menu

Negeri di Ujung Tanduk Bab 12: Riset Adalah Segalanya

Mode Malam
Bab 12: Riset Adalah Segalanya
”KAU pasti akan mengganggu libur panjangku, Thomas.” Itu reaksi pertama Maggie saat tahu aku meneleponnya. Suara-

nya bersungut-sungut.

”Memangnya kau sekarang sedang berlibur di mana, Meg? Di salah satu pantai di Bali? Di pusat mode Paris? Atau mal terbesar Singapura, paling dekat dari Jakarta?”

”Eh,” Maggie diam sebentar, mungkin sedang menyengir lebar di seberang telepon sana, ”aku di rumah sih. Tapi itu tetap liburan, Thomas. Bahkan boleh jadi lebih berharga dibanding ke pantai, pusat perbelanjaan atau Hong Kong dan Makau sekalipun seperti yang sedang kaulakukan. Aku di rumah dan bisa menghabiskan waktu bersama keluarga.”

Aku tertawa lagi. ”Memangnya kau punya keluarga di rumah, Meg? Bukankah orangtuamu ada di kota lain? Kau sendirian tinggal di Jakarta, bukan?”

”Kau memang perusak suasana yang efektif, Thom.” Suara Maggie terdengar ketus. ”Setidaknya aku bisa liburan dengan tidur sepanjang hari selama long weekend. Itu juga tetap terhitung liburan yang menyenangkan. Gratis.”

”Tidak lagi, Meg,” aku mulai berkata serius, ”tidak ada lagi liburan. Aku minta maaf harus bilang itu. Situasinya berubah darurat. Aku sekarang persis berada di pesawat menuju Jakarta, meneleponmu di atas ketinggian 35.000 kaki, melaju dengan kecepatan 800 km/jam. Aku membutuhkanmu segera ada di kantor, Meg. Kau harus membantuku melakukan banyak hal. Dalam kondisi ini, hanya kau orang yang paling kupercaya, dan jelas, hanya kau orang yang paling efektif mengerjakan permintaanku.”

Maggie hendak mengomel protes, tapi mendengar nada suaraku dia berubah pikiran, hanya menjawab pendek, ”Kau bosnya, Thom.”

”Nah, itu baru Maggie yang kukenal. Segera berangkat ke kantor. Setiba di sana, gunakan semua akses yang dimiliki perusahaan untuk mencari informasi. Aku membutuhkan semua kasus hukum yang melibatkan partai besar yang akan melakukan konvensi besok. Kumpulkan semuanya, bahkan meskipun itu termasuk kecelakaan motor salah satu anak pengurus partai, atau kasus pencurian sandal jepit yang melibatkan tetangga pengurus partai. Apa pun kata kunci yang merujuk ke partai tersebut, walaupun hanya satu nama, satu kata, apalagi satu kalimat, kumpulkan. Mulai kumpulkan dari data dua puluh tahun lalu, hingga hari ini, apa pun sumber datanya, entah itu dari media massa, koran, televisi, radio, materi konferensi, seminar, celetukan di jejaring sosial, status, twit, tulisan di blog, semuanya kumpulkan. ”Hubungi bagian teknologi informasi perusahaan kita, minta Kris dan stafnya membantu, termasuk mengolah semua data. Aku yakin Kris segera paham apa yang harus mereka kerjakan. Suruh mereka masuk kantor hari ini. Semua orang harus lembur. Bilang aku yang menyuruh. Abaikan dulu sementara waktu pekerjaan analisis data pemilihan umum yang sedang mereka kerjakan, fokus ke tugas baru ini. Mereka punya teknologinya untuk mencari pola semua berita, informasi, liputan, artikel, atau apa pun yang berhasil kaukumpulkan. Kau punya wewenang penuh meminta bantuan siapa pun di perusahaan. Kau paham, Meg?”

”Iya,” Maggie menjawab pendek. Stafku yang paling gesit itu pasti telah meraih kertas dan pulpen beberapa detik lalu, mencatat cepat semua kalimatku dengan huruf steno.

”Nah, kabar buruknya, waktu kita terbatas, Meg. Aku berharap semua informasi yang kaukumpulkan sudah bisa mulai dianalisis sore ini, dan hipotesis awal sudah bisa kudengar besok pagi, sebelum pembukaan konvensi.” Aku diam sejenak, mengusap wajah. ”Kita seharusnya melakukan ini sejak dulu, agar tahu persis lawan yang kita hadapi. Aku terlalu menganggap remeh mereka. Riset seperti ini bisa membantu menunjukkan lingkaran-lingkaran kekuasaan yang dimiliki lawan klien politik kita. Membuat kita seperti melihat sebuah akuarium jernih, melihat dengan jelas kerumunan ikan di dalamnya, arah mereka bergerak, berkelompok. Tapi terlambat lebih baik daripada tidak sama sekali.”

Dua pramugari pesawat jet pribadi itu mendorong troli di lorong, menawarkan makan siang. Mereka membawa menu yang mengundang selera. Sayangnya dalam situasi seperti ini, selera makanku berkurang drastis. Dengan telepon genggam di telinga, aku hanya menunjuk sepotong roti dan botol air mineral. Pramugari mengangguk, membantu menyiapkan meja lipat di kursiku. Hanya Kadek yang meminta porsi makanan lengkap.

”Pekerjaan kedua, kauhubungi segera wartawan dan redaktur media massa besar. Bilang kita punya press release penting tentang pembukaan konvensi partai besok. Kumpulkan mereka di salah satu restoran atau kafe tiga jam lagi, pukul 15.00. Aku akan segera tiba di Jakarta dua jam lagi, langsung bergabung ke tempatmu mengumpulkan mereka.”

”Kau perlu berapa orang, Thom?”

”Mana aku tahu, Meg,” aku berseru. ”Sebanyak mungkin, berapa pun yang berhasil kauundang, sepuluh, dua puluh. Kausesuaikan kapasitas ruang dengan jumlah mereka agar nyaman. Mereka pasti tertarik dengan kabar update konvensi partai. Jika itu tidak cukup, tambahkan sweetener. Bilang aku akan menjelaskan sebuah dugaan persekongkolan besar. Ah iya, kauundang juga beberapa pengamat politik yang aktif muncul di televisi, koran, internet, dan narasumber lainnya.”

”Baik, Thom.” Maggie terus mencatat. Dari nada suaranya, sepertinya dia sekarang malah berjalan cepat sambil mendengarkan telepon. ”Ada lagi?”

”Sementara dua pekerjaan itu.” Aku menghela napas perlahan. ”Pastikan kau baik-baik saja, Meg. Minta security gedung berjaga-jaga atas segala kemungkinan. Minta mereka mengawasi dan melaporkan ke atas jika ada sesuatu. Jika ada yang mencurigakan, kautinggalkan segera kantor. Bawa semua dokumen dan alat kerja. Kau bisa berpindah ke kantor darurat, ruangan kerja Kris dan stafnya.” ”Ini sebenarnya seberapa serius, Thomas?” Intonasi suara Maggie berubah.

”Ini sama seriusnya seperti tahun lalu, Meg. Kau bisa ditembaki, dikejar, atau ditangkap. Tapi tenang, kabar baiknya, kau sudah berpengalaman, bukan? Pengalaman selalu lebih penting dibanding level pendidikan dan nilai akademis.” Aku tertawa kecil, mencoba bergurau.

”Tidak lucu, Thom. Aku seharusnya meminta kenaikan gaji dua kali lipat untuk semua ini. Tidak ada dalam job desc­ku tertulis bekerja lembur saat long weekend,” Maggie menjawab datar gurauanku. Dari speaker telepon terdengar samar suara pintu ditutup, sepertinya dia naik ke kendaraan, dia bicara selintas dengan seseorang.

”Itu mudah. Akan kunaikkan gajimu, termasuk bonus perjalanan liburan. Dua tiket ke Madrid, misalnya. Setidaknya kau tidak harus berpura-pura liburan, nyatanya sedang tiduran sepanjang hari di kamar.”

Maggie mendengus, kali ini tidak menjawab.

”Nah, setengah jam lagi semoga kau sudah di kantor, Meg. Kita membutuhkan seluruh waktu yang ada. Dua jam lagi saat tiba di Jakarta, aku harap kau sudah mengirimkan lokasi pertemuan itu.”

”Aku bahkan sudah di atas taksi beberapa detik lalu, Thom.” Itu benar, Maggie selalu bisa kuandalkan. Dia sama gesitnya, berpikir beberapa langkah ke depan sepertiku. Enam tahun menjadi staf merangkap sekretaris, Maggie berkembang dengan baik. Dia bisa melakukan banyak hal secara simultan, termasuk seperti barusan: dia menerima telepon dengan head speaker, mencatat perintahku, mengambil tas kerja, meraih sweter dan syal, memasang sepatu, lantas berjalan cepat ke luar rumah, melambaikan tangan ke taksi yang melintas, naik taksi, berseru ke sopir tujuan perjalanan, menutup percakapan dengan kalimat meyakinkan.

Aku meletakkan telepon genggam di atas meja. Kembali menyandarkan punggung ke kursi pesawat. Melirik jam di layar telepon, tengah hari persis, pukul 12.00. Itu berarti tidak lebih dari 48 jam lagi waktuku tersisa. Sesuai rencana, besok pagi rapat partai itu resmi dibuka dengan agenda tunggal, konvensi calon presiden. Sehari kemudian, minggu siang, pimpinan partai besar itu, melalui beberapa jaringan televisi, live dari arena konvensi, akan mengumumkan kandidat presiden hasil konvensi. Aku mengembuskan napas untuk kesekian kali. Terlepas dari deadline konvensi tersebut, jika notifikasi interpol segera dikirim luas ke seluruh kepolisian dunia, waktuku bahkan kurang dari 48 jam.

”Kau sepertinya sibuk sekali, Tommi?” Opa yang duduk di sebelahku berkata pelan. Mata sipitnya menatap takzim.

”Opa tidak tidur? Beristirahat?” aku balik bertanya. ”Bagaimana aku bisa tidur, Tommi? Kau terus menelepon di

sebelahku, berseru-seru.” Opa tertawa sambil mengangkat tangan. ”Orang tua ini telah tidur lebih lama dibanding banyak orang. Kau tahu, usiaku tujuh puluh lima tahun. Jika dalam sehari, sepertiga waktuku dihabiskan untuk tidur, itu berarti aku telah tidur selama dua puluh lima tahun sepanjang umurku. Nah, usia kau baru tiga puluh empat tahun, bukan, itu berarti hanya lebih tua sedikit dibanding waktu yang aku habiskan untuk tidur.”

Aku ikut tertawa kecil. Opa selalu punya sudut pandang berbeda dalam menyikapi topik percakapan. ”Ya, itu masuk akal. Tapi setidaknya Opa bisa istirahat sejenak. Kita masih dua jam lagi sebelum mendarat di Jakarta. Kita tidak tahu apakah bisa tidur dalam beberapa jam atau beberapa hari ke depan setelah kejadian tadi pagi.”

”Kau selalu melupakan bagian itu dalam ceritaku, Tommi.” Opa menggeleng, menjawab takzim. ”Aku pernah terjaga selama tiga hari tiga malam di kapal nelayan yang bocor itu, tujuh puluh dua jam, dan orang tua ini baik-baik saja. Meninggalkan tanah kelahiran karena perang saudara dan wabah penyakit. Hanya membawa pakaian di badan, menumpang kapal nelayan, berlayar meninggalkan daratan Cina, mengungsi ke mana arah angin laut membawa. Tiga hari tiga malam. ”

”Opa mengenal kakek Lee dalam perjalanan itu?” aku memotong cerita lama Opa.

Aku senang dengan ide yang baru saja kutemukan. Aku tidak akan menghabiskan waktu di atas pesawat mendengar kisah heroik pengungsian Opa enam puluh tahun silam. Bukan karena itu tidak penting atau tidak menarik, tapi ayolah, aku bahkan hafal kalimat-kalimatnya. Jadi sebelum Opa semakin semangat bercerita, hingga pesawat ini mendarat, sebaiknya segera dibelokkan, dan Lee mungkin lebih bermanfaat sebagai topik percakapan. ”Kau jangan memotong kalimatku, Tommi.” Suara Opa terdengar sedikit sebal. ”Aku justru hendak menceritakan kakek

Lee dalam kisah ini.”

”Tapi bisa langsung loncat saja ke bagian itu, Opa? Tanpa prolog.”

Opa menatapku kesal. ”Aku lebih suka Tommi yang masih usia belasan tahun. Tommi yang satu itu selalu mendengarkan ceritaku, duduk rapi. Berbeda dengan Tommi sekarang, dia selalu tidak sabaran dan tidak sopan menghindar.”

Kadek yang duduk di belakangku bahkan terbatuk kecil mendengar kalimat jengkel Opa—sepertinya Kadek menahan tawa. Aku menoleh, mengacungkan kepal tinju ke belakang kursi.

”Ya, kau benar. Aku bertemu dengan Chai Ten, kakek Lee di atas kapal nelayan bocor itu. Waktu itu usianya sama denganku, enam belas tahun. Kami sama-sama kurus, kurang gizi, berpakaian kumal, dekil, terlihat kusam, cocok sekali dengan penampilan pengungsi. Aku dan Chai Ten berasal dari wilayah daratan Cina yang sama, Guangzhou. Namun, kami baru saling mengenal setelah di atas kapal.

Setelah berminggu-minggu di atas kapal, kami dekat satu sama lain. Berbagi cerita, berbagi makanan, berbagi apa pun, termasuk berbagi tugas yang disuruh oleh pemilik kapal. Itu perjalanan hidup-mati, melintasi ribuan mil, melewati badai. Tanpa teman karib yang saling menjaga, kau tidak akan bertahan lama.” Opa mendongak, menatap langit-langit pesawat jet, diam sejenak.

”Lee tadi pagi bilang kalau keluarganya yang seharusnya berterima kasih kepada Opa? Apa yang sebenarnya terjadi di atas kapal itu?” Aku memotong lagi cerita Opa, tidak sabaran menunggu.

Opa menatapku semakin jengkel. ”Baik, Tommi. Dengan menyela dan bertanya lagi, kau benar-benar membuat cerita ini kehilangan sisi drama kemanusiaannya. Tidak bisakah kau menunggu sebentar, memberikan orang tua ini momen mengenang kejadian itu, lantas menceritakannya kembali dengan kalimat terbaik. Tapi baiklah, apa yang terjadi? ”Lepas dari kawasan Laut Cina Selatan, Chai Ten jatuh sakit. Sebenarnya itu tidak spesial, separuh lebih pengungsi di kapal nelayan itu jatuh sakit, dan hampir semuanya tidak bertahan. Itu perjalanan berat, dilakukan tanpa persiapan, tanpa dokter atau tabib yang menyertai, tidak ada obat-obatan. Para pengungsi mulai berjatuhan sakit. Dan tanpa perawatan yang memadai, anak-anak kecil yang lebih dulu meninggal, disusul kemudian orang tua yang fisiknya lemah. Pemilik kapal melemparkan mayat-mayat ke lautan, tidak sempat memberikan penghormatan yang layak. Menunggu kapal merapat ke daratan, mayat itu telanjur busuk, bisa menyebarkan wabah penyakit yang lebih serius, membahayakan seluruh isi kapal.

”Di minggu kedua perjalanan, Chai Ten sakit parah. Tubuhnya yang kurus dan makanan yang terbatas membuat sakitnya semakin serius. Dia demam, menggigil, dan muntah. Semua penyakit seperti serempak datang. Kasihan sekali melihatnya meringkuk di sudut palka, di bawah atap kapal yang tempias saat hujan deras. Dia menggigil kedinginan. Wajahnya pucat pasi, bibirnya biru, perutnya terkuras oleh muntah. Tidak ada yang peduli, tidak ada yang mau memberikan pertolongan, karena semua orang sibuk dengan masalahnya sendiri.”

Opa diam sejenak, kembali mendongak menatap langit-langit pesawat, menghela napas. Kali ini aku memutuskan tidak memotong ceritanya, menunggu.

”Orang tua ini tidak melakukan apa pun, Tommi. Hanya menunaikan kewajiban sebagai seorang teman. Kau tidak mungkin membiarkan teman senasib menderita sendirian. Maka aku merawat Chai Ten. Mencarikan selimut dari karung goni tebal yang bau dan kotor. Memberikan jatah makananku kepadanya. Memberikan air tawar yang susah payah didapat dari hujan turun. Membuat ramuan obat semampuku dari sisa-sisa logistik pemilik kapal nelayan. Menemaninya siang dan malam, menghiburnya, memberikan semangat kami berdua akan melalui hari-hari sulit tersebut, tiba di negeri yang lebih baik.

”Seminggu lamanya Chai Ten menderita oleh sakitnya, malam menggigil, siang meringkuk kesakitan, dan ajaib, dia bertahan. Dia satu-satunya penumpang sakit yang selamat. Beberapa hari setelah kondisinya membaik, kapal nelayan tiba di bandar besar, Singapura. Chai Ten turun di sana, memutuskan mencari peruntungan di bandar itu. Aku memilih terus mengikuti perjalanan kapal nelayan hingga tiba di Surabaya.

”Kami berpisah. Dia menangis memelukku, bilang tidak akan pernah melupakan kejadian di kapal nelayan. Ah, kejadian enam puluh tahun itu masih segar sekali di ingatan orang tua ini, Tommi. Wajah Chai Ten, tubuhnya yang kurus, senyumnya yang mengembang. Kami semua senasib, orang-orang yang berusaha mencari kehidupan lebih baik. Aku bahkan masih ingat semua awak kapal. Keluarga-keluarga pengungsi, wajah-wajah mereka, nama-nama mereka. Tetapi semua sudah tercerai berai, tidak ada kabar. Setiba di tanah baru, kami harus bekerja keras, mencoba bertahan hidup, mana sempat mengingat yang lain. Juga Chai Ten, aku tidak pernah mendengar kabarnya hingga tadi pagi, saat Lee memberitahu. Ini sungguh rahasia langit. Aku tidak tahu Chai Ten telah menjadi orang berkecukupan, memiliki keluarga, memiliki cucu seperti Lee, begitu diberkahi bumi. Kapal nelayan bocor itu ternyata memberikan nasihat hidup yang banyak sekali.” Opa menghela napas panjang. Wajah tuanya terlihat khidmat, senyum lapang terbit dari sudut mulutnya. Aku mengangguk, memberikan Opa waktu mengenang semua kejadian.

”Kau tadi malam mengalahkan Lee di hobi aneh kalian itu, hah? Bertinju?” Opa menoleh, bertanya, beberapa detik setelah lengang.

Aku mengangkat bahu, begitulah. Aku mengalahkannya. ”Sepertinya, kalau menilik sikap Lee tadi pagi, kau tidak per-

nah memenangi pertarungan itu, Thomas,” Opa menatapku, berkata santai.

Hei, Opa bilang apa? Enak saja. Aku mengalahkannya dalam pertandingan lima ronde. Dia menyerah di ronde kelima, meminta inspektur menghentikan pertandingan. Dia tidak bisa meneruskan pertandingan karena berkali-kali telak menerima pukulan tinjuku.

”Jelas sekali, bukan?” Opa mengedipkan mata. ”Jelas apanya?” aku bertanya balik pada Opa. ”Dia mengalah, Tommi.” Opa tertawa kecil.

Aku melotot. Enak saja, aku jelas-jelas mengalahkannya. ”Lee pasti tahu kau cucuku. Sebelum kau tiba di Makau, ber-

tarung dengannya, dia pasti telah mencari tahu siapa orang yang akan dihadapinya, apa pekerjaannya, keluarganya, semuanya. Sama seperti yang sering kaulakukan di kantor. Apa kalian menyebutnya? Ah iya, riset. Riset adalah segalanya, bukan? Nah, boleh jadi amat mengejutkan bagi Lee ketika memeriksa riwayat keluarga, dia mengetahui kalau calon lawannya yang bernama Thomas itu adalah cucu sahabat dekat kakeknya.

”Tentu saja Lee tahu tentangku, meski tidak pernah bertemu. Chai Ten menganggap kejadian di kapal nelayan itu kenangan tidak terlupakan, sama denganku. Dia mewajibkan anak-anaknya, cucu-cucunya mendengar cerita tersebut. Lee berkenalan dengan namaku bahkan sejak masih kecil. Lewat kebetulan pertarungan tadi malam, dia segera mengenal banyak nama lain, termasuk Edward papamu. Juga Liem, pamanmu yang dipenjara.” ”Apakah kau memenangi pertarungan semalam? Menurut orang tua ini, Lee mengalah padamu, Tommi, demi masa lalu

itu.” Opa terkekeh.

Aku mendengus kesal, Opa jelas sedang mengolokku.

”Anak muda yang tidak bisa mendengarkan cerita masa lalu leluhurnya, seperti kau ini Tommi, tidak sabaran, suka memotong kalimat, maka tidak akan pernah menang bertarung dengan anak muda lain yang begitu menghargai masa lalu orang tuanya, seperti Lee, cucu Chai Ten itu.” Opa bersedekap takzim, memberikan kesimpulan.

Aku memutuskan tidak berkomentar lagi. 
Bagikan Novel ini Sebegai bentuk dukungan untuk situs ini 😊