menu

Negeri di Ujung Tanduk Bab 15: Kakak Kelas Satu Sekolah

Mode Malam
Bab 15: Kakak Kelas Satu Sekolah
MOBIL Jeep dobel gardan berhenti di halaman bangunan tanpa pagar.

Guru Alim, demikian kami semua memanggilnya dulu, menyambut kami yang turun dari mobil. Dia tersenyum takzim, menatapku, lantas berkata dengan intonasi suara yang terdengar ramah menenteramkan, ”Kau sepertinya sedang butuh tempat bermalam, anakku.”

Aku tersenyum, meraih uluran tangannya, memegangnya eraterat, lantas memeluknya. Usia Guru Alim tidak jauh dengan Opa. Dulu usianya lima puluh tahun saat aku pertama kali tiba di sekolah ini. Itu juga kalimat yang sama saat melihatku, seorang anak kecil berusia sepuluh tahun, berpakaian lusuh, membawa buntalan kain kusam di punggung, dan ragu-ragu melangkah hendak memasuki bangunan asing di depannya.

”Apa kabar, Thomas?” Guru Alim tersenyum. ”Kabar buruk, Guru,” aku menjawab terus terang. ”Ah, dunia ini selalu dipenuhi kabar buruk, anakku. Agar semua orang selalu menyadari, ada banyak kabar baik yang akan segera datang setelahnya. Hei, kau tidak datang sendirian. Astaga? Aku sepertinya ingat beliau ini? Chan? Bukankah kau kakek Thomas, kalau tidak keliru?”

Opa tertawa, mengulurkan tangan.

”Kau sama sekali tidak berubah sejak pertama kali datang ke sini, Chan? Masih sama mudanya, sama sehatnya. Bukan main, padahal itu sudah dua puluh tahun lalu.” Guru Alim bergurau, tertawa, menepuk-nepuk bahu Opa.

”Kau juga tetap sama, Alim. Bukan hanya tetap muda dan sehat, juga masih dan selalu memberikan tempat yang hangat bagi orang-orang yang membutuhkan pertolongan.”

Mereka berdua berjabat tangan.

”Nah, dua yang lain aku tidak kenal. Bisakah kau memperkenalkan mereka, Thomas? Di dunia ini tidak ada yang lebih banyak membuka kunci pintu dibanding berkenalan dengan banyak orang, silaturahim.” Guru Alim menoleh ke Maryam dan Kadek.

Aku mengenalkan Maryam dan Kadek.

Murid di sekolah itu tidak pernah banyak—karena mereka tidak membuka pendaftaran, dan tidak banyak yang tahu. Waktu aku dulu sekolah di sana, hanya seratusan murid. Itu pun sudah semuanya, dari anak-anak kelas satu SD hingga SMA. Guru di sekolah itu juga hanya sebelas orang, dengan Guru Alim sebagai ketuanya. Murid sering kali belajar dengan kelas bercampur. Aku pertama kali masuk ruangan harus segera menyesuaikan diri, karena di kelas itu bukan hanya anak sekelasku, tapi juga adik kelas dan kakak kelas yang sama-sama mengambil pelajaran IPA. Guru mengajar simultan, ada dua-tiga papan tulis yang diletakkan di setiap dinding, dan murid bebas menghadap papan tulis yang dia mau.

Kami tidur di kamar-kamar besar, dengan ranjang bertingkat. Satu kamar bisa menampung dua belas anak, dengan enam ranjang berdempet. Kami selalu makan bersama di meja panjang dapur. Ada lima meja panjang, yang setiap meja memiliki dua puluh kursi. Guru-guru makan bersama kami, dengan menu sama yang dimasak bergantian oleh murid. Guru Alim tinggal di bangunan itu bersama beberapa guru, sedangkan sisanya memiliki rumah di perkampungan terdekat. Ke perkampungan itu pula setiap minggu beberapa murid bertugas mengambil keperluan sekolah. Berjalan kaki, menunggu kereta berhenti di stasiun, lantas kembali dengan mendorong gerobak berisi barang-barang. Itu favoritku. Aku selalu semangat jika giliranku tiba.

Ada banyak lorong dan tangga di bangunan tua itu. Itu juga selalu menjadi favoritku, memeriksa setiap lorong, setiap kamar. Atau sekadar berjalan mengelilingi bangunan besar tersebut, menghabiskan waktu.

”Ada dua kamar untuk tamu yang bisa kalian pakai. Maryam bisa menggunakan salah satunya.” Guru Alim mengajak kami masuk, menaiki anak tangga menuju lantai dua.

”Tidak perlu dua kamar,” aku yang melangkah di belakang Guru Alim memotong, ”hanya Opa ditemani Kadek yang akan bermalam di sini. Aku dan Maryam akan kembali ke Jakarta. Ada banyak yang harus kami kerjakan.”

Guru Alim berhenti, menoleh. Dahinya sedikit terlipat.

”Aku tidak bisa menjelaskan banyak hal sekarang, Guru. Tapi kami butuh pertolongan. Opa memerlukan tempat untuk tinggal setidaknya dua hari ke depan.”

Guru Alim menggeleng. ”Bukan soal penjelasannya, Nak. Ah, kau selalu diajari di sekolah ini, Thomas, penjelasan akan tiba pada waktu yang pas, tempat yang cocok, dan dari orang yang tepat. Maksudku, apakah kau tidak tertarik menghabiskan waktu sebentar di bangunan tua ini? Setengah jam lagi jadwal makan malam, apakah kau tidak ingin mengenang masa lalu itu, duduk di bangku panjang, semangat menghabiskan masakan murid?”

Aku menatap Guru Alim yang tersenyum.

Itu senyum yang sama, saat dua puluh tahun lalu aku diantar ke lantai tiga, ditunjukkan kamar untuk meletakkan buntalan kainku. Aku mengambil sepucuk surat yang ditulis tetangga dari lipatan baju, menyerahkan padanya. Guru Alim menggeleng. ”Kita bisa baca nanti-nanti suratnya, Nak. Penjelasan adalah penjelasan, terkadang tidak perlu diburu-buru, agar kita bisa lebih baik memahaminya. Nah, sekarang kau sebaiknya mandi, berganti pakaian. Aku akan memperkenalkan kau sebagai murid baru sekolah ini persis di momen terbaik. Makan malam. Aku tunggu di ruangan besar lantai satu. Seluruh murid sudah berkumpul di sana.”

”Apakah kau akan makan malam bersama kami, Thomas? Ayolah, paling hanya setengah jam,” Guru Alim bertanya lagi, menunggu jawabanku.

Aku berpikir sejenak, akhirnya mengangguk. Tidak ada salahnya menghabiskan waktu sebentar di bangunan tua ini. Aku tidak sarapan tadi pagi, juga hanya menghabiskan sepotong roti di atas pesawat. Itu ide yang baik, makan malam bersama murid-murid sekolah.

Guru Alim tertawa senang, ikut mengangguk, kembali beranjak menaiki anak tangga, menuju lorong lantai dua, terus melangkah di depan kami hingga tiba di sayap paling kanan, menunjukkan kamar untuk tamu. Itu hanya kamar berukuran tiga kali empat, dengan dua tempat tidur berkasur tipis, sebuah lemari, meja, dan dua kursi.

”Kamarnya sederhana sekali, Chan.” Guru Alim menoleh, menatap Opa. ”Kamar mandinya juga bergabung bersama muridmurid. Semoga kau tidak keberatan.”

Opa tanpa perlu melihat seluruh sudut kamar sudah menjawab mantap, ”Ini lebih dari cukup. Terima kasih banyak.”

”Nah, aku harus meninggalkan kalian, masih ada satu-dua urusan di bawah. Jangan lupa, setengah jam lagi segera bergabung bersama murid-murid di ruangan besar. Sementara waktunya belum tiba, kau bisa mengajak yang lain berkeliling bangunan tua ini, Thomas. Seingatku, kau dulu murid yang paling banyak menghabiskan waktu di ruangan hukuman karena berkeliaran di sekolah pada malam hari. Jadi, rasa-rasanya kau masih ingat lorong-lorongnya, tidak akan tersesat.” Guru Alim tertawa, menepuk lenganku.

Aku ikut tertawa, mengangguk.

***

Aku tidak pernah menyesal menghabiskan waktu tujuh tahun di ”Kaki Langit”.

Satu bulan pertama, kejadian di Surabaya masih membekas lekat di kepalaku. Puing-puing yang masih merah membara, kepulan asap, dan debu hitam tidak bisa kuenyahkan dengan mudah. Termasuk mimpi-mimpi buruk, terjaga pada malam hari dengan tubuh berkeringat, mengigau, berteriak-teriak—mengganggu tidur lelap teman sekamarku. Tetapi bulan-bulan berikutnya, kesibukan di sekolah menjadi obat yang mujarab.

Kami diajarkan mandiri di sekolah itu, mencuci pakaian sendiri, membersihkan kamar, menyikat kakus, menyapu kelas, membersihkan seluruh gedung, termasuk bergantian memasak di dapur, dan bekerja sungguhan. Ada murid yang menjadi buruh tani di perkampungan terdekat, menjadi nelayan, kuli bangunan, berjualan kerajinan, apa saja. Sekolah itu gratis, dan kami bekerja sukarela untuk memenuhi keperluan sehari-hari. Seminggu sekali kami mengirim surat ke toko grosir kota kecamatan. Dua hari kemudian mereka membalas surat itu dengan mengirimkan barang-barang kebutuhan pokok lewat kereta. Kami membawa gerobak ke stasiun. Kami mengurus diri sendiri, termasuk keperluan sehari-hari. Guru-guru hanya mengawasi. Aku tidak keberatan harus berdisiplin dan bekerja keras di sana. Aku membutuhkan semua kesibukan. Aku menyukai sekolah itu.

”Ini indah sekali, Thomas.” Maryam yang berdiri di sebelahku berkata pelan.

Aku mengangguk.

Kami sedang berada di beranda lantai dua bangunan, menghadap persis ke lautan lepas. Lampu-lampu bangunan sudah dinyalakan. Matahari sudah hilang di kaki langit, menyisakan semburat merah yang sebentar lagi hilang ditelan malam. Bintang mulai muncul satu-dua di langit bersih, menemani bulan sabit. Kerlip lampu dari kapal nelayan terlihat dari kejauhan, berangkat melaut, sepertinya mencari rajungan.

Aku sedang menunjukkan kepada Maryam, cahaya terang yang terlihat menyorot ke lautan gelap, berasal dari menara yang menjorok di teluk, sekitar satu kilometer dari sekolah. Itu mercusuar, dibangun pada zaman Belanda. Bangunan tua ini satu kesatuan dengan mercusuar itu. Pantai ini dulunya adalah markas angkatan laut Belanda. Mereka membangun barak dan mercusuar untuk menuntun kapal melepas sauh, kemudian menurunkan kapal kecil mendarat. Pasukan Belanda telah kembali ke negaranya lebih dari setengah abad lalu. Bangunan tua ini terbengkalai hingga kemudian berubah menjadi sekolah.

”Kau sungguh menghabiskan waktu tujuh tahun di sini, Thomas?” Maryam bertanya. Kami sudah meninggalkan beranda. Pertunjukan fantastis sunset sudah selesai. Opa sedang mandi, Kadek menunggu di kamar, membereskan pakaian Opa yang disiapkan Maggie bersama mobil Jeep dobel gardan itu. Aku menyuruh Maggie memasukkan apa pun yang dibutuhkan Opa untuk keperluan dua hari. Semoga saja pakaian yang disiapkan Maggie pas.

”Iya, tujuh tahun terbaik dalam hidupku,” aku menjawab datar.

”Kau tahu, hampir semua wartawan di kantor menganggapmu konsultan politik paling menyebalkan, Thomas.” Maryam tertawa kecil. ”Baru terjun ke dunia politik enam bulan, baru memenangi dua pemilihan gubernur dengan faktor keberuntungan pula, sudah bergaya setiap diminta memberikan pernyataan, apalagi wawancara.”

”Oh ya?” Aku menoleh ke Maryam. ”Seburuk itukah kalian menilainya?” Maryam menyeringai, mengangguk. ”Ada teman wartawan yang bahkan menjulukimu Mister Sok Cool. Andai saja dia tahu kau pernah sekolah di bangunan tua ini. Thomas, lulusan dua sekolah ternama luar negeri itu, pemilik perusahaan konsultan besar, ternyata pernah sekolah di sini. Dia pasti berubah pikiran. Thomas ternyata tidak sekadar ’keren’ karena dia cucu seorang pemilik imperium bisnis atau mewarisi nama besar keluarganya.” Aku menggeleng. ”Bukan itu maksudku. Seburuk itukah kalian menilai kemenangan klien politik kami? Hanya faktor ke-

beruntungan?”

Maryam mengangkat bahu. ”Tapi itu hanya gurauan antarwartawan, Thomas. Maksudku, soal keberuntungan itu juga joke.”

”Iya, aku tahu itu konsumsi percakapan antarwartawan,” aku mengangguk, ”tetapi itu jelas bukan karena keberuntungan, Maryam. Itu hasil kerja keras riset yang hebat. Sebuah riset yang dilakukan hati-hati, sejak awal. Kami tidak akan bekerja sama dengan klien tertentu jika tidak memiliki kemungkinan menang. Kau mungkin tidak akan percaya, tapi kami sama sekali tidak dibayar klien politik kami.”

Maryam menatapku, tidak percaya. ”Tidak dibayar?”

”Kau ingin melihat sesuatu? Kau pasti suka mengetahuinya.” Aku tersenyum, dan sebelum Maryam menjawab iya atau tidak, aku sudah berbelok, melangkah ke lorong lain lagi, menuju sayap paling kiri bangunan tua itu. Lantai dan langit-langit lorong terlihat bersih, terawat, lampu di dinding menyala terang. Kami melewati kamar-kamar murid kelas atas (SMA), yang kosong, karena mereka sudah berkumpul di ruangan besar, menunggu jadwal makan malam. Satu-dua pintu kamar terbuka. Maryam mengintip sekilas. Namun, bukan itu tujuan kami. Tujuanku adalah ruangan paling ujung. Itu tempat anak-anak kelas atas menghabiskan waktu senggang bersama, entah dengan mengobrol ringan, mengerjakan tugas, membaca, bermain, atau menjaili teman yang lain. Itu ruangan santai.

Ada tiga tempat duduk besar di ruangan itu. Lemari buku berjajar. Beberapa buku terlihat berserakan di meja dan lantai yang dilapisi karpet. Aku melangkah ke salah satu dinding ruangan. Maryam terus mengikutiku. Dia berdiri sejenak, mendongak, dan menatap bingkai foto-foto di dinding. Ada sekitar dua puluh lima foto besar yang dipajang. Itu foto penuh kenangan, foto kami penghuni sekolah berasrama. Satu foto untuk satu angkatan.

”Kau lihat yang ini.” Aku mencari-cari, lantas menunjuk sebuah pigura. Satu angkatan hanya ada lima belas hingga dua puluh anak, sebanyak itulah isi foto.

Maryam mendekat, memeriksa, mengangguk. ”Ini kau, Thomas?”

Aku mengangguk.

”Ya ampun, kau dulu sekurus ini? Dengan wajah tirus, tinggi, kau berbeda sekali dengan tampilan sekarang.”

Aku tertawa. ”Tidak ada keren-kerennya sama sekali, bukan?

Apalagi sok keren?” Maryam ikut tertawa.

Mataku mencari foto yang lain, agak lama menemukannya.

Terhenti.

”Nah, kau lihat yang ini, Maryam.”

Maryam beranjak ke dekatku. Mengikuti arah telunjukku.

Terhenti. ”Mari kuperkenalkan. Dialah klien politik paling penting kami. Dialah kandidat terkuat konvensi partai yang diadakan besok. Calon presiden terbaik yang pernah dimiliki negeri ini. Seseorang yang sederhana, bersih, dan bersumpah sejak dia masih sekolah di tempat ini akan menegakkan hukum di seluruh negeri.”

Mata Maryam membulat. Wajahnya sungguh terkejut.

”Kau terkejut, bukan? Aku juga terkejut. Aku tidak tahu soal ini saat pertama kali berkenalan dengannya di perjalanan Jakarta-London. Aku baru tahu saat dia bercerita. Dia kakak kelasku, terpisah enam belas tahun, terlalu jauh untuk bisa saling kenal. Yatim-piatu, sama dengan seluruh murid di sekolah ini. Bapaknya satpam salah satu pabrik tebu, meninggal karena terlalu jujur, dibunuh orang suruhan atasannya yang suka mencuri gula di pabrik. Ibunya menyusul dua bulan kemudian, meninggal karena sakit, dan dia sebatang kara, dikirim ke sekolah ini.

”Kami melakukan riset yang mendalam, Maryam. Kami hanya mendukung kandidat yang tidak bisa dikalahkan, membungkusnya, mengemasnya dalam komoditas politik terbaik. Itu bukan keberuntungan. Itu hasil kerja keras. Khusus untuk yang satu ini, itu jelas kebetulan menyenangkan kalau kami berasal dari satu sekolah. Membuatku lebih meyakini untuk menjual ’omongkosong’ tersebut. Aku mengenalnya lebih dari siapa pun. Fakta dia pernah bersekolah di sini lebih dari cukup sebagai jaminan kualitasnya.”

Maryam masih terdiam. Dia sedang mengunyah fakta menakjubkan di hadapannya. Dia seolah tidak membaca dengan baik riwayat hidup gubernur ibu kota paling sukses ini, yang hanya mencantumkan nama sekolah tidak dikenal seperti orang kebanyakan, hanya sebuah sekolah di pelosok, tidak penting. Sebuah karakter dan prinsip yang cemerlang tidak akan pernah datang dari sekolah dengan gedung megah, tapi dipenuhi guruguru yang rakus dengan uang, hingga urusan jalan-jalan atau seragam saja bisa jadi lahan bisnis. Karakter dan prinsip yang cemerlang selalu datang dari tempat yang cemerlang—sesederhana apa pun tempatnya, datang dari proses pendidikan yang baik, dari guru-guru yang tulus dan berdedikasi tinggi.

”Kaki Langit” adalah tempat terbaiknya. 
Bagikan Novel ini Sebegai bentuk dukungan untuk situs ini 😊