menu

Negeri di Ujung Tanduk Bab 06: Penyergapan Seratus Kilogram

Mode Malam
Bab 06: Penyergapan Seratus Kilogram
PELABUHAN yacht  Hong Kong padat. Ini long  weekend, perayaan Jumat Agung, tanggal merah internasional. Banyak ka-

pal keluar-masuk pelabuhan.

Aku tidak keberatan dengan situasi seramai ini, kebetulan yang baik, kapal pesiar baru ini bisa diuji coba melakukan manuver. Hasilnya mengesankan, manuvernya akurat dan stabil, dan seperti seekor angsa besar, merapat anggun ke salah satu bibir dermaga kosong, tempat biasa aku memarkir kapal pesiar dulu. Aku meneriaki Kadek agar bersiap melemparkan jangkar, menambatkan kapal di dermaga.

Maryam dan Opa asyik bercakap di meja makan. Entah apa yang mereka bicarakan—Opa terlahir sebagai gentleman sejati, meskipun gurauannya kadang berlebihan dan tidak pada tempatnya, dia selalu pandai membelokkan percakapan, mengangkat derajat tamu, membuat nyaman lawan bicaranya. Aku mendengar mereka tertawa kecil—sepertinya Opa asyik membicarakanku. Di luar sana, Kadek masih mengikat tali-temali kapal. Aku mematikan mesin kapal, mengunci posisi kapal, lantas melangkah santai hendak bergabung ke meja makan. Tidak ada urusan pekerjaan yang perlu dikejar. Urusan dokumen imigrasi bisa nanti-nanti.

Telepon genggamku bergetar nyaring.

Aku mengambilnya dari saku celana. Pukul delapan pagi waktu Hong Kong. Di Jakarta itu berarti pukul sembilan, selisih satu jam, waktu normal sebuah percakapan bisnis dilakukan. Aku melirik layar telepon genggam sekilas, klien politik paling penting yang menelepon.

”Halo, Bapak Presiden,” aku menyapa lebih dulu.

”Halo, Thomas.” Suara di seberang sana tidak riang seperti biasanya, terdengar suram. Lazimnya beliau akan tertawa dengan panggilan ”Bapak Presiden”. Ini termasuk pekerjaanku. Aku sengaja memanggilnya demikian, memberikan atmosfer kompetisi politik, meskipun masih jauh dari babak final sekalipun. Sang juara selalu yakin memenangi sebuah pertandingan sejak awal.

”Ada yang bisa saya bantu, Bapak Presiden?”

”Aku tidak tahu harus mulai dari mana, Thomas.” Suara di seberang terdengar ragu-ragu, terdiam sejenak. Sepertinya sedang berpikir keras.

”Well, bisa dari mana saja, aku siap mendengarnya, Bapak Presiden. Apakah ini kabar baik? Pesaing kita tiba-tiba mengundurkan diri dari konvensi partai misalnya? Akhirnya dia bisa berhitung dengan baik kalau tidak punya kesempatan mengalahkan kita?” Aku mencoba bergurau.

”Bukan kabar baik, Thomas.” Helaan napas terdengar menyertai kalimat itu. ”Sepagi ini aku baru saja memperoleh informasi. Masih gelap, belum bisa dipastikan. Tapi kabar itu dari sumber yang bisa dipercaya.”

Diam sejenak, aku memutuskan tidak menyela, menunggu. ”Ada eskalasi besar-besaran dari peserta konvensi partai, Tho-

mas. Peta dukungan berubah. Ada gerakan tidak terlihat. Ada manuver raksasa yang dilakukan pihak lain. Aku belum tahu siapa yang menggerakkannya, tapi ini serius sekali.”

”Manuver raksasa, Bapak Presiden?” Aku menelan ludah. ”Kau masih di Hong Kong, Thomas?” Suara di seberang jus-

tru bertanya balik, intonasi suaranya terdengar semakin cemas. ”Iya, aku masih di Hong Kong. Sesuai rencana, baru besok pagi aku berada di lokasi konvensi, persis saat pembukaan. Bukankah semua sudah terkendali? Semua anggota tim sudah bekerja jauh-jauh, mengunci banyak hal. Tidak ada yang harus dicemaskan, Bapak Presiden. Kita pasti memenangi konvensi

partai.” Aku berkata sesantai mungkin. ”Segera kembali ke Jakarta, Thomas.” ”Segera?”

”Itu perintah, Thomas. Segera kembali ke Jakarta.”

Hei, ada apa sebenarnya? Aku diam sejenak, belum pernah aku mendengar intonasi suara klienku seserius ini. Beliau politikus berpengalaman, meskipun bukan mantan Jenderal. Dia telah meniti karier politik puluhan tahun dari level bawah. Namanya populer, bersih dan dipercaya banyak calon pemilih, memiliki pendukung dengan sumber daya yang besar. Hari-hari ini tiba masanya menjemput masa keemasan karier politiknya—dengan sedikit bantuan dariku. Intrik politik makanannya sejak lama. Dia sudah terbiasa menghadapi hal itu. Maka jenis manuver seperti apa yang membuatnya begitu cemas sepagi ini? Hingga meneleponku dan menyuruhku bergegas kembali ke Jakarta?

”Apa yang sebenarnya terjadi, Bapak Presiden?”

”Aku tidak bisa membicarakannya lewat telepon, Thomas.” Suaranya resah. ”Informasi itu menyebutkan, ada pihak yang sedang menyusun serangan balik mematikan sebelum konvensi dimulai besok, dan kau, astaga Thomas, kau menjadi sasaran tembak nomor satu yang harus mereka lumpuhkan setelah diriku sendiri. Kau segera pulang, Thomas. Aku membutuhkan seluruh anggota tim, terutama kau, orang yang paling kupercaya. Aku tidak tahu seberapa serius ancaman ini, dan seberapa dalam mereka bergerak. Kau dengar, Thomas. Segera kembali ke Jakarta.” Aku menghela napas perlahan. ”Baik. Aku akan segera kem-

bali.”

”Hati-hati, Thomas. Mereka ada di mana-mana.” ”Siap, Bapak Presiden.”

Percakapan itu diputus. Aku terdiam sejenak, mengembuskan napas.

”Siapa yang menelepon, Tommi?” Opa bertanya dari meja makan.

Aku belum sempat menjawabnya, keributan itu terdengar lebih dulu. Kadek berseru-seru di luar. Aku menoleh jendela kabin. Enam orang dengan pakaian taktis, bersenjata lengkap, berloncatan gesit dari dua mobil operasional militer yang mengeluarkan suara mendecit, merapat ke bibir dermaga. Cepat sekali gerakan mereka. Kadek berusaha menghalangi, memastikan siapa mereka. Jawabannya tanpa buka mulut. Dua orang melumpuhkan Kadek. Membuat Kadek terduduk. Tangannya ditelikung dan dipasangi borgol. ”Move! Move!” Salah seorang dari rombongan itu berseru, segera masuk ke kapal pesiar. Dalam hitungan detik, enam moncong senjata otomatis telah terarah padaku, Opa, dan Maryam, bahkan sebelum Maryam berseru panik, atau Opa menghela napas memahami situasi. Mereka maju satu-dua langkah, siaga atas segala kemungkinan. Seolah khawatir ada sepasukan tempur di kabin tengah yang siap melawan.

Aku hendak mengangkat tangan, mencegah mereka bergerak lebih dekat.

”Jangan bergerak, Tuan. Tetap di tempat, please.” Kalimat patah-patah dalam bahasa Inggris itu disampaikan dengan sopan, tapi intonasi suaranya penuh ancaman serius. Membuat gerakanku terhenti. Sebelum sempat melakukan apa pun, enam orang bertopeng dengan pakaian komando telah sempurna mengepung kabin, Kadek diseret masuk, didorong kasar ke pojok kabin, terduduk.

Dari belakang enam orang itu, melangkah sigap orang ketujuh.

”Tiga orang periksa seluruh kapal. Sisanya tetap di tempat. Jangan biarkan ada yang lolos.” Orang itu, berpakaian sipil, kemeja lengan panjang, rambut tersisir rapi, memberikan perintah dalam bahasa Kanton, fasih. Dia melangkah mendekati meja makan, menatap penuh selidik pada Opa, Maryam, dan menatapku, diam sejenak, kemudian tersenyum datar.

”Selamat pagi, Tuan.” Dia menyapaku ramah, ”Maaf jika ini sedikit mengejutkan.”

Tiga rekannya sudah sibuk membongkar apa saja isi kapal. ”Hei, kalian tidak bisa sembarangan memeriksa kapal ini!”

Aku tidak sempat menjawab salam orang berpakaian sipil tersebut. Aku sedang marah, berteriak protes pada ketiga rekannya.

”Tentu saja kami bisa melakukannya, Tuan. Kami memiliki izinnya.” Orang berpakaian sipil itu meraih lipatan kertas di saku. ”Pengadilan setempat memberikan izin penuh untuk melakukan pemeriksaan, penyelidikan, termasuk menahan sementara jika diperlukan, demi kepentingan otoritas Hong Kong.”

Aku menerima kertas itu, membacanya cepat. Orang asing ini benar, kertas ini izin resmi pengadilan setempat.

Aku menghela napas perlahan. Mereka tidak main-main. Mereka bukan petugas imigrasi atau bea cukai yang sedang memeriksa kapal asing secara random di pelabuhan Hong Kong seperti yang kusangkakan sebelumnya. Mereka pasukan dari satuan khusus antiteror otoritas Hong Kong SAR.

”Apa yang kalian cari?” aku bertanya dengan suara bergetar. ”Apa pun yang mencurigakan di kapal ini.”

”Tidak ada apa-apa di kapal ini.” Aku menggeleng.

”Well, biarkan petugas kami memastikannya.” Orang berpakaian sipil itu tersenyum. ”Maaf jika ini mengganggu liburan kalian.” Dia mengangguk ramah ke arah Opa, dan Maryam. ”Hei, kalian sedang sarapan, bukan? Tampaknya lezat sekali.”

Andaikata tidak ada tiga moncong senapan otomatis terarah pada kami, suara benda yang dibongkar tiga petugas berseragam taktis lainnya dan semua situasi yang membingungkan, sudah dari tadi rasanya aku hendak meninju rahang orang di hadapanku ini. Lihatlah, dia bahkan santai meraih piring kepiting di atas meja.

”Boleh aku mencicipinya?” Dia bertanya sopan ke arah Opa. Aku menggeram, mereka memang memegang izin tertulis dari pengadilan untuk memeriksa kapal ini, tapi bukan berarti mereka bisa semaunya saja, apalagi Kadek dengan tangan diborgol dipaksa duduk tidak berdaya di lantai seperti penjahat besar.

”Ini lezat sekali.” Dia baru saja mengunyah sepotong daging dari cangkang kepiting. ”Sedikit pedas untuk lidahku, tapi no problem.”

Opa menatapnya lamat-lamat, mencoba tersenyum. Maryam dengan tangan gemetar dan wajah pucat melirik laras senjata yang hanya tiga puluh senti dari wajahnya. Gadis wartawan itu jelas lebih bingung, lebih panik dibanding siapa pun. Aku meremas jemari, mencoba bersabar.

”Kami menemukan sesuatu, Sir.” Dua dari tiga orang yang memeriksa kapal kembali dari kabin belakang, susah payah menggotong sebuah kotak.

”Buka.” Orang berpakaian sipil itu meletakkan piring berisi kepiting.

Itu hanya kotak peralatan kapal, apa yang sebenarnya mereka harapkan? Isinya paling hanya kunci, suku cadang, dan peralatan keselamatan. Aku hendak berseru ketus menjelaskan. Ini kapal pesiar baru, fresh from the oven, tidak akan ada yang mencurigakan. Mereka seharusnya memeriksa kapal-kapal barang atau kapal nelayan. Awas saja kalau ini hanya kesalahpahaman. Aku akan menuntut mereka.

Tapi dugaanku sungguh keliru, ini semua jelas bukan sebuah salah paham.

Saat salah seorang petugas membongkar paksa kunci, isi kotak itu justru dipenuhi tumpukan bungkusan rapi dengan logo asing dan tulisan yang tidak kupahami. Orang berpakaian sipil itu meraih pisau dari pinggang rekannya, merobek bungkusan tersebut. Butiran putih langsung merekah dari robekan kertas. Demi melihat benda tersebut, aku mengeluh tertahan. Opa yang jelas juga tahu benda apa itu, ikut menghela napas panjang. Maryam berseru pelan, menutup mulutnya dengan telapak tangan.

Itu belum cukup. Petugas ketiga yang memeriksa kabin depan kapal masuk sambil membawa karung tebal besar, menumpahkan isinya di lantai kabin. Enam pucuk senjata otomatis, beberapa granat, dan juga kotak-kotak kecil bertuliskan C4, peledak mematikan, tergeletak di lantai.

”Tuan tadi bilang tidak ada apa-apa di dalam kapal ini, bukan?” Orang sipil itu menatapku tajam, senyumnya hilang, rahangnya mengeras.

Aku menghela napas, entah harus menjelaskan apa.

”Well, lantas ini apa, Tuan? Bahan keperluan memasak kepiting? Atau peralatan untuk menangkap kepiting di laut?”

Aku menelan ludah. Ini semua terjadi begitu cepat dan sedikit pun tidak bisa kumengerti. Astaga? Bagaimana mungkin? Enam moncong senjata otomatis mengarah lebih galak, lebih dekat ke arah kami bertiga, siaga penuh. Maryam berseru ketakutan, wajahnya pucat pasi. Dia berdiri, berusaha menjauh, yang justru membuat dua orang menyudutkannya di pojok kabin.

”Tangkap mereka semua. Pastikan tidak ada yang melarikan diri. Sisir seluruh kabin kapal. Sita semua identitas dan dokumen apa pun yang ada. Mereka diduga anggota sindikat pengedar narkoba internasional, dan boleh jadi memiliki hubungan dengan teroris lokal. Amat berbahaya dan tidak segan membunuh.” Orang berpakaian sipil berseru tegas, memberikan perintah.

Aku kehabisan kata-kata. 
Bagikan Novel ini Sebegai bentuk dukungan untuk situs ini 😊