menu

Negeri di Ujung Tanduk Bab 10: Kembali ke Jakarta

Mode Malam
Bab 10: Kembali ke Jakarta
RANGKAIAN lift di gedung tua itu sudah dicopot beberapa minggu lalu, bagian persiapan penghancuran gedung. Kami

harus berlarian melewati anak tangga, yang juga dinding-dindingnya sudah terkelupas. Aku bergumam tidak sabaran, memaksa Maryam agar bergerak lebih cepat. Kadek sudah menggendong Opa sejak lantai delapan belas. Setidaknya tubuh tua Opa tidak terlalu berat bagi tubuh tinggi besar Kadek. Mereka bergerak lebih cepat dibanding aku dan Maryam. Kami harus bergegas. Tidak lebih dari lima menit, satu pasukan penuh sudah keluar mengejar dari lobi gedung di seberang, tempat kami ditahan.

Aku mengeluh, teringat sesuatu, berusaha berpikir cepat. Ada masalah baru sekarang. Kalaupun kami tiba lebih dulu di bawah dibanding mereka keluar dari gedung seberang, di tengah belantara gedung tinggi kota Hong Kong, dan jalanan sibuknya, aku harus menaiki mobil apa agar bisa segera melarikan diri? Taksi? Menyetop sembarang mobil? Merampasnya? Aku menelan ludah. Kami sudah di lantai tiga. Kadek dan Opa sudah tiba di lantai dua.

Aku meloncat di anak tangga terakhir, membuat Maryam hampir terjatuh. Aku tiba di lantai dasar gedung tua yang akan dirobohkan, kosong, tidak ada yang tersisa di gedung itu, hanya pagar tinggi dari seng berwarna oranye yang sempurna menutupi wilayah proyek properti, agar tidak sembarang orang bisa masuk. Saat aku menyapu setiap jengkal pagar, berusaha mencari pintu keluar dari dinding-dinding oranye itu, meluncur dengan kecepatan tinggi mobil SUV berwarna hitam. Suara rodanya direm mendecit panjang. Mobil berhenti persis di depan kami. Pintu dibuka dan aku tercengang.

”Masuk, Thomas. Segera!” Lee? Aku menelan ludah.

”Hei, kau tidak akan berdiri di sini menunggu mereka datang, bukan? Dan asal kau tahu, ada yang harus lebih dicemaskan dibanding pasukan khusus itu. Tiga ratus dinamit yang siap meledak.” Lee meneriakiku dari belakang setir.

Baik. Aku menyimpan dulu pertanyaan kenapa Lee tiba-tiba muncul di sini, mengangguk, meski tidak paham benar dengan ujung kalimat Lee. Aku bergegas menyuruh Maryam naik lebih dulu, membantunya. Kadek tanpa disuruh sudah membantu Opa naik dari pintu satunya. Belum genap aku menutup pintu depan, belum rapi posisi dudukku, Lee sudah menekan pedal gas, membuatku terbanting ke kursi, mengaduh karena kaget. Mobil SUV mahal itu bagai peluru ditembakkan melesat menuju pagar seng oranye yang salah satu sisinya sekarang dibuka lebar oleh staf proyek properti. ”Ayolah ” Rahang Lee mengeras. Dia menekan pedal gas le-

bih dalam, mobil menggerung kencang, semakin cepat.

Aku menoleh. Kenapa Lee terlihat cemas sekali? Apa yang dia khawatirkan?

”Terlambat satu detik saja, kita semua terkubur dalam tumpukan material gedung tua setinggi empat puluh lantai, Thomas,” Lee menjawab ekspresi wajahku, tetap konsentrasi penuh memacu mobilnya melintasi gerbang dinding.

Dua detik berlalu, mobil melompat melewati dinding oranye. Tangan Lee mengacung keluar dari jendela mobil, entah memberikan kode apa. Beberapa staf proyek properti itu dengan seragam lapangan terlihat balas melambaikan tangan di sisi-sisi lebih jauh, seperti bersembunyi dari sesuatu. Bersembunyi? Sebelum aku tahu jawabannya kenapa mereka bersembunyi, persis ketika mobil baru berjarak lima belas meter dari gedung tua, suara berdentum kencang terdengar memekakkan telinga. Aku dan Kadek menoleh kaget. Apakah ada roket yang ditembakkan? Atau pasukan khusus itu menembak kami dengan pelontar granat? Maryam menutup wajahnya yang pucat dengan telapak tangan. Opa menghela napas pelan, terlihat mengurut dadanya karena terkejut.

Saking kerasnya dentuman itu, tanah yang dilewati mobil bergetar. Mobil sedikit oleng. Lee berusaha mati-matian membanting setir agar mobil tidak terbalik.

Menyusul dentuman kencang itu, terdengar rentetan dentuman lain, banyak jumlahnya, ratusan, lebih kecil. Semua lantai gedung tua itu terlihat meledak dalam irama tertentu, mengepulkan asap hitam. Lantas satu detik kemudian, seluruh gedung tua itu runtuh vertikal ke bawah dalam sekali tarikan. Dengan mengeluarkan suara lebih kencang, debu mengepul tinggi, bongkahan material beterbangan, mengejar mobil yang terus bergerak meninggalkan lokasi proyek.

Aku baru mengerti semua maksud kalimat Lee barusan. ”Kalian tahu, kalian baru saja melewati tiga ratus dinamit

yang dipasang di setiap tiang gedung itu, Kawan. Kita baru saja selamat dari reruntuhan seberat lima ribu ton lebih.” Lee tertawa. Mobil yang dikendarainya keluar dari kepulan asap, langsung masuk ke jalanan kota Hong Kong. Meluncur deras, menyalip banyak mobil.

Aku mengusap wajah yang kebas karena kaget. Menoleh ke belakang, ke lokasi gedung tua tinggi yang baru saja diruntuhkan tim proyek properti. Debu masih membubung tinggi, disiram hujan gerimis dan semburan hidran dari para petugas lapangan. Tidak ada lagi bangunan besar 40 lantai, hanya tumpukan material yang tersisa.

”Tenang saja, Thomas. Kau tidak perlu sering-sering menoleh ke belakang. Pasukan khusus itu tidak bisa mengejar. Demi alasan keselamatan proses penghancuran gedung, selama satu jam ke depan, semua jalanan di sekitar gedung tua itu ditutup dinas taman kota Hong Kong radius lima ratus meter. Zona amannya diperluas setelah tadi pagi hanya dua blok. Pasukan khusus tidak bisa keluar dari gedungnya dengan kendaraan, kecuali mereka mengejar dengan jalan kaki, berlari,” Lee berkata lebih rileks, masih tertawa.

Lee terlihat amat terampil mengendarai mobilnya, sambil bicara menjelaskan, menyelinap di antara mobil-mobil lain dengan kecepatan tinggi.

”Kalian amat beruntung, bukan karena tidak terlambat satu detik pun dari jadwal dinamit diledakkan insinyur proyek, tapi kalian beruntung memilih hari ini untuk kabur dari sana, persis pada hari meruntuhkan gedung tua. Ini peristiwa langka. Ada ratusan wartawan yang memotret dari kejauhan, merekam, dan mengabadikan. Juga petinggi kota Hong Kong SAR. Itu gedung kantor administrasi lama, akan diganti dengan gedung yang lebih tinggi dan megah. Nah, semoga tidak ada yang melihat mobil ini menyelinap keluar-masuk pada detik-detik penting tadi, atau kami harus mengarang alasan seperti bola baja crane itu.”

Aku mengangguk, masih belum bisa berkomentar apa pun. ”Soal bola baja crane yang tiba-tiba menghantam gedung pe-

merintah di seberangnya, kami bisa mengarang banyak alasan. Itu mudah. Seperti kendali otomatisnya rusak karena pengaruh persiapan penghancuran gedung, atau ada kesalahpahaman karyawan proyek, terjadi kecelakaan serius. Kami bisa memperbaikinya dengan cepat, bila perlu membayar ganti rugi. Kebetulan saja kalian ada di lantai itu, memanfaatkan kejadian tersebut untuk kabur.”

Lee menatapku dari spion di atas kepalanya, tersenyum bersahabat.

”Terima kasih, Lee,” aku berkata pelan.

”Hei, ini belum selesai, Thomas. Percayalah, kau masih akan berutang banyak hal padaku.” Lee mengangkat bahu, tertawa. ”Nah, sekarang pertanyaannya adalah mau ke mana kalian sekarang? Segera kembali ke Jakarta? Atau rencana lain? Menuju kota lain? Mungkin yang tidak memiliki perjanjian ekstradisi dengan Hong Kong misalnya?”

Pertanyaan simpel dari Lee membuatku menoleh ke Opa dan Kadek. ***

Aku tidak akan melarikan diri dari kasus ini.

Percuma. Semua identitas, paspor, dan dokumen kami dipegang oleh detektif satuan antiteroris Hong Kong itu. Hanya butuh paling lama 48 jam, notifikasi tentang pelarian kami akan segera menyebar ke seluruh jaringan interpol dunia dan kami berempat resmi menjadi buronan internasional. Tetapi aku belum bisa menghadapi kejaran agen interpol. Ada hal lain yang harus kuselesaikan, dan boleh jadi itu justru bisa memberikan penjelasan atas kasus ini.

”Tenang saja. Aku bisa mengurus perjalanan kalian ke Jakarta. Stafku sedang bekerja di bandara, menyiapkan pesawat dan dokumen perjalanan. Kami terbiasa dengan perjalanan mendadak seperti ini. Nah, yang harus kaucemaskan, kau benar-benar dalam masalah besar, Thomas.” Lee menghela napas prihatin. Mobil yang dia kendarai melaju di terowongan bawah laut kota Hong Kong, menuju bandara.

Kami sudah sepuluh menit meninggalkan lokasi penghancuran gedung tua itu. Maryam sudah bisa duduk dengan baik, menghela napas lebih baik. Kadek menyerahkan tisu basah, agar Maryam bisa menyeka wajahnya yang kotor oleh debu. Opa baik-baik saja, terlihat duduk tenang, boleh jadi Opa yang paling tidak memikirkan apa pun—sejak muda, Opa selalu percaya dengan jalan hidupnya, membiarkan saja mengalir mengikuti alur sungai.

”Kau tahu, tidak semua orang bisa memperoleh seratus kilogram bubuk heroin, Thomas, juga sekarung senapan, granat, dan peledak. Itu semua hanya bisa dibeli di pasar gelap. Kalaupun kau punya uang banyak, tidak mudah membeli seratus kilogram heroin. Membawanya ke mana-mana lebih sulit lagi. Itu tidak sama dengan membawa satu kuintal gandum. Kau jelas sedang berurusan dengan mafia, Thomas. Atau orang-orang yang memiliki hubungan dekat dengan dunia hitam tersebut.” Lee menyebut kemungkinan itu.

Aku menyisir rambut dengan jemari. Itu penjelasan yang masuk akal. Lee benar—meskipun itu semua gila untuk dipercayai. Siapa pula yang begitu membenciku hingga melakukan hal tersebut?

”Hei, belakangan ini kau tidak membuat masalah dengan salah satu pemilik perusahaan besar di Hong Kong atau Makau, bukan? Misalnya dengan menyakiti anak gadisnya? Membuatnya patah hati?” Lee bertanya, mencoba bergurau.

Aku tidak tertawa—juga Maryam, Kadek, dan Opa. Aku menggeleng.

”Atau sebagai konsultan keuangan ternama, kau keliru fatal memberikan nasihat bisnis? Membuat mereka rugi jutaan dolar di bursa saham? Gagal transaksi hedging atau valas?” Lee menyebut kemungkinan lain.

”Perusahaan konsultanku yang terbaik, Lee. Hingga hari ini tidak ada klien kami yang rugi karena nasihat keuangan yang buruk,” aku menjawab pelan.

”Oh, aku lupa itu. Tentu saja demikian, Kawan.” Lee tertawa. ”Tapi kau juga tidak bisa mengabaikan kemungkinan ada pengusaha yang dirugikan karena perusahaan lain, yang menjadi klienmu untung besar atas nasihat brilian yang kauberikan, bukan? Mereka marah, memutuskan menyerang konsultan keuangannya.” Aku menggeleng, menyeka pelipis. ”Mereka tidak akan meletakkan seratus kilogram heroin sebagai balasan. Itu membuat masalah lebih rumit, bahkan bagi mereka sendiri.”

”Masuk akal.” Lee mengangguk, tangannya gesit membanting setir. Sekarang kami melaju di jalan lebar dan lengang, seperti jalan tol, meninggalkan terowongan bawah laut.

”Atau mungkin ada petarung yang sakit hati karena kaukalahkan?”

Aku tahu, sejak tadi Lee berusaha menurunkan tensi ketegangan di dalam mobil dengan sebuah percakapan.

Aku baru mengenalnya 12 jam terakhir, tapi sebuah pertarungan yang jujur dan terhormat akan membuat kita mengenal orang lain dengan cepat secara lengkap. Aku seperti sudah mengenalnya bertahun-tahun dan bisa memahami tabiatnya. Aku paham apa yang sedang dilakukan Lee. Dia memang sama sekali tidak mengenal Maryam, tapi gadis wartawan itu berangsur membaik kondisinya. Mendengar percakapan kami membantunya pulih. Semua baik-baik saja sejauh ini, juga kondisi Opa dan Kadek.

”Kalau begitu, kau salah satu orang yang bisa dicurigai, Lee.

Aku mengalahkanmu tadi malam,” aku bergumam pelan.

Lee tertawa lagi. ”Hei, kau hanya memenangi satu pertarungan, Thomas. Itu tidak bisa disimpulkan kau telah mengalahkanku. Hanya satu pertarungan, Kawan.”

Aku kali ini ikut tertawa, mengangguk setuju.

***

Lima menit lagi berlalu cepat.

Mobil SUV hitam itu akhirnya tiba di gerbang bandara Hong Kong. Seperti yang dijelaskan Lee sebelumnya, dia akan membantuku kembali ke Jakarta.

”Kalian akan menumpang jet pribadi, Thomas. Dokumen perjalanan sedang diurus stafku, segera menyusul ke bandara.”

Aku mengangguk. Kami sudah turun dari mobil SUV hitam yang parkir langsung di hanggar, berhenti persis di depan anak tangga pesawat jet yang parkir rapi. Pilot dan pramugari sudah menunggu. ”Terima kasih banyak, Lee. Aku mengalahkanmu tadi malam, tapi pagi ini kau justru banyak memberikan bantuan.”

Lee mengangguk. ”Terlepas dari janji seorang petarung, sebuah kehormatan bisa membantumu, Thomas. Aku sejak tadi pagi berada di lokasi proyek penghancuran gedung tua itu, langsung berangkat dari Makau setelah pertarungan. Aku sedang mengawasi insinyur melakukan persiapan akhir, bersiap meledakkan dinamit saat kau meneleponku. Jadi semua hal bisa dilakukan dengan mudah, termasuk mengurus crane dengan bola baja itu.” ”Terima kasih banyak, Lee.” Kali ini Opa yang bilang kalimat

itu.

Entah kenapa Lee justru menjabat tangan Opa lebih lama, dengan kedua belah tangannya. Dia menatap Opa penuh penghargaan. Lantas dia berkata dengan bahasa Kanton yang paling halus dan sopan, ”Opa Chan, sungguh kamilah yang berutang terima kasih, bukan Opa Chan. Ada salam dari kakekku, Chai Ten dari Ghuangzhou. Opa mungkin tidak mengenalku, juga tidak mengenal sebagian besar keluarga kami, tapi kami semua mengenal Opa dari cerita Kakek Chai. Sejak seminggu lalu aku tahu wajah Opa Chan, dan tadi malam, bertemu Thomas di Makau membuatku tahu lebih banyak lagi.” Opa terdiam. Mata sipitnya membesar, mendongak menatap Lee yang masih lembut memegang tangannya. ”Kau bilang apa tadi? Chai Ten dari Guangzhou?”

Lee tersenyum, mengangguk.

”Astaga? Demi Dewa Bumi! Chai Ten? Kau... kau cucu Chai Ten?”

Lee mengangguk sekali lagi, lalu bertanya sopan, ”Boleh aku memeluk Opa Chan?”

Opa yang lebih dulu memeluknya. Erat sekali.

Aku terpana, tidak mengerti apa yang sedang terjadi di hadapanku. Kadek melirikku, bertanya. Mana aku tahu? Aku mengangkat bahu. Maryam hanya menonton, diam.

”Aku berjanji, Opa, demi semua kebaikan yang pernah Opa berikan kepada keluarga besar kami, aku akan membantu Thomas, apa pun yang dia butuhkan. Kami akan mengirim banyak orang, mencari informasi apa yang sebenarnya sedang terjadi di Hong Kong. Aku berjanji, tidak ada, bahkan satu orang pun, yang bisa menyakiti keluarga Opa Chan di Hong Kong, Makau, dan Cina daratan. Tidak peduli kalaupun mereka kelompok mafia besar,” Lee berkata pelan.

Opa mengangguk. Senyumnya mengembang. Itu salah satu senyum bahagia Opa yang pernah kulihat. ”Salam kembali untuk Chai Ten. Kalau saja situasinya lebih baik, aku akan mengunjunginya di Guangzhou. Astaga! Aku tidak pernah menduga dia masih hidup? Memiliki begitu banyak kebaikan dari kehidupan ini. Memiliki cucu yang gagah. Kapal bocor. Kapal bocor itu ternyata mewariskan begitu banyak kebijaksanaan hidup.”

Lee mengangguk.

Dua menit lagi berlalu. Maryam, Kadek, Opa dan aku akhirnya menaiki pesawat jet pribadi tersebut. Staf Lee sudah tiba. Dia menyerahkan empat surat perjalanan pengganti paspor sementara, dengan menggunakan kewarganegaraan negara lain.

Lee berseru dari bawah, ”Kau berutang pertarungan ulang denganku, Thomas!”

Aku tertawa. ”Kapan saja kau siap.”

Lee mengepalkan tangannya, ikut tertawa. Pintu pesawat ditutup.

Pramugari mempersilakan kami duduk. Pilot mulai menggerakkan pesawat, moncongnya perlahan keluar dari hanggar, menuju landasan pacu. Dengan dokumen perjalanan sementara dan memotong begitu banyak jalur imigrasi—yang entah bagaimana Lee bisa melakukannya—pesawat itu segera melesat ke langit, meninggalkan Hong Kong, tanpa masalah sedikit pun.

Aku kembali ke Jakarta. 
Bagikan Novel ini Sebegai bentuk dukungan untuk situs ini 😊