menu

Negeri di Ujung Tanduk Bab 20: Sakit Perut dan Pesawat Militer

Mode Malam
Bab 20: Sakit Perut dan Pesawat Militer
SETENGAH jam berlalu dengan cepat di ruangan intero-

gasi. Aku tiba di ujung kalimat, bercerita panjang lebar tanpa sekali pun dipotong Rudi. Dia hanya mendengarkan dengan cermat.

Ruangan itu lengang sebentar setelah kalimat terakhirku. ”Ini lebih serius dibanding setahun lalu, Thomas.” Rudi meng-

hela napas prihatin. ”Kali ini lawanmu lebih kuat dibandingkan persekongkolan dua orang yang hendak menguasai perusahaan Om Liem.

”Kau tahu, hampir seluruh organisasi, lembaga, institusi, bahkan termasuk kepolisian memiliki faksi di dalamnya. Aku tidak akan mengajarimu soal itu. Kau lebih pintar dibanding siapa pun. Ini sekadar informasi tambahan. Dalam kesatuan, tidak peduli meski tumbuh bersama, berasal dari satu akademi kepolisian, faksi atau kelompok itu tetap terbentuk. Ada yang secara alamiah terbentuk, ada yang memang dibentuk dengan tujuan tertentu. Faksi berdasarkan angkatan, faksi berdasarkan gugus tugas, hingga faksi dengan alasan suku bangsa, kedaerahan, serta kepentingan, entah itu motif ekonomi, politik atau kekuasaan.

”Nah, faksi yang kauhadapi sekarang adalah yang paling besar di kepolisian, Thomas. Dipimpin langsung kepala penyidik. Dia memiliki pengaruh dan jaringan kuat, didukung banyak jenderal, termasuk pensiunan jenderal. Selangkah lagi dia akan menggenggam posisi orang paling kuat di seluruh kepolisian, tidak ada yang menghalanginya dari posisi itu beberapa tahun ke depan. Dia berjasa banyak bagi kepolisian. Dia membangun infrastruktur kepolisian, dalam artian sebenarnya, seperti membangun gedung dengan ruangan kerja berpendingin, menyuplai puluhan motor besar sebagai kendaraan operasional, mobil-mobil lapangan terbaik.

”Bagaimana dia melakukannya? Lewat pemasukan uang dari penerbitan surat izin mengemudi, juga pengadaan barang atau proyek, termasuk boleh jadi koperasi kepolisian, dan sebagainya. Itu melibatkan uang triliunan, tidak sedikit, dan kepolisian memegang hak penuh tanpa diawasi pihak mana pun. Tidak ada auditor negara yang memeriksa aliran uang tersebut. Kau pernah membaca laporan keuangan kepolisian? Seperti membaca laporan kas RT/RW? Tidak pernah ada yang membacanya. Tidak pernah dibuka untuk konsumsi publik.

”Banyak petinggi kepolisian tidak peduli soal itu, terlebih dengan fakta. Hei, bukankah dia bisa memberikan fasilitas mewah bagi polisi lain? Semua orang menikmatinya. Ada beberapa yang keberatan, selalu saja ada, boleh jadi banyak, tapi sejauh ini mereka memilih menyimpan pertanyaan masing-masing dibandingkan berseteru dengan faksi besar itu, mencari penyakit. Jika mereka adalah lawanmu, kau benar-benar dalam masalah serius, Thomas. Termasuk klien politikmu sekarang.”

”Ya, aku tahu.” Aku mengangguk perlahan. ”Itu semua belum memperhitungkan kemungkinan dia memiliki jaringan dengan penegak hukum lain, seperti kejaksaan dan hakim. Itu berarti lebih besar lagi kekuatan yang mereka miliki. Tetapi setidaknya masih ada polisi lain yang tidak terlibat jaringan mereka. Kau salah satunya, Rud.”

Rudi tertawa. ”Apalah artinya aku, Thomas. Promosi seperti ini, komandan kompleks pelatihan, sebenarnya bisa dibilang dibuang dari lingkaran pertama. Tetapi kau benar, masih banyak polisi lain yang berpendapat kalau semua itu keliru. Jenderal-jenderal yang memiliki idealisme, perwira menengah, bintara, hingga polisi tamtama yang bertugas menjaga perempatan lampu merah, yang konsisten menolak menerima suap dari pelanggar lalu lintas. Mereka semua boleh jadi tenggelam oleh penilaian negatif masyarakat luas terhadap korps, juga tidak memiliki momentum untuk melakukan perubahan, tidak memiliki sumber daya, akses, kekuasan, dan lagi-lagi, sejauh ini hanya memilih diam. Namun, sekali kesempatan itu ada, sekali momen itu terbuka, kita tidak tahu gelombang revolusi apa yang akan terjadi di seluruh kesatuan kepolisian.”

Aku bergumam, ”Ya, tapi itu bukan urusanku sekarang, Rud. Siapa pula yang peduli dengan argumen pembelaan atas citra negatif kalian. Salah-salah berkomentar, pihak luar bisa dianggap musuh oleh seluruh polisi.”

”Tentu saja, Thomas, itu urusan internal.” Rudi mengangguk. ”Baik, sekarang sudah pukul satu dini hari. Aku tidak bisa mengeluarkanmu seperti mengeluarkan seekor kelinci dari sarangnya. Akan banyak kecurigaan terarah ke sini. Semua mata dari faksi itu akan menatap curiga, dan aku kali ini tidak hanya menjadi polisi dengan buku tilang. Biarkan aku menyusun rencana terbaik, agar kau bisa melenggang pergi dengan aman, dan tidak ada satu pun anak buahku yang bisa disalahkan oleh mereka.”

”Aku harus segera keluar, Rud!” aku melotot, berseru jengkel. Bukankah sudah jelas dari seluruh cerita, betapa mendesaknya urusan ini? ”Besok pagi aku harus terbang ke Denpasar. Aku tidak tahu bagaimana aku bisa tiba di sana dengan pengawasan satu pasukan khusus, langsung di bawah komando orang kuat kedua di kepolisian. Jangankan melenggang naik pesawat, menyentuh bandara saja boleh jadi tidak bisa. Aku harus memanfaatkan waktu tersisa untuk memikirkan banyak rencana dan terus bergerak.”

”Aku tahu itu, Thomas.” Rudi mengangkat tangan. ”Tapi tidak mudah melepaskanmu dan rekanmu pukul satu dini hari. Harus ada penjelasan logis. Lebih baik kau kembali ke sel, tidur sejenak, mengumpulkan energi. Sepertinya sepanjang hari kau terus terjaga, kau membutuhkan semua tenaga untuk melawan mereka. Aku berjanji, besok pagi kau pasti berangkat ke Denpasar, menghadiri konvensi partai. Nah, sebelum waktunya tiba, biarkan aku memikirkan cara cerdasnya.” Rudi melangkah ke arah pintu, mengakhiri pembicaraan. Dia mengabaikan ekspresi jengkel wajahku.

Rudi mengetuk, pintu ruangan dibuka. ”Kalian kembalikan dia ke sel semula.”

”Eh, tidak dihukum di ruang isolasi, Komandan?” Petugas menatap bingung. ”Tidak perlu. Dia sudah menangis tersedu, berjanji tidak akan mengulanginya lagi. Persis seperti anak mama yang diancam diambil mainannya. Memalukan, mental begitu berani-beraninya berusaha menyuap kalian. Dia jelas bukan jenis petarung sejati.”

Rudi melangkah santai.

Dia meninggalkanku yang sudah jengkel, hendak berseru tambah jengkel. Hei, siapa pula yang tadi menangis tersedu? Enam petugas lebih dulu bergerak masuk, mendekat. Aku mengumpat Rudi dalam hati. Lihatlah, salah satu petugas, sambil menatapku dengan tatapan iba, berkata lemah lembut, ”Nah, anak mama, ayo kita kembali ke sel penjara.”

”Hati-hati nanti kau membuatnya menangis lagi, lantas kau diadukan ke mamanya. Cup, cup, diam ya.” Rekannya yang lain menimpali.

Mereka berenam tertawa puas mengolokku.

***

Aku menyuruh Maryam berhenti banyak tanya saat kembali masuk ke sel. Borgol tangan dan kaki dibuka. Pintu sel dikunci, menyusul pintu lorong digembok petugas. Aku juga menyuruh tetangga sel lain tutup mulut saat mereka bertanya keheranan kenapa aku tidak dihukum di ruang isolasi itu?

”Tidur, Maryam. Semoga besok ada keajaiban.”

”Kau gila, Thomas. Bagaimana aku bisa tidur dalam situasi seperti ini?”

”Mudah. Bayangkan saja kau memiliki peternakan domba besar, pejamkan mata, bayangkan kau menghitung domba-domba lucu tersebut.” Aku sebenarnya masih sebal dengan Rudi yang tidak segera membantuku, jadi melampiaskannya dengan menjawab sembarangan seruan kesal Maryam barusan.

Gadis wartawan itu mendengus, tapi sejenak, setelah berpikir, mendengarkan intonasi suaraku yang jengkel, dia tidak tertarik memperpanjang percakapan, memutuskan diam.

Tidur adalah pilihan paling masuk akal saat ini. Rudi boleh jadi benar. Pukul satu dini hari, orang-orang yang terlibat dalam persekongkolan ini jelas sedang tidur nyenyak di kasur empuk mereka, bermimpi indah, dan tidak mencemaskan apa pun. Maka aku lebih baik meniru teladan itu, juga tidur nyenyak, bermimpi indah, meski di kasur tipis ruang sempit sel penjara.

***

Pukul 06.45 esok harinya.

Cahaya matahari menerobos jendela kecil di dinding selku, membuatku terbangun—setelah susah payah memaksa tidur sepanjang sisa malam, aku tetap belum tahu apa yang sedang direncanakan Rudi untuk meloloskanku dari tempat ini. Maryam sekali lagi bertanya—dia sudah bangun sejak tadi—aku menjawabnya pendek, tunggu saja.

Penghuni sel di lorong panjang itu telah memulai aktivitas pagi masing-masing. Ada yang berolahraga di selnya, push up, ada yang santai membaca buku, juga bercakap-cakap dengan tetangga sel. Aku menyeringai, Rudi sepertinya serius menegakkan aturan main di penjara ini. Tidak ada satu pun yang terlihat memegang telepon genggam dan peralatan elektronik lain untuk memutuskan kebosanan. Seluruh fasilitas sel sama, tempat tidur dengan kasur tipis dan bantal keras. Siapa pun yang hendak ke kamar mandi harus meneriaki petugas. Mereka akan diantar dan dikawal ke kamar mandi umum.

Lima belas menit berlalu lagi dengan lambat. Aku duduk menunggu.

Jam sarapan tiba. Pintu lorong dibuka lebar-lebar. Beberapa petugas dapur penjara mendorong troli besar berisi jatah sarapan untuk setiap tahanan. Aku menatap jam dinding di atas pintu lorong, pukul tujuh persis, mengeluh dalam hati, menyumpahi Rudi. Konvensi itu dibuka pukul sembilan. Penerbangan JakartaDenpasar membutuhkan waktu dua jam. Kapan Rudi mulai beraksi mengeluarkanku dari penjara sialan ini? Tidak terlihat sama sekali rencana cerdasnya.

Petugas dapur memukul pintu sel, mendorong nampan sarapan. Aku malas-malasan menerimanya. Hanya nasi goreng dengan telur dadar. Tidak ada irisan timun atau tomat sebagai penghias piring. Minumannya segelas teh hangat. Aku tidak berselera makan, bukan karena menunya. Tujuh tahun tinggal di sekolah berasrama, aku terbiasa makan makanan seperti ini. Aku tidak berselera karena sedang menunggu Rudi. Apakah dia selalu lamban seperti dalam duel di klub petarung yang kami lakukan? Hingga aku bisa memukulnya KO?

Aku malas mengangkat piring, mencoba mengisi waktu membosankan dengan sarapan. Hei, selembar kertas kecil jatuh dari bawah piring. Ini kertas apa? Tidak akan ada yang jail meletakkannya di sana, bukan? Aku memungutnya. Itu ternyata pesan untukku, pendek, berisi satu kalimat, ”Jangan makan apa pun.” Aku meremas kertas kecil itu, menoleh ke seluruh sel, tahanan lain sedang sibuk menghabiskan jatah sarapan masing-masing, nikmat menyeruput teh hangat. ”Kau tidak makan, Thomas?” Maryam bertanya pelan, suaranya terdengar hati-hati.

”Tidak. Aku tidak lapar. Kau?” Aku tahu, Maryam juga memperoleh kertas itu.

”Tidak,” Maryam menjawab pendek.

Aku paham. Inilah yang direncanakan Rudi. Dia bintang terang dalam kesatuan reserse kepolisian. Perwira menengah dengan latar belakang pendidikan baik, lulusan terbaik akademi, dan segenap prestasi yang dimilikinya. Andai saja Rudi tidak sering bertentangan pendapat dengan atasannya, boleh jadi dia akan menjadi jenderal polisi termuda dalam sejarah. Lihatlah, dia dengan liciknya merencanakan ini semua.

Lima belas menit berlalu, lama setelah troli dibawa kembali ke dapur penjara, seperti kartu domino yang disusun lantas roboh berantai, tahanan di penjara itu mulai tumbang satu per satu karena sakit perut. Kekacauan terjadi. Semua penghuni penjara menggedor-gedor pintu sel, berseru-seru panik, bilang hendak ke belakang. Wabah muntaber menyergap seluruh tahanan. Seluruh petugas penjara menjadi sibuk. Ada sekitar dua puluh tahanan yang dititipkan di penjara itu, menunggu proses pengadilan. Semuanya jatuh sakit.

Sarapan tadi pagi telah terkontaminasi bakteri penyebab muntaber. Itu kesimpulan dokter dan tenaga medis penjara. Karena situasi ini darurat, berbahaya, seluruh tahanan terpaksa dibawa ke rumah sakit umum terdekat. Aku tahu apa yang harus dilakukan, juga Maryam. Meskipun sama sekali tidak menyentuh menu sarapan, kami diam-diam membuangnya. Kami adalah pasien paling mengenaskan situasinya. Mobil ambulans berlalu lalang membawa tahanan menuju rumah sakit. Instalasi gawat darurat dengan segera dipenuhi penderita keracunan makanan. Ada banyak petugas yang dikerahkan mengawasi proses evakuasi tersebut, tapi dengan seluruh kekacauan yang terjadi, sedikit bantuan dari Rudi, aku dan Maryam tetap bisa menyelinap dari instalasi gawat darurat dengan berpura-pura hendak ke toilet pengunjung rumah sakit—karena semua toilet penuh. Aku dan Maryam menaiki salah satu ambulans yang telah terparkir menunggu kami. Rudi sudah menunggu di balik kemudi dan langsung menekan pedal gas saat aku dan Maryam mengempaskan punggung di kursi, meninggalkan seluruh keributan pagi

hari.

”Bagaimana sakit perut kalian? Sudah sembuh?” Rudi tertawa. ”Terima kasih banyak, Rud,” aku menjawab pendek.

”Tentu saja, kau sekali lagi berutang besar padaku, Thomas,” Rudi berujar santai. Mobil ambulans yang kami tumpangi sudah jauh meninggalkan rumah sakit.

”Iya, kautagihkan saja besok lusa dalam tagihan bulananku. Aku akan membayarnya lunas,” aku menjawab selintas lalu. Aku sedang memikirkan bagaimana bisa berangkat ke Denpasar segera. Waktuku tinggal satu jam dari jadwal pembukaan konvensi. ”Kau tidak akan memperkenalkanku dengan rekan pelarianmu, Thomas? Gadis wartawan itu?” Rudi menoleh, mengedipkan mata. ”Meskipun aku berani bertaruh, kalian berdua juga baru

saling kenal beberapa hari terakhir.”

”Baik.” Aku mengangkat bahu, menoleh ke Maryam. ”Aku baru berkenalan dengannya sehari lalu, namanya Maryam, wartawan review mingguan politik. Nah, aku perkenalkan kau dengannya, Maryam. Nama orang yang membantu sekaligus sopir ambulans kita pagi ini adalah Rudi. Satu level lagi, dia akan memiliki bintang di bahu. Seorang perwira menengah.”

”Dia... dia polisi?” Maryam refleks berseru kaget.

”Iya, Rudi polisi. Bahkan dia komandan kompleks pelatihan tempat kita ditahan tadi malam. Tapi kau tenang saja, dia terbiasa mengkhianati kesatuannya.”

Bahkan Rudi ikut tertawa dengan ujung kalimatku.

Aku menoleh pada Rudi. ”Nah, aku rasa sudah cukup sesi perkenalannya, Rud. Atau kau butuh sesi ice breaking juga? Saatnya segera menuju bandara, aku harus mencari akal agar bisa menaiki pesawat menuju Denpasar. Aku tidak mau kau mengantarku ke Denpasar dengan ambulans ini. Akan terlambat sekali.” ”Kau selalu saja terburu-buru, Kawan,” Rudi tertawa, masih berkata santai, ”hingga tidak sempat memperhatikan mobil ini

sedang menuju bandara.”

Aku menoleh keluar. Bandara apanya? Kami tidak sedang di atas jalan bebas hambatan, satu-satunya akses tercepat menuju ke bandara.

”Bandara yang satunya, Thomas. Aku punya cara terbaik mengirimmu ke sana. Tidak perlu pakai penyamaran, dijadikan tahanan yang hendak dipindahkan, escort, seperti setahun lalu. Aku punya ide cerdas yang lebih baik.”

”Apa yang kaurencanakan, Rud?” Aku belum mengerti. Meski sekarang aku paham, ambulans sedang menuju bandara yang kemarin dipakai mendarat pesawat jet pribadi milik Lee—yang telah kembali ke Hong Kong. Hei, Rudi tidak akan menyewakan pesawat untukku, bukan? Itu tidak masuk akal.

”Sederhana. Kita sebut saja dengan rencana H. H untuk Hercules.” Rudi menoleh. Mobil ambulans sudah melintasi gerbang bandara.

Aku tetap tidak mengerti.

”Kau akan menumpang pesawat militer, Kawan,” Rudi berbaik hati menjelaskan. ”Setiap minggu, setidaknya ada tiga kali penerbangan militer berjadwal ke pangkalan udara di timur, seperti Makassar atau Manado. Pesawat itu membawa logistik dan barang keperluan militer lainnya. Kau akan naik pesawat Hercules. Mereka akan transit di Denpasar. Kalau kau tidak terlalu lama urusan di sana, kau bisa menumpang balik ke Jakarta siang harinya.

”Aku dini hari tadi sudah menghubungi kawan lama sewaktu masih di akademi, tapi dia di akademi angkatan udara, sekarang menjadi pilot senior pesawat yang akan terbang hari ini. Kau dan Maryam tinggal naik ke kabin, duduk bersama tumpukan karung dan kardus, lantas simsalabim, tiba di Denpasar. Tidak akan ada polisi yang berani memeriksa pesawat Hercules itu. Dan hei, sebagai bonusnya, itu akan menjadi pengalaman terbang yang menarik. Aku berani jamin, tidak semua orang pernah menumpang Hercules.” Rudi menyeringai, mobil ambulans sudah merapat di lobi bandara.

”Nah, Kawan, aku tidak akan berani menyimpulkan ini pertemuan terakhir kita dalam masalah seriusmu kali ini. Hati-hati, telinga mereka ada di mana-mana. Saranku, segera setelah urusanmu di konvensi partai selesai, kembali berlari bersembunyi, berikan jarak yang lebar untuk para pengejarmu. Terus bermain petak umpet dengan baik. Dan kau, Maryam, aku tidak tahu apakah kau sedang beruntung atau tidak, menghabiskan waktu bersama seorang pemuda tampan, kaya, pintar dan masih bujangan seperti Thomas. Boleh jadi kau sedang sial, karena aku cemas masih banyak kejutan di pelarian kalian. Berhati-hatilah.” Aku menjabat tangan Rudi, meloncat turun. Maryam me-

nyusul, bilang terima kasih.

”Hei, sebentar, Thom.” Rudi ikut turun dari mobil ambulans. Aku menoleh.

Rudi melepas jam di pergelangan tangannya, menyerahkan kepadaku. ”Aku tahu kau selalu tergesa-gesa dalam setiap urusan, terus melirik pukul berapa. Mendengus cemas, melirik lagi jam. Aku memberimu kado kecil, Thomas, jam tangan milikku. Karena kau tidak punya, dirampas pasukan khusus Hong Kong SAR, mungkin jam milikku berguna untuk melihat jam berapa sekarang. Silakan.”

Aku menatap Rudi bingung. ”Ayo, untukmu, Thomas.”

Baiklah. Aku menerima jam tangan itu. Rudi benar, aku boleh jadi butuh jam. Aku dan Maryam melangkah melintasi lobi keberangkatan. Rudi kembali masuk ke mobil. Dua detik, ambulans itu segera meninggalkan lobi bandara, tetap dengan suara sirene meraung, membuat menyingkir mobil-mobil lain. 
Bagikan Novel ini Sebegai bentuk dukungan untuk situs ini 😊