menu

Negeri di Ujung Tanduk Bab 07: Interogasi Lantai

Mode Malam
Bab 07: Interogasi Lantai
SUDAH lama sekali hidupku berjalan tenang. Sejak setahun lalu. Pagi ini penyerbuan enam orang berpakaian taktis dan ber-

senjata ke kapal pesiarku, tanpa tahu apa sebab-musababnya, membuat arah kemudi hidupku berputar 180 derajat.

Aku menghela napas yang sedikit sesak. Mereka menutup kepala kami dengan kain sejak mengeluarkan kami dari kapal pesiar, mendorong, memaksa kami menaiki mobil operasional militer, menyuruh duduk berdempet dengan laras senjata terus berjaga. Opa terdengar batuk-batuk. Ini bukan hal baru baginya. Bahkan saat usianya lebih muda daripadaku, Opa sudah terbiasa dengan penjara. Opa terlihat tenang sejak di kapal, berusaha memahami situasi dengan cepat, tapi usia dan kesehatannya mencemaskan. Kadek menggerung di ujung kursi. Aku tahu, dia jengkel atas penangkapan ini. Dia sempat berteriak melawan, membantah barang-barang itu milik kapal. Tidak banyak yang bisa dilakukan Kadek, kami bukan ditahan polisi biasa. Aku tidak tahu apa yang berkecamuk di kepala Maryam saat ini. Dia sempat mengeluarkan identitas wartawannya sebelum diborgol, berseru berusaha menjelaskan kalau dia wartawan salah satu review mingguan terkemuka. Percuma, penjelasan itu tak berguna. Tangannya tetap diborgol. Kepalanya kasar ditutup kain. Bahkan salah satu dari mereka memutuskan menyumpal mulut Maryam, agar dia berhenti berseru-seru.

Dua mobil tempur itu melesat cepat meninggalkan pelabuhan yacht, membelah jalanan kota Hong Kong yang lengang. Aku tidak tahu ke mana arahnya. Sesekali kami melintas masuk ke terowongan panjang—suara desau di luar mobil menunjukkan demikian. Kami berhenti di perempatan, mungkin lampu merah, berputar, berbelok, sepertinya mereka membawa kami ke pusat kota. Ini hari libur. Kemacetan kota Hong Kong tidak terasa, kecuali di taman-taman kota yang ramai dipenuhi buruh migran. Mobil kami jelas tidak melewati kawasan itu.

Setelah tiga puluh menit—menurut perhitungan kasarku— mobil-mobil itu tiba di tujuannya. Salah seorang dari mereka sebelumnya sempat berseru untuk mengambil jalan berbeda. Jalan utama ditutup hingga nanti sore untuk keperluan meruntuhkan gedung tua. Aku bisa memahami percakapan mereka meski disampaikan dalam bahasa Kanton dan kalimat komando pendek. Mobil berbelok, melingkari dua blok, hingga akhirnya berhenti. Mereka menyuruh kami turun. Mereka sedikit membentak agar bergegas, tidak sabaran.

”Opa baik-baik saja?” aku berbisik pelan, berjalan di belakang Opa.

”Orang tua ini baik-baik saja, Tommi,” Opa menjawab sambil batuk, dia sedikit tertatih—tongkat Opa disita mereka. ”Tidak ada yang perlu kaucemaskan.”

”Move! Move!” Salah satu dari mereka mendorong punggungku dengan laras senjata agar bergegas.

Kami sepertinya melintasi lobi luas. Suara sepatu mengentak lantai. Gemanya mengisi langit-langit ruangan besar. Suara pintu lift membuka. Kami didorong masuk ke lift. Suara pintu lift menutup. Gerakan lift mendesing. Aku mendongak, berhitung. Aku terlatih mengenali sekitar dengan mata terpejam. Itu latihan mendasar bagi seorang petarung. Empat puluh lima detik, itu berarti kami berhenti di lantai 15. Suara pintu lift terbuka perlahan.

”Move!” mereka membentak lagi.

Opa dan Maryam berjalan lebih dulu. Aku dan Kadek di belakang. Kami digiring melewati lorong—sepertinya begitu. Tiga puluh langkah, itu berarti kurang-lebih 18 meter. Gedung ini cukup besar. Lantas terdengar suara pintu berdebam terbuka, kami memasuki sebuah ruangan. Pintu berdebam ditutup kembali, terkunci secara otomatis, hanya bisa dibuka dari luar.

”Lepaskan penutup kepala mereka!”

Penutup kepala kami dilepas, dengan gerakan kasar—tapi itu tetap lebih baik, bisa membuat bernapas lebih lega, terutama Opa.

Maryam langsung hendak berseru saat penutup dilepas. Tangannya terangkat.

”Biarkan sumpal mulut yang satu itu terpasang.” Pemimpin mereka, orang berpakaian sipil, berkemeja lengan panjang, memberi perintah.

”Ini pasti kesalahpahaman.” Kadek langsung bicara saat penutup kepalanya dibuka. Bahasa Inggris Kadek fasih. Dia menghabiskan banyak waktu sebagai nakhoda kapal asing sebelum mengenalku. ”Kami tidak memiliki benda-benda itu.”

”Well, kalian punya waktu banyak untuk menjelaskannya. Tenang saja, kami memiliki sistem hukum yang adil.” Orang berpakaian sipil itu bersedekap santai. ”Silakan duduk, Tuan dan Nyonya.”

Ruangan itu luas, berukuran 6 x 8 meter persegi, hanya ada meja besar di tengah, dengan beberapa kursi plastik. Tidak ada perabotan lain, tidak ada benda lain. Ini ruangan interogasi, atau penyekapan, sejenis itulah, jadi tidak memerlukan pernak-pernik di dalamnya.

”Kami tidak tahu-menahu kenapa benda-benda itu ada di kapal. Kalian keliru menangkap orang.” Kadek masih berusaha menjelaskan. Sebagai kapten kapal, jelas dia ingin membela kapalnya, dan membuktikan kalau dia tahu persis apa saja yang ada di dalam kapal.

”Silakan duduk dulu, Tuan.” Orang berpakaian sipil mempersilakan.

”Kalian salah paham!” Kadek berseru ketus.

”Duduk, Kadek,” aku berkata pelan—sebelum dua orang yang memegang senjata ikut masuk ke ruangan, memaksa Kadek duduk. ”Diamlah. Kau tidak perlu membuang energi. Biar aku yang mengurusnya.” Aku menatap Kadek.

Kadek mendengus, dia menarik kursi plastik, duduk.

Salah satu petugas berseragam taktis menyerahkan amplop cokelat. Orang berpakaian sipil menerimanya, lantas menumpahkan isi amplop itu ke atas meja. Kartu identitas, paspor, dan dokumen milik kami yang diambil paksa di atas kapal. ”Tuan Thomas?” Orang itu melihat pasporku, menatapku, memeriksa, dan memastikan.

Aku mengangguk.

”Anda sering bepergian ke luar negeri. Paspor ini hampir penuh. Ada banyak stempel imigrasi Hong Kong di sini.”

Dia meraih paspor lain, menyebut nama Opa, Maryam, dan Kadek.

”Karena aku sudah mengenal kalian, aku akan memperkenalkan diri. Namaku Liu. Aku detektif sekaligus kepala pasukan khusus antiteror Hong Kong SAR. Kalian bisa memanggilku Detektif Liu.”

Detektif Liu menghela napas panjang, menyandarkan badan di kursi, berkata dengan intonasi serius, ”Nah, Tuan dan Nyonya sekalian, kita sudah berkenalan. Maka sekarang izinkan saya menjelaskan situasinya. Sesuai undang-undang keadaan darurat otoritas Hong Kong SAR, kami memiliki kekuasaan tidak terbatas untuk menahan kalian. Dalam jangka waktu yang kami butuhkan, di tempat mana pun yang kami inginkan, dan menggunakan cara apa pun untuk mengungkap kasus ini. Kalian tertangkap tangan membawa seratus kilogram bubuk heroin kelas satu, dan persenjataan yang lebih dari cukup untuk mempersenjatai setengah peleton pasukan. Itu jelas tindak kejahatan serius.”

”Itu bukan barang milik kami.” Aku menghela napas perlahan. ”Yacht itu milik Anda, bukan?” Dia tersenyum tipis.

Aku menatapnya. ”Tapi itu tidak menjelaskan apa pun. Siapa pun bisa memasukkan barang itu ke kapal tanpa kami mengetahuinya. Kalian bisa bertanya kepada imigrasi Makau, petugas pabean tempat kapal kami singgah sebelumnya, mereka bisa mengkonfirmasi kalau kapal itu bersih saat meninggalkan pelabuhan Makau. Kalian juga bisa memeriksa barang-barang itu. Aku jamin, tidak akan ada sidik jari kami berempat di sana.” Orang berpakaian sipil itu menatapku lamat-lamat. ”Well, itu juga tidak menjelaskan apa pun, Tuan Thomas. Bukankah demi-

kian?”

Aku mengembuskan napas.

”Aku meminta hak untuk menelepon seseorang. Pengacaraku.” Orang yang duduk persis di seberang meja itu menggeleng tegas, tersenyum seolah ikut prihatin. ”Sayangnya, dalam kasus ini, kami bisa membatalkan hak tersebut, Tuan Thomas. Maka, tidak ada telepon, tidak ada kontak dari luar, tidak ada bantuan dari siapa pun. Kalian berempat harus menjelaskan ini semua sendirian. Sekarang silakan dipikirkan baik-baik. Kalian bekerja sama dengan pemerintahan Hong Kong SAR, dan kalian akan memperoleh banyak keringanan hukum, atau memilih keras kepala, menolak bicara, maka kalian akan berhadapan denganku,

detektif paling keras kepala.”

Aku menyisir rambut dengan jemari. Di sebelahku Opa batuk pelan. Kadek menggerung marah—tapi dia tidak bisa melakukan apa pun. Aku telah menyuruh Kadek diam, dan dia selalu menuruti perintahku. Maryam, gadis wartawan itu yang paling kucemaskan. Dia terlihat hendak menangis mendengar perkataan orang di hadapan kami. Situasi ini pasti pertama kali dia hadapi, situasi yang membingungkan, menyebalkan, dan entahlah. Ini jelas pengalaman paling gila yang pernah dia temui. Mulut tersumpal, tangan masih terborgol, berada di dalam ruangan dengan pendingin udara bekerja maksimal, sementara dua senjata laras panjang teracung. ”Baik, kalian sepertinya belum siap untuk bercerita banyak, dan aku juga harus melaporkan situasi ini. Aku akan membiarkan kalian berempat di dalam ruangan satu jam ke depan. Jangan coba-coba berpikir yang tidak-tidak. Ini benteng pertahanan tangguh. Tiga orang menjaga ruangan ini di luar, dan lebih banyak lagi sepanjang jalur keluar gedung. Kalian akan ditembak di tempat jika mencoba kabur.”

Orang berpakaian sipil itu berdiri, menaruh kartu identitas, paspor, dan dokumen kami ke dalam amplop cokelat. Merapikan rambutnya.

”Biarkan borgol mereka tetap terpasang. Kalian berjaga di luar.” Orang itu berseru pada salah satu petugas berseragam, melangkah cepat menuju pintu. ”Dan kau, lepaskan penyumpal mulut gadis itu. Dia bisa berteriak semaunya sekarang.”

Aku mengeluh—bukan karena ditinggalkan begitu saja dalam ruangan itu. Tapi mengeluh untuk dilepasnya penyumpal mulut Maryam. Persis seperti yang diduga, gadis wartawan itu segera berseru-seru saat penutup mulutnya dilepas. Berusaha menjelaskan untuk kesekian kali bahwa dia wartawan resmi sebuah review mingguan terkemuka. Dia berada di tempat yang salah dan waktu yang salah. Sama sekali tidak mengenal kami. Petugas berseragam taktis justru kasar mendorong Maryam kembali duduk, lantas bergegas melangkah keluar, menutup pintu ruangan yang otomatis langsung terkunci, menyisakan teriakanteriakan Maryam.

Aku mengembuskan napas panjang. Urusan ini semakin rumit. 
Bagikan Novel ini Sebegai bentuk dukungan untuk situs ini 😊