menu

Negeri di Ujung Tanduk Bab 11: Siapa Orang yang Pantas Dibela?

Mode Malam
Bab 11: Siapa Orang yang Pantas Dibela?
PESAWAT jet pribadi itu mendaki ketinggian dengan kecepatan penuh, melewati gumpalan awan lembut. Hamparan hutan

beton kota Hong Kong tertinggal di belakang. Dalam hitungan menit, lampu sabuk pengaman telah dipadamkan.

Aku berseru memanggil salah satu pramugari. ”Coffee or tea, Sir?” Pramugari tersenyum.

Aku menggeleng, bukan minuman yang kubutuhkan sekarang. Aku bertanya pendek apakah mereka punya jalur telepon keluar—ada banyak orang yang harus kuhubungi segera. Pramugari mengangguk, mengambil sesuatu di belakang pesawat. Saat kembali, dia menyerahkan kotak karton berisi telepon genggam baru.

”Anda bebas menggunakannya, Tuan. Pesawat ini sudah dilengkapi dengan sistem navigasi canggih yang memungkinkan telepon genggam aman digunakan.”

Itu lebih baik lagi. Aku bisa menelepon dari kursi, tidak perlu menggunakan telepon pesawat. Aku menatap sekilas jam di layar telepon genggam, sudah pukul sebelas siang, lalu menekan nomor tujuan. Nada tunggu lama, tidak diangkat. Sekali lagi mencoba, nada tunggu lama, tetap tidak diangkat. Ayolah, diangkat, aku bergumam. Untuk ketiga kalinya memaksakan mencoba, tetap menunggu lama. Aku mendesah cemas, mulai menduga hal buruk telah terjadi, ketika akhirnya telepon itu tersambung.

”Halo, Bapak Presiden,” aku menyapa lebih cepat. ”Thomas?” Suara di seberang memastikan.

Telepon itu tidak cepat diangkat karena dia ragu-ragu. Sepanjang pagi dia menerima telepon yang berisi nada ancaman. ”Maaf kau harus menunggu lama, Thomas. Tetapi ini situasi menyebalkan. Aku sampai memutuskan untuk mengabaikan telepon yang tidak kukenali. Kupikir panggilanmu ini salah satunya, karena bahkan aku tidak mengenali kode negaranya. Ini bukan kode negara Hong Kong. Kau ada di mana, Thomas?”

”Aku menelepon dari atas pesawat, Bapak Presiden. Kode negara tidak relevan lagi dengan posisi panggilan. Aku sudah berangkat menuju Jakarta. Tiga jam lagi tiba.”

”Syukurlah, Thomas. Semakin cepat kau kembali, semakin baik. Salah satu anggota tim siang ini akan melaporkan berbagai telepon gangguan dan ancaman itu ke pihak kepolisian. Ini sudah berlebihan, Thomas. Kita harus mengambil langkah. ”

”Jangan, Bapak Presiden,” aku segera memotong.

Itu jelas langkah yang sia-sia. Dalam situasi serba tidak jelas, kabut mengambang di sekitar menutupi pemandangan, membuat siapa lawan, siapa teman tidak jelas benar, maka terlalu terbuka memperlihatkan reaksi akan menunjukkan posisi sekaligus kelemahan, membuat lawan tahu harus mengambil langkah berikutnya.

Aku menceritakan dengan cepat kejadian di Hong Kong. Semuanya, kecuali bagian Lee yang membantu menyelamatkanku. Klien politikku tidak perlu tahu soal itu—ada banyak hal personal di dalamnya. Cukup dengan bilang kami berhasil meloloskan diri dari tahanan polisi Hong Kong. Kami baik-baik saja, sekarang menuju Jakarta.

”Menurut hematku, kita harus mencari informasi sebelum melakukan sesuatu, Bapak Presiden. Aku sedang menyusun banyak rencana. Jangan melakukan hal gegabah. Melaporkan telepon berisi ancaman tidak akan membuat situasi menjadi lebih baik. Itu hanya telepon. Tidak ada yang tahu apakah polisi akan menindaklanjuti serius laporan tersebut. Media jelas akan senang mengunyah kabar itu. Tapi di atas segalanya aku mencemaskan hal yang lebih besar dari sekadar ancaman melalui telepon, Bapak Presiden.” Aku menelan ludah, diam sejenak.

”Apa yang kaucemaskan, Thomas?”

”Aku mencemaskan manuver raksasa ini melibatkan banyak pihak, Bapak Presiden, bahkan termasuk orang-orang penting di kepolisian.”

Lengang sejenak.

”Selama ini, selama menjadi konsultan politikku, hampir seluruh hipotesis yang kauberikan benar, Thomas.” Klien politikku bicara setelah terdengar helaan napas panjang. ”Maka akan benar pula yang satu ini. Baik, sementara waktu aku akan membiarkan teror telepon tersebut.”

”Itu keputusan yang bijak, Bapak Presiden.” Aku mengangguk. ”Lantas apa yang akan kaulakukan setiba di Jakarta, Thomas? Dengan segala kejadian di Hong Kong, mungkin lebih baik kau menghindar dari sorotan banyak pihak. Bersembunyi sementara waktu. Bukankah mereka akan segera mengirim penyidik ke Jakarta? Mengejar tahanan mereka yang kabur?”

Bersembunyi? Itu tidak ada dalam kamusku. Aku hendak berseru, menjawab saran klien politikku, tapi segera mengubah intonasi suara. Aku menghormatinya.

”Tidak, Bapak Presiden. Aku tidak akan bersembunyi,” aku menjawab tegas, menggeleng. ”Aku justru akan tampil di arena. Tidak ada yang perlu dicemaskan. Notifikasi interpol butuh waktu. Mereka harus mengolah lokasi kejadian, melakukan pemeriksaan forensik atas alat bukti, mengonfirmasi banyak hal sebelum merilis foto buronan, setidaknya 48 jam. Itu berarti hingga Minggu siang. Itu pun jika kepolisian Hong Kong merasa perlu meminta bantuan. Jika jebakan tadi pagi dilakukan terbatas, dan penugasan pasukan khusus antiteror di luar prosedur resmi, aku yakin mereka memilih mengurus kasus ini diam-diam.”

”Kau harus bersembunyi, Thomas. Kau salah satu sasaran tembak. Bagaimana mungkin kau justru menunjukkan diri ke mana-mana? Seperti menantang balik?”

”Itulah poin paling pentingnya, Bapak Presiden. Selama dua hari ke depan, hingga konvensi berakhir, apa pun ending semua skenario, harus ada yang mengirimkan pesan bahwa kita tidak takut. Biarkan aku yang melakukannya. Biarkan perhatian mereka tertuju padaku.”

”Astaga, Thomas, kau membahayakan diri sendiri. Kau justru melangkah dengan sukarela ke sekumpulan buaya ganas. Kau dengar aku, Thomas, aku tidak mencemaskan diriku. Itu sudah risiko. Istri dan anak-anakku sudah merelakan apa pun yang terjadi sejak aku memilih jalan politik belasan tahun lalu. Kau berbeda, Thomas. Kau anak muda cemerlang yang bisa menjadi apa saja, memilih masa depan apa pun yang kauinginkan tanpa perlu membahayakan diri sendiri. Cukup. Tidak ada diskusi soal ini, Thomas.”

”Maka aku akan memilih bertarung menghadapi mereka, Bapak Presiden.”

Terdengar seruan jengkel dari seberang telepon, ”Kau jangan bertindak gila, Thomas. Aku tidak akan mempertaruhkan nyawa rekan kerjaku, konsultan politikku, orang yang paling kupercaya hanya demi memenangkan konvensi partai, bahkan demi kursi presiden sekalipun. Omong kosong semua janji-janji kehidupan yang lebih baik yang kita dengungkan dalam banyak kampanye jika aku harus membahayakan orang di sekitarku.”

Aku segera memotong kalimatnya, ”Maka adalah omong kosong juga semua janji-janji kehidupan yang lebih baik yang Anda ceramahkan di mana-mana jika kita tidak memenangi konvensi partai, mengambil alih kursi kekuasaan negeri ini. Itu jelas lebih dari omong kosong. Tergeletak di kertas sekadar tulisan. Mengambang di udara hanya ucapan.

”Aku tidak datang secara sukarela menawarkan diri membantu Anda dalam kompetisi konvensi partai hanya karena aku sependapat dan mendukung semua omong kosong itu. Aku datang, karena ingin meletakkan semua omong kosong itu di tangan seseorang yang bisa menjadikannya nyata. Anda akan memenangi konvensi partai, dan tahun depan, seluruh rakyat akan menyaksikan Anda memenangi pemilihan presiden. Semua orang yang mendukung Anda bersedia melakukan apa pun. Cukup. Tidak ada diskusi juga soal ini.” Bersembunyi? Menghindar mencari aman? Itu bukan tabiatku. Aku petarung. Aku akan menghadapi semua masalah dengan gagah berani, siapa pun mereka.

Aku tidak menyadari kalau aku berseru-seru menjawab kalimat klien politikku, membuat Opa yang berusaha tidur memperbaiki posisi duduknya, menoleh. Juga Kadek yang berusaha membaca koleksi majalah milik pesawat, menjulurkan kepala ke depan. Hanya Maryam yang tidak bereaksi banyak, diam mendengarkan. Dua pramugari yang bertugas tidak memperhatikan—mungkin mereka sudah terbiasa dengan orang berteriak saat menelepon dari pesawatnya, toh mereka juga tidak paham bahasa yang kugunakan.

Lengang sejenak di telepon genggam, menyisakan derum halus mesin pesawat.

”Kau, kau jangan berlebihan, Thomas. Ini hanya sebuah konvensi. Bukan pertempuran hidup-mati,” klien politikku berkata pelan, suaranya bahkan terdengar serak, ”Atau entahlah, memang sebuah pertempuran.”

Aku diam, mendengarkan.

”Inilah yang selalu kukhawatirkan. Orang-orang terbaik, orang-orang terdekatku, dan itu adalah kau Thomas, memutuskan mengangkat senjata, berperang demi seseorang yang boleh jadi tidak layak didukung. Seseorang yang bahkan tidak berhak dibela. Ya Tuhan, ini kadang terlalu berat bahkan untuk dipikirkan. Harapan. Mimpi-mimpi. Cita-cita. Semua niat mulia itu, semua keinginan baik itu. Aku boleh jadi orang pertama yang akan mengotori itu semua, Thomas. Dengan tanganku sendiri. Aku boleh jadi tidak pernah layak untuk dibela.” Suara di seberang telepon semakin serak. Aku diam, menelan ludah, menatap keluar jendela pesawat.

Gumpalan awan putih terlihat sejauh mata memandang.

Apakah ada di dunia ini seorang politikus dengan hati mulia dan niat lurus? Apakah masih ada seorang Gandhi? Seorang Nelson Mandela? Yang berteriak tentang moralitas di depan banyak orang, lantas semua orang berdiri rapat di belakangnya, rela mati mendukung semua prinsip itu terwujud? Apakah masih ada?

Maka jawabannya: selalu ada. Aku mengenal klien politik paling pentingku ini setahun lalu setelah kejadian besar tersebut. Kapal pesiarku, Pasifik, hilang. Om Liem masuk penjara. Jaksa menuntutnya dua puluh tahun penjara. Hakim menghukumnya empat tahun. Petinggi kepolisian dan kejaksaan itu tewas diracun teman sekongkolnya. Ram, pengkhianat dalam keluarga kami, menerima balasannya. Banyak orang jahat yang menerima balasan langsung di dunia ini, tapi lebih banyak lagi yang tidak, bahkan bebas berpesta di atas penderitaan orang lain. Sebaliknya, banyak orang baik yang justru tersingkirkan dari dunia ini. Aku bertemu dengannya dalam penerbangan ke London. Dia diundang salah satu lembaga donor internasional yang mengurus kampanye civil society. Dia dinobatkan sebagai gubernur terbaik seluruh dunia. Lima tahun memimpin, begitu banyak kebijakan yang mendukung rakyat kecil, memajukan pendidikan, memberikan perlindungan kesehatan, dan menyejahterakan masyarakat banyak. Sepanjang penerbangan delapan jam Jakarta-London, aku duduk di sebelahnya. Kami berkenalan. Dia tersenyum ramah, tidak keberatan berbicara banyak hal, dan aku baru menyadari kalau dia selalu menggunakan uang pribadi saat melakukan

perjalanan. ”Tidak ada rakyat kecil yang diuntungkan atas perjalanan ini, Thomas. Apalah arti sebuah piala, piagam. Aku hanya menghormati orang yang mengundang, kebetulan sudah lebih dari setahun tidak mengambil jatah libur Sabtu-Minggu, mungkin sekali-sekali bolehlah bepergian. Jadi ini tidak pantas memakai anggaran perjalanan dinas.” Dia menjelaskan dengan suara bersahabat, tatapan sederhana. Seolah tidak ada sedikit pun istimewanya fakta tersebut.

Aku terdiam lama. Itu salah satu momen spesial dalam hidupku.

Pertemuan yang mengesankan, dengan seseorang yang menakjubkan.

Apakah semua politikus itu jahat? Menjual omong kosong seperti yang aku bicarakan dalam konferensi kemarin siang di Hong Kong? Terus terang aku tidak tahu pasti jawabannya. Boleh jadi, motivasi terbesarku mendirikan unit baru di perusahaan konsultanku justru untuk membuktikan sebaliknya. Apa kata Om Liem dulu tentangku, ”Aku keliru. Kau ternyata selama ini sebenarnya sedang membenci dirimu sendiri, Thomas. Kau tidak pernah membenci orang tua ini. Kau tidak membenci sistem dunia yang rusak. Kau tidak membenci orang-orang jahat yang membakar orangtuamu. Ya, kau justru sedang membenci diri sendiri. Semua yang ada di kepalamu berubah jadi paradoks. Semua yang kauucapkan, yang kautunjukkan adalah keterbalikan sempurna dari hatimu. Seorang anak muda yang pintar, kaya, memiliki akses besar, dikelilingi orang-orang terbaik, penuh dengan kesedihan hidup, ternyata setiap hari berusaha melawan dirinya sendiri. Dia membenci dirinya sendiri. Kenapa? Karena merasa tidak bisa melakukan apa pun untuk mengubah banyak hal. Hanya bisa menonton, menangis meraup abu orangtuanya, tidak bisa melakukan apa pun. Lantas saat sudah tumbuh dewasa, justru tertawa tidak peduli di atas kehidupan yang semakin rusak, juga tidak bisa melakukan apa pun. Bukankah demikian, Thomas?” Om Liem boleh jadi benar. Terlalu banyak paradoks dalam hidupku.

Perjalanan delapan jam Jakarta-London itu menjadi momen penting dalam hidupku setelah kasus penyelamatan Bank Semesta. Percakapan itu memberikan inspirasi. Aku memilih membelokkan kehidupanku, terlibat di dunia politik.

”Kau tahu, Thomas, masalah terbesar bangsa kita adalah: pe­ negakan hukum. Hanya itu. Sesederhana itu.” Beliau berbaik hati menjelaskan prinsip yang diyakininya, di ketinggian 40.000 kaki, di atas hamparan awan putih. ”Kita tidak hanya bicara soal hukum dalam artian sempit, seperti menangkap orang-orang jahat. Melainkan hukum secara luas, yang mengunci sistem agar berjalan lebih baik, membuat semua orang merasa nyaman dan aman. Jika hukum benar-benar ditegakkan di muka bumi negeri ini, banyak masalah bisa selesai dengan sendirinya.

”Korupsi misalnya, ketika hukum ditegakkan tanpa tawarmenawar, pelaku korupsi dengan sendirinya akan tumbang berjatuhan. Pisau hukum menebas mereka dengan hukuman berat dan serius. Penegak hukum juga akan mengejar hingga ke akarakarnya, tidak peduli siapa pun yang mencuri uang rakyat. Pembuktian terbalik dipakai, orang-orang yang tidak bisa membuktikan dari mana semua kekayaannya berasal akan dihukum.

”Saat masyarakat menerima pesan yang kuat bahwa pemerintah tidak main-main dalam menegakkan hukum, hingga level paling rendah, orang-orang akan takut melakukannya. Pungutan liar di kantor kelurahan, pungli di Kantor Urusan Agama saat kau hendak mengurus pernikahan, polisi lalu lintas di perempatan jalan, bahkan tukang parkir ilegal, pemalak, apa pun yang menyakiti rakyat. Mereka akan gentar, takut, karena mereka tahu, pemerintah akan memburu mereka demi penegakan hukum.

”Penegakan hukum yang sungguh-sungguh ini juga akan menyentuh banyak sisi yang kita abaikan selama ini. Tidak akan ada perusahaan atau orang-orang kaya berani mengemplang pajak, karena mereka tahu pemerintah akan merampas kekayaan mereka. Tidak akan ada sekolah, guru-guru yang berani memeras murid dengan dalih karya wisata, uang seragam, buku wajib, LKS, karena mata penegak hukum terarah ke semua bidang. Tidak akan ada penjarahan hutan, illegal logging, apalagi konsesi tambang yang main-main dengan konservasi alam, karena pemerintah akan mengambil tindakan serius sekali atas pelanggaran hukum tersebut.

”Kaubayangkan apa yang akan terjadi, Thomas, jika hukum ditegakkan kokoh di negeri ini. Menjulang tinggi tanpa tawarmenawar, tanpa pandang bulu, tanpa tunggu nanti, besok, esok lusa. Tegak demi kebenaran dan keadilan, berapa pun harganya. Maka seluruh sistem yang ada di negeri ini dengan sendirinya akan sembuh. Ajaib membayangkannya, apalagi jika kita bisa menyaksikannya langsung. Penegakan hukum adalah obat paling mujarab mendidik masyarakat yang rusak, apatis, dan tidak peduli lagi. Kau bisa membayangkannya, bukan?”

Aku benar-benar terdiam. Itu juga menjadi topik percakapan dalam pertemuan kedua kami, di ruangan kerjanya yang kecil— bahkan lebih sederhana dibanding ruang kerja anak buahnya. Tidak ada yang menarik di ruangan itu. Sesuatu yang mahal, sesuatu yang dipajang tidak ada, padahal beliau gubernur ibu kota. Kami membicarakan tentang situasi politik terkini. Aku bertanya tentang cita-cita dan mimpi. Dia menjawabnya dengan begitu mengesankan. Begitu sederhana, begitu terang prinsip yang dimilikinya, hingga aku seolah bisa menyentuhnya dengan tangan.

”Nah, sebagai walikota, atau kemudian sebagai gubernur, aku tidak memiliki kekuatan melakukan itu, Thomas. Tugas dan kewajiban kepala daerah terbatas.

”Lantas siapa yang memiliki kekuatan itu? Presiden negeri ini. Beliaulah pemilik komando tertinggi dalam jihad mulia menegakkan hukum. Mengacu pada konstitusi, presidenlah pendekar paling sakti, paling berkuasa, dan paling menentukan ke arah mana hukum akan dijalankan. Ribuan polisi korup, presiden berwenang penuh mengurusnya. Mengganti seluruh pucuk pimpinan kepolisian itu mudah, sepanjang ada niat dan berani. Ribuan hakim berkhianat atas amanah yang diberikan, juga mudah, mereka ada di bawah rantai komando presiden. Pun termasuk kejaksaan, jaksa-jaksa yang bermain-main dengan hukum. Pun birokrat, hingga kepala desa yang curang, mengurus KTP harus membayar, apa pun itu. Presiden bisa memimpin perang besar-besaran terhadap orang-orang yang bukan saja melanggar hukum tapi sedang menghina hukum negeri ini.

”Maka akan berbeda saat aku menjadi wali kota atau gubernur, yang lebih fokus terhadap kesejahteraan rakyat, pendidikan, dan kesehatan mereka. Membuat mereka nyaman, tidak mengalami kemacetan, tidak menderita kebanjiran, bisa mendapatkan upah minimum, dan bisa memenuhi kebutuhan minimalnya. Sebagai presiden, prioritas itu berubah. Penegakan hukum, demi Tuhan, penegakan hukum adalah kunci semua masalah. Kita harus menyadari hal ini. Kita sebenarnya sedang berperang melawan kezaliman yang dilakukan kita sendiri dan orang-orang di sekitar kita yang mengambil keuntungan karena memiliki pengetahuan, kekuasaan, atau sumber daya. Jika kita memilih tidak peduli, lebih sibuk dengan urusan masing-masing, nasib negeri ini persis seperti sekeranjang telur di ujung tanduk, hanya soal waktu akan pecah berantakan. Ini negeri di ujung tanduk, Thomas.”

Aku mencerna seluruh kalimatnya.

Aku bahkan ingat kalimat-kalimatnya. Itu sungguh ”omong kosong” paling meyakinkan yang pernah kudengar. Itu komoditas politik yang paling menarik untuk dibungkus, dikemas, lantas dijual kepada pemilih. Itu ”isu moralitas” terbaik yang bisa diangkat di negeri ini. Penegakan hukum. Menatap wajahnya yang tulus saat bicara, bahkan berkaca-kaca ketika tiba di kalimat yang penuh semangat, terharu dan antusias menjelaskannya karena begitu kuat menggigit cita-cita itu. Aku memutuskan akan berada di belakangnya, menjadi orang pertama yang akan menjadikan semua itu nyata. Aku menawarkan bantuan politik sebagai konsultan strategi. Dia tertawa riang, menerimanya dengan senang hati. Kami segera membentuk tim. Beliau tidak mengambil kesempatan periode kedua sebagai gubernur ibu kota agar bisa fokus menjalankan kampanye besar itu.

Percakapan itu lengang beberapa detik. Masih tidak ada suara di seberang telepon. Aku juga terdiam, menghela napas pelan. Hanya derum pesawat jet yang terdengar.

”Maafkan aku, Bapak Presiden, tapi aku tidak akan diam bersembunyi. Aku tidak bisa melakukan saran itu. Aku memiliki banyak rencana. Aku akan memilih tampil setiba di Jakarta. Mengirim pesan kita tidak takut, dan jika sedikit beruntung, mengirim serangan balik, agar mereka paham kita akan memenangi kampanye besar ini. Risikonya boleh jadi besar, tapi itu harga yang sepadan.”

”Baiklah, Thomas. Baik.” Suara klien politikku kembali terdengar. Dia berusaha berkata dengan intonasi terkendali setelah sebelumnya tersendat. ”Aku selalu percaya padamu. Tidak sepantasnya aku menganggapmu tidak bisa menjaga diri sendiri. Hatihati, Nak. Lakukan apa yang hendak kaulakukan. Kau benar, kita akan memenangi konvensi partai itu. Aku akan berdiri gagah menghadapi semua kejadian, apa pun manuver yang terjadi di sekitar. Apa pun harga yang harus kita bayar. Kau telah membuatku lebih berani, Nak.”

Percakapan itu berakhir setelah dua-tiga kalimat lagi.

Aku menutup telepon, perlahan menyandarkan punggung ke sofa pesawat yang empuk, mengembuskan napas. Siapa orang yang pantas dibela dengan nyawa sekalipun? Aku tidak tahu jawabannya. Karena sesungguhnya, dalam semua rangkaian kejadian yang baru saja dimulai puncak ketegangannya ini, aku memegang agenda tersembunyi sejak setahun lalu.

Masih ada beberapa orang lagi yang harus kutelepon.

Orang pertama berikutnya yang paling penting adalah: Maggie, staf khususku yang selalu menawan hati. Aku harus segera mengaktifkan komando tempur. 
Bagikan Novel ini Sebegai bentuk dukungan untuk situs ini 😊