menu

Negeri di Ujung Tanduk Bab 19: Rendezvous Kawan Lama

Mode Malam
Bab 19: Rendezvous Kawan Lama
SETENGAH jam kemudian, kami meninggalkan keramaian

ibu kota. Mobil yang membawa kami akhirnya merapat ke sebuah kompleks besar milik kepolisian. Setidaknya itu yang bisa kusimpulkan saat melihat sekitar dari pintu mobil taktis yang terbuka lebar. Ini jelas bukan penjara umum atau markas polisi di tengah kota, lebih mirip markas satuan brigade mobil atau satuan lain di pinggir kota Jakarta.

Mereka berteriak tidak sabaran, kasar mendorongku dan Maryam agar bergegas turun, lantas membawa kami melangkah masuk ke dalam salah satu bangunan paling besar.

Kami diserahterimakan kepada petugas kompleks itu, yang hanya mengenakan seragam polisi biasa—bukan baju pasukan khusus. Tanpa proses administrasi berbelit-belit, hanya dengan selembar kertas, petugas kompleks mengangguk. Tanpa banyak bicara, kami digiring menuju ruangan penjara. Aku dan Maryam dijebloskan dalam sel bersisian. Suara pintu sel dikunci terdengar bergema di langit-langit lorong. Juga saat pintu lorong ditutup berdebam, digembok tiga kali.

Lengang lima menit.

Aku memperhatikan sekeliling, ada puluhan sel di lorong panjang bangunan ini. Sudah hampir tengah malam, penghuninya memilih sibuk dengan urusan masing-masing dibanding berkenalan dengan orang baru. Kami berada di sel paling dekat dengan pintu lorong. Ini sepertinya penjara transisi, tempat tersangka dititipkan sementara waktu sebelum proses pengadilan. Biasanya mayoritas isinya adalah pelaku kejahatan kerah putih, seperti koruptor, pengemplang pajak, penyalah-guna wewenang, dan sejenisnya. Orang-orang yang tangannya tidak bergelimang kotor saat melakukan kejahatan.

”Apa yang harus kita lakukan sekarang, Thomas?” Maryam berbisik, dari sel sebelah.

Aku menggeleng. ”Biarkan aku berpikir sebentar ”

Suara Maryam mengembuskan napas terdengar. ”Andaikata aku bisa meninju wajah orang itu tadi. Rasa-rasanya aku ingin memukul wajahnya, menjambak rambutnya, mengiggit apa saja. Dia orang paling menjijikkan yang pernah kutemui, pura-pura santai, pura-pura rileks, sama sekali tidak merasa berdosa.”

Aku tidak berkomentar, membiarkan Maryam melampiaskan kemarahannya sejenak.

”Jelas sekali dia merekayasa semuanya. Penangkapan klien politikmu, kejadian di Hong Kong. Bedebah itu dan bedebahbedebah lainnya dalang semua kejadian ini. Kau benar, Thomas, ini semua melibatkan mafia hukum. Mereka ada di mana-mana, dan orang itu boleh jadi ketua mafianya,” Maryam masih mengomel dari sel sebelahku. Aku menyisir rambut dengan jemari, mengabaikan kalimat Maryam, berusaha berpikir keras, mencari cara agar segera kabur dari tempat ini. Tidak banyak pilihannya.

”Kau lihat, Thomas, mereka tidak peduli dengan prosedur lagi, yang penting amankan semuanya. Pasukan khusus yang dia suruh mengejar kita seperti miliknya saja, tunduk atas perintah apa pun yang dia berikan. Seperti pasukan milik pribadinya saja.”

Aku hendak menimpali Maryam, bilang setiap jenderal boleh jadi memang memiliki pasukan khusus yang bisa disuruh semau-maunya. Setahun lalu aku memiliki rekan petarung di klub petarung Jakarta yang sekaligus adalah perwira polisi, komandan pasukan khusus itu. Dia bahkan disuruh menangkapku dalam kasus penyelamatan Bank Semesta, meski akhirnya dia memutuskan melawan jenderal atasannya, memilih menggunakan akal sehat, membantuku. Tetapi aku sedang memikirkan cara kabur dari sel penjara ini, tidak berselera membahas panjang-lebar dengus marah Maryam.

Baiklah, sepertinya aku harus menggunakan cara klasik itu untuk keluar dari sini. Aku berdiri, beranjak ke depan, mulai memukul-mukul pintu sel, memanggil petugas di luar.

”Apa yang sedang kaulakukan, Thomas?” Maryam berbisik. ”Memanggil mereka,” aku menjawab pendek.

”Kau membuat penghuni sel lain terganggu dengan memukul pintu sel dan berseru-seru. Kita bisa jadi pusat perhatian.” Maryam ikut berdiri di dekat pintu selnya, berusaha melongokkan kepalanya ke arah selku.

Aku tertawa. Bukankah Maryam tadi juga sibuk berseru-seru?

Dua petugas yang berjaga di meja depan akhirnya membuka pintu lorong, berjalan dengan wajah sebal ke selku. ”Ada apa?” mereka bertanya.

”Ada yang ingin kubicarakan, Bos.” Aku menyeringai.

Inilah cara klasik yang selalu manjur jika seseorang ingin kabur dari penjara di negeri ini, negeri para bedebah.

”Ya, apa yang hendak kaubicarakan?” Tidak ada ramah-tamah dari petugas itu.

Aku menyeringai, mereka pasti akan ramah kalau aku sudah menyebutkan angka tawarannya. ”Apakah kalian akan membiarkanku dan rekanku melangkah bebas keluar dari pintu sel ini jika aku memberikan 2 M kepada kalian, Bos? Bagi dua, masing-masing dapat 1 M? Tertarik, Bos?”

Tidak perlu logika tingkat tinggi untuk memahami kalimatku. Dua petugas itu langsung saling lirik. Aku memasang wajah tersenyum, menunggu diskusi mereka.

Salah satu petugas menggeleng.

”Kurang? Itu sudah banyak, Bos.” Aku memasang wajah purapura tidak percaya. ”Atau kalian minta berapa? Sebutkan saja? Bagaimana kalau 4 M, cukup? Bagi dua, masing-masing 2 M. Aku tahu, seumur hidup kalian bekerja menjadi polisi tidak akan terkumpul uang sebanyak itu. Bagaimana?”

”Anda mencari masalah dengan bilang kalimat itu, Pak.” Salah satu petugas itu justru menjawab galak, lantas tanpa merasa perlu lagi mendengarkan kalimatku, mereka berdua balik kanan, kembali ke pintu lorong, meninggalkanku yang menatap bingung.

”Hei! Atau itu masih kurang?” aku berseru tidak mengerti. ”Hei!”

Pintu lorong sudah ditutup.

Aku menepuk dahi. Sejak kapan cara klasik itu gagal? ”Kau benar-benar mencari masalah, Kawan.” Terdengar kalimat serak, sepertinya salah satu tetangga sel kami angkat bicara setelah menyaksikan kejadian barusan. Suaranya terdengar dari seberang selku.

”Mereka akan kembali ke sini bersama komandan kompleks, dan kau boleh jadi dikirim ke ruangan isolasi, tanpa jendela, terisolasi sempurna.” Tetangga selku berdiri, mendekat ke pintu selnya.

Aku menatap ke seberang, tidak mengerti.

”Kau tahu, sejak komandan kompleks Brimob ini diserahtugaskan kepada yang baru, tidak ada lagi yang bisa menyumpal petugas di sini, Kawan. Entah siapa orang itu, dia berhasil membuat seluruh petugas gentar untuk berbuat curang. Dan itu jelas menyebalkan, membuat susah penghuni seluruh penjara, tidak ada lagi kesempatan untuk pergi satu-dua hari keluar mengurus bisnis, atau benar-benar kabur.”

Aku hendak bertanya lebih detail, tapi kalimatku tertahan oleh debam pintu lorong yang dibuka. Enam petugas berderap masuk, kali ini mereka membawa senjata, dan sebelum aku sempat mengerti apa yang sedang terjadi, atau Maryam di sebelahku berseru bertanya, pintu selku telah dibuka. Mereka memasangkan borgol ke tangan (dan juga kakiku), lantas mendorongku kasar agar melangkah menuju pintu lorong.

”Sial sekali orang baru itu,” tetangga selku berkata pelan, tertawa, ”memilih tempat yang salah untuk menyuap petugas penjara. Terimalah nasib ruang isolasi.”

*** Apakah aku langsung dibawa ke ruang isolasi?

Aku menyumpahi diri sendiri, telah membuat urusan ini menjadi lebih rumit. Sekarang aku terpisah dari Maryam. Entah apa yang akan terjadi dengan Maryam besok. Ini penjara umum. Jika aku tidak berhasil kabur dari sini segera, Maryam pasti dititipkan ke penjara khusus wanita, dan semakin sulit membebaskannya.

Gerakan langkahku terganggu dengan borgol kaki yang berat. Suara kelontang borgol mengenai lantai terdengar menyebalkan. Aku merasa menjadi seperti penjahat hina, semacam pemerkosa psikopat atau pembunuh berantai. Ini baru pertama kali aku diborgol dengan standar keamanan penuh. Apakah seserius itu dosa menyuap petugas di sini? Siapa pula komandan polisi sialan itu? Dia seperti menjadi antitesis, kelainan absolut, kasus abnormal yang tidak pernah kutemui saat berurusan dengan polisi.

Aku ternyata tidak digiring ke ruang isolasi. Belum. Enam petugas membawaku ke ruang interogasi, mendorongku masuk, lantas membentak, menyuruhku duduk. Aku memperhatikan sekitar ruangan. Tidak ada yang spesial di ruangan itu, tidak beda dengan ruangan interogasi lain yang pernah kualami. Salah satu petugas berkata pelan ke rekannya. Mereka meninggalkanku sendirian di dalam ruangan tersebut.

Lima menit menunggu, pintu ruangan akhirnya terbuka. Seseorang melangkah masuk. Mereka pasti hendak menginterogasiku terlebih dulu sebelum membuangku ke ruang isolasi, menanyakan maksudku soal tawaran suap itu, atau mungkin entahlah. Aku mengumpat dalam hati, memilih menunggu, menunduk menatap meja di hadapanku, mengabaikan orang yang baru masuk. Orang itu menarik kursi, duduk di seberangku.

”Ini amat mengejutkan.”

Itu kalimat pertama orang di hadapanku.

Aku tidak terlalu memperhatikan. Aku sedang mengarangngarang alasan kenapa aku mencoba menyuap petugas.

”Aku tidak tahu, kenapa kau selalu saja menjadi orang yang harus kutangkap atau kali ini dititipkan di kompleks kepolisian ini, Thomas?”

Aku mengangkat kepala demi mendengar ujung kalimatnya. Dia menyebut namaku? Bukankah aku amat mengenal cara dia menyebut namaku? Intonasi suara itu? Dan lihatlah, duduk persis di hadapanku, tertawa lebar, Rudi Sang Boxer, rekan petarung di klub setahun lalu, sedang menatapku sambil menggelengkan kepala.

”Kau tahu, Thomas, baru beberapa menit lalu aku membaca selembar kertas berisi surat penitipan dua tersangka berbahaya yang kolom isian kasusnya masih dikosongkan. Menebak-nebak siapa pula yang dititipkan malam-malam nyaris pukul dua belas di kompleks kepolisian ini dengan perintah langsung jenderal bintang tiga dari markas besar. Seberapa berbahaya dua orang itu, hah? Kasus serius apa yang melibatkan mereka? Dan belum habis pikirku, menyisakan banyak tanya, tiba-tiba petugasku datang dengan wajah merah padam, melapor orang yang dititipkan itu baru saja berusaha menyuapnya.”

Rudi memukul meja, menatapku tidak percaya. ”Astaga, Thomas? Kau berusaha menyuap anak buahku? Di kompleks ini? Di penjara paling bersih di seluruh kepolisian?” Aku mengangkat bahu. Bukankah menyuap petugas itu biasa saja?

Rudi tertawa. ”Kalau saja kau bukan temanku di klub petarung setahun lalu, sudah kumasukkan kau dengan kepala terbalik, ke dalam sumur kompleks karena berusaha menyuap anak buahku, Thomas. Tapi baiklah, lupakan sebentar soal suap itu. Ini benar-benar mengejutkan, Kawan. Bukankah baru setahun lalu kau dikejar petinggi kepolisian dan pejabat jaksa itu? Dan sekarang, terjadi lagi? Kasus apa yang melibatkan kau sekarang, Thomas? Bukankah Om Liem sudah mendekam di penjara? Pemerintah telah menalangi Bank Semesta.”

Aku berusaha menggaruk kepala dengan tangan terborgol, tidak menjawab pertanyaan Rudi, malah bertanya, ”Apakah kau komandan kompleks yang membuat seluruh petugas takut berbuat curang itu? Yang membuat hidup tahanan menjadi susah?”

Rudi tertawa, mengangkat bahunya.

Aku mengangguk, paham apa yang sedang terjadi di kompleks kepolisian ini.

Rudi adalah lawan paling tangguh di klub petarung Jakarta. Aku mengalahkannya dalam duel setahun lalu, dan dia juga banyak membantuku dalam kasus pelarian Bank Semesta setahun lalu. Rudi adalah sedikit dari polisi jujur yang pernah kukenal, perwira menengah, mantan komandan pasukan khusus yang hendak kuceritakan kepada Maryam tadi. Dia petarung sejati, memiliki kehormatan, termasuk memilih melawan perintah atasannya sekalipun demi kehormatan tersebut.

”Sejak kapan kau dipindahkan ke sini?” aku bertanya lagi. ”Beberapa minggu setelah penangkapan Om Liem. Terima

kasih banyak atas bantuanmu, Thomas. Kau benar, itu prestasi hebat, menangkap buronan Bank Semesta. Meskipun banyak jenderal keberatan dengan promosiku, tapi liputan media tidak bisa diabaikan. Mereka terpaksa mengembalikan seluruh catatan prestasiku, menaikkan pangkatku. Tetapi agar aman, agar aku lebih mudah dikendalikan, tidak merepotkan mereka, tempat ini menjadi pilihan terbaiknya. Aku dijadikan komandan markas pelatihan, jauh dari operasi lapangan. Jauh dari kota Jakarta.”

Aku mengangguk, lagi-lagi paham kenapa Rudi berhenti dari klub petarung.

”Nah, sejak kapan kau ditangkap polisi, Thomas? Pasti oleh pasukan khusus kalau aku boleh menebak. Thomas tidak level ditangkap pasukan biasa, bukan?” Rudi tertawa.

”Kau harus membantuku, Rud. Aku berusaha menyuap anak buahmu karena aku harus segera pergi. Ada banyak yang harus kulakukan. Waktuku genting. Mereka menjebak kami. Menjebak Opa, Kadek, dan salah satu wartawan yang ditahan bersamaku.” Aku menatap Rudi sungguh-sungguh, kebetulan menakjubkan ini bisa menjadi jalan keluar baik bagiku—dibandingkan menyuap petugas tentu saja.

”Opa? Hei, apa kabar Opa?” Rudi malah bertanya hal lain, antusias.

”Astaga, Rud. Aku tidak punya waktu untuk sebuah percakapan hangat antarteman. Waktuku sempit!” aku berseru memotong.

”Hanya bertanya kabar Opa, Thomas. Apa salahnya?”

”Tidak ada waktu, Rud. Kau harus membantuku. Sekarang!” Rudi menatap wajah seriusku, berpikir sejenak, mengangguk. ”Baiklah, Kawan. Sebelum aku bisa memutuskan apakah membantu atau tidak, kau sebaiknya menjelaskan semuanya, secara mendetail, tanpa ada satu pun yang ditutupi. Kau ingat, setahun lalu, aku diturunkan dari komandan pasukan menjadi polisi lalu lintas dengan buku tilang di saku hanya karena membantumu lolos dari rumah peristirahatan Opa. Beruntung kau memenuhi janji, membayar lunas pertolongan itu dengan menyerahkan Om Liem di penghujung cerita.”

Aku menyeka pelipis. ”Aku tidak punya waktu untuk menjelaskan, Rud.”

”Kau punya waktunya, Thomas. Aku juga punya waktunya— dan jelas kedatanganmu di kompleks ini telanjur membuatku bangun. Ini pukul dua belas malam, mau ke mana pula kau sekarang? Mau menghajar lawan-lawanmu? Mereka boleh jadi sedang tidur nyenyak. Nah, jelaskan semuanya padaku, maka biarkan aku memikirkan cara membuatmu pergi dari penjara kompleks kepolisian ini. Bila perlu, aku juga akan memberikan sedikit bantuan kecil seperti dulu, hadiah dari teman lama.”

Aku menatap wajah Rudi yang mulai serius. Baiklah. Aku mengalah, akan kuceritakan lengkap. 
Bagikan Novel ini Sebegai bentuk dukungan untuk situs ini 😊