menu

Negeri di Ujung Tanduk Bab 14: Bangunan Tua

Mode Malam
Bab 14: Bangunan Tua
SATU seperempat jam berlalu, pukul 17.15.

Mobil inventaris kantor—itu istilah Maggie—yang kukemudikan keluar dari gerbang jalan tol luar kota. Ini libur panjang. Perjalanan bisa dilakukan dengan cepat tanpa terhalang macet. Matahari mulai tumbang di kaki langit, menyisakan merah di atas kepala. Kadek yang duduk di sebelahku menatap jalanan. Aku membanting setir lagi, keluar dari jalan aspal mulus, masuk ke jalanan yang hanya dilapisi aspal tipis, berkerikil. Hamparan sawah terlihat, perkampungan penduduk, kebun pisang, sayuran terhampar di kiri-kanan. Aku tahu, sejak meninggalkan Jakarta satu jam lalu, Kadek hendak bertanya ke mana tujuanku membawa Opa, tapi dia memutuskan diam. Terus siaga menemaniku mengemudi, seolah di belakang kami ada serombongan mobil interpol sedang mengejar.

Aku tidak punya banyak pilihan tempat bersembunyi Opa. Tidak mungkin membawa Opa ke rumah, apartemen, atau properti lain milik Opa atau milikku di Jakarta. Tempat itu tidak aman, mereka dengan cepat akan tahu. Juga tidak mungkin membawa Opa ke rumah peristirahatan di Waduk Jatiluhur. Itu benteng yang kokoh. Aku bisa kabur lewat waduk jika terdesak, juga lewat jalan rahasia, tapi itu tetap bukan pilihan bijak. Terlalu masuk akal, terlalu cepat ditemukan. Andai saja kapal pesiarku tertambat di pelabuhan Sunda Kelapa, alih-alih tertahan di dermaga Hong Kong, itu bisa jadi solusi yang baik. Kadek bisa membawa Opa terus bergerak di lautan, membuat siapa pun yang hendak mengejar kesulitan mengetahui posisinya.

Aku memutuskan membawa Opa ke tempat yang tidak pernah dipikirkan orang, sebuah bangunan tua penuh sejarah milikku. Tempat aku menghabiskan waktu tujuh tahun masa anakanak dan remaja, sebelum akhirnya berangkat melihat dunia.

Maryam tertidur sejak separuh perjalanan. Gadis wartawan itu kelelahan, meskipun dia seperti Kadek berusaha terjaga. Laju konstan mobil, gerung halus mesin, pendingin udara, bisa membuat orang jatuh tertidur. Juga Opa, dia memutuskan beristirahat, entah bisa tidur atau tidak. Satu jam lalu, aku mengambil tol luar kota menuju arah barat. Jalan tol lengang. Mobil yang kukemudikan bisa melaju kencang. Ini mobil dobel gardan dengan tenaga besar. Jalanan aspal yang mulus bukan tantangan berarti baginya. Aku bisa menyalip empat mobil sekaligus hanya dalam hitungan detik.

Aku membanting lagi setir, meninggalkan jalanan berlapis aspal tipis, sekarang masuk ke jalanan yang lebih buruk. Tidak ada lagi lapisan aspal, atau kerikil dan pasir, hanya tanah. Sisa hujan—entah kapan, menilik dari licak lumpur, sepertinya baru beberapa jam lalu turun—membuat jalanan menjadi medan berat. Inilah tantangan berarti bagi mobil Jeep besar yang kukemudikan. Maggie dengan baik sekali telah memilih mobil ini di antara mobil operasional kantor lainnya.

Mobil terbanting kiri-kanan. Kakiku bergerak cepat bergantian menekan pedal gas, rem, dan kopling. Mataku konsentrasi ke depan. Mobil meliuk kiri-kanan menghindari kubangan lumpur. Matahari senja semakin matang. Cahaya lembutnya membasuh hamparan sawah yang semakin luas, menerobos jendela kaca mobil, membuat pemandangan sekitar terlihat mengesankan.

Lima belas menit kemudian, mobil melintasi sebuah perkampungan. Jalanan sedikit membaik, setidaknya tidak banyak lubangnya. Perkampungan itu kecil saja, hanya berbilang tiga puluh-empat puluh rumah semipermanen dengan atap genteng. Perkampungan terakhir sebelum tiba di tujuan kami.

”Kalau orang tua ini tidak keliru, bukankah itu stasiun kereta tempatmu turun dulu, Tommi?” Opa berkata pelan.

Aku menoleh sekilas ke belakang, Opa sudah terbangun. Sebuah bangunan stasiun sederhana terlihat di sisi kanan mo-

bil yang sedang melintasi jalan kereta. Anak-anak berlarian di relnya, melambaikan tangan, bersorak riang. Aku menatap bangunan stasiun itu, memperlambat mobil. Opa benar. Itu stasiun kereta terakhir tempat aku turun dulu. Dengan buntalan kain kumal, berisi pakaian seadanya, sisa potongan roti yang tidak habis kumakan selama perjalanan, aku diturunkan kondektur kereta yang juga tetangga kami di Surabaya dan sengaja mengantarku. Kondektur menepuk bahuku, memelukku erat-erat, berbisik serak, ”Kau akan tumbuh besar, Thomas. Kau akan tumbuh menjadi anak laki-laki yang membanggakan orangtuamu.” Dia berusaha menahan tangis.

Aku tidak. Air mataku sudah kering selama perjalanan.

Aku selalu ingat kejadian itu. Hidupku berubah drastis, bagai arah kapal yang berbelok kemudi seratus delapan puluh derajat. Baru 48 jam lalu aku riang mengantar botol susu ke tetangga, membagikan susu sesuai perintah Mama untuk tetangga yang membutuhkan. Aku semangat mengayuh sepeda kembali ke rumah, ingin menagih upah, tapi yang kulihat dari kejauhan justru kepul asap membubung tinggi di udara. Nyala api terlihat garang membakar rumah kami. Aku berteriak. Aku menjerit panik, berusaha mengayuh sepeda lebih cepat.

Dua-tiga orang dewasa, bapak-bapak tetangga rumah lebih dulu menyambar sepedaku, menahanku. ”Jangan ke sana, Thomas. Jangan!” Dua-tiga ibu-ibu yang lain menarikku masuk ke salah satu rumah. Usiaku sepuluh tahun, aku belum mengerti secara lengkap apa yang sebenarnya terjadi. Ketika persekongkolan jahat, diotaki dua orang penegak hukum yang seharusnya melindungi keluarga kami, dengan tega membiarkan puluhan orang yang tidak dikenal mengamuk menuntut uang arisan berantai ”Liem & Edward” dikembalikan. Tuntutan itu tidak dipenuhi. Mereka marah, membakar rumah dan gudang keluarga besarku.

Opa, Tante Liem, dan beberapa pembantu rumah berhasil selamat, melarikan diri. Mereka dibantu para tetangga yang selalu menyayangi keluarga kami—karena Mama amat peduli dengan sekitar. Om Liem yang berada di pelabuhan ikut selamat. Dia menyaksikan kapal terakhir milik keluarga pulang dengan kargo kosong karena terbakar selama perjalanan dari Singapura. Esok lusa dia dituntut atas kasus arisan berantai itu dan dihukum empat tahun kurungan. Dia mencicipi penjara untuk pertama kalinya.

Aku berteriak-teriak. Aku ingin melihat rumah.

Aku ingin mencari Mama-Papa. Para tetangga mati-matian mencegahku, memegang tanganku, dan mencengkeram kakiku. Mereka menjelaskan, itu tidak bisa dilakukan sekarang, puluhan orang tidak dikenal dengan membawa senjata tajam masih bersorak di jalanan, menyaksikan gemeletuk api membakar semuanya. Runtuh tiangnya, ambruk atapnya. Mereka malah bertepuk tangan puas, tidak peduli ada orang di dalam rumah.

Saat malam tiba di puncaknya, ditemani empat-lima pemuda dengan membawa pentungan dan senjata seadanya, untuk berjaga-jaga dari segala kemungkinan, aku akhirnya diantar ke rumah. Tidak ada lagi yang tersisa, hanya puing hitam yang masih merah mengepulkan asap. Lututku lemas. Aku jatuh terduduk, menangis tersedu, meraup abu di sekitar. Tidak ada lagi yang tersisa. Papa-mamaku terbakar, entah di mana jasadnya.

”Cukup, Thomas. Cukup, Nak.” Salah satu tetanggaku meraih bahu, menyuruhku berdiri. ”Habis darah di badan, kering air mata, kita tidak bisa mengembalikan apa yang telah terjadi. Cukup, Nak.”

Aku jadi yatim-piatu sejak itu. Opa, Tante Liem entah mengungsi ke mana. Mereka menduga aku ikut menjadi korban. Opa telah kehilangan seluruh kekayaannya. Tetangga berembuk. Aku tidak bisa tinggal di kota itu, boleh jadi mereka masih mencari keluarga Opa yang tersisa. Salah satu tetangga mengusulkan agar aku dikirim ke sebuah tempat yang biasa menampung yatim-piatu. Keputusan diambil malam itu juga. Dari uang sumbangan tetangga yang tidak banyak, sebuntal kain kusam berisi pakaian, roti, dan air minum, aku dibawa kondektur kereta itu ke stasiun Surabaya. Kami menumpang kereta paling pagi, berangkat ke ujung pulau di sebelah barat. Perjalanan dua belas jam lebih.

Aku masih ingat sekali semua kejadian itu. Aku menghela napas pelan. Mobil Jeep dobel gardan yang kukemudikan melintas perlahan di jalanan perkampungan. Membawa semua kenangan itu kembali, memenuhi setiap jengkal kepalaku.

Beberapa anak-anak berlarian mengejar mobil, tertawa. Tidak setiap hari mereka bisa melihat mobil langsung, apalagi mobil besar seperti yang kami naiki. Opa membuka jendela mobil, ramah melambaikan tangan kepada mereka. Penduduk lain, orangorang dewasa, duduk di beranda rumah, atau berkumpul di balai bambu, mengobrol menunggu matahari terbenam, memperhatikan mobil yang lewat.

”Sudah lama sekali aku tidak ke sini, Tommi,” Opa tertawa pelan, menyaksikan satu anak yang saking semangatnya mengejar mobil terjerembap di parit, membuat badannya kotor, ”sejak membujukmu agar ikut Opa. Berapa kali? Tiga kali? Dan kau tetap tidak mau pergi. Memilih tinggal di sini.”

Aku mengangguk.

Tante Liem-lah yang pertama kali datang menemuiku. Setelah hampir dua tahun aku tinggal di sini. Tante Liem memperoleh kabar dari tetangga lama, meminta alamat. Tante Liem menangis saat melihatku, memelukku erat-erat. ”Ya Tuhan, kami tidak pernah tahu kau selamat, Tommi. Sungguh terima kasih ternyata kau selamat.” Dia menciumi keningku, rambutku. Aku selalu suka dengan Tante Liem. Dia mirip sekali dengan Mama. Selalu sabar, selalu peduli, dan pintar masak. Tetapi aku menggeleng tegas saat Tante mengajakku pulang, menawarkan tinggal bersama di rumah baru keluarga kami.

Juga saat Opa ikut mengunjungiku, membujukku, hingga berkali-kali datang, aku tetap menggeleng. Inilah keluarga baruku sekarang. Di sinilah aku akan menghabiskan waktu hingga masa itu tiba. Opa menatapku lamat-lamat, akhirnya mengalah di kunjungan ketiga. ”Maka biarlah demikian, Nak. Kau benar, tempat ini akan membasuh seluruh kenangan buruk itu. Kau akan memperoleh segala pengetahuan yang kaubutuhkan. Hanya saja, besar harapan Opa, besok lusa, kalau kau sedang libur, kau bisa menyisihkan waktu mengunjungi kami, bukan? Menghabiskan waktu bersama Opa dan tantemu.”

Aku mengangguk. Aku bisa melakukan yang satu itu.

Mobil Jeep dobel gardan yang kukemudikan telah meninggalkan perkampungan itu. Kali ini benar-benar memasuki jalan yang susah payah dilewati—karena itu memang bukan jalan mobil, melainkan jalan setapak. Dari perkampungan terakhir tersebut, tujuan kami sudah tidak jauh lagi, hanya tujuh kilometer. Dulu, aku berjalan kaki melewati jalan ini, juga waktu dulu pertama kali aku ke sini. Dengan tatapan datar, setelah bertanya ke beberapa penduduk, aku memasang buntalan kain di pundak, melangkah meninggalkan stasiun, berjalan menyusuri jalan setapak.

Tidak ada lagi hamparan sawah selepas perkampungan, berganti dengan semak belukar, rawa gambut di kiri-kanan. Juga satu-dua pohon bakau. Mobil terus melaju di atas jalan setapak yang semakin sulit. Maryam berpegangan erat, juga Opa di sebelahnya, berpegangan dengan dua tangan. Kadek menolehku berkali-kali, memastikan apakah jalanan ini aman dilalui. Aku mengabaikan wajah cemas Kadek. Aku sedang konsentrasi penuh. Mobil terbanting kiri-kanan, depan-belakang, menderum keras, berusaha melewati lumpur, melindas semak, dan terus maju.

Tiga puluh menit berlalu. Pukul 17.45 mobil yang kukemudikan akhirnya tiba di tempat tujuan, keluar dari jalan setapak itu. Waktu yang sama persis saat aku dulu tiba.

Di momen seperti inilah aku tiba pertama kali di tempat ini. Matahari bersiap ditelan kaki langit. Suara debur ombak terdengar gagah. Hamparan pantai luas terbentang di depanku. Pemandangan sunset yang hebat telah menunggu. Lihatlah, bola bundar matahari sudah separuh terbenam. Jingga membungkus lautan. Kilat warnanya memantul di air, kerlap-kerlip menimpa wajahku. Saat itu usiaku sepuluh tahun. Itu momen paling hebat yang kurasakan setelah kejadian 48 jam terakhir. Aku tidak pernah membayangkan kalau tempat yang kutuju adalah sebuah pantai, tersembunyi di balik rawa gambut luas dan semak-belukar. Aku telah tiba.

Satu plang dari kayu terlihat di ujung jalan setapak—”Kaki Langit”.

Sebuah bangunan tua kokoh besar berdiri di tepi pantai menyambutku. Bangunan itu menghadap persis ke arah lautan yang bergelora, ombak yang menjilat-jilat pantai. Dindingnya bebatuan kasar. Atapnya genteng merah. Tingginya tiga lantai. Lebarnya tidak kurang dari dua puluh meter. Itu sebuah bangunan yang gagah dan mengesankan—ditambah latar lautan. Itulah sekolah berasrama tempat aku menghabiskan masa anakanak dan remaja, sebelum melanjutkan sekolah di universitas luar negeri.

Inilah sekaligus tempat terbaik bagi Opa bersembunyi. 
Bagikan Novel ini Sebegai bentuk dukungan untuk situs ini 😊