menu

Negeri di Ujung Tanduk Bab 13: Mafia Hukum

Mode Malam
Bab 13: Mafia Hukum
AKU selalu terkesan dengan pekerjaan Maggie. Impresif.

Termasuk yang satu ini. Setengah jam sebelum pesawat mendarat, Maggie meneleponku, memberitahukan dia sudah mengundang sebanyak mungkin wartawan dan redaktur media massa, juga pengamat politik. Maggie tidak mengundang mereka berkumpul di restoran atau kafe bilangan pusat kota Jakarta. Meeting point yang dipilih Maggie adalah ruang tunggu bandara tempat pesawat mendarat.

Pesawat jet pribadi milik Lee tidak mendarat di SoekarnoHatta, melainkan di bandara satunya yang sering digunakan pejabat atau tamu negara bepergian. Dengan surat perjalanan sementara pengganti paspor (aku baru menyadari kalau Lee memberikan kewarganegaraan Malaysia) kami lancar melewati petugas imigrasi. Petugasnya menyapa dengan, ”Selamat datang, Pak Cik Thomas.” Membuatku melihat dokumen imigrasiku lebih detail, hendak tertawa. Setidaknya itu masuk akal, daripada kami berempat didaulat ”menjadi” warga negara Afrika Barat.

Beberapa wartawan menyambutku di lobi kedatangan. Salah seorang yang kukenali mengulurkan tangan, Najwa. ”Semoga ini memang penting, Thom. Aku bahkan membatalkan menghadiri konferensi pers salah seorang menteri.”

Aku mengangguk. Ini lebih penting daripada itu.

”Sejak kapan kau punya pesawat jet pribadi, Thomas?” Suara berat khas itu menegurku, Sambas, redaktur senior koran nasional. Dia tertawa, mengajakku bersalaman.

Aku ikut tertawa. ”Itu bukan milikku, Kawan.”

”Bukan main, Thomas. Baru tadi pagi aku membaca berita tentang konferensi politik itu di portal surak kabar online dunia Herald Tribune. Mereka memuji partisipasi beberapa pembicara dalam mengembangkan isu pendidikan demokrasi, salah satunya memujimu. Sekarang kau sudah di Jakarta.” Itu suara Faisal, salah seorang pengamat politik yang rajin memberikan pendapat di acara televisi, sekaligus penulis kolom tetap berbagai media.

”Tahun berikutnya aku menyarankan panitia agar mengundangmu, Faisal. Mereka akan mendengarkan pembicara dengan pengetahuan dan pengalaman politik lebih luas, yang lebih baik dan lebih pantas dipuji dibanding aku.” Aku menjabat tangannya erat-erat, berterima kasih atas kehadirannya.

”Kau jangan bergurau, Thomas.”

”Aku tidak bergurau. Aku bahkan telah merekomendasikanmu hadir di sesi diskusi terbatas bulan depan,” aku berkata sungguhsungguh sambil menatap sekelilingku.

Maggie mengerjakan tugasnya dengan baik. Ada sekitar dua belas wartawan dari media besar, seperti televisi, koran, dan internet. Juga hadir empat pengamat politik dengan reputasi baik. Lebih dari itu tempat yang dipilih Maggie. Dia memesan ruang tunggu bandara yang sering digunakan pejabat atau tamu kenegaraan sebelum naik pesawat. Itu ruangan yang representatif, apalagi dengan melakukan pertemuan segera setelah turun dari pesawat jet pribadi. Momen itu sudah sedemikian rupa menjadi penting dengan sendirinya.

Aku mempersilakan para undangan masuk ke ruangan, mengambil posisi duduk di sofa. Gadget canggih dengan fasilitas perekam suara dinyalakan, notes dan pulpen tergenggam, wajahwajah serius menatapku. Opa dan Kadek kuminta menunggu di ruangan tunggu lebih kecil. Maryam ikut dalam pertemuan.

”Nah, Thomas, berita apa yang hendak kausampaikan?” Sambas langsung bertanya ke pokok masalah. Wajahnya antusias seperti biasa. ”Kau tidak akan bilang kalau klien politikmu, kandidat paling serius konvensi partai besar, calon presiden paling populer, tiba-tiba mengundurkan diri, bukan?” Sambas tertawa, mencoba bergurau.

Undangan lain ikut tertawa.

Aku menggeleng perlahan, demi sopan santun ikut tertawa. Aku sedang mengambil tempo bicara, menyusun kalimat pembuka.

Sebenarnya aku tidak tahu persis apa yang harus kubicarakan. Ini semua masih hipotesis, dugaan. Jika aku tidak hati-hati menyampaikannya, pendapatku tinggal ocehan level warung kopi. Tidak berharga, tidak penting. Bahkan bisa berimplikasi serius, tuduhan tanpa bukti. Apa sebenarnya yang ingin kukatakan? Ada ancaman serius terhadap klien politikku? Ada manuver licik dari lawan politik kami? Itu menarik untuk jadi percakapan ringan atau headline koran kuning, koran sampah yang menarik pembaca dengan judul bombastis, tapi tanpa bukti memadai, fondasi berpikir yang kokoh, dan argumen yang tidak terbantahkan. Itu bukan konsumsi berita media yang memiliki reputasi.

”Kau tidak akan membuat kami terus menunggu penasaran setengah mati kan, Thomas?” Najwa, wartawan dari televisi berita yang memiliki program talkshow sendiri menyela, tidak sabaran menungguku mulai bicara. ”Lihat, juru kameraku sudah kering bibirnya, menunggu kau bicara. Sebentar lagi dia akan meletakkan kamera di atas meja.”

Ruangan itu ramai lagi oleh tawa.

Aku ikut tertawa, mengangguk, baiklah. Ini pembicaraan penting, maka sudah saatnya aku menggunakan seluruh kemampuan memengaruhi orang. Tapi sebelum aku membuka mulut, Maryam tiba-tiba menyentuh lenganku, berbisik.

”Kau tidak bergurau?” aku bertanya, memastikan, membuat peserta pertemuan menatap bingung, penasaran, apa yang sebenarnya sedang terjadi? Maryam menunjukkan layar telepon genggam, memperlihatkan sebuah pesan singkat berisi dua potong kalimat yang baru saja dia terima.

”Remote?” Demi membaca dua kali SMS itu, aku segera berdiri. ”Di mana remote televisi?”

”Ada apa, Thomas?” Sambas bertanya.

”Nyalakan segera televisi.” Aku menunjuk televisi besar yang ada di ruangan tunggu tersebut, berusaha memeriksa meja, mencari remote televisi.

Salah satu wartawan menemukan remote lebih dulu. Dia bergegas menyalakan televisi. Sekejap layar LED menyala, tidak perlu memilih saluran—karena seluruh saluran menyiarkan kejadian tersebut. Adegan mencengangkan itu segera terlihat. Aku menatap layar dengan tatapan kosong. Segenap emosi itu menyergap kepalaku. Isi SMS itu pendek saja: ”Sekarang di televisi. Siaran langsung penangkapan JD, kandidat presiden konvensi partai besar.”

Ruang tunggu itu ikut lengang seketika, menyisakan karutmarut gambar bergoyang di televisi, seruan-seruan, dan suara anchor. Pembawa acara melaporkan dengan semangat, bahkan tidak peduli kalau kalimatnya berantakan, patah-patah. Klien politikku tampak diborgol tangannya. Teriakan anak-anaknya yang masih remaja berlarian hendak memeluk. Belasan polisi dengan seragam taktis, belasan polisi lain dengan seragam biasa yang berusaha membubarkan kerumunan, menahan gerakan orang-orang yang semakin ramai berkumpul di rumah klien politikku tersebut.

Aku menggigit bibir. Astaga! Klien politikku ditangkap? Apa tuduhan mereka? Ini jebakan seperti yang terjadi di Hong Kong tadi pagi. Aku mengusap rambut. Ini sebuah pertempuran. Ini bukan lagi intrik politik biasa. Serangan mereka datang laksana roket, ditembakkan berkali-kali untuk meruntuhkan pertahanan lawan.

”Pemirsa, dari lokasi penangkapan, kami mengabarkan bahwa pihak kepolisian menyatakan efektif hari ini JD dijadikan tersangka korupsi megaproyek tunnel raksasa selama menjadi gubernur ibu kota. Seperti yang kita ketahui, nilai proyek yang digagas beberapa tahun lalu itu dilaporkan 16 triliun, dan saat selesai pembangunnya setahun lalu membengkak menjadi 24 triliun karena perubahan spesifikasi terowongan raksasa dan alasan teknis lainnya. Pihak kepolisian akan melakukan press conference nanti malam pukul sembilan, memberikan keterangan lengkap atas penangkapan yang amat mengejutkan ini.

”Dengan penangkapan ini, JD dipastikan batal menghadiri pembukaan konvensi partai besar besok pagi di Denpasar, dan kami belum bisa memastikan apakah JD tetap menjadi kandidat calon presiden atau beliau terpaksa didiskualifikasi karena kasus ini. Beberapa pengurus partai berwarna lembayung itu belum bisa memberikan konfirmasi, masih menunggu pertemuan terbatas antar pemimpin partai untuk membahas hal ini, dan boleh jadi baru bisa diputuskan saat pembukaan konvensi besok pagi. ”Mantan gubernur ibu kota yang masa tugasnya berakhir setahun lalu, dan memutuskan tidak ikut pemilihan gubernur untuk periode kedua kalinya meskipun fakta survei 90 persen lebih penduduk Jakarta akan memilihnya kembali, adalah kandidat paling serius konvensi partai tersebut. JD adalah salah satu pejabat pemerintahan paling populer, dikenal dekat dengan rakyat kecil. JD telah membentuk tim solid setahun lalu untuk mengejar target lebih tinggi, tampuk kekuasaan di negeri ini, pemilihan presiden tahun depan. Dengan kasus ini, belum ada

pihak yang bisa ”

Aku tidak mendengarkan lagi kalimat pembawa acara siaran langsung tersebut. Aku melihat potongan gambar klien politikku dengan tangan terborgol dinaikkan paksa ke atas mobil tahanan. Laras senjata yang teracung, kerumunan massa semakin banyak, teriakan-teriakan protes, dan marah. Satu-dua pendukung berani merangsek mendekat yang segera dilumpuhkan polisi. Sebelum situasi menjadi tidak terkendali, mobil tahanan itu telah meninggalkan lokasi dengan sirene meraung kencang. Menyisakan begitu banyak pertanyaan. Beberapa wartawan perempuan di ruang tunggu bandara menutup wajahnya dengan telapak tangan, berseru tidak percaya. Yang lainnya memegang kepala, bergumam, ini sungguh mengagetkan. Tidak ada angin, tidak ada kabar, bagaimana mungkin? Maryam menggigit bibir, menoleh padaku. Aku menggeleng, aku sungguh tidak tahu akan begini jadinya.

”Apakah ini yang hendak kausampaikan, Thomas?” Sambas, redaktur senior koran terbesar nasional menepuk bahuku pelan, suaranya amat prihatin, memecah lengang di ruang tunggu.

***

Lima menit setelah siaran langsung breaking news itu.

Akulah yang memulai menyebut istilah itu. Istilah yang bertahun-tahun ke depan marak dipakai wartawan, pengamat politik, komentator hukum, hingga orang awam. Istilah yang kemudian populer digunakan mulai dari percakapan ringan di kedai kopi, hingga debat hangat di ruangan mewah berpendingin wakil rakyat. Belasan wartawan dan pengamat politik yang diundang Maggie sempurna menatapku ingin tahu. Salah satu wartawan sengaja mematikan televisi, agar pertemuan berjalan lebih tenang. Aku menjadi pusat perhatian tunggal.

Ruangan tunggu bandara yang pernah digunakan puluhan tamu negara, termasuk Presiden Amerika Serikat sebelum naik pesawat itu, lengang. Kesibukan pesawat di landas pacu dan tempat parkir tidak terdengar, terhalang dinding kaca yang kedap suara.

Aku balas menatap wajah-wajah di sekelilingku, menggeleng. ”Apa yang sebenarnya terjadi, Kawan?” Sambas bertanya. ”Sebenarnya aku tidak menduga akan seperti ini jadinya. Aku tidak tahu apa yang sedang terjadi.” Suaraku tercekat. ”Aku benar-benar tidak menduganya, baru dua jam lalu aku bicara dengan klien politik kami. Mendiskusikan tentang perkembangan situasi, kabar terbaru soal konvensi.”

”Apakah beliau tahu akan ditangkap? Maksud saya apakah dalam percakapan Anda dua jam lalu beliau bercerita kemungkinan itu? Insting seorang politisi berpengalaman?” Salah satu wartawan dari media online mengangkat tangannya, memotong, bertanya.

Aku diam sejenak, menggeleng lagi, ”Kalau soal ditangkap? Sama sekali tidak. Astaga, siapa pula yang akan berpikir klien politik kami akan ditangkap? Ditangkap satu hari menjelang konvensi partai. Itu pemikiran paling gila, tebersit pun tidak kemungkinannya.

”Kita semua tahu, tidak ada satu pun penyidik di kepolisian yang pernah mengonfirmasi sedang menyelidiki kasus tersebut. Tidak ada kabar beritanya. Apa mereka bilang? Korupsi megaproyek tunnel raksasa ibu kota? Omong kosong. Ayolah, apa kalian pernah mendengar selentingan ada tindak korupsi di proyek itu selama ini? Nihil. Proyek itu dibiayai dana swasta dan dianggap salah satu proyek paling efektif mengurangi banjir di ibu kota sejak pembangunan kanal oleh VOC seabad silam.”

”Kau benar. Ini mengejutkan, tapi kita sama-sama tidak tahu, Thomas. Boleh jadi polisi memiliki penjelasan lain? Bukti-bukti atau sesuatu yang memang tidak mereka buka hingga hari ini? Mungkin ada sesuatu yang menjadi petunjuk? Kau adalah orang terdekat JD setahun terakhir.” Sambas mencoba membuka kemungkinan lain. ”Kami tidak tahu, Sambas. Bahkan bisa kupastikan beliau juga sama sekali tidak tahu. Dua jam lalu, saat bicara lewat telepon denganku, klien politik kami mencemaskan ada eskalasi besar-besaran dalam konvensi partai besok. Entah siapa yang melakukannya, apa tujuannya. Beliau meyakini ada yang sedang menggelar operasi kilat, melakukan manuver politik tingkat tinggi, penuh intrik dan rekayasa.

”Aku sebenarnya mengundang kalian datang untuk membicarakan kemungkinan itu, kalian memiliki kuping yang lebih peka, memiliki banyak narasumber yang tidak diketahui masyarakat luas, kalian fleksibel dan netral bergaul dengan banyak pihak. Aku mengundang kalian untuk berdiskusi kemungkinan serius tersebut. Nah, kejadian barusan membuat diskusi ini menjadi semakin relevan. Frankly speaking, meski masih dalam level hipotesis, aku meyakini penangkapan klien politik kami ada hubungannya dengan konvensi partai yang dibuka besok pagi. Itu jelas, terang benderang.”

”Itu harus dibuktikan, Thomas,” Sambas berkata pelan. ”Pembaca atau orang banyak akan tertarik dengan hipotesis yang kausampaikan, teori konspirasi selalu menjadi favorit, tapi media tidak memuat berita berdasarkan pendapat seorang konsultan politik yang kliennya ditangkap.”

”Lantas apa pendapatmu, Sambas? Ini murni kriminal? Semata-mata kasus korupsi biasa? Klien politikku memang benar telah melakukan tindak korupsi? Hei, bertahun-tahun dia menjabat sebagai wali kota, kemudian gubernur, tidak sepeser pun dia mengambil gajinya. Kalian tahu persis soal itu. Kalian tahu gaya hidupnya selama menjadi gubernur. Setiap hari kalian menunggui rumahnya, mengejar berita. Apakah selama itu terbetik kabar? Tebersit kecurigaan? Gunakan akal sehat. Kita segera tahu penangkapan ini serangan politik yang menggunakan alat hukum, melibatkan penegak hukum.” Aku menatap Sambas, bertanya balik.

Sambas terdiam, mengangguk. ”Iya, aku jelas tidak memercayai penangkapan ini.”

”Nah, siapa di sini yang percaya klien politikku melakukan korupsi?” Aku menyapu seluruh ruang tunggu. Sebagian besar mengangkat bahu, menggeleng.

”Baik, Thomas. Andaikata benar apa yang kausampaikan, lantas siapa yang menyusun serangan politik ini? Kau tidak bisa menuduh semua pihak, melempar dugaan ke kompetitor konvensi partai tersebut. Ada tiga calon lain dalam konvensi itu, Thomas.”

”Aku tidak bilang tiga calon lain yang melakukannya, Sambas.” Aku menggeleng tegas. ”Jika klien politik kami ditangkap sehari sebelum konvensi, tujuannya simpel, gagalkan dia mengikuti konvensi besok. Mereka tidak peduli siapa yang akan menang, Sambas, sepanjang bukan klien politik kami. Jadi bisa siapa saja yang melakukan ini. Bahkan bisa pihak tertentu yang sama sekali tidak terlibat dalam partai besar itu, tidak terlibat dalam pemerintahan, cukup dengan memiliki kepentingan, merasa terganggu dengan kemungkinan kemenangan klien politik kami.”

Aku diam sejenak, sekali lagi balas menyapu wajah-wajah wartawan lain yang menunggu kalimatku berikutnya. ”Lantas siapa yang melakukannya? Setidaknya ada tiga fakta penting yang layak dipikirkan. Pertama, kita tidak bisa dengan mudahnya menangkap seseorang dengan tuduhan seserius tersebut, apalagi sempat-sempatnya memanggil wartawan televisi agar berita penangkapan disiarkan live, jelas sekali diperlukan banyak pihak untuk melancarkan operasi ini. Kedua, siapa pun yang mengambil risiko melakukan penangkapan ini, dia merasa yakin sekali telah menguasai banyak pihak. Penangkapan ini segera menjadi perhatian orang banyak, menjadi berita paling menarik bahkan mengalahkan berita tentang konvensi partai itu sendiri.

”Ketiga, sekaligus fakta paling penting, kita semua tahu, bahwa prinsip mendasar seluruh kampanye politik klien kami adalah penegakan hukum. Dia berjanji akan menegakkan hukum di negeri ini. Dia bersumpah akan memberantas hingga ke akarakarnya parasit hukum di negeri ini, orang-orang yang mempermainkan bahkan mengolok-olok hukum itu sendiri. Itu ide besar yang disukai banyak orang, sekaligus dibenci banyak pihak.

”Dari ketiga fakta itu, siapa yang melakukan serangan politik ini? Membunuh karakter klien kami? Jawabannya adalah kejadian ini jelas melibatkan konspirasi besar dari banyak pihak, orang-orang yang terganggu jika klien kami menjadi presiden. Aku akan menyebutnya dengan istilah mafia hukum. Ya, mafia adalah padanan kata terbaik untuk menjelaskan banyak hal. Merekalah yang melakukannya. Mereka bergerak dalam jaringan rahasia. Anggotanya petinggi banyak institusi, mulai dari penegak hukum itu sendiri, birokrat, legislatif, pengusaha, siapa pun yang merasa berkepentingan dengan hukum di negeri ini. Politik hanya salah satu alat mereka. Hukum adalah bisnis besar mereka. Kita tidak pernah tahu siapa saja anggota mafia ini, anggota persekongkolan raksasa yang ada di negeri ini. Klien politik kami jelas bukan korban pertama, dan juga bukan korban terakhir jika tidak ada yang berani menghentikan jaringan ini.

”Kalian memiliki masalah hukum? Hubungi mafia ini, bayar sesuai harga, biarkan mereka yang membereskannya. Kalian memiliki masalah dengan pesaing bisnis, hubungi mafia ini, serahkan upeti, biarkan mereka yang menyelesaikannya. Mereka bergerak diam-diam, tidak terlihat oleh siapa pun, bahkan oleh wartawan seperti kalian. Bahkan yang lebih mengerikan lagi, boleh jadi ada teman profesi kalian yang menjadi anggota mafia ini. Boleh jadi teman duduk di sebelah kita sekarang adalah anggota mafia ini.”

Aku diam sejenak, menatap isi ruangan satu per satu—yang refleks ikut melirik sebelahnya.

Aku baru saja membuat sebuah teori konspirasi yang serius. Tetapi aku tidak punya pilihan lain menjelaskannya. Mafia hukum. Dalam pertemuan itulah pertama kali istilah itu disebutkan. Besok lusa, para wartawan menggunakan istilah itu untuk merujuk situasi tersebut. Lantas secara berantai semua orang memakai istilah tersebut.

”Kita tahu masalah ini, bukan? Tahu persis. Ada jaringan atau mekanisme atau sistem tidak terlihat yang bekerja menggerogoti hukum. Mulai dari level paling rendah, seperti jika kita punya masalah sepele, kecelakaan mobil atau kasus pemukulan misalnya, anggota mafia ini hadir diam-diam menawarkan solusi praktis, hingga level paling tinggi, misalnya ditangkapnya klien politik kami. Mereka memiliki hierarki dan rantai komando dalam organisasi yang tidak terlihat. Sama seperti mafia dalam kejahatan obat-obatan terlarang di dunia hitam. Ada pucuk-pucuk pimpinan dalam mafia hukum ini, dan mereka boleh jadi orang-orang paling penting di negara ini, orang-orang yang sering muncul di media massa, tersenyum, berwajah manis, mengenakan topeng hipokrasi. Siapa mereka? Tidak ada yang tahu.” ”Sekali lagi, kami tidak bisa memuat berita hanya berdasarkan hipotesis, Thomas, meskipun harus kukatakan ini sesuatu yang menarik,” Sambas berkata pelan, menggeleng.

”Hei, aku memang tidak meminta kalian memuatnya, Kawan.” Aku tertawa kecil, berusaha menurunkan tensi pertemuan. ”Aku mengundang kalian untuk berdiskusi, menyampaikan kecemasan klien politik kami dua jam lalu lewat telepon, dan tidak perlu menunggu lama, kecemasan itu terbukti dengan ditangkapnya klien politik kami atas kasus hukum yang tidak masuk akal. Saya paham, kalian memiliki standar jurnalistik, menulis berdasarkan fakta.”

”Tidak selalu.” Seseorang mengeluarkan pendapat setelah hanya aku dan Sambas yang bicara sejak tadi, membuat yang lain menoleh.

Adalah Maryam yang bicara, dia memperbaiki rambutnya. ”Kami tidak hanya menulis berita sesuai fakta yang ada. Secara prinsip demikian, tapi kenyataannya, kami selalu bisa memasukkan opini di dalam berita tersebut.”

Maryam diam sejenak, memperbaiki posisi berdirinya. ”Thomas sudah memberikan opininya. Kita telah mendengarnya. Pendapatnya jelas tidak relevan karena dia berkepentingan, tapi boleh jadi memiliki kebenaran. Aku juga berhak memiliki opini, dan aku memilih memercayai Thomas. Terlalu naif jika penangkapan ini tidak ada kaitannya dengan konvensi partai. Kita semua bebas-bebas saja memiliki pendapat yang berbeda.”

Aku tersenyum menatap Maryam—sepertinya dia mulai pulih dari kejadian tadi pagi di Hong Kong. Gadis wartawan itu berkata dengan suara mantap.

”Ya, aku sependapat dengan Maryam, meskipun dalam kasus ini aku akan berpikir dua kali memasukkannya dalam berita. Kita tidak bisa mengabaikan opini tersebut. Kita tidak bisa mengesampingkan pendapat Thomas,” wartawan lain menimpali Maryam.

Pertemuan itu masih berlangsung satu jam kemudian. Berkembang menjadi sebuah diskusi hangat dan serius.

Dalam strategi komunikasi, kita tidak bisa memaksakan ide kepada orang lain—karena malah jadi kontraproduktif, orang lain menolak mentah-mentah, melawan ide kita meskipun awalnya dia bersikap netral. Pertemuan itu jelas tidak memaksa siapa pun untuk sependapat dengan ideku. Wartawan dan pengamat politik yang diundang Maggie adalah orang-orang merdeka yang cerdas. Tetapi kita selalu bisa menggiring orang lain untuk sependapat. Kita selalu bisa menanamkan bibit-bibit ide tersebut, lantas membiarkannya tumbuh berkembang dengan sendirinya, membuat tempat bersemainya ide itu justru merasa memilikinya, kemudian dengan sukarela menyebarkannya kepada orang lain.

***

Pukul 16.00 aku meninggalkan ruang tunggu bandara.

Maggie yang selalu berpikir dua langkah ke depan telah mengirimkan salah satu ”mobil inventaris” kantor ke parkiran bandara, sebuah Jeep dobel gardan dengan barang keperluan Opa. Menarik, dari beberapa mobil kantor, Maggie memilih mobil Jeep ini.

Wartawan dan pengamat politik membubarkan diri. Aku dan Maryam menuju ke ruangan sebelah. Aku harus segera melakukan sesuatu. Aku harus membawa Opa dan Maryam ke tempat yang lebih aman. Mereka harus bersembunyi sebelum semua jelas, dengan penjagaan Kadek. Aku tidak bisa membawa mereka terus-terusan.

”Aku ikut denganmu, Thomas,” Maryam punya pendapat lain, berkata sungguh-sungguh.

”Kau akan ikut dengan Kadek dan Opa, Maryam.” Aku menggeleng. ”Ini berbahaya. Kau ingat apa yang dikatakan Opa di kapal beberapa menit sebelum kau mewawancaraiku tadi pagi. Aku ini seperti magnet, mengundang masalah bagi orang-orang dekatku. Dikejar, ditembaki, dipenjara, semua hal buruk itu.”

Maryam menggeleng. ”Aku tidak peduli lagi, Thomas Ham-

pir dua tahun aku menjadi wartawan politik, semangat mengejar berita, berlari ke sana, bergegas kemari. Sibuk dengan deadline terbit. Berlomba-lomba menjadi wartawan pertama yang menuliskan berita penting. Lantas apa? Hanya membuatku lupa niat awal kenapa aku memutuskan jadi wartawan.

”Kau benar, Thomas. Kejadian di Hong Kong adalah salah satu rangkaian dari semuanya. Sejak lama seharusnya aku berhenti menjadi pemburu berita, tapi menjadi bagian orang-orang yang membuat berita. Memberikan kabar baik bagi semua orang. Harapan. Mengirim semangat di meja makan di pagi hari, menyebar pesan kebaikan di ruangan kerja di pagi hari, saat mereka sarapan sambil membaca koran, review, majalah, atau menyaksikan televisi. Bukan justru membuat situasi semakin buruk. Menjadi mesin, hanya alat para pembuat berita.

”Aku akan ikut denganmu, Thomas. Aku tahu diri, aku hanya wartawan bodoh, tapi aku bisa berguna banyak. Aku memiliki cukup koneksi dan kenalan. Beri aku perintah, aku akan mengerjakannya dengan baik, sama seperti yang dilakukan Maggie, stafmu. Aku tidak mau hanya bersembunyi di sebuah tempat, menunggu semua selesai dan berharap baik-baik saja,” Maryam menatapku, berkata serius.

Aku diam sejenak, menggeleng.

”Ini hidupku, Thomas. Aku jelas menjadi bagian dari empat orang tersangka yang melarikan diri dari kepolisian Hong Kong. Jadi aku berhak untuk memutuskan apa yang harus kulakukan, mencari penjelasan. Kalau kau tidak mau mengajakku, aku akan melakukannya sendirian.” Tekad Maryam sudah bulat.

”Kau tidak akan bisa membuatnya berubah pikiran, Tommi.” Opa menepuk lenganku dari belakang. ”Kita bangsa laki-laki, dalam kasus ini, tidak bisa membuat wanita berubah pikiran. Hanya bisa mengangguk dan bilang iya.”

Aku melotot, bagaimana mungkin Opa masih bisa bergurau? Ini berbahaya. Di luar sana ada orang yang sedang bersekongkol, entah apa lagi intrik yang akan mereka kirimkan, dan jelas mengajak Maryam bersisian bersamaku akan membahayakan Maryam sendiri.

”Ini berbahaya, Maryam. Aku mencemaskan. ”

”Kau tidak perlu mencemaskanku, Thomas.” Maryam memotong kalimatku, mengangguk mantap. ”Aku sudah cukup besar untuk mengerti risikonya. Aku berjanji, aku tidak akan mudah panik lagi, tidak akan berteriak-teriak, bahkan kalau harus terpaksa bergelantungan di belalai crane, ditembaki. Aku akan tenang, berpikir cepat, belajar dari apa yang kaulakukan. Kejadian di Hong Kong adalah pengalaman berharga, dan hei, kau tidak berpikir aku wanita yang mudah trauma, kan? Kapok? Menyerah? Tidak, Thomas. Sejak menjadi wartawan, aku memutuskan, satu-satunya ketakutan bagiku adalah memiliki rasa takut itu sendiri. Kau tidak perlu mencemaskanku, Thomas.”

”Tentu saja, Maryam.” Lagi-lagi Opa yang menyela. ”Tidak ada yang perlu dicemaskan dari seorang gadis berpendidikan, cekatan, dan berani sepertimu. Aku terus terang justru mencemaskan Tommi. Semakin lama dia bersamamu, aku mencemaskan dia yang tiba-tiba jadi berubah, jadi berharap banyak misalnya.” Opa tertawa pelan.

Aku menyikut Opa, menyuruhnya diam. Tidak bisakah Opa berhenti bergurau dalam situasi seperti ini. Aku tahu sekali maksud Opa. Setahun lalu, Opa juga berkali-kali menggodaku dengan wartawan lain. Baiklah, sebelum Opa semakin menyebalkan, Maryam benar, setidaknya dia bisa membantuku banyak, dan jelas aku membutuhkan banyak bantuan dalam kasus ini.

”Baik. Kau ikut denganku, Maryam.”

Maryam tersenyum lebar. Wajahnya terlihat bersemangat. ”Apa yang harus kulakukan sekarang? Kau bisa menyuruhku, Thomas?”

”Banyak. Tapi pekerjaan mendesak pertama kita sore ini adalah mengantar Opa dan Kadek ke tempat yang lebih aman sesegera mungkin. Kita tidak pernah tahu, kapan jaringan interpol akan tiba di Jakarta, mengejar empat buronan mereka yang lari dari Hong Kong.”

”Siap, Bos.” Maryam mengangguk mantap. 
Bagikan Novel ini Sebegai bentuk dukungan untuk situs ini 😊