab, kompak, dan saling mengisi percakapan. Ruangan Ketua Komisi itu menjadi saksinya, ruangan yang sederhana, hanya berisi perabotan dan peralatan kantor simpel tapi fungsional.

”Nah, Thomas, apa yang hendak kaubicarakan? Tiga pemimpin redaksi tepercaya meminta kami menemuimu dan Maryam. Mereka bilang kau memiliki informasi penting. Kami menganggap itu sungguh serius, Thomas. Jadi kami berlima menghentikan pekerjaan lain, bahkan saat libur panjang seperti ini, memutuskan menemuimu. Jadi, apa yang hendak kausampaikan?”

Aku diam sejenak, tersenyum, menatap mereka yang duduk sembarang. Dua duduk di sofa, tiga lain menyeret kursi dari ruangan sebelah. ”Seberapa cepat KPK bisa menangkap tersangka jika semua alat bukti dan saksi cukup?”

”Seberapa cepat?” Ketua Komisi tersenyum. ”Kami datang secepat puting beliung, Thomas. Tidak peduli di mana tempat tersangkanya, apa yang sedang mereka kerjakan, dan siapa mereka. Tangkap segera. Tetapi dengan syarat semua telah memenuhi syarat, prosedur, dan standar lembaga ini. Kami tidak bisa ceroboh, kami harus berhati-hati. Kami memiliki rekor tidak pernah keliru, Thomas. Apa jadinya jika kami gagal menuntut seseorang, reputasi seluruh lembaga dipertaruhkan. Ada banyak pihak yang senang dengan fakta itu, mulai menyerang kami, menyudutkan.”

Aku mengangguk. Itu masuk akal.

”Kau sepertinya membawa sebuah peluru yang kami perlukan selama ini, Thomas?”

”Tidak,” aku menggeleng, ”aku tidak hanya membawa sebuah peluru, aku membawa seluruh amunisi yang dibutuhkan komisi ini untuk menangkap puluhan orang. Kalian bisa mulai dari lima orang lebih dulu, dari Proyek Pembangunan Pusat Olahraga Nasional yang berlarut-larut sejak lima tahun lalu. Aku akan memberikan saksi paling penting yang bersedia membongkarnya. Kalian bisa menangkap lima anggota DPR yang dulu menjadi anggota komisi terkait dan petinggi badan anggaran yang menyetujui proyek tersebut. Itu akan menjadi awal rentetan kasus yang menarik.”

Pertemuan itu tidak berlangsung lama. Singkat, padat, dan efektif. Om Liem siap memberikan kesaksian. Dari brankas rahasia, Om Liem bersedia memberikan seluruh kaset berisi rekaman, dokumen, dan bukti-bukti yang diperlukan. Mereka sejak lama membutuhkan kesaksian seperti ini. Mereka juga pernah membujuk Om Liem setahun lalu, sebagai pemilik perusahaan kontraktor pemenang tender proyek tersebut, tapi sia-sia, Om Liem lebih tertarik tawaran dari mafia hukum. Demi mendengar kabar yang kusampaikan, salah satu komisioner bergegas mengangkat telepon, menghubungi beberapa pihak, meminta agar Om Liem diamankan dari sel penjaranya saat ini. Om Liem harus dilindungi, dipindahkan segera, malam ini juga. Dia saksi kunci.

Lima lembar surat penangkapan diketik staf bahkan saat aku masih berada di ruangan itu, masih menjelaskan banyak hal. Pukul 18.00, pertemuan usai, Ketua Komisi berdiri, mengantarkan aku dan Maryam ke pintu lift.

”Jam berapa kau biasanya makan malam, Thomas?” Dia menepuk bahuku. Kami sedang menunggu pintu lift terbuka.

Aku menatapnya tidak mengerti, menjawab pendek, ”Pukul 19.30.”

”Nah, pastikan kau menyalakan televisi saat makan malam nanti. Secepat itulah kami menangkap tersangka di lembaga ini, pasukan kami di Denpasar sudah bergerak beberapa menit lalu.” Ketua Komisi tertawa, mempersilakan aku masuk ke dalam lift yang pintunya telah terbuka. 
Bagikan Novel ini Sebegai bentuk dukungan untuk situs ini 😊