menu

Negeri di Ujung Tanduk Bab 21: Faksi Konvensi Partai

Mode Malam
Bab 21: Faksi Konvensi Partai
PUKUL 10.30, Denpasar.

Setiba di bandara transit, aku mengucapkan terima kasih dan basa-basi satu-dua kalimat kepada pilot pesawat Hercules, teman lama Rudi. Aku dan Maryam menumpang taksi menuju hotel tempat konvensi berlangsung. Rudi sekali lagi benar. Itu pengalaman yang menarik, menumpang pesawat Hercules. Kami naik lewat pintu belakang. Selama dua jam kami duduk di kursi panjang berhadapan bersama tumpukan perlengkapan dan barang logistik militer. Kami juga turun dari pintu belakang. Aku merasa seperti tentara yang dikirim ke medan perang saat menjejakkan kaki di landasan pacu. Ini selingan menarik dari semua kejadian satu hari terakhir.

Aku tiba tepat waktu. Bukan dalam artian tepat menit atau jamnya. Konvensi partai itu telah dibuka satu setengah jam lalu. Aku jelas terlambat. Aku tiba tepat waktu dalam artian momennya. Setelah resmi dibuka, acara terbesar partai tersebut—setelah kongres lima tahunan memilih ketua umum partai—langsung berjalan alot, menjurus rusuh.

Tidak bisa dicegah. Diskusi pertama yang segera panas adalah apakah klien politikku berhak mengikuti konvensi atau tidak. Dua faksi segera terbentuk, menjadi dua kutub ekstrem. Kelompok pertama mendukung JD terus mengikuti konvensi, tidak peduli dengan kasus hukum yang membelitnya. Kelompok kedua jelas-jelas meminta klien politikku didiskualifikasi atas nama moralitas partai. Dua kutub yang segera saling berhadapan, plenary hall tempat konvensi berlangsung berubah menjadi pasar malam, ramai orang berseru, berteriak, bersitegang, membuat pimpinan sidang tidak ada artinya lagi. Susah payah mengendalikan jalannya pleno.

”Aku kira kau tidak akan hadir, Thomas.” Johan, salah satu pimpinan muda internal partai, politikus dengan reputasi baik, juga orang kepercayaan klien politikku, bagian dari tim kampanye kami, menyambutku di lobi hotel. Wajahnya tegang.

”Aku pasti hadir, Johan. Apa pun yang terjadi.”

Johan menghela napas. ”Ada setidaknya tiga orang anggota tim inti kita yang entah apa kabarnya, sejak tadi malam tidak bisa dihubungi, Thomas. Aku mengkhawatirkan hal yang sama. Aku berkali-kali menghubungi nomor telepon genggammu, tidak ada nada panggil.”

Aku menoleh, menatap Johan. ”Telepon genggamku rusak.

Dan semoga tiga rekan lain baik-baik saja.”

”Iya, semoga mereka baik-baik saja. Terlepas dari masalah itu, dengan tidak hadirnya kandidat presiden kita, kehadiranmu menjadi penting dibanding semuanya, Thomas. Aku merasa lebih tenang sekarang. Kau pasti punya strategi terbaik menghadapi ini.”

”Kau sudah berhasil menghubungi beliau?” Aku mengabaikan kalimat terakhir Johan, bertanya hal lain. Johan merangkap sekretaris klien politikku. Dia anggota tim yang paling sering bicara dengan klien politikku.

Johan menggeleng. ”Belum ada yang bisa menghubungi beliau, Thomas, bahkan tim pengacara yang telah kita siapkan beberapa jam setelah beliau ditangkap, hingga pagi ini, belum memperoleh kepastian kapan bisa menemui beliau di tahanan. Mereka sepertinya sengaja mensterilkan kontak, setidaknya beberapa hari ke depan hingga konvensi selesai.”

”Bagaimana situasi konvensi?” aku bertanya lagi, sambil berjalan melintasi lobi hotel, mendaftar semua isu. Maryam melangkah di belakang kami, mengikuti.

”Buruk, Thomas. Hampir seluruh petinggi partai meminta JD didiskualifikasi.”

”Itu bisa ditebak. Tapi bagaimana dengan pemilik suara? Ketua cabang, pimpinan dari daerah-daerah?”

”Sejauh ini mereka masih bersama kita. Entah berapa jam ke depan. Dengan kemungkinan diskualifikasi, lobi pihak kandidat lain gencar dilakukan sejak tadi malam, berusaha menarik dukungan baru.” Johan melangkah mengikuti.

”Itu berarti kita masih punya kesempatan, Johan. Aku harus bicara dengan mereka. Kaukumpulkan semua pendukung. Juga kumpulkan tim kita yang tersisa. Kita harus melakukan pertemuan terbatas, melakukan konsolidasi, mengembalikan seluruh kepercayaan diri.”  ”Belum bisa sekarang, Thomas. Semua anggota partai masih berada di plenary hall. Kau tidak bisa masuk ke sana. Hanya pemilik suara yang mengenakan identitas partai yang boleh masuk.” Johan menunjuk kartu name tag yang dikalungkan di lehernya. ”Tapi sepertinya, jika melihat situasi yang semakin panas, pimpinan sidang pleno akan segera mengambil reses untuk memberikan waktu pihak-pihak melakukan negosiasi, jalan tengah. Mungkin setengah jam lagi.”

”Baik.” Aku mengangguk. Kami sudah tiba di depan pintu besar ruangan konvensi, di depan meja-meja panjang pendaftaran. Aku tidak masuk ke dalam. Beberapa petugas konvensi terlihat berkerumun. Keributan dari dalam terdengar jelas dari sini. ”Kalau begitu, sambil menunggu setengah jam ke depan, aku membutuhkan tempat untuk berganti pakaian, Johan. Kau bisa meminjamkanku jas atau apalah yang lebih layak? Juga menyediakan pakaian untuk Maryam. Dia juga butuh tempat beristirahat sejenak, sarapan. Kami sudah lebih dari 24 jam tidak mandi, sejak dari Hong Kong.”

Johan mengangguk. Dia bisa mengaturnya segera.

***

Johan membawa kami menuju sebuah kamar di lantai tujuh bangunan hotel tempat konvensi berlangsung. ”Ini kamar yang seharusnya digunakan beliau, Thomas.” Johan menjelaskan. ”Kami sudah membawa seluruh keperluan beliau dua hari lalu, termasuk keperluan istri beliau yang berencana ikut hadir. Kau bisa meminjam pakaian beliau, ukuran kalian berdua sepertinya cocok. Dan Maryam juga bisa memakai baju apa pun yang ada di lemari istri beliau. Beberapa pakaian dalamnya baru, disiapkan untuk keperluan konvensi.”

Beberapa staf teknis tim kampanye terlihat sedang bekerja di kamar suite itu, mengangguk kepadaku. Wajah mereka mendung, sedih oleh kabar penangkapan kemarin siang. Aku balas mengangguk.

Aku mandi dengan cepat. Salah satu staf menyerahkan beberapa pilihan kemeja dan celana panjang. Aku memilih salah satunya. Dia membawa lagi pilihan jas. Aku mencomot salah satunya. Maryam masih di kamar mandi berbeda. Kamar suite itu memiliki tiga kamar mandi terpisah, dengan kamar-kamar pribadi.

Johan masih menunggu di ruang tamu, menyalakan televisi. Liputan eksklusif dari arena konvensi partai. Layar televisi sedang menampilkan seseorang yang sedang diwawancarai langsung dengan latar konvensi yang kacau.

”Bagaimana mungkin seorang tersangka menjadi kandidat konvensi? Itu tidak masuk akal!” Dia salah satu petinggi partai, ring pertama lingkaran kekuasaan partai, wakil ketua, menjawab bersemangat, wajahnya memerah. ”Siapa pun itu harus didiskualifikasi.”

”Tapi Anda tidak bisa mengabaikan mayoritas ketua cabang, pimpinan provinsi, para pemilik suara yang menghendaki JD tetap diikutsertakan dalam konvensi calon presiden? Kita juga tidak bisa mengabaikan, hampir seluruh media nasional pagi ini kompak mengangkat editorial, menyatakan keprihatinan atas kasus penangkapan mendadak, tidak ada angin, tidak ada asap, atas mantan gubernur ibu kota paling sukses dalam sejarah?”

”Saya akan berterus terang pada Anda. Menurut saya, diskusi polemik ini jadi lucu.” Petinggi partai itu tertawa, menanggapi pertanyaan reporter televisi. ”Kenapa orang-orang juga tidak berpikir... hei, kita tidak bisa mengabaikan fakta JD telah ditahan resmi oleh kepolisian? Dia menjadi tersangka korupsi. Kenapa semua orang seperti mengabaikan fakta itu? Sama sekali tidak menghormati penegak hukum?”

”Tapi penangkapan ini masih proses awal. Boleh jadi proses pengadilan membebaskan JD. Semua sangkaan dan tuntutan tidak terbukti?”

”Nah, semakin lucu jadinya. Bukankah selama ini, jika ada anggota DPR semacam kami ini, atau pejabat pemerintah yang ditahan, semua orang berteriak agar dia diberhentikan segera dari jabatan, dicabut seluruh haknya? Bahkan sebelum proses pengadilan dijalankan? Kenapa kalau kami yang dalam posisi itu, semua orang ribut memaksa, tapi jika JD yang dalam posisi itu, orang-orang justru membela? Catat baik-baik, partai politik kami dengan terang-terangan mendukung pemberantasan korupsi di negeri ini sejak lama. Tidak peduli siapa pun kadernya, termasuk jika dia kandidat presiden. Sekali terindikasi korupsi, dia tidak layak lagi, harus didiskualifikasi, dicopot semua haknya dalam partai.”

Aku menatap layar televisi sambil mengenakan sepatu. ”Hampir seluruh petinggi partai menyetujui ide dia,” Johan

berkata pelan, menunjuk layar kaca, berdiri di sebelahku. ”Termasuk ketua partai dan kelompoknya. Menurut catatan kami, ada lima orang petinggi partai yang bersuara amat keras, sejak tadi malam terus-menerus tampil di media massa, memberikan pernyataan serupa. Salah satunya dia yang baru saja kita saksikan.” Aku mengangguk. Itu strategi perang, lazim sekali.

Mereka sengaja membombardir penonton televisi, pembaca surat kabar dengan opini mereka. Tetapi amunisi kami juga sedang bekerja. Lihatlah, layar televisi sekarang pindah dari arena konvensi ke studio siaran langsung. Faisal, seorang pengamat politik ternama, ditemani Sambas, seorang redaktur senior penting, menjadi tamu dalam siaran live tersebut.

”Bagaimana komentar kalian mengenai hiruk-pikuknya media massa hari ini yang menulis tentang kemungkinan adanya mafia hukum di negeri ini? Astaga, ini istilah yang mengerikan sekali Bung Sambas. Mafia hukum?” Pembawa acara meraih salah satu koran, membaca headline koran tempat Sambas bekerja. ”Berbagai laporan menyebutkan mereka ada di mana-mana, bekerja diam-diam di bawah permukaan, menyelesaikan permasalahan hukum siapa pun. Apa pun kesulitan hukum kalian, tinggal menghubungi mereka, bayar sesuai harga, maka semua bisa diselesaikan.” Pembawa acara mengangkat kepalanya dari berita koran, menatap Sambas, bertanya dengan intonasi bersemangat, ”Apakah liputan ini tidak terlalu berlebihan, Bung Sambas? Tidak ada fakta yang memadai tentang hal itu selama ini?”

Sambas mengangkat bahunya. ”Ada banyak jenis fakta, Tina. Salah satunya adalah fakta kita semua tahu tentang sesuatu, merasakannya, tapi kita tidak bisa melihatnya. Siapa yang pernah melihat oksigen? Kita tahu, kita merasakannya, tapi kita tidak pernah melihatnya, bukan? Maka sama dengan mafia hukum tersebut. Kami kira, laporan ini akan memberikan manfaat bagi orang banyak. Tidak ada yang berlebihan.”

”Pendapat Anda, Bung Faisal?” Pembawa acara beralih ke bintang tamu kedua. ”Aku tidak bisa lebih setuju lagi dengan liputan koran tersebut.” Faisal seperti biasa menjawab penuh gaya. Dia memang seorang komentator politik terbaik.

”Apakah makhluk ini, maksud saya mafia hukum ini, turut terlibat dalam kemungkinan intrik politik atas penangkapan mendadak dan sangat mengejutkan kandidat presiden kemarin sore, Bung Faisal?”

”Saya melihatnya demikian. Kemungkinannya besar, ya.” Aku tersenyum lebar. Nah, dalam perang opini seperti ini,

kami memiliki rudal yang jauh lebih baik dibanding mereka. Di luar sana, ada banyak orang yang berhak memberikan pendapat, bebas menyampaikan komentar. Ini negara merdeka.

Johan mengangkat telepon genggamnya. Dia bicara sebentar. Maryam sudah selesai berganti pakaian, bergabung di ruang tamu dua menit lalu.

”Masa reses baru saja diambil pimpinan sidang, Thomas.” Johan menepuk bahuku. ”Seluruh anggota tim kita, dan ribuan pemilik suara akan berkumpul di ruangan besar lain dekat plenary hall. Kau bisa turun segera.”

Aku mengangguk mantap, meletakkan sisir rambut di atas meja, memandang cermin untuk terakhir kalinya.

Setelah bertahun-tahun menjadi pembicara dalam banyak seminar besar, konferensi internasional, sekarang tiba saatnya aku menggunakan seluruh kemampuan bicaraku dalam situasi genting ini. Keahlian yang kulatih sejak menyaksikan rumah keluarga besar kami terbakar menyisakan puing-puing menyala. Sejak Papa-Mama menjadi korban konspirasi besar yang jahat dan kejam.

Sejak aku menyadari jawaban atas pertanyaan itu. Bagaimana mengalahkan mereka? Balas mereka dengan konspirasi juga? Mudah. Gunakan cara sama yang mereka miliki, tapi gandakan berkali-kali lipat amunisinya.

*** Ruangan besar itu penuh sesak.

Dipenuhi lebih dari separuh anggota konvensi. Wajah-wajah sedih, marah, jengkel bercampur menjadi satu. Ditemani Johan, aku melangkah menuju tengah ruangan, yang telah diletakkan sebuah podium tinggi dengan pengeras suara. Semua orang menoleh saat kami masuk. Seketika seruan-seruan semangat terdengar di langit-langit ruangan, meneriakkan nama JD berkali-kali. Beberapa dari mereka merangsek, berusaha menyalamiku. ”Kau datang, Thomas. Kau ternyata datang.” Aku tersenyum. Tentu saja aku datang. Satu-dua berusaha memelukku, berseru histeris. ”Kami tercerai-berai, Thomas. Semua kehilangan pegangan. Kau bicaralah. Serukan apa pun yang harus diserukan, satukan lagi kami semua.” Aku mengangguk, tentu saja itu akan kulakukan.

Aku menaiki podium tinggi bersama Johan. Tidak ada kursi di ruangan besar itu, tidak sempat disiapkan, tidak ada yang sempat berpikir harus melakukan pertemuan darurat ini, semua orang berdiri, mengelilingi podium, menatapku. Teriakan-teriakan berhenti, bahkan satu potong kalimat pun lenyap dari ruangan besar saat Johan mengangkat tangan, meminta perhatian. Johan kemudian berbisik, menyerahkan semua urusan kepadaku.

Aku menepuk bahu Johan, menatapnya penuh penghargaan, lantas mengambil posisi di depan speaker, melihat ke seluruh ruangan. Ribuan anggota partai itu ada di sini, bersiap mendengarkanku. Aku sudah tiga kali bicara di hadapan mereka. Bedanya, kali ini tidak ada klien politikku yang berdiri di belakang, tersenyum takzim kebapakan, mendukung. Aku harus melakukannya sendirian, mengembalikan semua semangat yang tersisa.

”Hadirin!” aku berkata mantap—meski suaraku bergetar oleh emosi mendalam.

Diam sejenak, menatap sekeliling lagi, memberikan momen menunggu.

”Hadirin! Bertahun-tahun lamanya aku memiliki pertanyaan besar yang hingga hari ini tidak pernah kutemukan jawabannya. ”Bertahun-tahun aku menghabiskan waktu di bangku sekolah, membuka buku-buku politik, membaca jurnal akademis tentang demokrasi, menemui guru besar, politikus senior, menemui orang-orang bijak, tapi jawaban atas pertanyaan itu tidak pernah kunjung kutemukan. Tidak ada satu pun yang berhasil memuaskan hasrat ingin tahuku. Apa pertanyaan besar itu? Yang harus kutanggung selama ini? Pendek saja: Siapa sebenarnya yang me­

miliki sebuah partai politik?

”Tidak. Jangan memotong kalimatku dengan jawaban, hadirin sekalian. Tidak perlu, jangan sekarang.” Aku menatap sekitar, menghentikan gumam refleks yang hendak diserukan orangorang di sekitarku.

”Siapa yang sebenarnya memiliki sebuah partai politik? Karena lihatlah, bukankah ada banyak partai politik di negeri ini yang tidak ubahnya seperti kerajaan. Pucuk pimpinannya adalah ratu, mewarisi kedudukan itu dari orangtuanya, dan orangtuanya mewariskan posisi itu ke anak-anaknya? Lantas orang-orang di sekitarnya adalah keluarga dekat, kerabat, sanak famili, yang bisa merangsek ke posisi penting tanpa harus susah payah meniti karier politik. Apa kata ratu, semua anggota harus dengar. Apa kata ratu, semua anggota harus tunduk. Omong kosong semua kongres, musyawarah, rapat, dan sebagainya. Omong kosong. Titah ratu adalah segalanya, di atas suara seluruh anggota partai. Ini membingungkan. Apakah partai itu sebuah kerajaan? Bukan lembaga paling demokratis di alam demokrasi?

”Siapa yang sebenarnya memiliki sebuah partai politik? Karena lihatlah, bukankah ada banyak partai politik di negeri ini yang tidak ubahnya seperti perusahaan. Manajemen eksekutifnya adalah presiden direktur. Dia memenangi kompetisi pemilihan ketua partai dengan investasi, menyumpal seluruh pemilik suara, lantas seperti sudah membeli saham mayoritas, seluruh partai kemudian menjadi milik pribadinya. Apa kata presiden direktur, semua anggota harus taat. Dia bisa memecat siapa pun yang berseberangan pendapat. Dia bisa melakukan apa pun. Di mana letak demokrasinya jika partai politik sendiri tidak lebih dari perusahaan swasta? Dijadikan alat kepentingan bisnis, bahkan alat pertikaian, memperebutkan hal lain yang tidak ada hubungannya dengan partai, seperti menjadikan partai sebagai alat memperebutkan kompetisi sepak bola.

”Siapa yang sebenarnya memiliki sebuah partai politik, hadirin sekalian? Siapa? Bukankah banyak partai yang dikuasai elitenya saja. Apa kata elite, semua harus ikut. Jika elite pimpinan partai bilang A, semua anggota harus bilang A. Jika menolak, ditendang dari kepengurusan, disingkirkan. Saya sungguh bingung dengan pertanyaan ini, karena kenyataannya, sebaliknya, siapa yang bekerja paling besar untuk kemajuan partai? Apakah mereka? Ratu? Presiden direktur? Elite partai?

”Omong kosong. Yang bekerja paling giat, yang berpeluh memasang spanduk, poster, baliho, membagikan selebaran, berjemur panas-panasan berkumpul di lapangan, kehujanan, siapa? Kita semua, kader paling rendah dan nista di mata mereka. Lihatlah, mereka justru berada di gedung yang mewah, duduk di bawah tenda, menikmati kudapan lezat, mana peduli kalau kita susah payah menjaga agar spanduk partai tidak dilepas orang lain. Mana tahu kalau kita berkali-kali memperbaiki posisi baliho yang dirusak orang lain.

”Bukankah kita semua, kader paling hina, yang bekerja keras siang-malam untuk partai? Kita sumbangkan uang untuk partai. Kita urunan untuk menyewa bus agar bisa menghadiri rapat terbuka. Kita mengeluarkan uang yang kita miliki demi perjuangan. Lantas siapa yang menikmatinya, hah? Siapa yang tertawa? Siapa?”

Aku menatap sekitar dengan tatapan ”menantang”.

”Maka sekarang hadirin sekalian, saya akan bertanya, dan silakan kalian jawab kali ini. Bila perlu teriakkan sekencang mungkin. Agar aku paham, agar aku mengerti, dan akhirnya memperoleh jawaban yang melegakan hati atas pertanyaan besar yang tak kunjung kuperoleh jawabannya. Hadirin! Siapa yang memiliki partai politik ini?”

”Kami!” Ribuan suara berteriak menjawab pertanyaanku. ”Siapa yang memiliki partai ini?” Aku bertanya sekali lagi,

balas berteriak. ”Kamiii!!!” ”Siapaaa?” Aku meraung sekencang mungkin, memanggil seluruh energi mereka.

”Kamiii!!!” Langit-langit ruangan besar itu laksana hendak runtuh. Itu jawaban yang menggetarkan. Itu pesan mematikan. Amunisi tidak terbilang. Para petinggi partai itu, yang sepakat hendak mendiskualifikasi, bahkan jika dia berdiri di parkiran hotel, akan mendengar jawaban serempak ribuan kader pemilik suara. Bertanya-tanya apa yang sedang terjadi, tidak menyadari sebuah kekuatan besar sedang melakukan konsolidasi.

”Maka hadirin sekalian, rapatkan barisan kalian. Mari kita bersumpah satu sama lain untuk tetap setia. Setahun lalu, kita berhasil memaksakan konvensi partai diadakan. Tidak boleh lagi calon presiden hanya ditentukan mereka, elite politik. Setahun lalu kita berhasil membuat ini nyata, satu-satunya partai dengan proses pemilihan kandidat presiden melalui konvensi yang melibatkan anggota partai. Saat semua ini sudah dekat sekali, tidak peduli dengan intrik politik yang mereka lakukan, fitnah kejam atas calon presiden kita, tidak peduli itu semua, kita akan terus maju. Tidak ada yang boleh mendiskualifikasi calon presiden kita. Tidak ada yang boleh membatalkannya. Penangkapan itu dusta, intrik politik untuk membunuh karakter. Kita semua pemilik partai ini, kitalah pemilik suaranya, maka kita sendiri yang akan menentukan nasib partai ini, bukan mereka.”

Aku menyapu wajah seluruh peserta pertemuan. Beberapa orang terlihat menyeka pipi, terharu. ”Pegang tangan rekan-rekan di sebelah kita, hadirin sekalian, pegang.”

Mereka berpegangan, membentuk rantai raksasa yang mengelilingi podium.

”Kita akan terus bersatu. Kita tidak akan terpecah-belah hanya karena sebuah fitnah keji. Kita akan melawan siapa pun yang bersekongkol menggagalkan cita-cita, mimpi-mimpi itu. Kembalilah ke ruangan konvensi partai dengan satu suara, maka mereka akan takluk bertekuk lutut di hadapan pemilik sejati partai ini. Terima kasih telah memberikan jawaban itu padaku. Terima kasih.”

Aku turun dari podium.

Johan menyeka ujung matanya yang berkaca-kaca, memelukku. ”Kau pahlawan, Thomas. Sepuluh tahun lagi, saat giliranmu tiba, kami semua akan berdiri tegak di belakangmu, diminta ataupun tidak.”

Aku mengabaikan kalimat terakhir Johan, tersenyum, menepuk bahu Johan.

Tidak ada lagi yang bisa kulakukan di arena konvensi tersebut. Cukup. Aku tidak bisa berkeliaran lebih lama dan mengundang perhatian pihak lawan.

”Aku membutuhkan nama lima orang petinggi partai yang paling keras suaranya meminta JD didiskualifikasi, Johan.” Aku melangkah cepat menuju pintu ruangan, meninggalkan ribuan anggota partai yang masih berpegangan tangan.

”Akan kuberikan.” Johan menjejeri langkahku.

”Aku juga membutuhkan telepon genggam. Kau bisa meminjamiku?”

Johan menatapku. ”Astaga? Kau tidak membawa telepon genggam, Thomas?”

”Aku bahkan tidak memiliki sepeser uang, Johan. Sopir taksi dari bandara masih di parkiran luar. Aku memintanya menunggu.”

Johan menepuk dahi, tidak percaya. ”Empat jam lalu aku dan Maryam masih di dalam sel penjara, Johan. Mencari cara agar bisa tiba di sini. Nah, sekarang lebih mudah membayangkan kalau aku memang tidak memiliki uang sepeser pun, bukan?”

Johan menghela napas. ”Baik, akan kuminta staf lain menyiapkan apa yang kauperlukan. Sekarang kau akan ke mana, Thomas?”

”Kembali ke Jakarta. Arena pertempuran bagiku ada di sana.” 
Bagikan Novel ini Sebegai bentuk dukungan untuk situs ini 😊