menu

Negeri di Ujung Tanduk Bab 17: Pemandangan Indah Ibu Kota

Mode Malam
Bab 17: Pemandangan Indah Ibu Kota
INI hebat, terlalu hebat malah.

Konferensi pers itu dipimpin langsung pejabat tertinggi badan penyidikan kepolisian, ditemani dua pemilik bintang dua di bahu. Mereka hanya memaparkan singkat bahwa seluruh proses penangkapan inisial JD, tersangka kasus korupsi megaproyek tunnel raksasa Jakarta, telah memenuhi prosedur resmi kepolisian. Saat ini penyidik sedang berusaha maksimal agar kasus ini segera dibawa ke pengadilan.

”Agar tersangka tidak melarikan diri, menghilangkan barang bukti, tersangka kami amankan tadi pagi dari tempat tinggalnya. Berkas penyidikan akan segera dilimpahkan ke kejaksaan, sehingga proses pengadilan yang adil dapat segera berlangsung dan kita saksikan bersama.” Kepala penyidikan kepolisian membacakan kalimat terakhir kertas di tangannya.

Ruangan tempat konferensi pers itu ramai oleh wartawan— boleh jadi memecahkan rekor paling banyak dalam sebuah konferensi pers. Saat pernyataan itu selesai dibacakan, sesi tanya-jawab dibuka, puluhan tangan serempak teracung.

Salah satu wartawan dipersilakan bertanya, dengan semangat berseru dari tempat berdirinya, dan saat pertanyaan pendeknya selesai, belasan kamera kembali terarah ke petinggi kepolisian di belakang meja.

”Ayolah, jangan suka menduga-duga, berandai-andai. Kami penegak hukum profesional, tentu saja sudah sejak lama kami memproses kasus ini. Tidak kami kabarkan saja kepada kalian para wartawan atau masyarakat luas. Kenapa baru hari ini ditangkap? Itu hanya kebetulan. Sebenarnya bisa kapan saja. Kemarin, kemarinnya lagi, atau besok, besoknya lagi, tidak ada bedanya. Sama saja.” Petinggi kepolisian menjawab santai, mengangkat bahu.

Salah seorang wartawan tidak sabaran, sebelum ditunjuk moderator konferensi pers, dia sudah berseru, memotong.

Petinggi kepolisian tersenyum. ”Jika kami tidak memiliki bukti yang cukup, bagaimana mungkin kami melakukan penangkapan? Menetapkan tersangka? Sayangnya detail barang bukti menjadi konsumsi pengadilan, jadi tidak bisa disampaikan lebih detail di sini.”

Dua-tiga wartawan lain berebut memotong.

Petinggi kepolisian itu mengangkat tangan rileks. ”Sekali lagi kami tegaskan, proses penyidikan kasus ini tidak ada hubungannya dengan hal-hal lain. Kami bahkan tidak peduli konvensi partai yang akan diikuti tersangka inisial JD. Kalian meributkan mengapa hari ini, sehari sebelum konvensi partai itu dibuka. Bagi kami, tidak ada yang spesial dengan hari ini, hanya hari Jumat, sama dengan hari-hari lain. ”Semua orang setara di depan hukum, termasuk presiden sekalipun, apalagi kalau baru sekadar kandidat presiden. Bukankah kalian yang selama ini mengkritik agar kepolisian lebih cekatan memberantas kejahatan korupsi? Kasus ini melibatkan anggaran raksasa 24 triliun, dan penegak hukum bisa menyelidiki kapan saja, terlepas megaproyek tersebut sudah selesai bertahun-tahun silam.”

Wartawan lain berseru, bertanya.

”Tentu saja kami tidak akan berhenti pada satu orang tersangka.” Petinggi kepolisian menangkupkan kedua telapak tangannya. ”Kami akan menyelidiki semua orang yang diduga terlibat, termasuk orang dekat, orang-orang di lingkaran tersangka inisial JD. Pasti banyak yang terlibat dan kami akan menghabisinya hingga ke akar-akarnya. Catat itu.”

Masih banyak pertanyaan yang diajukan wartawan yang memadati ruangan itu. Ruangan dipenuhi seruan-seruan wartawan yang mengacungkan tangan agar dipersilakan bertanya, kilau blitz tustel, dan sorot lampu terang kamera. Tetapi konferensi pers itu segera berakhir, salah satu petinggi kepolisian berbisik dan jenderal bintang tiga di tengah mengangkat tangannya, tersenyum. ”Rekan wartawan yang budiman, kami minta maaf, ada banyak yang harus kami lakukan saat ini, tidak bisa menjawab setiap pertanyaan. Jadi sekali lagi, kami berharap semua pihak bisa bersabar menunggu proses hukum tersangka inisial JD. Kami akan bekerja keras dan profesional. Terima kasih, selamat malam.”

Aku tidak terlalu memperhatikan lagi kesibukan yang terlihat di layar televisi. Para wartawan berusaha merangsek ke depan, melontarkan sisa pertanyaan. Tiga petinggi kepolisian dengan bintang di bahu balik kanan, meninggalkan ruangan tersebut. Belasan polisi lain yang menahan gerakan wartawan agar tidak mendekat.

Maryam yang berdiri di sebelahku menghela napas. ”Ini buruk sekali, Thom.”

Aku mengangguk, meraih remote, mematikan televisi, membuat suara dan wajah antusias anchor siaran breaking news itu hilang dari layar. Ini hanya konferensi pers. Tidak lebih, tidak kurang. Tidak ada bedanya dengan konferensi pers untuk tersangka pencuri sendal jepit. Hanya skala saja yang membedakan, dan siapa yang menghadirinya.

”Setidaknya kita sekarang memiliki tiga kata kunci baru yang dibutuhkan Kris.” Aku menoleh ke arah Maggie yang sejak tadi terdiam. ”Tolong sampaikan ke Kris, Meg, minta dia memasukkan nama tiga jenderal itu ke dalam sistem selain nama Om Liem. Aku berani bertaruh, salah satu atau bahkan ketiga-tiganya memiliki pola menarik dalam data yang sedang diproses Kris. Kau juga bisa memasukkan nama jaksa, atau hakim, siapa saja yang kemudian memberikan komentar atas kasus ini di media massa.”

Maggie mengangguk. ”Ada lagi yang kaubutuhkan, Thom?” ”Aku besok pagi-pagi harus ke Denpasar, Meg.”

”Semua tiket dan penginapan sudah kusiapkan, Thom. Sudah kukirim e-mail itinerary-nya tadi sore, kau belum baca?” Maggie selalu bertindak dua langkah ke depan sebelum kuminta.

”Belum sempat, nanti akan kulihat, terima kasih.” Aku mengangguk. ”Satu lagi. Malam ini aku belum tahu akan tidur di mana, Meg. Aku tidak bisa menggunakan namaku untuk memesan, membeli, atau melakukan transaksi. Jaringan interpol dunia bisa melacak transaksi tersebut. Aku tidak bisa beristirahat di apartemen, juga Maryam, dia tidak bisa kembali ke rumahnya. Kau tolong siapkan dua kamar untuk aku dan Maryam di salah satu hotel yang memadai.”

Maggie melirik Maryam yang telah kembali melangkah ke kursi, duduk menyandarkan punggung, mungkin masih memikirkan banyak hal dari konferensi pers barusan.

Maggie berbisik, ”Apa kubilang, Thom. Bahkan baru beberapa jam kau jalan bersamanya, nasib malang, aku sekarang sudah menjadi pesuruh nenek lampir itu, tolong pesankan kamar hotel, Meg, besok lusa boleh jadi kau akan berseru kepadaku, tolong belikan dia pizza, Meg, atau tolong antarkan pakaian kotornya ke laundry, Meg.”

Aku tertawa. ”Kau mau bertukar posisi dengannya, Meg?” ”Bertukar posisi?” Dahi Maggie terlipat dua.

”Ya, asal kau tahu saja, Maryam saat ini adalah buronan interpol.”

Belum sempat Maggie nyinyir atau menjawab sembarang kalimatku, telepon di atas meja kerjanya berdering lebih dulu. Maggie (selalu) refleks menyambarnya. Bicara dua potong kalimat, lantas dengan wajah pucat menyerahkan telepon itu kepadaku.

”Pak Thom, ini darurat,” petugas sekuriti lobi gedung berbisik di seberang telepon, patah-patah. ”Ada serombongan orang dengan senjata lengkap, baju komando, memakai kedok, menanyakan lantai kantor Pak Thom. Mereka mengaku dari kepolisian.”

”Berapa jumlah mereka?”

”Tidak kurang dari sepuluh, Pak Thom.” ”Kau bisa tahan mereka? Lima belas menit?” ”Kami sedang berusaha menahan mereka, Pak Thom.”

Aku menutup telepon, menoleh ke arah Maryam. ”Kita harus segera pergi, Maryam. Ada pasukan yang sedang menuju kemari, mereka pasti mencari kita.”

Maryam berdiri, wajahnya berubah. ”Kau serius?”

”Lebih dari serius,” aku menjawab pendek, berusaha berpikir cepat.

Aku tahu, hanya soal waktu mereka bisa muncul kapan saja, di mana saja. Entah apakah mereka sudah memperoleh notifikasi dari kepolisian Hong Kong atau mereka dikirimkan terpisah dengan tuduhan berbeda dari markas kepolisian Jakarta. Tetapi yang mana, itu tidak penting, aku harus segera membawa Maryam pergi dari kantor.

”Apa yang harus kita lakukan, Thom?” Maryam dengan wajah tegang bertanya.

Aku menggeleng, masih berpikir mencari jalan keluar. Dulu aku bisa kabur dari kantor saat penyergapan dengan menyalakan alarm kebakaran, tapi ini pukul sembilan malam, gedung ini kosong, sia-sia, aku dan Maryam dengan segera bisa dikenali saat turun. Mereka pasti menjaga seluruh pintu keluar, lift, tangga, semua celah yang menuju lobi gedung.

Telepon di meja kerja Maggie berbunyi nyaring lagi, Maggie mengangkatnya, satu-dua kalimat, meletakkan gagang telepon, wajahnya lebih tegang dibanding Maryam. ”Mereka sudah menuju kemari, Thom. Petugas sekuriti bawah bilang, separuh dari pasukan itu bergerak naik, mereka sedang menunggu satu-satunya lift yang beroperasi turun ke lantai dasar. Kau hanya punya waktu paling lama lima menit.” Apa yang harus kulakukan sekarang? Aku memeras otak, mencari cara kabur. Aku tidak mungkin menunggu mereka di ruangan Maggie, lantas melawan dengan tinju. Mereka membawa senjata.

Maryam di sebelahku ternyata berpikir lebih cepat. Dia berlari-lari kecil masuk ke ruang kerjaku yang berada di dalam, berbatasan langsung dengan jendela kaca gedung. Aku menoleh, hei, apa yang akan dilakukan Maryam? Dia mau melihat lagi pemandangan kota Jakarta dari sana setelah tadi berkeliling melihat kantor? Hendak menyaksikan pertunjukan lampu sorot dari gedung ini?

”Bergegas, Thom!” Maryam berseru memanggilku.

Aku menyusulnya. Maggie ikut melangkah di belakangku. ”Jendela kaca ini bisa dibuka?” Maryam bertanya, memeriksa. Tentu saja bisa. Tapi apa yang akan dilakukan Maryam? Lon-

cat dari ketinggian lantai 19? Maryam tanpa menunggu, sudah gesit berhasil menggeser jendela kaca di ruanganku, terbuka lebar. Angin kencang menerpa masuk. Maryam mendongak ke atas, berteriak-teriak memanggil. Aku baru paham apa yang sedang direncanakan Maryam. Beberapa menit lalu, saat melihatlihat ruanganku, Maryam tahu kalau gondola petugas main­ tenance melintas persis di depan jendela kaca itu. Petugas itu sedang memeriksa pertunjukan cahaya lampu sorot di dinding luar gedung.

Demi mendengar teriakan Maryam, gondola yang posisinya sudah tiga lantai di atas kami, bergerak turun. Dua petugasnya bingung melihat Maryam yang berseru-seru serius berusaha memanggil. Aku mengerti rencana Maryam.

”Kau naik duluan, biar kubantu,” aku berkata, tidak sempat untuk sebuah penjelasan. Dua petugas ini boleh jadi malah menolak kalau tahu alasan sebenarnya.

Maryam berusaha menaiki jendela kaca yang terbuka lebar. Aku membantunya. Tinggi jendela itu sepinggangku, tidak mudah berpindah dari dalam gedung ke atas gondola. Lima detik, Maryam sudah di atas gondola, merapikan rambutnya yang diterpa angin kencang.

Dua petugas itu bingung. Salah satunya menolak kehadiran Maryam, ”Tidak boleh, Bu. Gondola ini hanya bisa dinaiki petugas berpengalaman.”

”Terlambat, Kawan.” Aku tertawa. Giliranku dengan gesit loncat ke atas gondola itu, menoleh ke arah Maggie yang berdiri di dalam gedung. ”Kau tutup jendelanya segera, Meg. Jika rombongan itu tiba, biarkan mereka memeriksa seluruh kantor. Setelah mereka pergi, pindahkan seluruh berkas pekerjaan ke ruangan Kris. Tidak ada yang tahu kalau Kris bekerja untukku. Lantai kantornya berbeda dan dia memiliki entitas sendiri. Segera hubungi aku jika ada kabar baru atau sesuatu.”

Maggie mengangguk, menatap jeri keluar. Angin kencang terasa dingin di kulit.

”Maaf, Bapak, Ibu, sekali lagi, kalian tidak bisa menumpang. Gondola ini hanya untuk staf terlatih. Kita ada di ketinggian puluhan meter. Ini berbahaya ”

”Ayolah, aku sedang memberikan surprise kepadanya. Ini ulang tahunnya, dan naik gondola di salah satu gedung adalah kado terbaik baginya. Bukan begitu, Sayang?” Aku menunjuk Maryam di sebelahku, memasang wajah seperti sepasang kekasih.

Maryam mengangguk-angguk, menatap manja dua petugas

maintenance gedung yang semakin bingung. ”Boleh ya, Mas, kami menumpang. Sekali saja. Hanya turun ke bawah, aku sudah senang sekali.”

”Nah, dan asal kalian tahu, dia juga sedang hamil muda, ngidam naik gondola sejak berhari-hari lalu, bukan begitu, Sayang?” Kali ini aku menunjuk Maryam di sebelahku dengan memasang ekspresi sepasang suami-istri yang mesra. ”Kalian tidak akan tega menolak permintaan seorang ibu hamil, bukan?”

Maryam masih mengangguk-angguk, sekarang memeluk mesra lenganku. Dua petugas itu bersitatap, mungkin menyesali nasib mereka, kenapa pula sudah selarut ini, saat sedang sibuk merawat gedung, ada pasangan aneh tiba-tiba loncat ke atas gondola. ”Apa lagi yang kalian tunggu? Ayo, segera turunkan gondolanya!” Aku berseru, kali ini tidak sabaran. Waktuku tinggal dua menit, rombongan pasukan bersenjata itu sudah lebih dari se-

paruh jalan menuju lantai kantorku.

Setelah beberapa detik masih bersitatap, akhirnya salah satu petugas mengalah, meraih alat kemudi gondola, lantas menekan tombolnya. Gondola besar yang sering digunakan petugas membersihkan ratusan jendela kaca gedung begerak turun.

”Indah sekali kan, Sayang?” aku berkata kepada Maryam. ”Apanya?” Maryam kurang nyambung dengan arah perca-

kapan.

”Pemandangan kota malam ini. Indah sekali, bukan?”

”Oh, iya. Ini luar biasa, Sayang. Terima kasih ya, sudah mengajakku.” Maryam menjawab manja, pura-pura ikut menatap pemandangan kota Jakarta dari atas gondola yang terus meluncur ke bawah dari lantai 19. 
Bagikan Novel ini Sebegai bentuk dukungan untuk situs ini 😊