menu

Negeri di Ujung Tanduk Bab 16: Selalu Ada Pola di Dunia

Mode Malam


Bab 16: Selalu Ada Pola di Dunia
PUKUL 19.00 setelah makan malam seru bersama seratusan

murid dan guru-guru di lima meja panjang, aku dan Maryam meninggalkan bangunan tua di tepi pantai itu. Guru Alim, Opa, dan Kadek melepas di halaman.

”Aku akan menjaga Opa, Pak Thom, dengan nyawaku. Pak Thom tidak perlu mencemaskan apa pun,” Kadek mengangguk, berkata mantap sebelum aku berpesan hal tersebut.

Aku menepuk bahu Kadek penuh penghargaan.

”Ada banyak yang bisa dilakukan di tempat ini, Thomas. Kauurus apa pun yang hendak kauurus, kau bisa meninggalkan kakekmu dengan aman di sini.” Guru Alim menjabat tanganku. ”Aku dan Chan bahkan bisa menghabiskan waktu dengan bermain catur... hei, aku juga baru tahu kalau dia suka memainkan musik? Klarinet?”

Aku bergegas menggeleng, berbisik, ”Sebaiknya jangan biarkan Opa memainkan alat musik apa pun. Dia tidak mau berhenti kalau sudah memulainya.”

Guru Alim terkekeh pelan. Opa melotot padaku.

Mobil Jeep dobel gardan yang kukemudikan meninggalkan bangunan tua itu setelah satu-dua kalimat lainnya. Lampu terang mobil menyorot jalan setapak yang harus dilewati, aku berseru pendek ke Maryam, ”Berpegangan.” Lantas menekan pedal gas, menambah kecepatan. Aku harus segera tiba di Jakarta. Dua jam lagi akan ada konferensi pers dari markas polisi terkait penangkapan klien politikku. Aku harus menyaksikannya—meskipun hanya lewat televisi. Pernyataan mereka boleh jadi penting dalam kasus ini.

”Sepertinya semua murid di sekolah itu pintar memasak, Thomas!” Maryam berseru. Mobil terus terbanting kiri-kanan, naik-turun. Kami baru saja melewati perkampungan terdekat, kembali melewati jalan tanah yang penuh lubang dan lumpur.

Aku tertawa, mengerti arah topik percakapan yang dicomot Maryam sambil melewati jalanan rusak. ”Tentu saja. Kau tidak menduga ternyata masakan sederhana di atas meja tadi lezat, bukan? Kami terpaksa belajar memasak, Maryam, karena tidak ada yang akan memasak kecuali kami sendiri. Resepnya selalu sederhana, kalau kau ingin selalu memakan masakan lezat di atas meja, maka saat giliran tugas tiba masaklah sebaik mungkin.”

Maryam menyeringai menatapku yang konsentrasi penuh dengan kemudi, ”Suatu saat akan menarik mencicipi masakanmu, Thomas. Apakah selezat itu?”

Aku mengangkat bahu, pura-pura sombong. ”Sayangnya aku tidak meletakkannya di curriculum vitae-ku, Maryam, membuat teman-teman wartawanmu yang menyebutku Mister Sok Cool itu tidak tahu fakta tersebut, bukan? Lebih asyik mengurus selentingan kabar kalau aku cucu pemilik imperium bisnis, memanfaatkan nama besar orangtua.”

Maryam tertawa kecil. ”Aku tahu sekarang, kau tipe cowok pendendam, Thomas. Aku bisa pastikan itu. Satu jam terakhir sudah dua kali kau mengungkit hal tersebut, menyindir balik. Hei, semua yang kukatakan tadi sore hanya bergurau.”

Aku ikut tertawa, tidak berkomentar lagi. Aku sedang memutar setir dengan cepat. Mobil Jeep dobel gardan yang kukemudikan akhirnya tiba di jalan beraspal mulus. Roda mobil meninggalkan jejak lumpur panjang. Aku menarik tuas penyemprot air, menyalakan pembersih kaca depan. Ada banyak percik lumpur di kaca. Mobil melaju semakin kencang, saatnya mencoba kecepatan penuh mobil ini, masuk ke jalan bebas hambatan. Kembali ke Jakarta.

***

Pukul 20.30 mobil memasuki parkiran gedung tempat perusahaan konsultanku berkantor. Jalanan Jakarta ramai. Orang-orang keluar rumah menghabiskan malam pertama long weekend di pusat perbelanjaan, hiburan... entahlah, tapi itu tidak menghentikanku tiba setengah jam lebih cepat.

Lobi gedung sepi, hanya menyisakan dua petugas sekuriti yang kukenal baik. Mereka menyapa, ”Selamat malam, Pak Thom. Lembur?”

Aku mengangguk.

Beberapa petugas maintenance gedung sedang bekerja, tiga dari empat lift sedang diperbaiki, sebagian petugas mengganti ratusan lampu kristal gantung di langit-langit lobi. Sebagian yang lain tampak sedang memeriksa dinding luar gedung, mengganti lampu sorot sekaligus permainan cahaya di dinding gedung, menggunakan gondola yang biasa digunakan petugas pembersih jendela. Libur panjang selalu menjadi kesempatan baik melakukan perawatan gedung tanpa mengganggu aktivitas perkantoran.

Maggie masih berada di ruangannya, terlihat sibuk. Berkasberkas menumpuk di meja, kursi, dan lantai, berserakan saat aku melangkah masuk.

”Kau butuh bantuan, Meg?”

Maggie mengangkat kepalanya, melihatku, juga melihat Maryam yang berjalan di belakangku. Demi melihat Maryam, Maggie segera meloncat, masih memegang stabilo, menyeretku ke sudut ruangan, berbisik, ”Tidak salah? Bukannya itu nenek lampir yang sejak seminggu lalu meminta jadwal interview denganmu? Dia bahkan mendatangi meja kerjaku, memaksa? Astaga! Sekarang kauajak dia ke kantor? Kau tidak sedang diteluh dia, Thom?”

Aku tertawa kecil, menatap Maggie sebal. ”Kau selalu menjuluki semua wanita yang sedang bersamaku dengan sebutan itu, Meg. Bagaimana kemajuan tugas yang kuberikan?”

”Jangan-jangan kau sudah bersama nenek lampir itu sejak dari Hong Kong?” Maggie masih berbisik, justru tertarik memperpanjang urusan lain. Maryam berdiri agak jauh di tengah ruangan, melihat tumpukan dokumen di mana-mana. Tidak memperhatikan apa yang sedang kami bicarakan.

”Bahkan dari Makau, Meg. Dia naik kapal pesiar bersamaku ke Hong Kong.” ”Ya ampun!” Maggie berseru—tidak sadar bahwa dia berseru, membuat Maryam menoleh. ”Kau sudah mengajak nenek lampir itu naik kapal pesiar? Nasib, sebentar lagi aku juga akan menjadi bawahan dia, disuruh-suruh mengerjakan tugas remeh-temeh.”

”Kau berlebihan, Meg.” Aku masih tertawa. ”Bagaimana pekerjaan yang kuberikan?”

Maggie masih bersungut-sungut, melirik Maryam dua-tiga kali, baru akhirnya menjawab pertanyaanku, ”Separuh jalan, Thom. Kami tidak menduga akan sebanyak itu data yang akan ditemukan. Sebentar, aku panggil Kris, dia bisa menjelaskan dengan lebih baik.” Maggie bergerak ke meja kerjanya, menghubungi ruangan lain, bicara sebentar.

”Sebagian besar data bisa diambil di jaringan internet.” Maryam kembali bicara padaku, meletakkan gagang telepon. ”Kris dan stafnya yang mengerjakan, tapi banyak data penting yang tidak tersedia di sana. Itu, dua tumpukan tinggi kertas, aku peroleh dari database lama milik kantor berita yang sudah tutup. Tumpukan yang lain aku peroleh dari internal kantor pusat partai tersebut, arsip lengkap tentang anggota partai mereka.”

”Kau mendapatkan data dari internal partai? Ini brilian, Meg.” Aku menatap Maggie penuh penghargaan, meraih dua bundel berkas paling atas dari tumpukan tersebut, dan membaca halaman depannya.

”Bukankah kau sendiri yang menyuruhku menggunakan semua akses? Ada teman lama yang bekerja di sana, dan dengan sedikit bujukan, aku berhasil memperoleh fotokopinya. Sebenarnya aku harus menyuap mahal, tapi tidak masalah, akan kutagihkan ke kantor. Bukan uangku ini.” Maggie mengangkat bahu. Aku tertawa, mengangguk.

”Ada yang bisa kubantu, Thom?” Sementara Maryam beranjak mendekatiku, dia bosan menunggu. Maggie menyikutku, memasang wajah mengolok.

Aku menggeleng. ”Belum ada. Sementara kau bisa melihat-lihat kantor kami, Maryam. Di bagian dalam adalah ruangan kerjaku. Dari balik jendela kacanya, kau bisa melihat seluruh kota Jakarta dari sana. Aku harus mendengarkan penjelasan Kris tentang program komputer, data, sejenis itulah, kau boleh jadi tidak tertarik.”

Kris, umur panjang, belum sedetik aku menyebut namanya, staf khusus bagian teknologi informasi (TI) yang baru bekerja setahun di perusahaan, masuk ke ruangan Maggie. Aku merekrutnya atas rekomendasi Theo—yang menghabiskan waktu bersama jaringan komputer lebih banyak dari siapa pun. Kris, senasib dengan Theo, drop out dari kuliahnya, lebih sial lagi Kris tidak memiliki ijazah formal, tapi kemampuannya mengolah data bisa diandalkan. Di masa lalunya, dia peretas jaringan amatir yang cukup merepotkan. Aku tahu dia pernah berurusan dengan satuan khusus kejahatan komputer (cyber crime) kepolisian Singapura, karena dituduh meretas salah satu pusat data perusahaan retailer, meskipun tidak pernah terbukti dia yang melakukannya.

”Selamat malam, Kris.” Aku mengulurkan tangan.

”Malam, Thomas.” Anak muda yang lima tahun lebih muda dariku itu menjabat tanganku.

Aku selalu terpesona melihat penampilannya, T­shirt dengan jaket seadanya, celana jins berlubang, dan bersandal jepit. Rambut panjangnya yang agak ikal terlihat berantakan. Wajahnya apalagi, kusam, terlihat seperti tidak tidur berhari-hari. Selintas tidak ada yang bisa menunjukkan kalau dia adalah komandan bagian TI yang khusus kudirikan sejak membuka unit konsultasi politik. Ada lima staf Kris. Tugas mereka menangani ramainya lalu lintas jejaring sosial saat pemilihan dua gubernur terakhir. Mereka membaca ribuan bahkan jutaan kicauan di jejaring sosial, mencari pola arah percakapan, topik apa saja yang menarik, topik apa saja yang buruk di mata pemilih. Mereka juga memberikan rekomendasi strategi kampanye di dunia internet. Jejaring sosial adalah masa depan politik. Kuasai dunia maya, maka menaklukkan dunia nyata lebih mudah.

”Kau belum mandi, Kris?”

Kris berusaha merapikan rambutnya, cengengesan. ”Kau juga sepertinya belum mandi, Thom. Meskipun, yeah, harus kuakui, kau tetap lebih tampan dibanding denganku dalam kondisi telah mandi satu jam lebih. Tapi, siapa yang peduli urusan mandi saat ini?”

Aku tertawa. ”Terima kasih, Kris. Kuanggap itu komplimen yang baik. Nah, ada kemajuan?” Aku meninggalkan basa-basi, segera bertanya.

”Kami sudah mengolah lebih dari satu juta informasi dari internet, Thom. Ini analisis data yang amat menarik.” Kris menjawab semangat. Cahaya muka Kris selalu berubah lebih baik saat menjelaskan. Dia selalu antusias jika sudah bicara pekerjaan. Menyuruh Kris lembur mudah saja, karena dia sebenarnya sukarela berada di ruangan kerjanya, menghabiskan waktu berjamjam bersama bunyi desing belasan server data dan layar komputer paling canggih. Semua mainan canggih dan mahal ada di sekelilingnya. Kris meraih selembar kertas di atas meja, meminta pulpen dari Maggie. ”Kau tahu, Thom, selalu ada pola di dunia ini. Apa pun itu, bahkan saat sesuatu itu tidak berpola, polanya adalah tidak beraturan. Tetapi sekacau apa pun polanya, kita tetap bisa menemukan hal menarik di dalamnya, menyimpulkan sesuatu.”

Aku mengangguk, sepakat.

”Nah, terkait tugas yang kauberikan lewat Maggie tadi pagi, kami memutuskan akan ada tiga sumber data besar yang harus dikumpulkan. Yang pertama kita sebut saja ’data formal’, kita peroleh dari berita, artikel, tulisan, apa saja yang dipublikasikan media massa. Data seperti ini bersifat umum, bisa dipercaya, tapi tidak bermanfaat banyak, karena sifatnya yang semua orang tahu.” Kris menggambar tiga bulatan-bulatan di atas kertas.

Aku memperhatikan.

”Jenis data kedua kita sebut saja dengan istilah ’data informal’. Kita kumpulkan dari semua kicauan yang ada di internet. Mulai dari blog, jejaring sosial, komentar di forum, atau komentar atas sebuah berita. Data ini bersifat spesifik, individual, cenderung opini, pendapat, dan jelas lebih rendah tingkat kebenarannya, tapi amat penting untuk mencari kunci polanya, trigger untuk ’data formal’. Nah, jenis data ketiga sekaligus terakhir, yang sedang dikerjakan Maggie, kita sebut saja dengan ’data khusus’. Bersifat internal dan rahasia, tidak bisa diakses banyak orang dan amat reliable, menjadi validasi paling penting atas pola yang terbentuk.”

Kris menarik garis di atas kertas, mengubungkan tiga bulatan sebelumnya, mencoret-coret lagi, lantas menatapku. ”Dari ketiga data ini, kami akan mencari hubungan atas tiga hal pokok. Nama, itu yang pertama, siapa saja yang pernah disebut, termasuk jika itu ada hubungan dengan anggota keluarga, kerabat, kolega kerja. Tempat, itu yang kedua, di mana saja kejadian tersebut, juga termasuk jika kasus tersebut melibatkan banyak tempat. Dan terakhir, yang tidak kalah pentingnya, waktu, kapan berbagai kejadian tersebut terjadi, kronologisnya, rentetan kasusnya, hubungan antarperistiwa yang boleh jadi ada polanya.

”Aku tahu apa sebenarnya yang sedang kaubutuhkan saat Maggie membacakan catatan di notesnya, Thomas. Terlebih dengan berita penangkapan mengejutkan klien politikmu tadi siang. Kau jelas sedang mencari tahu siapa sebenarnya lawan politik kita, bukan? Tidak sekadar membuka catatan lama mereka, membongkar apa saja yang telah mereka kerjakan dua puluh tahun terakhir, tapi juga berusaha menemukan jaringan mereka? Bukankah demikan, Thomas?”

Aku mengangguk. Itu deskripsi tugas paling tepat.

Kris tertawa riang. ”Maka, akan kuberikan kau bonus menarik, Thomas. Kami memutuskan tidak hanya menganalisis data anggota partai dengan tiga rangkaian sebab-akibat. Tapi kami juga menambah ruang lingkup program komputer untuk mencari pola lain. Menambahkan tiga query dalam sistem. Per­ tama, siapa saja penegak hukum yang memeriksa, mengadili, menuntut, atau sekadar berkomentar di setiap kasus-kasus hukum. Kedua, perusahaan, organisasi, lembaga, entitas apa saja yang pernah disebut, bersinggungan, bahkan kalaupun sekadar memperoleh bantuan dana bakti sosial. Ketiga, pejabat pemerintahan apa saja, entah itu ketua RT, lurah, camat, hingga jenderal, jaksa agung, hakim tinggi, pejabat apa saja yang terbetik namanya dan memiliki hubungan dengan berbagai kasus.

”Itu tiga kaki-kaki analisis yang amat lengkap, Thomas. Jika kita berhasil menemukan pola dari jutaan data ini, kita akan menemukan sebuah jaringan lengkap, sistem yang sedang bekerja, atau entahlah menyebutnya secara kronologis dari data dua puluh tahun silam. Kita bisa menghasilkan daftar nama orangorang yang diduga memiliki kaitan satu sama lain dalam setiap kasus hukum.”

Kris meletakkan pulpen, menatapku antusias. ”Kita akan menemukan ’hantu’ yang selama ini bergerak diam-diam di dalam sistem, bukan? Kau sedang berusaha mencari mereka, bukan? Menemukan, misalnya, lima belas tahun silam, di sebuah kota, ketika terjadi sebuah kecelakaan lalu lintas kecil yang melibatkan seseorang, nama-nama penegak hukum, pihak, atau apalah yang mengurusnya, yang bertahun-tahun kemudian, berkali-kali juga membantu seseorang tersebut dalam kasus hukum lainnya, dan juga kasus-kasus lainnya. Dulu mereka boleh jadi hanya mengurus hal sepele, tapi semakin lama, nama-nama itu terus terlihat dan muncul, dengan pola serupa mengurus kasuskasus hukum raksasa. Saling terkait, membentuk peta raksasa.”

Aku mengangguk. ”Genius, Kris. Kau memang ahlinya.”

Kris memperbaiki rambut panjangnya yang berantakan. ”Nah, kabar buruknya, Thomas, itu melibatkan jutaan informasi. Lima stafku telah menjalankan program otomatis menyaring informasi itu sejak tadi sore setelah berhasil dikumpulkan. Mulai menjahit, berusaha menemukan polanya. Aku perlu waktu meski dengan seluruh superkomputer yang kausediakan di ruanganku ini.”

”Kapan kau bisa menemukan pola awal? Setidaknya sebuah hipotesis awal?”

”Paling cepat dua minggu,” Kris menjawab tanpa dosa.

”Dua minggu, Kris?” aku berseru—hampir berteriak, ”waktuku hanya dua hari, Kris, bahkan kurang dari itu jika satu pasukan khusus antiteror tiba di Jakarta. Aku butuh segera polanya! Aku butuh nama-nama dalam jaringan mafia hukum itu.” ”Itu kecepatan maksimal, Thomas.” Kris menggeleng. ”Kita sedang hati-hati secara telaten menjahit jutaan data. Kau tahu, kau bahkan membutuhkan waktu berminggu-minggu untuk menenun kain yang baik, yang hanya melibatkan puluhan ribu

benang.”

”Terlambat, Kris. Sia-sia saja semua pekerjaan yang kaulakukan jika kau tidak bisa segera menemukan polanya. Konvensi dibuka besok pagi, dan lusa, Minggu siang, nama calon presiden partai tersebut diumumkan, dan itu jelas bukan klien politik kita, jika kita tidak melakukan apa pun.” Aku mengembuskan napas.

Ruangan kerja Maggie lengang sejenak. Maryam yang sudah kembali dari melihat-lihat ruangan, memperhatikan percakapan, duduk di salah satu kursi. Maggie berdiri di sebelahku, tidak tertarik memperhatikan Maryam, ikut menghela napas.

”Bisa lebih cepat, Thomas, bisa.” Kris seperti sedang berpikir, menyisir rambutnya dengan jemari, satu tangannya di kantong jaket.

”Nah, segera lakukan!” Aku menepuk lengan Kris. ”Tapi kita membutuhkan sesuatu.”

”Apa? Sebutkan saja, Kris. Tambahan komputer? Staf?” ”Bukan itu, Thom. Kita membutuhkan trigger data, sesuatu

yang membuat pencarian pola lebih mudah. Aku memerlukan kata kunci yang tepat dan efektif. Dengan kata kunci itu, program komputer lebih mudah memfilter data, mencari sekuen sebuah peristiwa.” ”Kata kunci seperti apa?” Aku membutuhkan penjelasan detail.

”Ya bisa apa saja. Nama orang, nama tempat, kejadian, kasus.” Kris mengangkat bahu. ”Kata kunci yang paling mungkin memiliki hubungan dengan banyak peristiwa. Jika itu nama orang, misalnya dia seorang pengusaha besar, memiliki banyak kasus hukum, aktif di banyak organisasi, sering muncul di media massa, agresif, ekspansif, seperti itulah.”

Aku menepuk meja kerja Maggie tempatku bersandar, membuat Maggie menolehku. ”Apa kau bilang Kris? Kau hanya butuh kata kunci seperti itu?”

Kris mengangguk.

”Itu mudah, Kawan.” Aku tidak tahu bagaimana ide itu muncul, tapi itu pilihan yang tepat. ”Kau butuh kata kunci? Kaumasukkan saja ke dalam program kata kunci ’Liem Soerja’. Ya, kaumasukkan saja nama pemilik Bank Semesta yang dipenjara selama empat tahun. Dia memiliki puluhan kasus sejak dua puluh tahun silam, dan kasus dana talangan Bank Semesta melibatkan hampir seluruh pihak. Hampir seluruh petinggi penegak hukum pernah datang ke ruang kerjanya, atau datang dalam jamuan makan malam. Kaugunakan kata kunci itu.”

Maggie di sebelahku menghela napas—aku bisa mendengarnya.

”Aku membutuhkan hasil segera, Kris. Malam ini, atau besok subuh, jam berapa pun kau berhasil menemukan sesuatu, kirimkan kabar ke Maggie. Kau paham?”

Kris mengangguk, mencatat kata kunci yang kuberikan.

”Tugas ini prioritas penting, jadi kalian tunda seluruh pekerjaan pengolahan data untuk pemilihan presiden tahun depan. Hentikan sementara analisis tren terhadap miliaran kicauan di dunia maya, laporan kecenderungan pemilih muda, dan sebagainya itu. Percuma kita menemukan formulanya, tapi kandidat kita tidak maju dalam pemilihan. Jika kau butuh sesuatu, hubungi Maggie segera, agar dia bisa mendiskusikannya denganku.” ”Kau bosnya, Thom.” Kris mengusap rambut acak-acakannya.

Dia balik kanan setelah satu dua kalimat lagi, kembali ke ruangan kerjanya yang berada di lantai berbeda.

Setahun lalu, saat dia bergabung denganku, Kris menulis banyak syarat, meminta ruangan kerja di lantai yang berbeda, kantor yang terbatas aksesnya, hanya aku dan timnya yang bisa masuk. Dia seperti sedang membangun markas. Aku tidak keberatan, memenuhi semua daftar yang dia berikan.

Ruang kerja Maggie lengang sejenak, menyisakan kami bertiga. Aku meraih kertas penuh coretan dari Kris, menatap kertas itu, tertawa kecil. ”Aku tidak tahu kalau Kris bisa menggambar. Ini disebut apa? Lukisan abstrak? Menarik sekali.”

Maggie tidak berkomentar.

”By the way, ada beberapa hal yang harus kaukerjakan selain memilah tumpukan berkas itu, Meg.” Aku meletakkan kertas coretan Kris, menoleh ke arah Maggie yang sudah membawa stabilo ingin melanjutkan pekerjaannya.

”Silakan, Thom.” Maggie tidak protes seperti biasanya.

”Tolong hubungi Faisal, salah satu pengamat politik yang kauundang tadi sore. Kirimkan undangan milikku untuk menghadiri sesi diskusi pendek politik di Hong Kong bulan depan. Belikan dia tiket dan akomodasi yang layak. Hubungi panitia acara itu, bilang aku digantikan salah satu pengamat politik yang dihormati di Jakarta, kirimkan endorser terbaik.” Maggie meraih notes, mengganti stabilo dengan pulpen, mulai mencatat.

”Juga kirimkan dua lembar tiket konser band cadas itu di Jakarta untuk Sambas, redaktur senior yang juga kauundang. Tiket VIP, bila perlu cari cara agar panitia konser memberikan kesempatan bertemu dengan anggota band itu langsung. Sambas pasti suka. Bilang itu hadiah kecil dariku. Ah iya, kirimkan juga album terbaru boyband Korea lengkap dengan seluruh tanda tangan dan foto poster raksasa untuk Najwa, wartawan media online. Anak gadisnya yang masih remaja pasti menyukainya. Itu bisa menjadi hadiah spesial.

”Juga kauurus hadiah kecil buat rekan-rekan wartawan dan pengamat politik lain yang hadir dalam pertemuan tadi. Cari sesuatu yang mereka sukai atau keluarga mereka sukai.”

Maggie mengangguk, tangannya lincah menulis huruf steno. Cepat atau lambat, bahkan boleh jadi telah dimulai malam ini, akan terjadi perang opini di media massa, dan aku harus segera memiliki pihak di sisiku. Aku tidak tahu seberapa dalam mafia hukum ini bekerja. Kalau dugaanku benar, boleh jadi banyak wartawan dan redaktur media massa yang rajin mereka kirimi ”amplop” atau bahkan menguasai level pemimpin redaksi. Aku tidak akan melawan mereka dengan mengirimkan ”amplop” lebih tebal—percuma, tapi aku bisa melakukannya dengan cara lebih elegan. Mengirimkan hadiah yang tidak bisa dibeli dengan uang. Rasa terima kasih yang tidak bisa ditukar dengan apa pun.

”Pukul berapa sekarang?” aku menoleh, bertanya.

”Persis pukul sembilan malam,” Maryam yang menjawab.

Aku mengangguk. Itu berarti sudah waktunya menyimak siaran langsung konferensi pers tentang penangkapan klien politikku. Aku meraih remote, menyalakan televisi yang berada di ruang kerja Maggie. Siaran langsung konferensi pers yang diadakan langsung dari markas besar kepolisian itu baru saja dimulai. Breaking news, hampir semua stasiun menyiarkan. Semua mata sedang menyaksikan kejadian ini.

Maryam bangkit dari duduknya, ikut berdiri, menonton. 
Bagikan Novel ini Sebegai bentuk dukungan untuk situs ini 😊