menu

Negeri di Ujung Tanduk Bab 23: Panggilan “Om”

Mode Malam
Bab 23: Panggilan “Om”
UNTUK sebuah ruang tunggu di bangunan penjara, ruangan

itu terbilang mewah. Sofa lembut yang pasti mahal harganya, meja berukiran terbuat dari kayu jati, pendingin udara bekerja maksimal, kulkas besar berisi minuman dingin, buah, dan apa saja yang dibutuhkan. Lantai ruangan dari keramik impor, dinding-dinding dicat halus, dengan lukisan dan hiasan berkelas lainnya. Ini lebih mirip ruang tamu perusahaan multinasional dibanding ruang tunggu sebuah penjara. Televisi besar diletakkan di atas meja satunya, dilengkapi sound system bermerek, serta peranti hiburan canggih.

Aku sedang menatap layar televisi, yang kembali disela breaking news. Sementara Maryam di sebelahku sejak meminjam telepon genggamku—mulai dari turun dari pesawat Hercules, menuju parkiran, menaiki mobil yang dikirimkan Maggie, perjalanan menuju penjara ini, dan di ruang tunggu ini, terus sibuk menelepon koleganya. Sekali dua berseru kecewa, lebih sering terlihat membujuk dan memaksa. Dia sepertinya menggunakan seluruh kenalan profesi wartawannya untuk memperoleh akses ke pimpinan KPK, meminta jadwal pertemuan hari ini juga. Dan sebelum itu terjadi, aku sedang mengurus syarat mutlak agar pertemuan itu berjalan sesuai rencanaku. Itulah kenapa aku membelokkan arah mobil yang kukemudikan dari bandara, memilih segera menuju bangunan penjara ini, untuk menemui seseorang. Seseorang yang masih dijemput dari selnya—yang aku yakini selnya juga semewah ruangan ini.

Salah seorang pembawa acara yang sejak tadi pagi siaran terlihat semangat menyampaikan kabar terbaru dari arena konvensi partai, live dari Denpasar.

”Pemirsa, seperti yang diduga banyak pengamat, pleno konvensi partai besar yang sedang berlangsung kembali menemui jalan buntu. Pimpinan sidang memutuskan untuk kembali reses selama 30 menit, hingga pukul 14.30. Itu berarti sejak konvensi dibuka tadi pagi sudah terjadi empat kali masa reses. Perdebatan masih berkutat antara dua kutub ekstrem, apakah JD berhak mengikuti konvensi atau sebaliknya didiskualifikasi menyusul penangkapan yang amat mengejutkan kemarin sore atas tuduhan korupsi megaproyek tunnel raksasa ibu kota.

”Meskipun hampir semua pimpinan partai menolak JD menjadi salah satu kandidat calon presiden, lobi tingkat tinggi telah dilakukan, negosiasi telah dijalankan, tapi sepertinya pemilik suara dari daerah-daerah bersatu penuh dengan pendapat sebaliknya. Kami bisa memastikan, pertemuan tadi pagi di salah satu ruangan besar di hotel yang sama tempat konvensi berlangsung telah menjadi pemicu bersatunya ribuan anggota partai yang menghadiri konvensi ini. Siapa pun yang bicara dalam pertemuan tersebut, konsolidasi yang dilakukan di ruangan tersebut telah memberikan perlawanan efektif atas keinginan elite partai. Tidak ada pengamat politik, narasumber kami, yang berani menyimpulkan apakah keputusan segera diambil terkait deadlock ini, boleh jadi akan terus berlarut-larut beberapa jam ke depan, menunggu terjadinya sesuatu yang bisa membelokkan arah konvensi. ”

Aku meraih remote, mematikan televisi. Maryam juga menutup percakapannya lewat telepon genggam. Dari luar terdengar lantang langkah sepatu mendekat.

Pintu ruang tunggu penjara dibuka. Dua petugas masuk terlebih dulu, menyusul orang yang harus kutemui segera. Dia hanya mengenakan kaus warna putih, celana pendek cokelat, dan sandal jepit. Aku berdiri, menatapnya yang melangkah pelan masuk ruangan. Dia mendongak, melihatku.

”Tommi?” Orang itu berkata dengan suara serak, sungguh tidak percaya melihatku ada di ruangan itu. Hanya ada lima orang yang memanggilku ”Tommi” di dunia ini. Dua orang sudah meninggal, Papa-Mama. Tersisa tiga orang yang masih hidup, Opa, Tante, dan tentu saja satu orang lagi adalah Om Liem.

”Kau, kau membesukku, Tommi?” Om Liem merekahkan senyum, melangkah semakin dekat, menjulurkan tangan.

Aku mengangguk. Tidak merasa perlu balas mengulurkan tangan. Hanya menatap datar. Lantas duduk kembali.

”Demi Dewa Bumi, Tommi. Aku senang sekali melihatmu berdiri menyambutku.” Om Liem menatapku dengan mata berkaca-kaca. ”Tidak apa, tidak masalah kalau kau tetap tidak mau menjabat tangan pamanmu ini, Nak.” Dua petugas yang mengawal Om Liem beranjak ke luar ruangan, menutup pintu, menunggu di luar, membiarkan kami bertiga di dalam.

”Apa kabar Opa, Tommi? Apakah dia baik-baik saja?” ”Buruk. Dia sedang bersembunyi,” aku menjawab lugas. ”Se-

luruh kepolisian Hong Kong mencarinya, termasuk mencariku.” ”Astaga! Kau tidak sedang bergurau?”

”Aku tidak punya waktu banyak untuk bergurau apalagi basabasi denganmu, bahkan sepanjang sisa umurku.” Aku menatap wajah Om Liem. Dia sepertinya sehat—tentu saja sel penjara yang dibuat sedemikian rupa tidak akan mengambil kesehatannya, juga tidak akan mengambil aktivitas bisnisnya. Sel penjara sekadar formalitas.

”Aku membutuhkan pertolongan.” Aku langsung ke topik percakapan.

Om Liem balas menatapku, lantas tertawa pelan. ”Kau bilang tidak punya waktu untuk bergurau, Tommi. Tapi kau sendiri sedang bergurau, Nak. Kau tidak pernah meminta pertolongan dari pamanmu ini, bukan? Tidak akan pernah.”

”Kalau begitu anggap saja Opa yang membutuhkan pertolongan,” aku berkata serius. ”Opa dan aku dituduh menyelundupkan seratus kilogram heroin dan satu karung besar berisi senjata, granat, serta bahan peledak. Hukuman mati menunggu Opa di Hong Kong dan daratan China—tanah kelahirannya.”

Om Liem terdiam sejenak, tawanya tersumpal. ”Apa yang sebenarnya sedang terjadi, Tommi? Dan pertolongan seperti apa yang kaubutuhkan?”

Aku menghela napas sejenak, lantas menceritakan dengan cepat detail semua kejadian. Semua hipotesis. Aku memang amat membenci Om Liem sejak kecil, tapi aku selalu bisa memercayainya. Aku bisa membagi banyak informasi penting dan rahasia kepadanya—toh sebenarnya dia jelas lebih menguasai beberapa informasi tersebut.

”Aku memintamu memberikan kesaksian kepada KPK soal Proyek Pembangunan Pusat Olahraga Nasional yang digarap salah satu perusahaan properti milikmu beberapa tahun lalu. Lima orang anggota DPR yang disebut dalam kasus tersebut pasti terlibat, kau pasti menyimpan buktinya. Aku memintamu mengkhianati jaringan mafia hukum itu,” aku berkata tegas, menutup semua cerita dengan request tersebut.

Wajah Om Liem seketika terlihat suram.

”Semua kejadian ini ada kaitannya. Kejadian di Hong Kong, kejadian di Jakarta. Aku tahu mereka memiliki jaringan besar, kekuasaan besar. Termasuk dalam kasus pengadilanmu. Berapa tahun jaksa menuntutmu atas kejahatan Bank Semesta tahun lalu? Hanya delapan tahun, padahal undang-undang menuliskan dua puluh tahun. Lantas berapa keputusan hakim? Hanya empat tahun, palu diketuk. Setahun di dalam penjara yang bagai kamar di rumah sendiri, berapa remisi yang telah kauperoleh? Dua belas bulan. Hebat sekali, semua korting hukuman yang mereka berikan.

”Aku tahu mereka bisa mendesain banyak hal dengan mudah. Aku tahu semua fasilitas yang mereka berikan kepada pengusaha, siapa saja yang membutuhkan bantuan yang mau membayar mahal. Tapi cukup. Sudah saatnya kau berhenti dari ketergantungan kepada mereka. Cukup. Sekarang waktunya meninggalkan bantuan dari mereka. Atau tidak ada lagi kehormatan yang tersisa.” Om Liem menatap jendela ruang tunggu lamat-lamat. ”Kau tidak tahu seberapa kuat mereka, Tommi. Kau tidak pernah tahu. Bahkan kau tidak tahu nama-nama mereka.”

Aku mendengus. ”Aku tahu, hanya soal waktu aku akan mengetahui semua nama yang ada dalam mafia tersebut. Dari level paling atas hingga orang suruhan paling rendah. Kau mau kubacakan separuh dari nama-nama itu? Agar sekalian bisa dikonfirmasi benar atau tidak daftar yang kumiliki?”

Om Liem menelan ludah, menggeleng perlahan. ”Lantas kalaupun kau tahu, dengan apa kau akan melawan mereka? Puluhan pengusaha besar memilih bekerja sama dengan mereka, menghindari membuat masalah, agar bisnis mereka aman dari gangguan. Dengan apa kau melawannya, Tommi?”

”Dengan cara-cara mereka,” aku menjawab datar. ”Dengan kelicikan, keculasan, pengkhianatan, dan semua cara yang biasa mereka lakukan. Aku mempelajari cara mereka bertahun-tahun.”

Om Liem menghela napas, menatapku.

”Tidakkah kau akan berkata cukup, Liem?” Kami berdua bersitatap tajam. ”Cukup. Tidakkah kau akhirnya berani berdiri sendiri, melepas belalai mereka? Apa yang telah mereka berikan kepadamu, semua bantuan itu nyatanya semu, kosong. Lihatlah, setahun lalu, dua anggota mafia mereka bahkan tega membuat Bank Semesta runtuh, dan harus diambil alih pemerintah. Kau kehilangan semuanya.

”Mereka seolah meringankan beban, tersenyum manis membantu masalah hukum, tapi sejatinya mereka sedang menyiapkan jebakan, perangkap, dan ketergantungan. Kau memberikan kepercayaan kepada mereka, tapi mereka tidak sedikit pun menghargainya. Siapa yang mengirim pasukan khusus tahun lalu? Menembaki kita? Dua orang dari mereka yang selama ini kaupercayai, dan dua bedebah itu sudah menerima balasannya, mati diracun oleh pengkhianatan teman sendiri di atas kapal pesiar Pasifik.

”Kau pasti menyimpan seluruh bukti, dokumen, dan rekaman. Aku tahu cara kerjamu, semua kehati-hatian itu. Sekarang saatnya menggunakan seluruh kartu truf yang disimpan, melemparnya ke meja pertaruhan. Jika kau tidak bisa melakukannya demi cita-cita, mimpi-mimpi, karena sepertinya hal itu sudah lenyap sejak lama dari hati, kau bisa melakukannya demi Opa, menyelamatkannya dari tuduhan serius di Hong Kong. Aku belum tahu hubungan semua ini dengan kejadian di Hong Kong, tapi sekali simpul dibuka, semua jalan keluar akan terbuka dengan sendirinya.”

Aku diam sejenak, membiarkan Om Liem berpikir. ”Kau tidak bisa melawan mereka sendirian, Tommi.”

”Iya, aku tidak bisa melawan mereka sendirian. Untuk itulah klien politikku harus menang di konvensi partai, menjadi kandidat paling serius pemilihan presiden tahun depan. Dia akan menjadi sekutu hebat penegakan hukum, dan arah angin bisa berubah. Iya, aku tidak bisa melawan mereka sendirian. Kau bisa membantuku melawan mereka. Dengan kesaksian tak ternilai, dengan bukti-bukti yang kausimpan, separuh anggota mafia hukum bisa diseret ke pengadilan. Sebelum semua terlambat, sebelum seluruh negeri ini berubah dari negeri para bedebah menjadi negeri di ujung tanduk.”

Om Liem menunduk, menatap ukiran meja jati di hadapan kami.

”Apa kabar tantemu, Tommi?” Om Liem bertanya pelan. Aku mendengus kesal. Aku sungguh tidak mengerti atas pertanyaan itu. Bukan karena kenapa Om Liem tiba-tiba mengeluarkan pertanyaan tidak relevan atas percakapan ini, tapi karena pertanyaan itu amat ganjil. Om Liem bertanya tentang Tante, istrinya, kepadaku? Bukankah dia lebih tahu soal Tante dibanding siapa pun, hah?

”Kau tahu, Nak. Sejak aku kembali dipenjara, tantemu tidak pernah lagi mau bicara padaku. Dia tidak bersedia menghubungiku, apalagi mau membesuk.” Om Liem mendongak. Matanya kembali berkaca-kaca.

”Hampir semua keluarga kita membenciku. Aku tahu itu. Kau, kau jelas amat membenci orang tua ini. Opa, meski Opa tidak pernah bilang, aku tahu sejak lama dia kecewa padaku. Aku tidak pernah bisa seperti Edward, papamu, yang selalu menjadi favorit Opa. Dan Tante,” Om Liem tersendat, ”sejak puluhan tahun tantemu membenciku. Dia mungkin tetap berada di sisiku, mendukung, terlihat baik-baik saja, semua orang menilai kami pasangan yang baik, tapi dia sejak lama sekali telah membenciku. Sejak papa-mamamu dibakar orang-orang itu, membuatmu menjadi yatim-piatu, Tommi.” Om Liem menyeka ujung matanya.

Aku menatap Om Liem lamat-lamat. Kalau saja situasinya lebih baik, menatap wajah Om Liem amat menyedihkan. Dia pernah bertengger di posisi pertama orang terkaya di negeri ini, sebelum konspirasi jahat berkali-kali menghabisinya. Sekarang, pada usia yang tidak lagi muda, keluarganya menjauh karena kecewa. Sementara kolega, rekan bisnis yang selama ini seolah sahabat sejati, telah menyingkir karena buat apa lagi dekat-dekat? Tidak ada lagi potongan kue yang bisa diperebutkan. Habis manis sepah dibuang.

Aku baru paham kenapa setahun terakhir Tante Liem tidak pernah menyebut nama Om Liem di hadapanku. Bukan karena Tante tahu aku benci mendengar nama itu, tapi karena Tante memang tidak tahu lagi kabar Om Liem.

”Tante baik-baik saja. Seminggu lalu aku berkunjung, dia membuatkan puding yang lezat seperti biasa. Dia sehat, wajahnya segar, dia sibuk mengurus kebun. Dia bahkan sempat menceritakan masa muda kalian, pertemuan pertama kalian dulu.” Aku memutuskan berbohong—aku tidak berdusta soal berkunjung dan pudingnya, tapi aku berdusta sisanya, tapi setidaknya itu membuat Om Liem lebih baik, tidak merasa sendirian.

”Sungguh?” Om Liem memastikan.

Aku mengangguk. ”Iya, Tante baik-baik saja.”

”Syukurlah, Tommi. Itu kabar yang baik.” Om Liem tersenyum.

Aku menatap Om Liem lamat-lamat. ”Kau tahu, masih belum terlambat untuk memperbaiki semuanya. Masih ada kesempatan tersisa. Hari ini, aku akan menemui lima komisioner KPK. Mereka satu-satunya penegak hukum yang relatif masih bersih dan punya kekuatan. Kesediaanmu memberikan saksi, memberikan bukti akan menjadi senjata bagi mereka. Pertama-tama, aku harus mengurus lima orang anggota DPR itu, menghentikan seluruh intrik mereka di konvensi partai. Sisa nama dua puluh orang lain akan kita urus kemudian. Apakah kau bersedia membantu?”

”Entahlah, Tommi. Entahlah.” Om Liem sudah tiba di pintu keputusan. Ini memasuki bagian penting percakapan. ”Kau harus melakukannya. Tidak ada lagi saksi hidup yang berani melakukannya selain kau. Dengan puluhan kasus, semua koneksi itu, semua pola kasus-kasus itu, kau memiliki harta karun amunisi untuk meruntuhkan mafia hukum itu.”

Om Liem mengusap wajahnya. ”Itu akan membahayakan keluarga kita.”

”Kau benar, itu akan membahayakan siapa pun. Tapi catat baik-baik, tanpa itu pun, keluarga kita sudah dalam bahaya sejak lama. Sejak kau memutuskan meminta pertolongan mereka dan mereka membalasnya dengan pengkhianatan.”

Om Liem tertunduk lagi, lebih dalam.

Aku menghela napas. Baiklah, aku akan meletakkan kartu truf paling pamungkas dalam percakapan ini. ”Lakukanlah, berdiri tegak melawan mereka. Berikan kesaksian dan semua bukti yang kausimpan, maka aku berjanji, aku akan memanggilmu dengan sebutan itu. Aku akan memanggilmu dengan sebutan yang kaurindukan sejak Papa-Mama terbakar. Aku akan memanggilmu dengan panggilan ’Om Liem’.”

Om Liem mengangkat kepalanya.

Aku tahu, aku pasti memenangkan percakapan ini. 
Bagikan Novel ini Sebegai bentuk dukungan untuk situs ini 😊