menu

Negeri di Ujung Tanduk Bab 18: Aset Berharga

Mode Malam
Bab 18: Aset Berharga
AKU dan Maryam bergegas meloncat turun saat gondola

menyentuh tanah, langsung berlari ke parkiran mobil, tidak menghiraukan dua petugas maintenance yang bingung menatap punggung kami, menyeringai satu sama lain, mengangkat bahu. Salah satu petugas bergumam, ”Lupakan saja, pekerjaan kita masih banyak.” Menekan tombol pengendali, gondola kembali bergerak ke atas.

Aku tidak mencemaskan Maggie. Mereka tidak ada kepentingannya dengan Maggie, paling hanya menganggapnya salah satu dari puluhan karyawan perusahaanku yang sedang lembur malam-malam. Kamilah yang mereka buru.

Aku gesit membuka pintu mobil Jeep dobel gardan, melompat masuk sekaligus menyalakan mobil. Maryam menyusul naik, mengempaskan punggung di kursi sebelahku, menutup pintu. Aku segera menekan pedal gas persis pintu ditutup. Mobil melesat cepat meninggalkan parkiran. Sial, aku bergegas mengerem, mengurangi laju kendaraan, beberapa anggota pasukan berseragam taktis yang hendak menangkapku itu ternyata menjaga gerbang keluar kantor, mengambil alih loket parkir dan petugas sekuriti gedung. Mereka memeriksa setiap mobil yang keluar. Ada empat orang bersenjata laras panjang yang menghentikan setiap kendaraan melintas, meminta membuka jendela, mencocokkan wajah.

Maryam menoleh padaku—kali ini tidak ada lagi tatapan mesra sepasang kekasih atau sepasang suami-istri muda. Wajahnya tegang, seolah bertanya ”Apa yang akan kaulakukan, Thom?” Rahangku mengeras, tidak ada jalan keluar lain. Aku tidak bisa memutar lewat pintu belakang gedung, sama saja, mereka pasti menjaganya. Kami juga tidak bisa turun dari mobil lantas lari menyeberangi pagar gedung. Kami tinggal dua puluh meter dari gerbang. Mereka pasti curiga ada mobil yang berhenti mendadak, segera melihat, dan lebih mudah mengejar kami. Satusatunya pilihan yang tersisa adalah memacu mobil secepat mungkin. Ini Jeep dengan postur badan besar kokoh. Mereka akan menyingkir menghindar. Aku menoleh ke sebelah, berseru, ”Berpegangan, Maryam!” Lantas menekan pedal gas dalam-dalam.

Tidak perlu diminta dua kali Maryam sudah melakukannya.

Suara derum mobil yang terdengar kencang, alih-alih berhenti agar bisa diperiksa, membuat empat anggota pasukan khusus itu menoleh. Aku menambah kecepatan. Tidak ada niat berhenti melihat mereka memasang badan. Pada detik terakhir sebelum tabrakan, mereka refleks melompat ke belakang. Mobil Jeep yang kukemudikan berhasil melintasi loket parkir.

”Menunduk, Maryam!” aku berseru kencang.

Maryam menunduk meski dia tidak mengerti untuk apa. Belum habis ujung suaraku, empat anggota pasukan khusus segera paham apa yang sedang terjadi. Mobil yang menerobos gerbang parkiran berisi orang yang mereka cari. Mereka mengangkat laras senjata otomatis. Sedetik berlalu, empat laras senjata itu telah memuntahkan peluru. Kaca belakang mobil pecah berkeping-keping. Desingan peluru terdengar di mana-mana, di atas kepala kami, menghantam dinding mobil, mengenai spion, jendela sebelah kiri, membuat kaca berhamburan ke dalam. Maryam berseru panik. Aku mencengkeram kemudi lebih erat, membanting setir ke kanan, mobil Jeep menikung hampir terbalik. Kami masuk ke jalanan kota Jakarta yang ramai.

Tembakan itu tertinggal di belakang.

”Kau baik-baik saja?” aku bertanya pada Maryam.

Gadis wartawan itu mengangguk, mengangkat kepala. Wajahnya pucat pasi.

Namun, masalah jauh dari selesai. Dua mobil taktis dipenuhi anggota pasukan khusus itu meluncur meninggalkan parkiran gedung tiga puluh detik kemudian.

”Mereka mengejar kita, Thomas.” Maryam menoleh ke belakang. Sirene mobil meraung memecah jalanan, menyuruh minggir kendaraan lain.

Aku menggeleng. Tenang saja, itu bukan masalah berarti. Kalau hanya dua mobil itu, aku dengan mudah bisa kabur. Mereka salah memilih lawan balapan di jalanan kota. Tanganku memegang kemudi erat-erat, kakiku gesit berpindah menekan rem, gas, dan kopling, meliuk di jalanan kota yang masih ramai meski lewat pukul sembilan malam. Kami melintasi persis jalan protokol dengan gedung-gedung tinggi di sekitarnya.

Perhitunganku tepat. Satu menit berlalu, dua mobil taktis itu tertinggal jauh di belakang. Sirene mereka menjauh, tidak lagi terlihat dari kaca spion yang belum pecah kena peluru. Bahkan menoleh ke belakang sekalipun, mereka tidak terlihat. Maryam menghela napas lega, yang ternyata terlalu cepat. Sial, yang menjadi masalah serius adalah saat mereka merasa tertinggal. Dua sepeda motor balap Ninja yang telah dimodifikasi sedemikian rupa meraung, melompat turun dari dua mobil taktis tersebut, dengan dua anggota pasukan khusus di atas setiap tunggangan gagah itu. Dengan cepat mereka menyusul mobil Jeep yang kukemudikan.

”Berpegangan, Maryam!” aku berseru. Ini mulai menyebalkan. Dengan sepeda motor, mereka jelas memiliki keuntungan di atas jalanan ramai, lebih mudah menyelinap ke sana-kemari tanpa perlu menginjak pedal rem.

Maryam menoleh ke belakang berkali-kali, dan seruan cemasnya semakin kencang. Aku membanting kemudi ke kanan, membuat mobil dobel gardan lompat ke atas jalur khusus busway, menekan pedal gas, melesat. Lima ratus meter, aku membanting lagi kemudi ke kiri, keluar dari jalur itu, sebelum nyaris mencium bus gandeng yang sedang merapat ke halte. Aku tidak peduli ingar-bingar sekitar, apalagi tatapan mata dari pengemudi lain, para calon penumpang di halte, orang-orang di trotoar, ramai menunjuk-nunjuk. Dua motor Ninja itu semakin dekat. Dari spion aku bisa melihat anggota pasukan yang duduk di belakang terlihat mengangkat senjatanya, bersiap menembak. Aku mencengkeram setir. Aku harus membawa mobil ini secepat mungkin masuk ke dalam tol. Di jalanan bebas hambatan yang relatif lengang mobil Jeep yang kubawa memiliki kesempatan melawan motor-motor balap itu. Tetapi gerbang tol masih satu kilometer lagi dan jarak kami dengan para pengejar tinggal belasan meter, sudah masuk jarak tembak. Aku mengatupkan mulut, mereka bersiap menarik pelatuk senjata. Maryam berseru panik. Sedetik, aku membanting kemudi, menghindar, meliuk ke kanan, mendahului dua truk besar, membuat ruang tembak mereka menjadi sempit. Peluru menghantam aspal, selongsongnya berkelontangan. Mereka tidak mengincar kami. Mereka mengincar roda mobil agar kami terhenti.

”Ayolah! Menyingkir!” Aku menekan klakson berkali-kali. Jalanan semakin ramai. Aku menyuruh mobil-mobil kecil di depanku memberikan jalan. Kami tinggal lima ratus meter lagi dari gerbang tol.

Dua penunggang motor Ninja kembali melepas tembakan. Aku membanting kemudi ke kiri. Mobil Jeep meloncat ke atas trotoar, menyerempet dua mobil lainnya. Beberapa pejalan kaki bergegas melompat menghindar. Satu-dua terjerembap ke dalam parit. Peluru membuat paving block trotoar merekah. Jalanan semakin kacau-balau. Teriakan kaget, marah, bercampur suara raungan mobil dan motor memenuhi langit-langit kota. Tinggal dua ratus meter lagi, mobil Jeep-ku kembali meloncat ke atas aspal jalanan, meninggalkan dua tenda pedagang malam yang ambruk tersenggol badan mobil. Aku tidak sempat mencemaskan mereka, semoga baik-baik saja. Aku sendiri sedang ditembaki.

Apalagi entah sudah seperti apa tampilan mobil Jeep yang kukemudikan. Jendela kacanya hanya bersisa di depan. Pecahan kaca berserakan di dalam. Moncong mobil penyok. Baret panjang dan dalam di kiri kanan dinding mobil. Lubang peluru menghiasi bagian belakang dan samping. Masih lima puluh meter lagi gerbang tol. ”Ayolah.” Rahangku mengeras, konsentrasi penuh di sisa jalan protokol.

Sial, salah satu motor yang seperti terbang itu berhasil menyalip mobil dari sisi kanan. Pengemudinya memberikan ruang tembak lebar bagi rekannya yang duduk di belakang. Laras senjata otomatis itu terarah sempurna. Sebelum aku sempat menghindar, membanting setir, dua peluru telah merobek roda mobil belakang. Roda itu meletus tanpa ampun. Dengan kecepatan tinggi mobil yang kukemudikan miring, nyaris terbalik. Maryam berteriak panik, berpegangan pada apa saja. Mobil melintir. Dinding kirinya menghantam sebuah truk. Maryam menjerit. Serempetan dengan dinding truk mengeluarkan percik kembang api. Aku mengabaikan teriakan Maryam, memegang kemudi sekuat mungkin, berusaha membuat mobil kembali stabil, lepas dari truk. Terlambat, dari sebelah kiri, dengan cepat melewati truk besar itu, motor Ninja yang lain telah tiba. Moncong senjata terarah kepada kami. Peluru berhamburan. Kali ini roda depan bagian kiri yang meletus.

Dengan dua roda pecah, pelarian itu terhenti. Aku tidak punya pilihan selain menginjak rem agar mobil tidak terbalik, terguling, dan bisa membahayakan Maryam. Mobil tetap meliuk tidak terkendali, terlepas dari dinding truk. Setelah empat detik yang panjang dan suara decit yang membuat ngilu telinga, mobil Jeep dobel gardan itu menghantam loket gerbang tol. Maryam terbanting ke depan tertahan sabuk pengaman. Bagian depan mobil hancur, juga loket yang kutabrak, membuat petugas di dalamnya menjerit.

Dua motor balap Ninja itu ikut berhenti. Empat anggota pasukan khusus berloncatan, mengepung mobil yang mengepulkan asap, dengan laras senjata otomatis teracung galak.

Aku memang berhasil tiba di gerbang tol, tapi tidak bisa lagi melanjutkan pelarian. Kami terpojok, tidak banyak yang bisa dilakukan.

***

Maryam sambil terbatuk keluar dari mobil. Aku menyusul turun.

”Tetap di tempat! Angkat tangan kalian ke atas!” salah satu anggota pasukan berseru tegas, meneriakiku.

Aku mengangguk, mengangkat kedua tangan. Mengeluh pelan, tangan kananku terasa sakit, tadi sempat menghantam pintu mobil.

Antrean panjang segera terbentuk di gerbang tol itu, mobilmobil tertahan, atau mobil-mobil yang sengaja memperlambat laju, ingin tahu apa yang terjadi, kemacetan mulai terbentuk. Lima menit berlalu, dua mobil taktis yang sebelumnya tertinggal jauh akhirnya tiba. Aku dan Maryam diborgol, didorong naik ke salah satu mobil. Drama di gerbang tol itu berakhir dengan perginya rombongan pasukan khusus.

Kali kedua dalam seharian ini aku dan Maryam ditangkap polisi, dinaikkan ke atas mobil, dengan borgol di tangan. Ini rekor tersendiri.

”Kau baik-baik saja?” aku bertanya pelan.

Maryam mengangguk. Wajahnya masih pucat. Tangan dan kakinya masih gemetaran, tapi sepertinya di luar itu dia baikbaik saja—terlepas dari kemejanya yang semakin kotor, celana kain panjangnya yang robek di betis, dan rambutnya yang terlihat semakin berantakan sejak kejadian di Hong Kong tadi pagi.

Kami disuruh duduk berhadap-hadapan di dalam mobil taktis, diapit empat orang bersenjata lengkap. Mereka persis seperti sedang menangkap gembong kejahatan besar atau teroris yang berbahaya. Entah ke mana mereka akan membawa kami. Mobil membelah keramaian dengan cepat. Sirene meraung menyuruh kendaraan lain menyingkir. Dua motor balap Ninja itu ikut menyibak jalanan. Aku mengembuskan napas. Setidaknya aku dan Maryam tidak kurang satu apa pun setelah mobil Jeep menghantam loket pintu tol.

Setengah jam berlalu, salah satu anggota pasukan khusus yang menjaga kami menerima telepon. Dia bicara pendek-pendek, hanya menjawab berkali-kali, ”Siap, Komandan.” Belum genap aku bisa menyimpulkan dia bicara dengan siapa, apa isi pembicaraan mereka, laju kendaraan melambat, mobil sepertinya menepi, lantas berhenti sama sekali. Apakah sudah sampai di tujuan? Maryam menatapku. Aku bergumam, tidak tahu. Salah satu petugas menyuruh Maryam pindah, duduk di sebelahku. Maryam menurut, beranjak ke sampingku.

Pintu belakang mobil taktis berdebam dibuka, lalu naiklah seseorang. Aku segera mengenalinya. Masih segar ingatanku, dia baru saja muncul di layar televisi, dalam konferensi pers pukul sembilan tadi.

”Selamat malam, Thomas,” suara berat setengah serak itu menyapaku.

Aku tidak menjawab salamnya, hanya menatap tajam. Orang itu duduk di kursi, berhadapan denganku. ”Aku minta maaf, kita bertemu dalam situasi yang tidak terlalu memadai, Thomas.” Orang itu tersenyum, bersedekap santai. ”Apalagi untuk seorang konsultan politik paling berbakat sepertimu? Ini sama sekali tidak layak.” Dia menatap sekeliling isi mobil taktis.

Aku lagi-lagi tidak menjawab kalimatnya, masih menatapnya, memilih menunggu. Napas Maryam di sebelahku terdengar kencang. Aku tahu, kalau saja kami tidak diborgol, mungkin Maryam akan meloncat meninju sekuat tenaga orang di depan kami, meninju wajah jenderal bintang tiga, kepala badan penyidik kepolisian, orang terkuat kedua di markas besar polisi. Lihatlah, dia baik sekali, bukan? Di tengah kesibukan, dia menyempatkan diri say hello, menyapa kami yang dalam kondisi babak belur.

”Keahlian yang kaumiliki sebenarnya besok lusa bisa amat berharga bagi kami, Thomas. Kau konsultan politik yang genius. Astaga, kau membuat dua pemilihan gubernur itu seperti lelucon. Kau mengalahkan dua incumbent dengan kemenangan telak, bisa dibilang kau sedang mempermalukan mereka.” Jenderal bintang tiga itu mengabaikan wajah kesal Maryam, juga tatapan tajamku, dia masih berbicara rileks.

”Kau bisa menjadi bagian dari kami, Thomas. Anak muda berpendidikan tinggi, brilian dalam strategi, dan amat mengagumkan dalam situasi terdesak. Lihat, kau sedikit pun tidak cemas atas penangkapan ini. Kau tidak takut, penuh dengan rencana, bukan? Begitu tenang balas menatapku, seolah kita sedang mengobrol di salah satu restoran mahal Hong Kong, bukan?” Dia masih tersenyum santai.

Aku masih diam, menunggu. Entah apa yang sedang dikerjakan Kris saat ini dengan jutaan informasi dan program pengolahan data di superkomputer itu, tetapi aku bisa memastikan segera, orang di hadapanku ini pasti muncul di daftar nama paling tinggi mafia hukum itu. Salah satu bagian penting dari pola yang kami cari.

”By the way, Thomas, kalau boleh tahu, seberapa besar kau dibayar klienmu untuk memenangi konvensi partai besok? Seberapa besar tarif jasa konsultasi politikmu, Thomas? Atau mungkin kau dijanjikan menjadi salah satu menteri dalam kabinetnya kalau besok lusa dia berhasil menjadi presiden? Atau lebih dari itu? Konsesi bisnis? Penguasaan atas salah satu perusahaan pelat merah?”

Aku kali ini menggeleng, menjawab, ”Kau tidak akan paham.” ”Tidak paham?” Dia menatapku ramah—yang aku tahu itu

dusta.

”Ya, kau tidak akan paham kalau aku tidak dibayar sama sekali.”

Dia tertawa pelan mendengar jawabanku. ”Oh, idealisme ternyata. Kau dibayar dengan mimpi-mimpi masa depan yang lebih baik, bla-bla-bla membosankan itu. Tentu saja aku paham. Kau tidak bisa menilai terlalu rendah orang-orang sepertiku, Thomas. Kau tahu, kami juga memiliki prinsip dan kehormatan.”

”Prinsip seorang pencuri? Atau kehormatan seorang penjahat yang kaumaksud?” aku bergumam, sengaja dengan intonasi datar, antara terdengar dan tidak.

”Astaga, Thomas. Bicara tentang kehormatan dan penjahat, kau seharusnya becermin, Nak. Lihatlah, anak kecil juga paham. Aku saat ini mengenakan seragam polisi. Tanganmu dan rekanmu ini justru terborgol. Tanyakan kepada anak SD, siapa yang sebenarnya penjahat dan siapa orang baik, hah? Mereka bisa dengan cepat menjawabnya.” Dia tertawa, menepuk pelan dahinya.

Aku mendengus—di sebelahku napas Maryam terdengar lebih kencang.

”Well, ini sebenarnya bisa menjadi percakapan yang menarik, Thomas. Aku tidak tahu ternyata kau bisa jadi teman bicara yang menyenangkan. Tetapi sayangnya, waktuku tidak banyak. Kami harus mengumpulkan barang bukti, melengkapi penyidikan, lantas menyeret klien politikmu ke pengadilan sesegera mungkin.”

”Ya, kalian memang selalu bekerja keras, menghabiskan uang rakyat yang menggaji kalian untuk memeras otak bagaimana merekayasa semuanya,” aku menjawab sambil lalu.

”Kau selalu saja berpikir negatif terhadap kami, Nak.” Petinggi kepolisian itu tetap tidak tersinggung, menyentuh lenganku. ”Baiklah, to the point, Thomas. Pertama, aku minta maaf, aku terpaksa menahanmu dan rekanmu sementara waktu. Kau bisa membahayakan seluruh operasi. Bicara soal Hong Kong, seharusnya kau masih di sana, tidak berkeliaran di Jakarta, tapi sepertinya teman di sana tidak terlalu baik mengurusnya.

”Yang kedua, dan ini lebih penting, aku sengaja datang menyapamu, menghentikan iring-iringan mobil, hanya untuk bilang kau telah memilih sisi yang kalah, Thomas. Kau telah keliru harus memihak dan membela siapa. Mungkin kau bisa berubah pikiran, berpikir ulang di dalam ruangan sempit penjara sementara waktu. Frankly speaking, kami selalu terbuka dengan orangorang sepertimu.” Orang itu masih memegang lenganku, menoleh ke arah Maryam. ”Juga wartawan muda yang ambisius sepertimu. Kalian berdua bisa jadi aset yang berharga dalam keluarga besar.”

Dia kembali menatapku. ”Catat ini baik-baik, Thomas, agar kau bisa memahaminya dengan baik. Kami ada di mana-mana, bisa melakukan apa pun, di mana pun, dan dengan cara apa pun. Tidak ada masalah hukum yang terlalu besar bagi kami. Semua bisa diurus, termasuk dengan mudah menghapus catatan kejahatan kalian di Hong Kong tadi pagi, sekaligus memberikan posisi terhormat. Kau tidak akan pernah bisa membayangkan betapa besar kekuatan kami, termasuk betapa besar kesempatan yang bisa kami tawarkan kepada kalian.”

Orang itu bangkit, berdiri. ”Selamat malam, Thomas. Pikirkanlah kalimatku, atau aku terpaksa menuduhmu terlibat dalam kasus besar, pembunuhan misalnya. Atau pilihan lain, aku segera menghubungi pihak kepolisian Hong Kong. Mereka dengan senang hati menerima buronan besar.” Dia melangkah keluar dari mobil taktis, berseru kepada anak buahnya yang terus siaga dengan senjata otomatis. ”Kalian amankan mereka segera. Titipkan ke salah satu tahanan. Ada pekerjaan lain yang harus kalian selesaikan.”

Punggung petinggi kepolisian itu hilang di balik pintu mobil taktis yang kembali ditutup. Mobil itu melaju cepat, entah ke mana tujuannya sekarang. Menyisakan Maryam yang mengembuskan napas panjang berkali-kali, mencoba membuang rasa muak yang terlihat jelas di wajahnya.

Aku melirik Maryam sebentar, memilih tidak berkomentar. 
Bagikan Novel ini Sebegai bentuk dukungan untuk situs ini 😊