menu

Negeri di Ujung Tanduk Bab 09: Permintaan Tidak Bisa Ditolak

Mode Malam
Bab 09: Permintaan Tidak Bisa Ditolak
Crane disusun dari pipa-pipa dan lempeng besi, yang disatukan sedemikian rupa hingga menjadi sebuah tower  tinggi yang

selalu ada di setiap lokasi proyek bangunan. Bentuknya seperti huruf T raksasa. Tiang tinggi menjulang, lantas di tiga perempat atasnya, persis di leher crane, terpasang belalai melintang lurus, kiri-kanan. Salah satu ujung belalai yang lebih pendek berfungsi sebagai penyeimbang dengan bantalan pemberat, satunya lagi yang lebih panjang adalah belalai sebenarnya. Warna crane mencolok, merah, biru, atau oranye, atau warna-warna terang lainnya. Crane berfungsi mengangkat material bangunan dari bawah ke lantai atas proyek pembangunan, mengirim lempengan baja, sak-sak semen, hingga untuk keperluan tertentu, bisa dipasangkan bola baja, berfungsi sebagai belalai penghancur gedung tua. Sebuah crane raksasa tingginya bisa puluhan meter, dengan ruang operator di atasnya, dan seorang petugas mengendalikan gerakan belalainya, bergerak kirikanan, naik-turun. Crane dengan teknologi paling mutakhir bahkan bisa digerakkan otomatis oleh remote control, memiliki gerakan fleksibel ke segala arah.

Dalam situasi genting, sekecil apa pun informasi yang dimiliki berharga.

Dan informasi yang kumiliki saat ini adalah hanya pemandangan dari jendela kecil ruangan kami ditahan, lantai 15, tanpa tahu di gedung mana dari ratusan gedung pencakar langit Hong Kong. Pemandangan di depan jendela kecil ini hanya sebuah gedung tua yang akan diruntuhkan pagi ini—mengacu percakapan pasukan khusus saat hendak merapat ke dalam gedung, dan mereka terpaksa berputar dua blok. Gedung kusam setinggi 30 lantai, tanpa dinding lagi, tinggal tiang-tiang, dengan sebuah crane raksasa berwarna oranye persis berdiri di hadapannya.

Aku bisa membaca dengan jelas tulisan-tulisan huruf pinyin (Cina) di crane itu. Nama perusahaan pemilik proyek properti, beserta nomor seri lokasi crane. Waktuku terbatas, pilihanku untuk kabur amat sempit. Dengan kesempatan menjelaskan sama sekali nihil, hanya orang dengan posisi tidak bisa menolak permintaanlah yang bersedia membantu. Siapa pula yang akan mengambil keputusan gila, bersedia membantu meloloskan empat orang tahanan dari gedung pasukan khusus antiteror Hong Kong SAR? Harga apa yang harus kubayar untuk pertolongan seperti itu?

Aku mengepalkan tangan mantap. Aku punya harganya. Aku hanya membutuhkan satu panggilan telepon untuk menghubungi sang malaikat penolong. Sisanya biarkan mengalir seperti menonton film aksi.

Petugas galak berkuping tebal di luar ruangan sana tidak akan pernah peduli dengan teriakan Maryam, seruan protes Kadek, atau argumen paling masuk akal dariku. Mereka disiplin menjaga pintu. Tetapi sedisiplin apa pun itu, mereka tidak akan bisa mengabaikan situasi darurat. Mereka pasti diajari menangani situasi emergency, dan jelas itu panggilan kemanusiaan yang sering kali membuat level kewaspadaan seseorang berkurang.

Opa mengurus dengan baik soal kesempatan menelepon tersebut. Setelah memastikan semua siap, Opa mulai terbatuk-batuk panjang, berseru kesakitan dengan suara serak, lantas purapura jatuh pingsan di atas meja.

Aku memukul pintu ruangan, berteriak panik, menjelaskan situasi.

Pintu ruangan akhirnya dibuka, tiga petugas berseragam taktis masuk sambil menodongkan laras senjata. Aku segera menunjuk Opa yang terkulai di atas meja, berseru setengah marah, setengah amat cemas, ”Kalian seharusnya membawa obat-obatan di kapal pesiar.”

Tiga petugas itu saling tatap bingung.

”Tidak ada waktu. Kalian harus menelepon dokter, petugas medis, siapalah. Ini darurat!” aku berseru, berusaha memengaruhi kendali keputusan di kepala mereka bertiga.

Salah seorang dari mereka memeriksa tubuh Opa, meletakkan senjata otomatis di atas meja. Kadek melirikku. Aku menggeleng. Belum sekarang, aku membutuhkan panggilan telepon terlebih dulu sebelum melumpuhkan mereka. Opa lebih dari pandai kalau sekadar berpura-pura sekarat. Wajah tuanya hanya perlu sedikit bumbu mengerang kesakitan. Itu lebih dari cukup. Petugas itu bangkit, berbicara cepat dengan dua rekannya dalam bahasa Kanton. Salah satu rekannya menggeleng, bilang tidak ada unit medis di bangunan tersebut. Long weekend, banyak petugas yang pergi liburan.

”Astaga!” aku memotong percakapan mereka, berseru dalam bahasa Kanton, ”Dia segera membutuhkan pertolongan, kalian harus segera memanggil dokter mana pun. Bukankah ini kantor polisi? Instansi pemerintah? Bagaimana mungkin tidak ada bagian medis yang siaga?”

Itu pertanyaan retoris. Gelengan mereka menjelaskan banyak hal. Salah satu dari mereka beranjak menuju lorong, ke arah meja kecil yang di atasnya ada telepon. Hendak melaporkan situasi ke atasan mereka, orang berpakaian sipil sebelumnya.

”Tidak. Tidak!” aku berseru, menahan gerakan mereka. Ini fase paling genting dari seluruh skenarioku. Aku harus mendapatkan kesempatan telepon itu. Jika mereka berkonsultasi lebih dulu ke atasan mereka, semua rencana gagal total. ”Kalian keliru. Orang pertama yang harus kalian telepon adalah dokter. Kalian akan terlambat jika harus bertanya dulu. Beberapa menit akan fatal sekali.” Aku menunjuk Opa yang secara dramatis sekarang terjatuh dari kursinya, tergeletak di lantai. Bahkan Kadek yang tahu itu pura-pura, berseru panik sungguhan, berusaha membantunya. Maryam ikut duduk jongkok membantu.

”Aku mengenal dokter dari rumah sakit pemerintah Hong Kong. Dia pernah merawat orang tua itu. Izinkan aku menghubunginya agar segera tahu apa yang harus dilakukan sebelum dokter kalian tiba!” aku berseru, memasang wajah panik sebisa mungkin.

Tiga petugas itu saling tatap.

”Astaga! Hanya telepon konsultasi sebentar ke doker, apa salahnya?” Tiga petugas itu terdiam sejenak. Salah seorang dari mereka akhirnya mengangguk. Aku bergegas melangkah keluar dari pintu ruangan, menuju meja kecil tempat telepon. Sebelum mereka berubah pikiran, sebelum mereka menyadari sesuatu, dengan tangan masih terborgol, aku sudah menekan tombol telepon yang kuterima tadi malam. Nomor telepon itu pendek dan mudah dihafal, dan yang paling penting, tersambung langsung ke seseorang. Lee!

Dialah orang yang tidak bisa menolak permintaanku. Juara bertahan klub petarung Makau yang kuhadapi tadi malam. Aku berhasil mengalahkannya, dan dia berutang sebuah janji memenuhi permintaan apa pun dariku. Keluarganya pemilik kerajaan bisnis properti di Hong Kong. Crane di seberang bangunan tempat kami ditahan adalah milik perusahaannya. Dengan menggunakan bahasa Portugis—karena tiga petugas ini pasti paham jika percakapan kulakukan dengan bahasa Inggris atau Kanton—aku menjelaskan situasi dengan cepat, menyebutkan nomor register crane, yang sekaligus otomatis menjelaskan lokasi kami.

”Esta é uma chamada de emergência, Lee. Eu não posso explicar mais em pormenor, eles assistiram com o fuzil na mão. Eu chamo a promessa de um lutador!” aku berseru dengan intonasi suara bergetar. Aku memanggil janji seorang petarung sejati, yang rela menebus nyawanya demi memenuhi sebuah janji.

Hening sejenak, terdengar helaan napas Lee.

”Vou enchê­lo, Thomas. A promessa de um lutador.” Suara Lee terdengar dalam dan bertenaga. Adalah kehormatan baginya memenuhi janji tersebut. Cukup. Aku meletakkan gagang telepon. Kalimat Lee lebih dari cukup.

Dua petugas segera menodongkan laras senjata, dengan kasar menyuruhku kembali ke ruangan. Aku mengangguk, tidak masalah. Pertolongan besar akan segera tiba. Aku tidak tahu kekuatan apa yang digunakan lawan politik klienku saat ini. Aku belum punya ide sama sekali. Akses dan koneksi level apa yang mereka miliki hingga bisa menyuruh pasukan antiteror Hong Kong menyergap kapal pesiar, lengkap bersama barang bukti dan tuduhan serius. Tapi mereka akan segera tahu, aku bukanlah sekadar konsultan politik kemarin sore yang bisa ditakut-takuti. Mereka telah memilih lawan tangguh.

Lima menit kemudian, Opa masih pura-pura sekarat di lantai. Dua petugas masih berjaga dengan waspada, satu petugas yang lain bergabung setelah menelepon atasannya, melaporkan situasi. Maryam masih membungkuk di sebelahku, ikut memeriksa Opa. Kadek melirik moncong senjata, memperhitungkan segala sesuatu. Aku berbisik pelan, tunggu waktunya, tidak akan lama.

Saat terdengar derap langkah kaki di lorong, 18 meter dari ruangan, petugas lain datang, mungkin bersama dokter, saat itulah bola baja yang disangkutkan di crane raksasa, dari proyek properti seberang jalan menghantam dinding lantai tempatku ditahan.

Berdentum keras! Membuat lantai bergetar kencang seperti gempa. Potongan batu bata, bongkahan semen mental ke segala arah, juga pecahan kaca, tirai. Aku refleks menarik tubuh Maryam yang menjerit kaget, menghindar. Kadek juga sigap memasang badannya, menutupi tubuh Opa agar tidak terkena pecahan benda. Opa ikut terbangun, lupa kalau dia sedang bermain sandiwara. Tiga petugas yang memegang senjata berseru, menoleh ke arah dinding yang somplak, membuat lubang besar. Itu waktu yang amat berharga. Detik yang tidak ternilai.

Demi melihat tiga petugas lengah, Kadek berdiri cepat. Tangannya bergerak gesit. Dia memukul leher salah satu petugas, jatuh. Aku loncat, mengurus dua petugas lain. Tinjuku menghantam dagu salah satu dari mereka. Dan segera menyusul menghantam pelipis yang satunya lagi. Petugas ketiga terjatuh sambil tidak sengaja menarik pelatuk senjata otomatis, membuat peluru mengukir langit-langit ruangan. Suara rentetan senapan otomatis yang memekakkan telinga bercampur dengan kepulan debu baru berhenti saat dia sudah tergeletak pingsan.

”Bantu Opa berdiri, Kadek!” aku berseru di antara debu dan serakan reruntuhan dinding yang robek lebar oleh bola baja. ”Bergegas, Kadek! Waktu kita sempit.”

Kadek mengangguk, menarik tubuh Opa.

Belalai crane sekali lagi kembali ke lantai tempatku ditahan, kali ini bergerak pelan maju, bukan pukulan menghantam dinding, tapi menjulurkan belalainya lurus langsung masuk ke dalam ruangan yang sudah berlubang. Seperti tangan raksasa yang menghampiri.

”Bangun, Maryam. Segera naik ke atas ujung crane.” Aku menarik Maryam yang masih bersimpuh, terbatuk oleh kepulan debu.

Maryam terlihat ragu-ragu. Aku sudah menariknya paksa, menyeret tangan Maryam. Dari ujung lorong terdengar seruanseruan. Sepertinya penghuni bangunan ini telah menyadari apa yang sedang terjadi. Itu bukan gempa, atau gedung roboh, sesuatu serius sedang terjadi. Opa sudah di atas belalai crane, dipegang kokoh oleh Kadek. Maryam dengan wajah pucat berusaha naik, dua kali tergelincir, aku mendorongnya, menyuruhnya memeluk salah satu pipa baja.

Aku kembali ke lantai ruangan, meraih dua senjata otomatis yang tergeletak. Lantas meloncat ke atas ujung crane, menyampirkan satu senjata di punggung, memegang yang lain. Tanpa berpikir dua kali, aku menarik pelatuk senjata otomatis itu, memuntahkan puluhan peluru ke dalam lorong, tempat muncul setengah lusin orang dengan seragam taktis, beberapa petugas medis, dan Detektif Liu yang memimpin mereka.

Tidak ada waktu untuk berpikir, aku memutuskan menembak sebelum mereka menembaki kami. Melihat kami berempat sudah naik, belalai crane bergerak mundur. Kami keluar dari ruangan tersebut, langsung disambut gerimis yang membungkus kota Hong Kong. Maryam menjerit melihat jalanan di bawah kami. Tinggi kami tidak kurang empat puluh meter. Dengan hanya berpegangan pipa-pipa crane, jalanan di bawah terlihat mengerikan.

”Berhenti melihat ke bawah, Maryam!” aku berseru, masih melepas rentetan tembakan, menahan gerakan pengejar kami di lorong.

Gadis wartawan itu malah semakin panik, menjerit, dan kakinya tergelincir. Tubuh Maryam meluncur ke bawah, beruntung Kadek menyambar tangannya sebelum dia jatuh bebas.

”Bertahanlah, Maryam!” aku berseru, melemparkan senjata otomatis yang telah habis pelurunya ke bawah, bergerak di antara pipa-pipa belalai crane, berusaha membantu Maryam. Para pengejar kami sudah berdiri di lubang dinding yang menganga, melepas tembakan balasan di antara kepulan debu. Di antara butir gerimis air hujan, sekeliling kami dipenuhi desing peluru sekarang, berlarik-larik, menghantam crane.

Aku memaki dalam hati. Teriakan panik Maryam yang bergelantungan, berpegangan tangan pada Kadek jelas tidak membantu banyak dalam situasi ini, justru membuat semua semakin rumit. Aku membentaknya, ”Berhenti berteriak, Maryam, mulailah berpegangan erat-erat.”

Maryam hendak menangis. Wajahnya pucat pasi.

Kabar baiknya, belalai crane bergerak semakin jauh, berputar sembilan puluh derajat dari posisi gedung di seberangnya. Sudut posisi kami tidak bisa lagi dijangkau peluru dari seberang. Crane terus bergerak ke kanan, menjulurkan kami ke salah satu lantai gedung tua yang akan dihancurkan. Ujung crane masuk ke lantai yang dindingnya sudah dikelupas, persis saat Maryam tidak kuat lagi berpegangan. Tubuh Maryam jatuh ke lantai setinggi satu meter. Dia mengaduh, tapi tidak terluka serius. Belalai crane turun ke lantai. Kadek meloncat kemudian membantu Opa turun. Aku ikut meloncat turun. Entah siapa pun yang telah mengemudikan crane di ruangan operatornya, aku tidak bisa melihatnya dari jarak belalai lima puluh meter. Belalai crane itu bergerak mundur saat memastikan kami sudah turun semua. Kembali ke posisinya semula.

”Opa baik-baik saja?” Aku memeriksa Opa. Opa mengangguk. Dia bisa berdiri sendiri. ”Kau bisa jalan, Maryam?”

Gadis itu amat berantakan. Rambutnya penuh debu, kusut masai, pakaiannya apalagi, kotor dan basah oleh hujan gerimis. Dia mengangguk. Tangannya sedikit gemetar, berusaha berdiri dengan kedua kakinya. ”Cepat, Kadek. Bantu Opa. Aku akan membantu Maryam. Kita harus bergerak segera. Kita jauh dari aman. Mereka pasti segera mengirim unit pemburu.” Aku segera menyambar tangan Maryam. Tidak ada waktu untuk beristirahat sejenak.

Kisah ini baru saja dimulai. 
Bagikan Novel ini Sebegai bentuk dukungan untuk situs ini 😊