menu

Negeri di Ujung Tanduk Bab 08: Satu Panggilan Telepon

Mode Malam
Bab 08: Satu Panggilan Telepon
AKU membiarkan Maryam melampiaskan marah dan frustrasinya selama lima menit—dia membutuhkan waktu selama

itu. Maryam berseru-seru memanggil petugas dan memukul pintu ruangan. Semua sia-sia, petugas di luar ruangan bergeming mendengarkan. Opa di sebelahku terbatuk panjang, menyandarkan punggungnya ke kursi, mengurut dadanya sendiri, memilih tidak banyak bertanya—toh, aku juga belum bisa menjelaskan apa yang terjadi. Kadek terus menunduk, menatap meja besar, mendengus, entah sedang memikirkan apa. Dia tidak perlu menjelaskan apa pun. Aku percaya penuh pada Kadek. Barang-barang itu jelas masuk ke kapal tanpa sepengetahuan Kadek.

Aku berdiri perlahan, melangkah ke dinding ruangan yang menghadap jalan dengan jendela kaca tebal dan tirai berwarna krem. Jendelanya tidak besar, lebar setengah meter, tinggi satu setengah meter. Aku menyibak tirai. Kami berada di lantai 15. Dengan jendela sekecil ini, jalanan di bawah sana tidak terlihat. Hanya pucuk gedung-gedung yang terlihat, terhalang proyek penghancuran tower yang berada persis di seberang. Bangunan tuanya kusam. Dinding-dindingnya sudah dikelupas, tinggal kerangka gedung setinggi 30 lantai, siap diruntuhkan.

Sebuah crane besar berdiri di depan gedung tua itu, dengan bola baja di ujung belalainya, untuk mengelupas dinding gedung. Hanya itu yang bisa kulihat dari jendela. Langit Hong Kong mendung. Awan gelap menutupi langit sejauh mata memandang. Aku mengembuskan napas, tidak banyak informasi yang bisa kudapatkan dari bingkai jendela kecil ini. Entah kami berada di Hong Kong bagian mana, persisnya gedung apa. Sepertinya ini bukan markas polisi atau instalasi militer. Suara sepatu mengentak lantai. Suara orang berlalu-lalang di sekitar kami saat dibawa ke ruangan ini menunjukkan demikian. Mungkin mereka punya

gedung penyidik sipil untuk keperluan ini.

Aku menyisir rambut dengan jemari. Ayolah, berpikir cepat dan komprehensif dalam situasi terdesak. Detail kecil boleh jadi memberikan celah jalan keluar.

”Hei! Kalian dengar? Buka pintunya!” Maryam masih berteriak, memukuli pintu ruangan, meneriaki petugas yang berjaga di luar. ”Aku punya kenalan redaktur senior di surat kabar Hong Kong. Dia bisa memberikan bukti aku tidak terlibat apa pun.”

Aku kembali melangkah ke kursi.

”Percuma, Maryam, mereka tidak akan mendengarkan bahkan kalau kau bilang kenal dekat dengan kepala administratif SAR Hong Kong sekalipun. Kau lebih baik tenang, berpikir, menyimpan tenaga.”

Maryam justru balas meneriaki, ”Bagaimana aku bisa tenang, Thomas?” Aku menggeleng, menatapnya. ”Duduk, Maryam. Aku akan menjelaskan sesuatu, dan semoga kau jadi mengerti setelah itu.” Maryam tidak peduli. ”Kau seharusnya menjelaskan ke mereka, Thomas. Aku hanya wartawan yang berada di kapal itu.

Aku tidak tahu apa pun.”

”Duduk, Maryam,” aku membujuknya sekali lagi. ”Kita harus bicara dengan rileks. Nah, setelah itu, kalau kau mau berteriakteriak lagi, silakan. Aku tidak akan melarang. Boleh jadi aku bantu ikut berteriak juga.”

Maryam diam sejenak, menatapku tajam. Sepertinya dia mau mendengarkanku sekarang, meski tetap menolak duduk, tetap berdiri di dekat pintu ruangan. Baiklah, aku ikut berdiri, melangkah ke dekatnya. Dari jarak satu langkah, napas Maryam yang masih tersengal karena marah, panik, terdengar jelas. Rambutnya sedikit acak-acakan. Kemeja lengan panjangnnya berkeringat. Dengan tangan terborgol, raut wajah cemas, bingung, hilang sudah semua tampilan wartawan yang gesit, berani, dan bisa diandalkan mengejar berita. Maryam dalam tampilan paling mengenaskan.

”Yang pertama, aku bersumpah, kami tidak memiliki barangbarang ilegal itu, sama sekali tidak, Maryam.” Aku menatap wajah Maryam sungguh-sungguh. ”Tidak perlu kupastikan, Kadek jelas tidak tahu-menahu kapan benda itu masuk ke kapal. Aku percaya pada Kadek. Bahkan aku bersedia memercayakan keselamatanku padanya.

”Opa juga tidak tahu, apalagi aku yang baru tiba di kapal tadi pagi hampir bersamaan denganmu. Kau harus percaya itu, agar aku lebih mudah menjelaskan hal berikutnya.” Aku menyentuh pelan lengan Maryam, memberikan pesan sugestif agar dia mendengar kalimatku lebih baik dan semua akan baik-baik saja.

Maryam menyeka pelipis, masih menatapku.

”Yang kedua, kita tidak dalam posisi bisa melakukan tawarmenawar dalam kasus ini, Maryam. Tidak akan pernah ada penjelasan masuk akal saat ini, dan mereka tidak akan bersedia mendengar bantahan sedikit pun. Itu masuk akal, tidak akan ada penyidik yang bisa percaya dengan mudah penjelasan empat orang tertangkap tangan bersama seratus kilogram heroin dan setumpuk senjata. Mereka akan memaksakan undang-undang darurat untuk menahan kita hingga kapan pun sebelum proses pengadilan. Kalaupun pengadilan itu terjadi, tidak akan ada yang percaya pada kita. Kau wartawan politik. Kau pasti memahami logika hukum, proses hukum. Penjelasan justru hanya menjadi kontra argumen bagi pengadilan.”

Aku menghela napas lagi, menatap mata hitam gadis wartawan di hadapanku yang mulai berkaca-kaca. ”Ini semua jebakan, Maryam. Jebakan serius dan mematikan. Target mereka yang menjebak jelas, sekali pukul, satu bidak tumbang, berhasil diamankan. Lantas siapa? Apa mau mereka? Apa tujuan mereka? Nah, terlalu naif kalau kau berpikir ini salah paham. Itu benar, kau berada di tempat dan waktu yang keliru, berada di kapal saat penyergapan. Tapi dalang di balik jebakan ini tidak peduli kau, Opa, Kadek, atau siapa pun yang ada di kapal. Dia hanya peduli apakah aku ada di kapal itu atau tidak.”

Aku diam sejenak, berusaha lebih terkendali menjelaskan, ”Iya, itu benar, Maryam. Akulah sasaran tembak mereka. Ada yang merekayasa semua kejadian. Mereka tidak main-main. Mereka memiliki agenda lebih serius, lebih penting dari sekadar memenjarakan seorang konsultan politik bersama teman-temannya. Ini manuver raksasa.”

”Apa maksudmu, Thomas?” Maryam bertanya pelan, mengusap matanya yang basah.

”Konvensi partai politik terbesar dibuka di Denpasar, besok pagi. Klien politik paling penting kami adalah kandidat paling kuat, paling diperhitungkan sebagai calon presiden partai politik tersebut. Dia jujur, memiliki integritas teruji, dan jelas memiliki visi berlawanan dengan banyak status quo. Bayangkan desain besarnya, Maryam. Bukankah tadi pagi aku menjelaskan tentang persekongkolan puluhan senator dipimpin Brutus, lantas menusuk Julius Caesar, orang paling berkuasa pada zaman itu, hingga mati kehabisan darah? Kami sudah menguasai dua pertiga peserta konvensi. Lawan politik klien kami panik. Mereka memutuskan untuk bermain kotor, dimulai dari menjatuhkan bidak-bidak.

”Mereka siap menumpahkan seluruh amunisi tersisa untuk menggagalkan kemenangan klien politik kami. Berusaha memutar arah pencalonan di detik-detik terakhir konvensi. Besok Sabtu, konvensi dibuka selama tiga hari. Senin malam nama calon presiden resmi diumumkan. Ini pukulan pertama mereka. Singkirkan konsultan politiknya, otak dari seluruh strategi kampanye konvensi. Kita ditahan di gedung ini, di lantai 15, bukan karena Thomas, pemilik kapal pesiar mewah, tertangkap basah membawa serbuk heroin dan senjata. Tapi karena seorang Thomas bekerja sebagai konsultan politik dari kandidat terbaik presiden pemilihan tahun depan.”

”Siapa mereka?” Maryam bertanya pelan.

”Aku belum tahu. Ada banyak yang terganggu dengan hadirnya presiden yang jujur. Bukan di internal partai itu saja, tapi juga datang dari partai-partai lain, atau orang-orang yang tidak terlibat politik tapi memiliki kepentingan bisnis, konsesi, dan sebagainya. Bahkan termasuk penegak hukum, pejabat korup, organisasi massa, atau siapa pun orang-orang yang merasa terganggu kehidupan nyamannya dengan konstelasi politik era baru. Yang aku tahu pasti, mereka memiliki sumber daya dan akses tidak terbatas, termasuk akses ke satuan khusus antiteror Hong Kong.”

Maryam mengeluh, menyibak anak rambut di dahi. ”Ini semua gila, Thomas. Tidak masuk akal.”

”Kau benar. Ini memang gila. Tidak masuk akal. Baru satu jam lalu kau mencicipi kepiting lezat masakan Kadek, bukan? Di atas kapal pesiar terbaik, ditemani Opa, orang dengan karakter istimewa. Seolah dunia begitu indah, lantas simsalabim! Sekarang kau ditahan di tempat yang tidak dikenal, tangan diborgol, tanpa pembela, tanpa tahu apa salahmu, dan terancam hukuman penjara seumur hidup.” Aku memegang erat-erat lengan Maryam. ”Tapi kau harus memercayaiku, Maryam. Memercayai Kadek, memercayai Opa. Bisa? Kau bisa percaya?”

Maryam menyeka ujung matanya, menatapku lama, lantas mengangguk perlahan.

”Nah, itu baru semangat!” Aku menepuk bahunya. ”Sekarang hentikan teriak-teriak, panik, dan sebagainya. Tenang saja, aku punya rencana, Maryam. Kita harus secepat mungkin meninggalkan tempat ini. Menerobos keluar.”

Bahkan Kadek yang sejak tadi hanya menunduk, mendengarkan percakapan, mengangkat kepalanya, menoleh. ”Kita tidak bisa kabur dari sini, Pak Thom.” ”Kenapa tidak, Kadek?” aku menjawab lugas. ”Kau bisa mengurus satu atau dua dari mereka, sisanya biar aku yang mengurus.”

Kadek menggeleng. ”Kita tidak bisa menerobos lima belas lantai, Pak Thom. Mereka sudah mengizinkan tembak di tempat kalau kita kabur.”

”Serahkan itu padaku, Kadek.” Aku mengepalkan tangan. ”Aku hanya membutuhkan satu panggilan telepon, maka kita akan bisa meninggalkan tempat ini.”

Kadek mengusap wajahnya. Bagaimana caranya? Lengang sejenak.

”Kau hanya butuh satu panggilan telepon, Tommi?” Opa yang berkata pelan, memecah suara desing pendingin udara.

Aku menoleh ke arah Opa, mengangguk.

Opa tertawa pelan. ”Kalau hanya itu, mudah, biar orang tua ini yang mengurusnya.” 
Bagikan Novel ini Sebegai bentuk dukungan untuk situs ini 😊